Share

Chapter 2 (Pertengkaran)

Penulis: Scorpio_Girl
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-25 15:47:19

"Kenapa tidak memfotoku saja?!" gumam Adnessa, ketika melangkah melewati Axelio yang masih saja menatapnya dengan tatapan aneh. Ia mempercepat langkahnya, sedikit kesal dengan perhatian Axelio yang menurutnya berlebihan. Ia merasa seperti sedang diawasi oleh pengawal, bukan oleh seorang kakak tiri.

Axelio menghela napas. Ia tahu Adnessa tidak suka dengan kehadirannya, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawab yang diberikan Jhonatan dan Margaretha. Kota ini memang bukan tempat yang ramah bagi anak-anak, apalagi bagi seseorang yang baru pertama kali datang. Ia ingat betul pesan Margaretha, "Axelio, tolong jaga Adnessa baik-baik. Dia masih beradaptasi dengan kota ini."

"Adnessa, tunggu sebentar," kata Axelio, berusaha menyamai langkah gadis itu. Ia tidak ingin terlihat terlalu mengejar, tetapi juga tidak ingin kehilangan jejaknya di tengah keramaian.

Adnessa tidak mengindahkan panggilan Axelio. Ia terus berjalan, bahkan hampir menabrak seorang ibu yang sedang mendorong kereta bayi. Axelio dengan sigap menarik lengan Adnessa, mencegahnya menabrak kereta tersebut.

"Hati-hati!" seru Axelio, sedikit khawatir.

Adnessa menepis tangan Axelio dengan kasar. "Aku bisa menjaga diriku sendiri," ujarnya ketus, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, ia sedikit melirik ke arah Axelio, dan sekilas terlihat raut khawatir di wajahnya.

Axelio terdiam sejenak, memperhatikan Adnessa yang berjalan menjauh. Ia mengerti, Adnessa mungkin masih marah atau kesal dengan situasi ini. Tapi, ia juga melihat sekilas ekspresi khawatir di wajah gadis itu, dan itu memberinya sedikit harapan. Mungkin, di balik sikap kerasnya, Adnessa sebenarnya juga merasa sedikit takut dan membutuhkan perlindungan.

Axelio menghela napas lagi, lalu berjalan mengikuti Adnessa dari belakang, kali ini dengan jarak yang sedikit lebih jauh. Ia memutuskan untuk memberinya ruang, tetapi tetap mengawasinya dari kejauhan. Ia bertekad untuk menjalankan tanggung jawabnya, meskipun Adnessa terus menunjukkan penolakan

Sebenarnya, sejak kedatangan Adnessa, Axelio sedikit tertarik dengan gadis itu. Tubuhnya yang kecil dan tidak terlalu tinggi, serta gaya berpenampilan gadis itu berhasil membuat Axelio penasaran. 

Apa lagi ini? Di jaman sekarang, ternyata masih ada gadis kuno yang memakai baju dengan style seperti itu. Bahkan, kebanyakan gadis seusianya lebih senang memakai baju yang sedikit terbuka, tapi lain halnya dengan gadis ini, justru memilih baju longgar yang bahkan tidakk menampilkan sedikit pun  lekuk tubuhnya, yang pastinya sangat tidak cocok dengan gadis itu, menurut Axelio.

"Dasar, botol yakult." gumam Axelio. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil melihat cara berjalan Adnessa yang benar-benar lucu jika di lihat dari belakang.

Malam itu, Axelio benar-benar mengantar Adnessa pulang. Walaupun di sepanjang perjalanan, gadis itu tidak henti-hentinya menggerutu dan mengajaknya berdebat hingga membuatnya sedikit tersinggung.

"Awww, apa kamu tidak bisa berkendara?" tentu saja Adnessa terkejut, ketika Axelio tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya.

Axelio tidak menjawab, pria itu justru menampilkan ekspresi congkaknya ke arah Adnessa dan semakin menambah kecepatan mobil itu. Dengan lihai, Axel membantig stir mobilnya ke sana kemari ketika mendahului mobil di depannya, membuat Adnessa semakin cemas, bahkan tangannya semakin erat berpegangan pada hand grip di mobil itu.

