Maria berpegangan kuat pada dinding speed boat, tubuhnya melayang seakan dibawa oleh ombak. Dia selalu meneriaki nama Steve.
“Steve, Oh my God. Aku takut Steve…”
Yang punya nama malah terkikik, “Gak usah takut sayang, aku disini untuk kamu. Please hold my hand!” Maria mengeratkan tangannya pada Steve.
“Bolehkah ku buka penutup mata ini? Aku penasaran sayang, kita lagi dimana ini? Kok tubuh aku melayang—layang rasanya?”
Steve berbisik, “Belum saatnya, keep calm baby girl!” diakhiri dengan hembusan nafas hangat dari mulut Steve.
Maria memegang tengkuknya, “Sayang, jangan aneh—aneh please.”
Steve mengecup pucuk kepala Maria. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Maria. Tubuh Maria menghangat karena dipeluk erat oleh Steve. Hembusan angin laut menyapa kulit putih Maria. Meninggalkan bekas seperti butiran debu yang halus. Maria mendekap lingkaran tangan Steve di pinggangnya.
“How lucky I’m cause you’re here with me!”
“Me more baby!”
Steve semakin mengeratkan pelukannya. Maria pun nyaman dengan posisi begini, ia bisa memasukkan kepalanya di ceruk leher sang suami. Nyaman dan hangat.
“Kita sebentar lagi akan sampai ya sayang, bersiaplah!”
Bisikan Steve membuat Maria bergidik, ‘Apa ini sudah waktunya untuk aku dan Steve? Our time?’
Steve membopong tubuh Maria turun dari speed boat. Kaki mereka sudah menyentuh daratan. Sesekali genangan air menghampiri kaki mereka. Maria pun terkesiap.
“Sayang, kok ada air ya? Kamu bawa aku kemana ini?” Maria mulai panik.
Steve semakin terkekeh, melihat Maria yang dilanda kepanikan adalah suatu hiburan yang mahal untuknya. “Kamu mau tau kita ada dimana?”
“Mau dong. Mau banget. Please buka ya ini penutup matanya.” Ujar Maria dengan manja.
“It’s for you baby,” Steve membuka penutup yang dia kenakan pada Maria sebelum menaiki speed boat. Ia buka pelan—pelan. Maria semakin geretan.
“Steve, jangan dilama—lamain deh. Kamu mau aku mati penasaran?” sebuah protes dilayangkan oleh Maria pada suaminya.
“Hitungan ketiga ya,”
“Satu”
“Dua”
“Tiga”
………
Maria melongo melihat keindahan alam yang terkembang jelas di pelupuk matanya. Mulutnya ikut menganga, takjub, bahkan tak percaya bahwa ia yang bukan siapa—siapa bisa mendapatkan perlakuan istimewa begini dari seorang idola para wanita.
Maria pun meneteskan air matanya, ia menangis. Steve cemas melihat perubahan pada Maria.
“Sayang kenapa hmmm?”
“I’m so happy. You’re my happiness Steve.”
Tatapan mereka bersirobok, Steve menghapus air mata Maria. Menenangkan jiwanya yang bergetar, menarik Maria untuk masuk kedalam pelukan hangatnya.
“Sudah ya, jangan nangis. Kamu itu kalau nangis, ntar make up nya luntur loh.” Goda Steve yang tidak pada tempatnya.
Maria menarik diri keluar dari pelukan Steve, “Jadi wajah aku jelek kalau make up ku luntur, begitu?”
Steve mengacak asal rambut Maria, Cup, “WELCOME TO MARIA ISLAND!”
……
“Hah pulau aku?”
“Iya, Maria Island.” Steve membenarkan apa yang didengar oleh Maria.
“Mau berkeliling nona?” tawar Steve pada Maria seraya mengulurkan tangannya. Maria ikut tersenyum, lalu menyambut tangan Steve.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Steve mengajak Maria mendaki sedikit ke atas tebing buatan yang berada di bibir pantai.
“Sunset akan terlihat lebih indah kalau kita berdiri disini.” Steve mengelus pipi Maria. Sentuhan Steve ini sangat disukai Maria, ia merasa seperti seorang dewi. Yes, She is Steve’s Angel.
“Kamu benar sayang. Sunset disini indah banget. Aku wanita yang sangat beruntung bisa duduk disini, dan jadi pendamping kamu.”
