"AXELL!"
Disaat semuanya sudah hampir terlambat. Terlihat, seorang gadis berparas cantik meneriakkan nama Axelio, membuat tiga pria yang tengah berdebat itu menoleh. Tentu saja hal itu membuat Axelio sedikit bernafas lega, karena akhirnya ada yang mengalihkan perhatian dua sahabatnya ini.
'Erika?' Axel mengernyit, melihat siluet yang sangat di kenalnya berjalan mendekat.
Dengan senyum lebar, tanpa permisi Erika bergelayut manja di lengan Axelio. Namun, sepertinya Axelio tidak menyambut baik sikap Erika itu, bahkan Axcel segera melepaskan pelukan gadis itu darinya.
Mendapat penolakan dari Axelio, tentu saja Erika merasa ada yang berbeda, "Ada apa, xel?"
"Pffftttttt. Pakek nanya, tentulah Axel risih sama lo!" sahut Aldy.
Risih? tidak mungkin. Tadi saja ketika berada di kolam renang dirinya sudah hampir berhasil, mana mungkin Axcel risih dengannya, "Bilang saja kalau lo iri dengan Axcel, heh."
"Iri? Gue tarik semua ucapan gue dulu yang sempat mengagumi cewek kayak lo," sahut Aldy. Memang benar jika dulu ia mengejar Erika, walaupun dirinya tahu jika Erika menyukai sahabatnya dan juga memiliki beberapa skandal dengan pria yang lebih tua, namun dengan bodohnya Aldy tidak memperdulikan itu. Tapi, setelah tidak sengaja melihat adik tiri Axcel tadi, sepertinya Aldy jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Syukur deh, kalau lo sadar diri!" sahut Erika dengan sombongnya.
"Dihhh," Aldy yang bergidik ngeri, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu bersama kedua sahabatnya. Bahkan, Aldy sampai melupakan rasa penasaran yang tadi membuat dirinya berdebat dengan Axcel dan Revan.
Setelah tertekan ketika menyaksikan perdebatan panjang itu, Akhirnya Adnessa bisa bernafas lega. Walaupun dirinya merasa sedikit kesal dengan gadis yang berusaha untuk mencari perhatian dengan kakak tirinya.
"Haishhhh, dasar cowok brengsek," umpat Adnessa kesal, melihat Axcel kembali masuk kedalam tempat itu.
Tiba-tiba saja Adnessa teringat akan sesuatu, dengan panik gadis itu mencari cermin, "ASTAGA, Bibir ku?" Adnessa terkejut, melihat bibirnya yang sedikit bengkak akibat kebrutalan Axcel tadi.
Adnessa melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dengan perasaan cemas Adnessa buru-buru melajukan mobilnya, "Aishhhh, apa yang akan aku katakan nanti? Semoga saja mama dan papa belum pulang."
***
"Lo, gak jadi ikut balap?" tanya Revan.
Axcel menggeleng dan justru memilih untuk pergi ke bar, "Next time aja, bro."
"Tumben, biasanya lo orangnya kalau udah niat dari awal selalu konsisten sampai akhir. Apa jangan-jangan gara-gara gadis di parkiran tadi?" goda Revan setengah menyelidik.
"Ahh, sial," umpat Aldy yang baru saja teringat sesuatu.
"Kenapa, lo?" tanya Revan.
"Tadi kan kita ada sepakat buat lihat siapa gadis yang ada di dalam mobil?!" sahut Aldy.
"Ckkk, gara-gara cewek lo sih, dy. Kita jadi lupa," sahut Revan terkekeh, menertawakan Aldy.
"Enak aja, cewek gue," sahut Aldy tidak terima.
"Xel, yang sama lo tadi, sebenarnya siapa? Adek lo? Soalnya gue lihat tadi lo keluar dari sini sama adek lo," sahut Revan.
Uhuk uhukk uhukkk.
'Sial, gimana gue jelasinnya?' pertanyaan Revan berhasil membuat Axcel panik bahkan sampai tersedak.
Melihat respon Axcel, Revan dan Aldy pun menjadi sedikit curiga. Apa mungkin tebakan kita selama ini memang benar?
"Nggak. Tadi gue cuma antar Adnessa dari depan, soalnya ada cowoknya yang jemput," bohong Axcel. Andai saja realitanya tadi seperti yang dia katakan, pasti Axcel juga tidak akan semudah itu menyerahkan Adnessa kepada pria lain, walaupun itu adalah kekasih Adnessa.
