Beranda / Horor / CALON TUMBAL / Bab 31 - Bab 40

Semua Bab CALON TUMBAL: Bab 31 - Bab 40

115 Bab

BAB 30

Rangga duduk dengan napas terengah-engah, matanya celingukan, terkejut setengah mati. Wajah itu tiba-tiba muncul di atasnya, dengan mata serba putih dan wajah penuh darah."Astaghfirullah," Rangga mengusap dadanya, mencoba menenangkan diri.Baru kali ini dia mengalami gangguan langsung dari makhluk gaib. Rasanya sangat mengerikan, seperti dunia tiba-tiba berubah jadi mimpi buruk.Terdengar langkah kaki dari luar kamar. Linggar keluar setelah mendengar teriakan Rangga, sementara Selena masih terlelap dalam tidurnya."Napa sih lu!? Kaget gue," tanya Linggar dengan bingung."Ada setan, Li. Tadi nongol di depan muka gue, serem banget. Astaghfirullah," jawab Rangga, masih terlihat ketakutan dan celingukan."Boongan kan lu?" ujar Linggar, masih tak percaya."Ngapain juga gue boong? Lu tahu sendiri, gue bisa lihat," Rangga menegaskan, membuat Linggar sedikit ragu.Linggar melirik sekitar dengan cemas. "Jangan berisik, ntar Selena bangun. Gue tidur di sini juga deh sama lu," katanya, sementar
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-11
Baca selengkapnya

BAB 31

Ayah bayi itu melangkah mendekati Selena dengan wajah merah padam, amarahnya meluap-luap. Namun, sebelum ia berhasil mencapai Selena, Linggar maju dengan sigap, berdiri di depannya seperti perisai hidup. Sementara itu, Rangga menarik Selena menjauh, menjadikannya aman dari jangkauan pria yang sedang kehilangan kendali."Minggir kamu!" bentaknya kepada Linggar, suaranya penuh amarah. Tubuhnya yang besar dan gemuk memberikan tekanan saat ia mendorong Linggar."Enggak akan! Saya nggak akan minggir," jawab Linggar tegas, tetap berdiri tegap meski terdorong mundur beberapa langkah. Berkat latihannya, kuda-kudanya kokoh, dan ia tidak gentar menghadapi pria itu.Di sisi lain, ibu Rangga dengan cepat menyerahkan bayi itu kepada ibunya si bayi, mencoba mengurangi ketegangan. Ia lalu berusaha melerai, khawatir situasi semakin tak terkendali."Owek! Owek! Owek!" Tangis bayi yang keras berpadu dengan suara pertengkaran, membuat suasana semakin mencekam."Cukup, Gun! Udah, berhenti!" seru ibu Rang
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-13
Baca selengkapnya

BAB 32

Hari itu, Selena menghabiskan sisa waktunya dengan berat hati. Namun, karena bukan masa liburan panjang dan esok hari ia harus kembali ke sekolah, ia memutuskan kembali ke Jakarta secepatnya. Barang-barangnya telah rapi disimpan ke dalam mobil, tetapi pikirannya masih kacau.Rasa khawatir terus menggelayuti hatinya. Bayangan apa yang dilihatnya sebelumnya membuatnya gelisah. Tak ingin berdiam diri, Selena akhirnya menghubungi Ustadz Sholeh, memohon agar sang ustadz segera mendatangi rumah Pak Gunawan untuk menolong bayi malang itu.Namun, semua sudah terlambat.Rumah Pak Gunawan kini dipenuhi suara tangis pilu, bukan suara bayi, tetapi jerit kesedihan orang dewasa. Kenzi, bayi mungil yang baru berusia satu bulan, telah tiada."Huhuhu... Kenzi... Hiks... Hiks..." Ibu sang bayi menangis sejadi-jadinya, tubuhnya melemah hingga beberapa kali pingsan.Ia telah lama menanti momen menjadi seorang ibu, tetapi kebahagiaan itu direnggut dengan kejam. Kenzi menghembuskan napas terakhirnya satu j
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-13
Baca selengkapnya

