Beranda / Thriller / Kekasih Di Balik Kabut / Bab 35 - Lorong Waktu

Share

Bab 35 - Lorong Waktu

Penulis: Olivia Yoyet
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 18:37:49

35

Hendri mengamati bagian dalam goa, yang sudah lebih terang dibandingkan sebelumnya. Tim Barry telah bekerja cepat memasang dua lampu sorot di kanan dan kiri mulut goa.

Hendri menempelkan telapak tangan kanan ke batu di tengah-tengah tempat itu, yang menjadi penutup utama jalan goa. Hendri memejamkan mata, lalu melakukan jurus empat dalam benaknya.

Hal serupa juga dilakukan Zein, Ubaid dan Bayu. Mereka berdiri berderet di samping kanan Hendri. Sedangkan yang lainnya sibuk memvideokan sekeliling.

"Apa cuma aku yang merasa, kalau di sini, hawanya berat sekali?" tanya Jauhari.

"Memang gitu, Ri. Bahkan, lebih kuat dari kemarin sore," jawab Aditya.

"Andai batu-batu itu bisa digeser, aku pengen tahu dalamnya kayak apa," papar Muchlis.

"Kayaknya sulit. Karena ini reruntuhan dari atas, kata Bang Zein," balas Ridho.

Tiba-tiba terdengar bunyi benda-benda jatuh. Semua orang terdiam sambil menajamkan telinga masing-masing. Kala bunyi itu terdengar kembali, mereka serentak mengarahkan pan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 36

    36Yuanna jalan mondar-mandir sepanjang gudang besar. Dia benar-benar cemas, karena hingga jam 3 sore, Hendri dan ketiga rekannya belum juga keluar dari lorong waktu. Yuanna berulang kali berdoa agar akangnya bisa segera kembali. Dia tidak bisa membayangkan reaksi kedua orang tuanya dan juga Irshava, bila Hendri menghilang. Pekikan dari luar menyebabkan Yuanna bergegas membuka pintu gudang besar. Dia membulatkan mata ketika menyaksikan Zainal dan yang lainnya, tengah menarik sinar putih dari pohon besar di dekat gudang kecil. Yuanna bergegas mendekat, begitu juga dengan Sinta yang sejak tadi berada di gudang besar. Yuanna memerhatikan sekitar, di mana wajah para lelaki itu terlihat tegang. "Dek, bantu Freya buat membuka jalan!" titah Zainal sambil melirik Yuanna sekilas, sebelum pria berkaus hitam itu kembali menarik sinar putih. Tanpa menyahut, Yuanna bergegas menyambangi Freya yang tengah berdiri di depan pohon. Yuanna memasang kuda-kuda, kemudian dia menempelkan kedua telapak

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 37

    37Nirwan terkejut kala membaca nama pemanggil di layar ponselnya. Pria berambut tebal terdiam sejenak, sebelum menghela napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan Nirwan, kecuali mengangkat panggilan dari bosnya di Indonesia. Meskipun deg-degan, tetapi Nirwan memaksakan diri untuk menyapa sang penelepon dengan ucapan salam. "Waalaikumsalam," balas Wirya. "Posisi, di mana, Wan?" tanyanya. "Di rumah sakit, Ndan," jelas Nirwan sambil melirik seorang pria di ranjang pasien. "Martin, kan, yang dirawat?" "Ehm, ya." "Jelaskan semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Aku pasang speaker, supaya semua orang di sini bisa ikut mendengarksn ceritamu." Nirwan mendengkus pelan. Kemudian dia berujar, "Koko Martin nggak bangun-bangun dari subuh, waktu aku masuk ke kamarnya buat matiin alarm hape. Aku guncang-guncang badannya, tetap nggak bangun." "Aku cek napas dan denyut nadinya, masih ada, tapi lemah. Aku segera keluar kamar untuk menerangkan itu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 38

