Share

Bab 14

Author: Azzurra
last update Last Updated: 2025-02-03 17:00:15

Bab 14

"Elo kenapa Ras? Kok tangan elo keringetan begini?" tanya Alya, ketika merasakan genggaman tangan Laras berkeringat.

"Nggak kenapa-kenapa, gue cuma!" Laras mencoba berfikir. "Ayo mikir Laras gimana caranya nggak kedeteksi itu cctv."

"Al, elo duduk di sini dulu ya, gue kebelet banget." wajah Laras meringis, tangannya memegangi perut. Dengan sengaja dia kentut di hadapan Alya.

"Ihh ... Jorok banget Ras?" Alya menutup hidung karna bau tak sedap yang dia hirup.

"Sorry Al, gue nggak tahan, dari tadi gue tahan-tahan, tap --"

"Udah buruan sana!" Alya mengusir Laras.

Laras terbirit menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi dia tebahak-bahak, nih pantat mendukung banget lagi, pas kebetulan pengen kentut.

Segera Laras mengirim pesan pada Exel, panjang lebar.

[Xel tolongin gue ya, plis. Apapun yang elo minta nanti gue kabulin deh. Ini rahasia kita berdua ya] send.

Setelah meminta tolong Exel p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Cinta itu Love   Bab 15

    Bab 15"Pak tadi ruangannya di kunci nggak?" tanya Ida pada Ahmad. "Saya lupa, Bu, saking buru-buru tadi.""Roy." "I- iya, Bu! Dua teman kamu mana? Biasanya kamu selalu bertiga?" "Kan tadi saya bilang saya liat Exel di sini, Bu. Sekarang saya juga nggak tau dia di mana?" jawab Roy, di buat setenang mungkin, bisa gagal kalo dia gerogi. "Ya sudah, kamu masuk kelas, kabarin ibu kalo liat Exel." "Siap, Bu."Setelah Ida menjauh Roy segera menelpon Exel, " Bos elo di mana? Bu Ida udah menuju ke ruang Arsip.""Gue udah di dalam kelas," jawab Exel santai. Roy segera masuk kelas, menfoto Exel dan Boy yang sedang duduk di pojokan. Lalu mengirim pada Ida, yang sudah hampir sampai di ruang Arsip. "Ras semua beres nanti malam jalan ya sama Babang. Kan malam minggu." Exel menemui Laras siang ini. "Jangan malem Bang, mana bisa gue keluar rumah malam hari!" ujar Laras.

    Last Updated : 2025-02-04
  • Cinta itu Love   Bab 16

    Bab 16Exel memarkir mobil di depan rumah Laras, lalu keluar dari mobilnya dan menekan tombol bel. Tak lama seraut wajah ayu keluar dengan senyum mengembang."Nak Exel, masuk." Dewi menghampiri gerbang membuka pintu kecil untuk Exel. "Laras lagi belajar di rumah Irma, mamih kira Nak Exel ikut, katanya tadi belajar bareng." Tanpa di tanya, Dewi menjelaskan pada Exel. "Ohh ... Ya udah Mih, saya ke sana aja ya," ujar Exel. "Nggak mau minum dulu?" tanya Mamih. "Mmm ... Sebenernya saya pengen ajak Laras jalan, Mih. Boleh nggak?""Loh, ini udah malam, Nak.""Bukan sekarang, Mih. Lain waktu.""kalo rame-rame, mamih bolehin, Nak. Tapi kalo berdua -" Dewi tak melanjutkan kalimatnya, wanita setangah abad ini mentaap Exel. "Duduk dulu yuk.""Nur, tolong buatkan minum." Perintah Dewi pada Asisten rumah tangganya. Dewi mempersilahkan Exel duduk."Gimana Mih?" tanya Exel sembari mendaratkan bokong."Gimana apanya?" "Saya mau ajak Laras jalan, sekedar jalan-jalan, menikmati udara malam hari."