"APA?!" sahut Revan dan Aldy bersamaan.
"Jadi, adek lo sudah punya cowok?" tanya Aldy penasaran.
"Hummm," singkat Axcel seraya mengangguk.
"Astaga, baru saja gue mau minta tolong ke lo, buat kenalin ke adek lo itu. Ternyata malah sudah punya cowok?!" ucap Revan seraya memegang dadanya, seolah tengah sakit hati.
"Kenalin apanya? Gue nggak bakal ngerestuin kalian," sahut Revan.
"Pffftttttt, mampus," sahut Aldy menertawakan, padahal dirinya sendiri juga kecewa.
"Sudah, ah. Gue mau pulang," ucap Revan.
"Tumben. Kenapa, lo?" tanya Aldy.
"Besok gue ada kelas ngejar pagi!"
"Kirain gara-gara nggak dapat restu dari Axcel," ledek Aldy.
Revan tersenyum, "Itu sih, bisa kita bicarakan lagi, ya, bro!" sahut Revan seraya menepuk pelan pundak sahabatnya, Axcel.
"Apaan, lo? Enggak," sahut Axcel membuat Revan semakin di tertawakan oleh Aldy.
"Ckkkk, yaudahlah gue cabut dulu!" sahut Revan.
"Ayang mau kemana?"
Baru saja Revan berdiri, sudah tiba-tiba saja seorang gadis yang menurut revan sangat menjengkelkan itu menghampirinya, "Sial."
"Pfffttttt. Udah, lo sama Devita aja! Emang paling top kalau lo sama dia. Jadi, Adnessa buat gue aja!" sahut Aldy.
Apa-apaan mereka? Axcel tidak habis fikir kenapa dua sahabatnya bisa menyukai adik tirinya.
"Terimakasih, Aldy. BTW, Siapa itu Adnessa?" tanya Erika.
"Gadis yang lo katain saat di area kolam tadi."
"Ohhh, jalang itu?" sahut Erika.
"Hmmm, cari masalah," gumam Revan dengan tatapan tidak suka ke arah Erika.
"Siapa yang kamu bilang jalang, hmm?" tentu saja Axcel tidak terima mendengar nama Adnessa di jelekkan seperti itu.
***
'Akhh, sialan?!' dengan mata terpejam, Adnessa memukul pelan kepalanya, ketika bayangan kejadian semalam melintas di otaknya. Apa lagi, bayangan wajah Axelio yang sangat menggoda saat itu terus menghantuinya, membuat Adnessa benar-benar tidak nyaman tinggal di kediaman Hansel."Setan bukan, tapi gak ada capeknya, apa? gentayangin gue mulu," keluh Adnessa. Ternyata, sejak kejadian semalam, Adnessa tidak bisa beristirahat dengan tenang. Bahkan, hampir semalaman gadis itu tidak tidur. Untuk mengusir bayangan yang menganggu itu, Adnessa memutuskan untuk berolahraga, ya, walaupun jam menunjukkan masih sangat pagi, bahkan semburat cahaya matahari pun belum muncul."Mau kemana kamu?" "Astaga?!" baru saja Adnessa keluar dari pintu kamarnya, sudah di kejutkan dengan suara berat Axcel.Dengan tatapan kesal dan bibir cemberut, Adnessa menatap ke arah Axcel yang tengah bersandar di dinding, tepat di sebelah pintu kamarnya. Apa dia baru saja pulang? Melihat Axcel masih mengenakan baju yang sama
Di tengah kesibukannya. Pagi ini, Axcel memang sengaja meluangkan waktunya untuk mengantar Adnessa."Ngapain masih disana?" tanya Adnessa melihat mobil Axcel yang tidak segera pergi."Suka-suka saya, dong! saya bangun rumah di sini pun tidak akan ada yang berani melarang," sahut Axcel dengan wajah congkaknya."Sombong sekali," gerutu Adnessa yang memilih meninggalkan tempat itu, dan enggan meladeni ucapan Axcel yang pasti nantinya hanya akan membuatnya kesal."Sa?!" panggil Axcel."Jangan nengok, jangan berhenti!!" gumam Adnessa memperingatkan dirinya sendiri dan semakin mempercepat langkahnya."Adnessa sayang. Jangan telat makan dan jaga diri baik-baik, ya. Kalau ada yang gangguin nanti, bilang saja sudah punya saya!" teriak Axcell, membuat Adnessa yang mendengarnya merasa malu."Dasar gila, apa dia tidak malu mengatakan hal seperti itu?" entah itu hanya sebuah candaan atau bagaimana. Namun, menurut Adnessa, kalimat seperti tadi tidak seharusnya di ucapkan sembarangan seperti ini. Kar
