Home / Romansa / Terjebak Bersama Dua Mantan / Chapter 131 - Chapter 140

All Chapters of Terjebak Bersama Dua Mantan: Chapter 131 - Chapter 140

149 Chapters

131. Janji

"Sakit, Na?" Lega luar biasa baru saja Revita dapat saat Reina akhirnya sadar dan dokter sudah memeriksa keadaan anak itu. Gadis kecil itu hanya mengangguk saat ditanya. "Kamu mau sesuatu? Biar Mama ambilkan," tanya Revita lagi. Dan lagi-lagi juga Reina menggeleng. Di saat yang bersamaan, Gavin keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat begitu segar dan tampan. Dia langsung menyedot perhatian Reina. "Pa, minum," ucap anak itu. Yang membuat Revita di sisi ranjang kontan menaikkan kedua alis. Anak itu mengabaikan tawarannya, tapi begitu Gavin datang minta minum. Revita memejamkan mata lalu berusaha tersenyum, meski hatinya merasa sudah diduakan sang putri. "Ooh, Tuan Putri mau minum. Bentar ya, papa ambilin," sahut Gavin, mengerlingkan sebelah mata dengan genit. Revita sedikit menyingkir untuk memberikan Gavin akses mendekati Reina. Dia bergeser ke ujung tempat tidur memberi ruang pada Gavin duduk di kursinya. Tatapannya terus memperhatikan bagaimana cara Gavin memanjakan Reina.
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

132. Blushing

Kembali Revita terpedaya dan seperti hilang kewarasan. Bahkan dirinya tidak bisa menjelaskan bagaimana semua bisa terjadi. Dia hanya menuruti gerak tubuh yang tidak sinkron dengan isi kepalanya. Pengendalian dirinya sangat payah jika berdekatan dengan Gavin. Haruskah dia menyalahkan Gavin? Seperti sebelumnya, dia mungkin harus tetap menjaga jarak. Gara-gara ini Indila terjebak lama di rumah sakit. Revita merasa tak enak hati membiarkan wanita itu menunggu lama. Saat dirinya datang, wanita itu bahkan sudah jatuh tertidur. Gavin sendiri langsung kembali ke Jakarta setelah mengantarnya ke rumah sakit karena ada hal yang harus lelaki itu urus terkait pekerjaan yang sudah dia tinggal selama beberapa hari ini. "Lo udah datang?" Revita meringis saat Indila terjaga. "Maaf ya udah bikin lo nunggu lama." Bangkit duduk, Indila menguap lalu mengucek matanya. "Sendiri aja? Nggak sama Pak Gavin?" "Dia pulang ke Jakarta ada hal yang harus dia urus." Indila mengangguk-angguk lalu melangkah gont
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

133. Jangan Mau!

Mata Reina melirik pintu yang terbuka dari luar. Dia menemukan seutas senyum seseorang yang tidak pernah muncul lagi selama dirinya dirawat. Mahesa. Pria itu datang membawa boneka dan buket berisi cokelat. "Selamat siang, Cantik," sapa Mahesa sembari masuk. Namun reaksi Reina melihat pria itu tampak kurang senang. Dia ingat bagaimana kesalnya pada lelaki itu sesaat sebelum terjadinya kecelakaan. Secara tak langsung pria itu yang membuatnya begini."Gimana keadaanmu, Sayang?" tanya Mahesa ramah, meski disuguhi muka berlipat anak itu. "Baik. Ngapain Om Hesa ke sini?" sahut Reina tidak peduli. Dia kembali sibuk menggambar di tablet yang baru dia dapatkan kemarin. "Jenguk kamu, of course. And they're for you." Bahkan ketika Mahesa memamerkan bawaannya, Reina hanya meliriknya sekilas. "Thank you," sahutnya lirih. "Taroh aja di situ, Om." Mahesa mengangguk-angguk. Senyum di bibirnya tak selebar awal tadi. Dia lantas menuruti permintaan Reina untuk meletakkan hadiahnya di atas nakas.
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

