Home / Romansa / Terjebak Bersama Dua Mantan / Chapter 121 - Chapter 130

All Chapters of Terjebak Bersama Dua Mantan: Chapter 121 - Chapter 130

149 Chapters

121. Playing Victim

"Papa!" Mata Revita sontak terbuka saat mendengar seruan itu. Itu tadi suara Reina. Tapi siapa yang anak itu panggil papa? Revita menggeliat. Badannya terasa remuk redam setelah kemarin nyaris 18 jam nonstop dia bekerja siang malam. Dari pabrik, langsung part time di sebuah mini market. Masih merebah, Revita melirik sisi kasurnya yang sudah kosong. Reina sudah tidak ada di sana. Padahal jika akan berangkat sekolah biasanya bocah itu pamit dulu padanya. Membuang napas, Revita bergerak bangkit dan duduk. Masih di atas kasur, dia melakukan peragangan otot yang terasa kaku. Dia mengeretakkan leher, lalu merentangkan tangan ke depan hingga tulang sendinya berbunyi. Menyampirkan tangan ke pundak, dia mulai memijat pundak itu dengan pelan. Lalu suara tawa renyah ciri khas Reina terdengar. Dahi Revita mengernyit, ternyata anak itu belum berangkat sekolah. Setelah tawa Reina, dia mendengar suara tawa lain yang dia kenal. Itu suara tawa Indila. Revita mengambil sebuah jepit rambut. Menggel
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

122. Jauhi Kami

Revita terhenyak. Dia sama sekali tidak mengira akan begini. Saat itu emosi mengusai dirinya. Yang ada dalam pikirannya waktu itu hanya pergi dari Gavin sejauh mungkin. Kepercayaan dan kebahagiaannya hancur dalam sekejap. Dia menyesali kebodohannya lantaran lagi-lagi dia mendapat luka dari orang yang sama. Gavin benar-benar mengikis harapan hingga ke akar-akarnya. Ya, itu pikiran Revita saat itu. Tapi sekarang... Cerita dari lelaki itu beda lagi. Dan sialnya, apa yang Gavin ungkap seperti tamparan keras baginya. Kembali dia merasa bodoh karena tidak melihat masalah dari dua sisi. Mungkin Gavin benar, seharusnya Revita memastikan kebenaran cerita dari wanita bernama Talia. Bukan langsung memutuskan pergi. Karena terbawa emosi, pikirannya menjadi kurang jernih. Revita melihat Gavin mengambil kotak bubur, lalu pria itu beranjak berdiri. "Ayo, makan. Aku temani di dalam," ujarnya lantas berjalan menghampiri Revita. Dia menunggu sampai Revita menyingkir dari ambang pintu. Saat akhirnya
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

123. Belanja

Gavin melambaikan tangan saat dari dinding kaca mini market Revita melihat kemunculannya. Pria itu kembali mendatangi mini market tempat Revita bekerja paruh waktu. Kali ini dia datang bersama Reina. Setelah mereka jalan-jalan entah ke mana. Yang jelas Revita terpaksa mengizinkan meskipun dia menolak ikut. Pria itu tersenyum kecil saat melihat Revita tampak tak peduli dan malah membuang muka. Kejadian pagi tadi sepertinya masih menyisakan kekesalan di wajah ayu perempuan itu. Gavin masih ingat merahnya wajah Revita ketika dirinya hendak mencium wanita itu. Namun alih-alih mencium, dia malah menikmati menatap lamat-lamat wajah cantik yang sudah enam bulan ini dia rindukan. Padahal Revita sudah memejamkan mata seolah siap menerima sentuhannya.Yang terjadi setelahnya, Revita mendorong dadanya menjauh dan mengusirnya tanpa belas kasihan. Pun ketika siangnya Gavin datang lagi untuk menjemput Reina terkait janjinya. Mata Revita sampai membulat sempurna saat mendengar Reina memanggil Gavin
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

