Dixon dan Ainsley membalas pertanyaan orang tua mereka bersamaan. Lalu keduanya saling melempar pandangan. "Kau tidak setuju?" tanya Dixon menyelidik. "Ya, aku tidak setuju!" tukas Ainsley. "Tapi kenapa?" tanya Dixon lagi. Bukankah mereka sudah berdamai? Seharian mereka saling melempar sayang. Tapi kenapa sekarang Ainsley menolak perjodohan ini? Dixon dibaut terperangah tak percaya. Apa jangan-jangan tadi Ainsley hanya mengerjainya saja? Tidak, itu tidak mungkin! "Ainsley, apa kau masih tidak menyukai Dixon? Kalau begitu aku akan memaksa Dixon untuk berbuat lebih baik lagi padamu, agar membuatmu terkesan lalu kau bisa menyukainya dan jatuh cinta padanya," ujar Kendrick setelah tadi ia merasa sedikit canggung. Ainsley menggeleng kecil. "Paman, Bibi, aku tidak ingin dijodoh-jodohkan. Ini zaman modern, mana ada perjodohan? Bukankah itu hal kuno?" celetuk Ainsley. "Ainsley, tolong jaga bicaramu, kendalikan dirimu," pinta Brianna dengan menggertakkan gigi. Wanita itu mengira Ainsley
Dixon mengernyit menunggu jawaban Ainsley. "Apa kau tidak ingin mereka mengetahui hubungan kita?" lanjutnya. "Ti-tidak, Dixon, Bukan begitu. Aku hanya gugup saja." Ainsley menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah semerah kepiting rebus. Dixon tiba-tiba memiliki ide jahil. "Ainsley, kau terus menunduk apa kau sedang mencari uangmu yang jatuh di bawah sana? Ayo angkat kepalamu," goda Dixon. Ainsley sedikit mengerucutkan bibirnya namun ia tetap melakukan permintaan Dixon. Ia mengangkat kepalanya. Lalu tiba-tiba Dixon mendekat dan mengecup bibir Ainsley singkat. Ainsley langsung mendelik tajam mendapati perlakuan Dixon. "Dixon, kau gila! Di sini banyak orang, apa kau tidak malu?" semprot Ainsley. Ia tidak lagi malu-malu sekarang, melainkan digantikan dengan rasa kesal. "Kenapa aku harus malu? Aku mencium kekasihku sendiri," balas Dixon santai. Ainsley menghentakkan kaki karena kesal. "Menyebalkan!" tukas Ainsley lalu berjalan melewati Dixon hendak kembali lebih dulu. Nam
"Jadi sebenarnya kemarin kami bertengkar. Aku marah dan mengusirnya, dia pun setuju. Dia bilang dia tidak akan menggangguku lagi. Itu bukan hanya kata-kata saja, dia benar-benar melakukannya." Ainsley mulai bercerita. "Sejak dari itu aku jadi kalang kabut sendiri. Aku merasa ada yang kurang karena biasanya setiap malam dia akan menelponku dan berbicara hal-hal tidak penting hanya untuk menggangguku. Tetapi malam itu senyap. Aku terus memikirkannya bahkan sampai aku tidak bisa tidur. Akhirnya aku pergi ke taman tapi dipukuli mommy," lanjut Ainsley lagi. "Oh, jadi malam itu kau sedang memikirkan Dixon?" goda Brianna. "Bisa dikatakan begitu, Mom. Aku ... entahlah aku tidak mengerti. Aku rasa mungkin aku sudah lama menyadari perasaanku untuk Dixon tapi aku masih terus berusaha menyangkalnya. Aku pikir aku hanya terbiasa diganggu olehnya, tidak ada perasaan lain. Tapi ternyata ...." Ainsley menggantungkan kalimatnya. "Ternyata?" "Ternyata aku tidak siap jika sampai Dixon menjauhiku," p
