Home / Historical / Sang Menantu Perkasa / Chapter 221 - Chapter 230

All Chapters of Sang Menantu Perkasa: Chapter 221 - Chapter 230

366 Chapters

Bab 221

"Kamu bisa bicara atau tidak?" Sang pria tua menendang pelayannya.Pelayan itu menyentuh pantatnya yang sakit sambil bergumam, "Memang benar, apakah aku salah bicara?""Harus diikuti seketat ini. Kalau dia hilang, ke mana aku harus mencarinya?"Pria tua itu mengabaikan pelayannya. Dia mengangkat tirai kereta, melihat Arjuna yang berjalan ke dalam Kediaman Kosasih...."Tuan, Nyonya, Tuan Muda."Begitu Arjuna dan Bulan melangkah ke dalam Kediaman Kosasih, pelayan Keluarga Kosasih berlari ke aula utama untuk melapor."Nyonya Muda kembali!""Dia sudah kembali?" Kurnia yang sedang makan kacang mendongak. "Dia mencuri barang di rumah dan masih berani kembali?""Baguslah dia kembali, kita tidak perlu repot-repot mengantar surat cerai kepadanya." Ucapan Neha sama jahatnya dengan ekspresinya."Apakah dia kembali sendirian?" Nada bicara Susanto, kepala Keluarga Kosasih, relatif tenang."Ada seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun kembali bersamanya.""Shaka?"Susanto, si rubah tua, mulai
Read more

Bab 222

Awalnya, Salma merasa sedikit kecewa ketika dia mendengar pelayan mengatakan bahwa seorang pemuda menemani Bulan kembali.Karena Salma mengira itu Shaka. Salma sangat licik, dia tahu bahwa Susanto sangat memandang penting Shaka dan akan menghargai Shaka.Melihat orang yang datang adalah Arjuna, bukan Shaka, Salma sangat senang.Bulan, Bulan, kamu benar-benar bodoh. Kamu pikir dengan membawa seorang pecundang kembali, dia bisa mendukungmu? Lucu sekali.'"Kakak, kenapa kamu masih berdiri di sana? Kalau kamu tidak pergi sekarang, pakaian hari ini tidak bisa kering."Selir yang bersikap kurang ajar terhadap istri sah merupakan suatu pemberontakan besar.Namun, Neha malah pura-pura tidak melihatnya. Dia harus mempertahankan citra dasar sebagai ibu mertua, lebih baik biarkan orang lain yang melakukan hal jahat."Apakah kamu tuli, tidak mendengar? Cepat pergi cuci ....""Persetan denganmu!"Arjuna dengan cepat melangkah maju, mengambil cangkir teh yang ada di samping Kurnia, kemudian menghant
Read more

Bab 223

Di dalam aula Kediaman Kosasih."Aduh, aduh!"Para pengawal Keluarga Kosasih ada yang tergeletak, berjongkok, membungkuk atau merangkak di lantai, merintih kesakitan.Para pengawal yang tumbang itu memiliki memar di wajah mereka, sedangkan penampilan sama seperti saat dia baru masuk ke Kediaman Kosasih. Rambutnya masih rapi, napas juga stabil.Arjuna menatap para pengawal dengan dingin. "Masih ada yang mau maju?"Para pengawal itu menutupi wajah mereka dan menundukkan kepala. Mereka takut menarik perhatian Arjuna. Beberapa bahkan mulai merangkak keluar."Apa yang kalian lakukan? Apakah Keluarga Kosasih membayar mahal kalian untuk kepengecutan kalian? Cepat berdiri dan hajar dia!"Kurnia menyentuh kepalanya yang dihantam Arjuna sembari berteriak kepada para pengawal.Akan tetapi, makin dia berteriak, makin cepat pula para pengawal merangkak pergi.Susanto yang berada di luar aula juga berusaha menghentikan mereka, tetapi tidak berhasil. Mereka benar-benar takut dipukuli.Setiap gerakan
Read more

