Home / Romansa / Sweet Enemy / Chapter 51 - Chapter 60

All Chapters of Sweet Enemy: Chapter 51 - Chapter 60

96 Chapters

Hambar

"Hallo," sapa Ainsley. Nada suaranya terdengar sumringah. Dixon hampir tersedak karena tak biasanya Ainsley begitu bersemangat menerima telpon darinya. Seulas senyum terbit pada bibir Dixon. "Ehem! Hallo." Ainsley mengulangi sapaannya dan memperbaiki nada bicaranya sehingga terdengar lebih netral. Namun Dixon malah semakin mengembangkan senyum karena merasa lucu. Detik berikutnya Dixon mencoba membawa diri pada kenyataan bahwa dia harus bersikap sewajarnya saja. "Ya, hallo. Tadi kau menelponku, ada apa? Maaf aku sedang mandi tadi," balas Dixon sekaligus menjelaskan. "Ah ya, tadi aku menelponmu karena aku ingin memberitahumu bahwa hasil penjualan kita hari ini melonjak sangat drastis, aku ... ya, aku hanya ingin mengabari itu saja," jelas Ainsley. "Oh ya? Aku belum melihatnya. Tadi aku kelelahan sehingga aku ketiduran setelah pulang dari rumahmu," kata Dixon. "Ah ya, tak masalah," balas Ainsley sedikit kaku. Ainsley merasa Dixon sedang mengabaikannya. Dari nada suaranya, Ainsle
last updateLast Updated : 2021-04-25
Read more

Semua Telah Berubah

"Ainsley, sedang apa kau malam-malam begini di sini?" tanya Brianna sedikit terbengong. "Mommy, kau membuatku kesakitan. Kau terlalu keras memukuliku," Ainsley mengadu sambil mengerucutkan bibirnya hingga runcing. Ia juga memijat-mijat bagian tubuh yang terkena pukul tadi. "Oh, maafkan mommy, Sayang, mommy tidak tahu. Mommy pikir kau pencuri maka dari itu mommy memukulimu," jelas Brianna sambil membawa Ainsley duduk di kursi taman. "Sedang apa kau malam-malam begini di sini, Ainsley? Kau tidak tidur?" tanya Freddy kini mengulangi pertanyan istrinya. "Aku tidak bisa tidur, Dad, jadi aku iseng saja menanam bunga-bunga yang tadi aku beli," jelas Ainsley. "Malam-malam begni?" "Ya, aku pikir aku akan mengantuk jika aku melakukan kesibukan," jawab Ainsley. "Kau tidak akan mengantuk jika kau melakukan pekerjaan seperti ini, yang ada kau malah semakin tidak akan bisa tidur. Ayo masuk, daddy akan memberimu resep agar kau bisa cepat mengantuk." Freddy menggandeng tangan putrinya dan Ainsl
last updateLast Updated : 2021-04-27
Read more

Salam Perpisahan?

"Oh, Luke, kita sampai di sini hampir bersamaan," balas Ainsley untuk menutupi sedikit kekecewaannya. "Ya," balas Luke kemudian ia mendekat dan berbisik, "kita berjodoh, Ainsley." Ainsley tertawa kecil. Seperti biasa Luke memang sering bercanda dan Ainsley menganggap itu seru. Tapi apakah kata-kata cintanya yang sering diungkapkan pada Ainsley itu juga hanyalah gurauan? Luke menarik satu kursi. "Duduklah, Ainsley." Ainsley mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih Luke." Luke pun ikut menyusul duduk di sebelah Ainsley. Sedangkan Dixon? Ya, dia belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi. "Untuk apa kau mengajakku bertemu?" tanya Luke dan Dixon bersamaan. Kemudian Luke dan Dixon saling berpandangan. Ainsley memperhatikan mereka berdua secara bergantian. "Kau bertanya padaku? Apa kau yakin?" tanya Luke memincing. Pasalnya kemarin Dixon lah yang mengajaknya bertemu. Dixon memutar bola matanya. "Aku bertanya padanya," jawab Dixon datar sambil menunjuk Ainsley melalui ekor mata
last updateLast Updated : 2021-04-28
Read more