"Kau tidak pergi bertemu Dixon hari ini?" celetuk Emily sambil memakan es krimnya. Ya, setelah selesai bercengkerama tadi mereka pergi hang out. Pergi berbelanja, nonton, berkeliling untuk sekedar window shopping, lalu terakhir mereka makan es krim di food court yang ada di mall tersebut. "Kenapa aku harus bertemu Dixon setiap hari?" balas Ainsley berlagak acuh. "Yaa, bukankah biasanya kalian mengurus proyek setiap hari?" "Kami sedang istirahat sejenak. Lagi pula kami sedang mengamati perkembangan penjualan produk pertama kami. Setelah tahu bagaimana hasilnya baru kami akan menyusun langkah selanjutnya," jelas Ainsley. "Ayolah, kita seharusnya bersenang-senang sekarang. Jangan membahas pekerjaan untuk hari ini. Otakku juga butuh istirahat, bukan?" lanjut Ainsley. "Hahaha ... baiklah." "Ngomong-ngomong, kalau aku jadi asistemnu itu berarti aku akan bisa bertemu Luke setiap hari, iya, kan?" kata Emily bersemangat. "Hm, mungkin," balas Ainsley cuek. "Kalau begitu aku pasti bisa me
"Mengapa kau ada di sini? Di mana Emily?" tanya Ainsley sama sekali tidak menatap Dixon. "Emily masih ingin bersama Luke, jadi aku suruh mereka pergi berdua dan aku menyusulmu kemari. Aku baik, kan?" celetuk Dixon berusaha membuat candaan agar suasana mencair, tetapi ia belum berhasil. "Ck, baik apanya!" decak Ainsley memperlihatkan rasa tak sukanya. "Aku penasaran mengapa kau tiba-tiba marah padaku, Ainsley? Kau cemburu karena aku pergi bersama Luke kah?" "Tolong sedikit disaring sebelum berbicara. Mengapa aku harus cemburu pada Luke sedangkan aku tahu hubunganmu dengan Luke. Aku baru akan cemburu jika kau berpelukan dengan perempuan lain!" Oh, Tuhan! Ainsley keceplosan. Mungkin setelah ini Dixon akan menertawakannya dan mengejeknya habis-habisan. Sial! Dixon masih mencerna kalimat Ainsley. Ia tahu tapi ia tidak ingin salah paham, jadi ia mengulang-ulang kalimat Ainsley dalam hati agar ia tahu apa maksudnya. Dixon akhirnya tersenyum miring setelah terdiam selama beberapa saat.
"Permisi, apakah Tuan Ashton ada di tempat? Bisakah saya menemuinya?" Seseornag datang ke meja resepsionis. "Selamat pagi, maaf, dengan siapa saya berbicara?" balas Sarah sopan. "Saya Mattew, dari perusahaan RnB." "Baik, Tuan Mattew, apakah Anda sudah memiliki janji dengan Tuan Ashton?" tanya Sarah menjalankan prosedur yang ada. "Ya, Tuan Ashton yang memintaku untuk datang mengantar desain perhiasan yang akan segera launching pada musim ini," jelas Mattew menunjukkan kesopanannya, tidak seperti perempuan dari perusahaan RnB yang datang beberapa waktu lalu. "Mohon tunggu sebentar, saya akan menghubungi Tuan Ashton terlebih dahulu, silakan Anda duduk dulu." Sarah dengan sopan mempersilakan Mattew duduk pada kursi yang tersedia. "Ya, terima kasih," balas Mattew sambil mengangguk lalu ia pergi duduk. Sarah pun segera menelpon Freddy. "Selamat pagi, Tuan. Saya ingin memberitahu Anda bahwa Tuan Mattew dari perusahaan RnB datang untuk mencari Anda. Tuan Mattew bilang dia telah membuat
"Dad, boleh aku pulang denganmu?" "Kenapa tidak? Tapi ke mana mobilmu, Ainsley?" tanya Freddy ingin tahu. "Emily ada urusan yang mendesak jadi aku minta dia pakai mobilku saja," balas Ainsley. "Oh, ya sudah ayo, daddy tunggu di mobil," kata Freddy. "Baik, aku ambil barang-barangku dulu." Ainsley langsung berlari ke ruangannya untuk mengambil tasnya sebelum menyusul Freddy. Setelah selesai mengambil barang-barangnya, Ainsley menyusul ayahnya segera. "Oh ya, Dad, aku lupa belum memberitahumu," kata Ainsley memulai obrolan. "Hm, memberitahu apa?" tanya Freddy. "Kemarin Dixon sempat mengajakku ke tempat pelatihan yang dia rekomendasikan. Metode pelatihan di sana bagus, Dad, aku pikir aku akan latihan di sana saja." "Oh ya? Di mana? Coba besok daddy cek," balas Freddy. "Weekend besok aku akan mengajakmu ke sana, Dad, kita lihat sama-sama," kata Ainsley. "Siap, Tuan Putri." "Oh ya, Dad. Di mobilku banyak sekali senjata tapi aku tidak mengenal mereka," kata Ainsley lesu. Freddy t
