Share

94. Penasaran

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 17:32:30

"Mama belum tidur?"

Revita menutup buku yang dia baca ketika Reina dan Gavin baru saja sampai rumah. Mereka berdua akhirnya pergi makan malam di luar tanpa Revita. Wanita itu kekeh tidak mau ikut. Sudah kadung malu, gengsi kalau harus ikut. Dan sekarang waktu sudah menunjuk angka sembilan lebih. Terlalu larut buat anak seusia Reina baru pulang.

"Kan mama nunggu kamu pulang," sahut Revita, lantas melirik Gavin di belakang Reina yang tengah memasang senyum menyebalkan.

"Nih, aku bawa dimsum buat mama. Kata Om Gavin takut mama kelaparan." Anak itu mengangsurkan kantong putih berisi mealbox. Yang lantas Revita terima.

"Iya. Makasih. Sekarang udah mau setengah sepuluh. Waktunya kamu pergi tidur."

"Oke, Ma." Dia tersenyum girang, lalu berbalik kepada Gavin. "Om, aku tidur dulu ya. Kalau Om mau pulang hati-hati di jalan ya," ujarnya lalu meraih tangan Gavin untuk dia salim.

Gavin membalas anak itu dengan usapan di kepala. "Iya, Sayang. Good night." Dan membiarkan Reina berlalu masuk.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Cut Zanah
kok aq yg jantungan, takut ad yg grebek... ............
goodnovel comment avatar
WiwikK
luluh juga......
goodnovel comment avatar
Anies
beuuuh.. gitu dong kalo marahan jangan lama², kan capek.. wkwkwk makasih thor semangaaaaaat.. lanjut
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   95. Tenang, Sayang

    "Mas!" Revita menampar tangan Gavin yang menyusup masuk ke ujung dressnya. Bukannya menyesal, pria itu terkekeh. "Pulang sana," usir Revita sekali lagi. Sudah hampir pukul sebelas malam, tapi Gavin masih belum mau beranjak pergi. Duduk saja di samping Revita sambil melukis di atas paha wanita itu dengan ujung jarinya. "Boleh nginep di sini kan?" Sinting! Mata Revita melotot. Baru dikasih sedikit sudah ngelunjak. Dia segera menggeser duduk, mengambil jarak dari posisi Gavin. Reaksi itu membuat pria bermata cokelat di sebelahnya itu terkekeh. "Aku cuma bercanda," katanya lalu berdiri. Kepalanya melirik ke arah kamar Reina. "Aku boleh lihat Nana dulu sebelum pulang?" tanya dia minta izin. Saat mendapat anggukan dari Revita, pria itu melangkah ke kamar Reina. Didorongnya pintu yang sedikit terbuka, lalu kepalanya melongok ke dalam. "Masuk aja," ucap Revita. Gavin melihat putrinya tertidur dengan pulas sambil memeluk guling. Saking pulasnya anak itu bahkan tidak terganggu dengan sua

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   96. Memantapkan Hati

    Gavin tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan saat Revita mendekat padanya. Beberapa hari ini dia sengaja memarkirkan mobil di lantai basement kantor supaya wanita itu mau pulang bersama. Revita memang sudah menerima maafnya kembali, tapi demi keamanan dan kenyamanan wanita itu, Gavin menuruti keinginan Revita untuk merahasiakan hubungan spesial ini di area kantor. "Jam segini Nana biasanya udah naik bus jemputan kan?" tanya Gavin ketika Revita menyambut uluran tangannya. "Iya, kita tunggu di rumah aja nggak apa-apa kan?" Tanpa banyak protes Gavin setuju. Keduanya lantas segera memasuki mobil sebelum ada teman sekantor Revita yang memergoki. Revita sampai harus mengenakan face mask demi agar tidak ada yang tahu keberadaannya di mobil Gavin. Jika naik ojek online biasanya Revita akan sampai lebih dulu daripada Reina. Namun sore ini anak itu lebih dulu sampai. Reina masih terlihat masih mengenakan seragam dan agak terkejut melihat ibunya itu pulang bersama Gavin. Kepala anak itu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-16
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   97. Cincin

