Semua Bab Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan: Bab 301 - Bab 310

385 Bab

Tidak Akan Pernah Menyerah

Rajendra menarik napas. Menatap Livia dengan sorot penuh sesal. "Aku nggak mau kamu pura-pura lupa, Liv. Aku hanya mau kita memulai semuanya dari awal."Mendengarnya, Livia tersenyum pahit. "Harus mulai dari mana, Ndra? Dari aku yang nggak pernah ngeliat kamu sama Utary atau aku yang harus melupakan semua luka yang kamu kasih?"Rajendra tidak mampu bicara lagi. Ia tahu Livia masih menyimpan rasa sakitnya. Tapi apa semua itu tidak bisa diperbaiki? Apa memang sesulit ini memperbaiki hubungan mereka?Suara mobil boks yang datang menginterupsi mereka. Kru mobil mulai memasukkan barang-barang sesuai instruksi Livia.Setibanya di rumah baru Gadis langsung melompat turun dengan penuh semangat."Bunda, rumahnya bagus banget!" serunya sambil berlari ke arah pintu.Livia tersenyum melihat reaksi putrinya. Rumah itu tidak besar tapi cukup nyaman untuk mereka berdua. Yang terpenting jauh dari masa lalu yang ingin ditinggalkannya.Rajendra yang berdiri di belakang keduanya menatap rumah tersebut
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-08
Baca selengkapnya

Orang Lama Adalah Pemenangnya

Hari-hari terus terlewati. Livia mendapat pekerjaan baru di sebuah perusahaan. Meskipun tidak sebesar perusahaan Javier dulu tapi jenjang karirnya jelas dan memungkinkan karyawan untuk berkembang. Awalnya Rajendra meminta untuk bekerja di perusahaannya saja tapi Livia menolak. Namun Livia tidak bisa menolak ketika Rajendra terus mentransfer uang untuk Gadis dengan dalih sebagai tanggung jawabnya pada putri mereka.Rajendra juga melakukan kegiatannya seperti biasa. Mengantar dan menjemput Gadis ke sekolah. Mengajaknya main di hari Minggu dan sesekali mengajak menginap di rumahnya. Livia tidak pernah melarang selagi itu membuat Gadis bahagia.Rajendra juga tidak pernah mendesak Livia lagi karena berdasarkan pengalamannya Livia tidak suka dipaksa. Semakin didesak maka Livia akan semakin jauh darinya. Hingga tanpa terasa sudah empat tahun lamanya Rajendra menunggu."Minggu depan ulang tahun Gadis yang ke delapan. Gimana kalau kita rayakan di sekolah?" kata Rajendra setelah mengantar Gadis
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-09
Baca selengkapnya

Merajut Bahagia

Setelah semua tamu pulang dan rumah jadi sunyi, Gadis masih terlihat bersemangat. Ia duduk di pinggiran ranjang sambil memeluk boneka barunya, hadiah dari Lola. Senyumnya tidak pudar dari tadi di bibirnya. Anak itu benar-benar bahagia."Pa, Nda, malam ini kita tidur bertiga ya," pinta Gadis penuh harap.Livia melirik Rajendra yang berada di sebelahnya.Tatapan mereka berbicara begitu penuh makna. Livia tahu ini bukanlah permintaan biasa melainkan sebagai tanda bahwa Gadis benar-benar ingin bersama menjadi keluarga yang utuh.Rajendra mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Tentu, Sayang. Papa juga mau tidur dengan Bunda dan Adis malam ini."Tanpa menunggu jawaban lagi Gadis langsung merangkak ke tengah ranjang. Menepuk-nepuk kasur dengan penuh rasa antusias. "Papa, Bunda, ayo cepat naik. Adis udah nggak sabar."Livia tersenyum tipis lalu naik ke tempat tidur disusul oleh Rajendra. Gadis berada di tengah-tengah mereka. Tertawa riang karena akhirnya ia bisa tidur bersama ked
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Kebahagiaan Yang Terganggu