    38Hendri mengusap-usap rambut adiknya yang tengah sesenggukan di dadanya. Hendri tidak sanggup memikirkan kats-kata untuk menghibur Yuanna, yang sedang menangisi Martin di seberang lautan. Hendri berpikir keras, sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk menelepon Arsyad dan menceritakan kondisi Martin, serta peristiwa yang dialaminya kemarin. Kendatipun terkejut, tetapi Arsyad berusaha untuk tetap tenang. Lelaki tua berkumis tidak mau Zainab jadi panik. Arsyad mendengarkan penuturan putra sulungnya dengan saksama, dan tidak menyela sedikit pun. "Menurut Bapak, gimana?" tanya Hendri, setelah berhenti mengoceh. "Bapak rasa, lebih baik kalian pulang dulu, Kang. Kita rembukkan sama-sama dengan tenang," jawab Arsyad. "Tapi, aku dan yang lainnya berencana masuk lagi ke lorong waktu." "Buat apa?" "Nyari Martin." "Bapak yakin, dia dalam kondisi baik. Jadi nggak perlu dicari. Nanti akan muncul sendiri," ungkap Arsyad. "Kalian pulang dan kita bicarakan ini sama Pak Mulyadi. Mungkin be

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 39

    39Yuanna tertunduk lesu. Dia tidak bisa membantah keputusan orang tua dan calon mertua, yang telah sepakat untuk menunda pernikahannya dengan Martin. Hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Kondisi Martin yang belum sadar, menjadi alasan terkuat penundaan itu. Arsyad tidak mau memaksakan pernikahan tetap dilaksanakan tiga pekan ke depan. Sebab Martin masih dinyatakan koma. Yuanna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mengulangi hal itu hingga beberapa kali, sampai hatinya lebih tenang. Gadis yang matanya sembap akibat terus menangis, menengadah kala dipanggil Zainab. Yuanna mendengarkan penuturan ibunya, sebelum bangkit dan jalan ke tangga. Sinta dan Freya yang berada di ruang tengah, segera bangkit untuk mengikuti langkah Yuanna menaiki tangga. Sementara Hendri yang tengah berdiri di dekat meja makan, mengamati ketiga perempuan tersebut, hingga mereka menghilang dari pandangan. Hendri mendengkus pelan. Dia mengomeli diri yang tidak bisa mencegah kekacaua

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-16
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 40 - Lari!

    40Yìchèn memerhatikan orang-orang yang tengah berkumpul di ruang santai. Meskipun belum terlalu hafal nama mereka, tetapi Yìchèn bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Frederick dan kedua putranya, Dante dan Calvin, memiliki bentuk dagu yang sedikit runcing. Frans dan anak-anaknya, Samudra dan Sabrina, memperlihatkan wajah khas Tionghoa. Finley, putra ketiga Akong Koh Li Bun, tidak terlihat seperti orang keturunan Tionghoa. Ditambah lagi istrinya, Khadeeza, merupakan pribumi asli, hingga kedua anak mereka, yakni Harry dan Kyle mewarisi paras Indonesia. Finley menjadi satu-satunya anak Akong yang beragama Islam. Dia menjadi mualaf sebelum menikahi sang istri. Hal serupa juga dilakukan Dante dan Sabrina. Keduanya berganti keyakinan menjadi muslim, sebelum menikah dengan pasangan masing-masing. Cindy, putri satu-satunya Akong, terlihat paling putih dari keempat bersaudara tersebut. Walaupun keturunan Chinese, tetapi Cindy memiliki mata besar yang diwarisinya dari sang mama

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-17
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 41 - penjaga

    41Seorang pria berpakaian ala Tionghoa tempo dulu, berlari sembari menahan rasa sakit di perutnya yang terluka. Meskipun hanya tergores, tetapi tetap tidak nyaman baginya. Pria berambut pendek tersebut sontak berhenti, kala melihat seseorang tengah berlari dari samping kanan. Pria itu tertegun, saat perempuan berambut panjang tersebut memegangi lengannya, lalu menariknya. "Terus lari! Kita hampir sampai!" seru Divia sembari terus menarik Martin yang mengikutinya sambil meringis. "Teh, perutku luka. Sakit banget," tukas Martin. Divia berhenti lari, lalu memindai sekitar. "Freya, Pak Mul, kalian di mana?" tanyanya. "Ksmi di seberang sungai, Vi," jawab Mulyadi. "Aku nggak bisa nembus ke tempat Teteh. Pekat sekali," imbuh Freya yang berdiri bersama Mulyadi di balik rerimbunan pohon berukuran sedang, di tepi kanan sungai. "Martin terluka, aku nggak kuat nyeretnya," jelas Divia. "Terus maju, Vi. Bapak usahakan nyeberang," papar Mulyadi sembari jalan. Dia menembakkan tenaga dalam un

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-17
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 42

