Home / Thriller / Kekasih Di Balik Kabut / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Kekasih Di Balik Kabut: Chapter 21 - Chapter 30

65 Chapters

Bab 21

21 Jalinan waktu terus bergulir. Niat Jauhari untuk kembali ke tempat proyek akhirnya dibatalkan. Sebab dia harus menuntaskan latihan olah napas dan bersiap-siap untuk dibaiat. Sebagai gantinya, Riaz yang berangkat bersama Zein dan yang lainnya. Sedangkan Jauhari dan Nawang mendampingi Alvaro serta Hendri, yang hendak melakukan rapat dengan beberapa pengusaha PG dan PC yang berdomisili di Bandung. Nawang yang diminta menyetir mobil Hendri, berulang kali diteriaki Jauhari yang menempati kursi samping kiri. Kedua pria muda tersebut saling mencela dan beradu kaki. Tanpa peduli dipandangi para bos di kursi belakang. "Kamu kayak baru belajar nyetir, Wang. Bawa mobilnya ndut-ndutan gini," ledek Hendri. "Aku memang belum pernah nyetir mobil model gini, Kang," kilah Nawang. "Mobil ini tipenya sama dengan mobil Yanuar. Harusnya kamu sudah paham," imbuh Alvaro."Aku belum pernah pegang mobil Bang Yan. Nyetir mobil Abang pun cuma sekali," tutur Nawang. "Pinjam mobil Koko Dante. Lancarin n
last updateLast Updated : 2025-02-07
Read more

Bab 22

22Detik berlalu menjadi menit. Suasana di dalam gudang besar mendadak menegangkan. Terutama bagi Seno yang sibuk memerhatikan sekeliling. Pria berkulit kuning langsat, berulang kali mengusap tengkuk dan punggung tangannya. Seno benar-benar khawatir jika semua makhluk astral muncul secara bersamaan, bisa dipastikan dirimya harus ikut berjuang bersama teman-temannya. Seno membeliakkan mata ketika dua sosok makhluk astral kian terlihat di bawah pohon. Disusul satu bayangan yang bergerak dari rimbunan pohon dekat container. Lamya terus memerhatikan sosok berpakaian khas laki-laki Sunda tempo dulu, yang tengah berdiri membelakangi kamera. Dia mengeluh dalam hati ketika makhluk itu berbalik dan memandangi kamera CCTV. "Dia tahu jika tengah diawasi," tutur Lamya. "Mungkin dia jurig modern," seloroh Nirwan."Kupikir juga begitu. Coba kalian lihat pakaiannya. Nggak terlalu jadul," imbuh Zein. "Maksudku, beda dengan jin yang sering kita temui di tempat proyek lain," lanjutnya. "Bang, aku
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Bab 23

23Seunit mobil Jeep Mercedes-Benz abu-abu melesat menembus kepekatan malam. Sang sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera tiba di tempat tujuan. Keempat penumpangnya tidak ada yang urun bicara. Mereka tahu jika sang sopir tengah tegang dan tidak boleh diganggu. Mendekati tempat tujuan, Hendri membelokkan mobil ke kanan. Meskipun jalan di situ tidak rata, tetapi itulah jalan pintas tercepat menuju area belakang kantor pengelola proyek KARDZ. Selama berada di sana tempo hari, Hendri sudah mempelajari jalan-jalan kecil yang biasa dilalui pekerja kasar. Gang itu menjadi satu-satunya area yang bisa dilintasi mobil, tanpa harus memutar ke bangunan utama. Sinar lampu mobil Jeep menyorot langsung ke sisi kanan halaman, di mana ada beberapa pohon besar yang menjadi penghalang pandangan, hingga tidak tembus ke bangunan gudang. Gunther yang melihat mobil mendekat, segera menyilangkan kedua tangannya, lalu menunjuk ke kiri untuk mengarahkan mobil ke tempat yang la
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Bab 24

