Home / Urban / Menantu Pahlawan Negara / Chapter 2151 - Chapter 2160

All Chapters of Menantu Pahlawan Negara: Chapter 2151 - Chapter 2160

2187 Chapters

Bab 2151 Anggur Ginseng Tua

Kario agak gemuk. Sambil terkekeh, dia menatap Sutandi dan berkata, "Sutandi, beberapa waktu yang lalu menantuku itu pergi ke Dongan untuk menginspeksi sebuah proyek investasi besar bernilai ratusan miliar. Dia membawakan sedikit ginseng tua dari Gunung Kamma untukku.""Ini adalah yang terbaik di antara yang terbaik, dengar-dengar nilainya mencapai miliaran.""Aku mengambil beberapa untuk merendam anggur. Ya, kebetulan hari ini aku sedang senggang, jadi aku bisa membawakannya untuk mentraktirmu minum beberapa gelas."Mendengar ucapan Kario, kelopak mata Leane kembali melompat-lompat.Awalnya dia ingin mengatakan ginseng tua tidak ada apa-apanya, hari ini Kalris baru menghadiahkan sarang burung berkualitas bagus senilai 400 juta per paket untuk mereka.Namun, begitu mendengar harga ginseng tua itu, dia langsung dilanda perasaan malu, tidak berani membuka mulut untuk mempermalukan diri sendiri lagi.Sutandi langsung mengerti, Kario juga datang untuk pamer di hadapannya.Dia menanggapi de
Read more

Bab 2152 Menyia-Nyiakan Barang Berharga

”Su ... Sutandi ... kamu ... bisa-bisanya kamu menggunakan herba-herba berharga ini untuk merendam kakimu! Dasar sialan! Tindakanmu ini sama saja dengan menyia-nyiakan barang berharga!"Tiba-tiba saja, Kario melontarkan kata-kata makian terhadap Sutandi.Api amarah di matanya tampak seperti sudah hampir menyembur keluar, dia seakan-akan ingin mencabik-cabik lawan bicaranya hingga hancur berkeping-keping.Semua orang tercengang, Sutandi juga agak tercengang. "Herba ... herba-herba ini sangat mahal?"Leane juga tidak bodoh. Melihat reaksi Kario, dia sudah menyadari sesuatu hal. Saat ini, dia menatap pria itu dengan lekat.Napas Jeslin juga berubah menjadi cepat."Sangat mahal?"Kario tertawa dengan menyedihkan, lalu berteriak dengan marah, "Begini, herba-herba dalam ember rendamanmu ini saja paling nggak bernilai puluhan miliar!""Sutandi, dasar sialan! Kamu benar-benar sialan! Kamu merampok bank yang mana? Bahkan keluarga-keluarga itu saja nggak akan berani menghambur-hamburkan herba-he
Read more

Bab 2153 Tidak Ada Lagi

"Sutandi, coba kamu telepon bocah itu, tanyakan padanya apa dia masih ada herba-herba berkualitas bagus seperti itu?""Kalau masih ada, langsung suruh dia berikan padamu sebagai bentuk rasa hormat terhadapmu selaku gurunya!""Apa kamu nggak lihat reaksi Kario tadi? Kalau herba-herba itu digunakan sebagai hadiah, keluarga kita bisa mendapatkan banyak relasi dan sumber daya," kata Leane sambil menatap Sutandi dengan lekat.Sutandi memasang ekspresi muram dan berkata, "Omong kosong! Sebagai seorang guru, aku nggak bisa bersikap begitu nggak tahu malu!""Hei ... apa yang kamu lakukan?!"Sebelum Sutandi sempat bereaksi, Leane sudah merampas ponsel Sutandi.Kemudian, wanita itu langsung menghubungi Ardika."Pak Sutandi, ada urusan apa kamu mencariku malam-malam begini?"Tanpa menunggu lama, terdengar suara Ardika dari ujung telepon.Saat ini, Ardika masih berada di dalam mobil Levin. Kalau Leane yang meneleponnya, tentu saja dia tidak akan peduli.Namun, melihat itu adalah panggilan telepon
Read more

