Share

Bab 124

Penulis: Levin Sergio
Zevan juga menggigil dan berkeringat dingin. Bocah ini jelas bukan orang baik.

Dia salah. Dia sudah salah menilainya!

Anak buah Hessen lainnya hanya menatap kosong dan tidak berani melangkah maju.

Jika tidak berhati-hati, mereka takut Nathan akan menghabisi nyawa tuan muda mereka.

"Jangan sentuh tuan muda kami. Aku akan letakkan pistol di sini, bagaimana?"

Zevan perlahan-lahan menaruh pistol yang ada di tangannya ke tanah.

Niat membunuh yang jahat terpancar di matanya.

Nathan tersenyum sambil berkata, "Begini baru patuh."

Dia kemudian mendaratkan sebuah tamparan lagi di wajah Daren. "Bukankah tuan muda kalian menantangku barusan? Dia bilang coba saja kalau aku berani menyentuhnya?"

"Sekarang aku sudah menyentuhnya. Apalagi, bukan hanya sekali, dua kali, tiga kali .... Tuan Muda, kamu puas sekarang?"

Daren merasa kepalanya sudah hampir putus. Dia terisak, "Aku puas. Tolong jangan pukul aku lagi. Jangan pukul aku lagi, atau aku akan mati."

Zevan berteriak, "Apa lagi yang kamu inginkan? A
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 125

    Daren menelan ludah dan berteriak dalam hatinya, "Ini nggak lucu. Sama sekali nggak lucu."Sayangnya, Waldi telah mengakhiri panggilan telepon itu."Jangan bunuh aku. Kumohon jangan bunuh aku. Tolong biarkan aku pergi. Aku akan menyetujui apa pun yang kamu inginkan."Dalam keputusasaan, Daren berlutut di tanah dan memohon pada Nathan.Nathan berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah. Senyum di wajahnya perlahan berubah dingin.Sementara itu, di Hessen.Waldi, penguasa bawah tanah Hessen, duduk dengan tenang di kursi sambil memasang senyum santai di wajahnya."Kalian bertiga, jangan harap aku melepaskannya begitu saja.""Bocah ini benar-benar nggak tahu diri. Beraninya dia memukul putraku. Seperti yang kalian tahu, aku hanya punya Daren satu-satunya putra kesayanganku. Mereka yang berani menyentuhnya sama saja dengan memprovokasiku. Dia pasti akan mati!"Regina, Dokter Bayu, dan Arjun semuanya duduk sambil memasang ekspresi muram."Tuan Waldi, sebenarnya kesalahpahaman ini berawal

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 126

    Regina, Dokter Bayu, dan Arjun juga terkejut.Di bawah tatapan tidak percaya ketiga orang itu, seorang pria perlahan masuk dan langsung mendekati Waldi yang sedang duduk di kursi utama."Kamu Waldi Antonius, penguasa bawah tanah Hessen, 'kan?""Akulah yang memukul putramu dan juga membunuh anak buahmu ....""Sekarang aku sudah datang ke sini, kamu mau bagaimana?"Kamu mau bagaimana?Kata-kata itu begitu singkat.Namun, terdengar begitu sombong dan arogan!Regina, Dokter Bayu, dan Arjun yang mendengar perkataan itu terkejut bukan main.Nathan yang datang ke Hessen sendirian bukan hanya membunuh anak buahnya Waldi, tetapi dia juga memukul putra satu-satunya Waldi hingga wajahnya bengkak dan sulit untuk dikenali lagi.Namun, ini semua masih dalam kisaran yang bisa diterima.Yang membuat mereka bergidik adalah Nathan justru mendatangi Waldi dan menanyakan pria itu apa yang diinginkannya.Bahkan, Arjun, yang hidupnya bagai di ujung tanduk pun merasa cemas, terutama saat melihat punggung Nat