"Mahasiswi baru? Silahkan perkenalkan dirimu!" Sebenarnya, tidak bertanya pun Revan sudah tahu jika Adnessa adalah mahasiswi baru disini. Dan hal ini hanyalah alasan untuknya agar memiliki kesempatan untuk mendekati Adnessa."Baik, pak!" seketika, Adnessa dapat bernafas dengan lega."Pak Revan, saya tidak sekalian bapak suruh untuk maju ke depan?" tanya Laluna.Revan menaikkan sebelah alisnya, ia sudah hafal sekali dengan sifat mahasiswinya itu yang sering menggodanya, "Kamu mau gantikan saya mengajar disini? Kalau memang begitu, saya persilahkan!""Boro-boro, kalau beneran gue yang ngajar, mungkin generasi gen z akan semakin berantakkan," gumam Laluna seraya menelan salivanya dengan kasar. "Pfffttttttt. Katanya dengan senang hati, pak!" sahut Fransisca dengan lantang, seraya menertawai sahabatnya."ya ampun, Sis. Apa-apaan sih, Lo?" keluh Laluna yag membuatnya mendapat sorakan dari teman yang lain.Sebenarnya, hal seperti ini sudah hal yang biasa untuk Revan. Karena di kampus ini,
Adnessa yang baru saja membuka pintu kamarnya, heran melihat keberadaan Axcel dan Revan berdiri di depan kamarnya, "Kalian, ngapain di sini?"Revan dan Axcel memang bersahabat, tidak heran jika melihat dosen muda itu berada di kediaman Hansel. Tapi, melihat dua pria ini berdiri di depan pintu kamarnya dengan nafas yang naik turun, membuat Adnessa bertanya-tanya."Saya? Saya mengkhawatirkan kamu," sahut Revan to the poin.Adnessa semakin binggung, "Hah? Apa anda salah bicara, Pak?"Maksudnya, dirinya tidak sepenting itu kenapa seorang dosen seperti Revan bisa mengkhawatirkannya?! Apa aku membuat masalah? Adnessa mencoba untuk mengingat apa yang ia lakukan, yang mungkin membuat masalah tanpa ia sadari.Melihat pakaian yang di kenakan Adnessa sedikit terbuka, Axcel segera melepaskan jas yang ia kenakan untuk Adnessa.'Astaga. Malu sekali,' batin Adnessa yang baru saja menyadari pakaiannya."Maksud saya, tadi Axcel datang ke kampus untuk menjemput kamu, dan saya teringat jika kamu sudah pu
Deg. Adnessa terdiam, mengira jika kalimat waktu itu hanyalah sebuah lelucon dan Axcel telah melupakannya. Kenyataannya, pria itu Justru menanyakan jawaban tentang pengakuannya pagi tadi."Saya menyukai kamu!" jelas Axcel.Dalam konteks apa? Adnessa tidak ingin terlalu percaya diri, karena tidak semua kata menyukai itu bisa di artikan dalam bentuk pasangan, bisa saja itu hanya sekedar suka layaknya seorang kakak kepada adiknya. Lagi pula, selamanya mereka akan menjadi saudara. Andai kata, suatu saat nanti Axel benar-benar memiliki perasaan kepadanya, Adnessa berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menyukai pria di depannya ini."Aku juga menyukai mu, karena kita adalah saudara!" Adnessa tersenyum, menatap sekilas wajah Axcel. Saudara? Kebahagiaan di wajah Axcel perlahan meredup, "Apa hanya sebatas itu?""Maksudnya?""Saya menyukai kamu lebih dari perasaan seorang kakak kepada saudari perempuanya. Bagaimana dengan kamu? Apakah perasaan kamu hanya sebatas itu?" tanya Axcel penuh
"Ness, sedang apa kamu?" tanya Margaretha melihat wajah gugup putrinya. Margaretha yang penasaran, akhirnya menghampiri Adnessa yang terdiam di depan pintu kamar mandi. "Ahh, tidak, Ma. Mama kapan pulang?" tanya Adnessa yang sengaja mengalihkan pembicaraan."Mama, baru saja pulang. Beneran kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Margaretha curiga. Walaupu mereka jarang memiliki waktu bersama, tapi, yang namanya ibu pasti sangat mengenali anaknya.Adnessa tersenyum, sebenarnya sangat tidak nyaman berada di posisi sekarang. Tapi, tidak mungkin juga ia mengatakan yang sejujurnya, 'Yang ada di coret dari kartu keluarga.'"Mama memang terlalu sibuk dan jarang ada waktu untuk kamu. Tapi, kalau kamu sedang ada masalah, cerita sama mama!" Adnessa tersenyum, "Adnessa tidak ada masalah, kok, ma!"Margaretha mengangguk, firasat seorang ibu tidak akan pernah salah. Tapi, biar bagaimana pun ia tidak bisa memaksa Adnessa, dan memilih untuk menunggu kapan gadis itu siap untuk bercerita, "Ya sudah, kalau
