Hari-hari terus terlewati. Livia mendapat pekerjaan baru di sebuah perusahaan. Meskipun tidak sebesar perusahaan Javier dulu tapi jenjang karirnya jelas dan memungkinkan karyawan untuk berkembang. Awalnya Rajendra meminta untuk bekerja di perusahaannya saja tapi Livia menolak. Namun Livia tidak bisa menolak ketika Rajendra terus mentransfer uang untuk Gadis dengan dalih sebagai tanggung jawabnya pada putri mereka.Rajendra juga melakukan kegiatannya seperti biasa. Mengantar dan menjemput Gadis ke sekolah. Mengajaknya main di hari Minggu dan sesekali mengajak menginap di rumahnya. Livia tidak pernah melarang selagi itu membuat Gadis bahagia.Rajendra juga tidak pernah mendesak Livia lagi karena berdasarkan pengalamannya Livia tidak suka dipaksa. Semakin didesak maka Livia akan semakin jauh darinya. Hingga tanpa terasa sudah empat tahun lamanya Rajendra menunggu."Minggu depan ulang tahun Gadis yang ke delapan. Gimana kalau kita rayakan di sekolah?" kata Rajendra setelah mengantar Gadis
Setelah semua tamu pulang dan rumah jadi sunyi, Gadis masih terlihat bersemangat. Ia duduk di pinggiran ranjang sambil memeluk boneka barunya, hadiah dari Lola. Senyumnya tidak pudar dari tadi di bibirnya. Anak itu benar-benar bahagia."Pa, Nda, malam ini kita tidur bertiga ya," pinta Gadis penuh harap.Livia melirik Rajendra yang berada di sebelahnya.Tatapan mereka berbicara begitu penuh makna. Livia tahu ini bukanlah permintaan biasa melainkan sebagai tanda bahwa Gadis benar-benar ingin bersama menjadi keluarga yang utuh.Rajendra mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Tentu, Sayang. Papa juga mau tidur dengan Bunda dan Adis malam ini."Tanpa menunggu jawaban lagi Gadis langsung merangkak ke tengah ranjang. Menepuk-nepuk kasur dengan penuh rasa antusias. "Papa, Bunda, ayo cepat naik. Adis udah nggak sabar."Livia tersenyum tipis lalu naik ke tempat tidur disusul oleh Rajendra. Gadis berada di tengah-tengah mereka. Tertawa riang karena akhirnya ia bisa tidur bersama ked
"Gadiiis! Ayo mandi, Nak," seru Livia yang sedang menyiapkan nasi goreng seafood, makanan kesukaan anak dan suaminya."Ini kan hari Minggu, Nda," protes Gadis yang lesehan di depan televisi sambil menonton film kartun favoritnya. Biasanya pada hari Minggu Livia memberi kelonggaran padanya untuk bersantai.Livia yang sudah selesai menata meja makan datang mendekat lalu menjelaskan kepada sang putri."Hari ini kita pergi sama Papa.""Ke mana, Nda?" tanya Gadis antusias."Kita mau lihat-lihat rumah.""Lihat-lihat rumah?" Gadis mengernyit bingung."Iya, Sayang. Papa mau beliin rumah baru buat kita bertiga." Rajendra langsung yang menjawab.Gadis langsung duduk dari posisinya. Mata anak itu berbinar melihat papanya. "Pa, Adis mau rumah yang ada kolam renangnya ya?""Siap. Apa pun yang Adis inginkan bakal Papa kasih."Gadis begitu gembira mendengar jawaban Rajendra. "Kalau gitu Adis mandi dulu, Pa." Ia berlari menuju kamar mandi.Livia yang melihat tingkah anak gadisnya hanya geleng-geleng
Rajendra merasa geram pada tingkah papinya yang seenaknya mengoper Randu dan Lunetta ke rumahnya. Padahal Rajendra baru akan berbahagia bertiga dengan Gadis dan Livia."Tunggu sebentar."Rajendra menjauh meninggalkan Lunetta yang menangis.Tanpa membuang waktu Rajendra langsung menghubungi Erwin."Halo, Pi," sapanya ketika mendengar suara Erwin."Jadi Geri udah di sana?" kata Erwin seakan sudah tahu apa yang akan Rajendra katakan."Sudah. Dan Lunetta masih nangis-nangis. Pi, aku tahu Papi nggak bisa nerima dia dan Randu, tapi Lunetta masih kecil, Pi. Nggak pantas Papi marahi seperti itu.""Tahu apa lu tentang kejadiannya? Dia sengaja nyiram air kopi ke dokumen penting gua. Apa menurut lu gua harus tetap diam?""Tapi bukan berarti Papi menyuruh Geri buat nganterin dia ke sini. Aku baru aja mau bahagia sama Livia dan Gadis, Pi.""Gua nggak bermaksud ngerusak kebahagiaan lu dan Livia, Ndra. Gua ngerti lu udah lama menunggu untuk itu. Tapi udah saatnya lu anterin anak-anak itu ke emaknya