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 127

    Waldi tertawa muram. "Kenapa? Kamu takut?""Nak, bukankah kamu barusan berlagak keren? Kamu masih berani menantangku dan bertanya memangnya apa yang bisa aku lakukan?"Nathan tersenyum. "Aku nggak takut, tapi hanya merasa kita bisa menyelesaikan konflik secara damai. Bagaimana menurutmu?"Waldi tertawa marah. "Menyelesaikan secara damai? Masalah ini nggak mungkin berakhir, kecuali aku membuatmu mati mengenaskan.""Berlututlah sekarang juga, lalu patahkan kaki dan tanganmu. Bersujudlah pada putraku sebanyak 100 kali. Setelah itu, kamu baru bisa negosiasi denganku."Saat ini, Waldi tidak lagi panik.Dia menyilangkan kakinya, kemudian menyalakan cerutu dan mulai mengembuskan asap berbentuk cincin dengan santai.Regina mengerutkan kening dan berkata, "Tuan Waldi, permintaanmu sudah kelewat batas. Kami bisa mengobati luka Daren. Demi menjaga martabatmu, kita bisa menegosiasikan masalah ini."Arjun berkata dengan nada serius, "Tuan Waldi, lebih baik selesaikan masalah daripada memperburuk ma

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 128

    Nathan tersenyum sinis, "Bukankah Tuan Waldi ingin bertarung sampai mati?"Waldi sudah mengamuk. "Diam dan lepaskan putraku. Aku akan membiarkan kalian pergi. Enyah, enyah kalian semua!""Nona Regina, Kak Arjun, Dokter Bayu, ayo kita pergi," ucap Nathan dengan datar.Arjun tidak bergerak. "Tuan Nathan, jangan percaya sama Waldi. Begitu kita melangkah keluar, dia pasti akan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang."Nathan menatap Waldi dan berkata sambil tersenyum, "Tuan Waldi, sebaiknya kamu nggak mengingkari kata-katamu. Lagi pula, aku sudah menekan titik fatal di tubuh putramu.""Kalau kami nggak bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat, percayalah, putramu ini akan menjadi orang pertama yang mati."Ekspresi Waldi berubah lagi.Dia memang berencana demikian. Begitu Nathan melepaskan Daren, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh mereka.Siapa sangka bocah ini akan begitu teliti dan sudah meninggalkan taktik pada tubuh putranya."Tuan Waldi, apa kita akan membiarkan b

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 129

    "Terakhir saat berada di arena pacuan kuda, bajingan inilah yang menghasut Daren untuk datang dan membuat masalah."Regina berkata dengan nada jijik, "Bagaimanapun juga, Keluarga Halim merupakan keluarga besar di Beluno dan juga termasuk keluarga terkemuka, tapi Edward ini memang pria jahat."Arjun mendengus dingin, "Tuan Nathan, apa kamu ingin aku memberi pelajaran pada Edward, pria berengsek itu?""Untuk sementara nggak perlu. Kalau Tuan Edward ini benar-benar punya niat jahat, suatu hari nanti, aku akan membuatnya merasakan apa itu namanya penyesalan," kata Nathan dengan tenang.Saat menatap Nathan, sepasang mata indah Regina berbinar dan bibirnya tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman.Lelakinya ini makin lama makin mendominasi.Tanpa perlu mengungkapkan apa pun, Dokter Bayu dari Keluarga Wijaya dan Arjun dari Gluton kini telah bersekutu dengan Nathan.Hanya berdasarkan kemampuan ini, entah kenapa Emilia dulu begitu tega melepaskan Nathan.Malam harinya.Waldi, si penguasa Hess

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 130

    Waldi bergumam, "Nathan, Nathan ...."Kemudian, diikuti dengan bunyi keras, dia langsung menampar Andre dan membuatnya terpental."Kamu cari mati, ya? Beraninya kamu mempermainkanku?"Melihat Waldi emosi, Andre tertegun dan berteriak, "Tuan Waldi, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Mengapa kamu memukulku?"Padahal, Andre telah memberikan saran dan nasihat, tetapi siapa sangka Waldi bukan hanya tidak menghargainya, tetapi dia juga memukulnya. Andre benar-benar ingin berbalik dan pergi. Dia tidak peduli dengan Daren lagi dan biarlah anak itu mati begitu saja.Waldi berkata dengan kejam, "Apa salahnya aku memukulmu? Kamu bodoh. Tahukah kamu titik fatal yang dialami Daren itu disebabkan oleh Nathan?""Apa? Titik fatal Tuan Daren disebabkan bocah itu?"Andre tercengang. Dia baru mengerti mengapa Waldi menamparnya.Bukankah ini namanya mengangkat isu yang tidak relevan dan menyingkap kepedihan Tuan Waldi?Tamparan barusan sungguh tidak adil."Tuan Waldi, kalau titik fatal Tuan Daren benar