"Maaf, tuan, menganggu waktunya. Ini ada den Revan datang katanya ada perlu dengan tuan muda!" Ketika suasana sedikit menegang, tiba-tiba seorang pelayan di kediaman itu datang, memberi tahu kedatangan Revan.Jhonatan mengangguk, mempersilahkan sahabat putranya itu untuk bergabung, sarapan bersama."Baik, tuan.""Selamat pagi om, tante!" sapa Revan yang baru saja datang."Pagiii. Silahkan duduk, Van. mari kita sarapan bersama!" sahut Jhonatan menyambut kedatangan Revan."Iya, nak Revan. Jangan sungkan-sungkan!" timpal Margaretha."Ahhh, jadi merepotkan Om dan tante," sahut Revan terkekeh, dengan senang hati bergabung di meja makan."Bagaimana kabar Ayah kamu, sehat?" tanya Jhonatan. Tidak hanya Axcel yang bersahabat dengan Revan, ternyata Jhonatan dan Ruan, ayah kandung Revan merupakan kawan lama. Tidak heran jika mereka terlihat seperti saudara."Alhamdhulillah sehat, om. Kalau om? Emmm, sepertinya saya tidak perlu bertanya, sejak kedatangan tante Margaretha seharusnya Om Jhonatan se
"Beraninya bersikap tidak sopan disini!" ucap Axcel, suaranya meninggi. menghempas kasar tangan Geovan yang menyentuh bahu Adnessa. "Kamu tidak apa-apa, Ness?!" tanya Revan khawatir. Adnessa menggeleng, dengan wajah tertekan gadis itu bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. "Woahhh, pantas saja kamu memblokir semua kontakku. Ternyata, kamu sudah mendapat mainan baru?!" Geovan bertepuk tangan, terang-terangan menyindir Adnessa. Sedikit pun Adnessa tidak tersulut emosi. Dengan santai gadis itu bersedekap dada, tersenyum sinis kearah Geovan, "Heh, lucu sekali." "Memang, wanita murahan seperti kamu itu tidak bisa hidup tanpa laki-laki. Sebenarnya, seberapa kesepian kamu disini hingga bermain dengan dua pria sekaligus, hmmm?!" ucap Geovan yang semakin keterlaluan, membuat Adnessa tidak bisa menahan diri lagi.Revan yang mendengar Adnessa di rendahkan di depan mata kepalanya, tentu saja tidak terima. Pria itu hampir saja memukul Giovan, namun, ia urungkan ketika Adnessa sudah lebih dulu
Akhirnya Axcel melepaskan cekikannya di leher Erika, setelah gadis itu mengatakan sesuatu yang kembali membuatnya bimbang. Kata-kata Erika tadi seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya, membuatnya kehilangan kendali atas amarahnya."Uhuk uhuk uhukkkk," Erika memegang lehernya yang terasa sakit, bekas cekikan Axcel membekas merah di sana. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin. Matanya menatap Axcel dengan campuran rasa takut dan kemenangan.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa yang bermain-main dengannya.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarny
Apa aku tidak salah dengar?' Adnessa menatap Revan dengan mata berkaca-kaca, hatinya sedikit terenyuh dengan ketulusan Revan. Ia tidak menyangka Revan akan mengatakan hal itu di depannya, mempertaruhkan persahabatan yang telah lama terjalin demi dirinya, demi melindunginya. Sedangkan selama ini, dirinya seolah terus mempermainkan perasaan Revan yang selalu berkorban untuknya.Axcel terdiam, rahangnya mengeras. Ia merasa terpojok dan tidak berdaya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasa Revan benar-benar serius dengan ucapannya."Lo tidak bisa melakukan ini, Van," ucap Axcel dengan suara lirih, berusaha meyakinkan Revan. "Adnessa adalah milik gue.""Milik lo?" Revan tertawa sinis. "Sejak kapan Adnessa menjadi milik lo? Lo bahkan tidak bisa menjaganya. Lo hanya membuatnya menderita," ucap Revan yang tidak bisa lagi menahan kekesalan dan kekecewaannya, sia-sia dirinya menahan perasaan selama ini, membiarkan Adnessa terus bersama Axcel. Namun, Axcel justru menyia-nyiakannya, tida