"STOP, AXEL! apa kamu sudah gila? Ini jalanan umum, bukan jalan dari nenek moyang kamu!" panik Adnessa dengan suara tercekat, ketika melihat Axelio baru saja mendahului dua buah mobil sekaligus, di lintasan yang tidak seharusnya di gunakan untuk berkendara seperti sekarang ini.

"Kenapa? Ini resiko kamu!" siapa suruh bersedia untuk pulang bersama, tanggung sendiri akibatnya! Axelio tersenyum miring, melihat Ekspresi Adnessa saat ini.

Beberapa jam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Axelio berhenti di pelataran rumah yang terlihat cukup luas dan megah. Bahkan, baru beberapa saat mobil itu berhenti, sudah ada beberapa orang yang berjaga di sana dan membukakan pintu mobil untuk Axelio dan Adnessa.

"Selamat datang, tuan muda dan nona muda!" sapa mereka bersamaan.

"Itu sangat berlebihan," gumam Adnessa yang sama sekali tidak tergoda dengan kemegahan itu. Namun, Adnessa terlihat tengah terburu-buru keluar dari mobil itu seraya memegang perutnya.

Axelio yang melihat Adneessa terburu-buru meninggalkannya merasa sedikit aneh dan penasaran. Akhirnya, Axelio memutuskan untuk mengikuti Adnessa.

"Hay, botol yakult! tidak perlu terburu-buru seperti itu," panggil Axelio.

Apa dia bilang? Botol yakult? Adnessa sempat menghentikan langkahnya, ketika mendengar Axelio memanggilnya dengan sebutan botol yakult. Namun, gadis itu memilih untuk kembali melangkahkan kakinya, melihat Axelio yang berjalan ke arahnya dengan wajahnya yang congkak.

"Botol yakult?! Aku tau kamu senang, tapi tidak perlu seburu-buru itu untuk-"

"Huekkkkk," tiba-tiba saja Adnessa memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi terus bergejolak tepat mengenai dada Axelio. Karena kebetulan saat itu Axelio menarik tangan Adnessa, membuat gadis itu berada dekat dengan dirinya.

"Ohh, shit?!" ucap Axelio dengan ekspresi terkejutnya, melihat kemeja yang ia kenakan berantakkan akibat ulah Adnessa. Apa lagi, saat ini dirinya juga terburu-buru.

Puas? Adnessa sangat puas melihat bagaimana ekspresi Axelio saat ini, 'Salah siapa berkendara seperi itu? Dan lagi, siapa suruh terus mengangguku?!'

Axelio terlihat menghela nafasnya seraya mengusap kasar wajahnya yang mulai terlihat memerah, itu, "Sekarang, kamu harus tanggung jawab!"

"Tanggung jawab, apa? Ini salah kamu sendiri, lepasin tangan aku!" 

Tanpa banyak berbicara, Axelio menarik tangan Adnessa masuk kedalam rumah mewah itu. Entah, apa yang akan Axelio lakukan kepada adik tirinya?!

***

Beberapa hari berlalu. Setelah kejadian malam itu, Adnessa tidak lagi melihat Axelio, mungkin karena dirinya yang jarang memiliki waktu di rumah dan sibuk dengan urusan kampus. Sedangkan Axelio ... Pria itu juga tampaknya tengah sibuk dengan urusannya di kantor.

Setelah mengantar keberangkatan mama dan papanya yang akan melakukan perjalanan dinas di luar kota selama beberapa hari. Adnessa memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah, dan langsung berjalan menuju kolam renang. 

"Ini lumayan!" gumam Adnessa yang tengah menikmati waktu santainya berjemur di tepian kolam. Kebetulan, kuliah Adnessa hari ini tengah libur dan dirinya juga tidak memiliki kegiatan apa pun hari ini, jadi, Adnessa memutuskan untuk bermalas-malasan di rumah.