Ainsley sama sekali tak melepaskan pandangannya dari ayahnya. Ia terus saja memperhatikan ayahnya bergerak lincah namun kalah jumlah. Ayahnya sudah mengalahkan dua diantara musuh-musuhnya. Namun masih ada dua musuh yang sangat tangguh, menyerang ayahnya bertubi-tubi secara bersamaan. Ainsley meringis melihatnya. Ia tak tega melihat ayahnya dipukuli seperti itu. Freddy mulai lemah, gerakannya tak segesit tadi, pukulannya tak sekuat tadi. Pikiran Ainsley mulai melayang membayabgkan hal yang tidak seharuanya ia bayangkan. "Ya Tuhan ... kumohon ... lindungilah daddy. Jika aku bisa aku pasti akan membantunya." Ainsley tak henti-hentinya memanjatkan doa. Ainsley meraih ponselnya, hendak menghubungi Dixon lagi namun ia urungkan. Karena ia takut mengganggu konsentrasi menyetir Dixon. Ainsley mulai tak tenang karena ayahnya sudah hampir kalah. Tidak, ayahnya sudah kalah. Dua penjahat itu mengeroyok ayahnya tanpa memberi ampun. Sepertinya mereka memang ingin merenggut nyawa penguasa Emperor
Seorang gadis termenung sendiri di depan cermin. Wajah ayunya dihiasi air mata yang membasahi pipinya. Paras yang berseri itu tampak tersirat kesedihan, atau entah itu perasaan haru. Dia tengah mengingat masa-masa yang telah berlalu. Dia sama sekali tidak menyangka hari ini akan tiba, hari yang akan menjadi hari berbahagianya. Ia tidak percaya bahwa orang yang ia pikir sangat ia benci ternyata hari ini akan menikahinya. Hari ini ia akan melepas masa lajangnya dan setelah hari ini statusnya akan berubah. Gadis itu mengangkat tangannya dan menggerakkan jemarinya untuk menghapus air matanya yang jatuh semakin deras. Puk! Sepasang tangan menepuk bahu gadis itu pelan sambil menatap gambaran diri yang terpantul pada cermin. "Aku tidak percaya aku sudah dewasa, Mom, aku masih ingat saat aku menangis meminta dibelikan permen kapas tapi daddy melarang," ujar gadis itu yang tak lain adalah Ainsley. Seorang yang dipanggil mommy itu tersenyum hangat. "Putri mommy memang sudah dewasa, dan dia
Dua minggu telah berlalu dengan begitu cepatnya. Tanpa disadari waktu terus berputar. Tanpa disadari hari demi hari telah terlewati. Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu. DE BRIGHTENING akhirnya akan launching produk barunya. Di ballroom sudah dipadati para tamu undangan yang begitu banyak. Kali ini dua perusahaan Emperor dan Dynamit menggelar acara dengan sangat meriah. Lebih meriah berkali-kali lipat dibandingkan saat launcing produk mereka pertama kalinya. Pelaksaan acara hari ini berbeda dengan saat itu. Selain acaranya yang lebih meriah, kali ini juga tersedia banyak hadiah berisi paket DE BRIGHTENING yang lengkap untuk para tamu yang beruntung dan tentunya para tamu yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara. "Kita semua bisa lihat penampilan facial wash yang resmi keluar hari ini, sangat cantik, bukan?" seorang narator tengah memandu acara saat ini, yang akan menjelaskan tentang produk-produk yang baru saja mereka luncurkan. "Hanya ada satu varian facial wash?" tanya salah s
