Home / Young Adult / Terjerat Pesona Kakak Tiriku / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Terjerat Pesona Kakak Tiriku: Chapter 21 - Chapter 30

71 Chapters

Chapter 21 (Hasutan Erika)

"Ada apa dengan wajahmu?!" tanya Erika, senyum penuh arti terukir di bibirnya. Ia memperhatikan dengan saksama perubahan ekspresi Revan saat mendengar hinaannya terhadap Adnessa. Ada sedikit rasa puas melihat reaksinya.Erika, dengan dress merah menyala yang sedikit terbuka di bagian dadanya, melangkah mendekat ke mobil Revan. Gerakannya anggun dan provokatif, seolah sengaja memamerkan lekuk tubuhnya. Tubuh molek Erika memang mampu menghipnotis mata para pria di sekitarnya, tatapan mata mereka mengikuti setiap gerakannya. Namun, tidak demikian dengan Revan. Sejak pertama kali melihat Erika mengejar-ngejar Axcel, sahabatnya, hingga detik ini, ia justru merasa geli. Tidak ada sedikit pun ketertarikan yang ia rasakan pada gadis yang kini berdiri di depan kaca mobilnya.Revan menatap Erika dengan tatapan datar, nyaris jijik. Dalam hatinya, ia menggelengkan kepala. "Di, Aldy. Wanita seperti ini bisa-bisanya lo suka," gumamnya pelan, teringat pada Aldy, sahabatnya yang dulu pernah mati-matia
last updateLast Updated : 2024-12-24
Read more

Chapter 22 (Akhir drama Erika, Part 1)

Revan menatap Axcel dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada campuran antara kebingungan, kekhawatiran, dan mungkin sedikit kecemburuan di matanya. Pemandangan Axcel yang menggendong Adnessa yang tertidur pulas jelas bukan sesuatu yang ia harapkan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, hanya suara napas Adnessa yang terdengar pelan."Axcel, apa—" Revan memulai kalimatnya dengan nada serius, namun suara desisan Axcel memotongnya dengan cepat."Ssttttttttt!" Axcel meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, memberi isyarat kepada Revan untuk diam. Ia menatap Revan dengan tatapan tajam, memperingatkannya untuk tidak bersuara keras. Ia kemudian melirik ke arah Adnessa yang masih tertidur di gendongannya, memastikan gadis itu tidak terbangun.Revan mengikuti arah pandang Axcel dan sekilas menatap Adnessa. Ia melihat wajah gadis itu yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Revan menghela napas panjang, seolah memberikan izin kepada Axcel untuk mengantar Adnessa ke tempat yang lebih nyaman.
last updateLast Updated : 2024-12-25
Read more

Chapter 23 (Anugrah sekaligus kutukan)

Kejadian sore tadi terus terngiang memenuhi kepala Axcel. Sudah hampir tiga jam pria tampan bertubuh atletis itu duduk di kursi bar pribadinya yang berada di kediaman Hansel, merenungkan isi hatinya dan takdirnya. Cahaya lampu temaram memantul pada gelas wine yang dipegangnya, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding, seolah ikut mengejek kebingungannya."Apa saya tidak boleh menyukainya?" gumam Axcel dengan suara lirih, nyaris berbisik. Ia menatap cairan merah dalam gelasnya, seolah mencari jawaban di sana. Namun, yang ia lihat hanyalah pantulan wajahnya sendiri yang terlihat lelah dan putus asa. Ia kembali meneguk segelas wine yang sedari tadi menemaninya, berharap alkohol itu bisa meredakan gejolak di hatinya, meskipun ia tahu itu hanya sementara.Axcel serasa dibuat gila dengan keadaannya sendiri. Ia mengacak rambutnya frustrasi, merasa terperangkap dalam situasi yang sulit. Baru kali ini ia benar-benar menyukai seorang gadis, merasakan getaran aneh yang membuatnya berd
last updateLast Updated : 2024-12-25
Read more

Chapter 24 (Apa aku telh jatuh cinta kepada Axcel?"