Maria menoel hidung mancung Steve. Pria tampan ini terkekeh. Maria memagut duluan, Steve menerimanya, mereka saling berbagi, hingga Steve memimpin permainan.
Nafas Maria tersengal-sengal, “Kamu ya, dikasih hati mintanya jantung!” Maria merungut. Ia tak menyangka Steve akan meraba—raba tubuhnya.
“Kamu kan milikku sekarang, bebas dong!” protes Steve akan sindiran yang ditujukan padanya.
“Ya kan ini masih diluar Steve, aku malu.”
“Gak ada orang disini sayang, cuma kita.” Steve kembali menarik pinggang ramping Maria, wanita kalau sudah ditangkap pasti susah melepaskan diri, hal ini juga berlaku untuk Maria. Dengan susah payah akhirnya ia bisa terlepas dari si tangan besar, Steve.
“Hahahaha… ayo Steve kejar aku sini.” Maria terus berlari dan memanggil nama Steve.
Merasa ditantang, Steve mengejar Maria dengan cepat, “Awas ya, kalau aku bisa nangkep kamu, semua yang ku mau harus kamu turuti, No Debat!”
“I will baby…” pekik Maria yang sudah menjarak dari Steve.
Mereka berlari—lari dengan kaki telanjang. Tak sering kaki mereka tenggelam didalam pasir putih yang halus. Maria semakin kencang untuk berlari, karena Steve tidak pernah main—main dengan perkataannya. Steve pun berpura—pura untuk melambat. Membiarkan sang bidadari hati bersenang—senang dengan apa yang dia mau.
“Ahhhh… Steve, I’m so tired. Istirahat dulu ya!”
Maria berdiri ditempat, nafasnya tersengal—sengal, tenggorokannya mengering, berkali—kali Maria menarik salivanya agar membasahi mulutnya.
“Siapa suruh lari—lari hah?” ejek Steve pada sang istri.
Melihat Maria yang kelelahan begitu membuat Steve terangsang. Bulir keringat yang membasahi pelipis Maria, bagai magnet yang menarik Steve untuk segera menyentuhnya. Belum lagi geraian rambut dark brown alami Maria, terlihat sedikit lepek tapi itu pesona Maria.
“Damn it,”
Steve berlari pada Maria, karena tak siap Maria pun tidak bisa mengelak lagi. Tubuhnya segera di bopong ala bridal style oleh Steve.
“Ahhh… kamu curang, aku kan lagi istirahat!” Maria melayangkan pukulan manja pada Steve.
“Ayo kita masuk sayang,” Steve menggendong Maria untuk memasuki Villa yang akan mereka tempati selama seminggu ke depan.
Pintu geser otomatis terbuka karena sensor menangkap adanya tubuh manusia yang ingin melewatinya.
“Kamu sengaja ya, pintunya begitu?” tanya Maria polos.
“Ya, karena tanganku sibuk sekarang ini. Dia sangat membantu bukan?”
Maria merengut, mendengar kata sibuk Steve. “Jadi aku berat ya?”
Steve mengecup sekilas bibir Maria, “Sedikit,” diakhiri dengan tawa renyah dan manis yang Maria sukai.
Maria sudah diturunkan oleh Steve. Kaki Maria sudah menapak di lantai. “Ini kamar kita, kamu suka?” tanya Steve lembut.
Mata Maria terpesona akan keindahan interior ruangan yang sangat luas ini, “Ini besar banget sayang, cantik.”
Maria berjalan meninggalkan Steve sejenak. Ia mengelilingi setiap sudut kamar. Terlihat ranjang yang luas, dihiasi dengan taburan mawar ukiran bentuk hati. “Beautiful!”
Satu tangan Steve memeluk pinggang Maria dari belakang, satunya lagi menyibak rambut Maria yang terurai indah, tengkuk putih mulus Maria terlihat membuat Steve susah menelan salivanya. Steve mengeratkan pelukannya, Steve mengecup dengan lembut, menghirup wangi manis seperti kue, “Aku suka parfume kamu sayang, membuatku ingin secepatnya melahapmu.”
Steve membalikkan tubuh Maria, sedikit mendorong ke arah dinding kamar, memegang kepala sang istri agar tak merasakan sakit. Tak tahan lagi, Steve menempelkan bibirnya pada bibir lembut Maria, mengulumnya lebih dalam, tangan Steve mengelus tengkuk Maria meminta Maria untuk membuka mulutnya.