    42Kelebatan bayangan muncul dari dinding kanan ruang perawatan. Yuanna dan yang lainnya, sama sekali tidak menyadari ketiga sosok yang tengah mendekati ranjang. Setelah membantu Martin memasuki raganya, Lathan menghilang untuk kembali ke tempat pertempuran. Badan Divia yang berguncang, mengejutkan Yuanna dan Irshava. Kedua perempuan tersebut bergegas menyangga Divia yang nyaris jatuh. Belum hilang rasa kagetnya, Yuanna mendengar erangan dari belakang. Dia menoleh dan spontan terkejut saat menyaksikan tangan Martin bergerak-gerak. Yuanna melepaskan Divia dan berdiri. Dia mendatangi sang tunangan yang tengah meringis kesakitan. Noda merah di baju Martin mengejutkan Yuanna, yang spontan menyingkap baju untuk mengecek badan kekasihnya. "Ya, ampun!" seru Yuanna kala menyaksikan luka panjang di perut Martin. "Ada apa?" tanya Irshava yang tengah membantu Divia minum dari botol kecil. "Perut Koko terluka," jawab Yuanna. "Panggil perawat." "Jangan," sela Divia sambil membuka matanya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 43

    43Secarik senyuman terbit di wajah Yuanna, ketika pagi itu Martin membuka matanya lebih lebar dibandingkan dengan dua hari silam. Saat Martin akhirnya siuman. Gadis yang mengikat rambutnya bentuk ekor kuda, meneruskan mengelap tangan dan leher serta dada Martin dengan handuk kecil yang basah. Martin memerhatikan kekasihnya, dan sangat ingin bisa berbincang dengan Yuanna. Namun, tenggorokannya masih sakit hingga sulit untuk mengeluarkan suara. Kala Yuanna mengusap jemarinya, Martin menahan tangan sang gadis. Keduanya saling menatap, sebelum Martin menggerak-gerakkan telunjuknya di telapak tangan kiri Yuanna. Perempuan berkulit putih tersebut, berusaha keras untuk menyatukan huruf demi huruf yang ditulis Martin dengan pelan. Kemudian Yuanna meletakkan handuk ke baskom kecil di lantai, lalu dia bangkit dan merunduk untuk memeluk kekasihnya. "Cepat pulih, Ko," bisik Yuanna, kemudian dia mendaratkan kecupan di dahi dan kedua pipi Martin. Pria berhidung bangir hanya bisa mengedipkan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18

Bab terbaru

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 65

    65Bulan berganti. Proyek KARZD akhirnya rampung. Pagi itu diadakan peresmian bangunan yang akan menjadi pusat bisnis sepanjang hampir 1km. Ketiga bos HWZ dan keluarga, serta para tamu undangan, memenuhi lobi utama gedung yang akan menjadi pusat kegiatan di kawasan strategis ituKeluarga Danantya, Pramudya, Baltissen dan Adhitama juga turut hadir. Selain mereka, beberapa sahabat Martin di PC dan PCD juga menghadiri acara penting bagi KARZD. Setelah Hendri dan Martin menyampaikan pidato, Mulyadi menaiki panggung untuk membacakan doa, yang diikuti hadirin dengan khusyuk. Selanjutnya, acara pengguntingan pita yang dilakukan kelima komisaris perusahaan tersebut. Zein dan Martin mengapit Wirya, Zulfi dan Hendri. Mereka bersama-sama memotong pita, kemudian mereka mempersilakan ketiga bocah untuk memencet tombol. Bayazid, Fazluna dan Rhetta, berseru ketika berbagai hiasan dari kertas mengilat, muncul dari lantai dua dengan diiringi aneka pita kecil berwarna-warni. Puluhan menit terlewati

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 64

    64Jalinan waktu terus bergulir. Semua anggota rombongan penembus lorong waktu, telah kembali ke kediaman masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Yìchèn yang menetap di kediaman Frederick Adhitama, telah membaca surat panjang dari Shin Hung. Bersama Qianfan dan yang lainnya, Yìchèn juga sudah membahas isi surat dan silsilah keluarga Chow serta Shin Fung. Dua minggu berlalu, Martin dan tim Bandung mendatangi Yìchèn di Jakarta. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan tentang isi surat itu. "Koko yakin mau berangkat ke sana?" tanya Martin sambil memandangi kembarannya lekat-lekat. "Ya, tapi tidak sekarang," jawab Yìchèn. "Lalu, kapan?" desak Martin. "Menunggu aku punya identitas sendiri." "Oh, belum selesai, ya?" Yìchèn mengangguk mengiakan. "Pengacara keluargaku tengah mengurusnya." Martin mengangkat alisnya. "Keluarga Koko?" "Ya. Aku sekarang jadi bagian dari keluarga PBK." Martin mengulaskan senyuman. "Betul juga, sih." "Koko mau diangkat anak sama Papa

