Home / Young Adult / Cinta itu Love / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of Cinta itu Love: Chapter 11 - Chapter 20

53 Chapters

Bab 11

“Exeeelll !” teriakku, saat melihat lelaki bertubuh jangkung itu melintas di depan kelasku.Seketika dia menoleh ke arahku.“Eehhhh ... Yayang Laras yang manggil.” Dia tersenyum sumringah.“Mau kemana? “ tanyaku.“Mau ke kantor dulu, nanti pulang sekolah tunggu gue dulu,” ucapnya terlihat terburu-buru menuju kantor entah ingin melakukan apa. Aku hanya mengangguk tak enak mengajaknya berbicara lebih lama.“Ma nanti pulang sekolah main duu yuk. Refresing sebelum ujian dimulai, “ ajakku pada Irma.“Hayo aja gue mah kalo diajakin,” ucapnya slowww.“Iyaaa ngerti gue, ntar kita ajak ATM aja, biar bisa seneng-seneng ga modal,” ucapku menaik turunkan alis.“Halahhh gue jadi obat nyamuk,” ucapnya. “Sebenernya loe itu mau ama abang gue apa sama Exel? tanya Irma, lagi.“Laahh Exel kan temenan doang,” ucapku.“Tapi dia suka sama elo Laraass, elo bego apa pura-pura bego,” tanya Irma sambil menoyor
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

Bab 12

Bab 12“Oohhh itu kaka gue, tar kapan-kapan gue kenalin ya,” jawab Exel sambil menghidupkan mobil dan melajukannya. “cantik,” gumamku. "Oohhh jadi itu kakanya Excel, mungkinkah dia ada hubungan special dengan pak Bagas? atau Pak Bagas ngajar di sini karna kakaknya Exel?" Aku terus bermain dengan pikiranku.Selama perjalanan pikiranku makin runyam. Mau mengorek keterangan dari Excel tapi harus menunggu waktu yang tepat, biar ngga disebut ‘kepo’. Duh Laras emang harus kepo biar tau informasi.“Irmaaaa ... Pelor banget loo.” Teriakku, saat ku tengok kebelakang, Irma sudah merebahkan tubuh dan terlihat pulas.“Ishh ... berisik, tar Kalo udah nyampe bangunin,” ujarnya, meraih bantal kecil, lalu menindih dengan kepalanya.“Kakanya Excel itu dokter, wisudanya bareng ama kaka gue, Ras, baru inget gue," ucap Irma yang sambil melanjutkan tidurnya.“Iya Bang?” ku tengok ke arah Exel yang fokus mengemudi.“Iya, dia
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

Bab 13

Bab 13"Perlu saya cium?" Aku menganga, menatap manik mata Pak Bagas, terpancar keseriusan di sana, dan aku tak menyangka guru kulkasku mengatakan hal ini.Teman-temanku bersorak mendengar penuturan Pak Bagas. Lelaki ini mendekatkan wajah ke arahku.Netraku membulat, semakin tak menyangka dia melakukan aksi ini di depan murid -muridnya. Sorak sorai mengikuti aksi guru kulkasku."Jangan Pak." Tanganku menahan pundak Pak Bagas agar tak semakin mendekat. kepalaku menggeleng pelan. Aku menelan saliva susah payah. Jarak kami sudah sangat dekat bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas Pak Bagas. Jantungku bertalu, hatiku mereog, embat Laras biar nggak penasaran. Aku menatap bibir kemerahan milik lelaki yang wajahnya hanya satu centi didepanku. Ya Tuhan malu Laras masa di depan temen-temen, hati baikku berkata."Ayo, ayo, sedikit lagi Laras," Suara-suara teman laknatku menyemangati kegiatan yang tak seharusnya terjadi ini.
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