    Langit Jakarta malam ini begitu pekat. Satu titik cahaya bintang pun tidak terlihat. Revita bertanya-tanya entah di belahan bumi mana mereka menampakkan diri. Di atas ayunan yang letaknya di teras balkon unit Gavin, Revita tampak tenang menyeruput cokelat hangat yang baru saja dia bikin. Setelah memastikan Reina tertidur pulas, dia pun beranjak ke balkon. Duduk sambil merenungi apa yang sudah dia lalui selama ini. Namun yang menyebabkan dia akhirnya menyeduh cokelat adalah ajakan Gavin untuk menghadiri wedding anniversary orang tua lelaki itu. Revita memang sudah sepakat ikut, tapi tetap saja masih menyisakan rasa khawatir yang berlebihan. Bukan hanya orang tua Gavin, di sana pasti akan hadir keluarga besar lelaki itu. "Kamu belum tidur?" Suara berat dan empuk itu sedikit membuat Revita tersentak. Dia pikir Gavin sudah terlelap. Wanita itu menggeleng, lantas memperhatikan pria itu berjalan mendekat sambil membawa cangkir. Dari aromanya itu kopi. "Kamu ngopi malam-malam?" tanya Re

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-17
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   98. Ulang Tahun Pernikahan

    Revita masih mematut diri di depan cermin dengan dada berdebar. Akhirnya malam ini tiba. Malam anniversary pernikahan orang tua Gavin. Semoga acara itu tidak akan hancur karena kedatangannya. Revita mengenakan one shoulder dress di bawah lutut berwarna biru gelap. Gaun itu memiliki potongan rok asimetris yang kainnya jatuh di bagian bawah. Warna pekat yang sangat kontras dengan kulit putih Revita membuat gaun itu sangat cocok dipakai wanita itu. Kata Gavin dia yang memesannya langsung dari butik, kembar dengan milik Reina. Hanya beda ukuran saja. Revita membiarkan rambut panjangnya tergerai dan dibuat bergelombang. Sisi kiri hanya diberi jepitan minimalis. Paduan yang sempurna dengan makeup tipis yang menyapu wajahnya. "Manis." Sebuah kecupan mendarat di sisi bahu Revita yang terbuka. Lalu senyum Gavin dari pantulan cermin langsung bisa Revita tangkap. "Apa ini udah cukup, Mas? Atau aku kelihatan norak?" tanyanya dengan nada khawatir. "Lebih dari cukup, Sayang. Dan yang norak d

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   99. It's not just a dream

    "Gavin benar-benar menantangku. Sekarang dia terang-terangan membawa perempuan miskin itu ke depan kita. Di depan keluarga besar kita." Wajah ayu Melinda tampak mengeras saat melihat putranya berdampingan dengan Revita. Di sisinya Mannaf mendesah. "Jangan kamu hancurkan acara kita. Jaga sikap kamu," ucap pria tua itu yang juga menatap lurus keberadaan sang putra. "Seharusnya dia sadar kalau ini bukan tempatnya. Aku nggak percaya putramu berani membawanya ke sini. Pantas saja dia menolak menginap di vila ini." Suara Melinda makin terdengar geram. Dia bahkan tidak repot menunjukkan muka masamnya. "Aku sudah memilihkan wanita baik-baik seperti Talia, malah lebih memilih wanita yang asal usulnya nggak jelas itu." "Wanita itu cantik. Nggak heran kalau Gavin tergila-gila sama dia.""Cantik apanya? Jelas-jelas Talia masih lebih cantik. Aku yakin Gavin sudah terkena jampi-jampi perempuan itu." Melinda membuang napas dari hidung dengan kasar. Lalu mendengus kesal. Tatapnya lantas menemukan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   100. Omongan Orang

    Tawa renyah itu masuk ke telinga Revita tanpa sengaja saat wanita itu baru saja kembali dari toilet. Segerombolan sepupu Gavin. Revita yang akan melanjutkan langkah untuk kembali ke tempat acara urung saat dia mendengar namanya dan nama Gavin disebut. Seharusnya dia bersikap masa bodo, tapi yang dia lakukan malah berhenti. Bersembunyi untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. "... Hebat ya dia!" Potongan kalimat itu baru saja Revita dengar, saat dia menempelkan punggung di dinding. Mereka tidak akan tahu keberadaannya di sini. "Hebat? Yang bena saja! Itu trik murahan yang sering orang sebangsanya lakukan. Menjebak laki-laki kaya supaya mau menikahinya. Hellow! Dia anak pembantu btw. Anak pembantu macam apa yang berani deketin anak majikan, kalau bukan tipe pelacur dan pelakor?" Revita sontak memegangi dadanya yang terasa berdenyut. Dia tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Dirinya tentu saja. Suara tawa kembali terdengar. "Dan begonya, Gavin mau-mau aja tanggung jawab.""Hei,