Hari itu rencana Rajendra dan Livia tetap berjalan. Mereka melihat-lihat rumah yang akan dibeli. Hanya saja vibes-nya terasa berbeda dengan kehadiran Randu dan Lunetta. Buat Livia, Randu bukan masalah. Anak itu walaupun anak Utary tapi sifatnya tidak seperti Utary. Anak itu sangat sopan dan patuh padanya. Ia bahkan menolong dengan menopang tubuh Livia ketika ia hampir tergelincir.Namun Lunetta, kehadirannya membuat Livia merasa tidak nyaman. Apalagi anak itu terang-terangan menunjukkan sikap tidak menyukainya."Pa, Adis mau yang ini, yang kolam renangnya di belakang," kata Adis saat marketer menunjukkan gambar dan denah rumah padanya."Boleh. Adis suka ini ya?""Suka banget, Pa. Nanti Adis bisa renang sama Bang Randu dan Kak Lunetta.""Aku nggak mau yang itu, Pa. Nggak bagus," sangkal Lunetta cepat."Jadi maunya kamu yang mana?" tanya Rajendra."Yang ini." Lunetta menunjuk gambar yang lain. "Yang ini kolam renangnya ada di depan. Ada seluncuran dan terowongannya juga, Jadi nanti aku
Rajendra terdiam beberapa saat. Ia menatap Livia dengan sorot berpikir.Ohio. Tempat Sharon berada jika wanita itu masih hidup. Bagi Rajendra kembali ke sana sama dengan kembali ke masa lalu yang ingin ia tinggalkan."Liv, kamu yakin mau kita urus sekarang?"Livia mengangguk mantap. "Aku nggak mau terus-terusan ada konflik. Lunetta nggak bisa nerima aku karena dia merasa aku merebut kamu dari ibunya.""Aku ngerti. Tapi minggu depan anak-anak baru ujian. Gimana kalau saat anak-anak libur kita baru ke sana.""Itu artinya tiga minggu lagi?" Mata Livia membesar, sudah tidak tahan menunggu masa itu."Ya, kira-kira tiga minggu lagi."Livia mengesah, menunjukkan sikap tidak sabar. Bagaimana ia hidup satu rumah dengan anak tirinya yang kurang ajar dan terlalu cepat dewasa itu?"Kasihan Gadis kalau melewatkan ujiannya, Liv. Kita bisa pergi sekarang kalau mau, tapi aku nggak mau ninggalin Gadis." Rajendra menggenggam tangan Livia."Me too."Livia akhirnya setuju walau dalam hati ia merasa berat
Setibanya di sekolah Lunetta lebih dulu meloncat turun dari mobil. Sedangkan Randu menunggu Gadis."Bang Randu duluan aja. Adis mau ngobrol sebentar sama Bunda," kata Gadis pada Randu yang masih termangu menantinya.Randu mengangguk kemudian menyalami tangan Livia. Anak itu keluar dari mobil dan berjalan menuju kelasnya.Sementara itu Gadis yang duduk di sebelah Livia hanya diam mematung. Membuat Livia bertanya-tanya apa yang terjadi pada anaknya."Adis kenapa, Nak? Kenapa masih duduk di sini?"Gadis mendongak menatap pada Livia. Wajah anak itu terlihat bingung dan sedih."Tadi Kak Lunetta kenapa marah-marah sama Bunda? Emangnya Bunda salah apa?" Livia membisu sesaat mencari cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gadis tanpa membebani pikirannya."Bunda nggak salah apa-apa, Sayang," ujarnya lembut dengan penuh kasih."Tapi Kak Lunetta jahat. Dia kasar sama Bunda," ucap Gadis dengan mata berkaca-kaca.Livia segera memeluknya. "Kok nangis sih, Sayang? Bunda kan baik-baik aja, Nak."
Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar. Seolah tak percaya pada kata-kata Livia."Dia bilang begitu?" ulangnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.Livia menghela napas panjang. "Iya, aku tahu dia masih kecil, belum bisa menerima situasi kita. Tapi kata-katanya tadi benar-benar menusuk, Ndra."Rajendra meremas rambutnya sendiri, merasa frustasi. Ia sudah sering menasihati Lunetta dan mengajarkan yang baik-baik tapi seolah semua percuma."Dari mana dia tahu istilah itu, Liv?""Entahlah. Mungkin diam-diam dia nonton sinetron di kamarnya," jawab Livia tidak pasti sambil duduk di sebelah Rajendra. "Salah kita juga, Ndra, ngasih anak-anak TV di kamar mereka.""Bukan salah kita, Sayang. Tapi salah aku. Aku terlalu memanjakan anak-anak. Memberi barang-barang yang belum mereka butuhkan.""Gimana kalau kita blokir siaran dewasa atau kita tarik TV dari kamar mereka? Jadi kalau mereka mau nonton TV cukup di ruang tengah," kata Livia mengusulkan.Rajendra mengangguk setuju.Hari itu jug
Rumah besar Livia dan Rajendra kini terasa sunyi. Anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tapi di setiap akhir pekan rumah mereka selalu ramai oleh tawa canda cucu dan cicit mereka. Anak-anak selalu menawarkan Rajendra dan Livia untuk tinggal bersama mereka tapi keduanya menolak. Mereka lebih memilih untuk tinggal berdua saja dan menghabiskan masa tua bersama.Rajendra dan Livia saat ini sedang berada di kamar mereka. Rajendra sudah berumur 90 tahun sedangkan Livia 3 tahun di bawahnya. Keduanya berbaring di tempat tidur."Hujannya lama ya, Ndra, dari tadi nggak berhenti-henti," kata Livia sembari memandang ke luar jendela, pada titik-titik hujan yang terus berjatuhan."Iya, Sayang. Sekarang kan lagi musim hujan.""Dingin ..." Rajendra merengkuh Livia, memberi lengannya untuk istrinya itu berbaring sedangkan satu tangannya lagi memeluk tubuh Livia. Meski rambut mereka sudah sepenuhnya memutih dan wajah mereka sudah keriput tapi cinta mereka begitu kuat.Livia tersenyum. "Berada di peluk
Hari-hari setelah kehamilannya terasa berat bagi Gadis. Setiap hari ia mengalami morning sickness yang menyebabkan susah makan.Randu yang biasanya pagi-pagi berangkat ke kedutaan kini harus mengurus Gadis lebih dulu sebelum pergi ke kantornya."Makan dikit ya, Abang bikinin sup hangat atau maunya roti coklat aja?" kata Randu sambil mengelus pundak Gadis yang terduduk lemas di sofa.Gadis menggelengkan kepalanya. "Adis nggak mau apa-apa, Bang. Adis nggak selera makan apa pun.""Tapi setidaknya Adis harus makan sedikit biar ada isi perutnya. Ingat, Dis, anak kita juga butuh asupan."Gadis tersenyum melihat perhatian Randu dan kepanikannya di waktu yang sama. "Ya udah, Adis mau minum teh hangat aja sama roti coklat," putusnya walau kemudian kembali berakhir dengan muntah.Malam harinya saat video call dan mengetahui keadaan Gadis, Livia langsung mengambil keputusan."Ndra, aku harus berangkat.""Ke mana?" tanya Rajendra."Ke Turki. Aku harus nemenin Gadis. Dia butuh aku saat ini. Ini ke