Shhhh," desis Axcel, merasakan denyutan tajam yang menghantam kepalanya. Ia mengerjap, kelopak matanya terasa berat, dan pandangannya kabur. Ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, sesuatu yang hangat dan lembut.Axcel tersentak, matanya melebar saat melihat siapa yang tidur di sampingnya, menindih tubuhnya dengan selimut yang melorot. Erika. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan bibirnya sedikit bengkak. Membuat Erika yang tengah terlelap di sampingnya ikut tersentak dan terbangun."Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Axcel dengan suara serak, tenggorokannya terasa kering. Penampilannya sangat berantakan, kemejanya kusut, dan matanya merah menatap Erika dengan tatapan dingin dan penuh pertanyaan.Erika menarik selimut yang sedikit melorot, membenarkannya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sebelum ia mengangkat wajahnya, menatap mata Axcel dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Axcel meremang, "Kamu jahat sekali, Axcel," sahutnya, menjawab pertanyaan Axcel dengan nada le
Plakk.Revan menepuk pelan uluran tangan sahabatnya ke arah Adnessa, "Apa-apaan syarat seperti itu?" ucapnya sedikit cemburu. Ia merasa tidak suka melihat Aldynata menggoda Adnessa.Aldynata mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan Revan, seolah acuh tak acuh dengan sahabatnya itu yang hampir terbakar cemburu. Dengan sengaja, Aldynata justru kembali mengulurkan tangannya ke arah Adnessa, seolah menantang Revan."Ha-hanya berdansa saja, kan?!" tanya Adnessa terbata, sedikit ada keraguan di hatinya untuk menerima uluran tangan Aldynata. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.Revan yang melihat itu mendengus kesal. Sebelum semuanya terlambat, dengan cepat Revan menerima uluran tangan Aldynata yang sebenarnya pria itu tunjukkan untuk Adnessa. Ia tidak ingin Adnessa berdansa dengan Aldynata.Adnessa dan Aldynata seketika menatap aneh ke arah Revan. Mereka berdua merasa bingung dengan tindakan Revan yang tiba-tiba.Aldynata segera menarik tangannya kembali, "Gue gak suka bambu, ya, anyi
Axcel menarik tangan Erika yang ia sangka Adnessa itu ke dalam pelukannya, ia memeluknya dengan sangat erat. Ia merasa sangat merindukan Adnessa, dan ia ingin merasakan kehangatan dan kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh Adnessa.Sedangkan Erika, ia terkejut mendengar Axcel memanggil nama Adnessa. Ia merasa sangat marah dan cemburu. Ia tidak menyangka Axcel akan memikirkan Adnessa di saat seperti ini."Aku di sini, Xel," ucap Erika dengan suara lembut, berusaha menenangkan Axcel. Ia ingin Axcel melihatnya, bukan Adnessa. Ia ingin Axcel melupakan Adnessa dan mencintainya.Axcel menggelengkan kepalanya, "Bukan kamu, Ness," ucapnya dengan suara serak. "Aku merindukanmu." Ia memeluk Erika semakin erat, berharap ia bisa merasakan kehadiran Adnessa.Erika mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membara di dadanya. Ia merasa sangat terhina dan direndahkan. Ia tidak menyangka Axcel akan begitu mencintai Adnessa, meskipun mereka sudah berpisah."Axcel, aku di sini," ucap Erika lagi, be
