Semua Bab Terjebak Bersama Dua Mantan: Bab 111 - Bab 120

149 Bab

111. Tidak Aktif

Dahi Gavin mengernyit saat kembali melihat pesannya semalam masih saja belum terkirim. Sekarang sudah pukul setengah delapan. Dirinya bahkan sudah sampai di pelataran kantor urusan agama. Dan seorang supir yang dia tugaskan menjemput Revita juga sudah berangkat. Menutup pintu mobil, dia pun bergerak keluar sambil mencoba menghubungi Revita. Nomor ponselnya tidak aktif. Dua kali sampai tiga kali dia mencoba, tetap saja operator yang menjawab panggilannya. Gavin mencoba tetap tenang dan berpikir positif. Toh sebentar lagi dia yakin supir akan membawa calon pengantinnya. Dia masih terus berusaha menghubungii Revita saat Selena datang. Di belakang mobil adiknya itu, menyusul mobil yang Gavin tahu milik Ferdy. Seperti yang Gavin minta, Selena membawa jas baru miliknya. "Wah, calon pengantin ganteng banget. Pake jas ini pasti tambah ganteng," seru Selena. Suami Selena pun ikut datang lantaran Gavin memintanya untuk menjadi saksi sama seperti Ferdy. "Revita belum datang?" tanya Adriana,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

112. What are you worried about?

ENAM BULAN KEMUDIAN=====================Jari-jari itu mengetuk meja beberapa kali. Tatapnya masih lurus menyaksikan layar monitor di ujung ruangan. Sementara telinganya mendengar seksama paparan presensi bagian marketing di depan monitor tersebut. Semangat si presensi tidak membuat pria berjas yang duduk di ujung meja itu terlihat antusias. Wajahnya masih sedatar biasanya. Mulutnya merapat. Hingga pada point yang membuatnya terlihat kurang puas, dia lantas bersuara. "Bagaimana evaluasi produk yang gagal kemarin?" Si presensi terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. "Masih tahap penelitian, Pak. Progresnya akan kami serahkan langsung ke Bapak.""Sudah dari dua bulan lalu. Seharusnya saya menerima laporan final kurang dari satu bulan. Kerja kalian sangat lambat."Profit perusahaan yang naik secara signifikan ternyata tak mampu membuat sang pemimpin menyunggingkan senyum, meski segaris. Ah, apa sih yang bisa membuat dia senang? "Kita tutup meeting kali ini. Besok lanjutkan l
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

113. Indila

Gavin benar-benar kehilangan kata-kata dengan tingkah adiknya. Ucapan wanita itu yang katanya cuma ingin memperlihatkan wanita bernama Indila itu omong kosong. Nyatanya, dengan seenaknya Selena menyeret Gavin menuju kantin. Dan dengan seenak jidat sendiri langsung mengambil posisi di meja yang sama dengan Indila. Terang saja kedatangan mereka yang tiba-tiba itu membuat Indila dan rekannya kaget. Mereka tidak bisa menolak ketika Selena meminta izin duduk di meja yang sama. "Mbak Selena kok bisa ikut makan di kantin?" tanya Indila heran, tatapnya melirik sekilas pria di sebelah Selena yang memasang wajah datar. Dia tahu pria itu. "Memang saya nggak boleh makan di kantin ini ya?" tanya Selena balik dengan mata menyipit serta bibir meringis. Di depannya Indila kontan menggeleng. "Bukan begitu, Mbak. Ini baru pertama kali saya lihat Mbak Selena makan di kantin pabrik. Iya, kan, Mbar?" Indila bahkan memastikan itu pada teman yang duduk di sebelahnya. Dan temannya itu langsung mengangguk
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

