Home / Romansa / Terjebak Bersama Dua Mantan / Chapter 101 - Chapter 110

All Chapters of Terjebak Bersama Dua Mantan: Chapter 101 - Chapter 110

149 Chapters

101. Jangan Terpengaruh

Beberapa waktu tidak berjumpa membuat Revita lupa jika pria di depannya ini adalah bagian dari keluarga besar Adhiyaksa. Dia sama sekali tidak mengantipasi kehadiran pria ini sebelumnya. Sehingga kemunculan dia secara tiba-tiba ini membuatnya sangat terkejut. Mahesa. Dia ada di depan Revita sekarang. Menyeringai dengan wajah penuh rasa tak percaya melihat Revita ada di tempat ini. "Aku benar-benar nggak ngerti lagi dengan jalan pikiran kamu," ucap pria itu. Revita menelan ludah. Lalu memalingkan tatap dengan resah. Dia mengerti apa yang Mahesa maksud. "Sudah aku bilang kan ini akan sulit? Dan kamu malah memunculkan Nana di sini. Sekali lagi aku katakan, Re. Kamu nggak akan bisa bersama Gavin. Resikonya terlalu besar." Mahesa menatap sedih wanita di depannya. Lalu berjalan maju. "Dan lebih dari itu, apa kamu lupa dengan yang sudah dia lakukan? Dengan mudah kamu maafin dia?" tanya Mahesa tak percaya. Sedangkan padanya, wanita itu seolah sulit memaafkan. "Mas, tolong jangan ikut ca
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

102. Tidak Ingin Menduakan

"Nana!" Gavin tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba Revita mendorong dadanya, di tengah cumbuan mereka. Pria itu sempat syok selama beberapa saat. Lagi nikmat-nikmatnya, main potong aja. "Nana aman, Re. Dia sama Selena dan Adriana." Revita mengerjap. Dia makin mendorong Gavin menjauh, hingga penyatuan mereka terlepas. Tangannya menyambar selimut dengan segera. "Kita harus jemput Nana, Mas." Kali ini Gavin yang mengerjap bingung. "Sekarang? Tapi Re, ini sudah malam. Dan aku yakin Nana pasti sudah tidur.""Dia pasti nyari kita."Membuang napas kasar, Gavin pun terpaksa turun dari ranjang. Dia bergerak meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di lantai bersama dengan celananya. "Biar aku telpon Selena," putusnya kemudian. Dia menunduk dan menatap miris miliknya yang masih menegang sempurna, sambil menunggu panggilannya diangkat. Tidak berapa lama, suara Selana terdengar. "Ada apa, Mas?" tanya Selena di sana terdengar khawatir. "Nggak ada. Aku cuma mau mastiin keadaan Nana, u
last updateLast Updated : 2025-02-24
Read more

103. Seandainya

Revita tahu sejak malam di Bali itu, semuanya tidak baik-baik saja. Dia merasa ada yang Gavin sembunyikan. Sikap pria itu memang masih baik seperti biasa, tapi ada sesuatu yang bisa Revita rasakan perbedaannya. Terakhir berkas-berkas yang pria itu minta untuk mendaftar pernikahan hanya bisa Revita titipkan kepada Vania. Sekretaris itu bilang, Gavin sedang melakukan perjalanan bisnis dadakan ke Thailand dan Vietnam. "Revita..."Sebuah suara membuat langkah Revita berhenti dan menoleh. Dari tempatnya dia bisa melihat Selena berjalan ke arahnya. "Masih istirahat ya?" tanya wanita itu begitu tepat berdiri di depannya. "Iya. Kamu mau ketemu Gavin ya?" tanya Revita. Ya apalagi urusan Selena jika sudah mampir ke kantor pusat selain bertemu dengan kakaknya? "Nggak. Kan Mas Gavin lagi ke Thailand." Wajah cantik di depan Revita tersenyum. "Re, mau nggak kita ngopi sebentar? Mumpung masih ada jam istirahat."Mengingat masih ada waktu sekitar setengah jam lagi, Revita mengamini ajakan Selena.
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