Jalanan yang mulai lengang membuat Ainsley berani menaikkan kecepetan berkendaranya. Namun tiba-tiba ia terpaksa harus menghentikan laju mobilnya karena sebuah mobil berhenti di tengah jalan, menghalangi jalan yang akan Ainsley lewati. Ainsley membunyikan klakson berkali-kali namun beberapa orang di sana tak ada yang bereaksi.. "Sial! Apa mereka semua tuli? Apa yang mereka lakukan di sana? Jika mobil mereka mogok kenapa tidak memanggil montir saja? Haih ... aku tidak boleh tertahan di sini," gerutu Ainsley pelan. Ainsley memutuskan untuk turun dari mobilnya dan segera menghampiri mereka. "Maaf, apa yang terjadi pada mobil kalian? Kenapa berhenti sembarangan dan menghalangi jalan?" tanya Ainsley berusaha untuk sopan. Empat orang laki-laki itu berbalik badan dan menatap nyalang ke arah Ainsley bersamaan. "Maaf, jika mobil kalian mogok dan butuh montir aku bisa panggilkan montir untuk kalian, tapi bisakah kalian menepikan mobilnya dulu, aku harus pergi sekarang," lanjut Ainsley. "K
"Secara keseluruhan kau sudah menguasai semuanya, Ainsley. Apalagi dalam menembak kau sangat jago. Sebentar lagi aku akan memberikan ujian padamu dan jika kau mampu bertahan maka kau bisa dinyatakan lulus," ujar Alex. "Sebenarnya lulus atau tidak itu hanya formalitas saja, yang terpenting kau sudah menguasai tekniknya. Kau hanya harus berani menerapkannya di medan pertarungan," sambung Brandon. "Aku sangat senang bisa berlatih disini, bisa dilatih oleh kalian. Tetima kasih atas segala hal yang sudah kalian ajarkan padaku. Aku akan siap menjalani ujiannya, kapan pun itu. Aku juga akan berusaha untuk tidak mengecewakan kalian. Kalian sudah bekerja keras jadi aku juga harus bekerja keras," ujar Ainsley serius. "Kau siap untuk ujian?" tanya Alex mengulang pertanyaan. "Aku siap!" balas Ainsley mantap. "Meskipun itu mendadak?" tanya Alex lagi. "Ya, itu tidak masalah." "Bagus. Aku suka semangatmu, Ainsley," puji Brandon. "Oh ya, hari ini kebetulan aku ada acara, jadi kau bisa pulang l
Iklan untuk promosi sudah disebarluaskan di internet. Banyak sekali warganet yang berkomentar positif. Mereka sangat penasaran pada produk baru DE BRIGHTENING setelah keluarnya body wash dan body lotion yang sangat fantastis itu. "Aku senang mereka memberikan respon positif. Ini membuat kita bisa semakin semangat dan maju, benar?" kata Ainsley sebagai pembuka percakapan. Tadinya Ainsley ingin berkumpul dengan rekan-rekannya sebentar saja, tapi karena mendapati komentar-komentar warganet yang menunjukkan ketidak sabarannya terhadap produk baru mereka, Ainsley jadi lupa pada rasa lelahnya. "Benar, aku jadi semakin tidak sabar ingin segera meluncurkan produk kita secepatnya," sambung Emily bersemangat. "Sepertinya kita perlu mengadakan perayaan untuk pencapaian kita," imbuh Luke. "Tidak, janga dulu. Kita belum mencapai apa-apa. Kita bahkan belum meluncurkan produknya," lanjut Dixon. "Hanya makan-makan saja, Dixon. Lagipula mumpung Ainsley ada di sini, kan? Jarang-jarang Ainsley bisa
"Selamat pagi," sapa Ainsley datang ke meja makan. "Pagi, Sayang, bagaimana kabarmu hari ini?" balas Freddy bertanya. "Aku baik, Dad." "Kau sepertinya semakin kurus, Ainsley, ayo makanlah yang banyak," sambung Brianna. "Oh ya? Aku sama sekali tidak kurus, Mom, itu pasti hanya perasaanmu saja," jawab Ainsley. "Pokoknya kau harus makan yang banyak. Ini, mommy ambilkan. Kau butuh banyak nutrisi untuk latihan, jadi kau juga harus makan yang banyak, jangan pikirkan tentang diet," kata Brianna menasehati. "Iya, Mommy sayang. Memangnya siapa pula yang diet? Dan kapan aku pernah diet?" "Tapi kau selalu makan sedikit. Sekarang kau tidak boleh makan sedikit, apalagi hanya makan buah saja." "Kau sedang menasehati dirimu sendiri, Brianna?" sela Freddy menggoda. "Apa?" "Hahaha ... ya begitulah saat kau muda. Kau bisa lihat dirimu dalam diri putri kita," celetuk Freddy. "Tapi mommy benar, kau memang harus makan yang banyak, Ainsley," lanjut Freddy lagi. "Iya iya, Dad. Aku akan habiskan i