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 63

    63Bau angit sisa-sisa kebakaran, yang sempat memenuhi area kanan belakang kantor pengelola proyek KARZD, perlahan menghilang. Matahari pagi bergerak cepat memutari bumi. Siang menjelang dengan diiringi gerimis, yang menyebabkan tanah di sekitar gudang kecil menjadi basah. Tim tiga dan empat berjibaku membangun tenda, dengan dibantu Seno, Ridho, dan Muchlis. Maman, Jajang, dan para petugas keamanan, juga turut membantu menjadi penyedia konsumsi. Dua lampu sorot besar diarahkan ke pintu gudang yang ditutupi kain hitam. Empat lampu lainnya digunakan untuk penerangan sekitar tenda, yang dibangun memanjang dari depan gudang kecil hingga ujung gudang besar. Yuanna merapikan lipatan handuk dan pakaian ganti buat anggota rombongan yang berada di lorong waktu. Sedangkan Gantari dan Sinta menyusun bungkusan plastik bening yang berisikan kue-kue serta minuman. Arsyad jalan mondar-mandir di sisi kanan tenda. Dia benar-benar khawatir, karena kelompok Zainal dan Hendri belum juga muncul. Pada

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 62

    62Seorang pria tua menyambut rombongan Yìchèn dengan penghormatan. Dia memberikan bungkusan kain pada orang terdepan, yakni Dante. Keduanya bercakap-cakap sesaat, sebelum lelaki tua membuka pintu bangunan kecil itu. Cahaya terang seketika terpancar dari dalam. Semua orang di bagian depan menyipitkan mata, kemudian mereka berbaris dua orang, sesuai arahan Wirya. Yìchèn yang berpindah ke depan bersama Freya, memberi hormat dengan sedikit membungkuk pada suami Shin Fung, dan keluarga Chow, yang membalas dengan hal yang sama. Yìchèn menegakkan badan, lalu menunggu kedua orang terdepan memulai perjalanan mereka menuju masa modern. Hendri dan Zein menggerak-gerakkan kedua tangan mereka membentuk jurus halus olah napas. Keduanya serentak menembakkan tenaga dalam ke cahaya, yang seketika meredup dan memperlihatkan kumparan kabut tebal yang tidak terlalu terang. Hendri dan Zein melangkah bersamaan. Ubaid dan Bayu mengikuti di belakang. Keempatnya bekerjasama menembakkan tenaga dalam ke s

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 61

    61Langit malam dipenuhi jutaan bintang. Rembulan memamerkan bentuknya yang sempurna, hingga mampu sedikit menerangi dunia. Angin berembus sepoi-sepoi di sekitar halaman depan kediaman keluarga Shin Fung, dan menyebabkan dedaunan di pohon-pohon itu bergoyang dengan pelan. Puluhan orang memenuhi seputar halaman. Mereka menonton ritual sembahyang ala orang Tiongkok, yang dilakukan Shin Fung, keluarga Chow, Yìchèn dan Qianfan. Chyou dan kelompok berselempang kain merah, berjaga-jaga di dekat tempat pemujaan. Kelompok Wirya yang menggunakan selempang biru, bersiaga di sekitar area sebagai lapisan kedua. Pasukan Ming Tianba menjadi pelindung utama di seputar rumah besar. Mereka bergantian mengawasi jalanan, supaya bisa mendeteksi pergerakan dari luar. Sebab saat itu masih zaman penjajahan Belanda, semua warga harus berhati-hati dalam mengadakan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Kendatipun Shin Fung dan Tan Liu Chow telah mendapatkan izin dari pejabat setempat untuk melakukan per