24Tiga unit mobil berhenti di pekarangan depan rumah Arsyad. Semua penumpangnya turun dan jalan cepat memasuki bangunan, untuk menghindari gerimis. Mereka bersalaman dengan kedua pemilik rumah, kemudian duduk berdesak-desakan pada dua set kursi yang tersedia. Sebelum akhirnya Jauhari mengajak semua juniornya duduk bersila di lantai supaya lebih tenang.Zein menerangkan peristiwa kemarin dari awal hingga akhir. Semua orang memandangi Riaz yang cengengesan, seusai Zein menjelaskan tindakan nekat Adik Zulfi tersebut, pada kuntilanak. "Oh, jadi kuntilanak itu memang penunggu gudang besar?" tanya Martin. "Di situ, dan dekat tangga menuju ruang pekerja di lantai dua, merupakan tempatnya tinggal," terang Zein. "Pantas, kalau mau ke atas, aku pasti merinding lewat tangga," ungkap Martin. "Zein, kuntilanaknya musnah, nggak?" desak Alvaro. "Ya. Langsung kebakar dia kena ajian sakti Riaz," seloroh Zein. "Kamu baca doa apa, Ri?" sela Arsyad sembari memandangi lelaki muda berkulit kecokela
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Bab 25

25Jalinan waktu terus bergulir. Sabtu pagi, Iring-iringan mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan bebas hambatan menuju Jakarta. Hendri yang mengemudikan mobilnya sendiri, berbincang serius dengan Alvaro yang berada di kursi samping kiri. Pria berparas separuh luar negeri tersebut tidak jadi pulang kemarin, karena masih ingin berbincang lebih serius dengan Martin dan yang lainnya, terutama urusan proyek bersama yang mereka ikuti. Irshava yang menempati kursi belakang bersama Yuanna dan Martin, sibuk berbalas kata dengan teman-temannya di grup GIPSI. Yakni, grup para istri anggota PC. Yuanna menggamit lengan kiri kekasihnya. Dia merasa berat untuk melepas kepergian Martin ke Kuala Lumpur. Namun, Yuanna tidak bisa mencegah lelakinya berangkat, karena itu demi kebaikan Martin sendiri. Yuanna teringat perbincangannya dengan Mulyadi tempo hari. Pria tua tersebut menyanggupi untuk membantu Martin, tetapi Yuanna harus memenuhi persyaratan khusus, yaitu melakukan ngabeuti dan mutih
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

Bab 26

26Malam itu, Jauhari datang ke rumah Wirya bersama Yusuf, Aditya, Dimas, Syuja, Hasbi, Fikri, Mukti dan Harun. Mereka membahas jadwal kerja yang telah diubah Wirya, Zulfi dan Yoga tadi sore. Jauhari membatin jika sepertinya Wirya telah mengetahui hasil penerawangan Mulyadi. Hingga sang dirut tiba-tiba mengubah jadwal kerjanya selama 6 bulan ke depan. Jauhari tidak bisa memprotes dan terpaksa menerima semua perintah Wirya. Pria berlesung pipi menyadari bila komandannya itu hanya berusaha untuk melindunginya. "Bang, karena aku lebih banyak di sini, boleh nggak, aku ikut Kang Hendri ke tempat proyek?" tanya Jauhari, sesaat setelah Wirya usai mengoceh."Minggu ini, kamu full jadi ajudanku, Ri. Belajar jadi penggantiku saat rapat dengan klien besar," tolak Wirya. "Yusuf aja, atau Aditya." "Mereka punya tugas sendiri." "Ehm, atau Dimas." Wirya menaikkan alisnya. "Aku, tuh, mau ngajarin kamu supaya nggak malu buat presentasi. Kamu masih gugup gitu. Gimana mau jadi dirut EMERALD kalau
last updateLast Updated : 2025-02-10
Read more

Bab 27

27Pagi itu, Seno baru tiba di kantor, ketika penjaga keamanan yang baru selesai bertugas, mendatanginya di ruangan khusus staf. Seno terkejut kala satpam itu menerangkan jika beberapa CCTV di belakang telah rusak sejak semalam. Seno segera jalan ke tempat itu dengan ditemani sang penjaga yang bernama Dadan.Setibanya di belakang, Seno memandangi ketiga kamera yang dalam kondisi pecah. Dia meminta diambilkan tangga, kemudian Seno memanjat untuk memotret dan memvideokan CCTV yang rusak. Setelah turun, Seno mengirimkan gambar dan video itu pada Hendri. Dia bergegas ke gudang untuk mengecek rekaman sehari sebelumnya. Tidak berselang lama, komisaris satu HWZ langsung menelepon anak buahnya tersebut. "Coba cek rekamannya. Mungkin ada penjelasan, bagaimana kamera itu bisa hancur," pinta Hendri. "Sudah, Pak. Blank semua. Kayak dihapus, gitu," jelas Seno. "Siapa yang tugas semalam?" "Dadan, Ali, Rozak dan Kusmiadi." "Mereka sudah ditanyai?" "Ya, tapi nggak ada yang tahu. Karena kemare
last updateLast Updated : 2025-02-10
Read more

