“Oh ya, nenek dengan siapa di kamar, sus?” Tanya Laila secara spontan kepada suster Enni yang berdiam diri di meja makan, meski suster itu tidak ikut duduk.
“Justru saya menunggumu,” jawab suster Enni tanpa basa-basi, suaranya pelan pertanda ia tidak ingin Nathan yang sedang menuangkan minum mendengarnya dengan jelas.
Laila tidak bergeming. Tatapannya keheranan karena ia tahu bahwa nenek sedang sendirian di kamar sekarang. Siapa yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu??
“Sebaiknya kamu segera selesaikan sarapan, terus bantu saya mengurus rutinitas pagi nenek seperti biasa.” Ujar suster Enni sambil mengaduk bubur di meja berbeda.
Laila terhenyak. Memang dia adalah perawat nenek juga, tetapi gaya bicara suster Enni seolah
Tiga hari yang lalu…“Mas, aku telat,” Namira memberitahunya saat Nathan sedang dalam perjalanan kembali ke kantor dari rumah sakit.“Telat apa? Sudah kubilang jangan sampai telat makan…” ujar Nathan dengan sedikit seringai, berharap bahwa situasi ini bukanlah yang ia takutkan.“Aku telat mens!”Begitu mendengar kepanikan dari suara Namira, Nathan melipirkan mobilnya. Mereka berbicara sebentar sembari Nathan berusaha menenangkan Namira bahwa itu hanya telat, tapi bukan berarti dia hamil.Tapi, sekarang semuanya menjadi jelas. Namira benar-benar hamil, setelah mereka bermain beberapa kali setiap kali kunjungan Nathan ke apartemennya, tidak termasuk saat menjenguknya kemar
Beberapa hari yang lalu…“Mas, aku telat mens!” Tegas Namira di telepon. Nathan mendengarnya dengan gelisah, namun ia berusaha bersikap tenang agar kekasihnya itu tidak panik.Setelah menenangkan Namira, justru dirinya yang dilanda rasa gelisah berkepanjangan. Sehingga satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah mengalihkan kegelisahannya itu kepada Laila dengan memberinya perhatian.Setidaknya itu berhasil membuat Nathan melupakan sejenak masalah hubungannya dengan wanita lain.Selain itu, Laila jadi tidak curiga kepadanya yang sempat menghilang saat ia sedang dirawat di rumah sakit minggu lalu. Nathan pikir semuanya akan berjalan dengan baik sesuai rencananya, namun ia salah.Pagi ini, nenek telah tiada
Nathan menyeringai jijik melihat kehadiran istrinya yang sudah tidak ia anggap lagi, meski ia belum mengatakan apapun sejak bertemu Laila.“Kamu mau aku bilang apa?” Ujar Nathan yang terasa lebih tinggi dibandingkan Laila di hadapannya.Laila merasakan dirinya menciut dan hanya bisa mencicit seperti tikus yang tidak terdengar jelas suaranya. Sadar ia tidak memiliki posisi apapun di keluarga ini, apalagi sejak nenek tiada maka tidak ada lagi yang membelanya.“Pa, aku ingin menyudahi ini.” Lanjut Nathan tanpa banyak basa-basi. “Sejak awal aku tidak menginginkan ini. Aku akan mengurus semuanya, termasuk menjaga ini dari pemberitaan media.”Suasana senyap. Ketegangan merambat ke sekujur tubuh Laila, lambungnya langsung terasa seperti
“Hoeekk! Hah, hah…”Laila mengelap pinggiran bibirnya yang basah setelah muntah entah sudah berapa kali hari ini. Ibu sudah mondar-mandir mengurusnya sambil menyuruh untuk segera ke dokter.“Yah…” jawab Laila lemas. “Nanti sore, bu.. Aku sudah hubungin dokter Reza, katanya beliau jadwalnya nanti sore.”Ibu mengangguk saja, meminta dia untuk kembali berbaring. Wajah Laila pucat sejak tadi pagi, selang beberapa hari setelah perceraiannya resmi diketuk di Pengadilan Agama tanpa kehadiran Nathan.Nathan sibuk, tidak ada yang bisa mendebatnya apalagi memaksanya untuk hadir.Laila, yang masih menyimpan sedikit rindu untuk sekedar melihat wajahnya-pun pupus harapan, dan pulang dengan
“Benarkah itu, ma?!” Bapak Adiwijaya yang sedang menyeruput kopi di ruang makan yang tenang mendadak menyembur dari mulutnya.Seorang staf dengan sigap menyodorkan sapu tangan saat ibu Kusuma, istrinya, menghela nafas dengan berat namun pasrah.“Ya, sebenarnya…” mama dari Nathan itu tampang menimbang-nimbang sambil melanjutkan bicara, “aku udah tahu soal hubungan mereka sejak lama, bahkan sebelum Nathan menikah dengan Laila.”Mendengar nama mantan menantu mereka disebutkan, entah kenapa ada rasa tidak nyaman yang menjalar di tengkuk pak Adiwijaya. Sudah saatnya mereka melepaskan nama itu dari keluarga ini, karena Laila sendiri mengambil sikap dalam perceraiannya.Laila tidak membantah atau memohon kepada Nathan, melainkan meneri
“Kamu gak nawarin aku makan?”Pertanyaan penuh kekesalan itu terlontar dari Nathan setibanya di apartemen Namira, sebidang bagian di lantai tujuh yang merupakan pemberiannya.“Apa sih, mas?” Namira yang sedang leyeh-leyeh merasa terusik. Baru kali ini dia mulai terusik atas kehadiran kekasihnya itu, yang padahal dulu ingin dia rebut waktunya sepenuhnya.“Kamu sendiri emang gak lapar?” Tanya Nathan lagi, kali ini lebih lembut. Dia duduk dengan posisi lelah, memiringkan kepala ke arah Namira yang bahkan enggan menatapnya tanpa alasan.“Nggak,” Namira menjawab sambil mengalihkan pandangannya lebih jauh.Namun, bagi Nathan itu adalah tuntutan wanita hamil yang minta dime
Lima belas tahun yang lalu. “Aku tidak pernah menyukaimu, Laila! Tidak sedikitpun!” Teriakan seorang anak laki-laki di lorong sekolah itu menggema begitu keras sampai-sampai membuat Laila malu dan hampir menangis. Demikian pula hari ini. Laila mencengkram selimutnya seolah hanya itu pegangan terakhir dalam hidupnya di depan Nathan yang semakin mendekat. Blam. Pintu telah ditutup. Ibu terbangun dan terkejut sambil duduk, kemudian terperangah ke arah Nathan dan berganti ke arah Laila. “Mas Nathan..?” Bisiknya dengan nafas tersendat, ada rasa marah dan juga kecewa di hatinya.
“Saya gak nyangka ketemu kamu, Laila.” Ujar dokter Reza setibanya mereka di stasiun kota lain, lalu turun bersama.Laila menatap sepatunya saat mereka berjalan bersama-sama sambil menarik koper masing-masing. Dokter Reza hendak membantunya, namun Laila menolak halus bahwa dia bisa sendiri sampai mereka tiba di taksi.“Jadi.. kita satu arah?” Tanya dokter Reza ingin memastikan, setelah tahu bahwa Laila akan menuju daerah yang sama dengannya.“Ya,” Laila menaikkan bahu. Sedikit enggan untuk mengakuinya karena segan untuk bersama sang dokter dalam perjalanan ke sana.“Ok. Gak apa-apa, ikut saja denganku.” Dokter Reza mengajaknya secara spontan, meski caranya tenang dan lembut. “Taksiku sudah datang.”