"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh merindukan kekasihku sendiri?" kata Dixon menggoda. Ainsley tersipu malu. "Tentu saja boleh, aku pun merindukanmu," balas Ainsley. "Sial! Kenapa kalian bermesraan di depan kami?" Brandon menggerutu kesal. "Kau masih belum memiliki kekasih? Aku pikir kau mengejar Rose teman satu tim camp-mu," celetuk Dixon. "Jangan bahas itu lagi. Kau seperti tidak tahu bagaimana dan siapa Rose saja. Akan aku hadiahi villa mewah untuk siapa pun yang berhasil memiliki Rose," kata Brandon sedikit sinis. Pasalnya Rose orang yang sangat cuek dan sangat sulit didekati. Selama lima tahun berada di satu tim yang sama, belum pernah sskali pun Brandon mendapatkan perhatian dari Rose. Tidak Brandon, tidak siapa pun. Karena memang begitulah Rose. Dixon tertawa. "Bagaimana kalau aku yang berhasil mendapatkan Rose? Aku tidak ingin hanya mendapatkan villa, aku ingin dihadiahi pulau yang kau miliki itu," celetuk Dixon. "Kau mau itu? Ambil saja. Khusus untukmu aku akan berikan a
"Aku ingin mengusulkan sesuatu untuk produk kita, boleh?" tanya Emily. "Hm, apa?" tanya Dixon tanpa mengalihkan perhatian dari laptopnya. "Bagaimana kalau kita sekaligus mengeluarkan shampoo?" kata Emily. Dixon seketika menghentikan aktivitasnya lalu mengalihkan perhatiannya pada Emily. Begitu pula dengan Luke yang juga mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang tengah ia garap. "Shampoo?" "Iya. Produk yang keluar lebih dulu sudah ada body scrub, untuk melengkapi kebutuhan toiletries kita juga harus meluncurkan shampoo, bukan? Untuk kebutuhan wajah kita meluncurkan facial wash, jadi aku rasa tidak ada salahnya kita luncurkan shampoo juga," tutur Emily. "Bagaimana menurutmu, Dixon? Akan kita luncurkan bersamaan dengan ini atau mungkin kau punya rencana lain?" tanya Luke meminta pendapat Dixon, yang sejatinya adalah orang yang mengepalai proyek tersebut. "Hmm, kalau aku sih setuju-setuju saja. Menurutku bagus juga jika kita mengeluarkan produk shampoo juga. Karena aku sudah memilik
Ainsley sudah selesai mandi sejak belasan menit yang lalu. Kini ia duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu kedatangan Dixon sambil memainkan ponselnya. Ainsley menelpon seseorang yang akan ia ajak kerjasama dalam beberapa waktu ini. "Hallo, Jeremy, maafkan aku mengganggumu malam-malam begini. Aku tahu seharusnya tidak membicarakan soal pekerjaan di luar jam kerja," ujar Ainalsley sudah menyampaikan permintaan maafnya sebelumnya. "It's okay, Ainsley. Aku mengerti kesibukanmu. Tidak perlu sungkan," balas orang bernama Jeremy itu, yang adalah orang dari jasa periklanan. Mereka sudah cukup akrab setelah beberapa kali pertemuan dan juga sering mengobrol via telepon, tentu saja untuk membicarakan pekerjaan. "Jadi, apa yang kau perlukan, Ainsley?" tanya Jeremy. "Hmmm ... begini, Jeremy. Aku ingin kau buatkan iklan yang berisi beberapa clue untuk menarik perhatian calon pelanggan. Buat iklan itu agar ramah di internet dan juga aku ingin kau pasang iklan itu di gedung Emperor," pinta Ainsl