"Mas, dua hari lagi kita akan menikah. Kapan kamu pulang dari luar negeri?" tanya Zahra yang di penuhi rasa rindu terhadap kekasihnya. Kekasih yang tidak pernah di lihatnya secara langsung, tapi ia meyakini kalau Abie memang jodohnya.
Seorang wanita cantik memakai pakaian minim bahan tengah tersenyum membaca pesan pendek yang di terimanya. Tentu saja itu bukan hapenya melainkan hape Abie. Dahi Zahra mengernyit heran. Ia melihat pesannya centang biru pertanda sudah di baca pemilik hape. Tapi kenapa belum juga di balas. Zahra berusaha untuk positif thingking. Ia mengira Abie masih sibuk dengan pekerjaannya. Karena semenjak Abie mengurus bisnis papanya, dia memang jarang menghubungi Zahra. Zahra seorang gadis sederhana lewat perjodohan hanya bisa menunggu kedatangan calon suaminya. Calon suami Zahra bernama Abie. Abie beruntung karena almarhum Mamanya menikah dengan Hisyam seorang pengusaha kaya raya. Hisyam yang kabarnya sudah lama mencintai Winda, merasa cintanya bersambut manakala Winda menjanda dan menerima lamarannya. Namun kebahagiaan Hisyam tidak berselang lama karena Winda ternyata mengidap kanker ganas yang selama ini tidak di ketahuinya. Pada saat detik terakhirnya, Winda berpesan pada Hisyam agar menjaga dan merawat Abie seperti putranya sendiri. Karena rasa cinta Hisyam yang begitu besar pada Winda akhirnya Hisyam menyanggupi permintaan Winda. Abie di beri kekuasaan mengurus perusahannya yang ada di luar negeri. Sementara Hisyam mengurus perusahaannya yang ada di Jakarta. Hisyam bukan tipikal papa tiri yang perhitungan, ia memberikan banyak fasilitas mewah pada Abie mulai dari mobil, rumah mewah, kartu kredit unlimitied. Semua di peroleh Abie dengan mudah. Abie yang dulunya terbiasa hidup serba kekurangan waktu hidup berdua dengan almarhum mamanya kini bak mendapat durian runtuh. Dia menjadi suka bersenang-senang dan menghambur-hanburkan uangnya karena uang itu memang tidak kunjung ada habisnya. Ia sering mabuk-mabukan dan main wanita di luaran sana tanpa sepengetahuan Hisyam, papa tirinya. Abie yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Citra tengah memegang ponselnya menatap curiga ke arah perempuan cantik itu. "Sory, kalau aku lancang Sayang. Habis, calon istrimu itu ngebet banget ingin ketemu kamu. Nih, pesan darinya kamu baca sendiri," adu Citra. Sembari menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk karena habis keramas. Abie menerima hape yang di sodorkan Citra lalu membaca pesan di ponselnya. Dahinya mengernyit tersenyum sinis pada tulisan pesan yang habis di bacanya. "Kamu jadi menikahinya?" tanya Citra. "Menurutmu?" Abie justru bertanya balik pada Citra lalu memeluk tubuh ramping wanita itu yang pakaiannya sedikit menggoda iman. "Kupikir kamu tidak suka pernikahan. Kalau kamu menikah bagaimana denganku?" ucap Citra menarik dagu Abie lalu mengecup bibirnya kilat. "Aku tidak akan menikahinya. Karena bagiku menikah justru membuat hidupku terkekang. Lagipula mamaku sudah meninggal, dia tidak akan tahu kalau aku melepaskan calon menantunya," terang Abie. "Kamu harus segera membatalkan pernikahanmu. Setidaknya untuk menghindari amarah papa tirimu. Aku takut kalau Papa tirimu kaget nantinya kalau kamu tidak mau menikahi Zahra," ucap Citra memprovokasi. Abie hanya terdiam saja mendengarkan perkataan Citra yang menggebu-gebu menyuruhnya membatalkan pernikahannya. Matanya sesaat terpejam lalu menatap datar ke arah Citra. "Sayang, kalau kamu tidak menikahinya, apa kamu juga tidak akan menikahiku juga?" tanya Citra. