36Yuanna jalan mondar-mandir sepanjang gudang besar. Dia benar-benar cemas, karena hingga jam 3 sore, Hendri dan ketiga rekannya belum juga keluar dari lorong waktu. Yuanna berulang kali berdoa agar akangnya bisa segera kembali. Dia tidak bisa membayangkan reaksi kedua orang tuanya dan juga Irshava, bila Hendri menghilang. Pekikan dari luar menyebabkan Yuanna bergegas membuka pintu gudang besar. Dia membulatkan mata ketika menyaksikan Zainal dan yang lainnya, tengah menarik sinar putih dari pohon besar di dekat gudang kecil. Yuanna bergegas mendekat, begitu juga dengan Sinta yang sejak tadi berada di gudang besar. Yuanna memerhatikan sekitar, di mana wajah para lelaki itu terlihat tegang. "Dek, bantu Freya buat membuka jalan!" titah Zainal sambil melirik Yuanna sekilas, sebelum pria berkaus hitam itu kembali menarik sinar putih. Tanpa menyahut, Yuanna bergegas menyambangi Freya yang tengah berdiri di depan pohon. Yuanna memasang kuda-kuda, kemudian dia menempelkan kedua telapak
37Nirwan terkejut kala membaca nama pemanggil di layar ponselnya. Pria berambut tebal terdiam sejenak, sebelum menghela napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan Nirwan, kecuali mengangkat panggilan dari bosnya di Indonesia. Meskipun deg-degan, tetapi Nirwan memaksakan diri untuk menyapa sang penelepon dengan ucapan salam. "Waalaikumsalam," balas Wirya. "Posisi, di mana, Wan?" tanyanya. "Di rumah sakit, Ndan," jelas Nirwan sambil melirik seorang pria di ranjang pasien. "Martin, kan, yang dirawat?" "Ehm, ya." "Jelaskan semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Aku pasang speaker, supaya semua orang di sini bisa ikut mendengarksn ceritamu." Nirwan mendengkus pelan. Kemudian dia berujar, "Koko Martin nggak bangun-bangun dari subuh, waktu aku masuk ke kamarnya buat matiin alarm hape. Aku guncang-guncang badannya, tetap nggak bangun." "Aku cek napas dan denyut nadinya, masih ada, tapi lemah. Aku segera keluar kamar untuk menerangkan itu
38Hendri mengusap-usap rambut adiknya yang tengah sesenggukan di dadanya. Hendri tidak sanggup memikirkan kats-kata untuk menghibur Yuanna, yang sedang menangisi Martin di seberang lautan. Hendri berpikir keras, sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk menelepon Arsyad dan menceritakan kondisi Martin, serta peristiwa yang dialaminya kemarin. Kendatipun terkejut, tetapi Arsyad berusaha untuk tetap tenang. Lelaki tua berkumis tidak mau Zainab jadi panik. Arsyad mendengarkan penuturan putra sulungnya dengan saksama, dan tidak menyela sedikit pun. "Menurut Bapak, gimana?" tanya Hendri, setelah berhenti mengoceh. "Bapak rasa, lebih baik kalian pulang dulu, Kang. Kita rembukkan sama-sama dengan tenang," jawab Arsyad. "Tapi, aku dan yang lainnya berencana masuk lagi ke lorong waktu." "Buat apa?" "Nyari Martin." "Bapak yakin, dia dalam kondisi baik. Jadi nggak perlu dicari. Nanti akan muncul sendiri," ungkap Arsyad. "Kalian pulang dan kita bicarakan ini sama Pak Mulyadi. Mungkin be
39Yuanna tertunduk lesu. Dia tidak bisa membantah keputusan orang tua dan calon mertua, yang telah sepakat untuk menunda pernikahannya dengan Martin. Hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Kondisi Martin yang belum sadar, menjadi alasan terkuat penundaan itu. Arsyad tidak mau memaksakan pernikahan tetap dilaksanakan tiga pekan ke depan. Sebab Martin masih dinyatakan koma. Yuanna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mengulangi hal itu hingga beberapa kali, sampai hatinya lebih tenang. Gadis yang matanya sembap akibat terus menangis, menengadah kala dipanggil Zainab. Yuanna mendengarkan penuturan ibunya, sebelum bangkit dan jalan ke tangga. Sinta dan Freya yang berada di ruang tengah, segera bangkit untuk mengikuti langkah Yuanna menaiki tangga. Sementara Hendri yang tengah berdiri di dekat meja makan, mengamati ketiga perempuan tersebut, hingga mereka menghilang dari pandangan. Hendri mendengkus pelan. Dia mengomeli diri yang tidak bisa mencegah kekacaua