Change

But baby if you say you want me to stay I'll change my mind 'Cause I don't wanna know I'm walking away If you'll be mine Won't go, won't go So baby if you say you want me to stay Stay for the night I'll change my mind *Change song by One Direction. ________________________ "Apa?" "Aku bertanya, mengapa kau kau balik bertanya?" kata Dixon lagi. "Jadi menurutmu itu salam perpisahan?" seru Ainsley kesal. Sangat kesal. "Aku tidak tahu, untuk itu aku bertanya. Jika aku salah kau katakanlah yang sebenarnya. Aku tidak mau salah paham lagi," kata Dixon datar. Dengan sekali gerakan Ainsley memundurkan kursinya dan bersiap untuk pergi. Namun Dixon tidak membiarkan Ainsley pergi sebelum ia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.. Dixon menangkap pergelangan tangan Ainsley sehingga gadis itu menghentikan gerakannya. Ainsley kembali menoleh ke arah Dixon dengan tatapan kesal. "Mengapa kau buru-buru pergi?" tanya Dixon tanpa bergerak dari tempatnya. Ainsley menghempaskan tangan Dixo
last updateLast Updated : 2021-04-28
Read more

Malu-malu

Dixon terus memperhatikan Ainsley yang terdiam lama, belum juga memberikan jawaban. Namun Dixon membiarkan saja, ia tidak memaksanya untuk segera menjawab. Sesekali Ainsley mencuri pandang, namun Ainsley tak berani mengangkat kepalanya untuk menatap laki-laki di hadapannya. "Aku ... em ... sepertinyanya kau sudah tahu jawabannya," kata Ainsley terbata. "Aku tidak tahu, aku bertanya karena aku ingin tahu. Aku tidak ingin salah paham lagi, kau tahu itu," balas Dixon. Ainsley mendengus kesal. Ia merasa Dixon pasti sengaja memancing-mancing Ainsley untuk bicara meski sebenarnya sudah tahu jawabannya. Raut kesal tergambar jelas pada wajah cantik Ainsley. Dixon menyembunyikan senyumannya. Melihat wajah kesal Ainsley membuat Dixon gemas. "Apa aku boleh minta satu hal padamu?" tanya Dixon angkat bicara. "Katakan saja!" seru Ainsley ketus. Dixon terkekeh kecil. "Ainsley, bolehkan aku minta kau jangan terlalu sering pergi bersama Luke lagi?" Ainsley langsung mendongak lalu mele
last updateLast Updated : 2021-04-29
Read more

Gemas

"Bagaimana menurutmu tempat ini?" tanya Dixon setelah mereka berkeliling di tempat yang ia rekomendasikan. "Bagus. Sangat lengkap. Aku akan memberitahu daddy nanti," kata Ainsley. "Tapi ...." "Apa?" Dixon menoleh ke arah Ainsley. "Aku rasa mungkin proyek kita akan terganggu kalau aku sudah mulai melakukan latihan." Dixon melebarkan senyum lalu menepuk pelan puncak kepala Ainsley. "Tidak perlu dipikirkan. Aku bisa mengatasinya. Itu masih lebih baik daripada kau pergi ke camp." Ainsley membalas tersenyum hangat sambil mengangguk. "Ayo pulang," celetuk Ainsley. "Apa kau lelah?" tanya Dixon perhatian. "Ya, sedikit." "Mulai sekarang kau harus banyak berolahraga, Ainsley, untuk menjaga staminamu. Latihanmu nanti pasti akan melelahkan. Jadi kau harus mempersiapkan diri dari sekarang." "Siap, Kapten!" kata Ainsley. "Ya sudah, ayo aku antar kau pulang." "Baik." *** "Dixon," panggil Ainsley random. "Hm," balas Dixon tanpa menoleh. Ia tetap fokus menyetir. "Dixoon," panggil Ainsl
last updateLast Updated : 2021-04-29
Read more

Calon Menantu?

Drrtt ... drttt .... Freddy sedang menyetir ketika ponselnya berdering. "Hallo," sapa Freddy. "Freddy, aku baru saja kembali tadi siang dan apa kau tahu?" seru si dengan antusias. "Tidak tahu, kau belum mengatakan apapun, Kendrick," balas Freddy terkekeh. "Ya, kau tidak akan tahu aku sangat senang." "Apa yang membuatmu begitu senang, hm?" tanya Freddy santai. "Bagaimana aku tidak senang kalau calon menantuku ikut menjemputku di bandara," celetuk Kendrick. "Kau berlebihan. Memangnya siapa yang kau maksud calon menantumu?" "Putrimu," balas Freddy singkat. "Putriku? Yang benar saja!" "Astaga, Fredddy, untuk apa aku berbohong padamu. Kalau kau tidak percaya kau tanyakan saja pada putrimu sendiri," ucap Kendrick. Freddy sedikit terbengong. "Ya, aku tidak percaya, Kendrick." Freddy masih sedikit terbengong. "Dan aku lihat, Ainsley dan Dixon sudah akur sekarang. Sepertinya kita bisa segera menikahkan mereka berdua. Aku senang sekali, Freddy, apa kau tidak senang?" "Apa kau ber
last updateLast Updated : 2021-04-30
Read more

