Luna tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang karena kini ia berada di dalam mobil pria itu.Bian melirik sekilas, sedikit mengernyit melihat ekspresi Luna yang meringis, seperti menahan sakit."Kamu duduk di mobilku, aku akan anggap kamu menerima tawaranku," ucap Bian sambil menurunkan tatapannya, memeriksa apa yang membuat Luna meringis. Ia menajamkan penglihatannya dan melihat pergelangan tangan Luna yang memerah."Aku tidak punya pilihan," jawab Luna dingin, tanpa ekspresi.Hening. Selama perjalanan, mereka hanya terdiam, dan Arga pun tenang dalam box-nya."Beritahu aku jika kau ingin berhenti. Kapan Arga akan disusui lagi? Aku akan menghentikan mobilnya.""Aku bisa menyusuinya sambil kamu terus mengemudi," kata Luna tanpa banyak berpikir.Bian mendengus pelan. "Ya, kamu bisa menyusuinya, tapi aku tak bisa menjamin keselamatan kita jika fokusku terbelah," gumamnya, mencuri pandang untuk melihat reaksi Luna. Tapi, wanita itu justru terlihat melamun, tidak bereaksi sama sekali
Luna menarik napas dalam begitu mobil Bian sudah berhenti. Mereka sudah sampai di tujuan.Bian segera keluar, mengambil Arga bersamanya. Luna yang masih berada di dalam mobil hanya bisa mencibir.Tok. Tok.Kaca mobil diketuk, membuat Luna menoleh ke arah jendela."Kamu tidak berharap aku membukakan pintu untukmu, bukan?" "Bermimpi pun aku tak sudi." Luna dengan raut kesal segera membuka pintu mobil dan membantingnya hingga membuat Bian menaikkan sebelah alisnya. Hanya itu, lalu pria itu melangkah pergi. Tidak ada komentar apa pun membuat jiwa psikopat Luna berkobar. Ingin rasanya ia mencekik leher pria itu."Di mana kamar kami? Aku lelah."Mengabaikan perkataan Luna, Bian dengan tenang membawa Arga ke lantai dua. Luna memutar bola mata, jengah. Lantai dua, lantai yang dulu dilarang untuknya."Yang waras harus mengalah, Luna!" Luna menyemangati dirinya sendiri sembari mengelus dadanya. Sepertinya slogan itu akan menjadi pertahanan kewarasan baginya."Aku bisa mendengarmu.""Jadi, di m
Sepanjang malam Arga sangat rewel, sehingga Bian dan Luna dibuat begadang. Mungkin karena perubahan tempat membuat Arga tidak nyenyak dalam tidurnya, atau ia merindukan ranjangnya, hanya Tuhan dan bayi itu yang tahu."Apa ia sering seperti ini?" tanya Bian sembari duduk di samping Luna yang sedang menenangkan Arga sambil menyusui. Kondisi Arga yang menjerit melengking membuat mereka untuk tidak memperdebatkan siapa yang keluar dari kamar, saat sedang menyusu.Luna hanya menutupi kepala Arga juga payudaranya dengan kain tipis."Ini pertama kali," napas Luna terlihat tidak teratur, selain panik, wanita itu juga kewalahan. Tanpa bisa Bian hentikan, tangannya kini sudah mendarat di kening Luna, mengusap keringatnya. Setelahnya, ia pun berdiri mengambil air di nakas lalu membantu Luna meminumnya. Keduanya seakan tidak sadar dengan perhatian intim yang mereka tunjukkan. Bian melakukannya secara naluri, begitu Luna menerimanya karena ia butuh itu."Apakah rumah ini membuat kalian tidak nyama
"Kamu tidak berangkat bekerja?"Luna bertanya sambil merapikan tempat tidur mereka, sedangkan Bian baru keluar dari toilet dengan pakaian santainya, tidak dengan pakaian formal yang biasa ia kenakan saat bekerja."Tidak. Aku memutuskan untuk memperpanjang cutiku selama satu minggu. Kita perlu membeli perlengkapan Arga dan juga pakaian untukmu, dan kita juga perlu mencari rumah.""Harusnya tidak perlu seperti itu, aku bisa mengambil barang-barangku dan juga Arga di rumah,""Aku sudah meminta orang untuk mengurusnya."Harusnya aku tidak terkejut dengan ini. Pergerakannya lebih cepat dari ucapannya, Luna membatin."Jika tidak bekerja, apa kamu tidak khawatir perusahaanmu bangkrut?" Luna menoleh ke arah Bian yang sudah duduk dengan tenang di sofa panjang yang berada di sana sambil memainkan ponselnya, membaca laporan yang dikirimkan kepadanya."Tidak usah mengkhawatirkan hal itu. Aku sudah menyerahkannya pada tangan yang ahli.""Siapa?" Apakah asistennya masih Nathan. Tidak mungkin. Luna