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   101. Jangan Terpengaruh

    Beberapa waktu tidak berjumpa membuat Revita lupa jika pria di depannya ini adalah bagian dari keluarga besar Adhiyaksa. Dia sama sekali tidak mengantipasi kehadiran pria ini sebelumnya. Sehingga kemunculan dia secara tiba-tiba ini membuatnya sangat terkejut. Mahesa. Dia ada di depan Revita sekarang. Menyeringai dengan wajah penuh rasa tak percaya melihat Revita ada di tempat ini. "Aku benar-benar nggak ngerti lagi dengan jalan pikiran kamu," ucap pria itu. Revita menelan ludah. Lalu memalingkan tatap dengan resah. Dia mengerti apa yang Mahesa maksud. "Sudah aku bilang kan ini akan sulit? Dan kamu malah memunculkan Nana di sini. Sekali lagi aku katakan, Re. Kamu nggak akan bisa bersama Gavin. Resikonya terlalu besar." Mahesa menatap sedih wanita di depannya. Lalu berjalan maju. "Dan lebih dari itu, apa kamu lupa dengan yang sudah dia lakukan? Dengan mudah kamu maafin dia?" tanya Mahesa tak percaya. Sedangkan padanya, wanita itu seolah sulit memaafkan. "Mas, tolong jangan ikut ca

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Terjebak Bersama Dua Mantan   102. Tidak Ingin Menduakan

    "Nana!" Gavin tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba Revita mendorong dadanya, di tengah cumbuan mereka. Pria itu sempat syok selama beberapa saat. Lagi nikmat-nikmatnya, main potong aja. "Nana aman, Re. Dia sama Selena dan Adriana." Revita mengerjap. Dia makin mendorong Gavin menjauh, hingga penyatuan mereka terlepas. Tangannya menyambar selimut dengan segera. "Kita harus jemput Nana, Mas." Kali ini Gavin yang mengerjap bingung. "Sekarang? Tapi Re, ini sudah malam. Dan aku yakin Nana pasti sudah tidur.""Dia pasti nyari kita."Membuang napas kasar, Gavin pun terpaksa turun dari ranjang. Dia bergerak meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di lantai bersama dengan celananya. "Biar aku telpon Selena," putusnya kemudian. Dia menunduk dan menatap miris miliknya yang masih menegang sempurna, sambil menunggu panggilannya diangkat. Tidak berapa lama, suara Selana terdengar. "Ada apa, Mas?" tanya Selena di sana terdengar khawatir. "Nggak ada. Aku cuma mau mastiin keadaan Nana, u

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-24

Bab terbaru

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   149. Kejutan (2)

    Begitu membuka pintu kosan, Revita langsung melihat wajah putrinya yang tersenyum lebar. Anak itu segera menghambur ke pelukannya. Di belakang Reina, Gavin melambaikan tangan seraya tersenyum manis. "Mama udah siap?" tanya Reina, kepalanya meneleng untuk melihat barang-barang di belakang punggung ibunya. Hanya ada satu koper besar dan tas jinjing berukuran sedang. "Isi rumah nggak dibawa, Ma?" Revita terkekeh sembari menggeleng. "Barang-barang itu kan bukan milik kita, Na. Ada-ada aja kamu."Gavin sendiri langsung mengambil alih bawaan sang istri dan segera memasukkannya ke bagasi mobil. Akhirnya hari yang dia tunggu tiba. Revita dan Reina akan tinggal bersamanya menjadi satu keluarga utuh. "Itu apa?" tanya Gavin melihat kotak dengan ukuran lumayan besar yang dibungkus kado. Revita mengikuti arah pandang Gavin. "Itu dari teman-teman di pabrik. Belum aku buka sih." "Dibawa juga?" "Iya. Kado perpisahan." Selain koper milik dirinya, ada juga koper milik Reina di bagasi mobil Gavin

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   148. Kejutan (1)

    Mata Revita mengerjap. Mungkin yang Indila katakan benar, tapi wanita itu tidak boleh pesimis. Mahesa hanya belum melupakan Revita, tapi bukan berarti tidak bisa melupakan. Revita tersenyum menatap wanita manis di depannya. "Dengan lo terus di sampingnya, gue yakin dia bisa segera lupain gue. Apalagi lo deket sama Dony. Sekedar informasi, meski dia dulu deketin gue, dia nggak pernah loh ngenalin anaknya ke gue. Tapi ke lo? Nah itu tandanya dia serius sama lo." Wajah mendung Indila hilang seketika. Berganti dengan wajah penuh senyum. "Lo bisa aja, Re," katanya cengengesan. "Gue yakin sih bentar lagi lo bakal dilamar," goda Revita seraya menaik-turunkan alisnya. "Nggaklah. Gue bakal kasih waktu ke dia buat terima kenyataan bahwa lo itu milik keponakannya." Kedua wanita itu lantas tertawa. Lalu saling berpelukan. Tepat saat itu Revita seolah menyadari sesuatu. "Tunggu-tunggu." Revita melepas pelukannya dan mengangkat tangan sejenak. Dia merasa ada yang aneh di sini. "Jadi, lo mau p