Bab 224

Ayah mertua, ibu mertua dan suaminya terus meminta maaf, tetapi Bulan tidak mengatakan apa-apa.Selama ini, dia sudah cukup memahami karakter mereka.Tidak ada seorang pun dari Keluarga Kosasih, dari muda hingga tua, yang dapat dipercaya.Sebagai pria tua yang licik, Susanto tentu bisa menebak kekhawatiran Bulan."Bulan, aku akan meminta Kurnia menulis surat jaminan untukmu. Bukan hanya Kurnia, aku dan ibu mertuamu juga akan menulisnya. Kami berjanji bahwa Keluarga Kosasih akan memperlakukanmu dan keluargamu seperti keluarga sendiri.""Tuan!""Ayah!"Neha dan Kurnia menatap Susanto secara bersamaan. Mereka tidak setuju dengan usulan Susanto.Memperlakukan Bulan seorang dengan baik sudah cukup, untuk apa membawa-bawa keluarganya?Terutama Arjuna yang ada di depan mereka ini.Dia miskin dan malas, pecundang total. Kelak dia pasti akan bergantung pada keluarganya.Susanto lanjut berbicara seolah dia tidak mendengar protes dari istri dan anaknya. Kali ini dia berbicara kepada Arjuna. "Sura
Read more

Bab 225

"Cepat! Kalau tidak, tidak keburu lagi."Melihat Arjuna tampak acuh tak acuh, Bulan pun cemas."Lari? Haha!"Kurnia tertawa terbahak-bahak. "Apakah menurutmu dia masih bisa lari?""Bawa beberapa teko kemari!"Dia akan memukul Arjuna dengan cara yang sama seperti Arjuna memukulnya tadi. Bahkan menggandakannya.Dia akan menyiksa Arjuna sedikit demi sedikit. Tidak akan membiarkannya mati begitu saja."Tante, jangan takut."Melihat Bulan begitu panik, Arjuna pun menghiburnya."Tante tidak takut, tapi Tante tidak ingin melibatkanmu. Mereka pasti sudah memanggil sekretaris daerah kemari. Sekretaris daerah adalah saudaranya Kurnia. Tadi kamu memukulnya ...."Pada saat ini, Bulan membenci dirinya sendiri. Jika kemarin dia tidak ragu-ragu, melainkan melompat ke jurang dengan cepat, masalah hari ini tidak akan terjadi."Sekretaris daerah?""Ya, dia adalah pamanku."Orang yang menjawab pertanyaan Arjuna adalah Kurnia. Wajahnya berlumuran darah, dia tampak sangat ganas. "Berlututlah dan mohon pada
Read more

Bab 226

"Tahukah kamu apa yang sedang kamu bicarakan?"Seorang polisi berwajah garang menghardik si pelayan. "Dia adalah Yang Mulia Sekretaris Daerah. Berani-beraninya kamu menyuruh Yang Mulia memberi kudamu jalan?""Oh?!" Pelayan itu tampak terkejut. Dia menatap sekretaris daerah. "Kamu adalah sekretaris daerah Kabupaten Damai?"Setelah itu, si pelayan menoleh untuk berkata kepada lelaki tua di dalam kereta. "Tuan, dia adalah sekretaris daerah Kabupaten Damai.""Lancang!"Polisi itu menghardik lagi. "Kamu sudah tahu, maka cepat singkirkan kereta kudamu, kemudian turun untuk bersujud kepada Yang Mulia!""Tuan, maukah kita bersujud?""Hah?" Tirai kereta terangkat dari dalam, seorang lelaki tua yang lebih tua dari si pelayan pun muncul di depan para petugas pengadilan dan polisi.Orang tua itu menunjuk telinganya. "Apa yang kamu katakan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Katakan sekali lagi.""Mereka bilang." Sang pelayan menunjuk sekretaris daerah yang menunggang kuda. "Dia adalah sekre
Read more

Bab 227

Sekretaris daerah mendatangi lelaki tua itu. Posisinya membungkuk, dia juga tak berani mengangkat kepalanya. "Ada apa, Tuan?""Lebih dekat."Entah apa yang pria tua itu katakan kepada sekretaris daerah, wajah sekretaris daerah menjadi sangat pucat.Setelah lelaki tua itu selesai berbicara kepada sekretaris daerah, dia menoleh ke arah pelayannya. "Berikan lencanamu kepadanya.""Hah?"Pelayan itu secara naluriah melindungi lencana yang ada di pinggangnya. "Kenapa?""Berikan saja. Banyak sekali pertanyaanmu."Pelayan itu dengan berat hati menyerahkan lencananya kepada sekretaris daerah.Sekretaris daerah membungkuk, kemudian mengambil lencana perak dari pelayan itu dengan kedua tangannya.Begitu dia menerima lencana, Susanto keluar dari Kediaman Kosasih bersama anak buahnya.Begitu melihat Susanto, lelaki tua itu segera menatap sekretaris daerah dengan tajam. Dia memberi isyarat agar sekretaris daerah tidak mengatakan apa pun.Pelayan itu pun mengubah ekspresi seriusnya menjadi seorang ku
Read more

