“Lo dan Adam sama aja gilanya, Van!” serunya. Meski sedang berkelahi, tapi aku masih menahan pukulanku agar tak terlalu menyakitinya. Bagaimana pun ia bukan targetku, bahkan Supri lah yang membantuku di sini. Aku hanya marah ketika ia menghentikan langkahku, sementara emosiku sudah di ubun-ubun.“Hanya karena satu wanita kalian berdua jadi terlibat perselisihan berlarut-larut seperti ini!” ucapnya lagi.Sayangnya, ucapannya barusan membuatku kembali menyarangkan tinjuku di wajahnya.“Apa katamu? Hanya karena satu wanita?” Kali ini aku marah karena kata ‘hanya’ yang tersemat di kalimatnya tadi. “Jangan pernah menyebutnya hanya, dia segalanya bagiku!”Sialnya, keributan malam itu membuat ibu terbangun dan keluar dari kamarnya mencari tahu, lalu terkejut menemukanku tengah meninju Supri hingga terhuyung.Masalah lain datang ketika wajah ibu pucat pasi ketika memergoki perkelahianku dengan Supri, sementara aku tak mungkin menjelaskan kenapa aku memukulnya.“Maaf, Bu. Kami hanya sedang sal
Terakhir Diperbarui : 2023-03-03 Baca selengkapnya