Ayah mertua, ibu mertua dan suaminya terus meminta maaf, tetapi Bulan tidak mengatakan apa-apa.Selama ini, dia sudah cukup memahami karakter mereka.Tidak ada seorang pun dari Keluarga Kosasih, dari muda hingga tua, yang dapat dipercaya.Sebagai pria tua yang licik, Susanto tentu bisa menebak kekhawatiran Bulan."Bulan, aku akan meminta Kurnia menulis surat jaminan untukmu. Bukan hanya Kurnia, aku dan ibu mertuamu juga akan menulisnya. Kami berjanji bahwa Keluarga Kosasih akan memperlakukanmu dan keluargamu seperti keluarga sendiri.""Tuan!""Ayah!"Neha dan Kurnia menatap Susanto secara bersamaan. Mereka tidak setuju dengan usulan Susanto.Memperlakukan Bulan seorang dengan baik sudah cukup, untuk apa membawa-bawa keluarganya?Terutama Arjuna yang ada di depan mereka ini.Dia miskin dan malas, pecundang total. Kelak dia pasti akan bergantung pada keluarganya.Susanto lanjut berbicara seolah dia tidak mendengar protes dari istri dan anaknya. Kali ini dia berbicara kepada Arjuna. "Sura
"Cepat! Kalau tidak, tidak keburu lagi."Melihat Arjuna tampak acuh tak acuh, Bulan pun cemas."Lari? Haha!"Kurnia tertawa terbahak-bahak. "Apakah menurutmu dia masih bisa lari?""Bawa beberapa teko kemari!"Dia akan memukul Arjuna dengan cara yang sama seperti Arjuna memukulnya tadi. Bahkan menggandakannya.Dia akan menyiksa Arjuna sedikit demi sedikit. Tidak akan membiarkannya mati begitu saja."Tante, jangan takut."Melihat Bulan begitu panik, Arjuna pun menghiburnya."Tante tidak takut, tapi Tante tidak ingin melibatkanmu. Mereka pasti sudah memanggil sekretaris daerah kemari. Sekretaris daerah adalah saudaranya Kurnia. Tadi kamu memukulnya ...."Pada saat ini, Bulan membenci dirinya sendiri. Jika kemarin dia tidak ragu-ragu, melainkan melompat ke jurang dengan cepat, masalah hari ini tidak akan terjadi."Sekretaris daerah?""Ya, dia adalah pamanku."Orang yang menjawab pertanyaan Arjuna adalah Kurnia. Wajahnya berlumuran darah, dia tampak sangat ganas. "Berlututlah dan mohon pada
"Tahukah kamu apa yang sedang kamu bicarakan?"Seorang polisi berwajah garang menghardik si pelayan. "Dia adalah Yang Mulia Sekretaris Daerah. Berani-beraninya kamu menyuruh Yang Mulia memberi kudamu jalan?""Oh?!" Pelayan itu tampak terkejut. Dia menatap sekretaris daerah. "Kamu adalah sekretaris daerah Kabupaten Damai?"Setelah itu, si pelayan menoleh untuk berkata kepada lelaki tua di dalam kereta. "Tuan, dia adalah sekretaris daerah Kabupaten Damai.""Lancang!"Polisi itu menghardik lagi. "Kamu sudah tahu, maka cepat singkirkan kereta kudamu, kemudian turun untuk bersujud kepada Yang Mulia!""Tuan, maukah kita bersujud?""Hah?" Tirai kereta terangkat dari dalam, seorang lelaki tua yang lebih tua dari si pelayan pun muncul di depan para petugas pengadilan dan polisi.Orang tua itu menunjuk telinganya. "Apa yang kamu katakan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Katakan sekali lagi.""Mereka bilang." Sang pelayan menunjuk sekretaris daerah yang menunggang kuda. "Dia adalah sekre
Sekretaris daerah mendatangi lelaki tua itu. Posisinya membungkuk, dia juga tak berani mengangkat kepalanya. "Ada apa, Tuan?""Lebih dekat."Entah apa yang pria tua itu katakan kepada sekretaris daerah, wajah sekretaris daerah menjadi sangat pucat.Setelah lelaki tua itu selesai berbicara kepada sekretaris daerah, dia menoleh ke arah pelayannya. "Berikan lencanamu kepadanya.""Hah?"Pelayan itu secara naluriah melindungi lencana yang ada di pinggangnya. "Kenapa?""Berikan saja. Banyak sekali pertanyaanmu."Pelayan itu dengan berat hati menyerahkan lencananya kepada sekretaris daerah.Sekretaris daerah membungkuk, kemudian mengambil lencana perak dari pelayan itu dengan kedua tangannya.Begitu dia menerima lencana, Susanto keluar dari Kediaman Kosasih bersama anak buahnya.Begitu melihat Susanto, lelaki tua itu segera menatap sekretaris daerah dengan tajam. Dia memberi isyarat agar sekretaris daerah tidak mengatakan apa pun.Pelayan itu pun mengubah ekspresi seriusnya menjadi seorang ku
"Yang Mulia."Begitu sekretaris daerah melangkah masuk ke aula, Bulan berlari mendekat. "Semua salahku, tidak ada hubungannya dengan Arjuna. Yang Mulia, tangkap aku saja.""Dasar wanita jalang, kamu memang harus ditangkap. Sekarang kamu bahkan menghalangi Yang Mulia menyelidiki kasus. Kamu menambah kejahatan lagi.""Enyahlah!"Kurnia menarik Bulan, kemudian menyeretnya ke sisi lain."Buk!"Cangkir teh yang ada di tangan Arjuna tiba-tiba terbang, kemudian mengenai wajah Kurnia."Aduh, aduh!"Kurnia menjerit kesakitan.Kali ini cangkir teh dilempar lebih keras dari sebelumnya. Kurnia jatuh ke lantai dan tidak bisa berdiri.Sebelumnya, Arjuna berbelas kasihan, dia tidak menggunakan terlalu banyak kekuatan.Sekarang dia sudah hendak pergi, jadi biarkanlah Kurnia berbaring saja."Oh, Kurnia! Kurnia-ku!" Neha berlari mendekat. "Ya Tuhan, ini benar-benar melanggar hukum.""Yang Mulia." Susanto segera berkata kepada sekretaris daerah. "Dia berani menyakiti orang di depan Anda. Dia benar-benar