Adnessa melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah, melihat Axcel berdiri di depannya. Perasaannya seketika berubah menjadi campur aduk. Ia menatap was-was ke sekeliling Axcel, mencari seseorang yang mungkin saja ikut hadir bersamanya. Dirinya benar-benar sudah tidak ingin ikut terlibat dalam masalah Axcel dan Erika lagi."Ada apa?" tanya Axcel, melihat Adnessa menatap aneh ke arahnya. Axcel yang merasa khawatir, spontan menyentuh lengan Adnessa, mencoba untuk mengikis jarak dan dinding penghalang yang hadir di antara mereka setelah malam pertunangan itu. Ia merasa Adnessa semakin menjaga jarak dengannya.Merasakan sentuhan Axcel, Adnessa segera menarik tangannya membuat Axcel tersenyum miring dengan tatapan mata yang ikut berubah, sorot mata yang tadinya menyiratkan kekhawatiran seketika berubah menjadi tatapan amarah dan kekecewaan."Aku masih ada urusan," pamit Adnessa sengaja untuk menghindari Axcel, ia tidak ingin lagi membuat masalah. Ia selalu mengingatkan kepada dirinya send
Revan dan Adnessa terlihat sangat serasi, bahkan baju mereka juga terlihat senada. Baru saja mereka keluar dari mobil, sudah banyak pasang mata yang berlalu lalang di pelataran gedung itu menatap ke arah mereka, tidak sedikit juga yang memuji Adnessa dan Axcel. Revan dengan gagahnya dan auranya yang berkarisma, bersanding dengan gadis cantik dan anggun, tentu saja akan menyita perhatian banyak orang. Apalagi, selama hidupnya baru kali ini Revan membawa seorang gadis datang ke acara resmi seperti ini.Revan memberikan kode agar tangan Adnessa melingkar di lengannya. Ia ingin terlihat seperti pasangan yang serasi dan bahagia di depan semua orang. Meskipun, pada kenyataannya tidak ada hubungan lebih di antara mereka berdua, selain hubungan antara dosen dan mahasiswi."Kenapa, Pak?" tanya Adnessa yang tidak peka, ia justru menatap bingung dan heran ke arah Revan. Ia tidak mengerti apa maksud Revan dengan kode yang diberikan kepadanya."Pegang lengan saya, Ness!" ucap Revan dengan sabar, i
Revan membawa Adnessa menuju sebuah butik yang cukup terkenal di kotanya. Butik itu sangat besar dengan baju-baju mewah dan elegan yang terpajang sangat indah, membuat Adnessa takjub dengan pemandangan itu. Ia merasa seperti masuk ke dalam dunia mimpi, di mana segala sesuatu terlihat begitu sempurna dan mewah."Kenapa Anda membawa saya kemari, Pak?" tanya Adnessa dengan suara yang sedikit bergetar. Ia masih binggung dengan apa yang sedang terjadi. Revan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Adnessa. "Tentu saja untuk memilihkan gaun yang akan kamu kenakan di acara nanti malam!" Sahut Revan dengan entengnya, seolah-olah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa saja."Tidak mungkin juga kan, kita makan di sini. Ini butik, bukan restoran, Ness," lanjut Revan menggoda Adnessa, ia terkekeh pelan melihat ekspresi Adnessa yang menurutnya begitu menggemaskan. Ia suka melihat Adnessa yang terlihat bingung dan salah tingkah seperti ini.'Yang bilang ini restoran juga siapa? Orang kayak gini, k
Rencananya untuk menemui Axcel di kantor pria itu akhirnya gagal, dan Erika memutuskan untuk pulang dengan hati yang penuh amarah dan dendam. Namun, di tengah perjalanan, entah kenapa ia teringat dengan sebuah rencana yang akan membantunya untuk bersatu dengan Axcel. Rencana yang licik dan berbahaya, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain."Apa aku harus menggunakan cara itu?" gumam Erika, mempertimbangkan ide yang baru saja muncul di otaknya. Ia tahu rencana ini sangat berisiko, tapi ia sudah tidak tahan lagi dengan penolakan Axcel. Ia ingin memiliki Axcel seutuhnya, dan ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.Tiba-tiba Erika teringat dengan seseorang yang bisa membantunya mewujudkan rencana ini. Matanya berbinar dan segera ia mengambil ponselnya untuk menghubungi orang itu."Selamat siang, Nona Erika! Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" terdengar suara seorang pria dari balik panggilan itu, membuat Erika tersenyum miring. Ia sudah menemukan orang yang tepat untuk memban