Merasa jika tempat ini aman, Adnessa mulai membuka handuk kimono yang membalut tubuhnya, dan menyisakan pakaian dalamnya saja. Tentu saja, Adnessa melakukan itu setelah memastikan hanya ada dirinya di rumah itu. Bahkan, para pekerja di rumah itu sudah Adnessa larang untuk mendekat ke area kolam renang.

"Kemana perginya anak itu, ya?" gumam Adnessa dengan mata terpejam. Entah kenapa, tiba-tiba dirinya teringat dan penasaran dengan keberadaan Axelio.

"Mencariku?" sahut Axelio yang entah sejak kapan berdiri di sana.

Mendengar suara seorang pria, Adnessa segera bangkit dan meraih handuk kimononya. Namun, dirinya kalah cepat dengan Axelio, pria licik itu sudah lebih dulu mengambil handuknya.

'Shitt, kenapa dia ada di sini?' Adnessa sedikit panik melihat keberadaan Axelio. Namun, gadis itu tetap berusaha untuk terlihat tenang dan mencoba mengambil handuk kimononya kembali.

Axelio tersenyum semrik, melihat Adnessa melangkah ke arahnya dengan wajah yang tampak marah, "Kamu mau menggoda ku?!" 

"Cowok gila," singkat Adnessa yang masih gigih untuk merebut handuknya kembali. Namun, lagi-lagi Axelio mempersulit Adnessa dengan mengangkat handuk itu ke atas.

Adnessa menatap ke atas, kearah handuknya dengan bibir cemberut dan wajah yang sudah memerah. Membuat Axelio gemas melihatnya.

'Astaga ... Apa dia akan marah jika aku mengiggit bibir dan pipi bakpaunya itu?' Entah bagaimana, Axelio bisa berfikir seperti itu.

"Makannya, tinggi itu ke atas! Jangan ke samping!" di situasi seperti ini, sempat-sempatnya Axelio mengejek Adnessa.

Kesal? Tentu saja Adnessa sangat kesal dengan ulah Axelio. bahkan, di dalam hati, gadis itu telah menyumpah serapahi Axelio yang menurutnya sangat keterlaluan.

"Kembalikan handuk kimonoku!" ucap Adnessa dengan mata melotot ke arah Axelio.

Bukannya memberikan handuk itu, Axelio justru menertawakan Adnessa. Membuat gadis itu sangat kesal dan memilih untuk segera meninggalkan tempat itu. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba Adnessa di kejutkan dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja melayang.

"ASTAGA, Apa yang kamu lakukan, Xel?" pekik Adnessa, melihat Axel yang mengangkat tubuhnya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya masih memegang handuk miliknya.

"Yang pertama ... Aku adalah kakak kamu, jadi, jangan panggil aku dengan sebutan nama lagi. Yang ke dua, Jangan memakai pakaian seperti ini lagi, cukup aku yang melihat lekuk tubuh mu jangan sampai ada orang lain yang melihatnya. Yang ke tiga, Aku menginginkan mu!" ucap Axel dengan posisi yang masih mengangkat tubuh Adnessa menggunakan sebelah tangannya.

"Orang gila, turunkan aku!" 

"Kalau aku tidak mau?!" sahut Axel menggoda Adnessa.

Mendengar itu, Adnessa yang sudah kesal dengan ulah Axel pun meronta. Berfikir jika kakak tirinya yang gila ini akan menurunkannya. Namun, hal lain yang terjadi.

BYURRRRR.

***

Bab terkait

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 3 (Musibah atau berkah?)

