Beranda / Horor / CALON TUMBAL / Bab 41 - Bab 50

Semua Bab CALON TUMBAL: Bab 41 - Bab 50

115 Bab

BAB 40

Selena sedang duduk di ruang kerja Ayah Nicholas, meskipun sudah larut malam. Namun, ia tak bisa menahan keinginannya untuk segera menceritakan temuannya siang tadi bersama Rangga dan Linggar yaitu sosok Egi. Ayah Nicholas, yang dikenal penuh perhatian, turut merasakan kepedihan atas nasib Egi, yang seandainya masih hidup, mungkin sudah sebaya dengannya."Jadi, besok kamu benar-benar ingin pergi ke rumah ayah tirinya sosok bernama Egi itu?" tanya Ayah Nicholas dengan tatapan cemas.Selena mengangguk dengan mantap."Iya, Pa. Boleh, kan?" tanyanya, berharap mendapat izin dari ayahnya.Ayah Nicholas tampak berpikir sejenak, pertimbangannya berat. Jika kasus ini terungkap ke publik, tentu akan menjadi sebuah tragedi besar. Namun, dia mengenal Selena dengan baik gadis ini memiliki rasa peduli yang luar biasa, dan dia tahu betapa sedihnya Selena jika ia melarangnya."Boleh, tapi Papa akan minta orang untuk jaga kamu, oke?" ucap Ayah Nicholas akhirnya."Okay, Pa," sahut Selena, tidak keberat
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-17
Baca selengkapnya

BAB 41

Selena, Rangga, dan Ayah Nicholas sedang menikmati sarapan pagi bersama di meja makan. Tak lama setelah selesai, Ayah Nicholas masih terlihat gelisah memikirkan keputusan Selena untuk membantu sosok bernama Egi. Kekhawatirannya begitu besar hingga ia mendatangkan dua pria untuk memastikan keselamatan Selena jika hal buruk terjadi.Sebagai seorang dokter, Ayah Nicholas tidak memiliki kebebasan waktu untuk selalu mendampingi Selena. Apalagi, setiap hari banyak kiriman yang datang untuk Selena, menambah beban pikirannya."Hati-hati ya, Nak," ujar Ayah Nicholas, memberikan pesan penuh waspada."Iya, Papa. Jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja," jawab Selena lembut, memahami kecemasan ayahnya.Tak lama, suara mesin mobil terdengar dari luar. Salah satu pelayan rumah menghampiri Ayah Nicholas."Pak, ada yang mencari Non Selena," lapor pelayan itu."Siapa, Bi?" tanya Ayah Nicholas penasaran."Namanya Pak Ryan," jawab si pelayan.Mendengar nama itu, Selena langsung bangkit dari tempat dud
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-18
Baca selengkapnya

BAB 42

Ayah tiri Egi melangkah turun dari lantai atas, senyum tipis menghiasi wajahnya ketika melihat Ryan berdiri di ruang tamu. Namun, Ryan tidak lagi anak kecil yang akan membalas senyuman dengan polos.Sejak awal, Ryan tak pernah menyukai ayah tirinya. Dia hanya menghormati keputusan ibunya, sebagaimana ayah kandungnya menghormati keputusan sang istri yang memilih pria lain untuk mendampingi hidupnya."Ryan, apa kabar, Nak?" tanya ayah tirinya dengan nada ramah yang terdengar dipaksakan.Ryan langsung menjawab, tanpa basa-basi. "Cukup dengan kemunafikannya. Aku datang bukan untuk melayani kepalsuanmu." Suaranya tajam, mencerminkan respek yang telah lama hilang terhadap pria yang kini telah menjadi bagian dari keluarganya selama puluhan tahun."Astaghfirullah, Ryan! Kenapa bicaramu begitu? Kamu sudah semakin dewasa, tapi malah semakin kurang ajar terhadap papamu!" tegur ibunya, terkejut dengan sikap Ryan.Ryan menatap ibunya dengan mata penuh ketegasan. "Ma, aku nggak pernah menganggap di
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-20
Baca selengkapnya