Axcel terdiam sesaat, mencerna kata-kata Adnessa. Rasa sakit dan kecewa bercampur aduk di dadanya. Ia menatap Adnessa sekali lagi, mencoba mencari setitik harapan di matanya, tetapi yang ia lihat hanyalah kebingungan dan kesedihan. Ia mengangguk pelan, sebuah anggukan yang lebih merupakan pengakuan atas kekalahannya daripada persetujuan."Baiklah kalau begitu," lirih Axcel dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia memalingkan wajahnya dan berbalik, melangkah pergi meninggalkan Adnessa. Setiap langkahnya terasa berat, membawa serta patah hatinya yang baru saja retak. Ia berjalan gontai, tidak tahu ke mana harus pergi. Yang ia tahu, ia harus menjauh dari Adnessa, setidaknya untuk saat ini.Adnessa sendiri merasakan sakit yang sama, bahkan mungkin lebih. Ia tahu kata-katanya telah menyakiti Axcel, tetapi ia merasa tidak punya pilihan lain. Ia merasa terperangkap dalam situasi yang rumit ini, terjebak di antara perasaannya dan kenyataan yang ada di depan mata. Tatapan Axcel yang selalu m
last updateLast Updated : 2024-12-26
Read more

Chapter 25 (Dilema Adnessa)

Beberapa hari terakhir, Laluna dan Fransisca merasa ada yang aneh dengan Adnessa. Mereka saling bertukar pandang penuh kekhawatiran, memperhatikan Adnessa yang terlihat begitu berbeda. Gadis itu tampak linglung, sering melamun, dan yang paling parah, ia sama sekali tidak fokus pada kuliah. Bahkan, Adnessa sampai mendapat teguran dari dosen pengajar karena ketidakperhatiannya di kelas. Ada apa dengan gadis ini?Di sebuah kafe dekat kampus, setelah jam kuliah usai, Laluna dan Fransisca duduk berhadapan dengan Adnessa. Mereka berdua terus menatap Adnessa dengan tatapan intens, membuat gadis itu merasa risih. Adnessa yang tengah membaca novel pun terganggu, dan mengalihkan pandangan ke arah dua sahabatnya. Ia menatap kedua sahabatnya dengan tatapan bertanya-tanya. "Kalian kenapa?" tanyanya, sedikit bingung dengan tatapan aneh yang ditujukan padanya.Fransisca menoleh, menatap Adnessa dengan serius, begitu pun dengan Laluna. Tatapan mereka berdua semakin membuat Adnessa merasa tidak nyaman
last updateLast Updated : 2024-12-27
Read more

Chapter 26 (Ketidaksengajaan)

Jam telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, lampu-lampu di dalam kafe mulai meredup, menciptakan suasana yang lebih hangat. Aroma kopi dan makanan bercampur dengan alunan musik jazz yang mengalun lembut, menciptakan atmosfer yang nyaman dan santai. Adnessa dan dua sahabatnya, Laluna dan Fransisca, masih asyik nongkrong di salah satu sudut kafe setelah lelah berbelanja seharian. Mereka tertawa dan bercerita tentang berbagai hal, menikmati waktu bersama.Tiba-tiba, Laluna menghentikan tawanya dan menunjuk ke arah tertentu dengan dagunya. "Ness, itu kakak tiri lo, apa bukan sih?" tanyanya dengan nada berbisik, matanya tidak sengaja melihat seorang pria yang duduk beberapa meja dari tempat mereka, dan sekilas terlihat sangat mirip dengan Axcel. Laluna masih ingat betul wajah Axcel ketika pria itu mengantarkan Adnessa ke kampus beberapa waktu lalu.Adnessa dan Fransisca serentak menoleh ke arah yang dimaksud oleh Laluna. Mereka berdua mengikuti arah pandang Laluna dan melihat seorang
last updateLast Updated : 2024-12-28
Read more

Chapter 27 (Siapa dia?)

Mata Adnessa dan Axcel saling beradu untuk beberapa saat, menciptakan keheningan yang canggung di antara mereka. Akhirnya, Adnessa menghela napas dan memutuskan untuk pulang bersama Axcel. Ia merasa tidak ingin memperpanjang masalah di tempat umum, apalagi dengan tatapan penasaran orang-orang yang berlalu lalang."Baiklah, tunggu aku di tempat parkir!" ucap Adnessa dengan nada datar, berusaha menyembunyikan kekesalannya. Ia melirik sekilas ke sekeliling, menyadari hampir semua mata yang berlalu lalang menatap ke arah mereka berdua. Ia merasa risih menjadi pusat perhatian.Axcel mengerutkan keningnya, masih menggenggam erat pergelangan tangan Adnessa. Ia seolah bertanya mengapa Adnessa tidak pergi bersamanya sekarang. Ia ingin segera pergi dari tempat itu dan berbicara dengan Adnessa secara pribadi."Aku ingin berpamitan kepada Laluna dan Fransisca, tidak enak jika langsung pergi," ucap Adnessa dengan nada sedikit kesal, menarik perlahan tangannya dari genggaman Axcel. Ia merasa Axcel
last updateLast Updated : 2024-12-30
Read more