    Last Updated : 2025-02-05
  • Cinta itu Love   Bab 17

    Hilir mudik anak menuju remaja di pintu gerbang sekolah menjadi pemandangan biasa bagi Paijo - si penjaga gerbang. Terlihat beberapa siswa yang memiliki kewenangan menertibkan murid berjajar di depan pagar bercat hitam ini. Lelaki tampan penguasa sekolah duduk sedikit menepi di dekat pohon besar, netranya awas menatap arah gerbang sekolah, bibirnya tersungging ketika melihat gadis yang selalu dia tunggu muncul, dari kejauhan. Laras terlihat berjalan tergesa menuju para siswa yang berbaris di depan gerbang, setelah memarkirkan motor. Hari ini dia tak boleh telat, harus datang lebih awal dari biasanya, harus sudah rapih dan berada di lapangan juga harus mengikuti pelajaran olah raga tanpa huru hara seperti biasanya. "Seneng banget kalian periksa kerapihan? Baru dua hari yang lalu? " tanya Laras pada siswa yang berbaris rapih memeriksa setiap siswa. "Iya biar makin tertib dan teratur," jawab Niken. "Sini liat jari-jari elo?" Niken meraih tangan Laras. "Ya ampun, ini sarang sy

    Last Updated : 2025-02-06
  • Cinta itu Love   Bab 18

    "Laras kamu ikut saya ke kantor?" Laras tercengang mendengar ajakan Bagaskara. "Mau ngapain, Pak?" tanya gadis tengil ini. Bagaskara tak menjawab pertanyaan Laras, guru idola itu langsung pergi meninggalkan lapangan karna jam olah raga telah usai. "Cieee ... Mau di kasih cipokan kali, elo sih tiap pelajaran olah raga bawaannya kaya ayam mau di potong," ujar Anti, meledek Laras yang masih memandang punggung Bagas."Nggak tau, tiap pelajaran olah raga kenapa paginya selalu apes ya?" ujar Laras."Udah sana mau di kasih doping, besok-besok minta dopingnya sebelum mulai olah raga biar jreng pas lari-lari." Teman yang lain menimpali sambil terkekeh. "Ishhh ... Emang gue sakit, butuh doping?" kesal Laras. "Ma, anterin gue yuk." "Perut gue mules banget, elo aja sendiri. Percuma juga gue anterin kalo nanti gue di usir, dia juga 'kan sensi banget liat muka gue.""Anti ayo anterin, mau ngapain Pak Bagas nyuruh gue ke kantor?" Laras was-was, memang tadi dia kena tegur lagi karna melamunkan

    Last Updated : 2025-02-08
  • Cinta itu Love   Bab 19

    Exel melihat Laras masih berdiri di dekat pilar menunggunya. Senyum terukir di bibir Laras, tak dapat di pungkiri Exel benar-benar mencintai Laras, seperti apapun terbakar cemburunya tadi seketika luruh ketika melihat bibir Laras yang melengkung indah. Tak bisa Exel benci atau marah pada gadis berwajah oriental ini. "Bang, abis ngapain sama Pak Bagas?" Laras menautkan jemarinya di lengan Exel. Exel tak menjawab dia memasang wajah datar. Hanya melirik pada jemari yang mengait di lengannya. "Kenapa sih, Bang? Belakangan ini elo kaya bt terus tuh muka?" mereka masih berjalan bergandengan. Masih tak ada jawaban dari Exel. "Bang!!" Laras menarik lengan Exel, langkah kaki mereka berhenti. Laras memasang wajah penasaran. Terlihat menggemaskan di mata Exel. "Kamu mau tau kenapa aku boring belakangan ini?" Laras mengangguk. "Mau tau karna penasaran doang, atau karna peduli?" tanya Exel menatap wajah Laras, mencari jawaban jujur. "Peduli dong, Bang, kita 'kan sahabat, kalo