Bab 14

Bab 14"Elo kenapa Ras? Kok tangan elo keringetan begini?" tanya Alya, ketika merasakan genggaman tangan Laras berkeringat."Nggak kenapa-kenapa, gue cuma!" Laras mencoba berfikir. "Ayo mikir Laras gimana caranya nggak kedeteksi itu cctv.""Al, elo duduk di sini dulu ya, gue kebelet banget." wajah Laras meringis, tangannya memegangi perut. Dengan sengaja dia kentut di hadapan Alya. "Ihh ... Jorok banget Ras?" Alya menutup hidung karna bau tak sedap yang dia hirup. "Sorry Al, gue nggak tahan, dari tadi gue tahan-tahan, tap --""Udah buruan sana!" Alya mengusir Laras. Laras terbirit menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi dia tebahak-bahak, nih pantat mendukung banget lagi, pas kebetulan pengen kentut.Segera Laras mengirim pesan pada Exel, panjang lebar. [Xel tolongin gue ya, plis. Apapun yang elo minta nanti gue kabulin deh. Ini rahasia kita berdua ya] send. Setelah meminta tolong Exel p
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

Bab 15

Bab 15"Pak tadi ruangannya di kunci nggak?" tanya Ida pada Ahmad. "Saya lupa, Bu, saking buru-buru tadi.""Roy." "I- iya, Bu! Dua teman kamu mana? Biasanya kamu selalu bertiga?" "Kan tadi saya bilang saya liat Exel di sini, Bu. Sekarang saya juga nggak tau dia di mana?" jawab Roy, di buat setenang mungkin, bisa gagal kalo dia gerogi. "Ya sudah, kamu masuk kelas, kabarin ibu kalo liat Exel." "Siap, Bu."Setelah Ida menjauh Roy segera menelpon Exel, " Bos elo di mana? Bu Ida udah menuju ke ruang Arsip.""Gue udah di dalam kelas," jawab Exel santai. Roy segera masuk kelas, menfoto Exel dan Boy yang sedang duduk di pojokan. Lalu mengirim pada Ida, yang sudah hampir sampai di ruang Arsip. "Ras semua beres nanti malam jalan ya sama Babang. Kan malam minggu." Exel menemui Laras siang ini. "Jangan malem Bang, mana bisa gue keluar rumah malam hari!" ujar Laras.
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

Bab 16

Bab 16Exel memarkir mobil di depan rumah Laras, lalu keluar dari mobilnya dan menekan tombol bel. Tak lama seraut wajah ayu keluar dengan senyum mengembang."Nak Exel, masuk." Dewi menghampiri gerbang membuka pintu kecil untuk Exel. "Laras lagi belajar di rumah Irma, mamih kira Nak Exel ikut, katanya tadi belajar bareng." Tanpa di tanya, Dewi menjelaskan pada Exel. "Ohh ... Ya udah Mih, saya ke sana aja ya," ujar Exel. "Nggak mau minum dulu?" tanya Mamih. "Mmm ... Sebenernya saya pengen ajak Laras jalan, Mih. Boleh nggak?""Loh, ini udah malam, Nak.""Bukan sekarang, Mih. Lain waktu.""kalo rame-rame, mamih bolehin, Nak. Tapi kalo berdua -" Dewi tak melanjutkan kalimatnya, wanita setangah abad ini mentaap Exel. "Duduk dulu yuk.""Nur, tolong buatkan minum." Perintah Dewi pada Asisten rumah tangganya. Dewi mempersilahkan Exel duduk."Gimana Mih?" tanya Exel sembari mendaratkan bokong."Gimana apanya?" "Saya mau ajak Laras jalan, sekedar jalan-jalan, menikmati udara malam hari."
last updateLast Updated : 2025-02-05
Read more

Bab 17

Hilir mudik anak menuju remaja di pintu gerbang sekolah menjadi pemandangan biasa bagi Paijo - si penjaga gerbang. Terlihat beberapa siswa yang memiliki kewenangan menertibkan murid berjajar di depan pagar bercat hitam ini. Lelaki tampan penguasa sekolah duduk sedikit menepi di dekat pohon besar, netranya awas menatap arah gerbang sekolah, bibirnya tersungging ketika melihat gadis yang selalu dia tunggu muncul, dari kejauhan. Laras terlihat berjalan tergesa menuju para siswa yang berbaris di depan gerbang, setelah memarkirkan motor. Hari ini dia tak boleh telat, harus datang lebih awal dari biasanya, harus sudah rapih dan berada di lapangan juga harus mengikuti pelajaran olah raga tanpa huru hara seperti biasanya. "Seneng banget kalian periksa kerapihan? Baru dua hari yang lalu? " tanya Laras pada siswa yang berbaris rapih memeriksa setiap siswa. "Iya biar makin tertib dan teratur," jawab Niken. "Sini liat jari-jari elo?" Niken meraih tangan Laras. "Ya ampun, ini sarang sy
last updateLast Updated : 2025-02-06
Read more