"Ibu, Ibu!"Kurnia mencoba untuk berdiri."Dik, kakak sepupumu tidak lagi muda. Sepuluh kali cambuk terlalu banyak. Dia bisa ....""Seseorang!"Sebelum Susanto sempat menyelesaikan perkataannya, suara dingin sekretaris daerah terdengar. "Tutup mulut Susanto dan Kurnia."Kalau saja pria tua itu tidak memerintahkannya untuk membiarkan Neha tetap terjaga, sekretaris daerah pasti langsung memberi perintah sebanyak dua puluh cambuk.Selain itu bukan hanya Neha, melainkan seluruh anggota keluarganya.Apakah keluarga ini merasa jabatannya jatuh kurang cepat?Saat ini, Susanto sudah merasakan ada yang tidak beres. Dua lelaki tua di luar ....Sayangnya, sudah terlambat baginya untuk menyadarinya.Susanto dan Kurnia yang tergeletak di lantai dan tidak dapat bangun, mulutnya disumpal.Neha dicambuk hingga dia terus menjerit kesakitan.Sekretaris daerah berjalan mendekati Arjuna, kemudian menyerahkan lencana perak dengan kedua tangannya. "Arjuna, seorang pria tua di luar menyuruhku untuk memberika
Para pelayan Keluarga Kosasih melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.Ketika Arjuna dan Bulan kembali, anggota Keluarga Kosasih berdiri dengan sikap arogan.Namun hanya dalam waktu sejenak, dua dari tiga anggota Keluarga Kosasih terbaring di depan Arjuna dan Bulan.Susanto, yang berdiri pun, tidak terlihat lebih baik.Ketika petugas pengadilan mencoba menutup mulutnya, Susanto menolak. Atas perintah sekretaris daerah, petugas pengadilan memukulinya dengan sangat keras hingga wajah dan hidungnya memar.Dia benar-benar kehilangan wibawa seorang kepala Keluarga Kosasih.Sekretaris daerah menghampiri Bulan. "Mulai sekarang, perlakukan nyonya ini seperti memperlakukanku. Kalau kalian tidak menghormatinya, berarti kalian tidak menghormatiku."Sekretaris daerah awalnya akan mengucapkan kalimat tersebut di samping Arjuna. Namun, Arjuna memberikan lencana tersebut kepada Bulan."Paman, apakah kamu gila?"Wajah Kurnia penuh dengan keterkejutan dan ketidakterimaan.Jika begitu, bukankah Bul
Melihat Arjuna berjalan ke luar, sekretaris daerah segera mengikutinya. "Arjuna, tadi aku mendengar dari tantemu bahwa kamu kemari dengan jalan kaki. Aku punya kuda, kamu boleh menunggangnya untuk pulang."Kedua pria tua itu memandang Arjuna begitu penting, dia harus menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Arjuna.Dia telah menjabat sebagai sekretaris daerah selama hampir dua puluh tahun, tak kunjung naik jabatan. Bukankah itu karena dia tidak memiliki dukungan?Arjuna mungkin bisa menjadi kesempatannya untuk naik jabatan."Terima kasih, Yang Mulia, tapi aku tidak bisa menunggang kuda."Arjuna menolak sekaligus menyatakan kebenaran.Dia yang berasal dari era modern benar-benar tidak bisa menunggang kuda.Arjuna tahu bahwa sekretaris daerah ingin memanfaatkannya untuk mendekati kedua pria tua tersebut.Tidak peduli apa latar belakang kedua lelaki tua itu, Arjuna tidak tertarik untuk mengetahuinya.Mereka membantunya kali ini, jadi Arjuna akan membalas budi, kemudian lunas. Dia tidak
Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah
Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo
"Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj
"Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer
Tamu bernama Hendra memberi tip lima ratus tael perak.""Bagaimana boleh begini? Ini benar-benar tidak tahu malu.""Demi tidak kalah, mereka menggunakan cara tercela seperti itu.""Tunggu, apakah tip termasuk? Apalagi orang yang memberinya adalah Hendra."Semua pejabat dan pedagang dari Kabupaten Damai melontarkan protes dengan marah."Sugi, bukankah kalian terlalu hina?" Eshan berkata kepada Sugi dengan raut muram."Hina?" Ekspresi Sugi masih setenang sebelumnya, tanpa rasa malu, bahkan sedikit puas diri. "Kak Eshan, apa yang kamu bicarakan? Pelanggan merasa senang memakan masakan Lujain sehingga memberi tip. Apa yang aneh dari itu?""Kak Eshan juga, 'kan? Kalau kamu makan makanan enak, kamu pasti juga akan memberi tip kepada tukang masaknya, 'kan?"Sugi menatap Eshan sembari bertanya balik.Eshan terdiam sesaat.Dia memang punya kebiasaan itu. Setiap kali dia pergi makan dan menyukai makanannya, dia akan memberikan tip kepada si juru masak.Banyak orang tahu tentang kebiasaannya itu.