BAB 33

Ayah Nicholas duduk di ranjangnya, matanya terpaku pada sebuah foto lama yang ia temukan. Foto itu diambil saat ia masih berada di pondok pesantrennya, dan yang terlihat di dalamnya adalah seorang perempuan santriwati. Wajahnya yang tampak familiar membuat hati ayah Nicholas tergetar. Ya, itu adalah foto mendiang ibu Selena saat masih muda."Aku masih nggak bisa percaya, gadis yang ada di foto ini adalah ibu kandung Selena," gumam ayah Nicholas dengan perasaan campur aduk.{Kilas balik ayah Nicholas}Tiga tahun lalu, ayah Nicholas merasa ada yang aneh. Tak ada satupun anggota keluarga ibu Selena yang datang ke kampung. Maka, ia pun mencari tahu tentang sosok ibu Selena. Dari warga kampung, ia mendengar cerita yang tak kalah misterius."Dia itu orang asing yang hilang ingatan. Gak ada yang tahu kenapa bisa sampai ke kampung kita. Yang pertama kali menemukannya itu Sinclar, ayahnya Selena," ujar salah seorang warga yang tahu tentang kedatangan ibu Selena ke desa tersebut."Dia memang ca
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-13
Baca selengkapnya

BAB 34

Selena tiba di sekolah, berlari terburu-buru menuju kelas bersama Rangga dan Linggar yang ternyata juga kesiangan. Mereka bertiga tampak seperti dikejar hantu, membuat siswa lain kebingungan melihatnya. Akhirnya, mereka pun sampai di kelas dengan napas terengah-engah."Gila, tidur kayaknya bener-bener ngaruh, lelap banget," kata Linggar, sambil menepuk dadanya."Sama, efek kecapekan kayaknya," sahut Selena, terkekeh.Tak lama setelah itu, guru pun tiba. Beruntung, Selena, Linggar, dan Rangga berhasil sampai tepat waktu sebelum wali kelas mereka datang. Pelajaran pun dimulai.***Beberapa hari setelah itu, Selena kembali menerima banyak kiriman teluh seperti biasa. Namun, kali ini ia bisa menahan semua itu, dengan sedikit bantuan dari ayah Ilham. Selena merasa perubahan pada dirinya, seolah ia bisa membaca karakter orang di sekitarnya, termasuk Rangga dan Linggar. Ia merasakan kasih sayang yang tulus dalam hati mereka, tapi ia tak sepenuhnya memahami makna dari perasaan itu, hanya mera
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-13
Baca selengkapnya

BAB 35

Selama seminggu menjalani ujian, Selena berhasil melewatinya tanpa ada hambatan berarti. Meskipun kiriman teluh selalu datang setiap malam, Selena fokus pada ujian dan bisa mengatasinya dengan bantuan ayahnya. Beruntung, dia sudah berhasil menemukan dan mengantar Jovi, sehingga dia bisa menjalani ujian dengan tenang tanpa harus khawatir tentang hal-hal gaib.Hari ini adalah hari terakhir ujian, dan semua orang merasa lega karena akhirnya ujian mereka akan segera berakhir."Bismillah... semoga ujian hari ini bisa kita lewati dengan lancar," ujar Selena penuh harap."Aamiin, ya Allah," jawab Rangga dan Linggar serentak.Namun, di balik rasa lega, Linggar merasa sedih. Setelah ujian selesai dan mereka lulus, keluarganya harus kembali pindah dari kota itu karena tugas orang tuanya yang sudah selesai. Itu berarti, dia dan Selena tak akan pernah bertemu lagi, karena Linggar akan ikut keluarganya pindah ke luar negeri.Ujian pun dimulai, dan semua murid fokus mengerjakan soal-soalnya. Namun,
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-14
Baca selengkapnya

BAB 36

Selena duduk di meja belajarnya, berbicara dengan Nicholas di telepon. Dia menceritakan serangkaian kejadian lucu dan seru yang terjadi selama ujian sekolah, sementara Nicholas hanya terkekeh mendengarnya. Namun, Selena tak menceritakan tentang ketegangan yang dia alami saat kerasukan pagi tadi."Jadi bentar lagi kamu bakal jadi mahasiswi, ya? Udah ada pilihan universitas belum, dek?" tanya Nicholas, penasaran."Hmmm... mana ya? Menurut abang, yang bagus yang mana?" jawab Selena."Di kampus abang aja, dek. Kampus abang kan bagus meskipun dalam negeri," ujar Nicholas."Yaahh... susah, syarat masuknya itu loh, bang. Aku nggak sepintar abang," keluh Selena dengan wajah murung."Jangan sedih gitu dong... Abang yakin kamu pasti keterima. Adek abang kan pintar," Nicholas mencoba menghibur Selena."Yaudah, ntar deh aku coba. Abang nggak ada kelas?" tanya Selena, berpindah topik."Ada, ntar siangan. Papa belum pulang, dek?" tanya Nicholas, penasaran.Selena menggelengkan kepala, menandakan ba
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-14
Baca selengkapnya