Bab 18

"Laras kamu ikut saya ke kantor?" Laras tercengang mendengar ajakan Bagaskara. "Mau ngapain, Pak?" tanya gadis tengil ini. Bagaskara tak menjawab pertanyaan Laras, guru idola itu langsung pergi meninggalkan lapangan karna jam olah raga telah usai. "Cieee ... Mau di kasih cipokan kali, elo sih tiap pelajaran olah raga bawaannya kaya ayam mau di potong," ujar Anti, meledek Laras yang masih memandang punggung Bagas."Nggak tau, tiap pelajaran olah raga kenapa paginya selalu apes ya?" ujar Laras."Udah sana mau di kasih doping, besok-besok minta dopingnya sebelum mulai olah raga biar jreng pas lari-lari." Teman yang lain menimpali sambil terkekeh. "Ishhh ... Emang gue sakit, butuh doping?" kesal Laras. "Ma, anterin gue yuk." "Perut gue mules banget, elo aja sendiri. Percuma juga gue anterin kalo nanti gue di usir, dia juga 'kan sensi banget liat muka gue.""Anti ayo anterin, mau ngapain Pak Bagas nyuruh gue ke kantor?" Laras was-was, memang tadi dia kena tegur lagi karna melamunkan
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Bab 19

Exel melihat Laras masih berdiri di dekat pilar menunggunya. Senyum terukir di bibir Laras, tak dapat di pungkiri Exel benar-benar mencintai Laras, seperti apapun terbakar cemburunya tadi seketika luruh ketika melihat bibir Laras yang melengkung indah. Tak bisa Exel benci atau marah pada gadis berwajah oriental ini. "Bang, abis ngapain sama Pak Bagas?" Laras menautkan jemarinya di lengan Exel. Exel tak menjawab dia memasang wajah datar. Hanya melirik pada jemari yang mengait di lengannya. "Kenapa sih, Bang? Belakangan ini elo kaya bt terus tuh muka?" mereka masih berjalan bergandengan. Masih tak ada jawaban dari Exel. "Bang!!" Laras menarik lengan Exel, langkah kaki mereka berhenti. Laras memasang wajah penasaran. Terlihat menggemaskan di mata Exel. "Kamu mau tau kenapa aku boring belakangan ini?" Laras mengangguk. "Mau tau karna penasaran doang, atau karna peduli?" tanya Exel menatap wajah Laras, mencari jawaban jujur. "Peduli dong, Bang, kita 'kan sahabat, kalo
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

Bab 20

Part 20Bel sekolah berdentang beberapa kali tanda waktu belajar hari ini sudah berakhir. Laras memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. "Ma, gue di ajakin Exel buat anter dia latihan sore nanti abis Ashar ikut yuk," ajak Laras. "Ya ... nggak bisa, gue suruh ke toko ama nyokap gue, jaga kasir." "Yah ... Nggak sama elo boleh nggak ya ama Nyokap gue," Laras mulai gelisah. "Ya udah batalin aja anter Exel nya, dari pada di nyap-nyap, sama nyokap elo. Tau sendiri nyokap elo kalo marah gimana?" Irma terkikik, mungkin mengingat Emak kalo lagi ngomel. "Masalahnya gue bayar utang ini, Excel bisa marah sama gue kalo sampe gue batalin lagi, beberapa hari ini dia agak-agak beda sama gue. Jutek, nyebelin, kaya waktu belum akrab dulu, tapi Alhamdulillahnya masih mau belain gue di depan Bu Ida tadi.""Jangan-jangan dia tau kalo elo naksir abang gue? 'Kan udah gue bilang, kalo Exel sampe tau dan marah, elo bakalan rugi!! apalagi dia penguasa di sini nanti kaya di drama-drama tivi, elo dising
last updateLast Updated : 2025-02-10
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status