Beranda / Horor / CALON TUMBAL / Bab 21 - Bab 30

Semua Bab CALON TUMBAL: Bab 21 - Bab 30

115 Bab

BAB 20

Selena melangkah turun dari mobil, didampingi oleh Rangga. Matanya terpaku pada seorang sopir mobil travel yang berdiri di pinggir jalan, sibuk mengetik pesan di ponselnya. Sesekali, sopir itu terlihat berbicara lewat telepon, tampak tidak peduli pada sekelilingnya.Tiba-tiba, Selena terdiam. Penglihatannya mengabur, dan di benaknya muncul bayangan sebuah kecelakaan tragis. Mobil itu, mobil yang sama tempat para penumpang bercengkrama, terseret truk besar, hancur berantakan.Dengan cepat, Selena berlari kembali ke pintu mobil dan berteriak. “Pak, Bu, semuanya! Segera turun dari mobil ini sekarang!” Suaranya penuh kepanikan.Para penumpang memandangnya bingung.“Selena, ada apa?” tanya Rangga dengan alis terangkat.“Ra, tolong bantu aku! Suruh mereka turun! Ini soal hidup dan mati!” Selena berkata dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.Rangga tertegun. Tanpa banyak bertanya, dia segera membantu Selena. “Pak, Bu, ayo turun dari mobil ini, cepat!” ujarnya tegas.Namun, para p
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-06
Baca selengkapnya

BAB 21

Selena, Rangga, dan ayah Nicholas akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah selesai berurusan dengan polisi. Padahal, perjalanan mereka sudah setengah jalan. Namun, hati ayah Nicholas tak tega meninggalkan Selena yang tengah larut dalam kesedihan. Meski bukan anak kandungnya, kasih sayang ayah Nicholas kepada Selena begitu tulus, seolah-olah dia adalah putrinya sendiri. Dalam hati, dia bersyukur Selena selamat dan tidak mengalami hal yang lebih buruk.“Jadi, aku nggak jadi pulang kampung, Pa?” tanya Selena, suaranya lirih.“Tunggu sampai kamu benar-benar pulih. Kalau cuma mau tanya sesuatu ke Ustadz Sholeh, biar Papa undang dia ke Jakarta,” jawab ayah Nicholas tegas, berusaha menenangkan hati Selena.“Jangan lupa, Nak, kita harus terus waspada. Ibadah itu benteng kita. Setan akan selalu mencari celah untuk menggoda, memancing sisi negatif kita. Kalau kita lengah, mereka bisa masuk dan menguasai pikiran kita,” lanjutnya, memberi nasehat bijak.Selena mengangguk kecil, meski
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-07
Baca selengkapnya

BAB 22

Pagi harinya, Selena dan Rangga tiba di sekolah. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka tidak pergi bersama Linggar. Selena tampak gelisah, pikirannya terus berputar mencari jejak energi Jovi, yang hingga saat ini masih belum ditemukan. Sosok Jovi seolah lenyap tanpa jejak, meninggalkan tanda tanya besar di hati Selena.“Kemana ya, Ra? Kok aku masih nggak bisa nemuin Jovi…” gumam Selena lirih, berdiri di dekat bangunan kelas lamanya saat SMP, tempat di mana Jovi biasanya berada.“Mungkin dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik?” ujar Rangga, mencoba menenangkan.Selena terdiam, matanya menerawang jauh. Ia ingin mempercayai itu, tetapi ingatan terakhir tentang Jovi saat suara teriakannya memanggil nama Selena masih terlalu jelas. Rasanya mustahil Jovi pergi begitu saja tanpa pamit. Jovi pasti akan meninggalkan pesan, seperti halnya Teteh Putih dulu.“Ayo pergi. Kita coba cari ke tempat lain,” ajak Selena akhirnya. Rangga mengangguk dan mengikuti langkahnya.Di tengah kebimbangan itu
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-07
Baca selengkapnya

