Home / Romansa / Takdir Istri Pengganti / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of Takdir Istri Pengganti: Chapter 31 - Chapter 40

154 Chapters

31. Teman Lama

“Sudah 7 tahun berlalu, kamu tidak ada kabar sama sekali. Dan sekarang, Tuhan mempertemukan aku denganmu lagi. Tapi sayangnya, kamu sama sekali tidak mengenali diriku,” ucap dokter Reyhan sambil mengelus bingkai foto yang ada di tangannya.Suara ketukan pintu menyadarkan dokter Reyhan dari lamunannya, ia segera meletakan kembali bingkai foto itu ke dalam laci meja.“Permisi, Dok!” ucap seseorang dari balik pintu yang masih tertutup.“Masuk!” perintah dokter Reyhan, dan orang yang tadi mengetuk pintu pun langsung masuk ke ruangan itu.“Dokter Reyhan, apa Anda sibuk?” tanya seorang wanita yang baru saja masuk ke ruangan dokter Reyhan. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah dokter Cyntiara Alona atau yang biasa dipanggil dokter Cyntia.“Tidak, ada apa?” tanya dokter Reyhan.“Apa kita bisa makan siang bersama? Anggap saja ini sebagai perayaan atas keberhasilan kita siang ini,” ujar dokter Cyntia.Dokter Cyntia adalah perempuan yang telah lama jatuh hati pada dokter Reyhan, tetapi dok
Read more

32. Cinta Yang Terpendam

“Hai … kita ketemu lagi. Boleh saya duduk di sini?” tanya orang itu sambil tersenyum “Sudah duduk, ‘kan?” jawab Risa. “Jika tidak diizinkan, saya akan pergi.” Orang itu berdiri dan bersiap untuk pergi, tetapi Risa menahannya karena ia juga ingin mengucapkan terima kasih pada orang itu. “Tunggu! Anda boleh duduk di sini,” ujar Risa seraya menggeserkan tubuhnya agar orang itu bisa duduk di sebelahnya. “Terima kasih!” ucap orang itu yang ternyata adalah dokter Reyhan. “Tidak perlu berterima kasih karena ini tempat umum,” sahut Risa dengan nada datar. “Ya baiklah, tapi kenapa kamu duduk di sini sendirian?” tanya dokter Reyhan. “Tidak apa-apa, saya cuma mau cari angin. Lagi pula, di dalam ruang rawat Mama masih banyak orang,” ujar Risa sambil melihat ke arah langit, menatap bintang yang berkelap-kelip. “Oh, begitu?” ujar dokter Reyhan sambil manggut-manggut. “Hm, begitulah. Oh, ya, terima kasih karena dokter telah menyelamatkan ibu….” Belum sempat Risa menyelesaikan kalimatnya, san
Read more

33. Ungkapan Perasaan Sang Dokter

Flashback masa lalu Risa dan dokter ReyhanPada suatu hari, di sebuah Panti Asuhan yang biasa Risa dan ayahnya kunjungi sedang terjadi sebuah kebakaran besar yang mengakibatkan beberapa orang terluka dan ada juga yang meninggal dunia akibat dari tragedi naas itu. Risa yang waktu itu sedang berkunjung ke sana pun langsung membantu sang ayah untuk menyelamatkan anak-anak panti dan ia mendengar suara seseorang berteriak minta tolong dari dalam ruangan yang terletak tidak jauh darinya.Tanpa ragu-ragu, Risa masuk ke kamar yang ia yakini jika suara itu berasal dari kamar tersebut dan ternyata benar saja, Risa menemukan seorang anak laki-laki yang sedang meringkuk ketakutan melihat api yang mulai berkobar tidak jauh darinya.“Kakak … Kakak jangan takut, ya, aku akan bantu Kakak keluar dari sini,” ujar Risa seraya membantu anak laki-laki itu berdiri.“Kamu siapa? Kenapa kamu ke sini? Ini sangat berbahaya,” kata anak laki-laki itu, ia sangat takut melihat api yang semakin membesar.“Sudah, K
Read more