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   147. Pagar Makan Tanaman

    Perombakan kesekretariatan ternyata lumayan mengundang perhatian. Bukan hanya itu, Gavin juga memecat beberapa sekretaris yang diduga berkomplot menjebak dirinya, termasuk Ferial. Tidak peduli dikatakan presdir kejam atau apa. Baginya perbuatan Ferial dan teman-temannya sudah melampaui batas. Kejadian mabuknya Ferial membuat Gavin tahu betapa busuknya perempuan itu. Paginya, begitu wanita itu sadar, Gavin memintanya untuk pulang ke Indonesia. Sempat ada drama dan permohonan maaf dari Ferial, tapi Gavin tak peduli dan tetap mengirim wanita itu kembali ke Jakarta. Alhasil seminar dua hari dan rapat terakhir dia lakukan sendiri tanpa dampingan sekretaris. "Jadi, apa yang bikin kamu memecat mereka?" tanya Mahesa saat pria itu berkunjung ke kantor Gavin. Kabar itu cukup bikin heboh. "Mereka kerjanya tidak becus," sahut Gavin sambil terus menandatangani dokumen di mejanya. Menarik kursi di depan meja, Mahesa pun duduk. "Apa yang mereka lakukan?" "Aku yakin Om sudah tau apa yang terjadi

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   146. Resiko

    "Mas?" Rasa kantuk dan kesal hilang seketika saat Revita menemukan suaminya sudah berdiri di depan pintu kosan. Dia mengucek mata untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Ini sudah hampir pukul satu malam. Kenapa Gavin ada di sini? "Kaget ya? Biarin aku masuk dulu, Re. Aku capek." Gavin hendak masuk kamar, tapi segera Revita tahan. "Tunggu-tunggu, kamu beneran Mas Gavin, kan? Bukan demit yang nyamar jadi suamiku?" Detik berikutnya Revita terpekik karena mendapat sentilan di dahi. Dia segera mengusap dahinya yang kesakitan. "Demit mana ada yang seganteng suami kamu." Dengan pelan Gavin mendorong Revita masuk, begitu pun dirinya yang lantas ikut masuk dan menutup pintu kamar kosan. "Tapi, Mas. Kamu kan lagi ada di Malaysia. Kok sekarang udah ada di sini aja? Mana malam-malam lagi datangnya." Rasanya Revita belum puas mendapat jawaban dari pria itu. "Kamu kabur ya?" Melepas sepatu, Gavin pun juga melepas kemeja beserta celana panjangnya. "Seminar sudah selesai. Bu

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   145. Merepotkan

    "Berapa hari?" Selain meeting ada seminar kewirausahaan yang harus Gavin hadiri selama dua hari. Kebetulan dia akan menjadi salah satu pengisi materi di hari kedua seminar yang diadakan di Kuala Lumpur tersebut. "Mungkin 3 sampai 4 hari, Sayang." "Hm, lama." Reina cemberut. "Mama weekend katanya masuk kerja. Masa papa juga belum balik?"Gavin menyentuh kepala Reina. "Papa usahakan weekend sudah kembali," ucapnya tersenyum. "Pak, sudah waktunya berangkat!" Di dekat mobil, Ferial kembali mengingatkan. Mata cokelat Reina langsung melirik tak suka. "Ih, aku nggak suka sama sekretaris papa yang itu. Kenapa bukan Tante Vania aja sih?" "Tante Vania ada pekerjaan lain.""Ya ganti aja jangan yang itu. Kelihatannya genit. Mentang-mentang cantik. Papa nggak takut mama cemburu?" "Uhm—""Papa mau ke Malaysia bareng dia kan?"Gavin mengangguk ragu. Semoga ini bukan masalah. "Tapi kami ke sana cuma bekerja. Dia di sana cuma membantu pekerjaan papa. Sekaligus papa lagi nguji dia layak atau ngg