Gadis dan Randu memulai kehidupan mereka sebagai suami istri begitu tiba di Ankara, ibukota Turki. Kota itu terasa begitu berbeda dengan suasana di Indonesia. Udara dingin menusuk di musim gugur. Arsitektur Eropa bercampur dengan sentuhan Ottoman serta hiruk pikuk kehidupan yang begitu asing bagi Gadis.Randu sebagai diplomat muda langsung disibukkan dengan pekerjaannya di kedutaan besar Indonesia. Seringkali ia harus menghadiri rapat dengan pejabat Turki, menerima delegasi dari Indonesia, atau menghadiri acara-acara diplomatik. Sementara itu gadis masih beradaptasi dengan kehidupan barunya. Awalnya ia merasa canggung tinggal di negeri orang. Namun Randu selalu berusaha membuatnya nyaman. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang luas dengan pemandangan kota Ankara yang indah.Setiap pagi Randu berangkat ke kedutaan, sementara gadis mulai membangun rutinitasnya sendiri. Ia mengambil kursus bahasa Turki agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Selain itu ia juga se
Hari keberangkatan Gadis dan Randu ke Turki semakin dekat. Di rumah keluarga Rajendra suasana haru kian terasa.Livia sibuk memastikan semua keperluan Gadis sudah siap. Ia berulang kali memeriksa koper putrinya hanya demi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal."Adis, kamu yakin semuanya udah lengkap? Paspor, obat-obatan, udah?" tanya Livia dengan suara bergetar.Gadis tersenyum tipis, ia mencoba menenangkan perasaan ibunya. "Udah, Bunda. Tenang aja, Adis udah cek berkali-kali, sama kayak Bunda."Namun, Livia tetap terlihat cemas. Tangannya gemetar saat merapikan baju-baju Gadis di koper."Nda, udah. Jangan kayak gini. Nanti Adis bakal sering nelepon dan video call sama Bunda kok," kata Gadis menenangkan sang bunda.Livia mengangguk tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia belum siap berpisah dengan Gadis, namun juga tidak mungkin menahan Gadis agar tetap bersamanya karena Gadis sudah menikah.Rajendra juga mencoba untuk tegar. Ia diam saja, memerhatikan semua persiapan denga
Akad nikah Gadis dan Randu sudah selesai dilaksanakan. Acara disambung dengan resepsi pernikahan.Acara tersebut tampak meriah. Para tamu yang datang terlihat puas. Baik oleh penyelenggaraan acaranya maupun dari hidangan yang disajikan. Wedding singer yang berada di atas panggung yang berada tidak jauh dari pelaminan tidak ada hentinya menyanyikan lagu romantis, membuat atmosfer penuh cinta semakin terasa."Liv, aku mau nyanyi boleh nggak?" kata Rajendra tiba-tiba."Hah?" Mata Livia melebar mendengarnya. "Emang kamu bisa nyanyi?""Bisa dong walau suara aku pas-pasan," kekeh Rajendra.Livia ikut tertawa. "Ya udah gih, nyanyi sana biar anak-anak tahu kalau papanya ada bakat terpendam.""Kamu mau ikutan nyanyi sama aku?""Aku ngeliat dari sini aja."Rajendra berjalan ke belakang panggung, berbicara dengan seseorang lalu naik ke atas panggung. Mikrofon yang tadinya ada di tangan wedding singer berpindah ke tangan Rajendra."Bang, itu Papa mau ngapain?" tanya Gadis yang duduk di pelaminan
Begitu mendapatkan restu dari Erwin, persiapan pernikahan Gadis dan Randu segera disiapkan.Livia yang paling sibuk. Ia memastikan bahwa semua berjalan lancar dan sempurna untuk anak perempuannya. Begitu pula dengan Rajendra. Ia lebih disibukkan dengan urusan administratif.Gadis menginginkan pernikahan yang sederhana tapi tetap elegan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka memutuskan menyewa gedung yang memiliki nuansa taman di dalamnya dengan lampu-lampu gantung. Sementara untuk dekorasinya sendiri dihiasi nuansa putih dan hijau yang menyimbolkan kesan alami dan damai.Untuk pakaian pengantin Randu mengenakan beskap putih klasik. Sedangkan Gadis memilih gaun putih gading dengan detail bordir yang lembut. Saat pertama kali mencobanya ia termenung di depan cermin, menyadari bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah.Mengenai undangan mereka mencetak undangan simpel dengan desain minimalis. Gadis dan Randu memutuskan hanya mengundang orang-orang terdekat. Meskipun begitu Rajendra
