30Siang itu, Yuanna dan Freya mengemasi semua barang milik Martin. Mereka memindahkannya ke mobil Izra, yang ikut mengantarkan kedua gadis itu ke rumah kontrakan. Selama Yuanna berbenah, Izra mengecek belakang rumah. Dia meraba dinding pembatas sembari menembakkan tenaga dalam. Namun, setelah memegangi sepanjang dinding, Izra tidak merasakan hawa berat tempat mistis. "Kang, berarti kasurnya ditinggal di sini?" tanya Yuanna sembari melongok dari pintu samping, yang menghubungkan dapur dengan lorong samping dan belakang. "Kata Kang Hendri, besok mau diangkut ke mess. Sama lemari dan yang lainnya. Kalau kursi, punyanya pemilik rumah," terang Izra sambil menyambangi gadis yang mengikat rambutnya bentuk ekor kuda. "Berarti gelas dan lain-lain nggak kubereskan. Mungkin kalian mau pakai malam ini." Izra mengangguk mengiakan. "Sudah beres?" tanyanya. "Ya. Semua baju dan barang-barang di kamar depan, sudah dipindahkan ke mobil." "Ayo, kita ke rumah makan kesukaan Bang Zein. Yang lainny
31 Martin terbangun karena bunyi alarm ponselnya. Pria berkaus merah, meraba-raba ke kiri untuk menggapai ponsel dan mematikan alarm. Martin memerhatikan sekeliling, lalu meraba bajunya sampai ke paha. Dia menghela napas lega, karena semua yang dialaminya ternyata hanya mimpi. Selama beberapa menit berikutnya Martin mengingat-ingat apa yang dijalaninya dalam mimpi. Meskipun hanya bunga tidur, tetapi semuanya seolah-olah nyata. Martin meremas-remas rambutnya yang mulai memanjang. Dia menimbang-nimbang sesaat dalam hati, sebelum memutuskan untuk merahasiakan hal itu dari siapa pun. Lelaki bermata sipit tersebut enggan menerangkan mimpinya pada Razman ataupun yang lainnya. Dia juga tidak mau menceritakan hal itu pada Nirwan, yang pastinya akan menyampaikan pada Hendri dan teman-temannya. Seruan sang mama dari luar menyadarkan Martin dari lamunan. Dia menyahut, sembari bangkit duduk. Martin menurunkan kaki ke lantai, lalu berdiri dan jalan ke toilet. Sekian menit berlalu, Martin te
32Kediaman Mulyadi malam itu terlihat ramai. Hampir semua tim pengejar hantu datang, untuk menjadi saksi acara baiat ketiga ajudan muda. Berbeda dengan Jauhari tempo hari, Yusuf, Aditya dan Harun terlihat lebih tenang. Mereka mendengarkan petuah Mulyadi dengan saksama. Sebelum maju bergantian untuk menuntaskan akad. Harun maju terlebih dahulu. Dia menjabat tangan Mulyadi dan mengikuti ucapan pria tua tersebut dengan fasih. "Bapak dengar, kamu mau dinas lama di luar negeri, Run," ujar Mulyadi sembari melepaskan tangan lelaki muda yang mengenakan baju koko hijau lumut. "Ya, Pak. InsyaAllah, awal September nanti berangkat," jawab Harun. "Dinas berapa lama?" "Dua tahun." "Pesan Bapak, sebelum berkendara, jangan lupa buka pakai jurus tiga, dua, dan tutup dengan jurus empat. Fungsinya untuk melindungimu selama berkendara, sekaligus memagarimu dari pandangan jahat orang lain." "Muhun, Pak." "Jaga istri dan anakmu baik-baik. Walaupun di sana kamu tugasnya tidak sendirian, tetap saja