Steve berhasil masuk, lidahnya bisa melilit lidah Maria. Mereka saling membalas, mencecap, bergantian atas bawah, hingga Maria melolongkan desahan atas kerja bagus sang suami.
Tangan Steve yang lain turun dari belaian tengkuk, tertahan karena tergoda oleh gundukan indah padat milik Maria, sayang bukan kalau tak bermain dulu dengannya.
Maria kelimpungan merasakan gelenyar dari remasan tangan suaminya ini, tidak kasar ada kelembutan dari tempo yang diberikan. Maria menggigit bibir bawahnya, sedikit malu untuk ia bersuara.
“Sayang, jangan digigit begitu bibirnya.” Protes Steve dengan kilatan mata yang sudah menggelap.
Steve melahap bibir Maria lagi, kecupan mereka sangat dalam, Maria semakin terbang karena entah kapan dress yang dikenakan sudah teronggok di lantai dekat mereka berdiri. Menyisakan bra gstring yang tak menutupi sepenuhnya.
Steve menggendong tubuh Maria seperti anak koala. Kaki Maria melingkari pinggang Steve, kedua tangannya bertengger di bahu Steve, dan bibir Steve masih melumat. Maria membalasnya dengan sedikit menggebu, hormon estrogen Maria menginstruksikan untuk tidak malu lagi pada suami sendiri.
Sedikit kasar, Steve melempar tubuh Maria ke ranjang. Maria terkesiap namun hal itu disukai oleh Maria. Tatapan mereka bersirobok, saling melirik, dan Steve sudah shirtless menyisakan boxer saja.
Maria tertawa, Steve pun langsung datang pada Maria. Menghimpitnya tanpa celah, bibir Steve mengecup apapun yang dia inginkan dan dia lihat.
Steve membuka paksa pengait bra, melemparnya ke udara lalu tergeletak di lantai, ia pun mengulum biji coklat milik Maria yang sudah menegang. Steve menghisap layaknya seperti bayi yang sedang minum ASI.
Tangan Steve mulai bergerilya menyentuh bagian bawah Maria, ia mencoba memasukkan satu jarinya. Maria memekik karena setruman nakal dari Steve, nafas mereka memburu, keringat mengucur membasahi tubuh.
“Ssstttvee… aku mau keluar,”
Steve mempercepat temponya, menambahkan jarinya satu lagi, “Do it baby,” balasnya dengan suara baritone. Steve semakin menggosok lalu menekan Maria. Sang istri memekik lebih kencang, tubuhnya terkejut mendapat satu lagi setruman.
Cairan itu mengalir membasahi jari Steve, ia kulum layaknya lollipop. Steve mengarahkan king nya pada Maria, ukurannya yang besar dan berurat, satu hentakan dari king berhasil mengoyak selaput dara milik Maria.
Beberapa tetesan darah melekat pada king Steve, sprei menampung tetesan darah perawan sang istri. Maria tak kuasa menahan aliran setrum yang sangat hebat pada dirinya. Tanpa Maria sadari, mulutnya menggigit bahu Steve, tangannya juga mencakar punggung Steve.
“Tahan ya sayang, gak lama kok sakitnya. I promise!”
Steve berusaha menenangkan Maria, ia tertahan belum bergoyang. Steve mau Maria juga menikmati kegiatan mereka. Steve ingin Maria merasa bahagia bukan tersiksa.
Steve mengecup kening Maria, kedua matanya, Steve mengecup pipinya yang basah karena air mata yang menetes menahan rasa sakit. Steve mengulum lembut bibir Maria bergantian.
“I’m ready,” ujar Maria setelah tenang.
“Are you sure?” Steve mengkonfirmasi.
Maria mengerjapkan matanya, mata adalah anggota tubuh yang tidak akan pernah berbohong. Lain halnya dengan mulut, yang selalu bisa memanipulasi.
Mereka terlelap seperti bayi kembar, saling berbagi pelukan hangat. Maria memunggungi Steve, tangan Steve mengapit perut Maria. Steve juga menekuk sedikit lutut Maria, hingga lutut mereka beradu. Sinar matahari menyusup melewati celah—celah kecil jendela kamar yang mereka huni. Sinar itu mengecup mata Maria. Mata Maria memicing sedikit, karena silauan cahaya itu tak nyaman bagi matanya. Maria bergerak dengan sedikit kesulitan. Ia baru menyadari kalau dirinya dipeluk oleh Steve dengan erat. Maria berupaya untuk membalikkan dirinya, ia sudah kangen melihat wajah tampan sang suami. Maria mengangkat lengan kokoh Steve dari perutnya. Ia pegangi sementara tubuhnya yang polos bergerak untuk menyejajarkan posisi dengan Steve. “Huh, akhirnya!”