    Last Updated : 2025-02-09
  • Cinta itu Love   Bab 20

    Part 20Bel sekolah berdentang beberapa kali tanda waktu belajar hari ini sudah berakhir. Laras memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. "Ma, gue di ajakin Exel buat anter dia latihan sore nanti abis Ashar ikut yuk," ajak Laras. "Ya ... nggak bisa, gue suruh ke toko ama nyokap gue, jaga kasir." "Yah ... Nggak sama elo boleh nggak ya ama Nyokap gue," Laras mulai gelisah. "Ya udah batalin aja anter Exel nya, dari pada di nyap-nyap, sama nyokap elo. Tau sendiri nyokap elo kalo marah gimana?" Irma terkikik, mungkin mengingat Emak kalo lagi ngomel. "Masalahnya gue bayar utang ini, Excel bisa marah sama gue kalo sampe gue batalin lagi, beberapa hari ini dia agak-agak beda sama gue. Jutek, nyebelin, kaya waktu belum akrab dulu, tapi Alhamdulillahnya masih mau belain gue di depan Bu Ida tadi.""Jangan-jangan dia tau kalo elo naksir abang gue? 'Kan udah gue bilang, kalo Exel sampe tau dan marah, elo bakalan rugi!! apalagi dia penguasa di sini nanti kaya di drama-drama tivi, elo dising

    Last Updated : 2025-02-10
  • Cinta itu Love   Bab 21

    Tak kalah bertalu jantung Laras, apa lagi Exel semakin mendekatkan wajahnya. "Bang." Laras menahan pundak Exel. Tetapi Exel terus mendekat dan tersenyum, "Mana kunci seatbeltnya?" Netra lelaki tinggi ini beralih pada sebelah kiri bangku yang diduduki Laras. Tangan Laras meraba, netranya mencari. "Ini, Bang." Laras menarik kepala sabuk pengaman. Exel masih tersenyum berusaha mengontrol rasa di dadanya. ingin dia cium bibir Laras walau kilat. Mereka menghembuskan nafas lega ketika sudah dalam posisi masing-masing. Akhirnya mobil sampai di depan rumah Laras. "Ayo turun dulu, Bang." Exel mengangguk. "Aku nggak mau tau, pokoknya Mamih harus ngizinin ya, Ras." "Kayanya boleh, 'kan bukan malem. Ayo," Laras turun dari mobil membuka pintu pagar lalu masuk ke dalam rumah, Exel menunggu di teras." Tak lama Dewi muncul menemui Excel. "Nak Exel." Dewi menyapa. "Mih." Lelaki jangkung ini mencium tangan Dewi. "Katanya mau ajak Laras latihan karate?" "Iya, Mih. Mau sekalian la

    Last Updated : 2025-02-11
  • Cinta itu Love   bab 22

    Warung bakso tempat mereka mengisi perut setelah latihan yang menguras energi, mereka memutuskan menyantap makanan berkuah ini.Exel makan dalam diam, tak jauh berbeda Laras pun hanya diam. Bagaskara menatap dua orang ini hatinya bersorak riang. Ternyata ada gunanya juga teman adiknya ini. Dewi fortuna seolah sedang berpihak padanya. Laras gadis yang disukai Exel, menaruh hati padanya. "Mpok, aku mau ke toilet dulu," ujar Andi, tanpa sadar memanggil Mpok."Ish ...." Netra Laras membola menatap Andi. Andi mengusap tengkuk, bibirnya tersungging. "Kak, aku ke toilet dulu, jangan di tinggal." Ralat Andi, khawatir di tinggal karna salah panggil. Bibirnya masih melengkung kikuk, karna Laras masih menatapnya kesal. "Kalo ditinggal nanti, Mas antar," ujar Bagaskara. Setelah Andi pergi Bagas mengambil tisu. Lalu mengarahkan tangan ke kening Laras. "Baksonya pedes? Sampe keringetan begini?" Bagas mengusap kening Laras. Laras tersentak mendapati perbuatan Bagas, si guru tampannya.Netra Bag

