Home / Horor / CALON TUMBAL / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of CALON TUMBAL: Chapter 11 - Chapter 20

115 Chapters

BAB 11

Selena dan Rangga membawa Ustadz Sholeh ke rumah sakit untuk perawatan luka terbuka di pelipisnya, sementara Linggar dan ayahnya diminta untuk menginap di hotel demi keselamatan mereka. Rumah itu dibiarkan kosong sementara waktu. Selena dan Ustadz Sholeh berencana melanjutkan pembersihan rumah Linggar begitu Ustadz Sholeh pulih."Kenapa bisa kepala kamu sampai bocor dihantam palu, Ustadz?" tanya ayah Nicholas dengan tawa kecil, karena Selena membawa Ustadz Sholeh ke rumah sakit tempat ayah Nicholas bekerja, dan kebetulan ayahnya yang menangani Ustadz Sholeh."Usia makin tua, tenaga juga makin berkurang, nggak secepat dulu," jawab Ustadz Sholeh sambil menyeringai, merasakan sakit di kepalanya.Di luar, Selena dan Rangga sedang berdiskusi tentang langkah selanjutnya untuk menangani siluman ular tersebut, ketika Selena kembali melihat sosok pria yang menangis di hari itu. Ternyata dia masih ada di sana, dan kelihatannya proses penyembuhannya belum menunjukkan perkembangan."Rangga, sosok
last updateLast Updated : 2024-12-01
Read more

BAB 12

Selena menghubungi Rangga untuk pulang lebih dulu bersama Ustadz Sholeh, karena ia perlu pergi dengan perempuan yang baru ditemuinya di rumah sakit. Kini, Selena sudah tiba di rumah perempuan itu, yang terasa sangat nyaman.Di dalam rumah, terlihat foto pernikahan mereka yang menunjukkan kebahagiaan. Banyak foto kebersamaan yang tersebar di setiap sudut rumah, memperlihatkan cinta yang mendalam antara pasangan itu. Wanita tersebut keluar membawa dua cangkir teh dan menyajikannya kepada Selena."Minum, nak," ucap wanita itu."Terima kasih, tante," jawab Selena, disertai senyum dari wanita itu.Selena menikmati teh yang disajikan, sementara wanita tersebut tampak memperhatikan sekeliling rumahnya."Apakah suami saya ikut pulang?" tanya wanita itu."Ya, suami tante ada di belakang tante sekarang," jawab Selena."Tante, papaku bilang... kemungkinan suami tante untuk sadar sangat tipis, bahkan untuk bertahan hidup. Namun sepertinya dia masih belum bisa pergi karena ada urusan yang belum se
last updateLast Updated : 2024-12-02
Read more

BAB 13

Keesokan harinya, Selena kembali ke rumah Linggar bersama Linggar dan ayahnya. Hanya dalam satu hari, rumah itu yang semula terlihat biasa saja kini terasa sangat berbeda, seperti rumah yang telah lama ditinggalkan. Aura yang mengelilinginya semakin suram, lebih berat dari sebelumnya. Ketika Selena bertanya pada ratu siluman ular, makhluk itu mengaku bahwa ia bukan pelakunya, melainkan ada sosok lain yang bertanggung jawab.Sementara itu, Ustadz Sholeh sedang melakukan pencarian benda gaib yang mungkin telah dikubur atau dikirim oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab, seseorang yang syirik terhadap keluarga Linggar."Li, papa kamu beli rumah ini?" tanya Selena ketika Linggar tidak bersama ayahnya."Enggak, kita cuma numpang tinggal sementara di sini. Mungkin tahun depan kami pindah," jawab Linggar."Kalau begitu, mendingan kalian pindah aja dari rumah ini. Rumah ini nggak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada pembersihan total," saran Selena."Selena benar, apalagi ada banyak kir
last updateLast Updated : 2024-12-02
Read more