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Abie. "Hemm, Menurutmu apakah masalah besar jika aku tidak menikahimu. Bukankah yang kau inginkan hanya materi dan kesenangan fisik saja. Aku tidak suka di tuntut," ucap Abie. "Tenanglah sayang, aku penganut aliran kebebasan. Asal kamu senang, aku juga senang kita tidak menikah tidak masalah. Asal kamu cukupi semua kebutuhanku," jawab Citra. Perempuan cantik itu kembali memagut bibir tebal Abie. Membuat hasrat pria itu kembali naik sehingga Abi melepas handuknya melemparnya ke segala arah. Tatapan nakalnya beralih ke tubuh Citra yang molek menggoda imannya. Sementara itu Zahra kecewa karena Abie tak kunjung membalas pesannya. Ia sudah melihat beberapa kali tapi tak ada tanda-tanda kalau Abie menghubunginya. Ponselnya tiba-tiba menyala, segera Zahra mengangkatnya. Dia pikir Abie yang meneleponnya namun ternyata justru calon papa mertuanya. "Zahra, apakah Abie sudah menghubungimu?" tanya Hisyam penuh wibawa. "Maaf, Om. Mas Abie belum menjawab pesanku," adu Zahra. "Kalau begitu nanti sore Om akan jemput kamu. Kamu aku ajak ke toko perhiasan dulu untuk mengambil cincin pernikahan kalian," ucap Hisyam. "Baik Om," jawab Zahra lirih. Sebenarnya dia ingin mengambil cincin itu dengan Abie. Namun apa di kata Abie belum juga merespon pesan darinya hingga akhirnya calon papa mertuanya yang ikut turun tangan. Sore pun tiba, Hisyam dengan setelan necisnya karena dari kantor langsung mendatangi apartemen Zahra. Zahra sedikit canggung ketika bertemu dengan Hisyam. Papa mertuanya ini sebenarnya lebih keren dan kece ketimbang Abie. Hanya saja usianya jauh di atas Zahra. Namun yang tidak tahu, mereka mengira seperti adik kakak saja. Karena Hisyam memang tampan dan lebih matang. Zahra duduk di jok depan setelahnya Hisyam. Rasanya sedikit aneh, ia pergi mengambil cincin pernikahannya tudak dengan Abie tapi justru dengan calon Papa mertuanya. "Om, masih jauh gak tempatnya?" tanya Zahra ketika di tengah perjalanan. "Nggak jauh kok, sebentar lagi juga nyampe," jawab Hisyam datar. Ia tidak menyangka kalau mengurus pernikahan anak tirinya itu ternyata repot sekali. Abie bersikap seenaknya sendiri. Apa-apa dirinya yang urus, kalau tidak ingat perkataan mendiang istrinya ua pasti sudah bersikap tegas pada Abie yang menye-menye. Melihat Zahra cukup polos, dia merasa kasihan kalau di nikahkan dengan Abie. Ia tahu putranya itu bukan tipikal pria yang bisa hidup dengan satu wanita saja. Ia menyadari kalau Abie bisa menyusahkan Zahra kelak. Namun apa di kata perjodohan itu sudah berlangsung sebelum mendiang istrinya meninggal dunia. Ia harus menjalankan amanah Winda. Sampai di toko emas, Zahra di beri kesempatan lagi untuk mencoba cincin berliannya. Ia merasa cincin pernikahan itu terlalu mewah, karena Zahra terbiasa hidup sederhana. "Om, apa ini gak kemahalan?" tanya Zahra tidak enak. "Zahra, kamu menikah itu sekali seumur hidup. Kamu harus mempunyai cincin pernikahan yang spesial dan tentu saja nilainya seperti berlian ini," kata Hisyam. Zahra mengangguk pelan meski dalam hatinya dia merasa minder mengenakan cincin berlian yang terlalu mahal. "Maaf, cincin calon mempelai prianya kami membuat seukuran jari Pak Hisyam," kata pelayan toko itu. "Iya tidak apa-apa, karena putraku sibuk tidak sempat mengukur cincinnya," kata Hisyam. Ia sudah mencoba menghubungi Abie, tapi putranya selalu saja mengatakan sibuk dan tidak mau menemani Zahra ke toko perhiasan. Sepulang dari toko perhiasan, Hisyam mengajak Zahra untuk makan. Ia tidak ingin calon menantunya itu kelaparan. Namun baru saja keluar dari mobil tiba-tiba hujan turun begitu deras. Karena panik tak sengaja Zahra menabrak tubuh tegap Hisyam hingga pria tampan itu tidak sengaja memegang pinggang menantunya. Sesaat tatapan keduanya bertemu, namun Hisyam segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Maaf, jalanan licin aku hanya membantumu agar tidak jatuh," ucap Hisyam datar melepaskan tangannya dari pinggang Zahra setelah di rasa gadis itu bisa berdiri normal. Tak ada perasaan yang berarti hanya srbatas rasa peduli saja untuk melindungi. Hisyam mengajak Zahra masuk ke dalam mobilnya. "Baju kamu sedikit