34. Kenyataan Yang Menyakitkan

“Oke, aku akan kasih tahu alasannya. Kak Rey berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku,” ujar Risa sambil menundukkan wajahnya. “Nggak, Cha. Kamu satu-satunya gadis terbaik yang pernah Kakak temui,” sahut dokter Reyhan. “Tapi, Kak. Sekarang aku sudah menjadi i-” Risa langsung menghentikan ucapannya saat seseorang tiba-tiba menghampiri mereka berdua dan langsung menarik pergelangan tangannya dengan kasar.“DASAR WANITA MURAHAN!” sergah orang itu dengan emosi yang meluap-luap.“A-adi … kau, se-sejak kapan kau ada di sini?” tanya Risa dengan terbata-bata.“Kenapa, hm? Apa kau takut karena sudah ketahuan? Kau takut kedok busukmu terbongkar? Menjijikkan! Kau berselingkuh dengan pria ini!” tunjuk Adi ke arah dokter Reyhan. Wajah pria itu pun sudah merah menyala seperti kobaran api, matanya melotot tajam ke arah istrinya. Risa menggeleng cepat dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan dokter Reyhan. “Tolong dengerin dulu, ini semua tidak seperti yang kamu pik
Read more

35. Ada Apa Denganku?

Setelah dokter Reyhan pergi, Risa pun masuk ke dalam rumah sakit. Wanita itu berjalan dengan langkah tertatih menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat ibu mertuanya. Risa merasa sedih dan kecewa atas setiap perkataan dan hinaan yang dilontarkan Adi padanya. Ia menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang entah sampai kapan akan berujung dengan kebahagiaan.“Ya Allah … sampai kapan Engkau berikan ujian pada hamba? Rasanya hamba sudah tidak sanggup lagi,” gumam Risa dengan sangat pelan sambil menyeka kasar air matanya.“Saya akan membuat kamu lebih menderita lagi, supaya dokter bodoh itu ikut tersiksa melihat wanita pujaanya tersiksa,” ujar Adi sambil mendorong tubuh Risa ke tembok rumah sakit, kemudian pria itu pun berlalu meninggalkan istrinya yang meringis kesakitan.“Ya Allah, ya Rabb … kuatkan hamba,” ucap Risa seraya memegang dadanya yang terasa sesak.Saat sampai di ruang rawat Ibu Airin, ia melihat ruangan itu sudah sepi. Hanya ada Pak Arya dan Adi yang duduk di sofa. Ris
Read more

36. Apa Mama Bahagia?

Seminggu telah berlalu. Setelah kejadian malam itu, Risa tidak pernah lagi bertemu dengan dokter Reyhan. Karena saat ia datang ke rumah sakit, dokter Reyhan tidak berada di tempat itu. Saat sang dokter di rumah sakit, Risa yang justru tidak berada di sana. Risa memang berusaha menghindar karena ia takut jika Adi akan melakukan sesuatu yang buruk pada dokter Reyhan. Risa hanya tidak ingin dokter Reyhan terluka hanya karena dirinya. Risa merasa tidak pantas untuk laki-laki sebaik dokter Reyhan, dan dia ingin sang dokter mendapatkan wanita yang lebih baik darinyaSaat ini Ibu Airin sudah pulang ke rumah. Bahkan, saat kepulangan ibu mertuanya pun, Risa tidak datang ke rumah sakit untuk menjemputnya. Karena dilarang oleh Adi, Risa pun tidak bisa berbuat apa-apa karena memang itu adalah ibunya.Hari ini bertepatan dengan akhir pekan, Risa sudah lama tidak mengunjungi rumah ibu kandungnya. Setelah Bu Yulia datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu Airin beberapa waktu yang lalu, Risa tidak
Read more

37. Anak Panti Asuhan

“Ayo, Ma.” Risa menggandeng tangan ibunya, lalu membawanya masuk ke dalam restoran.Sampai di dalam restoran, Risa sengaja memilih meja di pinggir jendela karena hanya meja itu yang terlihat kosong. Mungkin karena akhir pekan, jadi restoran ini sangat ramai. Terlebih lagi ini memang sudah waktunya makan siang.“Risa … ini ramai sekali, lebih baik kita cari tempat lain saja.” Bu Yulia sudah bersiap-siap untuk pergi dari restoran.“Tapi, Ma. Bukankah ini tempat yang ingin Mama kunjungi?” tanya Risa.“Iya, tapi ini terlalu ramai. Kita pergi saja, ya,” jawab Bu Yulia.“Jangan, Ma. Ayo kita duduk di sini,” ujar Risa sambil menarik tangan ibunya.Bu Yulia akhirnya setuju, mereka berdua duduk berhadapan lalu membuka buku menu. Pelayan menghampiri dan menulis menu pesanan yang Risa sebutkan. Tak lama menunggu, pesanan mereka pun sudah datang. Pelayan restoran mempersilahkan mereka berdua untuk menikmati hidangannya.“Silahkan dinikmati, Nyonya!” ucap sang pelayan restoran.“Terima kasih!” uca
Read more

