Home / Romansa / Terjebak Bersama Dua Mantan / 99. It's not just a dream

Share

99. It's not just a dream

last update Last Updated: 2025-02-19 17:56:15

"Gavin benar-benar menantangku. Sekarang dia terang-terangan membawa perempuan miskin itu ke depan kita. Di depan keluarga besar kita."

Wajah ayu Melinda tampak mengeras saat melihat putranya berdampingan dengan Revita. Di sisinya Mannaf mendesah.

"Jangan kamu hancurkan acara kita. Jaga sikap kamu," ucap pria tua itu yang juga menatap lurus keberadaan sang putra.

"Seharusnya dia sadar kalau ini bukan tempatnya. Aku nggak percaya putramu berani membawanya ke sini. Pantas saja dia menolak menginap di vila ini." Suara Melinda makin terdengar geram. Dia bahkan tidak repot menunjukkan muka masamnya. "Aku sudah memilihkan wanita baik-baik seperti Talia, malah lebih memilih wanita yang asal usulnya nggak jelas itu."

"Wanita itu cantik. Nggak heran kalau Gavin tergila-gila sama dia."

"Cantik apanya? Jelas-jelas Talia masih lebih cantik. Aku yakin Gavin sudah terkena jampi-jampi perempuan itu." Melinda membuang napas dari hidung dengan kasar. Lalu mendengus kesal. Tatapnya lantas menemukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Anies
tenang Re.. Gavin pasti nggak bakalan tinggal diam kalo terjadi apa² sama kamu dan Reina. semua pasti akan baik² saja... makasih ya thor lanjutkan
goodnovel comment avatar
Teteng Yeni
sabar sabar....lawannya orang tua.....
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   100. Omongan Orang

    Tawa renyah itu masuk ke telinga Revita tanpa sengaja saat wanita itu baru saja kembali dari toilet. Segerombolan sepupu Gavin. Revita yang akan melanjutkan langkah untuk kembali ke tempat acara urung saat dia mendengar namanya dan nama Gavin disebut. Seharusnya dia bersikap masa bodo, tapi yang dia lakukan malah berhenti. Bersembunyi untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. "... Hebat ya dia!" Potongan kalimat itu baru saja Revita dengar, saat dia menempelkan punggung di dinding. Mereka tidak akan tahu keberadaannya di sini. "Hebat? Yang bena saja! Itu trik murahan yang sering orang sebangsanya lakukan. Menjebak laki-laki kaya supaya mau menikahinya. Hellow! Dia anak pembantu btw. Anak pembantu macam apa yang berani deketin anak majikan, kalau bukan tipe pelacur dan pelakor?" Revita sontak memegangi dadanya yang terasa berdenyut. Dia tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Dirinya tentu saja. Suara tawa kembali terdengar. "Dan begonya, Gavin mau-mau aja tanggung jawab.""Hei,

    Last Updated : 2025-02-21
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   101. Jangan Terpengaruh

    Beberapa waktu tidak berjumpa membuat Revita lupa jika pria di depannya ini adalah bagian dari keluarga besar Adhiyaksa. Dia sama sekali tidak mengantipasi kehadiran pria ini sebelumnya. Sehingga kemunculan dia secara tiba-tiba ini membuatnya sangat terkejut. Mahesa. Dia ada di depan Revita sekarang. Menyeringai dengan wajah penuh rasa tak percaya melihat Revita ada di tempat ini. "Aku benar-benar nggak ngerti lagi dengan jalan pikiran kamu," ucap pria itu. Revita menelan ludah. Lalu memalingkan tatap dengan resah. Dia mengerti apa yang Mahesa maksud. "Sudah aku bilang kan ini akan sulit? Dan kamu malah memunculkan Nana di sini. Sekali lagi aku katakan, Re. Kamu nggak akan bisa bersama Gavin. Resikonya terlalu besar." Mahesa menatap sedih wanita di depannya. Lalu berjalan maju. "Dan lebih dari itu, apa kamu lupa dengan yang sudah dia lakukan? Dengan mudah kamu maafin dia?" tanya Mahesa tak percaya. Sedangkan padanya, wanita itu seolah sulit memaafkan. "Mas, tolong jangan ikut ca