basah, bagaimana kita tetap makan atau pulang saja?" tawar Hisyam. "Pulang saja Om, hujan sangat deras lebih baik saya makan dj rumah saja. Saya sudah terbiasa makan mie rebus kalau cuaca lagi hujan kayak gini," jawab Zahra. "Makan mie instan terus-menerus tidak baik untuk kesehatan. Kamu ke rumahku saja, nanti di sana aku akan menyuruh Bik Jum masak yang enak buat kamu," kata Hisyam. Tak ada sahutan lagi pertanda Zahra menyetujui perkataan calon mertuanya. Rumah mertuanya memang sudah dekat dalam waktu beberapa menit saja sudah sampai. Beberapa pelayan menyambut kedatangan Hisyam, mereka membawakan barang yang di sodorkan tuannya. "Kalian antar Nona Zahra ke kamar tamu, ambil baju ganti milik almarhum Nyonya. Kasihan kalau dia sampai masuk angin," perintah Hisyam. Zahra sampai melongo mendengar perkataan calon mertuanya. Dia tidak menyangka kalau mertuanya begitu perhatian. Berbeda dengan Abie yang suka bersikap seenaknya. Bodohnya lagi Zahra selalu percaya alasan-alasan Abie yang sok sibuklah inilah itulah. Hisyam kaget ketika melihat Zahra sudah ganti baju memakai baju almarhum istrinya. Meski sedikit langgar karena tubuh Zahra yang lebih ramping namun sejenak Hisyam jadi teringat pada almarhumah istrinya yang sudah meninggal. "Baju Tante Winda bagus sekali, Om masih menyimpan baju-baju Tante?" tanya Zahra. "Aku menyimpannya karena aku sangat mencintainya. Hanya baju-baju itu yang tersisa," jawab Hisyam datar. Ia lalu mengajak Zahra untuk segera makan. Zahra tampak canggung karena meja makan Hisyam begitu besar dan luas. Apakah memang begini cara makan orang kaya, meskipun satu meja tapi kelihatan berjauhan karena saking luasnya meja itu. "Makan dan habiskan, kalau kamu sudah kenyang baru boleh pulang," kata Hisyam. "Baik Om," jawab Zahra. Tanpa banyak bicara Zahra menikmati hidangan di depannya karena menu makanan di depannya memang kelihatan lezat-lezat. Sayang sekali kalau di lewatkan, perutnya sudah keroncongan meronta-ronta ingin di isi. Usai makan Zahra bersikeras naik taksi untuk pulang ke rumahnya. Dia tidak ingin merepotkan calon mertuanya. Hisyam kembali menghubungi Abie, setelah Zahra pergi. Akhirnya Abie menjawab panggilan papa tirinya. "Ya halo Pa," jawab Abie. "Kapan kamu pulang, pernikahanmu sebentar lagi. Banyak yang perlu di persiapkan, kamu harus segera pulang," perintah Hisyam. "Maaf, Pa. Aku tidak mau menikahi Zahra. Aku masih ingin bebas," jawab Abie. "Kamu jangan gila Abie, pulang sekarang juga. Kamu tidak bisa bersikap seenaknya. Keluarga kita akan malu, kamu ingat kan pesan mama kamu sebelum meninggal dia ingin kamu menikah dengan Zahra!" peringat Hisyam penuh amarah. "Papa saja yang menikahi Zahra, aku tidak mau menikahi gadis kampungan itu!" tegas Abie. "Darimana kamu tahu kalau dia kampungan. Kalian belum pernah bertemu," kata Hisyam. "Ya sudah, papa saja yang menikahinya. Pokoknya aku tidak mau menikah, Pa," tolak Abie. Setelah itu Abie tidak dapat di hubungi lagi, rupanya dia sudah mematikan teleponnya. "Anak Sinting, kenapa aku bisa punya anak tiri merepotkan seperti dia," gerutu Hisyam menggenggam erat hapenya. Dia geram atas sikap putra tirinya itu. Dua hari kemudian pesta pernikahan mewah di gelar semua tamu undangan sudah datang. Hisyam cemas karena Abie tidak dapat di hubungi. Keringat dingin berukuran, apalagi penghuni sudah datang. "Pak Hisyam, dimana Nak Abie mengapa dia belum datang juga. Apakah masih di Rias di kamar?" tanya orang tua Zahra. "Bapak Ibu tolong ikut saya sebentar," kata Hisyam memberi isyarat agar kedua orang tua Zahra mengikutinya ke sebuah ruangan privat. "Ada apa sebenarnya? Mengapa kami di ajak lemari?" tanya Bu Siti. "Begini Bu, sebenarnya Abie tidak mau menikahi Zahra. Saya sudah membujuknya, tapi dia tetap kekeh tidak mau," terang Hisyam. "Loh, gimana sih. Dulu Nyonya Winda sendiri yang datang