40Yìchèn memerhatikan orang-orang yang tengah berkumpul di ruang santai. Meskipun belum terlalu hafal nama mereka, tetapi Yìchèn bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Frederick dan kedua putranya, Dante dan Calvin, memiliki bentuk dagu yang sedikit runcing. Frans dan anak-anaknya, Samudra dan Sabrina, memperlihatkan wajah khas Tionghoa. Finley, putra ketiga Akong Koh Li Bun, tidak terlihat seperti orang keturunan Tionghoa. Ditambah lagi istrinya, Khadeeza, merupakan pribumi asli, hingga kedua anak mereka, yakni Harry dan Kyle mewarisi paras Indonesia. Finley menjadi satu-satunya anak Akong yang beragama Islam. Dia menjadi mualaf sebelum menikahi sang istri. Hal serupa juga dilakukan Dante dan Sabrina. Keduanya berganti keyakinan menjadi muslim, sebelum menikah dengan pasangan masing-masing. Cindy, putri satu-satunya Akong, terlihat paling putih dari keempat bersaudara tersebut. Walaupun keturunan Chinese, tetapi Cindy memiliki mata besar yang diwarisinya dari sang mama
41Seorang pria berpakaian ala Tionghoa tempo dulu, berlari sembari menahan rasa sakit di perutnya yang terluka. Meskipun hanya tergores, tetapi tetap tidak nyaman baginya. Pria berambut pendek tersebut sontak berhenti, kala melihat seseorang tengah berlari dari samping kanan. Pria itu tertegun, saat perempuan berambut panjang tersebut memegangi lengannya, lalu menariknya. "Terus lari! Kita hampir sampai!" seru Divia sembari terus menarik Martin yang mengikutinya sambil meringis. "Teh, perutku luka. Sakit banget," tukas Martin. Divia berhenti lari, lalu memindai sekitar. "Freya, Pak Mul, kalian di mana?" tanyanya. "Ksmi di seberang sungai, Vi," jawab Mulyadi. "Aku nggak bisa nembus ke tempat Teteh. Pekat sekali," imbuh Freya yang berdiri bersama Mulyadi di balik rerimbunan pohon berukuran sedang, di tepi kanan sungai. "Martin terluka, aku nggak kuat nyeretnya," jelas Divia. "Terus maju, Vi. Bapak usahakan nyeberang," papar Mulyadi sembari jalan. Dia menembakkan tenaga dalam un
42Kelebatan bayangan muncul dari dinding kanan ruang perawatan. Yuanna dan yang lainnya, sama sekali tidak menyadari ketiga sosok yang tengah mendekati ranjang. Setelah membantu Martin memasuki raganya, Lathan menghilang untuk kembali ke tempat pertempuran. Badan Divia yang berguncang, mengejutkan Yuanna dan Irshava. Kedua perempuan tersebut bergegas menyangga Divia yang nyaris jatuh. Belum hilang rasa kagetnya, Yuanna mendengar erangan dari belakang. Dia menoleh dan spontan terkejut saat menyaksikan tangan Martin bergerak-gerak. Yuanna melepaskan Divia dan berdiri. Dia mendatangi sang tunangan yang tengah meringis kesakitan. Noda merah di baju Martin mengejutkan Yuanna, yang spontan menyingkap baju untuk mengecek badan kekasihnya. "Ya, ampun!" seru Yuanna kala menyaksikan luka panjang di perut Martin. "Ada apa?" tanya Irshava yang tengah membantu Divia minum dari botol kecil. "Perut Koko terluka," jawab Yuanna. "Panggil perawat." "Jangan," sela Divia sambil membuka matanya.