    BYURRRRR ...Pada akhirnya, Adnessa dan Axelio sama-sama terjatuh kedalam kolam. Axelio yang saat itu tengah memeluk Adnessa, tanpa sengaja melihat tubuh adik tirinya yang terlihat menggoda dengan keadaan yang basah kuyup, tanpa terkecuali, hingga menampakan lekuk tubuhnya yang indah, bahkan dadanya pun terlihat jelas menonjol.'Sebenarnya, ini sebuah musibah atau berkah?!' batin Axelio seraya mengusap kasar wajahnya. Entah kenapa, Axelio menjadi sedikit gusar hingga kesulitan untuk menelan salifanya.'Apa-apaan ini? Kenapa dia menatap ku seperti itu?' Spontan, Adnessa menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan segera mendorong Axelio untuk menjauh.'Shittt,' hal itu membuat Axelio seketika sadar dengan apa yang baru saja dia pikirkan. Lagi pula, pria dewasa mana yang tidak berfikiran buruk ketika di suguhkan dengan pemandangan seperti itu?Setelah pelukan itu terlepas, tanpa sepatah kata, Adnessa berbalik badan dan berjalan menepi, meninggalkan Axelio yang masih terdiam menatapn

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-01
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 4 (Siapa gadis itu?)

    Karena suara Revan yang cukup keras, membuat semua orang yang berada di sekitar menatap kearah mereka berdua.Dengan raut wajah yang terlihat tidak nyaman, akhirnya Adnessa menjelaskan bagaimana dirinya bisa menjadi putri di keluarga Hansel, "Ckkk, ibu ku menikah dengan om Jhonatan. Jadi, mau tidak mau, saya menjadi adik tiri Axel!" Revan mengangguk paham, "Ohhh, seperti itu. Sepertinya, nanti kita akan sering bertemu!"Adnessa hanya mengedikkan bahunya, dan terus melangkahkan kaki mengelilingi tempat itu. Semakin lama, Adnessa merasa tempat ini lumayan nyaman dan matanya terpana ketika melihat sebuah area kolam dari kejauhan."Van!" Revan yang tengah bersemangat menemani Adnessa berkeliling harus menghentikan langkahnya, setelah mendengar suara seseorang memanggilnya."Woy, bro! Siapa ini?" tanya seorang pria yang sepertinya kenal dekat dengan Revan.Seperti pria lain pada umunya ketika melihat gadis cantik yang belum pernah dijumpai. Pria itu menatap kearah Adnessa dengan pandanga

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-10
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 5 (Hal gila)

    "Turunkan aku! Aku tidak sudi di sentuh oleh tangan mu yang kotor itu!" gumam Adnessa dengan suara yang terdengar tidak begitu jelas.Walaupun dalam keadaan setengah sadar, Adnessa masih bisa mengenali siapa lelaki yang memaksa dirinya untuk meninggalkan tempat ini. Seketika, membuatnya merasa jiji saat teringat apa yang di lihatnya di kolam tadi.Sepertinya, usaha Adnessa sia-sia. Walaupun gadis itu telah meronta bahkan mengumpati Axelio dengan kalimat pedasnya agar kakak tirinya itu mau menurunkannya, namun, kenyatannya Axelio tidak goyah sedikit pun dan tetap membawa Adnessa pergi dari tempat itu."Aku benci kamu, aku benci semua orang!" ucap Adnessa seraya memukul pundak Axelio.Tepat di sebelah mobil miliknya, akhirnya Axelio menghentikan langkahnya dan menurunkan Adnessa. Dengan tangan terkepal dan wajah memerah menahan kesal, Axelio menyudutkan tubuh Adnessa di kap mobilnya. Dua pasang mata itu saling beradu tatap dengan pandangan masing-masing. Axelio dengan tatapan kesalnya d

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 6 (Pesona Axcelio)