meminta Zahra jadi menantunya kenapa sekarang begini?" kata Bu Siti dengan nada tinggi. Amarahnya sudah di ubun-ubun karena perbuatan Abie yang tidak vertsnggung jawab inilah keluarganya mendapat malu. "Sekali lagi saya minta maaf Bu Siti, saya akan segera membawa kembali putra saya kemari agar menikahi Zahra," ucap Hisyam membujuk Bu Siti agar amarahnya reda. Hisyam tak henti-hentinya minta maaf, harga dirinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya gara-gara kelakuan Abie. Hisyam kembali menghubungi Abie, tapi tidak ada jawaban. Wajahnya cemas, Abie tak kunjung mengangkat teleponnya. Pernikahan ini sudah di rencanakan sejak awal, kalau saja Abie waktu itu tidak berkata iya tentunya pernikahan ini tidak akan berlangsung. Winda pasti akan mengurungkan niatnya untuk menjodohkan Abie dan Zahra. "Keluarga kami tidak bisa di permalukan seperti ini. Pokoknya kalian harus tanggung jawab. Kasihan Zahra di pelaminan tanpa calon mempelai prianya," tangis Bu Siti. Hisyam semakin tidak enak sudah membuat Bu Siti menangis. Pak Darmo suaminya Bu Siti mendekat ke arah Hisyam. Ia menarik kerah Hisyam karena sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Keluargaku mungkin miskin, tapi kami hanya punya harga diri. Sekarang kalian mau menginjak harga diri kami di depan umum! Kalian sungguh keterlaluan!" maki Pak Darmo."Tenanglah, aku akan mencoba menghubungi Abie lagi," kata Hisyam mencoba menenangkan besannya. Ia tidak menyangka akan di hadapkan pada situasi pelik seperti ini. Hisyam yang terbiasa menghadapi situasi rumit dalam urusan bisnisnya kini di hadapkan pada masalah pernikahan putra tirinya."Winda, mengapa kamu meninggal lebih dulu. Sehingga putramu mempermalukanku hari ini," batin Hisyam. Ia setengah menggerutu karena sebenarnya Abie juga bukan putra kandungnya. Tapi kenapa dia yang kena getahnya.Hisyam benar-benar marah karena Abie tak kunjung bisa di hubungi. Semya mata tertuju kepadanya menatapnya tajam seolah mengintimidasinya. "Banyak orang yang hadir dalam pernikahan ini, kami tidak mungkin membatalkan pernikahan ini begitu saja." Bu Siti dengan nada kesal berkata lebih keras dari biasanya."Saya paham dengan perasaan kalian. Namun sungguh saya tidak bermaksud membatalkan pernikahan ini. Saya tidak tahu keberadaan Abie," ucap Hisyam apa adanya. Pernyataan dari Hisyam membuat me
"Jangan panggil aku Pak, panggil Mas. Aku kelihatan terlalu tua jika kau memanggilku Pak. Aku bukan bapakmu," protes Hisyam."Bapak ini lucu, usia tidak akan pernah bisa berbohong. Pak Hisyam tetaplah bapak-bapak," ujar Zahra. Hisyam berdiri lebih dekat ke arah Zahra membuat gadis muda usia 20an itu pun mundur sedangkah ke belakang."Ya sudah aku panggil Om saja, karena memang sudah Om2 kan?" celoteh Zahra."Terserah kamu sajalah. Yang penting bukan Bapak-Bapak," balas Hisyam nyerah. Zahra tersenyum mendengar perkataan Hisyam."Jawab jujur, aku dan Abie lebih tampan mana?" tanya Hisyam."Aku tidak pernah bertemu Mas Abie secara langsung. Aku hanya melihatnya di poto, mana tahu aslinya lebih tampan mana," ungkap Zahra.Hisyam baru sadar kalau selama ini mereka di jodohkan oleh Winda. Mungkin karena Zahra yang dandanannya sederhana membuat Abie kurang tertarik. Karena pakaian Zahra serba tertutup."Duduklah di sini, kita bisa bicara sebagai teman bukan suami istri. Karena aku tahu kamu
"Sudahlah Pa, bukankah peristiwa itu sudah berlalu. Aku juga tidak peduli sekarang nasibnya bagaimana. Yang terpenting aku sudah terbebas dari perjodohan itu," ungkap Abie."Kau pasti akan menyesal karena sudah meninggalkan Zahra di pelaminan," jawab Hisyam geram."Menyesal? Mana mungkin, Pa. Aku tidak akan menyesal meninggalkan gadis kampungan itu!" tegas Abie. Ia masih merasa tindakannya benar meninggalkan Zahra. Selama ini Abie belum pernah melihat Zahra secara langsung dan cermat. Pertama kali di perkenalkan, Zahra menunduk saja. Dia tidak melihat ke arah Abie. Hubungan mereka terjalin lewat wa. Zahra tidak pernah mengiyakan Abie, manakala lelaki itu iseng mengajaknya bertemu dan melakukan hubungan yang lebih intim. Akhirnya, Abie kesal ia merasa Zahra gadis kampungan yang tidak mau di ajak begituan. Zahra tidak asyik. Abie pun melampiaskan keinginannya itu dengan wanita di luaran sana.Hisyam pun menutup kembali teleponnya, berbicara dengan anak tirinya itu membuat telinganya pa