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 131

    Namun, mereka yang mengetahui kisah di dalamnya tahu bahwa Nathan bisa dengan mudah mengambil posisi wakil kepala rumah sakit.Jangankan wakil kepala rumah sakit, berdasarkan keterampilan medis Nathan, pria itu bahkan memenuhi syarat untuk menjadi kepala rumah sakit.Menatap ruangan kantor baru yang didekorasi khusus untuknya, Nathan berkata dengan tak berdaya, "Nona Regina, Bu Tiara, sebenarnya aku nggak tertarik dengan posisi wakil kepala rumah sakit."Regina sangat gembira. "Dokter Nathan, kami tahu kamu nggak tertarik dengan jabatan.""Tapi Rumah Sakit Perdana merupakan rumah sakit swasta yang kami kelola. Jabatan kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang berkemampuan, tanpa memandang kualifikasi. Aku rasa jabatan wakil kepala rumah sakit sangat cocok untukmu."Tiara juga tersenyum dan berkata, "Nathan, kalau kamu mau, aku bisa menyerahkan posisi kepala rumah sakit kepadamu. Biarlah aku menjadi wakil kepala rumah sakit dan membantumu."Nathan tersenyum pahit dan berkata, "Lupakan

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 132

    Melihat Andre yang datang dan pergi dengan marah, Tiara mengerutkan kening dan berkata, "Regina, sepertinya Andre masih nggak bisa melepaskan prasangka buruknya terhadap Nathan."Regina mengerutkan bibirnya dan berkata, "Buat apa repot-repot berhadapan dengannya? Kalau dia berani melawan Dokter Nathan, cepat atau lambat dia akan tamat."Tiara berkata dengan sungguh-sungguh, "Regina, jangan lupa di belakang Andre, masih ada Harel. Apalagi, Harel selalu berselisih dengan keluarga kita."Regina mendengus dingin. "Kalau Harel pintar, dia nggak akan melawan kita hanya demi Andre."Nathan tidak melakukan apa pun sepanjang pagi itu.Setelah menjadi wakil kepala rumah sakit, dia tidak lagi sibuk seperti saat menjadi dokter jaga.Regina dan Tiara memberinya kebebasan.Kecuali rumah sakit menghadapi kasus besar yang bahkan Tiara pun kesulitan untuk menanganinya.Meski Nathan termasuk salah satu dokter yang punya kemampuan tinggi di Rumah Sakit Perdana, dia hanya perlu mengambil tindakan dalam si

Bab terbaru

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 232

    Salah satu pengawal bertanya dengan gemetar, "Tu ... Tuan Edward, apa yang harus kita lakukan?""Bocah itu menakutkan sekali. Dia bahkan menghancurkan dada Master Emir. Kalau dia mengejar kita, bukankah kita ... kita juga akan celaka?"Edward berteriak, "Sekelompok pengecut yang takut mati!""Lihat betapa pengecutnya kalian! Lebih baik Keluarga Halim memelihara anjing daripada kalian."Para pengawal itu marah, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Mereka hanya bisa diam-diam mencibir dalam hati.'Bukankah orang yang lebih takut mati itu Tuan Edward sendiri?'"Bawa aku untuk mengobati lukaku dulu. Setelah itu, baru pergi mencari ayahku."Tatapan mata Tuan Edward tampak begitu tajam. Dia mengatupkan giginya rapat-rapat. "Nathan, kamu tunggu saja. Pokoknya, salah satu dari kita pasti akan mati dan orang itu adalah kamu!"Di Rumah Sakit Perdana.Tamara menarik Emilia dan berbisik di telinganya, "Emilia, kesempatan Keluarga Sebastian kita sudah datang."Emilia bertanya dengan bingung, "Bu