    Last Updated : 2025-02-22
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   102. Tidak Ingin Menduakan

    "Nana!" Gavin tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba Revita mendorong dadanya, di tengah cumbuan mereka. Pria itu sempat syok selama beberapa saat. Lagi nikmat-nikmatnya, main potong aja. "Nana aman, Re. Dia sama Selena dan Adriana." Revita mengerjap. Dia makin mendorong Gavin menjauh, hingga penyatuan mereka terlepas. Tangannya menyambar selimut dengan segera. "Kita harus jemput Nana, Mas." Kali ini Gavin yang mengerjap bingung. "Sekarang? Tapi Re, ini sudah malam. Dan aku yakin Nana pasti sudah tidur.""Dia pasti nyari kita."Membuang napas kasar, Gavin pun terpaksa turun dari ranjang. Dia bergerak meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di lantai bersama dengan celananya. "Biar aku telpon Selena," putusnya kemudian. Dia menunduk dan menatap miris miliknya yang masih menegang sempurna, sambil menunggu panggilannya diangkat. Tidak berapa lama, suara Selana terdengar. "Ada apa, Mas?" tanya Selena di sana terdengar khawatir. "Nggak ada. Aku cuma mau mastiin keadaan Nana, u

    Last Updated : 2025-02-24
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   103. Seandainya

    Revita tahu sejak malam di Bali itu, semuanya tidak baik-baik saja. Dia merasa ada yang Gavin sembunyikan. Sikap pria itu memang masih baik seperti biasa, tapi ada sesuatu yang bisa Revita rasakan perbedaannya. Terakhir berkas-berkas yang pria itu minta untuk mendaftar pernikahan hanya bisa Revita titipkan kepada Vania. Sekretaris itu bilang, Gavin sedang melakukan perjalanan bisnis dadakan ke Thailand dan Vietnam. "Revita..."Sebuah suara membuat langkah Revita berhenti dan menoleh. Dari tempatnya dia bisa melihat Selena berjalan ke arahnya. "Masih istirahat ya?" tanya wanita itu begitu tepat berdiri di depannya. "Iya. Kamu mau ketemu Gavin ya?" tanya Revita. Ya apalagi urusan Selena jika sudah mampir ke kantor pusat selain bertemu dengan kakaknya? "Nggak. Kan Mas Gavin lagi ke Thailand." Wajah cantik di depan Revita tersenyum. "Re, mau nggak kita ngopi sebentar? Mumpung masih ada jam istirahat."Mengingat masih ada waktu sekitar setengah jam lagi, Revita mengamini ajakan Selena.

    Last Updated : 2025-02-25
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   104. Surat Undangan Vs Surat Pengunduran Diri

    "Anjir! Ini Seriusan?!" Mengabaikan kehebohan para stafnya, Ferdy hanya nyengir kecil. Dia membenarkan kacamata dan berkata, "jangan lupa pada datang. Biar bisa jadi saksi." Dany dan Rafa saling pandang, dan detik berikutnya keduanya menangis bombay dengan sangat lebay. Sangat berisik, sampai Arum menbenturkan kepala keduanya dengan sebal. "Kita keduluan Pak Ferdy! Hwaaaa!" seru Dany. "Si jomblo akut akhirnya laku!" timpal Rafa. Yang langsung mendapat pelototan dari sang manajer. Tapi Rafa seolah tak peduli. Dia malah berpelukan dengan Dany. "Biasa aja dong kalian!" seru Arum sebal. Meskipun dia juga sebenarnya kaget karena sang manajer tiba-tiba melempar undangan pernikahan. "Pak Ferdy nggak ngehamilin anak orang kan?" tanya Dona dengan wajah polos. Membuat Ferdy langsung mengelus dada. "Astaghfirullah! Ya nggak lah, Don!" Ilham di samping Dona sampai mendelik pada wanita itu. "Mulut kamu loh, Yang!" "Sori, Pak." Dona meringis. "Abis ini kayak suprise dadakan banget," ujarny