33Konvoi tiga mobil itu tiba di jalur proyek yang telah ramai orang. Meskipun semua penjaga keamanan sudah memasang tali seputar area, tetap saja ada pengunjung yang bandel dan menerobos tali. Hendri dan kedua sopir lainnya memarkirkan kendaraan di dekat saung terbesar. Kemudian mereka turun dan jalan menyambangi Ridho, Seno dan Muchlis, yang sedang berbincang dengan Adang. Yuanna, Sinta dan Freya kompak mengembangkan payung hitam besar. Mereka bergabung dengan tim Hendri dan turut mendengarkan percakapan itu. "Sudah dicek semua gorong-gorongnya?" tanya Hendri."Ya, Pak. Dari ujung kilometer 0, sampai titik terakhir," jelas Ridho. "Sebelum muncul itu, apa ada yang lihat ularnya keluar dari mana?" "Enggak ada. Tiba-tiba nongol di dekat tiang itu," jelas Ridho sambil menunjuk tiang lampu yang berada di tengah-tengah selokan. "H, kita perlu ngulur jarak dengan goa," bisik Zein. "Hmm, garis lurus atau melintang?" tanya Hendri dengan suara pelan. "Lurus." Zein memicingkan mata unt
34Suasana di sekitar vila yang disewa Hendri, malam itu terlihat sepi. Lokasinya yang berada di bukit dan cukup jauh dari permukiman warga, menjadikan tempat itu terasa sunyi. Vila itu merupakan milik kepala desa di mana Maman tinggal. Saat dikabarkan akan disewa oleh bos HWZ, sang kepala desa langsung memerintahkan orang untuk membersihkan tempat itu, sekaligus menambah banyak kasur lipat dan bantal. Kala kelompok Hendri mendatangi kediaman kepala desa untuk mengambil kunci, pria tua tersebut terlihat semringah. Dia makin senang ketika Hendri menerangkan akan menyewa vilanya selama seminggu. Selepas isya, Maman datang bersama putranya, Fandi, dan Jajang. Mereka membawakan ransum buat kelompok tamu, yang sudah dipesan sejak beberapa hari lalu. "Kang, airnya bersih, teu?" tanya Maman, sesaat setelah duduk bersila di samping kanan Hendri. "Bersih, Mang. Kamar mandi, dapur dan kamar tidurnya juga bersih," jawab Hendri sembari membuka kotak makanan bagiannya. "Alhamdulillah. Ternya
35Hendri mengamati bagian dalam goa, yang sudah lebih terang dibandingkan sebelumnya. Tim Barry telah bekerja cepat memasang dua lampu sorot di kanan dan kiri mulut goa. Hendri menempelkan telapak tangan kanan ke batu di tengah-tengah tempat itu, yang menjadi penutup utama jalan goa. Hendri memejamkan mata, lalu melakukan jurus empat dalam benaknya. Hal serupa juga dilakukan Zein, Ubaid dan Bayu. Mereka berdiri berderet di samping kanan Hendri. Sedangkan yang lainnya sibuk memvideokan sekeliling. "Apa cuma aku yang merasa, kalau di sini, hawanya berat sekali?" tanya Jauhari. "Memang gitu, Ri. Bahkan, lebih kuat dari kemarin sore," jawab Aditya. "Andai batu-batu itu bisa digeser, aku pengen tahu dalamnya kayak apa," papar Muchlis. "Kayaknya sulit. Karena ini reruntuhan dari atas, kata Bang Zein," balas Ridho. Tiba-tiba terdengar bunyi benda-benda jatuh. Semua orang terdiam sambil menajamkan telinga masing-masing. Kala bunyi itu terdengar kembali, mereka serentak mengarahkan pan
36Yuanna jalan mondar-mandir sepanjang gudang besar. Dia benar-benar cemas, karena hingga jam 3 sore, Hendri dan ketiga rekannya belum juga keluar dari lorong waktu. Yuanna berulang kali berdoa agar akangnya bisa segera kembali. Dia tidak bisa membayangkan reaksi kedua orang tuanya dan juga Irshava, bila Hendri menghilang. Pekikan dari luar menyebabkan Yuanna bergegas membuka pintu gudang besar. Dia membulatkan mata ketika menyaksikan Zainal dan yang lainnya, tengah menarik sinar putih dari pohon besar di dekat gudang kecil. Yuanna bergegas mendekat, begitu juga dengan Sinta yang sejak tadi berada di gudang besar. Yuanna memerhatikan sekitar, di mana wajah para lelaki itu terlihat tegang. "Dek, bantu Freya buat membuka jalan!" titah Zainal sambil melirik Yuanna sekilas, sebelum pria berkaus hitam itu kembali menarik sinar putih. Tanpa menyahut, Yuanna bergegas menyambangi Freya yang tengah berdiri di depan pohon. Yuanna memasang kuda-kuda, kemudian dia menempelkan kedua telapak
