Beranda / Young Adult / Terjerat Pesona Kakak Tiriku / Chapter 10 (Dosen Favorit sejuta umat)

Share

Chapter 10 (Dosen Favorit sejuta umat)

Penulis: Scorpio_Girl
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-11 21:28:18

"Mahasiswi baru? Silahkan perkenalkan dirimu!" 

Sebenarnya, tidak bertanya pun Revan sudah tahu jika Adnessa adalah mahasiswi baru disini. Dan hal ini hanyalah alasan untuknya agar memiliki kesempatan untuk mendekati Adnessa.

"Baik, pak!" seketika, Adnessa dapat bernafas dengan lega.

"Pak Revan, saya tidak sekalian bapak suruh untuk maju ke depan?" tanya Laluna.

Revan menaikkan sebelah alisnya, ia sudah hafal sekali dengan sifat mahasiswinya itu yang sering menggodanya, "Kamu mau gantikan saya mengajar disini? Kalau memang begitu, saya persilahkan!"

"Boro-boro, kalau beneran gue yang ngajar, mungkin generasi gen z akan semakin berantakkan," gumam Laluna seraya menelan salivanya dengan kasar. 

"Pfffttttttt. Katanya dengan senang hati, pak!" sahut Fransisca dengan lantang, seraya menertawai sahabatnya.

"ya ampun, Sis. Apa-apaan sih, Lo?" keluh Laluna yag membuatnya mendapat sorakan dari teman yang lain.

Sebenarnya, hal seperti ini sudah hal yang biasa untuk Revan. Karena di kampus ini, tidak hanya satu atau dua mahasiswi saja yang setiap hari menganggunya. Tapi, setiap kali dirinya mengajar di kelas ini, memang Laluna tidak pernah absen untuk menggodanya.

"Sudah-sudah, kalian tenang! Biarkan teman baru kalian ini memperkenalkan diri dulu, sebelum kita mulai kegiatan belajar hari ini. Silahkkan, kamu memperkenalkan diri!" ucap Revan mempersilahkan Adnessa.

"Bowleh sayang," sahut Laluna lirih dengan mata berbinar menatap ke arah Revan.

Gugup? Tentu saja Adnessa gugup. Apa lagi, saat ini semua mata menatap ke arahnya, "Ehemm, selamat pagi! Saya Adnessa Aisy, mahasiswi pindahan dari universitas x kota sebelah! kalian bisa memanggil saya Nessa! "

"Nama yang indah," gumam Revan setelah mendengar Adnessa menyebutkan namanya.

"Pak, sudah selesai. Apa saya sudah boleh duduk?" 

"Sebentar. Saya minta kamu kemari, dan tolong kamu lengkapi data diri kamu dulu!" ucap Revan meminta Adnessa untuk datang ke mejanya.

"Baik, pak!" Adnessa segera melangkahkan kakinya menuju meja Revan dan mengisi semua biodata miliknya, agar tidak terlalu membuang-buang waktu.

"Sudah, pak!" 

Revan mengambil lembaran yang baru saja di isi oleh Revan. Semuanya sudah oke, hanya saja ... "08 berapa?" tanya Revan to the poin.

Apa ada yang terlewatkan? Adnessa segera menatap kembali ke arah lembaran kertas yang tadi baru saja ia isi.

'Tidak ada,' karena seingatnya tadi, ia sudah cukup teliti mengisinya dan tidak ada yang terlewat.

"Boleh saya meminta nomor ponsel kamu?" tanya Revan.

Adnessa terdiam, mencerna apa yang baru saja di katakan oleh Revan, "Untuk apa, pak?"

"Tentunya untuk kepentingan kampus!" sahut Revan beralibi.

Adnessa mengangguk, dan segera mengeluarkan ponselnya.

Revan tersenyum senang setelah mendapat nomor ponsel gadis yang di incarnya, "Baiklah, kamu boleh kembali!"

"Gila. itu pak Revan beneran tersenyum?" ucap Laluna yang keheranan melihat dosen kulkasnya itu tersenyum.

"Eh, iya, ya?!" sahut Fransisca yang ikut keheranan.