    Last Updated : 2025-02-26
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   105. Mas Kawin

    Hari ini Revita memberanikan diri datang ke pernikahan Ferdy dan Adriana bersama Gavin. Tidak peduli dengan pandangan tamu--orang kantor--nanti. Hal yang paling dia hindari adalah menampakkan diri bersama Gavin di tempat umum, tapi untuk hari ini dia membiarkan semua terjadi apa adanya. Tidak dengan setelan jas seperti biasanya, hari ini Gavin mengenakan kemeja batik lengan panjang disambung celana kain hitam. Belum pernah sekali pun Revita melihat Gavin dalam tampilan seperti sekarang, membuat wanita itu agak terkesima. Kemeja itu melekat dengan sempurna di tubuh atletis yang pacar. "Kenapa?" tanya Gavin heran, melihat Revita malah terpaku. Revita terkesiap, dan menggeleng. "Kamu pakai batik?" tanyanya spontan. Pertanyaan yang membuat Gavin lantas memperhatikan penampilan diri sendiri. "Iya. Ada yang aneh ya?" Wanita di depannya menggeleng seraya mengulum senyum. Langkahnya maju dan mengusap bahu lebar Gavin. "Nggak, kamu ganteng kok."Ucapan Revita tak pelak membuat Gavin sala

    Last Updated : 2025-02-27
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   106. Pai Apel

    Begitu memasuki apartemen, Gavin mengendus wangi yang luar biasa sedap. Aroma manis dan gurih seolah bercampur jadi satu memenuhi setiap penjuru ruang unit. Dia tahu ada sesuatu spesial yang sedang Revita bikin di dapurnya. Dapur yang nyaris tidak pernah menyala selama dirinya tinggal di unit ini. "Sumpah wangi banget sih, Yang? Kamu bikin apa?" tanya Gavin dengan wajah sumringah dan langsung bergerak menuju dapur. Jas dan tas kerjanya dia letakkan begitu saja di atas sofa. Revita dengan apron yang melekat di depan tubuhnya nyengir melihat Gavin mendekat. Dia baru saja mengeluarkan loyang berisi kue pai dari dalam oven. "Apple pie. Udah lama banget aku nggak baking nih. Jadi, nggak tau deh rasanya kayak gimana." Di sebuah wadah piring besar, Revita meletakkan kuenya tersebut. Memotong dengan pisau, dan menyajikan satu slice ke piring kecil untuk Gavin cicipi. "Coba deh, mumpung masih anget," ujarnya tersenyum seraya mendorong piring kecil itu ke dekat Gavin yang sudah nongkrong di

    Last Updated : 2025-02-28
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   107. Resign

    "Aku nggak mau ke mana-mana," ucap Revita saat Gavin menanyakan tentang bulan madu mereka. "Kamu yakin? Memang kamu nggak mau liat keindahan Puncak Alpen dari dekat? Atau naik Gondola di Venesia?"Revita menggeleng sembari terkekeh. Bukan itu yang dia pikirkan. Bulan madu bukan prioritas. "Padahal aku udah bayangin bisa ke sana sama kamu." Gavin menyelipkan tangan, memeluk perut Revita. "Jadi, kamu mau apa hadiah pernikahan kita nanti?" "Aku nggak mau apa-apa." Revita menghela napas. Kembali mengingat ucapan Melinda. "Mas..." "Hm..." Gavin memejamkan mata, tangannya bergerak mengusap perut rata Revita dengan pelan. "Kamu yakin sama pernikahan kita?" "Kenapa aku musti nggak yakin?" "Nggak akan menyesal? Menikahiku akan membuat kamu dijauhi keluarga.""Aku nggak peduli." Kepala Gavin bergerak, menyuruk ke rambut tebal Revita. Namun dia kemudian tersadar sesuatu. "Kenapa kamu bertanya begitu? Something happens?" tanya Gavin mengangkat kepala. Tidak mungkin juga Revita memberi tah