37Nirwan terkejut kala membaca nama pemanggil di layar ponselnya. Pria berambut tebal terdiam sejenak, sebelum menghela napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan Nirwan, kecuali mengangkat panggilan dari bosnya di Indonesia. Meskipun deg-degan, tetapi Nirwan memaksakan diri untuk menyapa sang penelepon dengan ucapan salam. "Waalaikumsalam," balas Wirya. "Posisi, di mana, Wan?" tanyanya. "Di rumah sakit, Ndan," jelas Nirwan sambil melirik seorang pria di ranjang pasien. "Martin, kan, yang dirawat?" "Ehm, ya." "Jelaskan semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Aku pasang speaker, supaya semua orang di sini bisa ikut mendengarksn ceritamu." Nirwan mendengkus pelan. Kemudian dia berujar, "Koko Martin nggak bangun-bangun dari subuh, waktu aku masuk ke kamarnya buat matiin alarm hape. Aku guncang-guncang badannya, tetap nggak bangun." "Aku cek napas dan denyut nadinya, masih ada, tapi lemah. Aku segera keluar kamar untuk menerangkan itu
65Bulan berganti. Proyek KARZD akhirnya rampung. Pagi itu diadakan peresmian bangunan yang akan menjadi pusat bisnis sepanjang hampir 1km. Ketiga bos HWZ dan keluarga, serta para tamu undangan, memenuhi lobi utama gedung yang akan menjadi pusat kegiatan di kawasan strategis ituKeluarga Danantya, Pramudya, Baltissen dan Adhitama juga turut hadir. Selain mereka, beberapa sahabat Martin di PC dan PCD juga menghadiri acara penting bagi KARZD. Setelah Hendri dan Martin menyampaikan pidato, Mulyadi menaiki panggung untuk membacakan doa, yang diikuti hadirin dengan khusyuk. Selanjutnya, acara pengguntingan pita yang dilakukan kelima komisaris perusahaan tersebut. Zein dan Martin mengapit Wirya, Zulfi dan Hendri. Mereka bersama-sama memotong pita, kemudian mereka mempersilakan ketiga bocah untuk memencet tombol. Bayazid, Fazluna dan Rhetta, berseru ketika berbagai hiasan dari kertas mengilat, muncul dari lantai dua dengan diiringi aneka pita kecil berwarna-warni. Puluhan menit terlewati
64Jalinan waktu terus bergulir. Semua anggota rombongan penembus lorong waktu, telah kembali ke kediaman masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Yìchèn yang menetap di kediaman Frederick Adhitama, telah membaca surat panjang dari Shin Hung. Bersama Qianfan dan yang lainnya, Yìchèn juga sudah membahas isi surat dan silsilah keluarga Chow serta Shin Fung. Dua minggu berlalu, Martin dan tim Bandung mendatangi Yìchèn di Jakarta. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan tentang isi surat itu. "Koko yakin mau berangkat ke sana?" tanya Martin sambil memandangi kembarannya lekat-lekat. "Ya, tapi tidak sekarang," jawab Yìchèn. "Lalu, kapan?" desak Martin. "Menunggu aku punya identitas sendiri." "Oh, belum selesai, ya?" Yìchèn mengangguk mengiakan. "Pengacara keluargaku tengah mengurusnya." Martin mengangkat alisnya. "Keluarga Koko?" "Ya. Aku sekarang jadi bagian dari keluarga PBK." Martin mengulaskan senyuman. "Betul juga, sih." "Koko mau diangkat anak sama Papa