38. Terpaksa Berbohong

“Iya, tentu saja saya ingat. Saya juga tahu kalau kamu diadopsi oleh pengusaha, ‘kan? Jadi wajar saja kalau sekarang kamu sudah menjadi orang hebat,” kata Bu Yulia sambil menatap dokter Reyhan dengan sinis.“Alhamdulillah, Bu. Saya mendapatkan orang tua yang baik,” sahut dokter Reyhan dengan senyum ramah.“Ya, baguslah.” Bu Yulia masih saja bersikap dingin pada dokter Reyhan, padahal laki-laki itu sangat baik dan sabar menerima semua perlakuannya selama ini.Saat mereka sedang berbincang-bincang, seorang perawat memanggil dokter Reyhan karena ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongannya.“Dokter, pasien yang berada di kamar VIP nomor 279 mengalami kejang dan detak jantungnya melemah,” ucap perawat yang menghampiri dokter Reyhan.“Baik, saya segera ke sana. Cha, Kakak minta maaf karena harus pergi. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi Kakak,” ujar dokter Reyhan.“Iya, Kak Rey. Pergilah, nanti kalau ada apa-apa pasti aku kabari Kakak.” Risa merasa sedikit lega karena akhirnya dokte
Read more

39. Kabar Baik?

Bu Yulia mengantar Risa sampai ke apartemen, lalu memintanya masuk ke dalam. Sebenarnya Risa masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersama ibunya, tetapi ia yakin jika ibunya tidak akan mau mampir ke apartemen Adi. Bu Yulia tahu kalau Adi tidak pernah menyukainya. Bahkan saat di rumah sakit waktu itu pun pria itu sama sekali tidak menegurnya. “Risa, Mama langsung pulang, ya, kamu masuk sana! Jaga diri kamu baik-baik.” Bu Yulia menyerahkan kunci mobil pada Risa. “Ma, mampir dulu!” tawar Risa sambil meraih tangan ibunya. “Tidak usah, Risa. Mama langsung pulang saja, ayah kamu juga sebentar lagi pulang.” Bu Yulia langsung melepas tangannya dari genggaman Risa. “Ya sudah, Mama hati-hati. Kabari Risa kalau sudah sampai rumah,” ucap Risa sambil tersenyum. Taksi yang dipesan Bu Yulia sudah sampai, ia segera masuk ke dalam taksi itu dan pergi meninggalkan apartemen. Risa pun melangkah masuk ke dalam apartemen dengan perasaan yang tak menentu. Di satu sisi, ia merasa bahagia kare
Read more

40. Luka Tak Berdarah

“Iya, Risa. Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah,” ucap Adi dengan bangga, wajahnya pun terlihat sangat bahagia.“Ma-maksudnya?” tanya Risa dengan nada terbata-bata, ia belum bisa percaya atas kenyataan yang baru saja diterimanya.“Aku akan segera mempunyai anak bersama orang yang aku cintai, Risa. Itu adalah hasil pemeriksaan kehamilan Sonya,” ujar Adi dengan riangnya, tanpa memikirkan perasaan seseorang yang saat ini ada di hadapannya.JEDUAR …!Bagaikan tersambar petir di siang bolong, saat Risa mendengar penjelasan dari suaminya. Tadinya ia merasa takut jika Adi sudah mengetahui tentang kehamilannya, tetapi ternyata dugaannya salah. Risa juga tidak membaca nama yang tertera pada kertas hasil pemeriksaan kehamilan itu. Ia kaget karena Adi juga memeriksa kandungan Sonya ke rumah sakit yang sama dengannya, untung saja tidak bertepatan dengan dirinya tadi siang.‘Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali setelah mengetahui ini? Harusnya aku senang karena dia belum mengetahui tenta
Read more
PREV
123456
...
16
DMCA.com Protection Status