114. Menumpahkan Rindu

Dengan langkah perlahan, dia mendekati anak itu. Sudah enam bulan berlalu, dalam jarak dekat begini Gavin bisa melihat Reina jauh lebih besar dari yang terakhir dia lihat. Demi apa pun rindu yang dia pendam selama ini kembali menyeruak, menggetarkan sekujur tubuhnya secara tiba-tiba. Ini seperti sebuah keajaiban di tengah rasa putus asa dan pasrah karena pencariannya selama setengah tahun ini tidak membuahkan hasil. Rasanya masih tidak percaya dia bisa melihat anak itu lagi. Langkah Gavin masih terayun pelan. Matanya tak lepas memandangi anak tujuh--ah tidak, Reina sekarang sudah berusia delapan tahun. Mata Gavin memanas dan agak perih, sementara bibirnya mengatup rapat-rapat menahan getar saat dirinya tepat berada di depan anak itu. "Nggak ada stok. Semuanya pesanan teman-teman sekolah. Kan aku udah bilang kalau mau beli, pesen dulu," ujar Reina tanpa menoleh sedikit pun. Dia masih begitu sibuk dengan kegiatannya. Anak itu tidak sadar dengan kedatangan Gavin. Sedangkan Gavin mera
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

115. Tersenyum Lagi

Seperti telah mendapatkan angin segar, rasanya jiwanya yang mati suri mendadak bangkit kembali. Hari-hari yang Gavin lalui menjadi lebih bersemangat. Dia kembali bisa melempar senyum saat ada bawahan yang menyapanya. Semua ini karena Reina, putrinya. Pertemuan yang tidak terduga itu seperti memberinya harapan lagi. "Masku sayang..." Sapaan itu membuat bola mata Gavin bergulir dari layar laptop menuju pintu ruangannya. Selena. Wanita itu pasti penasaran dengan cerita momen saat dirinya mengantar Indila pulang. Dengan senyum lebar, Selena mendekati meja kerja Gavin. "kamu belum cerita pas waktu antar pulang Indila."Di tempatnya Gavin berdecak. "Akan kupastikan itu pertama dan terakhir kalinya aku mengantar dia pulang. Tempat kosnya jauh banget, Sel. Kalau nggak ingat wibawa mungkin aku sudah ngomel-ngomel."Seketika tawa Selena pecah. Dasar nggak sopan! "Emang beneran jauh banget ya, Mas?" "Nggak tau kenapa Indila memilih tempat itu. Kurasa dia berangkat dari rumah subuh kalau tem
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

116. Tega

Derai tawa terdengar renyah ketika kaki Gavin melangkah hendak menuju belakang rumah. Asisten rumah tangga keluarganya mengatakan bahwa Melinda sedang menerima tamu di taman belakang. Langkahnya mendadak berhenti ketika mendengar suara familiar yang berhaha-hihi dengan sang ibu. "Kamu memang hebat, Talia."Ah, ya! Ternyata Talia yang bersama Melinda. Sudah lama sekali Gavin tidak bertemu wanita itu. Gavin tidak ingin terlibat obrolan dengan mereka atau sang ibu akan berusaha menjodohkan mereka lagi. Dia pun memutuskan putar arah hendak menjauhi taman belakang. Namun saat hendak melangkah ucapan Melinda yang tidak sengaja terdengar menahan ayunan kakinya. "Revita, wanita jalang itu hanya akan menjadi kotoran di keluarga kami jika tetap bersama Gavin." Kalimat sang ibu total menghentikan langkah Gavin. Secara perlahan, Gavin membalikkan badan. Dari posisinya dia sedikit merapatkan diri untuk mendengarkan pembicaraan mereka lebih dalam. "Kalau bukan karena akal cerdik kamu, dia pa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

117. Aku Papa Kamu

"Aku nggak nyangka mama bisa melakukan hal sejahat itu. Bahkan pernikahan anaknya sendiri dia sabotase." Selena masih saja mengomel tentang perbuatan Melinda. Dia yang selama ini masih bisa memaklumi sikap menyebalkan sang ibu ikut-ikutan jengkel dengan tingkah wanita paruh baya itu. Dia melirik Gavin yang masih saja terpekur di atas kursi. Mendadak rasa iba hinggap pada kakak pertamanya itu. "Mas, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya wanita itu hati-hati. Menghela napas, Gavin mengangkat wajah. "Seperti sebelumnya. Membujuk Revita dan minta maaf padanya lagi." Kembali dia membuang napas. Sebenarnya dia tidak yakin. Terlalu banyak rasa kecewa yang dia taburkan pada wanita itu. Meski tidak secara langsung, tapi segala penderitaan yang wanita itu lalui, dialah yang menjadi penyebabnya. Karena mencintai seorang Gavin, Revita menanggung banyak penderitaan. Tidak cukup hanya Revita, Reina pun ikut terkena imbasnya. Selena menunduk. Dia menyesal lantaran sempat menyalahkan R
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