134. Fitting

"Ya Tuhan, yang mau nikah siapa yang repot siapa." Sebuah keluhan meluncur dari seorang wanita yang selalu tampil cantik di kantor pusat Bumi Indah. Dia sekretaris Gavin yang sejak satu minggu lalu ditugaskan untuk mengurus segala tetek bengek pernikahan bosnya. Orens jus dingin mendekat ke arahnya karena dorongan tangan seorang lelaki yang sejak tadi mendengar curhatannya. "Minum dulu. Biar kepala lo lebih fresh." "Thanks ya, Dan." Dengan segera Vania menyeruput es dingin itu. "Emang siapa sih yang mau nikah. Kok lo yang sibuk?" Pria di depan Vania yang tak lain dan tak bukan adalah Dany eks rekan kerja Revita, bertanya. Ya setelah sekian lama, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk pedekate dengan sekretaris Gavin tersebut. "Bos guelah! Siapa lagi yang hobinya nyusahin orang selain dia.""Bos lo? Pak Gavin? Pak Gavin mau nikah sama siapa?" "Temen lo-lah. Siapa lagi? Dia kan cinta mati sama temen lo." Otak Dany otomatis nyambung ke Revita. Tapi bukankah mereka sudah lama pisah
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

135. Kunjungan Mama

Keduanya saling mendesahkan nama satu sama lain. Sesekali mengerang ketika rasa nikmat itu menyerang. Peluh yang menetes seakan menjadi bukti panasnya permainan mereka saat ini. Kata-kata cinta terus berhamburan dari bibir Gavin tiap tatapannya beradu dengan tatapan Revita. Bergulung bersama hasrat, keduanya saling memberi dan menerima. Namun sedang nikmat-nikmatnya mereguk kasih, suara bel pintu terdengar. Bel yang tentu menghentikan kegiatan mereka selama beberapa saat. Gavin dan Revita saling tatap. "Siapa, Mas?" tanya Revita sedikit melebarkan mata. Ekpresi nikmatnya beberapa saat lalu berganti dengan ekspresi terkejut. "Nggak tau, mungkin maintenance," sahut Gavin mengedikkan bahu, lalu kembali menggerakkan pinggul. Namun di bawahnya, Revita tampak tak berhasrat lagi. Terlebih ketika bunyi bel kedua terdengar. Dia langsung memukul pelan bahu Gavin yang cuek dan malah terus mengerang sambil memejamkan mata menikmati kegiatannya. "Mas, itu lihat dulu. Kayaknya bukan maintenanc
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

136. Hot (warning area)

*WARNING*BACA KALAU UDAH BUKA PUASA, GAES. ======================Tak pernah terpikirkan bahwa dia akan mengancam ibunya sendiri. Gavin menarik napas panjang, begitu Melinda hilang dari pandangan. Tapi dia benar-benar lelah dengan semua yang sudah ibunya lakukan. Jangan salahkan dirinya kalau saat ini berbuat sedikit lebih kejam. Seandainya saja sang mama mau berkompromi, tentu wanita itu akan tetap menjadi satu-satunya orang yang dia hormati sekaligus sayangi. Perlahan tangan Gavin mendorong pintu kamar. Di saat bersamaan, Revita yang duduk dengan menekuk kaki di atas tempat tidur mendongak. Keadaan wanita itu masih kacau. Hanya saja saat ini dia sudah mengenakan kaus lagi. Tepatnya kaus milik Gavin. Revita melempar senyum kecil saat Gavin terlebih dulu memberinya senyum. "Mama kamu sudah pulang?" tanya Revita saat Gavin melangkah mendekat. Pria itu mengangguk lantas beranjak duduk di depan Revita. "Udah.""Dia tahu aku di sini?"Kepala Gavin menggeleng. Melihat wajah Revita yan
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

137. You Deserve It

"Pulau ini sudah aku booking buat hari ini dan besok." Revita sama sekali tidak diizinkan untuk mengurus soal pernikahan. Entah bagaimana caranya Gavin bisa mempersiapkan semua ini hanya dalam waktu sesingkat itu. Dua Minggu sesuai janjinya. Pria itu bahkan mengaku semua akomodasi sudah siap untuk yang akan datang hari ini dan besok. Karena undangannya bersifat terbatas, jadi tamu harus bisa memilih kapan dia datang. Gavin dan Revita sendiri sudah sampai di pulau sejak kemarin sore. Untuk meninjau semua persiapan. Reina akan menyusul hari ini bersama Indila dan keluarga adik-adik Gavin. "Aku beneran nggak nyangka kamu bisa secepat ini mempersiapkan semua." Rambut Revita yang menjuntai berkibar-kibar tertiup angin pagi laut. Saat ini keduanya sedang menikmati sarapan pagi di balkon vila yang tepat menghadap pantai. "Satu hal lagi yang bikin aku terkejut." "Apa?" Selama beberapa saat keduanya berpandangan. Revita yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sejak sore tersenyum le
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