"Ness, tadi kenapa pak Revan bisa tersenyum?" tanya Laluna setelah Adnessa kembali ke bangkunya.

"Iya, Ness?" Fransisca yang biasanya cuek dalam segala hal, kini ikut penasaran.

"Tersenyum?" memangnya, tadi pak Revan ada senyum? Adnessa yang mendapat pertanyaan itu sedikit binggung, karena memang dirinya tadi tidak terlalu memperhatikan Revan. Justru, yang ada di otaknya hanyalah ingin segera kembali ketempatnya.

"Kamu tidak lihat, Ness?" tanya Laluna.

Dengan polosnya, Adnessa menggeleng, "Memangnya kenapa kalau pak Revan tersenyum?"

"Itu hal langka, Ness. Biar pun pak Revan adalah dosen Favorit sejuta umat, tapi beliau itu masuk katagori dosen killer dan juga jarang sekali terlihat senyum," jelas Fransisca.

"Ehemmm. Kalian bertiga ... Apa sudah bosan dengan mata kuliah saya? Kalau bosan, kalian bisa keluar!" tanya Revan yang menunjuk ke arah Laluna, Fransisca, dann Adnessa.

"Tukan, Ness," lirih Laluna seraya menatap ke arah Adnessa.

Setelah mendapat teguran dan terancam keluar dari kelas, Akhirnya Laluna, Fransisca, dan Adnessa tidak lagi sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan ketiga gadis itu terlihat fokus dengan apa yang Revan ajarkan.

"Akhhhhhh, akhirnya selesai juga!" girang Fransisca seraya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

Lain halnya dengan Laluna, walaupun kapasitas otaknya yang kecil dan susah untuk menerima banyak pelajaran. Namun, gadis itu selalu mengeluh ketika jam mengajar Revan telah habis dikelasnya, "Yah. Luna sedih, Luna sedih banget."

"Gaya Lo, sedih. Memangnnya semua pelajaran tadi masuk di otak, Lo?" tanya Fransisca.

"Tentu ... Tidak!" sahut laluna.

"Pffffttttttt," melihat kerandoman dua teman barunya itu membuat Adnessa nyaman dan merasa tidak kesepian lagi berada di kota ini.

"Ness, ke kantin, yuk!" Ajak Fransisca.

"Boleh!" dengan senang hati, Adnessa menerima ajakan Fransisca.

"Ness, lu punya cowok, nggak, sih?" tanya Laluna di sela langkah mereka menuju kantin.

"Ah kebiasaan, lo. Kepo," sahut Fransisca.

"Jomblo diam!" balas Laluna tidak kalah menohok dari Fransisca.

"Pffffttttttt. Entahlah, sepertinya sih akan segera berakhir!" sahut Adnessa miris, mengingat kekasihnya yang berhianat dengan sahabatnya sendiri.

"Eh, Loh, maksudnya bagaimana?" tanya Fransisca.

"Apa tidak masalah gue bercerita?"

"Biarpun itu 24 jam, gue lebih memilih untuk dengerin Lo bercerita daripada harus lihat lo ikut trend terjun bebas seperti yang lagi Viral di tok-tok," sahut Laluna.

"Anjay, kelas?!" sahut Fransisca yang mendengar sahabatnya itu tiba-tiba saja berkata bijak.

Sudah berapa kali Adnessa tertawa lepas melihat tingkah Laluna dan Fransisca yang random, 'Ternyata, pilihan ku untuk pindah ke kota ini adalah keputusan yang paling tepat.'

Dengan senang hati, Adnessa mulai menceritakan ayang yang terjadi kepadanya. Anggap saja, ini sebagai salah satu cara untuk dirinya mengurangi beban di hatinya.

***

"Kemana gadis itu?" hampir dua jam lamanya Axcel menunggu Adnessa, namun gadis yang di tunggunya itu tidak kunjung terlihat.

Saat Axcel berniat untuk masuk kedalam kampus untuk mencari keberadaan adik tirinya, tidak sengaja ia bertemu dengan Revan.

"Bro. Ngapain?" tanya Revan.

"Lo ngelihat adek gue, nggak?"

"Adek Lo? bukannya sudah pulang dari tadi? Tadi gue sempat nawarin tumpangan, tapi dia nolak. Katanya udah Lo jemput," sahut Revan.