"Gadiiis! Ayo mandi, Nak," seru Livia yang sedang menyiapkan nasi goreng seafood, makanan kesukaan anak dan suaminya."Ini kan hari Minggu, Nda," protes Gadis yang lesehan di depan televisi sambil menonton film kartun favoritnya. Biasanya pada hari Minggu Livia memberi kelonggaran padanya untuk bersantai.Livia yang sudah selesai menata meja makan datang mendekat lalu menjelaskan kepada sang putri."Hari ini kita pergi sama Papa.""Ke mana, Nda?" tanya Gadis antusias."Kita mau lihat-lihat rumah.""Lihat-lihat rumah?" Gadis mengernyit bingung."Iya, Sayang. Papa mau beliin rumah baru buat kita bertiga." Rajendra langsung yang menjawab.Gadis langsung duduk dari posisinya. Mata anak itu berbinar melihat papanya. "Pa, Adis mau rumah yang ada kolam renangnya ya?""Siap. Apa pun yang Adis inginkan bakal Papa kasih."Gadis begitu gembira mendengar jawaban Rajendra. "Kalau gitu Adis mandi dulu, Pa." Ia berlari menuju kamar mandi.Livia yang melihat tingkah anak gadisnya hanya geleng-geleng
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Antarkan Dia Pada Ibunya!

Rajendra merasa geram pada tingkah papinya yang seenaknya mengoper Randu dan Lunetta ke rumahnya. Padahal Rajendra baru akan berbahagia bertiga dengan Gadis dan Livia."Tunggu sebentar."Rajendra menjauh meninggalkan Lunetta yang menangis.Tanpa membuang waktu Rajendra langsung menghubungi Erwin."Halo, Pi," sapanya ketika mendengar suara Erwin."Jadi Geri udah di sana?" kata Erwin seakan sudah tahu apa yang akan Rajendra katakan."Sudah. Dan Lunetta masih nangis-nangis. Pi, aku tahu Papi nggak bisa nerima dia dan Randu, tapi Lunetta masih kecil, Pi. Nggak pantas Papi marahi seperti itu.""Tahu apa lu tentang kejadiannya? Dia sengaja nyiram air kopi ke dokumen penting gua. Apa menurut lu gua harus tetap diam?""Tapi bukan berarti Papi menyuruh Geri buat nganterin dia ke sini. Aku baru aja mau bahagia sama Livia dan Gadis, Pi.""Gua nggak bermaksud ngerusak kebahagiaan lu dan Livia, Ndra. Gua ngerti lu udah lama menunggu untuk itu. Tapi udah saatnya lu anterin anak-anak itu ke emaknya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Kalau Bukan Donatur Jangan Ngatur

Hari itu rencana Rajendra dan Livia tetap berjalan. Mereka melihat-lihat rumah yang akan dibeli. Hanya saja vibes-nya terasa berbeda dengan kehadiran Randu dan Lunetta. Buat Livia, Randu bukan masalah. Anak itu walaupun anak Utary tapi sifatnya tidak seperti Utary. Anak itu sangat sopan dan patuh padanya. Ia bahkan menolong dengan menopang tubuh Livia ketika ia hampir tergelincir.Namun Lunetta, kehadirannya membuat Livia merasa tidak nyaman. Apalagi anak itu terang-terangan menunjukkan sikap tidak menyukainya."Pa, Adis mau yang ini, yang kolam renangnya di belakang," kata Adis saat marketer menunjukkan gambar dan denah rumah padanya."Boleh. Adis suka ini ya?""Suka banget, Pa. Nanti Adis bisa renang sama Bang Randu dan Kak Lunetta.""Aku nggak mau yang itu, Pa. Nggak bagus," sangkal Lunetta cepat."Jadi maunya kamu yang mana?" tanya Rajendra."Yang ini." Lunetta menunjuk gambar yang lain. "Yang ini kolam renangnya ada di depan. Ada seluncuran dan terowongannya juga, Jadi nanti aku
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Pelakor

Rajendra terdiam beberapa saat. Ia menatap Livia dengan sorot berpikir.Ohio. Tempat Sharon berada jika wanita itu masih hidup. Bagi Rajendra kembali ke sana sama dengan kembali ke masa lalu yang ingin ia tinggalkan."Liv, kamu yakin mau kita urus sekarang?"Livia mengangguk mantap. "Aku nggak mau terus-terusan ada konflik. Lunetta nggak bisa nerima aku karena dia merasa aku merebut kamu dari ibunya.""Aku ngerti. Tapi minggu depan anak-anak baru ujian. Gimana kalau saat anak-anak libur kita baru ke sana.""Itu artinya tiga minggu lagi?" Mata Livia membesar, sudah tidak tahan menunggu masa itu."Ya, kira-kira tiga minggu lagi."Livia mengesah, menunjukkan sikap tidak sabar. Bagaimana ia hidup satu rumah dengan anak tirinya yang kurang ajar dan terlalu cepat dewasa itu?"Kasihan Gadis kalau melewatkan ujiannya, Liv. Kita bisa pergi sekarang kalau mau, tapi aku nggak mau ninggalin Gadis." Rajendra menggenggam tangan Livia."Me too."Livia akhirnya setuju walau dalam hati ia merasa berat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Mengadu