BAB 37

Akhirnya, ayah Nicholas memutuskan untuk menunda perjalanannya ke rumah sakit. Rasa penasaran membuatnya memilih mendengarkan cerita Selena terlebih dahulu. Dengan wajah serius, Selena mulai menceritakan kejadian mengejutkan yang dialaminya kemarin pagi di sekolah. Saat sedang fokus mengerjakan ujian, tiba-tiba datang kiriman teluh yang mengacaukan suasana.“Awalnya aku mencoba melawan sosok itu, Pa. Tapi dia terlalu kuat. Aku sampai muntah darah... dan tiba-tiba, ada sesuatu dari dalam diriku yang bangkit,” ujar Selena, suaranya bergetar.Ayah Nicholas memperhatikan dengan cermat, sedangkan Rangga yang duduk di dekatnya tampak tegang mendengarkan.“Makhluk itu, Pa... dia muncul dan memakan sosok kiriman teluh itu. Bentuknya seperti binatang. Buas... sangat buas,” Selena menggantung kalimatnya, ketakutan masih membekas di wajahnya.Ayah Nicholas mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata, “Harimau. Harimau pendampingmu akhirnya bangun.”“Harimau?” Selena dan Rangga serempak berseru. Ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-16
Baca selengkapnya

BAB 38

“Namaku Egi Mahardika. Adikku, Ryan Mahardika," sosok remaja itu memulai perkenalannya melalui hati Selena.Selena mendengarkan dengan seksama, memilih untuk tidak berbicara langsung agar tak menarik perhatian orang-orang di sekitar. Di dalam hatinya, Egi mulai bercerita, membawa Selena menyelami kisah penuh luka yang ia alami."Aku ikut ibuku setelah orang tua kami bercerai, sementara Ryan tinggal bersama ayah. Saat itu, aku baru lima belas tahun, dan Ryan masih sembilan. Aku masih ingat wajahnya yang menangis, memohon agar aku tidak pergi."Kesedihan yang dalam terpancar dari cerita Egi. Selena dapat merasakan penyesalan yang membebani sosok itu, penyesalan karena meninggalkan adiknya, dan karena memilih pergi bersama ibunya."Mengapa kalian berpisah?" tanya Selena, suaranya lembut dan penuh perhatian.Egi menghela nafas panjang. "Ayahku sebenarnya masih sangat mencintai ibu. Tapi ibu... dia jatuh cinta pada pria lain. Ayahku memutuskan untuk melepaskannya, berharap dia bisa bahagia
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-16
Baca selengkapnya

BAB 39

Selena, Linggar, dan Rangga kini berada di sebuah restoran mewah. Selena telah memesan ruang makan pribadi agar suasana lebih tenang untuk pertemuan penting malam itu. Mereka akan membahas sesuatu yang sangat sensitif bersama Ryan, yang telah setuju untuk datang.Sekitar pukul tujuh malam, Ryan tiba. Ia datang sendiri, tanpa membawa istri atau anaknya. Wajahnya menyiratkan rasa penasaran dan sedikit kecemasan."Kalian cuma bertiga? Dimana kakak saya?" tanyanya langsung, pandangannya menyapu ruangan seolah mencari seseorang.Selena melirik sekilas ke arah Egi, yang berdiri di dekat Ryan dengan tatapan penuh harap."Silahkan duduk dulu, Om," ujar Selena lembut, mencoba menenangkan suasana.Ryan mengikuti arahan Selena dan duduk di salah satu kursi di meja bulat itu. Mereka semua duduk berhadapan, masing-masing terlihat serius."Selena, tolong kasih tahu dia kalau aku ada disini," desak Egi, suaranya penuh emosi.Selena menatap Ryan dengan hati-hati sebelum membuka pembicaraan. "Om, maaf
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-17
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
...
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status