All Chapters of Mendadak Menikah Dengan Chef Bintang Lima: Chapter 141 - Chapter 150

180 Chapters

BAB 141: Ngidam

Zara melotot tajam, tapi Kael malah terkekeh pelan."Aku masih kesel," gumam Zara akhirnya, meski tubuhnya sudah tidak lagi menegang seperti tadi.Kael mengangguk. "Ya udah, keselnya sambil nemenin aku makan," katanya santai, lalu menarik tangan Zara sebelum wanita itu sempat kabur ke kamar.Dan seperti biasa, entah bagaimana, Zara selalu kalah dengan caranya.Tidak lama, perut Zara berbunyi.Kael mengerjap, bingung sendiri dengan suara yang baru terdengar begitu keras.Namun, berbeda dengan Kael, Zara malah menundukkan kepala. Awalnya, Kael pikir kalau Zara masih marah kepadanya.Grrrk.Bunyi itu kembali terdengar, bersamaan dengan kepala Zara yang menunduk semakin dalam. Tangan wanita itu pun memegangi perutnya. Pada saat itulah, Kael menyadari dari mana suara itu berasal.'Dia bohong bilang udah makan,' pikir Kael.Kael menundukkan kepalanya juga, berusaha melihat wajah Zara. "Kamu belum makan malam juga, ‘kan?"Zara mengangguk pelan.Kael mengusap pipi Zara, merasa lega sekaligus b
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

BAB 142: Kael Please!

"Kamu bener mau temenin aku kontrol hari ini?" tanya Zara sambil melirik suaminya yang duduk di seberang meja makan.Hari ini adalah jadwal kontrol kandungan Zara, dan seperti yang telah Kael janjikan, mulai dari kontrol kali ini dan seterusnya, dia akan selalu menemani Zara setiap kali berkunjung ke dokter."Iya dong, ‘kan aku udah janji mau nemenin setiap kamu kontrol," jawab Kael santai, tangannya sibuk mengoles selai di roti bakarnya sebelum melahapnya bersama kopi hitam yang masih mengepul.“Yaudah ayo berangkat,” ujar Zara sambil berdiri, mengambil tasnya yang tersampir di kursi meja makan.Saat dia berjalan mendekat, Kael mengangkat kepalanya. Tatapan matanya mengamati Zara lebih lama dari biasanya.Hari ini, istrinya memakai dress selutut dengan motif bunga-bunga kecil, rambut bergelombangnya diikat setengah, memperlihatkan leher jenjangnya. Perutnya yang mulai membuncit semakin menegaskan bahwa dia sedang mengandung.Zara terlihat lebih … bersinar hari ini.Kael tersenyum tipi
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

BAB 143: Takdir Baru

"Kamu siap nggak kita punya anak kembar?" Suara Zara terdengar lebih ceria dari biasanya.Mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, pikiran mereka masih dipenuhi euforia sekaligus keterkejutan.Kael melirik Zara sekilas, sudut bibirnya sedikit naik, meski ekspresinya tetap datar."Nyangka aja nggak, apalagi siap." Tapi setelah jeda sejenak, pria itu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Tapi kupikir, ini bakal seru.""Seru, ya?" Zara mengerjapkan mata, tidak menyangka tambahan di akhir kalimat Kael. Senyum kecil muncul di wajahnya.Kael mengangguk tipis. "Iya. Rumah kita bakal lebih rame."Mereka berjalan perlahan menuju kafetaria rumah sakit. Langkah Zara lebih lambat dari biasanya, tapi Kael tetap di sisinya, menyesuaikan ritme tanpa mengeluh. Sesekali, dia melirik ke arah Zara, seolah memastikan istrinya baik-baik saja setelah kabar besar yang baru mereka terima.Begitu tiba di kafetaria, Zara memilih duduk di dekat jendela. Tangannya mengaduk jus jeruk di meja tanpa niat mem
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

BAB 144: Panggil Apa?