BAB 23

Selena baru saja tiba di rumah, dan saat ini dia tengah video call dengan Nicholas. Seperti biasa, Selena belajar malam ditemani oleh abang angkatnya yang selalu setia membantunya memahami pelajaran."Ooo... iya, iya, aku tahu, kenapa aku nggak kepikiran ya? Ih, aku benar-benar lupa." Selena tertawa geli, sementara Nicholas tertawa kecil di layar laptop."Makanya, kalau di sekolah jangan cuma sibuk main sama hantu terus, dek..." kata Nicholas, membuat Selena meringis mendengar gurauannya."Gimana lagi, bang? Aku terlahir dengan kelebihan ini, jadi nggak tega kalau lihat sosok yang tersesat..." jawab Selena dengan nada serius."Tapi, dek, abang rasa kayaknya kamu udah ada peningkatan baru, deh. Nggak sih?" Nicholas bertanya, Selena pun menatap layar laptop, penasaran."Peningkatan apa, bang?" tanya Selena, kebingungan."Kamu sekarang bisa lihat kejadian yang belum terjadi, kan? Abang yakin kalau kamu terus latih kemampuanmu, kamu pasti bisa lebih dari ini," kata Nicholas dengan keyakin
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-08
Baca selengkapnya

BAB 24

Keesokan harinya, Selena pergi ke sekolah bersama Linggar dan Rangga, seperti biasanya. Namun, kali ini pikirannya dipenuhi kegelisahan tentang Jovi yang berada di gedung olahraga.“Rangga, Li, kalian mau bantu aku, nggak?” tanya Selena, sedikit ragu.“Mau lah! Kenapa harus nanya? Kalau butuh bantuan, bilang aja, Sel,” jawab Linggar dengan nada tegas, mendahului Rangga.Selena tersenyum kecil. “Hehe, makasih, Li.”Linggar langsung membusungkan dada, menaik-turunkan alisnya penuh percaya diri.Rangga menatapnya dengan tatapan heran. “Li, kenapa sih lo baik banget sama Selena, tapi dingin banget kalau sama orang lain?”Linggar langsung melirik Rangga dengan tajam.“Tuh, tuh! Lirikan matanya udah kayak macan hutan. Serem banget,” cibir Rangga, sambil setengah bercanda. Sebenarnya, pertanyaan itu sudah lama ingin ia lontarkan, tapi baru kali ini ia punya keberanian.“Lo tuh ya, suka menilai orang dari tampang. Mana lo tau isi hati gue. Beda sama Selena,” balas Linggar sinis.Rangga melong
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-08
Baca selengkapnya

BAB 25

Selena terpental keras ke samping, tubuhnya terbentur dinding dengan kekuatan yang tak terduga. Di dunia nyata, Rangga dan Linggar terlihat panik. Sejak tadi, tubuh Selena mematung tanpa menghirup napas sama sekali. Mereka terus berusaha menyadarkannya, bahkan Rangga dan Linggar sama-sama mengucapkan doa dengan suara gemetar."Selena! Ya Allah, apa yang terjadi padamu?" Rangga berseru penuh kecemasan."Sel, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Linggar, suaranya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam.Tiba-tiba, Selena menarik napas dengan terengah-engah, seolah-olah udara di sekitarnya makin menipis. Napasnya sempat terhenti saat dia dan Jovi saling tarik menarik, namun akhirnya napas itu kembali mengalir deras."Jovi." Selena menyadari bahwa sosok Jovi berhasil melepaskan diri dari cengkeraman gelap.Di sampingnya, Selena menyaksikan Aki mencekik sosok tua yang sebelumnya mencengkeram Jovi. Sosok tua itu kini terlihat kelabakan dan panik sebelum Aki membawanya pergi dengan cepat dan tegas.Se
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-09
Baca selengkapnya

BAB 26

(Kilas balik Jovi, Tahun 1987)Jovi adalah anak yang pendiam, tumbuh dalam kemewahan, tetapi kekayaan keluarganya tak mampu menggantikan kekosongan kasih sayang yang dia butuhkan. Ayah dan ibunya, keduanya pekerja keras yang terjebak dalam rutinitas, jarang memiliki waktu untuk anak mereka yang kesepian."Pa, nanti bisa ikut kumpulan orang tua, kan?" tanya Jovi, suaranya penuh harap, mengharapkan sedikit perhatian dari sosok ayahnya."Jovi, papa udah bilang kan berkali-kali, papa sibuk. Nanti tanya mama aja," jawab ayahnya, tak sedikit pun melirik ke arah Jovi."Iya, pa," jawab Jovi, suara lirih menahan kecewa.Jovi sudah mencoba bertanya pada ibunya juga, dan jawabannya tak jauh berbeda. Keduanya tak pernah punya waktu. Sejak saat itu, Jovi belajar bahwa dia harus menghadapi dunia seorang diri. Setiap kali ada acara perkumpulan orang tua, Jovi akan datang tanpa pendamping, berjalan sendirian. Dia tak memiliki teman sejati, dan setiap kali dia mencoba mempercayai seseorang, dia hanya
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-09
Baca selengkapnya