    Axelio terus melangkah, mengikis jarak diantara dirinya dan Adnessa. Lagi-lagi, hal itu membuat Adnessa tersudut. Glekkk. Di saat seperti ini, mata elang dengan alis tebal yang semakin memperkuat karakter tegas Axelio itu, justru membuat Adnessa kesulitan untuk mengontrol dirinya, bahkan matanya pun tidak beralih sedikit pun dari Axelio. 'Jika boleh mengatakannya dengan jujur, sepertinya aku mulai terpikat dengan pria bajingan ini,' batin Adnessa tanpa sadar. Namun, beberapa saat kemudian Adnessa segera menunduk, untungnya ia segera menyadari ada yang salah dengan otaknya.'Aishhhh, bodoh, apa yang kamu pikirkan barusan?' batin Adnessa merutuki dirinya. DEG. Jantung Adnessa kembali berdesir hebat ketika Axelio tiba-tiba mengangkat dagunya, membawa wajahnya untuk menatap kearah lelaki itu yang kini berdiri tepat di depannya. Bahkan, wajah Axelio kini berada tepat di depan wajah Adnessa dengan jarak yang hanya beberapa inchi. Dengan lembut, Axelio merapikan anak rambut Adnessa yang

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-07
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 7 (kebrutalan Axcel)

    "AXELL!"Disaat semuanya sudah hampir terlambat. Terlihat, seorang gadis berparas cantik meneriakkan nama Axelio, membuat tiga pria yang tengah berdebat itu menoleh. Tentu saja hal itu membuat Axelio sedikit bernafas lega, karena akhirnya ada yang mengalihkan perhatian dua sahabatnya ini.'Erika?' Axel mengernyit, melihat siluet yang sangat di kenalnya berjalan mendekat.Dengan senyum lebar, tanpa permisi Erika bergelayut manja di lengan Axelio. Namun, sepertinya Axelio tidak menyambut baik sikap Erika itu, bahkan Axcel segera melepaskan pelukan gadis itu darinya.Mendapat penolakan dari Axelio, tentu saja Erika merasa ada yang berbeda, "Ada apa, xel?""Pffftttttt. Pakek nanya, tentulah Axel risih sama lo!" sahut Aldy.Risih? tidak mungkin. Tadi saja ketika berada di kolam renang dirinya sudah hampir berhasil, mana mungkin Axcel risih dengannya, "Bilang saja kalau lo iri dengan Axcel, heh.""Iri? Gue tarik semua ucapan gue dulu yang sempat mengagumi cewek kayak lo," sahut Aldy. Memang

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 8 (Butterfly Era)

    'Akhh, sialan?!' dengan mata terpejam, Adnessa memukul pelan kepalanya, ketika bayangan kejadian semalam melintas di otaknya. Apa lagi, bayangan wajah Axelio yang sangat menggoda saat itu terus menghantuinya, membuat Adnessa benar-benar tidak nyaman tinggal di kediaman Hansel."Setan bukan, tapi gak ada capeknya, apa? gentayangin gue mulu," keluh Adnessa. Ternyata, sejak kejadian semalam, Adnessa tidak bisa beristirahat dengan tenang. Bahkan, hampir semalaman gadis itu tidak tidur. Untuk mengusir bayangan yang menganggu itu, Adnessa memutuskan untuk berolahraga, ya, walaupun jam menunjukkan masih sangat pagi, bahkan semburat cahaya matahari pun belum muncul."Mau kemana kamu?" "Astaga?!" baru saja Adnessa keluar dari pintu kamarnya, sudah di kejutkan dengan suara berat Axcel.Dengan tatapan kesal dan bibir cemberut, Adnessa menatap ke arah Axcel yang tengah bersandar di dinding, tepat di sebelah pintu kamarnya. Apa dia baru saja pulang? Melihat Axcel masih mengenakan baju yang sama

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-09
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 9 (Pengakuan)

    Di tengah kesibukannya. Pagi ini, Axcel memang sengaja meluangkan waktunya untuk mengantar Adnessa."Ngapain masih disana?" tanya Adnessa melihat mobil Axcel yang tidak segera pergi."Suka-suka saya, dong! saya bangun rumah di sini pun tidak akan ada yang berani melarang," sahut Axcel dengan wajah congkaknya."Sombong sekali," gerutu Adnessa yang memilih meninggalkan tempat itu, dan enggan meladeni ucapan Axcel yang pasti nantinya hanya akan membuatnya kesal."Sa?!" panggil Axcel."Jangan nengok, jangan berhenti!!" gumam Adnessa memperingatkan dirinya sendiri dan semakin mempercepat langkahnya."Adnessa sayang. Jangan telat makan dan jaga diri baik-baik, ya. Kalau ada yang gangguin nanti, bilang saja sudah punya saya!" teriak Axcell, membuat Adnessa yang mendengarnya merasa malu."Dasar gila, apa dia tidak malu mengatakan hal seperti itu?" entah itu hanya sebuah candaan atau bagaimana. Namun, menurut Adnessa, kalimat seperti tadi tidak seharusnya di ucapkan sembarangan seperti ini. Kar