Bab 2154 Gijran Mencari Masalah

Seorang pelaku tindak kriminal yang membawa tongkat bisbol di bajunya, menunjuk Levin dengan mengancam."Simpan saja," kata Ardika dengan santai. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya ke arah pelaku tindak kriminal itu, lalu bertanya dengan penuh minat, "Kalian adalah orang-orangnya siapa?"Tanpa banyak berkomentar lagi, Levin segera menyimpan ponselnya.Para pelaku tindak kriminal di hadapan mereka saat ini, anak buahnya saja bahkan bisa menangani semua orang ini seorang diri, tentu saja sama sekali bukan ancaman bagi Ardika."Sebentar lagi kamu juga akan tahu sendiri."Orang tersebut melirik Ardika sekilas, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon. "Tuan Muda Gijran, kami sudah mengepung bocah itu di sebuah hotel bintang lima.""Bagus, kerja bagus.""Lanjutkan, aku akan segera datang!""Malam ini aku akan memberinya pelajaran, agar dia tahu diri.""Orang-orang tertentu, nggak bisa dia provokasi!""Wanita-wanita tertentu, juga nggak bisa dia sentuh!""Setelah malam ini berlalu, aku
Read more

Bab 2155 Karena Nama Belakangmu Mahasura

"Oh? Kalau begitu, itu artinya kamu kurang berwawasan.""Tapi, sekarang seharusnya kamu sudah menambah wawasanmu."Menghadapi sindiran Gijran, Ardika tetap bersandar di kepala mobil dan menanggapinya dengan santai."Kamu bilang aku kurang berwawasan?"Gijran tertawa mendengar ucapan Ardika. Namun, raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin, sangat aneh.Bagi orang-orang yang sudah mengenal Gijran sudah tahu.Setiap kali dia menunjukkan ekspresi seperti itu, pasti akan ada orang yang tertimpa masalah.Tertimpa masalah besar!Walaupun Gijran bukan tuan muda keluarga kaya, juga bukan pangeran dari keluarga bangsawan, tetapi dengan mengandalkan pamannya, Jace, yang merupakan Wali Kota Ibu Kota Provinsi dengan kedudukan setara dengan wakil kodam, tentu saja dia selalu bertindak arogan.Paling tidak, di ibu kota provinsi, dia bisa bertindak sesuka hatinya."Eh, Ardika, kamu benar-benar terlalu menganggap serius dirimu, ya?"Dengan memasang ekspresi muram, Ardika mengisap rokoknya. Dia menat
Read more

Bab 2156 Aku Salah

Gijran mengisap rokoknya. Melalui asap rokok yang menutupi pandangannya, dia menatap Ardika sambil tersenyum palsu.Adapun mengenai sorot mata dingin Ardika, dia sama sekali tidak peduli.Saat ini, wanita yang sebelumnya dipeluk oleh Gijran itu, melangkah maju, merangkul lengan Gijran dan berkata dengan nada bicara manja, "Eh, bocah, cepat lakukan instruksi Tuan Muda Gijran! Aku berani jamin, kalau Tuan Muda Gijran sampai turun tangan sendiri, nasibmu pasti akan sangat ... sangat mengenaskan!"Para pelaku tindak kriminal yang berada di sekeliling tempat itu juga menatap Ardika dengan lekat sambil tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka menunjukkan dengan jelas mereka sangat meremehkan Ardika.Mereka sempat mengira bocah yang berani melawan Gijran ini adalah seorang tokoh hebat.Eh, ternyata hanya seorang bocah kampungan yang berasal dari sebuah kota kecil.Dengan identitas Gijran, dia bahkan bisa bertindak semena-mena di ibu kota provinsi. Ada banyak tuan muda keluarga kaya yang suda
Read more

Bab 2157 Silakan Panggil Orang Sesuka Hatimu

Semua orang tercengang menyaksikan pemandangan itu!Tidak ada yang menyangka dalam situasi seperti ini, Ardika berani menyerang dengan begitu liar.Selain itu, dia bahkan menyiksa Gijran tanpa berbelas kasihan, menggunakan cara seperti ini untuk menyiksa Gijran.Baik wanita itu maupun para pengikut dan para pelaku tindak kriminal di tempat itu, mereka merasa seperti menyaksikan sesuatu hal yang baru.Ini adalah pertama kalinya, ada orang yang berani melawan Gijran dengan kekerasan di wilayah ibu kota provinsi, bahkan menyiksa Gijran dengan cara seperti ini.Bagaimanapun juga, dia adalah keponakan Wali Kota Ibu Kota Provinsi.Bahkan para ketua preman di berbagai wilayah pun, setelah mengetahui identitas Gijran, mereka akan memperlakukannya dengan sopan dan ramah.Kalau berani menyinggung Gijran, walaupun kamu adalah seorang ketua dunia preman, juga akan lenyap kapan saja.Bagaimanapun juga, sejak zaman dahulu, rakyat biasa tidak pernah melawan para pejabat.Terlepas dari seberapa hebat
Read more