Setelah acara dadakan di kamar mandi, keesokan harinya Maria bangun duluan. Ia pun bergegas membersihkan diri. Ia pun masuk ke dapur, memeriksa bahan masakan yang akan diolah untuk sarapan mereka.Ketika sedang sibuk berkutat dengan pisau, bawang—bawangan hingga talenan, ada saja yang mengusik kerjaan Maria.“Kamu ngapain disini?” Steve sudah memeluknya dari belakang, menciumi sebelah bahu Maria yang terbuka.Salah Maria juga, kenapa ia mengenakan midi dress selutut tanpa lengan. Maria juga mencepol seluruh rambut yang sudah ia hair dryer ke atas, otomatis leher jenjangnya akan terlihat lebih menggoda.“I wanna cook. Get away please…” usir Maria lembut, pada serigala lapar.Steve semakin m
Steven mengendarai mobil sport dengan tenang. Ia sengaja mempercepat kepulangannya dari kantor. Ia tak mau melewatkan jadwal cek up pertama Maria dengan dokter Gilsha.“Untung saja Nathan bisa menemukan dokter pengganti. Perempuan, yang penting dia junior dari dokter Gilbert. Artinya dokter Gilsha juga kompeten.”Maserati ghibli berwarna biru metalik telah menempati salah satu lahan parkir mobil pada garasi rumah Steven. Tuan rumah nan tampan tak ada bandingnya, turun seraya menebar pesonanya. Steve berjalan menuju ruang utama istananya dengan Maria.Sebuah rumah dengan interior klasik Italia. Rumah mewah berlantai tiga. Semua fasilitas ada di dalam istana mereka. Sebut saja, pasti ada. Bahkan rumah itu terlihat seperti hotel bintang tujuh. Padahal pemiliknya cuma dua orang, yang lainnya juga ikut tingga
Steve dan Maria dituntun oleh seorang suster jaga yang mendapat tugas untuk mendampingi dokter Gilsha. Pelayanan mereka ramah dan sopan.“Silahkan duduk,” dokter Gilsha mempersilahkan Steve dan Maria untuk duduk pada kursi konsultasi.Dokter Gilsha membuka resume Maria, ia baca lamat—lamat kondisi yang dijelaskan sebelumnya. Maria merasa deg degan karena ini hal pertama baginya.“Rileks aja ya Bu Maria,”“Oke bu dokter,” balas Maria dengan senyum kikuk.“Ibu sudah periksa pake test pack ya?”“Ya bu dokter, pagi ini saya periksa dengan urine pertama bu dokter. Saya pernah baca artikel, kata penulisnya urine pertama di pagi
Malam ini terasa beda bagi Steve dan Maria. Biasanya mereka akan melewati malam dengan berolahraga bersama sampai lelah. Namun mulai malam ini, mereka hanya berolahraga ringan saja. Sekedar bercumbu hingga mengelus kasar bagian favorit masing—masing. Setelah itu Steve akan bermain solo, menuntaskan hasratnya.Steve beranjak terburu—buru dari kasur mereka. Meninggalkan Maria dengan ekspresi yang sulit diartikan.Maria melihat bayangan Steve juga ikut masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar mereka. Hati Maria tak berlabel kini. Senang, karena ada bibit janin dalam rahimnya yang akan tumbuh berkembang menjadi bayi lucu. Dan sebagian lagi terluka, melihat Steve yang kelimpungan saat mengambil alih tugasnya.Maria semakin teriris saat mendengar Steve berfantasi seraya melolongkan namanya. Susah payah Mar
“owk…” “owk…” “owk…” Maria memegang kloset duduk itu dengan kuat. Hampir seluruh wajahnya masuk ke dalam kloset tersebut. Hari masih menunjukkan pukul 5 pagi. Tubuh Maria melemas. Tubuhnya tak mampu menopang diri lagi. Maria merosot lalu duduk di lantai kamar mandi. Kepalanya terasa pusing. Perutnya seperti memuat angin tornado, membuncah seperti lava gunung berapi yang ingin keluar dari sarang. “Astaga… sakit sekali rasanya.” Maria masih mengatur deru nafasnya, yang tak berimbang. Tangan Maria masih memegangi kepalanya, terasa mau pecah. Steve menggaruk sebelah pipinya pelan. Matanya masih terpejam. Reflek tubuh Steve mengeliat ke arah Maria, guna mencari pelipur tidurnya.