    Last Updated : 2025-02-12

Latest chapter

  • Cinta itu Love   Bab 53

    Excel berjalan mengikuti langkah lelaki bersetelan jas rapih. Si lelaki membukakan pintu mobil yang sudah menunggu di parkiran. Wajah Excel berubah ketika mengetahui di dalam mobil ada Nata sudah menunggu sejak tadi. Lelaki jangkung ini berniat meninggalkan mobil tapi di hadang seorang lelaki bertubuh besar. Dengan terpaksa Excel masuk ke dalam mobil. Nata menatap Excel tajam. "Papah sudah atur pernikahan kamu, kalau kamu terus-terusan bikin masalah begini kamu hanya akan membuat reputasi Papah hancur. setidaknya dengan menikah kamu akan ada yang mengatur. Ada yang menunggu. Dengar, kali ini kamu tidak boleh menolak. Papah nggak mau ada masalah di luar kendali Papah, apalagi masalah dengan wanita.""Terserah, walau aku menikah tak akan ada perempuan manapun yang bisa buat aku jadi baik kecuali ..." Nata menicingkan mata, menunggu kelanjutan ucapan anaknya. "Kecuali apa?" Excel mengibaskan tangan enggan menjawab, menjawab pun pasti tak akan ada gunanya, mana pernah Nata mengabulka

  • Cinta itu Love   Bab 52

    Laras semakin tak bergairah begitu mendengar nama Excel di sebut. Kresss ... Suara kunyahan di mulut Irma terdengar melambat. "Lo kenapa lagi? Kok di tekuk lagi itu muka. Udah relain aja Mas Bagas, lagian ada Excel yang famous dan tajir melintir, nanti lo punya ipar julid." Irma terbahak, membuat wajah Laras semakin suram. "Tadi gue kesel banget sama Excel, Ma." Suara Laras lesu tak bergairah. "Kenapa?" "Wajar nggak sih, gue nggak percaya sama Excel kalo dia bilang cinta sama gue, secara! dia cewenya banyak, sering ngajakin cewe-cewe pergi, apalagi Niken." Laras kembali mengingat Niken. "Apa Niken yang ngerjain gue," gumam Laras. "Ngerjain apa?" "Gue belum cerita ke elo, ya?? Cerita nggak ya? Malu gue kalo cerita." Suara Laras pelan, khawatir ada yang mendengar. Irma menaruh gelas minuman. "Kayanya serius, masalah apa? Cerita dong." Irma mendekatkan kepala ke wajah Laras, terlihat sangat penasaran. "Ma, ini rahasia kita berdua ya." Laras mencoba memastikan Irma tak meny

  • Cinta itu Love   Bab 51

    Irma mengantarkan Laras pulang, karna khawatir di jalan, keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Entah apa yang sudah terjadi pada Laras siang ini, pikir Irma. “Assalamu’alaikum.“ salam dua gadis ini.“Waalaikumsalam,” jawab Dewi dari dalam.“Eehhh Irma, tumben Irma main? Udah lama ga pada main ke sini? Mamih rindu loohhh,” ucap Dewi, ramah. Memang pembawaan Dewi yang ramah membuat anak-anak betah main di rumah Laras.“Iyaa Mam, kan abis ujian baru beres,” jawab Irma sambil mencium tangan Dewi. “Lohhhh anak Emak kenapa ini sendu banget, pulang sekolah ko kaya lemes begini? “ Dewi menyambut mereka dengan berondongan pertanyaan.“Laras masuk kamar dulu, Mak, nanti Laras cerita ke Emak," ucap Laras langsung menuju kamar.Irma suka tergelitik tak dapat menyembunyikan senyum mendengar panggilan Laras kepada Dewi. ‘Emak', Beneran kalo liat penampilan Laras sama Mamih itu kontras banget kalo panggil 'emak.“Ayu Ma, di kamar aja,” ajak Laras. Di dalam kamar Irma langsung menaruh bobot tub