BAB 14

Setelah sesi pembersihan pada ayah Linggar selesai, kehidupan mereka mulai berubah. Linggar kini telah pindah ke rumah baru yang lokasinya tidak jauh dari rumah Selena. Bahkan, rumah barunya terletak tepat di seberang rumah ayah Nicholas. Berkat rutin melakukan ruqyah, hubungan ayah dan ibu Linggar yang sempat renggang kini telah pulih, dan Linggar pun resmi menjadi bagian dari geng trio Selena dan Rangga di sekolah.Suatu malam, Selena sedang berbaring tengkurap di ranjangnya, asyik video call dengan Nicholas yang saat itu berada di luar negeri."Yah... aku kangen sama abang," keluh Selena."Nanti kalau kamu sudah bangun, aku telpon lagi. Sekarang tidur dulu, anak nakal," jawab Nicholas dengan suara lembut.Karena perbedaan waktu, komunikasi mereka kadang agak terhambat, ketika siang di tempat Nicholas, malam di tanah air. Namun, mereka berusaha tetap menjaga komunikasi itu."Hehe... iya deh, tidur dulu," jawab Selena.Tiba-tiba, wajah seorang pria muncul dari belakang Nicholas, samb
last updateLast Updated : 2024-12-02
Read more

BAB 15

Setelah sesi pembersihan pada ayah Linggar selesai, kehidupan mereka mulai berubah. Linggar kini telah pindah ke rumah baru yang lokasinya tidak jauh dari rumah Selena. Bahkan, rumah barunya terletak tepat di seberang rumah ayah Nicholas. Berkat rutin melakukan ruqyah, hubungan ayah dan ibu Linggar yang sempat renggang kini telah pulih, dan Linggar pun resmi menjadi bagian dari geng trio Selena dan Rangga di sekolah.Suatu malam, Selena sedang berbaring tengkurap di ranjangnya, asyik video call dengan Nicholas yang saat itu berada di luar negeri."Yah... aku kangen sama abang," keluh Selena."Nanti kalau kamu sudah bangun, aku telpon lagi. Sekarang tidur dulu, anak nakal," jawab Nicholas dengan suara lembut.Karena perbedaan waktu, komunikasi mereka kadang agak terhambat, ketika siang di tempat Nicholas, malam di tanah air. Namun, mereka berusaha tetap menjaga komunikasi itu."Hehe... iya deh, tidur dulu," jawab Selena.Tiba-tiba, wajah seorang pria muncul dari belakang Nicholas, samb
last updateLast Updated : 2024-12-02
Read more

BAB 15

Selena berjalan menuju kantin setelah jam istirahat tiba, seperti biasa ditemani oleh dua teman tampannya, Rangga dan Linggar. Namun, ketika mereka sampai di kantin, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Terlihat riuh di antara kerumunan siswa, semua berlarian dengan ketakutan seolah menghindari sesuatu."AAaa!" teriak seorang siswi dengan suara melengking, semakin menambah kepanikan di sekitar mereka."Lari! Dia kerasukan setan!" teriak seorang siswa lain, hingga beberapa anak terjatuh dan terinjak oleh yang lainnya yang berlari ketakutan."Astaghfirullah... Ada apa ini? kenapa?" tanya Selena, saat salah seorang anak menabraknya karena berlari panik."Itu, ada yang kerasukan," jawab anak itu, membuat Selena terkejut. Namun, alih-alih menghindar, ia justru merasa terdorong untuk mendekati siswi yang sedang kerasukan itu.Siswi yang kerasukan itu berbicara dengan suara aneh, mengucapkan kata-kata yang tidak jelas sambil mengusap-usap rambutnya yang seolah terlihat sangat panjang."Tak le
last updateLast Updated : 2024-12-04
Read more

BAB 16

Setelah membantu para murid yang mengalami kerasukan massal, Selena pulang dengan tubuh yang kelelahan parah. Langkahnya berat, dan tanpa sadar, ia tertidur di tepi jalan. Rangga hanya bisa memandangnya dengan cemas, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Ia sadar bahwa sosok yang kini dihadapi Selena semakin berbahaya, lebih dari yang bisa dibayangkannya.Dalam tidurnya, Selena memasuki mimpi yang terasa begitu nyata. Ia mendapati dirinya di rumah lama almarhum Raka, tempat yang penuh kenangan. Kakinya melangkah menaiki tangga, menuju lantai dua, ke kamar yang dulu ia tempati bersama Raka.“Kenapa aku disini? Bukankah Papa melarangku masuk ke rumah ini?” gumamnya ragu. Namun, dorongan tak terlihat membuatnya terus berjalan hingga akhirnya berdiri di depan pintu kamar lamanya.Kenangan masa lalu berkelebat satu per satu, membawa Selena larut dalam nostalgia. Di antara semua memori, bayangan Raka paling kuat terpatri, mengingat ia sering menghabiskan waktu bersama almarhum kakaknya itu.“Go
last updateLast Updated : 2024-12-04
Read more