Kepala Nathan cenut—cenut, ia menumpukan kepalanya yang berat itu pada kedua tangannya yang menekan permukaan meja kerjanya. Nathan sudah berusaha untuk mencari ahli gizi dan psikiater terbaik di kota ini.Problemnya adalah semua yang ia dapatkan mempunyai gender yang sejenis dengannya. Tentunya itu hal terlarang bagi Steven, No Male. Nathan menjambak kasar rambut hitamnya. Penampilan Nathan sudah tidak karuan. Nathan yang rapi menghilang sementara waktu.“Oh... GOD” Nathan berjalan asal, ia meninggalkan kursi kebanggaannya. Seperti setrika yang ada pada pakaian lecek, maju mundur sampai pakaian itu rapi.Nathan melihat jam tangannya, matanya semakin sakit melihat jarum jam yang sudah mendekati waktu sore hari. Nathan belum juga mendapatkan nama perempuan yang diminta Steven.
Nathan bergerak cepat. Setelah dari Hospital City Center ia langsung melajukan mobilnya ke rumah Steven. Dengan semangat ia membelah jalanan yang masih dilanda kemacetan. Nathan tak hentinya tersenyum. Suasana hatinya gembira ria. Bahkan di tengah kemacetan ibu kota, ia menyempatkan diri untuk bekerja. Berkas yang dimasukan ke dalam tas kerjanya, ia keluarkan satu buah. Ia pun mulai bekerja, memeriksa rincian laporan dari divisi kantor. Pembaharuan dari hasil rapat terakhir kemarin. Nathan yang terlalu fokus ke berkas laporan mendapat teguran dari pengendara lain. Mobilnya kena semprot klakson. Bukan hanya sekali tapi beberapa kali. “Astaga, lampu sudah hijau ternyata!” Nathan menaruh berkas di kursi sebelah pengemudi. I
Sebelum waktu subuh menyapa, Edwin sudah rapi mengenakan kemeja lengan panjang, celana bahan, juga menggamit blazer beige di lengan. Ia menjinjing tas kerjanya yang berwarna coklat. Oxford shoes yang dikenakan senada dengan warna tas. Menuruni anak tangga rumah berbelok ke ruang makan. Sesibuk apapun pekerjaan, Edwin tidak pernah melewatkan waktu makan. Petunia meneliti menu sarapan yang akan dilahap tuan muda Rusyadi itu.“Morning Petunia,” sapa Edwin layaknya anak ke ibu.“Good morning tuan Edwin, silahkan sarapan dulu,” Petunia menunjuk ke hidangan waffle saus blueberry juga secangkir kopi hitam.“Thank you Petunia,” Edwin menyeruput kopi panas itu santai, “Kabar Aluna bagaimana Petunia, masih suka menangis?” ujarnya seraya memotong waffle.Petunia berdiri di samping kanan Edwin, “Masih tuan. Nona Aluna menutup diri, hanya di kamar saja.”“Selera makannya bagaimana?” tanya Edwin datar.“Susah tuan, kalau tidak dipaksa nona tidak mau makan. Paling banyak cuma tiga kali suapan, saya
Satu jam Steven duduk termenung, menanti namanya yang dipanggil. Ia lesu. Wajahnya di lekuk, bahkan ia tak memperdulikan pandangan pasien lain. Penyesalan yang sudah tidak ada artinya lagi. Steven hanya bisa pasrah, kejadian ini belum masuk logikanya, tapi semua yang telah terjadi. Fakta adalah kenyataan yang tidak bisa ia rubah lagi.‘Aku harus apa-in Serena? Demi Tuhan, cinta ini hanya untuk Aluna. Bagaimana kalau Serena berbadan dua karenanya? Argh…’Kepala Steven semakin sakit. Ulah ia menerka—nerka kemungkinan terburuk yang akan menimpa hidupnya. Hatinya sudah terisi sosok Aluna, tidak ada tempat lain lagi, kecuali itu mama Matilda juga putra semata wayang Kenzie.‘Aku nggak sanggup menceritakan kejadian ini pada Aluna. Tentu ia akan menangis bersedih, bahkan menampar pipi ini den