Setibanya di sekolah Lunetta lebih dulu meloncat turun dari mobil. Sedangkan Randu menunggu Gadis."Bang Randu duluan aja. Adis mau ngobrol sebentar sama Bunda," kata Gadis pada Randu yang masih termangu menantinya.Randu mengangguk kemudian menyalami tangan Livia. Anak itu keluar dari mobil dan berjalan menuju kelasnya.Sementara itu Gadis yang duduk di sebelah Livia hanya diam mematung. Membuat Livia bertanya-tanya apa yang terjadi pada anaknya."Adis kenapa, Nak? Kenapa masih duduk di sini?"Gadis mendongak menatap pada Livia. Wajah anak itu terlihat bingung dan sedih."Tadi Kak Lunetta kenapa marah-marah sama Bunda? Emangnya Bunda salah apa?" Livia membisu sesaat mencari cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gadis tanpa membebani pikirannya."Bunda nggak salah apa-apa, Sayang," ujarnya lembut dengan penuh kasih."Tapi Kak Lunetta jahat. Dia kasar sama Bunda," ucap Gadis dengan mata berkaca-kaca.Livia segera memeluknya. "Kok nangis sih, Sayang? Bunda kan baik-baik aja, Nak."
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

Satu Beban Akan Berkurang

Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar. Seolah tak percaya pada kata-kata Livia."Dia bilang begitu?" ulangnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.Livia menghela napas panjang. "Iya, aku tahu dia masih kecil, belum bisa menerima situasi kita. Tapi kata-katanya tadi benar-benar menusuk, Ndra."Rajendra meremas rambutnya sendiri, merasa frustasi. Ia sudah sering menasihati Lunetta dan mengajarkan yang baik-baik tapi seolah semua percuma."Dari mana dia tahu istilah itu, Liv?""Entahlah. Mungkin diam-diam dia nonton sinetron di kamarnya," jawab Livia tidak pasti sambil duduk di sebelah Rajendra. "Salah kita juga, Ndra, ngasih anak-anak TV di kamar mereka.""Bukan salah kita, Sayang. Tapi salah aku. Aku terlalu memanjakan anak-anak. Memberi barang-barang yang belum mereka butuhkan.""Gimana kalau kita blokir siaran dewasa atau kita tarik TV dari kamar mereka? Jadi kalau mereka mau nonton TV cukup di ruang tengah," kata Livia mengusulkan.Rajendra mengangguk setuju.Hari itu jug
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

Saatnya Hampir Tiba

Ujian telah selesai. Hari penerimaan rapor pun tiba. Gadis mendapat juara satu yang membuat bahagia Rajendra dan Livia. Begitu pun dengan Randu. Ia mendapat juara pertama di kelasnya. Sedangkan Lunetta, alih-alih akan juara, nilainya hanya pas-pasan."Anak Papa hebat. Papa bahagia, Sayang. Papa jadi tambah sayang sama Adis." Rajendra menggendong Gadis sambil menciumi pipinya kanan kiri sampai puas.Adis tertawa riang dalam pelukan Rajendra. "Adis juga sayang Papa.""Adis mau hadiah apa?""Hhmm, apa ya?" Gadis terlihat berpikir sejenak. "Kalau jalan-jalan ke Disneyland boleh, Pa?" tanyanya ragu."Boleh dong. Untuk anak gadis cantik Papa apa sih yang enggak?""Asyiiik, makasih Pa!" Gadis mencium satu sisi pipi Rajendra.Livia yang baru saja memberi selamat dan melihat rapor Randu menyikut lengan Rajendra. "Ndra, gendong Lunetta juga. Kasih dia selamat," bisiknya."Apanya yang mau aku kasih selamat?" Rajendra balas berbisik."Seenggaknya dia ngerasa disayang sama kamu.""Iya, ntar lagi.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
2930313233
...
39
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status