124. Pulang Sama Siapa?

Gavin baru saja mematikan mesin mobil saat melihat mobil lain datang dan parkir di sisi kanan mobilnya. Matanya menyipit kala merasa mengenali kendaraan itu. Detik berikutnya umpatan lirihnya terdengar. Itu Mahesa. Jangan bilang pria itu datang ke mini market ini untuk menjemput Revita. Menggertakkan gigi, Gavin memutuskan keluar dari dalam mobil. Pun penghuni kendaraan di sebelahnya. Ketika sensor kunci mobil berbunyi, tatap keduanya tanpa sengaja bertemu. Gavin bisa melihat Mahesa sedikit terkesiap. "Gavin? Sedang apa kamu di sini?" tanya Mahesa, ekor matanya melirik ke arah mini market. Sudut bibir Gavin terangkat sebelah. "Jemput pacar," sahutnya jumawa. "Om sendiri ngapain?" "Aku mau jemput Revita.""Excuse me?" "Kenapa?" Dahi Mahesa berlipat. Dua tangannya dia masukkan ke dalam saku. Lalu melangkah maju, mengitari badan mobil. Begitu juga Gavin, ikut melangkah ke depan hingga keduanya berdiri saling berhadapan. "Yang mau Om jemput itu pacarku. Masih perlu aku ingatkan?"
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

125. Jemuran

Revita sedang menjemur pakaian yang baru dicuci saat dari kejauhan melihat dua orang tengah lari bersama. Dua orang lelaki dan perempuan itu sedikit menyedot perhatiannya sampai Revita menyipitkan mata untuk memastikan penglihatannya. Pangkal alisnya menyatu saat tahu ternyata mereka itu Gavin dan Indila. Keduanya jogging bersama? Keduanya terlihat lari bersamaan sambil ngobrol. Entah apa yang mereka bicarakan sampai saling melempar tawa begitu. Di posisinya Revita tidak melepas pandangannya. Dia malah makin menatap keduanya dengan tajam. Wanita itu baru tahu jika tetangga kosannya itu ternyata akrab dengan Gavin. Bibirnya berkerut tak senang tahu fakta itu. Namun tiba-tiba Revita terperanjat sendiri. "Kenapa aku mesti nggak senang?" tanyanya pada diri sendiri lalu kepalanya menggeleng cepat. "Bodo amat dia mau akrab sama siapa," ujarnya lagi bersikap sok tak peduli lalu melanjutkan kegiatan menjemur baju, tapi lagi-lagi tanpa sadar matanya bergerak mengintip dari balik kain jemuran
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

126. Piknik

Melihat kedatangan Mahesa membuat Revita merasa menjadi umpan yang tanpa sengaja tercebur ke kolam ikan. Pasalnya saat ini ada Gavin di kosan yang tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan piknik. Entah dapat ide dari mana, mereka, Reina, Gavin, dan Indila tiba-tiba ingin pergi piknik. Sebenarnya Revita malas ikut. Daripada menghabiskan waktu di luaran, jujur dia lebih butuh tidur. Mengingat jadwal kerja tiap hari menyita waktu tidurnya. Namun, tentu saja putrinya yang cantiknya sekolong langit tak mungkin membiarkan itu terjadi. "Biar aku sama papa deh yang nyiapin bekal, mama tinggal duduk manis aja," ucap Reina ketika Revita menolak untuk ikut. "Jangan lupakan aku," seru Indila sambil mengacungkan keranjang makanan. "Ah iya, sama Tante Indi.""Ikut aja, Re. Kalau pun ntar di sana kamu tidur nggak apa-apa kok," imbuh Gavin, tangannya sibuk mengepak berbagai macam makanan. Kalau sudah begitu Revita bisa apa? Lalu ketika mereka bersiap pergi Mahesa muncul. Kening pria itu berkerut
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

127. Pikiran Buruk

Revita bergegas mengayunkan langkah menuju kosan ketika melihat mobil milik Gavin terparkir di tanah lapang. Dia yang baru pulang dari pabrik mengernyit bingung. Jika weekend dia akan maklum dengan keberadaan lelaki itu di sini. Masalahnya sekarang hari kerja, dan masih pukul empat sore. Kenapa pria itu ada di sini? Mendekati kamar kosan, Revita melihat sepatu pria itu yang tergeletak rapi di dekat pintu. Tanpa alasan yang jelas hatinya berdesir, bahkan Revita merasa tubuhnya merinding. Dia kembali melangkah mendekat hingga suara tawa Reina dan Gavin masuk ke pendengarannya. Dia sengaja tidak langsung masuk dan hanya berdiri di teras kosan. "Kapan, Pa?" "Sabtu ini. Ada yang harus papa selesaikan." "Lama enggak?" "Uhm, papa nggak tau. Mudah-mudahan kerjaan di sana cepat beres jadi papa bisa segera pulang." Dari percakapan itu Revita bisa menyimpulkan jika Gavin akan pergi. Tapi ke mana? "Boston itu jauh, Pa?" Boston. Pria itu akan pergi ke Boston. Negara yang sama saat dulu Gav
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