Steven semakin tersiksa, nyeri di tangan kanan terasa kian hebat. Sakit sekali. Kidal—nya beraksi, melalui telepon intercom memanggil supir pribadi. Ia tak menunggu lama, tepat di deringan nada pertama terdengar sahutan di seberang.“Halo tuan,” ujar seorang pria bernada sopan dibalik sambungan.“Jemput saya ke ruangan sekarang, cepat Anto!” tutup Steven.Anto, si supir pribadi termenung. Ia bertanya—tanya, selama mengabdi belum pernah sekali pun naik ke ruangan sang majikan guna menjemputnya. Dan kali ini?Steven terkenal jadi seorang yang mandiri, tegas dan dingin. Kemarahannya akan lama susut, bahkan ribuan cara pun dilakukan belum tentu akan membantu. Steven tipikal seorang pendendam.“Ah,… sudahlah, lebih baik segera naik. Jangan sampai tuan marah juga ke saya!” Anto mengetahui retaknya hubungan kerja antara Steven dengan Hunter juga Nathan. Kini ia pun menjadi kaki tangan mereka diam—diam, tanpa diketahui si bos besar.Anto naik elevator eksekutif, ruang kedap signal titanium it
Steven kelimpungan dalam ruangan. Ia heran pada Aluna, kekasihnya itu kenapa tidak bisa di telpon. Nomornya dialihkan ke pesan suara. Ia tak bisa mendengar lagi pesan manis yang sempat direkam Aluna kemarin. Ribuan tanya tersisipkan, “Apa terjadi sesuatu dengan Aluna? Angkat dong sayang, ku mohon Aluna,…”Beban pikirannya kian bertambah, kemanakah Steven harus mencari Aluna?Pada siapa pula ia harus bertanya?“Sekolah ‘kan masih libur, gak mungkin ada orang disana. Pasti cuma ada pegawai tata usaha disana, Aluna ‘kan tenaga pengajar, mustahil ia kesana!” Steven menjambak rambutnya marah.Sebuah memori tersampir dalam ingatan Steven.“Ya,.. Hunter, jawabannya. Benar sekali!”Steven memanggil sang asisten melalui panggilan intercom, “Ke ruangan saya sekarang!” kemudian nada kereta api yang terdengar.Hunter melerai gagang intercom, lalu memandangnya penuh tanya, ‘Ada apa lagi ya?’ telepon sudah diletakkan pada tempatnya. Ia melangkah lebar hendak menemui sang atasan.Pintu ruangan priba
Amićo terparkir di halaman mansion. Steven keluar tanpa menutup pintu mobil, bahkan deru mesin mobil masih terdengar. Ia meninggalkan jagoan jalannya hidup—hidup. Steven menaiki anak tangga teras kemudian masuk ke dalam mansion. Ia mematung mendapati dua sosok yang masih ia kecam, kini sedang berdiri di depannya.“Ngapain kalian di rumah saya pagi—pagi?” sembur Steven masam.Mereka menunduk. Nathan berdehem, “Mohon beri kami maaf tuan. Tadi Kenzie mencari anda, bodyguard memberitahu kalau anda sedang keluar. Tadi Hunter yang mengantar Kenzie ke tempat kursus renang, dia sempat bertanya tentang anda.”“Lantas,.. kau beri jawaban apa pada putraku?” sahut Steven belum ingin senyum.“Saya hanya bilang kalau tuan sudah pergi ke kantor, ada rapat pagi ini dengan investor dari luar. Kenzie gak bertanya lagi, ia sudah paham dengan jam kerja anda yang sibuk.” Nathan memang ahli membuat alibi.“Kerja bagus,” sahut Steven lunak. Ia dirundung rasa bersalah pada Kenzie, tak seharusnya ia meninggal
Steven menggaruk jemarinya yang terasa gatal. Matanya masih terpejam. Tak lama ia menggeliat sedikit, melonggarkan otot—ototnya yang sedikit kram. Bughh,…‘Kenzie?’Pikirnya ada putranya sedang berbaring disebelah. Tanpa ragu, Steven merangkul hingga mendekap erat. Bahkan Steven membubuhkan kecupan di pucuk kepala.‘Hemm? Ini bukan wangi shampoo Kenzie!’Steven ingin tahu, siapakah gerangan yang mengisi sisi sebelah ranjangnya kini?Perlahan ia membuka matanya, sedikit ia paksa. Steven terperanjat, kasur yang ia huni berombak. Tubuh Steven bergetar karena mendapati ada seorang wanita tengah memunggungi dirinya. Nafasnya tersengal—sengal, matanya belum menyusut. Sungguh ia terkejut. Ia menyibak selimut yang menyelimuti mereka, kembali ia membelalak. Tak satupun helai kain menutupi tubuhnya. Keadaan sama juga pada wanita yang belum ia ketahui siapa namanya.‘Tapi king ku keset, nggak ada tanda—tanda habis main. Siapa nih perempuan?’Steven menelan saliva yang membumbung di tenggorokan.