    Last Updated : 2025-03-01

Latest chapter

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   149. Kejutan (2)

    Begitu membuka pintu kosan, Revita langsung melihat wajah putrinya yang tersenyum lebar. Anak itu segera menghambur ke pelukannya. Di belakang Reina, Gavin melambaikan tangan seraya tersenyum manis. "Mama udah siap?" tanya Reina, kepalanya meneleng untuk melihat barang-barang di belakang punggung ibunya. Hanya ada satu koper besar dan tas jinjing berukuran sedang. "Isi rumah nggak dibawa, Ma?" Revita terkekeh sembari menggeleng. "Barang-barang itu kan bukan milik kita, Na. Ada-ada aja kamu."Gavin sendiri langsung mengambil alih bawaan sang istri dan segera memasukkannya ke bagasi mobil. Akhirnya hari yang dia tunggu tiba. Revita dan Reina akan tinggal bersamanya menjadi satu keluarga utuh. "Itu apa?" tanya Gavin melihat kotak dengan ukuran lumayan besar yang dibungkus kado. Revita mengikuti arah pandang Gavin. "Itu dari teman-teman di pabrik. Belum aku buka sih." "Dibawa juga?" "Iya. Kado perpisahan." Selain koper milik dirinya, ada juga koper milik Reina di bagasi mobil Gavin

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   148. Kejutan (1)

    Mata Revita mengerjap. Mungkin yang Indila katakan benar, tapi wanita itu tidak boleh pesimis. Mahesa hanya belum melupakan Revita, tapi bukan berarti tidak bisa melupakan. Revita tersenyum menatap wanita manis di depannya. "Dengan lo terus di sampingnya, gue yakin dia bisa segera lupain gue. Apalagi lo deket sama Dony. Sekedar informasi, meski dia dulu deketin gue, dia nggak pernah loh ngenalin anaknya ke gue. Tapi ke lo? Nah itu tandanya dia serius sama lo." Wajah mendung Indila hilang seketika. Berganti dengan wajah penuh senyum. "Lo bisa aja, Re," katanya cengengesan. "Gue yakin sih bentar lagi lo bakal dilamar," goda Revita seraya menaik-turunkan alisnya. "Nggaklah. Gue bakal kasih waktu ke dia buat terima kenyataan bahwa lo itu milik keponakannya." Kedua wanita itu lantas tertawa. Lalu saling berpelukan. Tepat saat itu Revita seolah menyadari sesuatu. "Tunggu-tunggu." Revita melepas pelukannya dan mengangkat tangan sejenak. Dia merasa ada yang aneh di sini. "Jadi, lo mau p

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   147. Pagar Makan Tanaman

    Perombakan kesekretariatan ternyata lumayan mengundang perhatian. Bukan hanya itu, Gavin juga memecat beberapa sekretaris yang diduga berkomplot menjebak dirinya, termasuk Ferial. Tidak peduli dikatakan presdir kejam atau apa. Baginya perbuatan Ferial dan teman-temannya sudah melampaui batas. Kejadian mabuknya Ferial membuat Gavin tahu betapa busuknya perempuan itu. Paginya, begitu wanita itu sadar, Gavin memintanya untuk pulang ke Indonesia. Sempat ada drama dan permohonan maaf dari Ferial, tapi Gavin tak peduli dan tetap mengirim wanita itu kembali ke Jakarta. Alhasil seminar dua hari dan rapat terakhir dia lakukan sendiri tanpa dampingan sekretaris. "Jadi, apa yang bikin kamu memecat mereka?" tanya Mahesa saat pria itu berkunjung ke kantor Gavin. Kabar itu cukup bikin heboh. "Mereka kerjanya tidak becus," sahut Gavin sambil terus menandatangani dokumen di mejanya. Menarik kursi di depan meja, Mahesa pun duduk. "Apa yang mereka lakukan?" "Aku yakin Om sudah tau apa yang terjadi