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 10 (Dosen Favorit sejuta umat)

    "Mahasiswi baru? Silahkan perkenalkan dirimu!" Sebenarnya, tidak bertanya pun Revan sudah tahu jika Adnessa adalah mahasiswi baru disini. Dan hal ini hanyalah alasan untuknya agar memiliki kesempatan untuk mendekati Adnessa."Baik, pak!" seketika, Adnessa dapat bernafas dengan lega."Pak Revan, saya tidak sekalian bapak suruh untuk maju ke depan?" tanya Laluna.Revan menaikkan sebelah alisnya, ia sudah hafal sekali dengan sifat mahasiswinya itu yang sering menggodanya, "Kamu mau gantikan saya mengajar disini? Kalau memang begitu, saya persilahkan!""Boro-boro, kalau beneran gue yang ngajar, mungkin generasi gen z akan semakin berantakkan," gumam Laluna seraya menelan salivanya dengan kasar. "Pfffttttttt. Katanya dengan senang hati, pak!" sahut Fransisca dengan lantang, seraya menertawai sahabatnya."ya ampun, Sis. Apa-apaan sih, Lo?" keluh Laluna yag membuatnya mendapat sorakan dari teman yang lain.Sebenarnya, hal seperti ini sudah hal yang biasa untuk Revan. Karena di kampus ini,

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-11

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 71 (Filosofi laut?!)

    Akhirnya Axcel melepaskan cekikannya di leher Erika, setelah gadis itu mengatakan sesuatu yang kembali membuatnya bimbang. Kata-kata Erika tadi seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya, membuatnya kehilangan kendali atas amarahnya."Uhuk uhuk uhukkkk," Erika memegang lehernya yang terasa sakit, bekas cekikan Axcel membekas merah di sana. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin. Matanya menatap Axcel dengan campuran rasa takut dan kemenangan.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa yang bermain-main dengannya.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarny

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 70 (Sekedar payung)

    Apa aku tidak salah dengar?' Adnessa menatap Revan dengan mata berkaca-kaca, hatinya sedikit terenyuh dengan ketulusan Revan. Ia tidak menyangka Revan akan mengatakan hal itu di depannya, mempertaruhkan persahabatan yang telah lama terjalin demi dirinya, demi melindunginya. Sedangkan selama ini, dirinya seolah terus mempermainkan perasaan Revan yang selalu berkorban untuknya.Axcel terdiam, rahangnya mengeras. Ia merasa terpojok dan tidak berdaya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasa Revan benar-benar serius dengan ucapannya."Lo tidak bisa melakukan ini, Van," ucap Axcel dengan suara lirih, berusaha meyakinkan Revan. "Adnessa adalah milik gue.""Milik lo?" Revan tertawa sinis. "Sejak kapan Adnessa menjadi milik lo? Lo bahkan tidak bisa menjaganya. Lo hanya membuatnya menderita," ucap Revan yang tidak bisa lagi menahan kekesalan dan kekecewaannya, sia-sia dirinya menahan perasaan selama ini, membiarkan Adnessa terus bersama Axcel. Namun, Axcel justru menyia-nyiakannya, tida

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 69 (Antara persahabatan dan cinta)