"Gue jemput?" tapi, selama ia menunggu Adnessa di depan, tadi. Sama sekali ia tidak melihat betang hidung adek tirinya itu.

"Apa jangan-jangan?" seketika fikiran buruk melintas di kepala Axcel, membuat pria itu tergesa-gesa kembali menuju mobilnya.

"Apa ada yang tidak beres?" gumam Revan yang ikut panik.

***

Bab terkait

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 11 (dintara tuan muda Hansel tuan muda Evander)

    Adnessa yang baru saja membuka pintu kamarnya, heran melihat keberadaan Axcel dan Revan berdiri di depan kamarnya, "Kalian, ngapain di sini?"Revan dan Axcel memang bersahabat, tidak heran jika melihat dosen muda itu berada di kediaman Hansel. Tapi, melihat dua pria ini berdiri di depan pintu kamarnya dengan nafas yang naik turun, membuat Adnessa bertanya-tanya."Saya? Saya mengkhawatirkan kamu," sahut Revan to the poin.Adnessa semakin binggung, "Hah? Apa anda salah bicara, Pak?"Maksudnya, dirinya tidak sepenting itu kenapa seorang dosen seperti Revan bisa mengkhawatirkannya?! Apa aku membuat masalah? Adnessa mencoba untuk mengingat apa yang ia lakukan, yang mungkin membuat masalah tanpa ia sadari.Melihat pakaian yang di kenakan Adnessa sedikit terbuka, Axcel segera melepaskan jas yang ia kenakan untuk Adnessa.'Astaga. Malu sekali,' batin Adnessa yang baru saja menyadari pakaiannya."Maksud saya, tadi Axcel datang ke kampus untuk menjemput kamu, dan saya teringat jika kamu sudah pu

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 12 (Satu Bulan)

    Deg. Adnessa terdiam, mengira jika kalimat waktu itu hanyalah sebuah lelucon dan Axcel telah melupakannya. Kenyataannya, pria itu Justru menanyakan jawaban tentang pengakuannya pagi tadi."Saya menyukai kamu!" jelas Axcel.Dalam konteks apa? Adnessa tidak ingin terlalu percaya diri, karena tidak semua kata menyukai itu bisa di artikan dalam bentuk pasangan, bisa saja itu hanya sekedar suka layaknya seorang kakak kepada adiknya. Lagi pula, selamanya mereka akan menjadi saudara. Andai kata, suatu saat nanti Axel benar-benar memiliki perasaan kepadanya, Adnessa berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menyukai pria di depannya ini."Aku juga menyukai mu, karena kita adalah saudara!" Adnessa tersenyum, menatap sekilas wajah Axcel. Saudara? Kebahagiaan di wajah Axcel perlahan meredup, "Apa hanya sebatas itu?""Maksudnya?""Saya menyukai kamu lebih dari perasaan seorang kakak kepada saudari perempuanya. Bagaimana dengan kamu? Apakah perasaan kamu hanya sebatas itu?" tanya Axcel penuh

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-14
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 13 (Mulai curiga)

    "Ness, sedang apa kamu?" tanya Margaretha melihat wajah gugup putrinya. Margaretha yang penasaran, akhirnya menghampiri Adnessa yang terdiam di depan pintu kamar mandi. "Ahh, tidak, Ma. Mama kapan pulang?" tanya Adnessa yang sengaja mengalihkan pembicaraan."Mama, baru saja pulang. Beneran kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Margaretha curiga. Walaupu mereka jarang memiliki waktu bersama, tapi, yang namanya ibu pasti sangat mengenali anaknya.Adnessa tersenyum, sebenarnya sangat tidak nyaman berada di posisi sekarang. Tapi, tidak mungkin juga ia mengatakan yang sejujurnya, 'Yang ada di coret dari kartu keluarga.'"Mama memang terlalu sibuk dan jarang ada waktu untuk kamu. Tapi, kalau kamu sedang ada masalah, cerita sama mama!" Adnessa tersenyum, "Adnessa tidak ada masalah, kok, ma!"Margaretha mengangguk, firasat seorang ibu tidak akan pernah salah. Tapi, biar bagaimana pun ia tidak bisa memaksa Adnessa, dan memilih untuk menunggu kapan gadis itu siap untuk bercerita, "Ya sudah, kalau