43Secarik senyuman terbit di wajah Yuanna, ketika pagi itu Martin membuka matanya lebih lebar dibandingkan dengan dua hari silam. Saat Martin akhirnya siuman. Gadis yang mengikat rambutnya bentuk ekor kuda, meneruskan mengelap tangan dan leher serta dada Martin dengan handuk kecil yang basah. Martin memerhatikan kekasihnya, dan sangat ingin bisa berbincang dengan Yuanna. Namun, tenggorokannya masih sakit hingga sulit untuk mengeluarkan suara. Kala Yuanna mengusap jemarinya, Martin menahan tangan sang gadis. Keduanya saling menatap, sebelum Martin menggerak-gerakkan telunjuknya di telapak tangan kiri Yuanna. Perempuan berkulit putih tersebut, berusaha keras untuk menyatukan huruf demi huruf yang ditulis Martin dengan pelan. Kemudian Yuanna meletakkan handuk ke baskom kecil di lantai, lalu dia bangkit dan merunduk untuk memeluk kekasihnya. "Cepat pulih, Ko," bisik Yuanna, kemudian dia mendaratkan kecupan di dahi dan kedua pipi Martin. Pria berhidung bangir hanya bisa mengedipkan
48Yìchèn terkesiap, sesaat setelah mendengar penuturan Martin tentang peristiwa dini hari tadi. Yichen membuka kamus khusus, lalu mencari-cari sesuatu. Pria berambut sebahu tersebut menunjukkan gambar di bukunya pada Martin, yang langsung mengamati benda itu dengan antusias. Selain Martin, Hendri, Nirwan dan Wirya, turut melihat gambar itu. Kemudian Martin menunjukkan gambar kereta kuda pada Qianfan dan para orang tua di kursi seberang. "Aku nggak tahu, apa jenis keretanya sama. Tapi, bagian dalamnya memang mirip," tutur Martin. "Bahkan, kursi dan tirainya juga berlapis kain merah. Persis dengan gambar itu," lanjutnya. "Ini kereta kuda yang biasanya digunakan calon pengantin," timpal Qianfan. "Ya, betul, Paman," jawab Yìchèn. "Koko Mùchèn dan aku pernah memerhatikan kereta yang tengah dihias pegawai. Bentuknya juga seperti ini," sambungnya. Qianfan mengerutkan keningnya. "Mar, sempat nggak, kamu merhatiin pakaian yang dikenakan?" tanyanya. "Ehm, kayak baju bangsawan biasa, Pam
47Jalinan waktu terus bergulir. Kondisi Martin kian membaik dan dia mulai beraktivitas ringan, untuk melatih badannya supaya terus bergerak. Yuanna akan datang tiap Jumat sore bersama kedua orang tuanya, Fenita dan Moammar serta putranya. Mereka menginap di kediaman Hendri selama tiga hari, sebelum kembali ke Bandung. Selain keluarga Danantya, tim kantor HWZ juga bergantian datang untuk menjenguk Martin. Zein dan rekan-rekannya sengaja melakukan itu, sebagai bentuk dukungan mereka pada calon suami Yuanna tersebut. Seperti Jumat sore itu, tiga unit mobil MPV berhenti di depan rumah Hendri. Semua penumpang turun sambil membawa tas masing-masing. Arsyad dan Zainab memasuki rumah sambil mengucapkan salam. Keduanya terkejut kala melihat Harsaya dan Murti telah berada di sana terlebih dahulu. Kedua orang tua Hendri bertambah kaget, karena Sultan, Winarti, Frederick, Tarissa, Qianfan, Nancy, Gustavo dan Ira, juga berada di sana. Seusai bersalaman, para laki-laki tua membentuk kelompok
