Tentu saja petugas polisi itu tidak langsung percaya dengan Dion sepenuhnya, meskipun begitu mereka tetap akan melakukan penyelidikan berdasarkan nama dan juga keterangan yang diberikan olehnya. Sekecil apapun petunjuk dan setiap dugaan mereka harus tetap membongkar semua sampai ke akarnya. Lalu petugas polisi itu melanjutkan pertanyaan lagi pada Dion."Apa hubungan mereka berdua dalam masalah ini? Apa kamu punya bukti kalau mereka ikut terlibat?"Dion pun berpikir keras karena sebenarnya dia memang tidak mempunyai bukti soal itu.Dia hanya bisa memberikan nomor ponsel mereka dan bukti adanya percakapan, tapi itu semua tidaklah cukup.Karena riwayat panggilan itu tidak bisa menjelaskan apa saja yang mereka bicarakan dan juga Johan yang pandai sekali menghapus jejaknya.Uang yang ditransfer pada Dion melalui rekening pribadinya pun tidak bisa dilacak karena ia sudah menghapusnya untuk menghilangkan jejak.'Sial! Seharusnya aku tidak bertindak terburu-buru! Sekarang malah aku yang har
Sam mengatupkan rahangnya menahan emosi yang sudah meluap. Kalau saja mereka tidak duduk di ruang yang terpisah pasti dia sudah menghajar pria sombong itu. Tapi Sam berusaha untuk tidak terpancing dengan ucapan Dion dan tetap bersikap tenang seolah tidak goyah dengan semua yang pria itu katakan. Dion juga berusaha bertahan meskipun dia sebenarnya takut kalau Sam tiba-tiba saja meminta polisi untuk melenyapkannya. Dia tahu mereka bisa saja melakukan itu detik ini juga. Tapi dia akan menggunakan Rio dan Johan sebagai senjata terakhir untuk mengancam Sam. Meskipun mereka berdua sudah membuangnya, tapi dia tidak sebodoh itu. Karena tahu kalau Rio dan Johan pasti akan mencoba lari dari masalah ini dan tidak ingin terlibat. Dion akan mengadu domba mereka semua. Selagi itu bisa membuatnya puas melihat Sam menderita. Dan membalaskan rasa sakit hatinya. "Apa maksudmu? Apa kau punya komplotan lain? Mereka semua akan aku tangkap!" ujar Sam dengan tatapan tajam. Dion pun tersenyum mir
Susan tersenyum ramah pada tamu yang baru saja tiba. "Apa kabarnya, Tante? Apa aku mengganggu?" ucapnya lemah lembut. Manis sekali mulutnya saat berbicara dengan Susan. Dan wanita ini tidak tahu kalau sebenarnya itu adalah racun yang mematikan untuknya. "Baik! Ayo, silahkan masuk!" jawabnya tak kalah ramah. Sonia pun senang karena awal yang bagus sudah menyambutnya. Susan membawa gadis itu ke ruang tamu, sementara itu Sarah sedang ke kamar karena semalam dia menginap di rumah itu. Sarah sedang berusaha menenangkan diri dan berpikir positif, supaya saat Sam pulang nanti dia bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun antara dia dan calon mertuanya. Dia tidak tahu kalau saingannya baru saja tiba dan sedang berusaha merebut hati Susan saat ini. Lalu ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari Sam. (Maaf, Sayang. Aku pergi sebentar dan tidak memberitahumu. Sebentar lagi aku pulang!)
