Semua Bab Terjebak Bersama Dua Mantan: Bab 91 - Bab 100

149 Bab

91. Don't You Love Me?

Tubuh Gavin bergeser mundur saat Revita mendorong dadanya menjauh. Namun, dengan cepat pula tangannya menggapai pinggang wanita itu hingga keduanya saling menempel kembali. Kesempatan itu Gavin gunakan untuk membungkam bibir Revita lagi. Bahkan kali ini sebelah tangan lain meraih tengkuk Revita, seolah mengunci pergerakan wanita itu. Gavin masih bisa merasakan perlawanan kekasihnya itu. Kekuatan yang tidak sebanding membuatnya dengan mudah mengusai wanita itu. Dia menggigit bibir bawah Revita, membuat bibir mungil itu refleks terbuka, dan kesempatan itu Gavin gunakan untuk mempedalam ciumannya. Tidak ada respons dari Revita. Wanita itu justru terus menunjukkan keenggana. Beberapa kali dia memukul dada Gavin saat merasa kehilangan asupan udara. "Kamu gila ya?!" serunya melotot, saat berhasil menjauhkan tubuh liat Gavin. Dia terlihat sangat jengkel dan mengusap bibirnya secara kasar dengan lengan. Persis anak kecil yang tidak mau dicium orang tuanya saat lagi ngambek. "Mau lagi?"
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

92. Adriana

Wanita itu dikenalkan sebagai manajer baru divisi marketing di meeting bersama jajaran manajer tiap divisi. Dan sialnya, Ferdy mengajak Revita untuk turut serta. Sehingga dia tahu nama wanita itu. Adriana. Wanita tinggi semampai yang tidak kalah cantik dengan Selena. Sekali lihat saja, Revita langsung insecure. Harus dia akui. Adriana tampak begitu serasi jika disandingkan dengan Gavin. Cantik, smart, dan terlihat berwawasan luas. Satu lagi kelebihannya. Publik speakingnya sangat bagus. Tidak salah jika Gavin menempatkan wanita itu di bagian marketing. Revita memilih segera beranjak dari ruang meeting, meminta izin Ferdy untuk pergi ke toilet sebentar. Hatinya sedikit terusik selama meeting berjalan. Dia sendiri tidak tahu sebabnya. Seorang wanita tersenyum padanya saat Revita sedang mencuci tangan di wastafel. Tunggu, bukankah dia Adriana? Berdiri bersisian dengan wanita itu membuat Revita merasa tenggelam. Adriana begitu tinggi. Rambut bergelombang wanita itu terlihat begitu pas d
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

93. Siapa yang Cemburu?

"Sekarang yang lagi trending itu Adriana!" Revita menoleh ketika Ilham menyebut nama manajer baru marketing. Dari tempatnya dia melihat Rafa dan Dany menggeser kursi ke dekat Ilham. "Eh, seperfect itu sumpah. Gue pagi tadi liat sih," sambut Dany. "Serius?" Rafa menatap Dany dengan alis sebelah naik. "Bukannya buat lo Vania nggak ada duanya?" Dany nyengir kuda. Mungkin dia lelah mengejar Vania. "Kali ini gue setuju deh sama yang lain. Lagi jadi buah bibir banget.""Gue belum liat sih." Rafa mengusap dagu sambil melirik Revita yang masih sibuk, tapi telinga masih jelas mendengar obrolan ketiga pria penghuni kantor RnD itu. "Sama Revita cantik mana?" Ilham dan Dany kompak menatap Revita. Keduanya tercenung selama beberapa saat. Sebelum Dany kembali menyeletuk. "Cantik relatif sih, Raf." "Cari aman lo! Bilang aja lo nggak mau bikin pacar big boss tersinggung!" "Eh, emang Revita masih ada hubungan sama si bos?" Itu diucapkan Dany dengan nada pelan, tapi telinga Revita masih cukup
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