Dia masih ingat bagaimana Zahra membuat gaduh di dapur, membuat masakan kecil buat Hisyam. Kelakuan anak itu terkadang membuatnya gemas sekaligus senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya.Saatnya makan siang, Hisyam akhirnya bisa menikmati bekal itu. Ia terdiam sesaat menikmati masakan istrinya. Tiba-tiba dia mempercepat makannya. Menurut uji tes lidah Hisyam merasakan masakan Zahra cukup enak juga. Ia pun makan semuanya dalam sekejap.Tiba-tiba ada sebuah kiriman video di hapenya. Laporan mengenai kegiatan Zahra. Tampak seorang pria muda tengah berdiri di depan Zahra berusaha memegang tangan Zahra. Namun Zahra menghindarinya. Hisyam tersenyum, ada semacam perasaan lega karena Zahra tidak menerima uluran tangan teman lelakinya. "Tumben kamu senyum-senyum sendiri?" Sapa seorang wanita muncul dari balik pintu. "Brenda, kapan kamu datang mengapa tidak mengabariku?" tanya Hisyam cukup kaget.Brenda adalah sahabat Winda, dia tinggal di luar kota selain Jakarta. Ia biasanya memang terkad
Hisyam bukan tipe Om-Om yang memiliki tubuh pendek, gendut dan memiliki perut buncit. Di usianya yang sudah kepala empat Hisyam justru semakin memancarkan ketampanannya. Dia selalu menjaga tubuhnya agar sehat dan bugar.Zahra terbangun dari tidurnya, dia tidak mendapati suaminya ada di sampingnya. Zahra menengok ke balik selimutnya dia pun lega karena pakaiannya masih komplit berarti tidak ada sesuatu yang terjadi semalam. Hari ini kebetulan hari Minggu, kuliah libur dan Hisyam juga libur kerja. Zahra bergegas bangun dari tempat tidurnya. Ia keluar mencari keberadaan Hisyam, tapi dia tidak menemukannya. Lelah mondar-mandir mencari Hisyam di rumahnya yang cukup luas, tiba-tiba perut Zahra keroncongan. Dia berjalan ke arah dapur, di sana sudah tertata rapi semua makanan menggugah seleranya.Ragu hendak makan, karena merasa tidak enak tanpa Tuan rumah mendampinginya. "Kata Tuan Hisyam, kalau Non mau makan makan saja. Karena Tuan Hisyam sedang ada keperluan penting keluar pagi-pagi," kata
"Aku yakin mereka pasti mengira aku ini simpanan Om-Om yang lagi di ajak belanja," sungut Zahra."Tidak usah kamu pikirkan soal itu, kenyataannya kamu istriku sah," jelas Hisyam. Mendengar pernyataan Hisyam entah mengapa hati Zahra menjadi tenang. Apa karena Hisyam mengakui dirinya sebagai istri? "Om, yang namanya istri sah itu kewajibannya banyak. Salah satunya menuhin kebutuhan biologis Om," jawab Zahra."Kamu tidak perlu melakukannya, karena pernikahan kita tidak seperti orang pada umumnya," kata Hisyam tak berani berharap. Ia tahu mana mungkin Zahra minat kepadanya yang usianya jauh lebih tua.Zahra pun mengangguk, sebenarnya dia tidak keberatan kalau Hisyam mau menyentuhnya. Karena dia merasa nyaman sekali malam itu waktu tidur di peluk Hisyam.Sampai di rumah, para ART langsung sibuk mengeluarkan barang belanjaan di bagasi. Sementara Hisyam dan Zahra masuk ke dalam kamarnya. Zahra langsung naik ke ranjang sementara Hisyam sandaran di sofa."Sebentar saja jalan-jalan udah capek,