Edwin terperangah sampai dirinya terhempas duduk di atas sofa. Sungguh ia terkejut mendengar pengakuan Aluna, ‘Kekasih?’ satu kata ini tertempel kuat dalam pikirannya. “Jadi putri papa ini menjalin hubungan asmara dengan anak dari pasien yang ada di rumah sakit kita?” sahut Lukman tak percaya. “Kami belum lama jadiannya pa. Aku minta maaf ya pa,” ungkap Aluna jujur. Kini, ia merasa sangat bersalah. “Kamu tahu status kekasihmu itu?” cicit Edwin menatap tajam. Aluna mengangguk, “Tentu saja abang. Putranya ‘kan aku yang ngajar di Vittorio. Aku juga wali kelasnya, semua data mereka aku yang pegang. Mustahil sekali aku gak tahu soal itu abang. I’m really sorry,..” “Kamu tahu soal ibu kandung murid mu itu?” cecar Edwin. “Setahuku, mommy 'nya Kenzie itu, istri Steven sudah tidak ada. Kenzie bilang kalau mommy 'nya sudah tenang di surga Bapa. Aku gak ngerebut suami orang pa, please abang ngertiin dong… aku juga gak minta sama Tuhan untuk rasa ini. Ngalir gitu aja,” jelas Aluna ke mereka.
Edwin mendapat laporan dari security rumah, jika ada paket untuk Aluna yang dikirim ke mansion. Mereka sengaja memberitahu padanya sebagai penanggung jawab seisi rumah. Lukman Rusyadi menunjuk Edwin untuk memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga Rusyadi. Lukman akui, dirinya semakin sepuh. Bulat tekadnya mendelegasikan satu tanggungan dirinya pada putra sulung satu—satunya.“Siapa pengirimnya?” selidik Edwin khas suara baritone.“Tidak ada namanya tuan. Paket dihantar oleh driver ojek online, waktu saya introgasi ia pun tidak tahu. Paket ini dia ambil dari seseorang bernama Poni.”“Taro paket itu di ruang kerja saya. Siapa yang tau soal paket itu?” sahut Edwin.“Baru tuan, saya tidak bisa menghubungi nona Aluna. Apa perlu saya—”“Tidak perlu. Kerjakan yang tadi saya suruh!” tandas Edwin.***Malam itu Edwin pergi ke ruang kerjanya. Selesai makan malam berdua Lukman, ia pamit duluan. Alasannya ada laporan mingguan yang belum selesai direvisi. Sesampainya di dekat meja kerja, mata
Vin valley residence, lokasi penginapan mewah yang dihuni Aluna. Strategis, dekat dengan tempat ia bekerja, Vittorio kiddy school. Hunter memberhentikan mobil yang dikemudikan, segera Nathan menghamburkan diri langsung keluar tanpa alih—alih permisi. Hunter cuma menatap punggung itu merasa kasihan, ‘Beruntung sekali anda tuan Steven Wijaya!’ tak lama ia pun menyusul langkah kaki yang masih menjejak.Mereka sudah tahu lokasi unit milik Aluna. Kini mereka telah berdiri tepat di depan pintu, dengan keberanian penuh Hunter menekan bel yang menempel di dinding. Sekali, belum juga keluar. Tatapan mata Nathan menyuruhnya mengulangi lagi. Hunter menggeleng, “Sepertinya tidak ada orang didalam tuan.”Nathan menghembuskan nafasnya, tapi sesak belum juga berkurang, “Kemana mereka?” monolog-nya bertanya.Hunter melirik, “Belum pasti mereka sedang bersama tuan,” sahutnya yakin.Bidikan mata Nathan tak setuju, “Seyakin itu kau, Nathan?”“Nada pesan yang disematkan miss Aluna terdengar padat, ia sep