94. Penasaran

"Mama belum tidur?" Revita menutup buku yang dia baca ketika Reina dan Gavin baru saja sampai rumah. Mereka berdua akhirnya pergi makan malam di luar tanpa Revita. Wanita itu kekeh tidak mau ikut. Sudah kadung malu, gengsi kalau harus ikut. Dan sekarang waktu sudah menunjuk angka sembilan lebih. Terlalu larut buat anak seusia Reina baru pulang. "Kan mama nunggu kamu pulang," sahut Revita, lantas melirik Gavin di belakang Reina yang tengah memasang senyum menyebalkan. "Nih, aku bawa dimsum buat mama. Kata Om Gavin takut mama kelaparan." Anak itu mengangsurkan kantong putih berisi mealbox. Yang lantas Revita terima. "Iya. Makasih. Sekarang udah mau setengah sepuluh. Waktunya kamu pergi tidur." "Oke, Ma." Dia tersenyum girang, lalu berbalik kepada Gavin. "Om, aku tidur dulu ya. Kalau Om mau pulang hati-hati di jalan ya," ujarnya lalu meraih tangan Gavin untuk dia salim. Gavin membalas anak itu dengan usapan di kepala. "Iya, Sayang. Good night." Dan membiarkan Reina berlalu masuk.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-14
Baca selengkapnya

95. Tenang, Sayang

"Mas!" Revita menampar tangan Gavin yang menyusup masuk ke ujung dressnya. Bukannya menyesal, pria itu terkekeh. "Pulang sana," usir Revita sekali lagi. Sudah hampir pukul sebelas malam, tapi Gavin masih belum mau beranjak pergi. Duduk saja di samping Revita sambil melukis di atas paha wanita itu dengan ujung jarinya. "Boleh nginep di sini kan?" Sinting! Mata Revita melotot. Baru dikasih sedikit sudah ngelunjak. Dia segera menggeser duduk, mengambil jarak dari posisi Gavin. Reaksi itu membuat pria bermata cokelat di sebelahnya itu terkekeh. "Aku cuma bercanda," katanya lalu berdiri. Kepalanya melirik ke arah kamar Reina. "Aku boleh lihat Nana dulu sebelum pulang?" tanya dia minta izin. Saat mendapat anggukan dari Revita, pria itu melangkah ke kamar Reina. Didorongnya pintu yang sedikit terbuka, lalu kepalanya melongok ke dalam. "Masuk aja," ucap Revita. Gavin melihat putrinya tertidur dengan pulas sambil memeluk guling. Saking pulasnya anak itu bahkan tidak terganggu dengan sua
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-15
Baca selengkapnya

96. Memantapkan Hati

Gavin tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan saat Revita mendekat padanya. Beberapa hari ini dia sengaja memarkirkan mobil di lantai basement kantor supaya wanita itu mau pulang bersama. Revita memang sudah menerima maafnya kembali, tapi demi keamanan dan kenyamanan wanita itu, Gavin menuruti keinginan Revita untuk merahasiakan hubungan spesial ini di area kantor. "Jam segini Nana biasanya udah naik bus jemputan kan?" tanya Gavin ketika Revita menyambut uluran tangannya. "Iya, kita tunggu di rumah aja nggak apa-apa kan?" Tanpa banyak protes Gavin setuju. Keduanya lantas segera memasuki mobil sebelum ada teman sekantor Revita yang memergoki. Revita sampai harus mengenakan face mask demi agar tidak ada yang tahu keberadaannya di mobil Gavin. Jika naik ojek online biasanya Revita akan sampai lebih dulu daripada Reina. Namun sore ini anak itu lebih dulu sampai. Reina masih terlihat masih mengenakan seragam dan agak terkejut melihat ibunya itu pulang bersama Gavin. Kepala anak itu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-16
Baca selengkapnya

97. Cincin

Langit Jakarta malam ini begitu pekat. Satu titik cahaya bintang pun tidak terlihat. Revita bertanya-tanya entah di belahan bumi mana mereka menampakkan diri. Di atas ayunan yang letaknya di teras balkon unit Gavin, Revita tampak tenang menyeruput cokelat hangat yang baru saja dia bikin. Setelah memastikan Reina tertidur pulas, dia pun beranjak ke balkon. Duduk sambil merenungi apa yang sudah dia lalui selama ini. Namun yang menyebabkan dia akhirnya menyeduh cokelat adalah ajakan Gavin untuk menghadiri wedding anniversary orang tua lelaki itu. Revita memang sudah sepakat ikut, tapi tetap saja masih menyisakan rasa khawatir yang berlebihan. Bukan hanya orang tua Gavin, di sana pasti akan hadir keluarga besar lelaki itu. "Kamu belum tidur?" Suara berat dan empuk itu sedikit membuat Revita tersentak. Dia pikir Gavin sudah terlelap. Wanita itu menggeleng, lantas memperhatikan pria itu berjalan mendekat sambil membawa cangkir. Dari aromanya itu kopi. "Kamu ngopi malam-malam?" tanya Re
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya

98. Ulang Tahun Pernikahan

Revita masih mematut diri di depan cermin dengan dada berdebar. Akhirnya malam ini tiba. Malam anniversary pernikahan orang tua Gavin. Semoga acara itu tidak akan hancur karena kedatangannya. Revita mengenakan one shoulder dress di bawah lutut berwarna biru gelap. Gaun itu memiliki potongan rok asimetris yang kainnya jatuh di bagian bawah. Warna pekat yang sangat kontras dengan kulit putih Revita membuat gaun itu sangat cocok dipakai wanita itu. Kata Gavin dia yang memesannya langsung dari butik, kembar dengan milik Reina. Hanya beda ukuran saja. Revita membiarkan rambut panjangnya tergerai dan dibuat bergelombang. Sisi kiri hanya diberi jepitan minimalis. Paduan yang sempurna dengan makeup tipis yang menyapu wajahnya. "Manis." Sebuah kecupan mendarat di sisi bahu Revita yang terbuka. Lalu senyum Gavin dari pantulan cermin langsung bisa Revita tangkap. "Apa ini udah cukup, Mas? Atau aku kelihatan norak?" tanyanya dengan nada khawatir. "Lebih dari cukup, Sayang. Dan yang norak d
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-18
Baca selengkapnya

99. It's not just a dream

"Gavin benar-benar menantangku. Sekarang dia terang-terangan membawa perempuan miskin itu ke depan kita. Di depan keluarga besar kita." Wajah ayu Melinda tampak mengeras saat melihat putranya berdampingan dengan Revita. Di sisinya Mannaf mendesah. "Jangan kamu hancurkan acara kita. Jaga sikap kamu," ucap pria tua itu yang juga menatap lurus keberadaan sang putra. "Seharusnya dia sadar kalau ini bukan tempatnya. Aku nggak percaya putramu berani membawanya ke sini. Pantas saja dia menolak menginap di vila ini." Suara Melinda makin terdengar geram. Dia bahkan tidak repot menunjukkan muka masamnya. "Aku sudah memilihkan wanita baik-baik seperti Talia, malah lebih memilih wanita yang asal usulnya nggak jelas itu." "Wanita itu cantik. Nggak heran kalau Gavin tergila-gila sama dia.""Cantik apanya? Jelas-jelas Talia masih lebih cantik. Aku yakin Gavin sudah terkena jampi-jampi perempuan itu." Melinda membuang napas dari hidung dengan kasar. Lalu mendengus kesal. Tatapnya lantas menemukan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-19
Baca selengkapnya

100. Omongan Orang

Tawa renyah itu masuk ke telinga Revita tanpa sengaja saat wanita itu baru saja kembali dari toilet. Segerombolan sepupu Gavin. Revita yang akan melanjutkan langkah untuk kembali ke tempat acara urung saat dia mendengar namanya dan nama Gavin disebut. Seharusnya dia bersikap masa bodo, tapi yang dia lakukan malah berhenti. Bersembunyi untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. "... Hebat ya dia!" Potongan kalimat itu baru saja Revita dengar, saat dia menempelkan punggung di dinding. Mereka tidak akan tahu keberadaannya di sini. "Hebat? Yang bena saja! Itu trik murahan yang sering orang sebangsanya lakukan. Menjebak laki-laki kaya supaya mau menikahinya. Hellow! Dia anak pembantu btw. Anak pembantu macam apa yang berani deketin anak majikan, kalau bukan tipe pelacur dan pelakor?" Revita sontak memegangi dadanya yang terasa berdenyut. Dia tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Dirinya tentu saja. Suara tawa kembali terdengar. "Dan begonya, Gavin mau-mau aja tanggung jawab.""Hei,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-21
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
89101112
...
15
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status