138. My Wedding Day

Gaun rancangan Hendrik Gunawan membelit indah tubuh ramping Revita pagi ini. Tidak seperti pengantin pada umumnya yang mengenakan kebaya dan sanggul sebagai riasan rambut, Revita hanya mengenakan gaun simpel tapi terlihat sangat elegan dan berkelas. Revita bahkan tidak memanggil MUA terkenal untuk merias wajahnya. Selena dan Adriana-lah yang didapuk menjadi penata riasnya. Adriana menghandle urusan rambut, sementara Selena menangani urusan makeup. "Makeup sederhana saja udah bikin kamu secantik ini, Re," puji Selena sembari memulas pewarna bibir. "Orang kalau udah cantik dari sononya emang gini. Awesome stunning," sambut Adriana. Revita terkekeh pelan. Kedua wanita itu terlalu memuji secara berlebihan. Padahal mereka-lah yang memiliki kecantikan luar biasa. "Liat deh, rambut aja samapai berkilau gini. Kamu perawatan di mana sih?" tanya Adriana yang sudah mulai memegang rambut Revita untuk dia tata. "Aku nggak perawatan. Buang-buang duit aja. Sampo sama conditioner di rumah juga c
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

139. Resmi

Mungkin nggak ada yang selega dari ucapan kata 'sah' bagi Gavin. Kalau tidak ingat bahwa di sini banyak orang, ingin rasanya dia melompat saking girangnya. Karena saat ini dirinya sudah resmi menjadi suami Revita, dan wanita itu pun resmi jadi istrinya. Untuk segala cobaan yang sudah dia lalui, bukan hal berlebihan kalau semua patut dirayakan kan? "Cheers!" Gelas bertangkai panjang diangkat tinggi-tinggi, sebagai wujud selamat bahagia atas pernikahan mereka. "Jadi, kalian berencana bulan madu ke mana?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Indila yang sejak tadi mencari keberadaan seseorang. "Sebenarnya aku ingin mengajak ke Amrik, tapi ternyata dia nggak mau," sahut Gavin sambil melirik sang istri yang berdiri di sebelahnya. Yang dilirik terkekeh, dan mengusap lembut dagu pria itu. "Itu kejauhan, Mas." "Ayolah, Re. Jangan bilang lo mau bulan madu ke Bali?" tebak Indila sebelum menyesap minumannya. "Bali. Why not? Itu tempat sempurna juga buat honeymoon kan?" "Benar." Adriana meny
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

140. Pasangan Baru

"Yang katanya nggak mau datang ke pernikahan kita." Gavin mengedikkan dagu ke seseorang yang baru saja muncul. Dari kejauhan dia menyeringai kecil, mengejek kedatangan rivalnya. Siapa lagi kalau bukan Mahesa. Pria itu tidak datang sendirian. Dia menggandeng anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun. "Mas Hesa sama putranya?" tanya Revita memastikan. "Ya. Apa kamu pernah bertemu anaknya?" Revita mengangguk pelan, mencoba mengingat kejadian itu. "Tapi saat itu anak laki-lakinya baru berusia sekitar dua tahunan," ucapnya seraya tersenyum miris. Saat itu istri Mahesa-lah yang membuat Revita bisa bertemu anak itu. "Ah, bukannya si brengsek itu mengaku ke kamu masih single?" "Benar. Bukan Mas Hesa kok yang bawa anak itu. Kamu pasti nggak akan percaya. Waktu itu istri Mas Hesa menemuiku bersama putra-putrinya."Itu hal yang baru Gavin dengar. Jadi dia agak terperangah. "Kamu dilabrak Tante Tari."Revita tersenyum terkecut. "Jaman sekarang mungkin bisa dibilang begitu. Tapi nggak seper
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more
PREV
1
...
101112131415
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status