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   144. Sekretaris Baru

    Alis Gavin naik sebelah ketika melihat sekretaris bernama Ferial datang menjemputnya. Dia tidak berharap orang baru yang akan menemani perjalanan bisnisnya. Namun sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain. Anggap saja ini ujian pertama sekretaris itu. Jika gagal, Gavin bisa punya alasan untuk mendepaknya dari kesekretariatan. "Tidak ada yang memberitahu saya kalau kamu yang akan menemani saya ke Malaysia," ucap Gavin seraya masuk ke mobil mewah fasilitas kantor. Ferial tersenyum manis, lalu ikut masuk ke mobil setelah memastikan bosnya itu duduk nyaman di dalam sana. "Saya sudah memberitahukan itu ke Pak Gavin. Di reminder juga ada. Mungkin Pak Gavin lupa."Sekilas Gavin memindai outfit yang wanita muda itu kenakan. Wanita itu mengenakan floral dress sebatas lutut yang dilapisi blazer hitam. Dress dengan potongan flowly itu agak naik ke atas saat dia duduk. Warna krem dress itu seolah tengah berlomba dengan warna kulit putih Ferial yang secerah mutiara. Gavin tidak mengerti kenapa

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   143. LDR

    "Selamat pagi, Pak."Gavin mengangkat wajah dari tumpukan kertas yang sedang dia baca ketika sapaan asing seseorang terdengar. Di depannya berdiri seorang wanita muda yang terlihat cantik dan energik. Alisnya terangkat sebelah karena tidak mengenali sosok itu. "Kamu siapa?" tanya Gavin tanpa membalas sapaan wanita muda itu. "Saya Ferial, Pak. Saya di sini menggantikan Mbak Vania." "Memang Vania ke mana?" "Mbak Vania mendampingi CEO baru kita, Pak." Gavin mengangguk ragu. Sejujurnya dia masih ingin Vania yang menemaninya di posisi sekarang sebagai presdir baru. Ya rapat pemegang saham menunjuknya menjadi presdir menggantikan Melinda yang dulu menjabat sebagai presdir pasif. Gavin sendiri memilih tetap ngantor karena masih banyak yang harus dia pastikan keberlangsungan beberapa proyeknya. "Selain saya ada tiga sekretaris lain yang akan membantu pekerjaan Anda, Pak.""Ya, terima kasih," sahut Gavin lantas kembali memperhatikan kertas-kertas di mejanya. Dia pikir sekretaris bernama

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   142. Malam Penuh Gairah (warning area)

    *WARNING 21+*===========Pangkal alis Revita berkedut. Bibirnya menggeram lirih lalu lama-lama badannya menggeliat. Entah sekarang pukul berapa. Yang jelas sudah larut, karena kesunyian terasa begitu pekat. Setengah sadar dia menyingkirkan tangan tak sopan yang membuat tidurnya terganggu. "Aku ngantuk, Mas," gumamnya tak jelas, lalu kembali terlelap. Tidak ada sahutan, tapi tangan itu makin tak mau berhenti bergerak. Ketika Revita mengubah posisi menjadi miring, tangan itu pun ikut mengejar. Mencari celah agar bisa menyusup ke balik piyama yang wanita itu kenakan. "Mas," gumam Revita lagi, ketika tangan itu berhasil menyusup masuk dan meremas payudaranya. Karena masih sangat mengantuk, akhirnya Revita membiarkan saja. Tapi lama-lama pergerakan itu membuat Revita tak nyaman. Apalagi ketika puncak dadanya dimainkan. Tubuhnya yang sensitif sontak bereaksi. Dia melenguh pelan. Dalam tidur berusaha menikmati apa yang suaminya lakukan. "Bangun, Sayang," bisik Gavin, sembari terus memb

  • Terjebak Bersama Dua Mantan   141. Lega

    Daripada tetap tinggal bersama mama dan papanya di pulau ini, Reina lebih memilih pulang bersama Indila dan lainnya. Dengan alasan yang bikin semua tertawa. "Aku ingin segera punya adik cowok yang lucu kayak Fio." Gara-gara ucapan polos anak itu, wajah Revita sukses memerah seperti kepiting rebus. Sore yang cerah, Revita dan Gavin berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Resepsi pernikahan mereka sudah berakhir sejak siang, dan para tamu undangan juga sudah kembali menyeberang, meninggalkan pulau. Hanya mereka berdua yang tetap bertahan di pulau ini. Rencananya keduanya akan tinggal sekitar dua malam lagi. "Aku merasa lega luar biasa," ucap Gavin lalu menarik napas panjang, menghirup udara alam yang masih suci ini banyak-banyak. "Aku juga," sahut Revita mengikuti apa yang Gavin lakukan. Keduanya lalu saling melempar pandang dan tersenyum lebar. "Kita benar-benar berjodoh, Re. Semesta merestui kita."Revita mengangguk, dia mengangkat tangannya yang tersemat cincin pernikahan ke ud

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status