Gala tersenyum kecil, mengaduk kopinya perlahan. "Ceva. Dia dulu magang di sini, tapi kayaknya nggak lanjut jadi dokter deh. Tau sendiri lah, anak konglomerat, suka seenaknya kalau sekolah. Mentang-mentang mereka banyak duit."Zara mengangkat alis, kaget. "Wah, siapa sangka dunia sesempit ini ya, Kak."Gala hanya tersenyum samar sebelum kembali menyesap kopinya. Namun, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Zara merasa sedikit … tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang dia tahan.Sejenak, suasana di antara mereka kembali sunyi, hanya suara denting sendok menyentuh pinggiran cangkir yang terdengar. Hingga akhirnya Gala kembali membuka suara."Oh iya, Zara, aku anter pulang aja ya. Aku udah beres kok praktiknya," tawar Gala dengan nada ringan.Zara menatapnya ragu. Haruskah dia menerima tawaran ini?Namun, Kael sudah tahu bahwa dia bertemu dengan Gala hari ini. Seharusnya, ini tidak masalah.Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Zara mengangguk. "Oke, boleh, Kak," katanya.Mobil Gal
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

BAB 145: Pembukaan Cabang

Hari besar akhirnya tiba. Pembukaan cabang baru The Velvet Spoon, restoran mewah milik Kael, menjadi pusat perhatian kalangan bisnis dan sosialita malam ini.Kael dan Zara berjalan beriringan menuju pintu utama, tangan mereka bertaut erat. Semua mata tertuju pada pasangan itu, seolah mereka adalah bintang utama di acara ini, dan memang, begitulah kenyataannya.Saat memasuki ruangan, suasana mewah langsung menyergap. Meja-meja berjejer dengan makanan dan minuman terbaik, dari hidangan pembuka hingga deretan wine serta champagne mahal yang berkilauan di bawah lampu kristal. Aroma uang begitu kental di udara, mengingat hampir semua tamu yang hadir berasal dari kalangan terpandang.Zara mengenakan dress baby doll hitam yang sederhana namun anggun, tidak berlebihan, tapi tetap memancarkan pesona. Di sebelahnya, Kael tampil menawan dalam setelan jas hitam yang pas di tubuhnya, kontras dengan ekspresi dingin yang seolah tidak terpengaruh oleh perhatian orang-orang.Saat mereka berjalan melewa
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

BAB 146: Ada Apa?

Maharani menghela napas kecil sebelum tersenyum tipis. “Ranu, kau datang juga rupanya.” “Ke mana ayahmu? Apa masih di luar negeri?” tanya Hardi. “Iya, Kakek. Masih di Singapura,” jawab Ranu. Ranu Ashwara, dia adalah putra sulung Bayu Ashwara, adik kandung Aryan. Bayu dan Aryan adalah dua bersaudara, anak dari Hardi. Dari segi fisik, ada sedikit kemiripan antara Ranu dan Kael, terutama di garis rahang dan sorot mata yang tajam. Namun, auranya jelas berbeda, Kael dingin dan penuh kendali, sementara Ranu membawa kesan santai yang licin, seperti seseorang yang terbiasa membaca situasi sebelum mengambil langkah berikutnya. Kael yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya mengangkat gelasnya dengan santai, lalu meneguk isinya sebelum menaruhnya kembali ke meja. “Duduklah. Tidak perlu banyak basa-basi.” Nada suara Kael datar, tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun, karena itulah ada ketegangan halus yang merayap dalam percakapan mereka. Aryan tetap diam, tidak memberikan reaksi apa p
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

BAB 147: Di Balik Pesta

Ceva menatap tangan yang disodorkan Gala selama beberapa detik. Ada jeda kecil di sana. Entah ragu, enggan, atau sesuatu yang lain. Namun, akhirnya dia menjabatnya singkat, sekadar formalitas.“Baik,” jawab Ceva datar, lalu menarik tangannya kembali dengan cepat, seolah tak ingin berlama-lama dalam kontak fisik itu.Gala menurunkan tangannya perlahan, lalu melirik Zara yang berdiri di samping Ceva. Ada perubahan dalam ekspresinya, lebih tenang, atau mungkin hanya pura-pura tenang.“Zara, apa kabar?” tanya Gala, basa-basinya begitu kentara, padahal baru dua hari lalu mereka bertemu.“Baik, Kak.” Zara membalas dengan senyum tipis.Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka sebelum Zara kembali membuka suara. “Kak, makasih ya udah datang ke acara ini.”Gala mengangguk kecil. “Iya, aku malah senang kamu ngundang aku ke sini.”Senyum Gala sekilas mengembang sebelum tatapannya sedikit bergeser, melirik ke arah Ceva. “Aku jadi bisa ketemu orang yang udah lama nggak aku temuin.”Ceva yan
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