BAB 43

Tim forensik didatangkan, dan pilar beton yang menjadi tempat Egi ditemukan diangkat untuk dibawa ke rumah sakit guna dilakukan autopsi. Meski Ryan yakin itu adalah Egi, prosedur penyelidikan tetap dijalankan demi memastikan keadilan bagi almarhum dan menghukum pelaku dengan setimpal.Ambulans meninggalkan rumah itu, membawa beton berisi sisa-sisa tubuh Egi. Sementara itu, ayah tiri Ryan, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, digiring ke kantor polisi. Di ruang tamu, ibu Ryan yang terus-menerus menangis kini terbaring pingsan di sofa."Om, semoga setelah ini, Egi bisa beristirahat dengan tenang," ujar Selena kepada Ryan yang sibuk memijat kaki ibunya."Iya, apa abang saya ada di sini sekarang?" tanya Ryan, menatap Selena dengan wajah penuh harap."Ya, Egi duduk di sebelah kepala oma," jawab Selena sambil tersenyum kecil, merujuk pada ibu Ryan yang disebut "oma."Ryan menoleh ke arah tempat Selena menunjuk. "Bang, maafkan kami karena tubuhmu harus dibawa ke rumah sakit. Tapi in
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-21
Baca selengkapnya

BAB 44

Selena dibawa ke klinik ayah Nicholas setelah Ryan segera menghubunginya begitu Selena kehilangan kesadaran. Mendengar kabar bahwa Selena sempat berhenti bernafas, ayah Nicholas langsung meninggalkan kliniknya, yang kebetulan sedang tidak terlalu sibuk, dan bergegas menuju pemakaman.Kini Selena sudah berada di klinik tersebut, yang lebih dekat dari lokasi pemakaman daripada rumah mereka. Tubuhnya kini terbaring dengan infus terpasang. Ternyata, Selena terlalu kelelahan hingga tubuhnya tumbang tanpa ia sadari."Iya, Bang. Aku lupa... Hehe," ujar Selena, mencoba bercanda sambil tersenyum kecil saat berbicara dengan Nicholas melalui panggilan video. Ayahnya sebelumnya telah memberi tahu Nicholas bahwa Selena nyaris "dibawa" ke alam astral."Abang serius, Dek. Lain kali kalau merasa tubuhmu nggak sehat, jangan dipaksa, ya. Untung kamu kembali. Gimana kalau..." suara Nicholas terdengar serak, menahan emosi yang nyaris meledak.Selena tersenyum lemah, namun matanya memancarkan rasa bersala
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-22
Baca selengkapnya

BAB 45

Setelah semua selesai, Selena, Linggar, dan Rangga akhirnya meninggalkan klinik ayah Nicholas. Ayah Nicholas tidak ikut pulang karena masih harus menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke rumah sakit. Sebelum mereka berpisah, ia menitipkan Selena pada Rangga dan Linggar.Dalam perjalanan pulang, Selena memecah keheningan. "Li, kok bisa kepikiran manggil aki, padahal lu nggak tau apa yang gue alamin di dalam sana?" tanyanya sambil menoleh ke Linggar.Linggar terkejut. "Kok lu tau gue manggil aki?" tanyanya balik, matanya membelalak heran.Selena tersenyum tipis. "Gue bisa ngerasain," jawabnya singkat, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa.Linggar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak tau juga, gue cuma... keinget aja tiba-tiba. Saking paniknya liat lu nggak nafas, gue refleks manggil aki," ujarnya dengan nada serius, meski matanya menyiratkan rasa lega."Untung banget aki dateng. Makasih ya, Li," ucap Selena dengan tulus.Linggar hanya tersenyum kecil, tapi senyum itu penuh ma
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-23
Baca selengkapnya

BAB 46

Justin tengah mengemas pakaian-pakaiannya, memasukkannya dengan rapi ke dalam koper. Setelah selesai, ia berdiri dan melangkah keluar dari kamar yang penuh kenangan itu. Sadar akan keberuntungannya memiliki teman sebaik Nicholas, Justin merasa dirinya lah yang bodoh.Dengan langkah pelan, Justin berdiri di depan Nicholas, yang masih mematung dengan wajah dinginnya. Nicholas berdiri dekat meja dapur, menyilangkan tangan di depan dada, menatap Justin dengan tatapan yang sulit diartikan."Nic, maafin gue ya... Gue sadar gue temen yang nggak baik buat lu. Gue selalu bikin onar, selalu bikin elu repot. Gue minta maaf banget..." suara Justin terdengar penuh penyesalan."Udah tau kesalahan lu di mana!?" tanya Nicholas dengan nada ketus, mata Nicholas tajam menatapnya. Justin hanya bisa mengangguk perlahan."Gue bodoh, Nic... Gue gampang banget dimanfaatin sama Allee. Harusnya gue sadar kalau itu cuma akal-akalannya dia. Gue terlalu remehkan semuanya..." Justin menunduk, penuh rasa bersalah.
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-24
Baca selengkapnya