BAB 17

Selena duduk di sofa kamarnya, matanya tetap memandangi layar ponsel dengan pandangan kosong. Panggilan video dengan Nicholas masih berlangsung, namun hatinya terasa berat. Ia menghapus air mata yang belum lama ini jatuh, perasaan sedihnya masih menguasai setelah kehilangan teteh putih."Udah, dek... Jangan sedih terus, kan teteh sudah ketemu tempat yang baik," ujar Nicholas dengan lembut, berusaha menghibur Selena yang masih tampak terpuruk."Iya..." Gumam Selena, menyeka air mata yang masih tersisa. Nicholas tersenyum, merasakan betapa lembutnya hati Selena, bahkan untuk makhluk yang sudah tak bernyawa sekalipun."Makan gih, ntar sakit loh kamu nggak makan-makan, udah malam ini," kata Nicholas dengan perhatian, namun Selena menggeleng pelan."Nggak lapar, bang," jawabnya dengan suara rendah, matanya masih tampak jauh."Rangga bilang kamu baru aja bantu ngurus kesurupan massal di sekolah, ya? Kok bisa sih ada kesurupan massal, padahal dulu nggak pernah ada gituan?" tanya Nicholas, me
last updateLast Updated : 2024-12-05
Read more

BAB 18

Nicholas berjalan meninggalkan Kate, lalu mendatangi Justin yang menunggu di bagian lain taman. Mereka pun segera pergi meninggalkan tempat itu."Lu tolak, bro?" tanya Justin dengan penasaran."Gue nggak nolak, tapi gue ngelarang dia buat ungkapin perasaannya ke gue," jawab Nicholas tegas."Dih, sadis banget lu jadi cowok," kata Justin sambil geleng-geleng kepala."Dari pada dia terus berharap dan akhirnya tambah sakit, mending gue jujur di awal. Gue disini buat fokus belajar, Just. Nggak ada waktu buat pacaran-pacaran. Kalau ada jodoh, ntar juga ketemu," lanjut Nicholas, lalu melangkah pergi meninggalkan Justin."Gila nih bocah, Allee yang spek bidadari aja ditolak," gumam Justin, tercengang.Berpindah ke tanah air...Esok harinya, Selena, Rangga, dan Linggar tiba di sekolah. Hujan deras mengguyur bumi, dan koridor sekolah terasa suram karena mendung yang tebal. Selena mendengar suara Jovi berteriak, tapi ia tak melihat sosoknya."Selena!!" teriak suara itu, membuat Selena langsung c
last updateLast Updated : 2024-12-05
Read more

BAB 19

Selena kembali ke kamar dan duduk di ranjang, masih terbenam dalam pikiran tentang perkataan ayah Nicholas yang mengatakan ada seseorang yang mengirimkan santet padanya. Padahal, Selena merasa dirinya tidak pernah menyinggung siapapun. Bahkan, dia adalah pribadi yang pendiam, yang baru dikenal di sekolah karena kemampuannya menyadarkan orang-orang yang kesurupan massal.Selena menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tetapi tetap duduk menyandar di ranjang. Ia membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan putih. Saat kotak itu terbuka, tampak sebuah kalung dengan bandul bambu kuning yang dulu ia ambil dari lemari utinya. Kalung itu sangat berkesan baginya, karena Nicholas yang memberikannya sebagai kado ulang tahun ke-15.Dengan lembut, Selena melepaskan kalung bandul bambu kuning itu. Ia mengenakan kalung pemberian Nicholas sebagai tanda rasa terima kasih dan penghargaan. Selena mengusap bandul kalung itu, mengingatkan dirinya pada utinya yang kini sudah tiada. Perlahan,
last updateLast Updated : 2024-12-06
Read more
PREV
123456
...
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status