    Shhhh," desis Axcel, merasakan denyutan tajam yang menghantam kepalanya. Ia mengerjap, kelopak matanya terasa berat, dan pandangannya kabur. Ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, sesuatu yang hangat dan lembut.Axcel tersentak, matanya melebar saat melihat siapa yang tidur di sampingnya, menindih tubuhnya dengan selimut yang melorot. Erika. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan bibirnya sedikit bengkak. Membuat Erika yang tengah terlelap di sampingnya ikut tersentak dan terbangun."Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Axcel dengan suara serak, tenggorokannya terasa kering. Penampilannya sangat berantakan, kemejanya kusut, dan matanya merah menatap Erika dengan tatapan dingin dan penuh pertanyaan.Erika menarik selimut yang sedikit melorot, membenarkannya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sebelum ia mengangkat wajahnya, menatap mata Axcel dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Axcel meremang, "Kamu jahat sekali, Axcel," sahutnya, menjawab pertanyaan Axcel dengan nada le

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 68 (Awal kehancuran 18+)

    Plakk.Revan menepuk pelan uluran tangan sahabatnya ke arah Adnessa, "Apa-apaan syarat seperti itu?" ucapnya sedikit cemburu. Ia merasa tidak suka melihat Aldynata menggoda Adnessa.Aldynata mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan Revan, seolah acuh tak acuh dengan sahabatnya itu yang hampir terbakar cemburu. Dengan sengaja, Aldynata justru kembali mengulurkan tangannya ke arah Adnessa, seolah menantang Revan."Ha-hanya berdansa saja, kan?!" tanya Adnessa terbata, sedikit ada keraguan di hatinya untuk menerima uluran tangan Aldynata. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.Revan yang melihat itu mendengus kesal. Sebelum semuanya terlambat, dengan cepat Revan menerima uluran tangan Aldynata yang sebenarnya pria itu tunjukkan untuk Adnessa. Ia tidak ingin Adnessa berdansa dengan Aldynata.Adnessa dan Aldynata seketika menatap aneh ke arah Revan. Mereka berdua merasa bingung dengan tindakan Revan yang tiba-tiba.Aldynata segera menarik tangannya kembali, "Gue gak suka bambu, ya, anyi

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 67 (Tragedi kamar 069

    Axcel menarik tangan Erika yang ia sangka Adnessa itu ke dalam pelukannya, ia memeluknya dengan sangat erat. Ia merasa sangat merindukan Adnessa, dan ia ingin merasakan kehangatan dan kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh Adnessa.Sedangkan Erika, ia terkejut mendengar Axcel memanggil nama Adnessa. Ia merasa sangat marah dan cemburu. Ia tidak menyangka Axcel akan memikirkan Adnessa di saat seperti ini."Aku di sini, Xel," ucap Erika dengan suara lembut, berusaha menenangkan Axcel. Ia ingin Axcel melihatnya, bukan Adnessa. Ia ingin Axcel melupakan Adnessa dan mencintainya.Axcel menggelengkan kepalanya, "Bukan kamu, Ness," ucapnya dengan suara serak. "Aku merindukanmu." Ia memeluk Erika semakin erat, berharap ia bisa merasakan kehadiran Adnessa.Erika mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membara di dadanya. Ia merasa sangat terhina dan direndahkan. Ia tidak menyangka Axcel akan begitu mencintai Adnessa, meskipun mereka sudah berpisah."Axcel, aku di sini," ucap Erika lagi, be

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 66 (Dosen Andalan)

    Adnessa melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah, melihat Axcel berdiri di depannya. Perasaannya seketika berubah menjadi campur aduk. Ia menatap was-was ke sekeliling Axcel, mencari seseorang yang mungkin saja ikut hadir bersamanya. Dirinya benar-benar sudah tidak ingin ikut terlibat dalam masalah Axcel dan Erika lagi."Ada apa?" tanya Axcel, melihat Adnessa menatap aneh ke arahnya. Axcel yang merasa khawatir, spontan menyentuh lengan Adnessa, mencoba untuk mengikis jarak dan dinding penghalang yang hadir di antara mereka setelah malam pertunangan itu. Ia merasa Adnessa semakin menjaga jarak dengannya.Merasakan sentuhan Axcel, Adnessa segera menarik tangannya membuat Axcel tersenyum miring dengan tatapan mata yang ikut berubah, sorot mata yang tadinya menyiratkan kekhawatiran seketika berubah menjadi tatapan amarah dan kekecewaan."Aku masih ada urusan," pamit Adnessa sengaja untuk menghindari Axcel, ia tidak ingin lagi membuat masalah. Ia selalu mengingatkan kepada dirinya send