104. Surat Undangan Vs Surat Pengunduran Diri

"Anjir! Ini Seriusan?!" Mengabaikan kehebohan para stafnya, Ferdy hanya nyengir kecil. Dia membenarkan kacamata dan berkata, "jangan lupa pada datang. Biar bisa jadi saksi." Dany dan Rafa saling pandang, dan detik berikutnya keduanya menangis bombay dengan sangat lebay. Sangat berisik, sampai Arum menbenturkan kepala keduanya dengan sebal. "Kita keduluan Pak Ferdy! Hwaaaa!" seru Dany. "Si jomblo akut akhirnya laku!" timpal Rafa. Yang langsung mendapat pelototan dari sang manajer. Tapi Rafa seolah tak peduli. Dia malah berpelukan dengan Dany. "Biasa aja dong kalian!" seru Arum sebal. Meskipun dia juga sebenarnya kaget karena sang manajer tiba-tiba melempar undangan pernikahan. "Pak Ferdy nggak ngehamilin anak orang kan?" tanya Dona dengan wajah polos. Membuat Ferdy langsung mengelus dada. "Astaghfirullah! Ya nggak lah, Don!" Ilham di samping Dona sampai mendelik pada wanita itu. "Mulut kamu loh, Yang!" "Sori, Pak." Dona meringis. "Abis ini kayak suprise dadakan banget," ujarny
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

105. Mas Kawin

Hari ini Revita memberanikan diri datang ke pernikahan Ferdy dan Adriana bersama Gavin. Tidak peduli dengan pandangan tamu--orang kantor--nanti. Hal yang paling dia hindari adalah menampakkan diri bersama Gavin di tempat umum, tapi untuk hari ini dia membiarkan semua terjadi apa adanya. Tidak dengan setelan jas seperti biasanya, hari ini Gavin mengenakan kemeja batik lengan panjang disambung celana kain hitam. Belum pernah sekali pun Revita melihat Gavin dalam tampilan seperti sekarang, membuat wanita itu agak terkesima. Kemeja itu melekat dengan sempurna di tubuh atletis yang pacar. "Kenapa?" tanya Gavin heran, melihat Revita malah terpaku. Revita terkesiap, dan menggeleng. "Kamu pakai batik?" tanyanya spontan. Pertanyaan yang membuat Gavin lantas memperhatikan penampilan diri sendiri. "Iya. Ada yang aneh ya?" Wanita di depannya menggeleng seraya mengulum senyum. Langkahnya maju dan mengusap bahu lebar Gavin. "Nggak, kamu ganteng kok."Ucapan Revita tak pelak membuat Gavin sala
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

106. Pai Apel

Begitu memasuki apartemen, Gavin mengendus wangi yang luar biasa sedap. Aroma manis dan gurih seolah bercampur jadi satu memenuhi setiap penjuru ruang unit. Dia tahu ada sesuatu spesial yang sedang Revita bikin di dapurnya. Dapur yang nyaris tidak pernah menyala selama dirinya tinggal di unit ini. "Sumpah wangi banget sih, Yang? Kamu bikin apa?" tanya Gavin dengan wajah sumringah dan langsung bergerak menuju dapur. Jas dan tas kerjanya dia letakkan begitu saja di atas sofa. Revita dengan apron yang melekat di depan tubuhnya nyengir melihat Gavin mendekat. Dia baru saja mengeluarkan loyang berisi kue pai dari dalam oven. "Apple pie. Udah lama banget aku nggak baking nih. Jadi, nggak tau deh rasanya kayak gimana." Di sebuah wadah piring besar, Revita meletakkan kuenya tersebut. Memotong dengan pisau, dan menyajikan satu slice ke piring kecil untuk Gavin cicipi. "Coba deh, mumpung masih anget," ujarnya tersenyum seraya mendorong piring kecil itu ke dekat Gavin yang sudah nongkrong di
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

107. Resign

"Aku nggak mau ke mana-mana," ucap Revita saat Gavin menanyakan tentang bulan madu mereka. "Kamu yakin? Memang kamu nggak mau liat keindahan Puncak Alpen dari dekat? Atau naik Gondola di Venesia?"Revita menggeleng sembari terkekeh. Bukan itu yang dia pikirkan. Bulan madu bukan prioritas. "Padahal aku udah bayangin bisa ke sana sama kamu." Gavin menyelipkan tangan, memeluk perut Revita. "Jadi, kamu mau apa hadiah pernikahan kita nanti?" "Aku nggak mau apa-apa." Revita menghela napas. Kembali mengingat ucapan Melinda. "Mas..." "Hm..." Gavin memejamkan mata, tangannya bergerak mengusap perut rata Revita dengan pelan. "Kamu yakin sama pernikahan kita?" "Kenapa aku musti nggak yakin?" "Nggak akan menyesal? Menikahiku akan membuat kamu dijauhi keluarga.""Aku nggak peduli." Kepala Gavin bergerak, menyuruk ke rambut tebal Revita. Namun dia kemudian tersadar sesuatu. "Kenapa kamu bertanya begitu? Something happens?" tanya Gavin mengangkat kepala. Tidak mungkin juga Revita memberi tah
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