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-15
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 14 (Kedatangan Giovan)

    "Maaf, tuan, menganggu waktunya. Ini ada den Revan datang katanya ada perlu dengan tuan muda!" Ketika suasana sedikit menegang, tiba-tiba seorang pelayan di kediaman itu datang, memberi tahu kedatangan Revan.Jhonatan mengangguk, mempersilahkan sahabat putranya itu untuk bergabung, sarapan bersama."Baik, tuan.""Selamat pagi om, tante!" sapa Revan yang baru saja datang."Pagiii. Silahkan duduk, Van. mari kita sarapan bersama!" sahut Jhonatan menyambut kedatangan Revan."Iya, nak Revan. Jangan sungkan-sungkan!" timpal Margaretha."Ahhh, jadi merepotkan Om dan tante," sahut Revan terkekeh, dengan senang hati bergabung di meja makan."Bagaimana kabar Ayah kamu, sehat?" tanya Jhonatan. Tidak hanya Axcel yang bersahabat dengan Revan, ternyata Jhonatan dan Ruan, ayah kandung Revan merupakan kawan lama. Tidak heran jika mereka terlihat seperti saudara."Alhamdhulillah sehat, om. Kalau om? Emmm, sepertinya saya tidak perlu bertanya, sejak kedatangan tante Margaretha seharusnya Om Jhonatan se

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-16
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 15 (Kakak tiri yang posesif)

    "Beraninya bersikap tidak sopan disini!" ucap Axcel, suaranya meninggi. menghempas kasar tangan Geovan yang menyentuh bahu Adnessa. "Kamu tidak apa-apa, Ness?!" tanya Revan khawatir. Adnessa menggeleng, dengan wajah tertekan gadis itu bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. "Woahhh, pantas saja kamu memblokir semua kontakku. Ternyata, kamu sudah mendapat mainan baru?!" Geovan bertepuk tangan, terang-terangan menyindir Adnessa. Sedikit pun Adnessa tidak tersulut emosi. Dengan santai gadis itu bersedekap dada, tersenyum sinis kearah Geovan, "Heh, lucu sekali." "Memang, wanita murahan seperti kamu itu tidak bisa hidup tanpa laki-laki. Sebenarnya, seberapa kesepian kamu disini hingga bermain dengan dua pria sekaligus, hmmm?!" ucap Geovan yang semakin keterlaluan, membuat Adnessa tidak bisa menahan diri lagi.Revan yang mendengar Adnessa di rendahkan di depan mata kepalanya, tentu saja tidak terima. Pria itu hampir saja memukul Giovan, namun, ia urungkan ketika Adnessa sudah lebih dulu

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-17
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 16 (Trending topik)

    Pagi itu, Adnessa benar-benar di antar oleh Revan hingga kedalam kelas. Hari itu juga, Adnessa menjadi trending topik dan terkenal di penjuru kampus hanya gara-gara dirinya di antar oleh dosen tampan idaman para Mahasiswi disana."Aishhh, semua ini gara-gara pak Revan," gerutu Adnessa. Sepanjang ia berjalan di koridor, pasti akan ada bisikan dan tatapan yang tertuju padanya. Entah itu komentar positif atau negatif, semuanya berbaur menjadi satu."Cieee ... Monyong banget bibir, Lo. Senyum dong! Masa habis di anterin 2 cowok tampan masih gak puas, Lo, Ness?!" ucap Fransisca menghampiri Adnessa yang baru saja duduk di bangkunya."Iya, nih. Diborong semua, bagi-bagi napa, Ness?!" sahut Laluna dengan bibir cemberut.Adnessa menghela nafas panjang, "Kalian tidak mengerti, sih. Kalau bisa, dengan senang hati kalian angkut saja mereka berdua!""Astaga, Ness. Gue bercanda! Oh iya, pria yang berangkat bersama kamu tadi siapa?" tanya Fransisca penasaran."Siapa? Pak Revan?" tanya Adnessa yang t