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 65 (Malam perjamuan)

    Revan dan Adnessa terlihat sangat serasi, bahkan baju mereka juga terlihat senada. Baru saja mereka keluar dari mobil, sudah banyak pasang mata yang berlalu lalang di pelataran gedung itu menatap ke arah mereka, tidak sedikit juga yang memuji Adnessa dan Axcel. Revan dengan gagahnya dan auranya yang berkarisma, bersanding dengan gadis cantik dan anggun, tentu saja akan menyita perhatian banyak orang. Apalagi, selama hidupnya baru kali ini Revan membawa seorang gadis datang ke acara resmi seperti ini.Revan memberikan kode agar tangan Adnessa melingkar di lengannya. Ia ingin terlihat seperti pasangan yang serasi dan bahagia di depan semua orang. Meskipun, pada kenyataannya tidak ada hubungan lebih di antara mereka berdua, selain hubungan antara dosen dan mahasiswi."Kenapa, Pak?" tanya Adnessa yang tidak peka, ia justru menatap bingung dan heran ke arah Revan. Ia tidak mengerti apa maksud Revan dengan kode yang diberikan kepadanya."Pegang lengan saya, Ness!" ucap Revan dengan sabar, i

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 64 (Dosen killer yang posesif)

    Revan membawa Adnessa menuju sebuah butik yang cukup terkenal di kotanya. Butik itu sangat besar dengan baju-baju mewah dan elegan yang terpajang sangat indah, membuat Adnessa takjub dengan pemandangan itu. Ia merasa seperti masuk ke dalam dunia mimpi, di mana segala sesuatu terlihat begitu sempurna dan mewah."Kenapa Anda membawa saya kemari, Pak?" tanya Adnessa dengan suara yang sedikit bergetar. Ia masih binggung dengan apa yang sedang terjadi. Revan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Adnessa. "Tentu saja untuk memilihkan gaun yang akan kamu kenakan di acara nanti malam!" Sahut Revan dengan entengnya, seolah-olah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa saja."Tidak mungkin juga kan, kita makan di sini. Ini butik, bukan restoran, Ness," lanjut Revan menggoda Adnessa, ia terkekeh pelan melihat ekspresi Adnessa yang menurutnya begitu menggemaskan. Ia suka melihat Adnessa yang terlihat bingung dan salah tingkah seperti ini.'Yang bilang ini restoran juga siapa? Orang kayak gini, k

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 63 (Rencana buruk Erika)

    Rencananya untuk menemui Axcel di kantor pria itu akhirnya gagal, dan Erika memutuskan untuk pulang dengan hati yang penuh amarah dan dendam. Namun, di tengah perjalanan, entah kenapa ia teringat dengan sebuah rencana yang akan membantunya untuk bersatu dengan Axcel. Rencana yang licik dan berbahaya, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain."Apa aku harus menggunakan cara itu?" gumam Erika, mempertimbangkan ide yang baru saja muncul di otaknya. Ia tahu rencana ini sangat berisiko, tapi ia sudah tidak tahan lagi dengan penolakan Axcel. Ia ingin memiliki Axcel seutuhnya, dan ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.Tiba-tiba Erika teringat dengan seseorang yang bisa membantunya mewujudkan rencana ini. Matanya berbinar dan segera ia mengambil ponselnya untuk menghubungi orang itu."Selamat siang, Nona Erika! Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" terdengar suara seorang pria dari balik panggilan itu, membuat Erika tersenyum miring. Ia sudah menemukan orang yang tepat untuk memban

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status