46Detik terjalin menjadi menit. Waktu terus berputar hingga merotasi hari dan berganti menjadi minggu. Siang itu, Hendri dan kelompoknya berpamitan pada keluarga Ragnala. Mereka hendak bertolak menuju Jakarta, dengan pengawalan ketat tim PBK. Alvaro, Wirya, Zulfi, Qianfan, Dante, dan Hasbi telah pulang beberapa hari lalu. Mereka hendak menyiapkan rumah sakit dan mengurus surat-surat perpindahan Martin ke Indonesia. Razman dan istrinya memeluk putra mereka yang berada di kursi roda. Demikian pula dengan Ginania dan sanak saudara, yang turut melepas kepergian Martin. Setelahnya, Nirwan mendorong kursi roda memasuki ruangan khusus untuk penumpang pesawat pribadi. Sultan sengaja mengirimkan pesawatnya, supaya perjalanan itu lebih nyaman buat Martin. Sekaligus melindungi Yìchèn dari pertanyaan pihak imigrasi. Razman, Sultan dan Frederick telah bekerjasama agar tidak ada masalah saat kelompok itu tiba di Indonesia. Terutama karena status Yìchèn yang izinnya adalah turis. Ketiga pengu
45Yìchèn mengamati sekeliling sungai dangkal, sambil mengucapkan kalimat perpisahan. Meskipun tidak bisa menemukan tempat tinggal keluarganya, tetapi Yìchèn meyakini bila sungai itulah yang pernah dilaluinya dulu, saat kabur dari kejaran kelompok makhluk astral penunggu hutan keramat. Yìchèn dan kelompoknya telah menyusuri sungai itu sepanjang hari kemarin. Mereka tiba di ujung sungai yang ternyata mengalir ke bawah goa. Wirya dan beberapa anggota kelompok itu sempat menyusuri tepi kiri goa, yang menuju hutan lebat. Mereka tidak berani memasuki tempat itu, karena menduga jika hutan tersebut adalah hutan keramat yang diceritakan Yìchèn. Pria berambut sebahu kembali memindai sekitar. Kemudian Yìchèn menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekali waktu. Dia menyadari, akan sulit menemukan jejak peninggalan keluarganya. Sebab itu, Yìchèn hanya bisa berdoa dirinya akan bisa kembali ke Guandong di masa depan, untuk kembali menyelidiki silsilah keluarganya. Yìchèn jalan mundur, l
44Matahari baru naik sepenggalah, ketika sekelompok orang turun dari dua mobil MPV hitam. Mereka memegangi fotokopi peta sederhana yang dibuat Donghai, berdasarkan peta asli di buku sejarah, yang ditemukannya di perpustakaan Kota Guandong. Mereka berbincang sesaat, sebelum memecah menjadi dua kelompok. Donghai, Yìchèn, To Mu, Harun dan Aditya menyisiri tepi kiri. Sedangkan sisanya mengecek area kanan sepanjang jalur sungai kecil yang dangkal. Setiap bertemu pohon besar ataupun tumpukan batu, orang-orang tersebut akan berhenti untuk memeriksa sekitar. Wirya dan Zulfi mengecek semua tempat itu dengan menyalurkan tenaga dalam masing-masing. Begitu pula dengan Jauhari, Yusuf, Aditya dan Harun. "W, di sini, tebal banget. Aku nggak bisa nembus," tutur Zulfi sembari memegangi batu besar berbentuk hampir bundar. Wirya menyambangi tempat itu dan meraba tepi batu. "Kita coba sama-sama," ajaknya, sebelum memasang kuda-kuda silat. Kedua pria tersebut menembakkan tenaga dalam secara bersama
43Secarik senyuman terbit di wajah Yuanna, ketika pagi itu Martin membuka matanya lebih lebar dibandingkan dengan dua hari silam. Saat Martin akhirnya siuman. Gadis yang mengikat rambutnya bentuk ekor kuda, meneruskan mengelap tangan dan leher serta dada Martin dengan handuk kecil yang basah. Martin memerhatikan kekasihnya, dan sangat ingin bisa berbincang dengan Yuanna. Namun, tenggorokannya masih sakit hingga sulit untuk mengeluarkan suara. Kala Yuanna mengusap jemarinya, Martin menahan tangan sang gadis. Keduanya saling menatap, sebelum Martin menggerak-gerakkan telunjuknya di telapak tangan kiri Yuanna. Perempuan berkulit putih tersebut, berusaha keras untuk menyatukan huruf demi huruf yang ditulis Martin dengan pelan. Kemudian Yuanna meletakkan handuk ke baskom kecil di lantai, lalu dia bangkit dan merunduk untuk memeluk kekasihnya. "Cepat pulih, Ko," bisik Yuanna, kemudian dia mendaratkan kecupan di dahi dan kedua pipi Martin. Pria berhidung bangir hanya bisa mengedipkan