BAB 27

Selena tiba di rumah, dan sepanjang perjalanan, pikirannya terusik oleh cerita pilu Jovi. Siapa sangka, di balik senyumnya yang selalu ceria, Jovi menyimpan luka mendalam yang begitu pahit.‘Terima kasih, ya Allah. Meski aku tak lagi memiliki orang tua, aku masih jauh lebih beruntung dibandingkan Jovi. Aku bersyukur atas semua jalan yang Engkau beri. Aku tahu, semua ini telah Engkau atur, dan sebaik-baiknya pelindung hanyalah Engkau,’ batin Selena dengan penuh rasa syukur.Ia kembali berbicara dalam hati, membayangkan wajah keluarganya. ‘Ayah, Bunda, Uti... Terima kasih atas cinta yang begitu besar. Meski aku tak dapat bersama kalian lebih lama, aku tetap merasakan kasih sayang kalian. Aku tidak sendiri, tidak pernah kesepian. Aku beruntung... sangat beruntung.’Dari arah pintu masuk, sosok Ayah Nicholas terlihat, lengkap dengan jubah dokternya. Selena yang melihat ayah angkatnya pulang, langsung tersenyum lebar."Papa!" serunya ceria. Ia berlari kecil, menghampiri, dan langsung menya
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-10
Baca selengkapnya

BAB 28

Selena duduk di tepi ranjangnya, tubuhnya bergetar pelan, dan air matanya mengalir deras. Ia baru saja terbangun dari mimpi yang begitu nyata, pertemuan pertamanya dengan sang bunda. Hatinya terasa sesak karena momen indah itu berakhir terlalu cepat. "Hiks… hiks… Bunda…" gumamnya di antara isakan yang semakin mengoyak ketenangannya. Mimpi itu, meski singkat, meninggalkan jejak yang dalam. Selena merasa begitu banyak yang ingin ia tanyakan, tetapi ibunya dalam mimpi itu menyuruhnya pergi sebelum sempat semua pertanyaannya terucap. Perasaan bercampur aduk membuatnya sulit untuk menenangkan diri. Dengan nafas tersengal, ia menghapus air matanya. "Snif… snif… hiks… hiks…" Perlahan, ia bangkit dan memutuskan untuk menenangkan hatinya dengan sholat malam. Di atas sajadahnya, Selena memohon dengan sepenuh hati. Ia meminta ketenangan, mendoakan orang tua yang telah tiada, serta mengenang kasih sayang sang uti yang membesarkannya dengan penuh cinta. "Robbana aatina fiddunya hasanah, w
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-10
Baca selengkapnya

BAB 29

Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya tiba di rumah Selena, yang tampak asri dan nyaman. Rumah lama itu kini telah direnovasi oleh Ayah Nicholas, namun tetap mempertahankan bentuk aslinya. Selena sengaja meminta agar rumah tersebut tidak diubah total, supaya kenangan bersama ayah dan utinya tetap terasa. Beberapa bagian diperkuat dan halaman depan kini lebih rapi, dengan tanaman yang tertata indah.Rumah itu dulunya menjadi tempat tinggal bagi anak-anak didik Ustad Sholeh, namun kini mereka sudah dipindahkan ke pondok baru yang dibangun Ayah Nicholas tidak jauh dari sana.Saat mobil berhenti, seorang wanita tua muncul dari dalam rumah. Dengan sigap, ia membantu Selena dan sopir menurunkan barang-barang bawaan."Wah, ini rumah siapa?" tanya Linggar, matanya menyapu rumah sederhana namun penuh karakter itu."Rumahku," jawab Selena dengan senyum penuh nostalgia, menatap rumah yang menyimpan sejuta kenangan bersama orang-orang yang dicintainya."Bang Rangga pulang!" Teriak seorang a
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-11
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
...
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status