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 60

    60Rombongan pimpinan Chyou tiba di depan rumah besar berarsitektur khas zaman dulu. Batu hitam menghiasi sisi bawah dinding, sedangkan bagian atasnya di-cat putih. Shin Fung mempersilakan semua orang memasuki ruangan. Dia penasaran, karena tidak ada seorang pun yang membuka kain penutup di wajah mereka. Selain itu, nyaris tidak ada yang berbincang. Selain Yìchèn, Qianfan, dan beberapa pengawal berselempang kain merah.Para pelayan bergegas menyuguhkan minuman dan makanan di belasan meja besar. Loko, Michael, Gibson dan Cedric mengelilingi setiap meja untuk mengecek, apakah ada racun pada hidangan. Shin Fung membatin, bila sepertinya anak buah Yìchèn memahami berbagai cara pengamanan, dan hal itu kian meningkatkan rasa keingintahuannya. "Saya belum tahu nama Tuan," ujar Shin Fung sambil memandangi pria berbaju cokelat di kursi sebelah kanannya. "Saya, Vong Qianfan," jawab lelaki yang rambutnya telah dihiasi uban. "Berasal dari mana?" "Guangzhou." "Bagaimana Tuan bisa bertemu de

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 59

    59Kelompok satu dan dua akhirnya tiba di ujung lorong. Kabut putih tebal nan dingin menyelimuti tempat hening dan sangat terang itu.Semua orang mengatur barisan sesuai rencana yang telah dibuat ketiga komisaris HWZ. Mereka menunggu Martin mengatur napas, lalu mereka mengikuti langkah pria berpakaian bangsawan Tionghoa tersebut, menembus kabut. Hendri, Ubaid, Zein dan Bayu, mendampingi Martin di barisan terdepan. Keempat pria berpakaian prajurit tersebut, menembakkan tenaga dalam ke sisi kanan serta kiri, agar orang-orang di belakang bisa melihat lebih jelas ke depan. Tiba di depan gerbang besar bernuansa putih, Ubaid dan Bayu mundur. Posisi mereka digantikan Chyou dan Qianfan, yang akan bertugas sebagai pendamping utama Martin. Martin menempelkan telapak tangan kanannya ke gerbang. "Bibi, aku datang," tuturnya menggunakan bahasa Tiociu. Martin mundur selangkah ketika gerbang membuka sedikit demi sedikit, hingga terbuka sepenuhnya. Martin tertegun menyaksikan seorang perempuan pa

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 58

    58"Baru kali ini aku masuk lorong waktu. Ternyata sepi dan ... aneh," tutur Zulfi dengan suara pelan. "Aku juga baru tahu bagian dalamnya kayak gini. Kemarin itu cuma masuk beberapa meter," jawab Wirya. "Kita melalui jalur aman, Bang. Ini bagian paling dalam dari lingkaran kumparan waktu," jelas Rahman yang berjalan di depan bersama Wirya. "Ada berapa lapisan, Man?" tanya Zulfi yang berdampingan dengan Dante di barisan kedua. "Biasanya, ada tiga." Rahman menunjuk keluar. "Tim Kang Hendti ada di lapisan kedua. Lorongnya lebih besar, tapi banyak akar dan bebatuan. Nggak kayak yang kita lewati ini," lanjutnya. "Lapis ketiga, lebih gelap sekaligus banyak gangguan. Itu yang dilewati kelompok Kang Hendri, waktu mencari Koko Martin tempo hari," pungkas Rahman. "Pantas mereka semua luka-luka," sahut Wirya. "Ya, karena di sana mereka bertemu dengan berbagai bentuk makhluk gaib. Paling banyak, kurcaci yang bentuknya mengerikan," terang Rahman. "Kayak di film The Lord Of The Ring?" "Be

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 57

    57Matahari baru naik sepenggalah, ketika sekelompok orang berkumpul di dua tempat. Kelompok Zainal berada di belakang kantor pengelola proyek. Sedangkan kelompok Zein berada di dekat mulut goa tepi sungai. Yìchèn yang ikut dalam rombongan kedua, memerhatikan sekeliling sambil bergumam. Dia kaget, karena tempat itu memang mirip dengan sungai di Guandong, yang pernah didatanginya tempo hari. Yìchèn memegangi beberapa bebatuan yang landai. Sungai yang airnya menyusut karena musim kemarau, menjadikan batu-batu itu bisa terlihat jelas. Pria berambut sebahu, duduk di salah satu batu. Dia meraih seruling khas Chinese yang dibawakan Chyou dari Taiwan, lalu menempelkan benda itu di bibirnya.Alunan musik tunggal nan lembut, menyebabkan semua orang terdiam. Mereka menonton Yìchèn yang tengah bermain musik sambil membayangkan sosok orang-orang yang dikasihinya. Yìchèn begitu merindukan Mùchèn dan kedua orang tuanya. Bahkan pria berambut sebahu tersebut juga merindukan kudanya, yang telah ma

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status