42Kelebatan bayangan muncul dari dinding kanan ruang perawatan. Yuanna dan yang lainnya, sama sekali tidak menyadari ketiga sosok yang tengah mendekati ranjang. Setelah membantu Martin memasuki raganya, Lathan menghilang untuk kembali ke tempat pertempuran. Badan Divia yang berguncang, mengejutkan Yuanna dan Irshava. Kedua perempuan tersebut bergegas menyangga Divia yang nyaris jatuh. Belum hilang rasa kagetnya, Yuanna mendengar erangan dari belakang. Dia menoleh dan spontan terkejut saat menyaksikan tangan Martin bergerak-gerak. Yuanna melepaskan Divia dan berdiri. Dia mendatangi sang tunangan yang tengah meringis kesakitan. Noda merah di baju Martin mengejutkan Yuanna, yang spontan menyingkap baju untuk mengecek badan kekasihnya. "Ya, ampun!" seru Yuanna kala menyaksikan luka panjang di perut Martin. "Ada apa?" tanya Irshava yang tengah membantu Divia minum dari botol kecil. "Perut Koko terluka," jawab Yuanna. "Panggil perawat." "Jangan," sela Divia sambil membuka matanya.
41Seorang pria berpakaian ala Tionghoa tempo dulu, berlari sembari menahan rasa sakit di perutnya yang terluka. Meskipun hanya tergores, tetapi tetap tidak nyaman baginya. Pria berambut pendek tersebut sontak berhenti, kala melihat seseorang tengah berlari dari samping kanan. Pria itu tertegun, saat perempuan berambut panjang tersebut memegangi lengannya, lalu menariknya. "Terus lari! Kita hampir sampai!" seru Divia sembari terus menarik Martin yang mengikutinya sambil meringis. "Teh, perutku luka. Sakit banget," tukas Martin. Divia berhenti lari, lalu memindai sekitar. "Freya, Pak Mul, kalian di mana?" tanyanya. "Ksmi di seberang sungai, Vi," jawab Mulyadi. "Aku nggak bisa nembus ke tempat Teteh. Pekat sekali," imbuh Freya yang berdiri bersama Mulyadi di balik rerimbunan pohon berukuran sedang, di tepi kanan sungai. "Martin terluka, aku nggak kuat nyeretnya," jelas Divia. "Terus maju, Vi. Bapak usahakan nyeberang," papar Mulyadi sembari jalan. Dia menembakkan tenaga dalam un
40Yìchèn memerhatikan orang-orang yang tengah berkumpul di ruang santai. Meskipun belum terlalu hafal nama mereka, tetapi Yìchèn bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Frederick dan kedua putranya, Dante dan Calvin, memiliki bentuk dagu yang sedikit runcing. Frans dan anak-anaknya, Samudra dan Sabrina, memperlihatkan wajah khas Tionghoa. Finley, putra ketiga Akong Koh Li Bun, tidak terlihat seperti orang keturunan Tionghoa. Ditambah lagi istrinya, Khadeeza, merupakan pribumi asli, hingga kedua anak mereka, yakni Harry dan Kyle mewarisi paras Indonesia. Finley menjadi satu-satunya anak Akong yang beragama Islam. Dia menjadi mualaf sebelum menikahi sang istri. Hal serupa juga dilakukan Dante dan Sabrina. Keduanya berganti keyakinan menjadi muslim, sebelum menikah dengan pasangan masing-masing. Cindy, putri satu-satunya Akong, terlihat paling putih dari keempat bersaudara tersebut. Walaupun keturunan Chinese, tetapi Cindy memiliki mata besar yang diwarisinya dari sang mama