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-18
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 17 (CCTV)

    *Flash Back.*"Tumben, Lo menghadiri rapat ini?" tanya Revan, sedikit heran. Ia tahu betul Axcel lebih suka berurusan dengan hal-hal yang lebih penting daripada rapat umum kampus."Ada beberapa hal yang ingin kupastikan sendiri," jawab Axcel, nadanya datar. Ia melirik sekilas ke sekeliling ruangan, seolah mencari sesuatu.Revan mengedikkan bahunya, mencoba bersikap santai. Namun, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Biasanya, asisten Axcel yang akan hadir mewakilinya. Kehadiran Axcel sendiri menimbulkan pertanyaan besar. 'Apa ada masalah yang serius?' pikir Revan, merasa khawatir.Sebenarnya, Axcel tidak begitu tertarik dengan acara pertemuan umum itu. Kedatangannya ke kampus ini hanya untuk meredakan kegelisahannya tentang Adnessa. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal, perasaan yang membuatnya tidak tenang. Axcel yang sebelumnya telah mengatur asistennya untuk menghadiri pertemuan ini, tiba-tiba berubah pikiran setelah teringat akan bertemu Adnessa di kampus itu. Ia butuh melihatn

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 18 (Canggung)

    Semua orang yang tadinya berada di pihak Devita seketika berbalik tidak menyukainya, setelah melihat rekaman CCTV yang membuktikan jika dirinyalah yang bersalah.Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka. "Ternyata dia yang salah," bisik seorang mahasiswa."Memalukan sekali," sahut yang lain. Devita dapat mendengar semua itu, dan rasa malunya semakin membakar dirinya.Devita menatap tajam ke arah Adnessa, matanya menyipit penuh amarah. Niat hati memberikan pelajaran kepada Adnessa yang berani menggoda Revan, pria yang ia cintai, kini berbalik menghantam dirinya sendiri. Alih-alih mempermalukan Adnessa, justru Devita sendiri yang dipermalukan di depan umum oleh gadis itu. Rasa malu, marah, dan frustrasi bercampur aduk menjadi satu, membuatnya merasa sangat bodoh dan hina.'Berani-beraninya dia mempermalukanku seperti ini,' batin Devita, gadis itu terlihat mengepalkan tangannya menahan amarah. 'Lihat saja nanti, Adnessa. Kamu akan membayar ini,' desisnya dalam hati.Melihat bagaimana

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-21

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 71 (Filosofi laut?!)

    Akhirnya Axcel melepaskan cekikannya di leher Erika, setelah gadis itu mengatakan sesuatu yang kembali membuatnya bimbang. Kata-kata Erika tadi seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya, membuatnya kehilangan kendali atas amarahnya."Uhuk uhuk uhukkkk," Erika memegang lehernya yang terasa sakit, bekas cekikan Axcel membekas merah di sana. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin. Matanya menatap Axcel dengan campuran rasa takut dan kemenangan.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa yang bermain-main dengannya.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarny

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 70 (Sekedar payung)

    Apa aku tidak salah dengar?' Adnessa menatap Revan dengan mata berkaca-kaca, hatinya sedikit terenyuh dengan ketulusan Revan. Ia tidak menyangka Revan akan mengatakan hal itu di depannya, mempertaruhkan persahabatan yang telah lama terjalin demi dirinya, demi melindunginya. Sedangkan selama ini, dirinya seolah terus mempermainkan perasaan Revan yang selalu berkorban untuknya.Axcel terdiam, rahangnya mengeras. Ia merasa terpojok dan tidak berdaya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasa Revan benar-benar serius dengan ucapannya."Lo tidak bisa melakukan ini, Van," ucap Axcel dengan suara lirih, berusaha meyakinkan Revan. "Adnessa adalah milik gue.""Milik lo?" Revan tertawa sinis. "Sejak kapan Adnessa menjadi milik lo? Lo bahkan tidak bisa menjaganya. Lo hanya membuatnya menderita," ucap Revan yang tidak bisa lagi menahan kekesalan dan kekecewaannya, sia-sia dirinya menahan perasaan selama ini, membiarkan Adnessa terus bersama Axcel. Namun, Axcel justru menyia-nyiakannya, tida

