Celia perlahan membuka daun pintu, sedikit tersentak melihat penampilan seseorang yang menunggunya. Lelaki berkulit hitam manis itu tengah duduk di bangku panjang yang ada di bawah pohon belimbing. Dia tampak mengipasi wajahnya yang terlihat lelah dengan caping kain. Di sisinya sebuah gerobak terparkir dan bertuliskan es cendol. “C--cupu, l--lo jualan?” tanya Celia memastikan. Lelaki itu menoleh, senyumnya yang khas tersungging, lalu kepalanya mengangguk perlahan.“Iya, Non! Buat nambah-nambah.” Lelaki berkulit sedikit lebih gelap itu mengulum senyuman yang bagi Celia tampak sangat manis. “Kenapa harus jualan cendol, sih? Lo gak risih apa? Secara lo itu anak kuliahan, lo! ITB, kampus bergengsi, eh malah jualan cendol! Matiin nama kampus lo mah!” Celia menatap gerobak cendol yang terparkir tak jauh dari mereka. Senyum pada bibir Abimanyu, lagi-lagi tersungging. Jemarinya menyugar rambutnya yang tampak lepek itu ke belakang. Lalu dia berjalan menuju gerobak cendolnya. Celia hanya mem
Terakhir Diperbarui : 2022-10-29 Baca selengkapnya