Sam langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana. Susan hanya bisa terdiam mendengar keputusan ini. Lidahnya terasa kelu untuk membantah ucapan anaknya. Sekarang keadaan kembali rumit seperti awal dulu, saat Sarah pertama kali datang ke rumah ini. Sam masuk ke kamar dan melihat Sarah sedang berdiri termenung di depan jendela. Dia pun memeluknya dari belakang dengan melingkarkan tangannya di perut gadis itu. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" Sam bertanya sambil mengecup pipi kanannya dengan lembut. Sarah menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada, Sam. Aku hanya merasa sedikit asing di mata Mamamu saat ini," jawabnya dengan suara sedikit parau. Sarah hampir saja kembali menangis, tapi sebisa mungkin dia menahan agar air matanya itu tidak tumpah. Ia tidak ingin membebani Sam seperti yang Susan katakan padanya. "Sssttt! Jangan lagi bahas masalah ini. Semuanya baik-baik saja, Sayang. Kita ju
Mata Rio pun terbelalak lebar dengan mulut yang menganga.'Ini tidak mungkin!' hatinya kecewa. Dia berharap kalau ada yang salah dengan pendengarannya. Karena dia benar-benar terkejut. "Apa maksudmu? Kenapa kau menjual klub itu? Bukankah aku sudah bilang untuk menungguku dulu!" pekiknya tidak terima.["Karena kami butuh kejelasan, Pak! Aku tidak bisa membiarkan para karyawan lain terus-terusan bertanya padaku soal kejelasan status mereka! Mereka harus tahu apa masih bisa bekerja atau tidak. Seharusnya Bapak mengerti itu!" jelasnya dengan nada tinggi karena emosi.]Setelah Dion dibawa oleh polisi, tangan kanannya itu merasa bingung dan menghubungi Rio untuk meminta bantuan, tetapi Rio belum bisa memutuskan dan menundanya sehingga membuat mereka harus menunggu.Dia akan mendiskusikan hal ini pada Johan.Tentu saja membuat pria itu kesal, jadi saat Juna datang menawarkan kerjasama, dia tidak berpikir dua kali lagi untuk menolaknya.Baginya yang terpenting saat ini adalah bagaimana men
Pupil mata Rio melebar karena terkejut mendengar ancaman dari Sam. Dia pun langsung mematikan panggilan telepon itu sebelum semuanya jadi semakin runyam. "Sial! Aku tidak bisa melakukan apa-apa!" pekiknya tidak terima. Dadanya naik turun karena napasnya mulai tersengal. Dia memukul meja kerjanya untuk melampiaskan emosi. Sementara itu Sam tampak puas sudah memberikan ancaman pada Rio. Dia pun mengembalikan ponsel Juna, lalu menatap ke depan dengan kilatan mata yang tidak bisa diartikan oleh siapapun."Apa yang harus kita lakukan sekarang, Juna?" gumamnya sambil menopang dagu dengan kedua tangannya."Soal apa, Tuan? Apa ini tentang Pak Rio?" tebaknya."Iya, benar! Apa kamu sudah mendapatkan kabar dari anak buah Pak Yudi?""Belum ada, Tuan. Mereka masih berusaha untuk menyelidikinya!" jawabnya singkat.Sam mengepalkan kedua tangannya dengan erat."Sedikit lagi aku pasti bisa me
Sam masuk dan kamera mulai menyorot ke arahnya. Dia melangkah dengan percaya diri dan ketampanan wajahnya benar-benar menghipnotis siapapun yang melihat.Bukan hanya wanita, para pria pun pasti iri padanya. Beberapa pertanyaan pun dilontarkan oleh pembawa acara, Sam menjawab dengan singkat, jelas dan padat. Bahkan orang-orang yang menonton terkesima dengan cara pemuda itu berbicara dan menatap lawan bicaranya. Dia punya kharisma tersendiri, sangat cocok menjadi pimpinan perusahaan besar. Apalagi pertanyaan soal pernikahannya dengan Sarah yang seorang gadis dari kalangan biasa, menjadi topik hangat yang diinginkan banyak orang dan membuat publik penasaran setelah gadis itu muncul saat pesta pertunangan mereka. Acara pun berlangsung dengan lancar, setelah itu Sam dan Juna masuk ke ruang tunggu sebelum mereka kembali pulang ke perusahaan. Susan yang berada di rumah, baru saja selesai menonton acara itu. "Aku lega mere
Sonia pun segera beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung berganti pakaian dan mempersiapkan segala sesuatunya. "Aku yakin saat ini dia sedang sendirian! Jadi aku bisa melancarkan rencanaku dengan mudah!" gumamnya percaya diri. Dia tahu Sam sedang sibuk dan tidak mungkin ada di samping Sarah untuk melindunginya. Apalagi hari sudah mulai malam, jadi gadis itu akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Setelah selesai bersiap, Sonia turun dari tangga dengan terburu-buru. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci meja di dekat ruang tamu. Seringai licik terbit di sudut bibirnya saat melihat benda yang sudah lama disimpannya. "Kali ini kau pasti tidak akan bisa selamat gadis murahan!" ujarnya dengan penuh nafsu. Sonia langsung melangkahkan kakinya dengan lebar. Dia pun memesan taksi untuk menuju ke apartemen tempat Sarah tinggal. Tentu saja dia tahu di mana. Setelah beberapa puluh menit…