  • Cinta itu Love   Bab 50

    Hingga beberapa waktu Laras bangkit dari duduk. gadis ini mendongak ke atas, memperhatikan sesuatu di atas pohon. Perlahan dia membuka sepatu, dan mulai menaiki pohon besar ini. Excel yang memperhatikan dari jauh mengernyitkan kedua alis. Gegas lelaki ini menghampiri Laras. "Kamu mau ngapain Ras? Jangan gila, kamu mau bunuh diri?" Excel panik di bawah pohon karna Laras sudah ada di atas dahan lumayan tinggi."Bang, elo ada di sini?" Bang gue nolongin kucing, kakinya kejepit dahan barusan," Laras panik begitu melihat kebawah ternyata dia sudah berada di ketinggian. Kakinya bergetar, tangannya memegangi dahan erat, kucing tadi sudah melompat entah kemana setelah Laras berhasil mengeluarkan kakinya dari jepitan dahan. Kini dia yang terjebak di sini. Tanpa pikir panjang Excel melepas sepatu, dan dengan cepat menaiki pohon meraih tubuh Laras, perlahan mereka turun. "Lagian kamu tuh, ngapain di sini sendirian, untung ada aku," gumam Excel setelah mereka sampa

  • Cinta itu Love   Bab 49

    pucuk dicinta ulam pun tiba. Netra Laras mendapati Bagaskara sedang menikmati segelas kopi dingin di pojokan kantin. “Assalamualaikum, Pak. “ Salam Laras pada sosok tampan di depannya yang sedang fokus pada buku yang dipegang. “Waalaikumsalam,” jawab Bagas menengok ke asal suara. “Eehhh Laras,” ucapnya lagi, menatap Laras yang berdiri di hadapannya. “Ada apa? Kamu nggak ada kelas lagi?” tanyanya. “Eemmm, ada Mas. Emm ... saya mau bicara boleh? “ tanya Laras gerogi, jari-jari tangan saling menaut. Gadis ini tak berani menatap Bagaskara. “Silahkan duduk. Mau tanya apa?” Bagas mempersilahkan Laras duduk di kursi yang berada dihadapannya, menutup buku yang dia pegang lalu menyeruput es kopi yang terlihat begitu segar. Laras melirik pada Bagas, kerongkongannya seketika ikut terasa segar melihat yang segar-segar meminum minuman segar. Ji ahhhh Laras, tau aja sama yang seger-seger. “Maaf Mas, Mas beneran nggak ngajar di kelas saya lagi setelah ini?” "Iya, Pak Arif sudah aktif ngaj

  • Cinta itu Love   Bab 48

    Alya melambaikan tangan pada Laras yang menengok padanya. Laras menghampiri Alya. "Kenapa, Al??" tanya Laras. Alya mengajak Laras sedikit menepi dari keramaian. Ras. Lo udah ada pilihan kampus?" tanya Alya. Laras mengangguk. "Lo pilih di mana?" "Belum pasti juga, gue mau kompromi sama Abang gue dulu." "Iya tapi lo mau pilih di mana kira-kira," tanya Alya penasaran. Pilihannya tiga, palingan gue pilih, yang ini, ini, sama ini." Laras memberikan gambaran pada Alya. "Ya ampun." Alya uring-uringan. "Kenapa lo uring-utingan begitu? Emang kenapa kampus pilihan gue??" "Ras, lo udah lupa taruhan kita? Kita batalin aja, ya." Wajah Alya terlihat memelas. "Oh. No." Laras menyilangkan tangan di depan dada. "Lo bakal kalah makanya minta di batalin, coba gue yang kemungkinan kalah pasti di kepala lo udah bejibun rencana buat ngerjain gue." "Ya udah buruan kita realisasikan, kapan kita nembak Pak Bagas biar pasti. Kita harus segera milih kampus," ujar Alya. Tetapi raut wajahnya begitu ter