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 69 (Antara persahabatan dan cinta)

    Shhhh," desis Axcel, merasakan denyutan tajam yang menghantam kepalanya. Ia mengerjap, kelopak matanya terasa berat, dan pandangannya kabur. Ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, sesuatu yang hangat dan lembut.Axcel tersentak, matanya melebar saat melihat siapa yang tidur di sampingnya, menindih tubuhnya dengan selimut yang melorot. Erika. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan bibirnya sedikit bengkak. Membuat Erika yang tengah terlelap di sampingnya ikut tersentak dan terbangun."Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Axcel dengan suara serak, tenggorokannya terasa kering. Penampilannya sangat berantakan, kemejanya kusut, dan matanya merah menatap Erika dengan tatapan dingin dan penuh pertanyaan.Erika menarik selimut yang sedikit melorot, membenarkannya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sebelum ia mengangkat wajahnya, menatap mata Axcel dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Axcel meremang, "Kamu jahat sekali, Axcel," sahutnya, menjawab pertanyaan Axcel dengan nada le

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 68 (Awal kehancuran 18+)

    Plakk.Revan menepuk pelan uluran tangan sahabatnya ke arah Adnessa, "Apa-apaan syarat seperti itu?" ucapnya sedikit cemburu. Ia merasa tidak suka melihat Aldynata menggoda Adnessa.Aldynata mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan Revan, seolah acuh tak acuh dengan sahabatnya itu yang hampir terbakar cemburu. Dengan sengaja, Aldynata justru kembali mengulurkan tangannya ke arah Adnessa, seolah menantang Revan."Ha-hanya berdansa saja, kan?!" tanya Adnessa terbata, sedikit ada keraguan di hatinya untuk menerima uluran tangan Aldynata. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.Revan yang melihat itu mendengus kesal. Sebelum semuanya terlambat, dengan cepat Revan menerima uluran tangan Aldynata yang sebenarnya pria itu tunjukkan untuk Adnessa. Ia tidak ingin Adnessa berdansa dengan Aldynata.Adnessa dan Aldynata seketika menatap aneh ke arah Revan. Mereka berdua merasa bingung dengan tindakan Revan yang tiba-tiba.Aldynata segera menarik tangannya kembali, "Gue gak suka bambu, ya, anyi

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 67 (Tragedi kamar 069

    Axcel menarik tangan Erika yang ia sangka Adnessa itu ke dalam pelukannya, ia memeluknya dengan sangat erat. Ia merasa sangat merindukan Adnessa, dan ia ingin merasakan kehangatan dan kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh Adnessa.Sedangkan Erika, ia terkejut mendengar Axcel memanggil nama Adnessa. Ia merasa sangat marah dan cemburu. Ia tidak menyangka Axcel akan memikirkan Adnessa di saat seperti ini."Aku di sini, Xel," ucap Erika dengan suara lembut, berusaha menenangkan Axcel. Ia ingin Axcel melihatnya, bukan Adnessa. Ia ingin Axcel melupakan Adnessa dan mencintainya.Axcel menggelengkan kepalanya, "Bukan kamu, Ness," ucapnya dengan suara serak. "Aku merindukanmu." Ia memeluk Erika semakin erat, berharap ia bisa merasakan kehadiran Adnessa.Erika mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membara di dadanya. Ia merasa sangat terhina dan direndahkan. Ia tidak menyangka Axcel akan begitu mencintai Adnessa, meskipun mereka sudah berpisah."Axcel, aku di sini," ucap Erika lagi, be

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 66 (Dosen Andalan)

    Adnessa melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah, melihat Axcel berdiri di depannya. Perasaannya seketika berubah menjadi campur aduk. Ia menatap was-was ke sekeliling Axcel, mencari seseorang yang mungkin saja ikut hadir bersamanya. Dirinya benar-benar sudah tidak ingin ikut terlibat dalam masalah Axcel dan Erika lagi."Ada apa?" tanya Axcel, melihat Adnessa menatap aneh ke arahnya. Axcel yang merasa khawatir, spontan menyentuh lengan Adnessa, mencoba untuk mengikis jarak dan dinding penghalang yang hadir di antara mereka setelah malam pertunangan itu. Ia merasa Adnessa semakin menjaga jarak dengannya.Merasakan sentuhan Axcel, Adnessa segera menarik tangannya membuat Axcel tersenyum miring dengan tatapan mata yang ikut berubah, sorot mata yang tadinya menyiratkan kekhawatiran seketika berubah menjadi tatapan amarah dan kekecewaan."Aku masih ada urusan," pamit Adnessa sengaja untuk menghindari Axcel, ia tidak ingin lagi membuat masalah. Ia selalu mengingatkan kepada dirinya send