"Yang benar aja kamu, Ndra. Nggak mungkin Gadis nikah sama Randu!" Begitu kata Erwin di saat Rajendra mengatakan tentang rencana menikahkan kedua anaknya."Aku dan Livia juga kaget, Pi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai," ujar Rajendra pada Erwin."Kayak nggak ada orang lain aja." Erwin terlihat tidak setuju atas rencana pernikahan keduanya."Ya mau gimana lagi, Pi. Namanya juga cinta."Erwin terdiam. Ia kehilangan kata untuk menjawab kata-kata Rajendra."Pi, kita restui saja mereka. Jangan dipersulit," pinta Rajendra." Aku nggak ingin melihat anakku menderita apalagi kalau mereka sampai kawin lari."Erwin menghela napasnya lalu bertanya, "Sejak kapan mereka pacaran?""Sudah cukup lama, Pi. Livia yang punya firasat itu tapi aku nggak percaya. Sampai akhirnya keduanya mengaku."Erwin terdiam lagi seolah sedang memikirkan perkataan Rajendra. "Kamu nggak lupa siapa orang tua Randu kan, Ndra? Jangan lupa dia anak Utary dan nggak tahu siapa bapaknya.""Aku udah lupakan
"Liv love, kamu ngeliat Gadis nggak?" tanya Rajendra setelah masuk ke ruangan Livia. Setelah semua yang terjadi Livia juga bekerja di kantor menjadi asisten pribadi Rajendra. Lagi pula anak-anak sudah besar."Paling pergi makan siang bareng Randu," jawab Livia sambil merapikan ikatan rambutnya."Makin hari mereka semakin dekat," komentar Rajendra."Iya. Aku pun ngeliatnya begitu." Livia menimpali. "Kamu ngerasa nggak sih, kalau hubungan mereka kayak udah nggak wajar?""Nggak wajar gimana?" Rajendra mengerutkan dahinya.Livia tampak ragu namun tak urung mengatakan. "Aku ngeliat mereka kayak orang lagi pacaran. Benar nggak?"Rajendra tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja, Sayang. Randu dan Gadis kan dari kecil sudah tumbuh bersama. Mereka itu kakak adik. Nggak mungkin mereka seperti yang kamu bilang."Livia terdiam. Yang dikatakan Rajendra ada benarnya. Tapi firasatnya berkata lain. Sebagai seorang ibu ia tahu persis ada yang berbeda dalam hubungan Randu dan Gadis. Cara Randu menatap
Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang terlewati bagaikan anak panah yang melesat dengan cepat.Anak-anak sekarang sudah dewasa. Randu sudah bekerja sebagai salah satu staff di Kemenlu. Sedangkan Gadis melanjutkan kerajaan bisnis Rajendra bersama dengan Livia. Hubungan Gadis dengan Randu sangat dekat. Bahkan tidak bisa lagi dibilang sebagai kakak adik biasa. Tumbuh bersama sejak kecil dan melewatkan berbagai hal berdua membuat mereka saling terikat satu sama lain. Meski tidak ada pernyataan cinta yang terucap namun keduanya menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Rajendra dan Livia menganggap keduanya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak sedikit pun terbersit di pikiran mereka bahwa keduanya akan melewati batas itu."Dis, Abang pengen ngomong. Bisa nggak kita ketemuan makan siang nanti?" Itu pesan yang diterima Gadis dari Randu ketika ia sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantor."Ha