118. Papa!

Kesal, kecewa, dan bahagia seolah jadi satu melingkupi hati gadis delapan tahun itu. Kesal karena merasa dibohongi selama ini, kecewa karena merasa ayahnya yang ternyata masih hidup membiarkan dirinya menderita, dan bahagia lantaran tahu fakta bahwa sebenarnya dia masih memiliki ayah. Namun rasa kesal dan kecewa itu terkalahkan dengan rasa bahagia. Tidak Reina pungkiri, hati kecilnya sangat merindukan sosok seorang ayah. Apalagi ternyata ayahnya adalah pria baik yang selama ini dia harapkan menjadi suami ibunya. Reina masih sesenggukan di pelukan Gavin. Dua lengannya memeluk erat leher pria itu. Duduk di pangkuan ayah biologisnya itu. Namun saat ini keduanya sudah berada di dalam ruang petak kosan alih-alih di luar seperti tadi. "Kenapa mama merahasiakan ini?" tanya gadis itu dengan napas tersengal. "Apa kalian nggak pernah memikirkan perasaanku? Kenapa kalian sejahat ini?" Tangan besar Gavin masih mengusap lembut kepala dan punggung putrinya. Berusaha menenangkan anak yang masih
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

119. Apa kabar?

"Sahamku di perusahan nggak seberapa, Mas." "Itu lebih baik daripada nggak ada sama sekali." "Tapi aku ikut rencana kamu aja. Aku juga masih sakit hati sama mama." "Aku tahu. Gimana kabar anak-anak kamu?" Gavin menemui Mike di bengkel tempat pria itu bekerja. Ya, dari dulu Mike suka dengan otomotif dan bercita-cita punya bengkel sendiri. Tapi jelas bertentangan dengan keinginan Melinda. Sejak dulu memang Mike yang paling sering memberontak di antara tiga bersaudara itu. Dan bengkel mobil ini menjadi bukti bahwa Mike serius menekuni bidang yang dia sukai, yang mana Gavin ikut menjadi investornya. "Mereka baik. Kamu udah lama nggak ke rumah. Mereka kadang nanyain kamu." Terakhir tiga bulan lalu Gavin datang ke rumah Mike. Saat pernikahannya gagal bahkan Mike datang ke apartemennya. "Nanti aku mampir. Progress bengkel gimana?" tanya Gavin lagi seraya mengedarkan pandang mengelilingi area bengkel yang menurutnya makin lengkap itu. Beberapa mobil tampak sedang ditanga
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

120. Nongkrong

Revita yang tengah menekuri ponsel guna memesan ojek online tersentak saat pinggangnya merasakan cubitan kecil. Dia refleks menoleh, dan mendapati rekan kerjanya sudah berdiri di sebelahnya sambil nyengir. "Si Om Ganteng kumis tipis nggak jemput nih? Ini kan malam Sabtu," goda Evi. Yang wanita itu maksud adalah Mahesa. Meski Revita larang, pria itu kadang menjemputnya di mini market saat weekend. Revita memutar bola mata. "Jangan mulai deh, Vi. Dia cuma teman."Evi menelengkan kepala dengan kerling mata jahil. "Pria matang dan cuma teman. Ayolah, pria seperti dia terlalu sayang kalau cuma dianggap teman. Tapi kalau lo nggak mau, gimana kalau si Om itu buat gue aja.""Gue sih terserah aja. Asal dia mau sama lo." Wanita berkucir kuda di samping Revita berdecak sambil menggoyangkan kepala. "Bener nih ya. Jangan nyesel loh kalau dia gue gebet."Revita hanya menggeleng sambil mengulum senyum. Dia kembali memperhatikan layar ponsel. Aplikasi masih belum menemukan driver. "Hmm, pantas s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
101112131415
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status