  • Cinta itu Love   Bab 47

    Hilir mudik terlihat di area sekolah. Pagi ini terasa berbeda untuk Laras. Dia sangat bersemangat pagi ini, selain dia di beri lagi kebebasannya membawa motor kesayangannya sendiri, hari ini dia ada pelajaran olah raga, "kita ketemu lagi Mas Bagas." Semangat Laras. Walau ada yang mengganjal di hati tapi Laras tak ambil pusing. Menurut rumor yang beredar Bagaskara hari ini terakhir mengajar di kelas Laras. Laras ingin memastikannya bertanya langsung pada Bagaskara nanti. Laras memarkir motor apik. Gadis ini turun dan merapikan penampilan sebelum melenggang menuju kelas. Segerombolan anak-anak sedang mengamati di bawah pohon tanpa Laras sadari. Priwuiiitttt. Laras menengok ke asal siulan panjang. Bibirnya mencebik mendapati Boy menggodanya. Dengan cepat Laras memalingkan wajah kembali melangkahkan kaki. Tak lama kembali suara siulan seperti sengaja menggodanya. Kembali Laras menengok, dan mengepalkan tangan, "Awas, lo." Hanya bibirnya yang bergerak. Kembali dia berjalan menuj

  • Cinta itu Love   Bab 46

    Excel bangun dari dari tubuh Laras karna dengan membabi buta tangan dan kakinya meninju dan menjejek Excel. Hingga dengkul Laras mengenai sesuatu yang sangat di jaga Excel."Aduh ..." Excel meringis memegangi pejantanntangguhnya. Bibir Laras tertarik kebelakang, salah tingkah. "Ya ampun, Bar-bar banget tau begini, tadi gue embat aja kamu, Ras." gerundel Excel. Bangun perlahan duduk di tepi ranjang."Gue pecat jadi temen, kalo lo berani!" Salak Laras. Excel tersenyum miris, kapan statusnya berubah, udah di cium aja statusnya masih temen. Duh cinta susah banget di dapet, monolog Excel,sambil mengelus-elus kejantanannya."Bang, baju gue tadi pada kemana?" tanya Laras setelah rapih menggunakan pakaian lengkap tanpa daleman, dia merasa tak nyaman bergerak, jadi dia hanya duduk sambil merapatkan tangan di dada."Udah biarin nanti gue beresin. Ayo buruan pulang, keburu malam, untung Mamih nggak telpon terus." Mereka meninggalkan Apartemen."Mamih lagi ketemu sodara-sodaranya, lagi asik mak

  • Cinta itu Love   Bab 45

    Beberapa waktu sebelum ini. "Bang, gue kenapa ini?" Laras bertanya, bibirnya bergetar. Excel memberikan sebuah pil. "Ini minum dulu, biar kepala kamu nggak berat." Laras menerima gelas dan obat yang di berikan Excel, lalu meminumnya. Setelah meminum obat masih belum ada reaksi apapun, Laras masih terasa gelisah, jari-jari tangannya memijat pangkal hidung. Lelaki ini mengambil anduk dan bathrobe, lalu memakaikan ke tubuh Laras. "Ayo keringin badannya dulu." Excel mengangkat tubuh Laras, dia berusaha memejamkan mata melihat penampakan Laras, setelah bathrobe di pakai Excel membopong Laras."Bang." Mereka saling pandang. "Tenang, nanti juga nggak apa-apa. Ada aku," ucap Excel membawa Laras ke pembaringan. Excel gesit mengeringkan rambut Laras. Mengambil pakaian Laras yang tergantung di kamar mandi. Lelaki ini malu sendiri menatap pakaian dalam Laras. Tetapi tetap meraih dan membawa untuk di pakaikan ke Laras. Tubuh Laras mengigil. Bibinya bergetar, "Mak." Laras bergumam memangg

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status