Tak seperti biasanya Zahra berangkat pagi-pagi. Ya, hari ini dia sudah berjanji pada teman-temannya untuk kerja kelompok. Ia lupa mengatakan pada Hisyam kalau salah satu teman cowoknya datang menjemputnya. "Om, bangun," kata Zahra menggoyangkan pundak suaminya.Perlahan mata Hisyam terbuka, dia kaget Zahra sudah berdandan cantik pagi-pagi."Om, aku minta ijin pagi ini aku mau pergi ke rumah temanku. Ada kerja kelompok, boleh ya," pinta Zahra.Hisyam yang masih ngantuk hanya merem melek di sertai anggukan. Tajam lama Zahra sudah selesai dandan. Dia kemudian jongkok mencium punggung tangan Hisyam sebentar lalu pergi. Hisyam yang semula masih ngantuk sekali tersentak kaget merasakan sekilas ada benda lembab kenyal menyentuh punggung tangannya. Sayangnya, saat dia terbangun Zahra sudah hilang dari hadapannya.Hisyam hanya mendengar langkah kaki menuruni anak tangga. Ia pun bangkit dari ranjangnya dan menarik tirai untuk memantau kepergian Zahra dari jendela kamarnya. Kaget, seorang cowok
"Maafin Om Zahra, Om hanya merasa tidak di hargai sebagai suami," ucap Hisyam. Dia merengkuh tubuh Zahra dan menenangkan tangis istrinya. Baru kali ini dalam keadaan sadar Zahra merasakan kalau pelukan Hisyam sangat nyaman. Tubuhnya yang kekar dan dada bidangnya membuat Zahra merasa aman dalam pelukannya. Sementara Hisyam kembali merasakan gairah yang sudah lama mati kembali tumbuh. Namun sepertinya dia harus menahannya. Zahra melepaskan diri dari pelukan Hisyam, dia merasa malu habis berpelukan erat dengan suaminya sendiri. Ia sampai tak berani menatap ke arah Hisyam. Ia merasa Hisyam tidak kelihatan tua sedikitpun, bahkan seperti kakaknya. Apakah karena Hisyam rajin merawat diri atau karena suaminya itu memang awet muda."Ada yang aneh dari wajahku, mengapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Hisyam."Ah, enggak kok Om. Cuman masih aneh saja aku menikah dengan orang yang seharusnya jadi mertuaku," jawab Zahra."Kamu malu punya suami lebih tua darimu?" tanya Hisyam.Zahra mengangguk
Winda menggunakan baju sederhana, panjang namun tetap kelihatan modis karena wajah Winda yang sudah cantik dari sana nya. Apapun yang di kenakannya terlihat branded.Tangannya tampak canggung membenarkan hijabnya sedari tadi. Abie tersenyum, meraih tangan Winda terus menggandengnya. Mereka memasuki sebuah Cafe sederhana yang di penuhi candle Light di atasnya. Seperti orang yang baru pertama kali pacaran tangan Winda dingin sedari tadi. Ia memang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki. Apalagi pakai acara di gandeng segala. Meski ini bukan pertama kalinya Abie menggandeng tangannya. Tetap saja ada rasa deg-degan merayap di hatinya. Jantungnya terus berpacu seiring langkah kakinya.Banyak pasang mata yang menatap iri dan kagum. Mereka seperti bintang tamu di Cafe itu. Yang satunya cantik dan yang satunya ganteng. Ada juga yang di marahi pacarnya gara-gara melihat Abie atau Winda terlalu lama."Mas matanya di jaga dong!" cubit salah seorang wanita pada pacarnya."He ... he ... he maaf
Ruangan Presdir yang luas dan modern dengan perabotan kantoran berkelas di penuhi suasana hening. Hisyam tampak duduk tenang di singgasananya. Sementara Candra hari ini datang ingin melaporkan semua hal yang di minta Hisyam.Dalam keheningan itu Hisyam mulai angkat bicara."Bagaimana, kamu sudah menyelidiki kehidupan Abie yang sekarang? Apa dia benar-benar berubah atau dia bersandiwara berubah menjadi baik?"Tatapan tegas Hisyam tidak menakutkan Candra karena mereka adalah teman sedari kecil. Namun hal itu tidak mengurangi rasa hormat Candra terhadap Hisyam."Orangku sudah menyelidikinya. Kehidupannya biasa saja sangat jauh berbeda gayanya dulu. Ia menikah karena terpaksa. Tapi sepertinya ia serius dengan pasangannya kali ini," terang Candra.Hisyam bisa bernafas dengan lega. Susah payah dia menerapkan kebaikan pada Abie tapi saat itu watak Reno yang lebih dominan. Hingga akhirnya terpaksa dia menarik hak-hak Abie agar putra angkatnya itu belajar tentang kehidupan."Ada yang menarik d