Berhias

"Ayolah, Mom, tolong jangan bertanya dulu. Menurutmu, yang mana yang paling bagus? Aku sejak tadi bingung memilih gaun. Sepertinya aku sedikit lebih gemuk, jadi aku bingung memilih gaun yang pas untukku sejak tadi," jelas Ainsley. "Gemuk dari mana, Sayang. Kau tidak gemuk. Ayo, cobalah yang ini. Pakai gaun ini dan mommy akan menyiapkan aksesorisnya, oke? Ayo cepat, daddy sudah menunggu." Brianna menyerahkan gaun berwarna pastel untuk dikenakan putrinya. "Baiklah, Mom." Ainsley pun pergi ke walk in closet untuk mengganti pakaian. Sedangkan Brianna menyiapkan keperluan lainnya. "Sayang, cepatlah, jangan lama-lama." "Sabar sebentar, Mom," balas Ainsley dan tak lama kemudian keluar dengan mengenakan gaun pilihan ibunya. "Wah, sangat cocok. Ayo sini, mommy sisir rambutmu." Ainsley mendekat, duduk di depan cermin lalu menyerahkan diri untuk dihias oleh ibunya. "Nah, sudah selesai. Putri mommy sangat cantik. Tidak kalah cantik dari putri-putri di film disney," puji Brianna sambil terse
last updateLast Updated : 2021-04-30
Read more

Memilih Jalannya Sendiri

Dixon dan Ainsley membalas pertanyaan orang tua mereka bersamaan. Lalu keduanya saling melempar pandangan. "Kau tidak setuju?" tanya Dixon menyelidik. "Ya, aku tidak setuju!" tukas Ainsley. "Tapi kenapa?" tanya Dixon lagi. Bukankah mereka sudah berdamai? Seharian mereka saling melempar sayang. Tapi kenapa sekarang Ainsley menolak perjodohan ini? Dixon dibaut terperangah tak percaya. Apa jangan-jangan tadi Ainsley hanya mengerjainya saja? Tidak, itu tidak mungkin! "Ainsley, apa kau masih tidak menyukai Dixon? Kalau begitu aku akan memaksa Dixon untuk berbuat lebih baik lagi padamu, agar membuatmu terkesan lalu kau bisa menyukainya dan jatuh cinta padanya," ujar Kendrick setelah tadi ia merasa sedikit canggung. Ainsley menggeleng kecil. "Paman, Bibi, aku tidak ingin dijodoh-jodohkan. Ini zaman modern, mana ada perjodohan? Bukankah itu hal kuno?" celetuk Ainsley. "Ainsley, tolong jaga bicaramu, kendalikan dirimu," pinta Brianna dengan menggertakkan gigi. Wanita itu mengira Ainsley
last updateLast Updated : 2021-05-01
Read more

Jatuh Ke Pelukan

Dixon mengernyit menunggu jawaban Ainsley. "Apa kau tidak ingin mereka mengetahui hubungan kita?" lanjutnya. "Ti-tidak, Dixon, Bukan begitu. Aku hanya gugup saja." Ainsley menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah semerah kepiting rebus. Dixon tiba-tiba memiliki ide jahil. "Ainsley, kau terus menunduk apa kau sedang mencari uangmu yang jatuh di bawah sana? Ayo angkat kepalamu," goda Dixon. Ainsley sedikit mengerucutkan bibirnya namun ia tetap melakukan permintaan Dixon. Ia mengangkat kepalanya. Lalu tiba-tiba Dixon mendekat dan mengecup bibir Ainsley singkat. Ainsley langsung mendelik tajam mendapati perlakuan Dixon. "Dixon, kau gila! Di sini banyak orang, apa kau tidak malu?" semprot Ainsley. Ia tidak lagi malu-malu sekarang, melainkan digantikan dengan rasa kesal. "Kenapa aku harus malu? Aku mencium kekasihku sendiri," balas Dixon santai. Ainsley menghentakkan kaki karena kesal. "Menyebalkan!" tukas Ainsley lalu berjalan melewati Dixon hendak kembali lebih dulu. Nam
last updateLast Updated : 2021-05-01
Read more
PREV
1
...
45678
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status