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   146. Resiko

    "Mas?" Rasa kantuk dan kesal hilang seketika saat Revita menemukan suaminya sudah berdiri di depan pintu kosan. Dia mengucek mata untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Ini sudah hampir pukul satu malam. Kenapa Gavin ada di sini? "Kaget ya? Biarin aku masuk dulu, Re. Aku capek." Gavin hendak masuk kamar, tapi segera Revita tahan. "Tunggu-tunggu, kamu beneran Mas Gavin, kan? Bukan demit yang nyamar jadi suamiku?" Detik berikutnya Revita terpekik karena mendapat sentilan di dahi. Dia segera mengusap dahinya yang kesakitan. "Demit mana ada yang seganteng suami kamu." Dengan pelan Gavin mendorong Revita masuk, begitu pun dirinya yang lantas ikut masuk dan menutup pintu kamar kosan. "Tapi, Mas. Kamu kan lagi ada di Malaysia. Kok sekarang udah ada di sini aja? Mana malam-malam lagi datangnya." Rasanya Revita belum puas mendapat jawaban dari pria itu. "Kamu kabur ya?" Melepas sepatu, Gavin pun juga melepas kemeja beserta celana panjangnya. "Seminar sudah selesai. Bu

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   145. Merepotkan

    "Berapa hari?" Selain meeting ada seminar kewirausahaan yang harus Gavin hadiri selama dua hari. Kebetulan dia akan menjadi salah satu pengisi materi di hari kedua seminar yang diadakan di Kuala Lumpur tersebut. "Mungkin 3 sampai 4 hari, Sayang." "Hm, lama." Reina cemberut. "Mama weekend katanya masuk kerja. Masa papa juga belum balik?"Gavin menyentuh kepala Reina. "Papa usahakan weekend sudah kembali," ucapnya tersenyum. "Pak, sudah waktunya berangkat!" Di dekat mobil, Ferial kembali mengingatkan. Mata cokelat Reina langsung melirik tak suka. "Ih, aku nggak suka sama sekretaris papa yang itu. Kenapa bukan Tante Vania aja sih?" "Tante Vania ada pekerjaan lain.""Ya ganti aja jangan yang itu. Kelihatannya genit. Mentang-mentang cantik. Papa nggak takut mama cemburu?" "Uhm—""Papa mau ke Malaysia bareng dia kan?"Gavin mengangguk ragu. Semoga ini bukan masalah. "Tapi kami ke sana cuma bekerja. Dia di sana cuma membantu pekerjaan papa. Sekaligus papa lagi nguji dia layak atau ngg

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   144. Sekretaris Baru

    Alis Gavin naik sebelah ketika melihat sekretaris bernama Ferial datang menjemputnya. Dia tidak berharap orang baru yang akan menemani perjalanan bisnisnya. Namun sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain. Anggap saja ini ujian pertama sekretaris itu. Jika gagal, Gavin bisa punya alasan untuk mendepaknya dari kesekretariatan. "Tidak ada yang memberitahu saya kalau kamu yang akan menemani saya ke Malaysia," ucap Gavin seraya masuk ke mobil mewah fasilitas kantor. Ferial tersenyum manis, lalu ikut masuk ke mobil setelah memastikan bosnya itu duduk nyaman di dalam sana. "Saya sudah memberitahukan itu ke Pak Gavin. Di reminder juga ada. Mungkin Pak Gavin lupa."Sekilas Gavin memindai outfit yang wanita muda itu kenakan. Wanita itu mengenakan floral dress sebatas lutut yang dilapisi blazer hitam. Dress dengan potongan flowly itu agak naik ke atas saat dia duduk. Warna krem dress itu seolah tengah berlomba dengan warna kulit putih Ferial yang secerah mutiara. Gavin tidak mengerti kenapa