Perjalanan yang tidak cukup jauh berboncengan motor matic antara Abie dan Winda kini mengantarkan mereka sampai di rumah makan. Abie berhenti di parkiran membantu Winda melepaskan helmnya saat ia sudah turun dari motor."Win, kenapa kita tidak ke rumahmu saja ketemuannya. Agar aku juga tahu dimana rumahmu," ucap Abie sembari berjalan beriringan menggandeng tangan Winda masuk ke dalam rumah makan.Tak sedikitpun Abie melepaskan gandengan tangannya. Membuat Winda merasa dag dig dug. Ia mengambil nafas agar bisa mengontrol jantungnya berdetak lebih teratur.Dari kejauhan Hilman melihat putrinya di gandeng seorang pria tampan yang berjalan ke arahnya. Entah mengapa dia merasa familiar dengan wajah pria tersebut. Tapi dimana dia pernah bertemu. Ia kesulitan mengingatnya.Hingga kaki langkah mereka semakin mendekat ke arahnya. Winda sekilas seperti memberi isyarat pada Abie untuk menghentikan langkahnya."Mas, itu Papaku. Dia yang memakai kemeja hitam," bisik Winda. Winda memang sudah mengi
Abie tidak jadi belah duren. Ia akhirnya memilih mandi air dingin. Winda merasa tidak enak pada suaminya. Pertama kali malahan tidak bisa memberikan jatah pada Abie.Tak lama Abie keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh segar. Wajah Rosa menunduk. Ada rasa malu menggelayuti hatinya. Kejadian tadi terjadi begitu cepat. Ia masih ingat bagaimana tadi tubuh kekar itu sempat menindihnya. Dan ciuman Abie membuatnya melayang-layang. Kini tubuh kekar nan gagah dengan handuk melilit di perutnya berdiri di hadapannya. Winda juga sempat melihat betapa besar dan panjangnya milik suaminya yang tersembunyi di balik handuk itu."Mas, maafin aku ya," lirih Winda kemudian."Maaf soal apa, Win?" Abie mengambil posisi duduk di dekat Winda. Jantung Winda makin berdegup kencang. Ia takut manusia tampan di sampingnya itu menerkamnya lagi."Soal tadi Mas ... aku juga nggak tau kalo bakal halangan," ucap Winda. Wajahnya masih tertunduk saat mengatakannya.Abie menepuk pundak Winda. Membuat jan
"Win ..." Abie memanggil Winda dengan suara pelan sambil berbisik. Matanya menatap ke bibir Winda yang begitu dekat. Meski sebenarnya dia gugup takut kalau Winda menolaknya.Winda tertunduk malu hatinya berdegup kencang."Boleh ... Mas."Suaranya terdengar lirih meskipun begitu Abie bisa mendengarnya. Ia tersenyum tipis melihat wajah istrinya sedikit memerah seperti kepiting rebus. Hal itu justru semakin membuat Abie bersemangat melakukan keinginannya.Tanpa ragu, Abie mendekatkan bibirnya pada bibir Winda. Ciuman itu begitu lembut tidak terburu-buru berbeda dengan Abie dulu yang biasanya liar ketika mencium seorang wanita. Tiap sentuhan bibirnya mengandung kehati-hatian. Seolah Winda adalah benda porselen mahal yang harus di perlakukan istimewa.Keduanya merasakan kehangatan di antara mereka. Tanpa sadar Winda mengikuti irama. Dia membalas ciuman Abie. Baru kali ini dia merasakan ternyata begitu nikmatnya ciuman dengan suaminya. Sementara Abie merasa ciuman hari ini sangat manis. Berb
Citra pulang dengan perasaan dongkol. Apalagi di rumah Reno hanya ongkang-ongkang saja tidak mau bekerja."Mana makanan pesananku!" Tangan Reno tengadah meminta yang di pesannya.Wajah Citra memucat, gara-gara ketemu Abie di warung tadi. Seharian pikirannya di penuhi mantan suaminya. Ia lupa kalau sehabis pulang kerja harus membawakan sebungkus nasi padang untuk Reno.Reno selalu mengancam dirinya kalau sampai kabur darinya dia akan mengobrak-abrik warung bakso bosnya. Padahal cari pekerjaan sulit. Citra tidak ingin kehilangan pekerjaan. Maka dari untuk sementara ini Citra tidak berani kabur dari rumah. Ia masih butuh uang untuk bertahan hidup. Tabungannya sudah habis di curi Reno. Ia harus kerja keras lagi mengumpulkannya sehingga kalau kabur nanti dia masih punya pegangan uang bertahan hidup."Kok diam! Kamu lupa kalau aku pesan nasi padang!" sentak Reno."Kerjaan di warung banyak. Jadi aku lupa," jawab Citra lirih. Perasaannya masih kacau. Keinget Abie sama perempuan cantik tadi."