BAB 148: Rahasia Keluarga Ashwara

“Sejak kapan kamu nggak suka wortel?”Zara bertanya langsung begitu mereka masuk ke dalam mobil. Suaranya terdengar datar, tapi Kael tahu ada sesuatu di balik nada itu.Mereka pulang diantar supir karena Kael minum wine sedikit tadi di pesta. Mobil melaju dengan tenang di jalanan malam, tetapi suasana di dalam terasa sedikit menegang.Kael yang sejak tadi bersandar santai hanya melirik Zara sekilas sebelum kembali menatap ke luar jendela.“Jangan mulai deh,” jawab Kael pendek.Zara mengendus pelan, mencoba meredam kekesalannya. Dia tahu Virsha memang mengenal Kael lebih dulu, tapi menunjukkan kedekatan mereka di depan Zara seperti tadi sungguh membuatnya jengah.“Lucu aja,” lanjut Zara, nadanya lebih tajam. “Setiap hari aku lihat kamu makan. Aku nggak pernah dengar kamu nolak wortel. Bahkan aku inget banget kamu makan sup wortel minggu lalu tanpa protes. Tapi tadi—”Kael menoleh dengan ekspresi malas. “Kamu mau bahas ini sepanjang jalan?”Zara menyipitkan mata. “Kamu menghindar?”Kael
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

BAB 149: Foto Siapa?

“Mas hari ini mau ke mana? Ke restoran atau ke kantor?” tanya Zara sambil menyantap bubur ayamnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, ibu hamil itu mendadak ingin makan bubur ayam.Suaminya yang duduk di seberangnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sarapan sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga seperti biasa, roti panggang dan omelet.Namun, istrinya tiba-tiba ingin bubur ayam?Mau tidak mau, Kael harus keluar kompleks pagi-pagi untuk mencarikannya. Dan sekarang, setelah perjuangan yang tidak seharusnya dia lakukan sepagi ini, Zara malah makan dengan santai seolah tidak ada yang terjadi.“Kayaknya mau ke restoran sih. Kemarin habis pembukaan cabang baru, pusat agak keteteran. Pak Rizal kasihan kewalahan,” jawab Kael sambil menyesap kopi hitamnya.Zara mengangguk paham. Namun, matanya kemudian melirik ke arah cangkir kopi yang dipegang Kael. Dari tadi, suaminya itu tidak menyentuh makanan sama sekali."Mas, kenapa nggak sarapan? Malah cuma minum kopi dari tadi?" tanya Zara sambil meng
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

BAB 150: Hal Tidak Terduga

Malam harinya, Kael memasuki rumah dengan santai. Seharian ini cukup melelahkan, dan yang dia inginkan sekarang hanya mandi, makan malam, lalu istirahat. Namun, sesuatu terasa berbeda begitu dia masuk ke dalam rumah.Biasanya, Zara akan menyambutnya. Entah dengan senyum, obrolan iseng, atau bahkan keluhan kecil soal betapa dia makin gampang lelah akhir-akhir ini.Namun kali ini? Rumah terasa sangat sunyi.Kael mengerutkan kening dan melangkah ke ruang tengah. Di sana, dia mendapati Zara duduk di sofa, memeluk bantal dengan ekspresi cemberut. Tatapan istrinya kosong, tapi Kael tahu betul bahwa di balik ekspresi itu, pikiran wanita itu pasti sedang berputar penuh emosi."Zara?" Kael memanggil, melepaskan jam tangan dan membuka satu kancing kemejanya.Zara tetap diam.Kael menaikkan alis. "Kamu kenapa?"Zara tidak menjawab. Bahkan, dia tidak menoleh.Kael menghela napas, lalu berjalan mendekat. Namun, sebelum dia sempat duduk, Zara langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur.Dahi Kael be
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more
PREV
1
...
131415161718
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status