108. Besok

"Kamu siap besok?" Revita baru saja melepas sepatu ketika Gavin meneleponnya. Sembari menjepit ponsel di antara telinga dan bahu, dia membuka kunci rumah. "Apa nggak ada yang perlu aku siapkan lagi?" "Nggak ada. Kamu cukup siapkan hati buat aku. Pukul 9 harus udah stand by ya, kamu dan Nana. Nanti ada supir yang akan jemput kalian." Memasuki rumah, Revita pun terkekeh. Dia bergerak menuju kamar dan mendekati koper bagasi yang sudah dalam keadaan terbuka di atas ranjang. Sebagian pakaian sudah dia pack. Tinggal beberapa saja yang perlu dia rapikan. "Ya." "Dandan yang cantik. Meskipun kita cuma nikah di KUA aku ngundang fotografer.""Lebai banget.""Bukan Lebai. Ini momen sekali seumur hidup. Sayang kalau nggak diabadikan."Revita tersenyum, lantas meletakkan satu setel pakaian ke atas tumpukan baju yang sudah tertata di koper. "Hm, ya. Terserah kamu." Tatapnya lantas melirik kebaya putih yang dia gantung di handle pintu lemari. Kebaya itu yang niatnya akan dia pakai untuk acara p
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

109. Hancur

Revita terduduk lemas di kursi ruang tamu dengan tubuh gemetar. Pandangannya agak buram karena tertutup kabut air mata yang sepertinya sulit dibendung lagi. Hanya satu kali kedipan saja, maka cairan bening itu akan luruh dari kelopak matanya. Bukan hanya sesak, tapi dadanya juga terasa nyeri dan sakit. Berbagai macam praduga terus berlalu lalang di benaknya. Di satu sisi dia yakin Gavin tidak mungkin melakukan hal gila itu lagi, tapi di sisi lain dia juga merasa ragu. Dan telinganya terus saja mendengar bisik-bisik prasangka yang makin menipiskan rasa percayanya pada calon suaminya itu. 'Pukul 7 malam. Kami janjian bertemu di Gerniez Resto. Datang saja kalau kamu masih nggak yakin sama kata-kata saya.' Tangan Revita bergetar saat memegang ponsel. Meski tidak ada nama si pengirim pesan, dia tahu itu pesan dari Talia. Kepala Revita makin berdenyut di buatnya. Tubuhnya pun terasa menggigil. Hanya membayangkan, tapi sanggup membuat jiwanya terguncang begini. Revita berjalan gont
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

110. Terakhir Kali

"Boleh tau kenapa kamu menangis?" Pertanyaan itu meluncur setelah Revita berhasil menyeka air mata dan mencuci mukanya. Wanita itu tidak ingin menambah masalah dengan menceritakan masalah yang dia alami pada orang lain. Apalagi itu Mahesa. "Aku nggak apa-apa. Aku harus pulang." Tetap diam dan pergi itu keputusan terbaik. "Kalian bertengkar?" tanya Mahesa lagi, seperti tidak ingin melepas Revita begitu saja. Kakinya terayun maju. Mendekati Revita yang kini memunggunginya. "Aku sudah cukup mengalah pada bocah itu. Tapi kalau dia masih saja menyakiti kamu---" "Sudah kubilang aku nggak apa-apa," potong Revita cepat. "Aku pergi," tandasnya tidak ingin berlama-lama lagi. Kakinya baru dua langkah berjalan saat Mahesa kembali bersuara. "Aku antar kamu pulang!" Revita ingin mengabaikan, tapi Mahesa mengejarnya. "Mungkin ini terakhir kali aku bisa ngantar kamu pulang. Mulai besok aku sudah nggak punya kesempatan lagi. Jadi, biar aku antar kamu." Melihat tidak ada reaksi
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more
PREV
1
...
910111213
...
15
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status