Bab 28

28Ridho berusaha untuk bangkit duduk ketika melihat Hendri dan yang lainnya memasuki kamar. Namun, sang bos langsung mencegah dan memintanya berbaring kembali. Hendri duduk di tepi kasur. Dia meraba dahi Ridho yang panas. "Kita ke dokter," ajaknya seusai menarik tangan."Enggak usah, Pak," cicit Ridho. "Kata Muchlis, demamnya cuma turun sedikit dari kemarin. Aku khawatir ini gejala dari penyakit lain. Apalagi kamu beberapa kali muntah." "Ehm, aku pengen pulang ke rumah Ayah." "Nanti diantarkan Muchlis, tapi, kamu ke dokter dulu." Ridho mengangguk lemah. Dia tahu, tidak akan menang berdebat dengan Hendri. Muchlis dan Seno membantu Ridho bangkit. Kemudian mereka menuntun pria tersebut jalan keluar kamar. Seorang pekerja proyek membereskan barang-barang Ridho dan memasukkannya ke tas ransel hitam. Kemudian dia melangkah ke depan dan memberikan tas itu pada Seno yang telah berada di balik kemudi mobil SUV biru milik Izra.Hendri dan rekan-rekannya memandangi hingga mobil itu menjau
last updateLast Updated : 2025-02-11
Read more

Bab 29

29Izra, Naizar dan Lamya turut keluar. Mereka membantu Yusuf dan Jauhari yang dikeroyok empat orang. Sementara Hendri melanjutkan adu jotos dengan pemilik parang. Seno tidak ikut keluar. Mulai terbiasa dengan kebiasaan tim PBK, Seno berinisiatif memvideokan perkelahian itu dengan ponselnya. "Kamu siapa?" tanya Hendri, sesaat setelah berhasil memelintir tangan kanan lawannya. Akan tetapi, alih-alih menjawab, pria berbaju hitam itu justru menghantamkan siku kirinya ke perut Hendri, yang refleks menghindar. Lelaki berdagu panjang tersebut berhasil melepaskan tangan kanannya dari cekalan Hendri. Dia hendak mengambil parang yang terlempar ke tanah, tetapi gagal karena benda itu ditendang Hendri menjauh. Keduanya saling berhadapan dan sama-sama memasang kuda-kuda karate. Mereka serentak maju, lalu saling menyerang tanpa ada yang mau mengalah. Sementara itu di sisi kanan, dua orang muncul dari balik pagar. Mereka hendak menyerang Hendri. Namun, Jauhari telah terlebih dahulu menghadang
last updateLast Updated : 2025-02-11
Read more

Bab 30

30Siang itu, Yuanna dan Freya mengemasi semua barang milik Martin. Mereka memindahkannya ke mobil Izra, yang ikut mengantarkan kedua gadis itu ke rumah kontrakan. Selama Yuanna berbenah, Izra mengecek belakang rumah. Dia meraba dinding pembatas sembari menembakkan tenaga dalam. Namun, setelah memegangi sepanjang dinding, Izra tidak merasakan hawa berat tempat mistis. "Kang, berarti kasurnya ditinggal di sini?" tanya Yuanna sembari melongok dari pintu samping, yang menghubungkan dapur dengan lorong samping dan belakang. "Kata Kang Hendri, besok mau diangkut ke mess. Sama lemari dan yang lainnya. Kalau kursi, punyanya pemilik rumah," terang Izra sambil menyambangi gadis yang mengikat rambutnya bentuk ekor kuda. "Berarti gelas dan lain-lain nggak kubereskan. Mungkin kalian mau pakai malam ini." Izra mengangguk mengiakan. "Sudah beres?" tanyanya. "Ya. Semua baju dan barang-barang di kamar depan, sudah dipindahkan ke mobil." "Ayo, kita ke rumah makan kesukaan Bang Zein. Yang lainny
last updateLast Updated : 2025-02-12
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status