Bab 228

"Yang Mulia."Begitu sekretaris daerah melangkah masuk ke aula, Bulan berlari mendekat. "Semua salahku, tidak ada hubungannya dengan Arjuna. Yang Mulia, tangkap aku saja.""Dasar wanita jalang, kamu memang harus ditangkap. Sekarang kamu bahkan menghalangi Yang Mulia menyelidiki kasus. Kamu menambah kejahatan lagi.""Enyahlah!"Kurnia menarik Bulan, kemudian menyeretnya ke sisi lain."Buk!"Cangkir teh yang ada di tangan Arjuna tiba-tiba terbang, kemudian mengenai wajah Kurnia."Aduh, aduh!"Kurnia menjerit kesakitan.Kali ini cangkir teh dilempar lebih keras dari sebelumnya. Kurnia jatuh ke lantai dan tidak bisa berdiri.Sebelumnya, Arjuna berbelas kasihan, dia tidak menggunakan terlalu banyak kekuatan.Sekarang dia sudah hendak pergi, jadi biarkanlah Kurnia berbaring saja."Oh, Kurnia! Kurnia-ku!" Neha berlari mendekat. "Ya Tuhan, ini benar-benar melanggar hukum.""Yang Mulia." Susanto segera berkata kepada sekretaris daerah. "Dia berani menyakiti orang di depan Anda. Dia benar-benar
Read more

Bab 229

"Ibu, Ibu!"Kurnia mencoba untuk berdiri."Dik, kakak sepupumu tidak lagi muda. Sepuluh kali cambuk terlalu banyak. Dia bisa ....""Seseorang!"Sebelum Susanto sempat menyelesaikan perkataannya, suara dingin sekretaris daerah terdengar. "Tutup mulut Susanto dan Kurnia."Kalau saja pria tua itu tidak memerintahkannya untuk membiarkan Neha tetap terjaga, sekretaris daerah pasti langsung memberi perintah sebanyak dua puluh cambuk.Selain itu bukan hanya Neha, melainkan seluruh anggota keluarganya.Apakah keluarga ini merasa jabatannya jatuh kurang cepat?Saat ini, Susanto sudah merasakan ada yang tidak beres. Dua lelaki tua di luar ....Sayangnya, sudah terlambat baginya untuk menyadarinya.Susanto dan Kurnia yang tergeletak di lantai dan tidak dapat bangun, mulutnya disumpal.Neha dicambuk hingga dia terus menjerit kesakitan.Sekretaris daerah berjalan mendekati Arjuna, kemudian menyerahkan lencana perak dengan kedua tangannya. "Arjuna, seorang pria tua di luar menyuruhku untuk memberika
Read more

Bab 230

Para pelayan Keluarga Kosasih melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.Ketika Arjuna dan Bulan kembali, anggota Keluarga Kosasih berdiri dengan sikap arogan.Namun hanya dalam waktu sejenak, dua dari tiga anggota Keluarga Kosasih terbaring di depan Arjuna dan Bulan.Susanto, yang berdiri pun, tidak terlihat lebih baik.Ketika petugas pengadilan mencoba menutup mulutnya, Susanto menolak. Atas perintah sekretaris daerah, petugas pengadilan memukulinya dengan sangat keras hingga wajah dan hidungnya memar.Dia benar-benar kehilangan wibawa seorang kepala Keluarga Kosasih.Sekretaris daerah menghampiri Bulan. "Mulai sekarang, perlakukan nyonya ini seperti memperlakukanku. Kalau kalian tidak menghormatinya, berarti kalian tidak menghormatiku."Sekretaris daerah awalnya akan mengucapkan kalimat tersebut di samping Arjuna. Namun, Arjuna memberikan lencana tersebut kepada Bulan."Paman, apakah kamu gila?"Wajah Kurnia penuh dengan keterkejutan dan ketidakterimaan.Jika begitu, bukankah Bul
Read more
PREV
1
...
2122232425
...
37
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status