Bian menatap dua makhluk yang terlihat sangat berbeda satu sama lain. Jemi dan Digo. Tapi yang menjadi pertanyaannya kenapa kedua pria itu datang ke rumahnya. Oke, mereka mungkin punya kepentingan tentang kafe milik Luna, hanya saja keberadaan Digo sedikit mengganggunya. Pria itu terlihat normal, sedap dipandang, dan Bian tidak suka itu. Ia lebih suka pria seperti Jemi yang berada di sekitar Luna. Arga sedang tertidur, dan baby sitter yang diminta juga sudah datang, jadi Bian memutuskan untuk menemani Luna. Ia juga penasaran apa tujuan kedatangan dua pria itu.Melihat Luna yang ingin duduk di kursi yang berbeda dengannya, dengan sigap Bian menarik tangannya hingga terduduk di sampingnya. Luna hendak protes, tapi tatapan penuh peringatan yang dilayangkan Bian membuatnya menelan kembali ucapan yang ingin ia layangkan."Apa kalian sudah makan?"Bian berdehem, sengaja untuk mencari perhatian Luna. Luna menoleh, dengan wajah merengut kesal. "Bisakah kamu pergi, temani Arga di atas, aku pe
"Di mana Arga?" tanya Luna begitu ia masuk ke dalam kamar mereka."Tiga puluh menit, heh? Kau membuatku menunggu tiga puluh menit. Bagaimana, apa kamu sudah melepas rindu dengan kekasihmu itu," mengabaikan pertanyaan Luna, Bian malah menyindirnya serta menekan kalimatnya di akhir.Tiga puluh menit terpanjang dalam hidupnya. Ia sudah seperti cacing kepanasan di dalam kamar, mondar-mandir tak jelas, dan sekuat tenaga menahan kakinya agar tidak menyeret Luna dari bawah sana."Kamu kenapa?" Luna berjalan melewati Bian, ia merasa gerah dan perlu mengganti bajunya. "Di mana Arga?" Luna mengulang pertanyaannya kembali."Akh!" pekiknya, begitu Bian menarik pergelangan tangannya dan mendorong tubuhnya ke dinding."Apa yang kamu lakukan!" Luna berusaha mendorong tubuh Bian, tapi tubuh pria itu tetap bergeming."Menghukummu, dan aku tidak ingin putraku menyaksikan Ayah-nya menghukum Ibu-nya, jadi sebaiknya sekarang kamu jelaskan dengan baik apa tepatnya hubunganmu dengan pria itu.""Apa yang har
"Aakah perasaanku begitu tersamarkan hingga ia tidak bisa melihatnya," Bian keluar di bawah guyuran derasnya air hujan. "Aku marah, tapi aku juga takut. Apa perasaannya sudah berubah, atau aku yang terlalu percaya diri menganggap dulu ia menyukaiku." "Satu tahun ini tidak sedikit pun aku melupakannya. Bayangannya selalu mengusikku. Hatiku selalu bertanya-tanya apa yang sedang ia lakukan? apa ia mengingatku dan bahkan aku menahan geramanku saat membayangkan ia bertemu dengan pria lain. Sisi diriku yang lain membenarkan hal itu, itu lebih baik karena jika aku menemuinya akan berbeda ceritanya. Satu tahun ini aku lebih banyak memikirkannya dibanding hal lainnya. Aku tidak tahu sampai detik ini kapan tepatnya si bodoh itu menguasai hatiku. Julian, katakanlah aku brengsek, tapi aku tidak sanggup melihatnya berpaling pada pria lain, tapi nyatanya pria bernama Digo hadir mengaku jadi kekasihnya.""Kamu masuklah dulu," kata Julian sambil memegang payung untuk dirinya sendiri."Katakan Julian
Persetan dengan semuanya. Bian tidak tahan lagi melihat godaan bibir merah jambu yang mengerucut meniup-niupkan napas hangat nan lembut di tangannya yang luka. Rasa perihnya memang menghilang, tapi sialnya rasa yang lain pun timbul akibat tiupannya. Darah yang berdesir dan hasrat yang tergoda meminta ingin disalurkan.Bian menyesali kenapa ia harus meminta Luna meniup lukanya, kini ia sedang berperang dengan hati dan logikanya, haruskah ia melumat bibir menggoda itu? Mengingat pertengkaran mereka tadi, ciuman bukanlah solusi yang baik, tapi godaannya sungguh tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia ingin mencicipinya. Sungguh sangat ingin.Di saat hati dan logikanya berperang, ternyata pergerakannya lebih cepat. Tanpa ia sadari kini bibirnya sudah menempel di bibir penuh godaan itu.Jangankan Luna, Bian juga terkejut dengan reaksinya. Mengabaikan kemungkinan Luna akan menamparnya, Bian kalah pada hasratnya. Ia mulai menggerakkan bibirnya, meski Luna tetap mengatupkan bibirnya.Oh Tuhan,