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 231

    Dua pengawal Keluarga Halim bergegas maju dan dengan susah payah memapahnya."Master Emir, kamu ...."Edward tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka akan berakhir seperti ini.Sebelum kehilangan kesadarannya, Emir masih sempat berpesan dengan pasrah, "Tuan Edward, cepat kabur."Seakan-akan kehilangan penyelamatnya, putra sulung Keluarga Halim langsung mengaum histeris.Wajah Nathan tampak dingin. Dia tidak mengejarnya.Serangan lutut yang barusan dia luncurkan itu telah menghancurkan meridian Emir.Sekalipun bisa bertahan hidup, Emir juga hanya bisa menjadi orang yang tidak berguna.Butuh waktu lama bagi Edward untuk tersadar kembali. "Apa yang kalian lakukan di sana? Huh? Semuanya pecundang. Cepat bawa aku pergi!"Memandang para pengawal yang tertegun, Tuan Edward langsung meraung frustrasi.Para pengawalnya baru terhenyak dan bersiap membawanya kabur dari tempat ini.Nathan berkata dengan nada datar, "Kalau kalian nggak ingin mati, tinggalkan pecundang itu di sini."Para pengawal

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 230

    Tindakan Nathan cepat dan tegas. Gerakannya juga sangat tajam.Seketika membuat Emilia, Tiara, dan yang lainnya tercengang.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Nathan masih berani menyerang Edward. Padahal, dia ditemani oleh Master Emir hari ini.Yang lebih mengejutkan mereka lagi, bukankah Edward juga termasuk tuan muda terkenal di Beluno dan punya keterampilan bela diri yang cukup sempurna?Kenapa begitu jatuh di tangan Nathan, Edward malah seperti orang lemah dan justru dipukul secara habis-habisan? Sampai-sampai tidak bisa bangkit lagi hanya karena sentuhan ringan.Ada nyala api membara yang muncul di mata Emir."Nak, nyalinya besar juga.""Beraninya kamu menyerang orang di hadapanku. Jangan harap kamu bisa lolos hidup-hidup."Nathan melambaikan tangan ke arahnya. "Jangan omong kosong lagi. Cepatlah kalau kamu mau bertindak.""Selesai bertindak, aku masih harus memeriksa pasien lainnya."Kesabaran Master Emir seakan-akan diuji. Dia sudah hampir mengamuk. "Dasar bocah kurang aj

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 229

    "Tapi yang kulakukan untukmu kali ini sudah cukup untuk membalas semua pengorbananmu."Nathan mengerutkan kening dan berkata, "Jadi sampai sekarang, kamu masih berpikir untuk perhitungan denganku? Kamu juga berusaha keras untuk memastikan bahwa kamu dan Grup Sebastian nggak berutang apa pun padaku lagi?"Emilia memalingkan wajahnya dan berkata dengan keras kepala, "Ya, aku nggak ingin berutang padamu."Nathan tersenyum sinis. "Kamu nggak berutang apa pun padaku. Minggirlah. Bukankah Tuan Edward sangat sombong? Bukankah dia ingin mengendalikanku? Aku akan beri dia kesempatan."Emilia tertegun sejenak. Kemudian, dia memarahi pria itu. "Nathan, kamu tahu apa yang kamu lakukan?""Mundur. Edward ditemani oleh master dari Keluarga Halim. Kalau kamu terus keras kepala seperti ini, percuma saja aku kompromi dengan Edward barusan."Nathan mendorong Emilia dan berkata dengan nada datar, "Pertama, aku sama sekali nggak butuh kamu membantuku berkompromi.""Kedua, Tuan Edward sedang pamer di wilaya

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 228

    Emilia berkata dengan kaku, "Maaf, aku nggak butuh semua itu. Aku sudah bilang tadi malam, hubungan kita sudah berakhir."'Dasar wanita nggak tahu berterima kasih!'Edward diam-diam memaki Emilia dalam hatinya, tetapi wajahnya masih tetap tersenyum. "Aku tahu kamu masih marah.""Aku nggak minta kamu memaafkanku sekarang. Tapi Emilia, perasaanku padamu nggak pernah berubah. Aku akan datang ke kediaman Sebastian setiap hari untuk mengakui kesalahanku sampai kamu memaafkanku."Emilia berkata dengan nada jijik, "Edward, tahukah kamu pemikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan?""Sudah kubilang, kamu nggak perlu mengakui kesalahanmu. Mulai sekarang, kita juga nggak perlu saling berhubungan lagi. Itu lebih baik daripada apa pun."Tamara juga ikut memarahi. "Edward, jangan ganggu putriku lagi. Bagaimanapun juga, kamu itu putra sulung Keluarga Halim. Jangan jadi orang yang nggak tahu malu."Wajah Edward tampak geram. Dia ingin menghampiri Tamara dan menghajar wanita tua itu.Namun, dia menarik nap