128. Beacon Hill

Usaha yang tidak mudah bagi Gavin untuk melobi para pemegang saham yang sebagian besar sudah tidak tinggal lagi di dalam negeri. Dan ketika dia berhasil menemui mereka pun tidak segampang itu memersuasi mereka agar mau suka rela memberikan sahamnya. Meski dia menjanjikan waktu berjangka dan kemajuan perusahaan, ternyata itu juga belum cukup meyakinkan mereka. Alhasil Gavin harus rela menghabiskan waktu sedikit lebih lama dari yang dia prediksi. Bahkan ketika Mannaf ikut turun tangan tidak membuat masalah itu cepat selesai. "Setidaknya kamu sudah menggenggam separuhnya. Sementara ibu kamu hanya punya 25 persen. Papa rasa itu sudah lebih dari cukup untuk menurunkan ego dia," ucap Mannaf ketika putra sulungnya itu mengunjungi rumahnya yang ada di Beacon Hill, Boston. Gavin mengangguk. Papanya benar, tinggal usaha untuk membuat perusahaan lebih maju dari sebelumnya. Beberapa pabrik baru sudah mulai beroperasi dan kantor distribusi juga sudah diperluas. Meski tidak memakan biaya yang se
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

129. Keputusan Final

Bukan kencan atau apa pun. Revita hanya ingin mempertegas semuanya. Jadi, saat Mahesa bilang ingin mengajaknya makan malam secara khusus, dia mengiyakan. Sejujurnya beberapa hari ini Revita sudah tidak nyaman juga merasa tidak enak dengan kemunculan pria itu tiap kali dirinya pulang kerja. Mahesa bukan pengangguran. Pria itu mengaku pulang dari kantor langsung bertolak ke tempat Revita yang letaknya jauh di luar kota. Bertemu hanya sebentar, lalu keesokan paginya sudah kembali ke Jakarta. Empat kali dalam satu Minggu! Itu berlebihan menurut Revita. "Ada tol. Kamu nggak perlu cemas," ujar pria itu membela diri saat Revita komplain soal intensitas kedatangannya."Tapi itu cuma bikin kamu capek, Mas.""Apa aku terlihat seperti orang capek?"Perjuangan pria itu tidak bisa Revita anggap remeh. Kadang tanpa sadar dia jatuh iba dan otaknya berpikir untuk mempertimbangkan pria itu. Namun hatinya jelas menolak, karena pria itu bukanlah orang yang Revita harap menjadi rumahnya. Hingga sampai
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

130. Satu Darah

Kaki Revita seperti sudah tidak menapak bumi lagi ketika tenaga medis menjelaskan tentang kondisi putrinya. Rasa panik dan khawatir berlebih menggumpal di kepala saat mereka bilang harus segera melakukan cito atau operasi gawat darurat. Penjelasan mereka terlalu kabur untuk Revita. Bahkan wanita itu tidak bisa bereaksi apa pun. "Pasien juga perlu melakukan transfusi darah segera, Pak."Revita menatap Gavin dengan segera. Dia sadar golongan darahnya dengan Reina berbeda. Itu artinya Gavinlah--"Golongan darah saya O, Dok. Anda bisa mengambil darah saya sebanyak yang anak saya butuhkan." Lagi-lagi Revita tidak bereaksi. "Baik, silakan Bapak ikut perawat untuk diperiksa lebih dulu." Gavin menghadap Revita begitu dokter kembali memasuki ruang tindakan. Dia sama khawatirnya seperti Revita. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit wanita itu terus berlinang air mata. Dan sekarang wajahnya tampak begitu pucat. "Nana akan baik-baik saja," ucap Gavin menenangkan. "Kita percayakan pada medis, d
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more
PREV
1
...
101112131415
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status