"Kenapa pipi Mas memerah sedari tadi? Mas sakit?" tanya Winda."Aku nggak apa-apa kok. Kamu pilih aja baju yang kamu sukai. Nanti Mas yang bayarin," kata Abie. Gimana pipinya tidak memerah sepanjang perjalanan Winda memeluk erat pinggangnya. Saking nurutnya Winda tidak melepaskan pegangannya hingga sampai ke tujuan. Gara-gara tindakan Winda itu, miliknya jadi makin sesak. Tubuhnya memanas karena menahan diri cukup lama.Winda sebenarnya ragu ingin membeli baju yang biasa di belinya. Takutnya kemahalan dan mencolok akhirnya dia memilih yang biasa saja."Mas, aku cobain yang ini ya," izin Winda."Bener kamu suka itu?" tanya Abie memastikan. Karena di liatnya ukurannya terlalu besar dan modelnya kurang menarik. Gini-gini Abie dulu juga sering mengantar Citra berbelanja. Ia tahu baju yang sesuai fashion sama tidak. Apalagi melihat pilihan baju yang pernah di pakai Winda saat kecelakaan sepertinya beda jauh. Setidaknya meski beda harga ukurannya juga nggak jauh beda kan?Winda jadi ragu. "
Hisyam menghela napas."Kamu main perempuan lagi? Makanya kamu terpaksa menikahinya," tebak Hisyam.Tuduhan itu sama sekali tidak membuat Abie marah. Ia paham betul bagaimana sikapnya dulu yang seenaknya. Suka main perempuan dan berfoya-foya. Sudah sepantasnya Hisyam berpasangka buruk terhadapnya."Bu ... bukan seperti itu, Pa. Aku tak sengaja menemukannya pingsan di jalanan depan rumahku. Karena aku tidak memiliki cukup uang akhirnya aku putuskan merawatnya hingga sembuh. Namun ... warga sekitar justru salah paham mengiraku berbuat macam-macam padanya selama tinggal di rumahku," terang Abie."Lalu ... mereka memaksaku menikahinya. Dan ... sekarang aku berusaha menerima pernikahan ini, Pa," lanjut Abie.Nafas Hisyam sempat tertahan mendengar pengakuan Abie. Tiap kalimat yang di ucapkan Abie begitu lancar seperti tidak ada yang di tutupi. Tatapannya juga sendu. Tidak terlihat berapi-api. Mungkinkah Abie memang sudah berubah?Di sisi lain dia terharu sekaligus kasihan. Gaji OB di perusah
Abie terdiam sesaat, membuat Winda yang tengah menunggu jawabannya menjadi gelisah. Ia yakin kalau Abie masih ada perasaan dengan mantan istrinya."Kalau aku bilang sudah tidak mencintainya apa kamu percaya?" Abie justru balik bertanya."Bener juga, siapa yang tahu hati seseorang. Mas juga belum mencintaiku sekarang. Akupun begitu. Kita ganti topik saja." Winda berusaha menenangkan dirinya. Kalau dia belum mencintai Abie lalu kenapa harus takut mendengar pengakuan suaminya. Mengenai perasaan Abie pada mantan istrinya?Tangan Abie menggenggam Winda erat. Tatapannya teduh seolah berusaha menenangkan hati Winda yang gundah.Reaksi Winda cukup kaget. Ia hendak menarik tangannya namun Abie menggenggamnya makin erat."Aku sudah tidak mencintainya. Sekarang aku hanya fokus pada keluarga kecil ini. Aku ingin mulai dari awal denganmu. Maukah kamu bersabar agar kita saling mencintai sepenuhnya."Ucapan Abie cukup menguatkan hati Winda. Ia pun mengangguk pelan sembari tersenyum manis."Terima ka