Hendra dan Bani menatap Sugi secara bersamaan.Mereka gagal mendapatkan Rumah Bordil Prianka, bahkan harus menyerahkan Restoran Kebon Sirih dan toko daging. Hal ini sama saja dengan memotong daging mereka. Bagaimana mungkin mereka rela melakukan itu?Melihat hal ini, pupil mata Eshan mengecil. "Kenapa, Yang Mulia Sugi, apakah kalian ingin bersikap curang?""Tidak, tidak." Sugi melambaikan tangannya berulang kali. "Bagaimana mungkin seorang pejabat mengingkari janjinya? Kalau kalian menang, akta Restoran Kebon Sirih dan toko daging pasti akan segera diserahkan."Eshan mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sugi? Semua orang melihat bahwa sore ini, Restoran Kebon Sirih tidak menerima sepeser pun. Sedangkan cake Arjuna menghasilkan total 539 tael perak hari ini. Pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari kurang dari 300 tael. Pendapatan kami sehari jauh lebih banyak daripada total pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari. Bukankah kami menang?""Menurut perhitunganmu, kalian mem
"Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?""Lujain, apa maksudmu?""Hahaha! Hahaha!" Lujain tidak menanggapi kata-kata Sugi, tetapi hanya tertawa.Setelah tertawa terbahak-bahak, dia mulai mengulang-ulang kata-katanya. "Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?"Lujain terus mengulanginya sampai matahari terbenam. Tidak peduli bagaimana Sugi dan yang lainnya memanggil Lujain, dia tidak menjawab.Akhirnya Sugi mencarikan seorang tabib.Dokter mengatakan bahwa Lujain tidak bisa menerima pukulan sehingga menjadi gila.Dengan kata lain, Lujain sudah gila!"Gila? Bagaimana mungkin? Dasar tabib bodong!"Sugi menendang tabib itu keluar dari ruangan dengan kasar."Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat panggil tabib!" Sugi berteriak dengan marah kepada bawahannya."Baik, Yang Mulia!" Bawahan itu berlari keluar dengan panik."Tunggu, jangan undang tabib dari Kabupaten Damai, undang tabib dari Kabupaten Sentosa saja."Bawahan Sugi bergegas menjemp
"Yang sudah beli, tolong berikan ke yang belum. Tuan." Eshan tersenyum kepada pemuda yang berada paling dekat dengannya. "Kamu sudah pernah beli sebelumnya. Aku lihat kamu bahkan beli dua.""Dua saja tidak cukup. Total putriku ada dua belas. Dua cake sebelumnya sudah dihabiskan oleh ibu dan putraku, Aku, istri dan putriku belum makan.""Kalau begitu kamu harus beli setidaknya delapan sampai sepuluh cake. Tidak bisa, tidak bisa."Orang-orang di belakang bergegas maju, mendorong pemuda itu ke samping.Setelah beberapa waktu berlalu, Eshan didemo menggunakan uang, orang-orang rebutan kue."Jangan rebutan, jangan rebutan. Semuanya kebagian. Kalau masih kurang, aku akan minta Arjuna menyisakannya untuk dibawa ke sini." Eshan merasa tak berdaya."Sepakat ya. Kalau tidak disisakan, awas saja."Adegan macam apa ini? Orang-orang mengancam kepala daerah, kepala daerah malah tertawa.Raut wajah Sugi begitu muram. Dia melirik Lujain yang berekspresi sama muramnya."Semuanya! Semuanya!" Sugi berdir