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 65 (Malam perjamuan)

    Revan dan Adnessa terlihat sangat serasi, bahkan baju mereka juga terlihat senada. Baru saja mereka keluar dari mobil, sudah banyak pasang mata yang berlalu lalang di pelataran gedung itu menatap ke arah mereka, tidak sedikit juga yang memuji Adnessa dan Axcel. Revan dengan gagahnya dan auranya yang berkarisma, bersanding dengan gadis cantik dan anggun, tentu saja akan menyita perhatian banyak orang. Apalagi, selama hidupnya baru kali ini Revan membawa seorang gadis datang ke acara resmi seperti ini.Revan memberikan kode agar tangan Adnessa melingkar di lengannya. Ia ingin terlihat seperti pasangan yang serasi dan bahagia di depan semua orang. Meskipun, pada kenyataannya tidak ada hubungan lebih di antara mereka berdua, selain hubungan antara dosen dan mahasiswi."Kenapa, Pak?" tanya Adnessa yang tidak peka, ia justru menatap bingung dan heran ke arah Revan. Ia tidak mengerti apa maksud Revan dengan kode yang diberikan kepadanya."Pegang lengan saya, Ness!" ucap Revan dengan sabar, i

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 64 (Dosen killer yang posesif)

    Revan membawa Adnessa menuju sebuah butik yang cukup terkenal di kotanya. Butik itu sangat besar dengan baju-baju mewah dan elegan yang terpajang sangat indah, membuat Adnessa takjub dengan pemandangan itu. Ia merasa seperti masuk ke dalam dunia mimpi, di mana segala sesuatu terlihat begitu sempurna dan mewah."Kenapa Anda membawa saya kemari, Pak?" tanya Adnessa dengan suara yang sedikit bergetar. Ia masih binggung dengan apa yang sedang terjadi. Revan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Adnessa. "Tentu saja untuk memilihkan gaun yang akan kamu kenakan di acara nanti malam!" Sahut Revan dengan entengnya, seolah-olah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa saja."Tidak mungkin juga kan, kita makan di sini. Ini butik, bukan restoran, Ness," lanjut Revan menggoda Adnessa, ia terkekeh pelan melihat ekspresi Adnessa yang menurutnya begitu menggemaskan. Ia suka melihat Adnessa yang terlihat bingung dan salah tingkah seperti ini.'Yang bilang ini restoran juga siapa? Orang kayak gini, k

  • Terjerat Pesona Kakak Tiriku   Chapter 63 (Rencana buruk Erika)

    Rencananya untuk menemui Axcel di kantor pria itu akhirnya gagal, dan Erika memutuskan untuk pulang dengan hati yang penuh amarah dan dendam. Namun, di tengah perjalanan, entah kenapa ia teringat dengan sebuah rencana yang akan membantunya untuk bersatu dengan Axcel. Rencana yang licik dan berbahaya, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain."Apa aku harus menggunakan cara itu?" gumam Erika, mempertimbangkan ide yang baru saja muncul di otaknya. Ia tahu rencana ini sangat berisiko, tapi ia sudah tidak tahan lagi dengan penolakan Axcel. Ia ingin memiliki Axcel seutuhnya, dan ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.Tiba-tiba Erika teringat dengan seseorang yang bisa membantunya mewujudkan rencana ini. Matanya berbinar dan segera ia mengambil ponselnya untuk menghubungi orang itu."Selamat siang, Nona Erika! Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" terdengar suara seorang pria dari balik panggilan itu, membuat Erika tersenyum miring. Ia sudah menemukan orang yang tepat untuk memban

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status