63Bau angit sisa-sisa kebakaran, yang sempat memenuhi area kanan belakang kantor pengelola proyek KARZD, perlahan menghilang. Matahari pagi bergerak cepat memutari bumi. Siang menjelang dengan diiringi gerimis, yang menyebabkan tanah di sekitar gudang kecil menjadi basah. Tim tiga dan empat berjibaku membangun tenda, dengan dibantu Seno, Ridho, dan Muchlis. Maman, Jajang, dan para petugas keamanan, juga turut membantu menjadi penyedia konsumsi. Dua lampu sorot besar diarahkan ke pintu gudang yang ditutupi kain hitam. Empat lampu lainnya digunakan untuk penerangan sekitar tenda, yang dibangun memanjang dari depan gudang kecil hingga ujung gudang besar. Yuanna merapikan lipatan handuk dan pakaian ganti buat anggota rombongan yang berada di lorong waktu. Sedangkan Gantari dan Sinta menyusun bungkusan plastik bening yang berisikan kue-kue serta minuman. Arsyad jalan mondar-mandir di sisi kanan tenda. Dia benar-benar khawatir, karena kelompok Zainal dan Hendri belum juga muncul. Pada
62Seorang pria tua menyambut rombongan Yìchèn dengan penghormatan. Dia memberikan bungkusan kain pada orang terdepan, yakni Dante. Keduanya bercakap-cakap sesaat, sebelum lelaki tua membuka pintu bangunan kecil itu. Cahaya terang seketika terpancar dari dalam. Semua orang di bagian depan menyipitkan mata, kemudian mereka berbaris dua orang, sesuai arahan Wirya. Yìchèn yang berpindah ke depan bersama Freya, memberi hormat dengan sedikit membungkuk pada suami Shin Fung, dan keluarga Chow, yang membalas dengan hal yang sama. Yìchèn menegakkan badan, lalu menunggu kedua orang terdepan memulai perjalanan mereka menuju masa modern. Hendri dan Zein menggerak-gerakkan kedua tangan mereka membentuk jurus halus olah napas. Keduanya serentak menembakkan tenaga dalam ke cahaya, yang seketika meredup dan memperlihatkan kumparan kabut tebal yang tidak terlalu terang. Hendri dan Zein melangkah bersamaan. Ubaid dan Bayu mengikuti di belakang. Keempatnya bekerjasama menembakkan tenaga dalam ke s
61Langit malam dipenuhi jutaan bintang. Rembulan memamerkan bentuknya yang sempurna, hingga mampu sedikit menerangi dunia. Angin berembus sepoi-sepoi di sekitar halaman depan kediaman keluarga Shin Fung, dan menyebabkan dedaunan di pohon-pohon itu bergoyang dengan pelan. Puluhan orang memenuhi seputar halaman. Mereka menonton ritual sembahyang ala orang Tiongkok, yang dilakukan Shin Fung, keluarga Chow, Yìchèn dan Qianfan. Chyou dan kelompok berselempang kain merah, berjaga-jaga di dekat tempat pemujaan. Kelompok Wirya yang menggunakan selempang biru, bersiaga di sekitar area sebagai lapisan kedua. Pasukan Ming Tianba menjadi pelindung utama di seputar rumah besar. Mereka bergantian mengawasi jalanan, supaya bisa mendeteksi pergerakan dari luar. Sebab saat itu masih zaman penjajahan Belanda, semua warga harus berhati-hati dalam mengadakan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Kendatipun Shin Fung dan Tan Liu Chow telah mendapatkan izin dari pejabat setempat untuk melakukan per
60Rombongan pimpinan Chyou tiba di depan rumah besar berarsitektur khas zaman dulu. Batu hitam menghiasi sisi bawah dinding, sedangkan bagian atasnya di-cat putih. Shin Fung mempersilakan semua orang memasuki ruangan. Dia penasaran, karena tidak ada seorang pun yang membuka kain penutup di wajah mereka. Selain itu, nyaris tidak ada yang berbincang. Selain Yìchèn, Qianfan, dan beberapa pengawal berselempang kain merah.Para pelayan bergegas menyuguhkan minuman dan makanan di belasan meja besar. Loko, Michael, Gibson dan Cedric mengelilingi setiap meja untuk mengecek, apakah ada racun pada hidangan. Shin Fung membatin, bila sepertinya anak buah Yìchèn memahami berbagai cara pengamanan, dan hal itu kian meningkatkan rasa keingintahuannya. "Saya belum tahu nama Tuan," ujar Shin Fung sambil memandangi pria berbaju cokelat di kursi sebelah kanannya. "Saya, Vong Qianfan," jawab lelaki yang rambutnya telah dihiasi uban. "Berasal dari mana?" "Guangzhou." "Bagaimana Tuan bisa bertemu de