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 227

    Thomas juga bukan orang yang bisa ditekan oleh Tiara dan juga Regina.Edward sangat senang dan berkata dengan nada datar, "Tiara, kamu pasti nggak sangka kalau aku akan mampu menekan Nathan dan memberinya pelajaran, 'kan?""Selama ini, kamu dan Regina, dua wanita paling cantik di Beluno, selalu bergaul dengan bocah itu.""Sebagai seorang kakak, entah sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Tapi kalian keras kepala dan nggak mau dengar nasihatku.""Begini saja. Kamu panggil Nathan ke sini, lalu suruh dia berlutut dan jilat jari kakiku. Kalau aku puas, mungkin aku akan pertimbangkan untuk melepaskan nyawanya untuk sementara waktu."Melihat senyum puas Edward, Tiara merasa jijik dan juga ilfil."Edward, bagaimanapun juga, kamu termasuk tuan muda paling berbakat di Beluno dan berasal dari keluarga bangsawan.""Tapi selama ini, kamulah yang terus-terusan mencari masalah dengan Nathan. Lantaran nggak bisa mengalahkan Nathan, sekarang kamu minta para master keluargamu untuk datang membantumu.

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 226

    "Emilia, aku datang menjengukmu, juga Bibi, dan Ken.""Tadi malam aku memang agak impulsif. Aku juga kehilangan akal sehat. Bisakah kamu memaafkanku?"Begitu Edward sampai, dia langsung memperlihatkan sikap rendah hati, seolah-olah dia itu pria yang berperilaku baik dan berhati hangat.Tamara mendengus dingin. "Maaf, kami nggak menerima permintaan maafmu. Keluarlah dari sini."Edward sama sekali tidak peduli. Dia sudah menebak bahwa Tamara akan bersikap seperti itu.Pria itu melihat sekeliling dan mendapati Emilia tidak ada di sana, jadi dia langsung bertanya, "Di mana Emilia? Dia pergi ke mana?"Tamara tersenyum sinis. "Ke mana dia pergi? Tentu saja menjauh dari pria berengsek sepertimu.""Edward, lebih baik kamu menyerah saja. Nggak ada seorang pun anggota Keluarga Sebastian yang bisa memaafkan kelakuanmu tadi malam.""Asal kamu tahu saja, Emilia sudah balikan sama Nathan. Sekarang, mereka berdua mungkin lagi bermesraan."Wajah Edward tiba-tiba berubah muram. Tatapannya seolah ingin

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 225

    "Kebetulan kakekku punya buku kedokteran yang nggak begitu dia pahami, jadi dia ingin kamu membantunya."Nathan tersenyum dan berkata, "Nggak masalah. Asal ada waktu, aku pasti akan pergi mengunjungi Pak Willy."Ada dua lesung pipit yang muncul di wajah cantik perawat itu. Dia pun melangkah pergi dengan gembira.Emilia yang berdiri di samping menyaksikan pemandangan ini dengan tatapan tidak senang."Nathan, perawat kecil ini dari Keluarga Setiawan, keluarga terpandang di Beluno, 'kan?" tanya Emilia.Nathan tidak tahu terlalu banyak tentang latar belakang Keluarga Setiawan, keluarganya Adel, jadi pria itu pun menjawab, "Aku kurang tahu."Emilia tersenyum pahit dan berkata, "Nggak perlu pura-pura lagi. Tatapan matanya yang penuh kekaguman itu sudah begitu jelas. Dia sepertinya tergila-gila padamu.""Haha. Sejak berpisah denganku, hubungan asmaramu cukup mulus juga. Sebelumnya ada Nona Regina, kemudian Nona Tiara dari Keluarga Wijaya.""Sekarang bertambah satu Adel lagi. Nathan, sepertiny

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 224

    Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status