Bab 2158 Memberimu Setengah Jam

"Kalau orang yang kamu panggil kemari benar-benar bisa membuatku takut, aku akan mematahkan kedua lengan dan kedua kakiku untukmu."Selesai berbicara, Ardika melayangkan satu tamparan lagi, hingga tubuh Gijran terpental keluar, lalu tergeletak di lantai dan dalam kondisi berkedut."Apa lagi yang kalian tunggu? Apa gunanya Tuan Muda Gijran memelihara kalian? Cepat serang!"Saking ketakutannya, wanita cantik itu langsung berteriak dengan suara melengking.Akhirnya, para tindak pelaku kriminal yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu tersadar kembali. Mereka segera mengeluarkan senjata sendiri, lalu menerjang ke arah Ardika."Kak Ardika, biar aku saja!"Tanpa perlu Ardika turun tangan sendiri, Levin sudah menyambut orang-orang itu dengan ekspresi senang dan penuh semangat. Dia bahkan menghadapi lawannya dengan tangan kosong.Dengan iringan serangkaian suara tamparan, satu per satu dari dua puluh orang itu terjatuh ke lantai dan mengeluarkan teriakan menyedihkan.Setelah mulai bekerja un
Read more

Bab 2159 Merangkak Keluar dari Tempat Parkir

Ardika mengirimkan foto ikan yang dimakannya sebelumnya kepada Luna. Kemudian, dia juga mengetikkan pesan balasan kepada Luna. Dia meyakinkan istrinya dia baik-baik saja di ibu kota provinsi, meminta istrinya untuk tidak mengkhawatirkannya.Tentu saja Luna tidak tahu, baru hari pertama tiba di ibu kota provinsi saja, Ardika sudah mengalami serangkaian kejadian.Ardika menyunggingkan seulas senyum bahagia.Orang-orang mengatakan dia sudah diusir oleh istrinya, tetapi mereka tidak tahu istrinya bahkan ingin menyusul ke ibu kota provinsi untuk menemaninya.Akan tetapi, melihat senyumannya itu membuat amarah Gijran mencapai titik puncaknya.Sekitar belasan menit kemudian, satu per satu mobil mewah melaju kemari.Model mobil-mobil ini cukup unik dengan penampilan luar yang menawan. Hanya dengan melihat luarnya, sudah bisa diketahui karakter masing-masing pemilik mobil.Ya, kenyataannya memang demikian.Kalangan pertemanan Gijran di ibu kota provinsi sangat luas, dia memanggil semua tuan mud
Read more

Bab 2160 Tuan Muda Halim yang Mana

Kelihatannya persyaratan Ardika tidak sekejam persyaratan Ardika.Akan tetapi, lebih nyata.Hal ini membuat semua orang di tempat itu mengerti, Ardika berbicara serius, tidak sedang bercanda.Banyak orang yang membelalak kaget, menatapnya dengan tatapan terkejut.Bagaimana orang kampungan ini bisa begitu berani? Di hadapan mereka yang berjumlah begitu banyak, bocah itu masih berani melawan Gijran?Sangat jelas Gijran juga tidak menyangka, Ardika masih berani melawannya seperti ini.Dia langsung melompat turun dari mobilnya dan berkata dengan marah, "Eh, Ardika, kalau kamu terus memprovokasiku seperti ini, nanti kamu akan berakhir dengan lebih mengenaskan lagi!""Saat aku turun tangan sendiri nanti, persyaratan akan makin bertambah!"Ardika melirik sekeliling, lalu tertawa pelan dan berkata, "Gijran, kalau kamu hanya memanggil para pecundang ini kemari, sebaiknya kamu segera berlutut, lalu merangkak menuju ke arah akses keluar tempat parkir bawah tanah ini.""Bagaimanapun juga, jaraknya
Read more
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status