59Kelompok satu dan dua akhirnya tiba di ujung lorong. Kabut putih tebal nan dingin menyelimuti tempat hening dan sangat terang itu.Semua orang mengatur barisan sesuai rencana yang telah dibuat ketiga komisaris HWZ. Mereka menunggu Martin mengatur napas, lalu mereka mengikuti langkah pria berpakaian bangsawan Tionghoa tersebut, menembus kabut. Hendri, Ubaid, Zein dan Bayu, mendampingi Martin di barisan terdepan. Keempat pria berpakaian prajurit tersebut, menembakkan tenaga dalam ke sisi kanan serta kiri, agar orang-orang di belakang bisa melihat lebih jelas ke depan. Tiba di depan gerbang besar bernuansa putih, Ubaid dan Bayu mundur. Posisi mereka digantikan Chyou dan Qianfan, yang akan bertugas sebagai pendamping utama Martin. Martin menempelkan telapak tangan kanannya ke gerbang. "Bibi, aku datang," tuturnya menggunakan bahasa Tiociu. Martin mundur selangkah ketika gerbang membuka sedikit demi sedikit, hingga terbuka sepenuhnya. Martin tertegun menyaksikan seorang perempuan pa
58"Baru kali ini aku masuk lorong waktu. Ternyata sepi dan ... aneh," tutur Zulfi dengan suara pelan. "Aku juga baru tahu bagian dalamnya kayak gini. Kemarin itu cuma masuk beberapa meter," jawab Wirya. "Kita melalui jalur aman, Bang. Ini bagian paling dalam dari lingkaran kumparan waktu," jelas Rahman yang berjalan di depan bersama Wirya. "Ada berapa lapisan, Man?" tanya Zulfi yang berdampingan dengan Dante di barisan kedua. "Biasanya, ada tiga." Rahman menunjuk keluar. "Tim Kang Hendti ada di lapisan kedua. Lorongnya lebih besar, tapi banyak akar dan bebatuan. Nggak kayak yang kita lewati ini," lanjutnya. "Lapis ketiga, lebih gelap sekaligus banyak gangguan. Itu yang dilewati kelompok Kang Hendri, waktu mencari Koko Martin tempo hari," pungkas Rahman. "Pantas mereka semua luka-luka," sahut Wirya. "Ya, karena di sana mereka bertemu dengan berbagai bentuk makhluk gaib. Paling banyak, kurcaci yang bentuknya mengerikan," terang Rahman. "Kayak di film The Lord Of The Ring?" "Be
57Matahari baru naik sepenggalah, ketika sekelompok orang berkumpul di dua tempat. Kelompok Zainal berada di belakang kantor pengelola proyek. Sedangkan kelompok Zein berada di dekat mulut goa tepi sungai. Yìchèn yang ikut dalam rombongan kedua, memerhatikan sekeliling sambil bergumam. Dia kaget, karena tempat itu memang mirip dengan sungai di Guandong, yang pernah didatanginya tempo hari. Yìchèn memegangi beberapa bebatuan yang landai. Sungai yang airnya menyusut karena musim kemarau, menjadikan batu-batu itu bisa terlihat jelas. Pria berambut sebahu, duduk di salah satu batu. Dia meraih seruling khas Chinese yang dibawakan Chyou dari Taiwan, lalu menempelkan benda itu di bibirnya.Alunan musik tunggal nan lembut, menyebabkan semua orang terdiam. Mereka menonton Yìchèn yang tengah bermain musik sambil membayangkan sosok orang-orang yang dikasihinya. Yìchèn begitu merindukan Mùchèn dan kedua orang tuanya. Bahkan pria berambut sebahu tersebut juga merindukan kudanya, yang telah ma