BAB 47

Semua anak sudah berkumpul di bandara dan kini mulai memasuki pesawat satu per satu. Mereka mencari tempat duduk sesuai tiket masing-masing. Tak disangka, Selena, Rangga, dan Linggar duduk dalam satu barisan yang sama, Selena di tengah diapit oleh keduanya.Melihat itu, Linggar dan Rangga bersorak kegirangan. Mereka bahkan melakukan tos tangan dengan kompak, sesuatu yang jarang terjadi.“Idih, tumben banget kalian akur,” ucap Selena sambil tersenyum. Biasanya, Linggar dan Rangga seperti kucing dan tikus yang tak pernah berhenti saling mengusik.Linggar hanya bisa menggaruk kepalanya sambil berusaha berdalih. “Ya kan… udah mau lulus. Bentar lagi nggak bakal ketemu dia lagi.”“Dih, mulai songongnya,” balas Rangga, melirik Linggar tajam. Namun Linggar pura-pura mengalihkan pandangannya ke luar jendela.Selena tersenyum hangat. “Aku senang deh lihat kalian akur gini. Berasa banget kekeluargaannya.”Perkataan Selena membuat Linggar dan Rangga saling melirik. Kata “kekeluargaan” yang diucap
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-25
Baca selengkapnya

BAB 48

Semua anak berkumpul di restoran hotel untuk makan malam. Selena duduk di meja bersama Linggar, Rangga, dan Citra. Sore tadi, gangguan dari sosok yang mengerjainya membuat Selena memutuskan untuk kembali membuka mata batinnya.Setelah makan malam, suasana semakin meriah. Para siswa mengadakan pool party di kolam renang utama hotel untuk menghilangkan kebosanan. Tidak ada minuman beralkohol di sana, hanya soda, jus, milkshake, dan minuman lain yang aman. Beberapa anak terlihat berenang sambil tertawa riang, ditemani alunan musik yang membuat malam terasa hidup.“Lompat! Lompat! Lompat!” sorak-sorai anak-anak bergema di udara, menciptakan keriuhan penuh kesenangan.Namun, Selena hanya duduk di meja, menolak ikut ke kolam. Ia memandang sekeliling dengan mata batinnya yang kini kembali terbuka. Dan apa yang dilihatnya membuat bulu kuduknya meremang. Energi di tempat ini jauh lebih menyeramkan dibandingkan saat ia pertama kali tiba.“Hotel ini keren banget, ya. Tiap kamar ada kolam renangn
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-27
Baca selengkapnya

BAB 49

Keesokan harinya, semua anak sudah berkumpul di restoran sesuai dengan yang diperintahkan oleh guru. Mereka menikmati sarapan sambil bercanda dan berbagi cerita tentang pengalaman tidur mereka di kamar masing-masing."Nyenyak banget gue tidur, maklum sih abis renang malam-malam," ujar seorang siswa dengan penuh semangat."Badan gue pegel, njir. Kayak abis digebukin, salah bantal apa ya?" keluh siswa lainnya sambil mengusap lehernya.Selena hanya mendengarkan, matanya melirik ke sekeliling hotel, mengamati setiap sudut dengan cermat. Dia merasa ada yang tidak beres, dan instingnya terus mengarah pada karyawan lama hotel yang tidak terlihat di mana pun. Dia sangat ingin bertanya, tapi sepertinya tidak ada satupun yang bisa memberinya jawaban.Tiba-tiba, seorang pria keluar dari arah dapur restoran. Dari pakaian dan cara berbicaranya yang sedang menegur karyawan, Selena bisa memastikan bahwa pria itu adalah bos atau pemilik hotel yang baru. Namun, dia tidak mengenal sosok itu sama sekali
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-28
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
34567
...
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status