Chapter 28 (Flash back)

*Flashback on.*Adnessa, yang baru saja selesai menemui Laluna dan Fransisca, berjalan sendirian menuju basement gedung bertingkat itu. Ia berencana bertemu Axcel yang sudah menunggunya di sana. Langkahnya mantap, namun ada sedikit perasaan aneh yang mengganjal. "Kenapa sepi sekali?" gumam Adnessa pelan, suaranya hampir hilang ditelan keheningan basement. Suasana basement yang remang-remang, hanya diterangi lampu-lampu redup yang berjarak cukup jauh, dan sunyi senyap membuatnya merinding. Bayangan-bayangan yang dipantulkan pilar-pilar beton terlihat seperti sosok-sosok misterius dalam kegelapan. Ia mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu dan mempercepat langkahnya, berharap segera bertemu Axcel dan keluar dari tempat ini.Namun, sialnya, baru beberapa langkah ia menginjakkan kaki lebih dalam ke area basement, sebuah tangan kekar tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Adnessa terkejut dan refleks mencoba berteriak, tetapi suaranya tertahan oleh tangan yang membekapnya erat. I
last updateLast Updated : 2024-12-31
Read more

Chapter 29 (Kegilaan Giovan)

"Apa semuanya sudah beres?" tanya Axcel, dengan tatapan mata yang masih terfokus tajam pada jalanan di depannya. Kedua tangannya mencengkeram erat setir mobil, buku-buku jarinya memutih. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan kota yang mulai ramai."Sudah, Pak," jawab Galih dengan nada tegas dan profesional dari seberang telepon. "Dari informasi yang saya selidiki, sepertinya ini semua adalah ulah mantan kekasih nona Adnessa," lanjutnya. Suara Galih terdengar tenang, namun Axcel bisa merasakan ketegasan dan keseriusan dalam setiap kata yang diucapkannya. Dalam waktu beberapa menit setelah Axcel memberi perintah tadi, anak buah yang ia kerahkan dengan sigap berhasil melumpuhkan orang-orang suruhan Giovan, dalang di balik semua kejadian ini.Axcel semakin mencengkeram kuat setir mobilnya. Mendengar informasi yang disampaikan Galih, amarahnya semakin memuncak. Ia membayangkan Giovan menyentuh Adnessa, menyakitinya, dan bayangan itu membuatnya mendidih. Dengan geraman ter
last updateLast Updated : 2025-01-01
Read more

Chapter 30 (Sisi lain Axcelio Hansel.)

"Bawa dia ke markas!" perintah Axcel dengan suara dingin dan datar, membelakangi Giovan yang tergeletak babak belur di lantai, tak berdaya setelah dihajar habis-habisan oleh Axcel. Nadanya tidak menunjukkan sedikit pun emosi, namun justru itulah yang membuatnya terdengar semakin mengerikan. Setiap kata yang diucapkannya terdengar seperti vonis hukuman mati."Baik, Pak," sahut Galih dengan cepat dan sigap. Ia mengangguk kepada beberapa pengawal yang berdiri di dekatnya, memberi isyarat untuk segera bertindak. Tanpa ragu, para pengawal itu segera menghampiri Giovan yang masih mengerang kesakitan di lantai dan menyeretnya keluar dari ruangan dengan kasar. Giovan berusaha memberontak, namun tenaganya sudah habis dan ia tidak berdaya melawan cengkeraman kuat para pengawal.Axcel tidak lagi menanggapi kalimat Galih atau memperhatikan Giovan yang diseret keluar. Pikirannya hanya tertuju pada Adnessa. Dengan langkah pasti dan tenang, Axcel membersihkan darah yang menempel di tangannya menggun
last updateLast Updated : 2025-01-01
Read more
PREV
1234568
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status