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   143. LDR

    "Selamat pagi, Pak."Gavin mengangkat wajah dari tumpukan kertas yang sedang dia baca ketika sapaan asing seseorang terdengar. Di depannya berdiri seorang wanita muda yang terlihat cantik dan energik. Alisnya terangkat sebelah karena tidak mengenali sosok itu. "Kamu siapa?" tanya Gavin tanpa membalas sapaan wanita muda itu. "Saya Ferial, Pak. Saya di sini menggantikan Mbak Vania." "Memang Vania ke mana?" "Mbak Vania mendampingi CEO baru kita, Pak." Gavin mengangguk ragu. Sejujurnya dia masih ingin Vania yang menemaninya di posisi sekarang sebagai presdir baru. Ya rapat pemegang saham menunjuknya menjadi presdir menggantikan Melinda yang dulu menjabat sebagai presdir pasif. Gavin sendiri memilih tetap ngantor karena masih banyak yang harus dia pastikan keberlangsungan beberapa proyeknya. "Selain saya ada tiga sekretaris lain yang akan membantu pekerjaan Anda, Pak.""Ya, terima kasih," sahut Gavin lantas kembali memperhatikan kertas-kertas di mejanya. Dia pikir sekretaris bernama

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   142. Malam Penuh Gairah (warning area)

    *WARNING 21+*===========Pangkal alis Revita berkedut. Bibirnya menggeram lirih lalu lama-lama badannya menggeliat. Entah sekarang pukul berapa. Yang jelas sudah larut, karena kesunyian terasa begitu pekat. Setengah sadar dia menyingkirkan tangan tak sopan yang membuat tidurnya terganggu. "Aku ngantuk, Mas," gumamnya tak jelas, lalu kembali terlelap. Tidak ada sahutan, tapi tangan itu makin tak mau berhenti bergerak. Ketika Revita mengubah posisi menjadi miring, tangan itu pun ikut mengejar. Mencari celah agar bisa menyusup ke balik piyama yang wanita itu kenakan. "Mas," gumam Revita lagi, ketika tangan itu berhasil menyusup masuk dan meremas payudaranya. Karena masih sangat mengantuk, akhirnya Revita membiarkan saja. Tapi lama-lama pergerakan itu membuat Revita tak nyaman. Apalagi ketika puncak dadanya dimainkan. Tubuhnya yang sensitif sontak bereaksi. Dia melenguh pelan. Dalam tidur berusaha menikmati apa yang suaminya lakukan. "Bangun, Sayang," bisik Gavin, sembari terus memb

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   141. Lega

    Daripada tetap tinggal bersama mama dan papanya di pulau ini, Reina lebih memilih pulang bersama Indila dan lainnya. Dengan alasan yang bikin semua tertawa. "Aku ingin segera punya adik cowok yang lucu kayak Fio." Gara-gara ucapan polos anak itu, wajah Revita sukses memerah seperti kepiting rebus. Sore yang cerah, Revita dan Gavin berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Resepsi pernikahan mereka sudah berakhir sejak siang, dan para tamu undangan juga sudah kembali menyeberang, meninggalkan pulau. Hanya mereka berdua yang tetap bertahan di pulau ini. Rencananya keduanya akan tinggal sekitar dua malam lagi. "Aku merasa lega luar biasa," ucap Gavin lalu menarik napas panjang, menghirup udara alam yang masih suci ini banyak-banyak. "Aku juga," sahut Revita mengikuti apa yang Gavin lakukan. Keduanya lalu saling melempar pandang dan tersenyum lebar. "Kita benar-benar berjodoh, Re. Semesta merestui kita."Revita mengangguk, dia mengangkat tangannya yang tersemat cincin pernikahan ke ud

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status