Share

Isabella Grey

Author: Yurisha
last update Last Updated: 2025-01-27 20:35:49

Victor menggenggam pistol yang dia rasa pelurunya hampir habis di tangannya. Tubuhnya bergetar, napasnya berat, dan darah masih mengalir dari luka di bahunya. Di depan matanya, beberapa pria bersenjata berjalan mendekat, wajah mereka penuh niat membunuh. Langkah kaki mereka menggema di gang sempit itu, seolah menghitung detik-detik terakhir hidup Victor.

“Kali ini, kau tidak akan lolos, Victor,” ucap salah satu dari mereka dengan suara dingin. “Dan siapa pun yang berani menyelamatkanmu … kami akan mencarinya. Kami akan memastikan mereka mati lebih mengenaskan daripada dirimu.”

Victor merasa dunia berputar. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya hampir ambruk. Ia mencoba mengangkat pisau di tangannya, meskipun tahu usahanya sia-sia. Tidak ada yang bisa melawan kematian ketika ia sudah sedekat ini. Tapi, entah bagaimana, semangat untuk bertahan tetap membara dalam dirinya.

Salah satu pria itu mengangkat senjatanya, mengarahkannya tepat ke kepala Victor. Jari mereka sudah di pelatuk ketika suara tembakan tiba-tiba menggema, memecah kesunyian malam.

Pria itu tersentak mundur, peluru menghantam dinding di dekatnya. Sebelum dia sempat bereaksi, lebih banyak tembakan meledak dari ujung gang. Beberapa pria bersenjata yang datang untuk membunuh Victor roboh seketika, sementara sisanya berteriak panik.

Dari balik bayangan, sekelompok pria muncul, mengenakan pakaian hitam dan membawa senjata otomatis. Wajah mereka dingin, gerakan mereka tajam dan terlatih. Mereka adalah pengawal pribadi Victor, orang-orang setia yang akhirnya berhasil menemukan pemimpin mereka.

"Dapatkan mereka semua! Jangan beri ampun!" teriak salah satu pengawal.

Pertempuran kecil meledak di gang itu. Musuh-musuh Victor mencoba melawan, tetapi mereka kalah jumlah dan kalah pengalaman. Dalam hitungan menit, suara tembakan berhenti, menyisakan tubuh-tubuh musuh yang tergeletak tak berdaya.

Salah satu pengawal, seorang pria bertubuh kekar dengan luka bekas sayatan di wajahnya, berlari mendekati Victor yang kini terduduk lemah di lantai gang. Dengan sigap, ia membantu Victor berdiri, meskipun tubuh sang pemimpin hampir tak mampu menopang beratnya sendiri.

“Kami terlambat, Master.Tapi kami tidak akan membiarkan mereka menyentuh Anda lagi,” katanya dengan nada penuh penyesalan. “Semua yang mencoba membunuh Anda … sekarang sudah dibereskan.”

Victor hanya mengangguk lemah. Napasnya masih tersengal, tubuhnya penuh luka, tetapi ancaman yang sebelumnya menghantui perlahan sirna. Namun, kata-kata musuhnya tadi masih terngiang di kepalanya. Ancaman untuk memburu orang yang menyelamatkannya.

Di tengah rasa sakit yang menyelimuti, Victor membuat janji dalam hati. Ia harus mencari tahu siapa yang telah menyelamatkan nyawanya sebelumnya. Bukan hanya untuk berterima kasih, tapi juga untuk memastikan orang itu tetap hidup. Dia tidak akan membiarkan siapa pun membayar harga atas nyawanya selain dirinya sendiri.

...

Satu minggu kemudian, di sebuah gedung tinggi yang terlihat mencolok di tengah keramaian, Victor duduk di balik meja besar di kantornya. Ruangan itu penuh dengan kemewahan, mencerminkan posisinya sebagai pemimpin mafia terbesar dan terkuat di dunia. Victor tidak hanya menguasai jaringan perdagangan ilegal, tetapi juga memiliki pengaruh besar di berbagai negara, dari pemerintahan hingga dunia bawah tanah.

Namun, di tengah kekuasaannya yang besar, ada ancaman yang terus menghantui. Malam sebelumnya, Victor diserang oleh kelompok pemberontak kecil yang ingin menghancurkan kekaisarannya. Serangan itu berhasil ia hindari dengan susah payah, tetapi luka tembak di tubuhnya menjadi pengingat bahwa bahkan raja seperti dirinya pun tidak kebal terhadap bahaya.

Victor memandangi layar laptopnya yang menampilkan foto-foto dan informasi tentang Isabella. Malam itu, setelah ia berhasil selamat dari kejaran musuhnya, ia memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki wanita yang telah menyelamatkan nyawanya. Isabella Grey, seorang perawat di rumah sakit kecil di kota itu. Tidak ada catatan kriminal, tidak ada koneksi dengan dunia gelap. Wanita itu hanyalah orang biasa yang kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Namun, sesuatu dalam diri Isabella membuat Victor terus memikirkannya. Mungkin keberaniannya, atau mungkin caranya bertindak tanpa pamrih meskipun ia tahu Victor membawa bahaya.

“Dia hanya orang biasa,” pikir Victor, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Isabella kini menjadi bagian dari hidupnya, meskipun secara tidak sengaja.

...

Isabella sedang berjalan pulang dari rumah sakit ketika ia merasakan sesuatu yang aneh. Jalanan sepi, tetapi ia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya. Ia mempercepat langkahnya, tetapi suara langkah kaki di belakangnya tetap terdengar.

“Siapa di sana?” serunya dengan suara tegas, mencoba menghilangkan rasa takut yang mulai muncul.

Dari bayangan, Victor muncul. Kali ini ia tidak lagi berlumuran darah. Ia mengenakan setelan jas hitam sempurna, dengan postur tegap dan tatapan tajam yang membuat Isabella mundur selangkah.

“Kau,” gumam Isabella, mengenali pria itu. “Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi.”

Victor tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, tetapi berhenti beberapa meter dari Isabella, memberikan ruang agar wanita itu tidak merasa terancam.

“Kau menyelamatkan hidupku,” katanya dengan suara rendah namun penuh wibawa. “Aku datang untuk mengucapkan terima kasih.”

“Kalau begitu, terima kasihmu sudah cukup. Sekarang pergilah,” jawab Isabella, mencoba mengakhiri percakapan itu.

Namun, Victor tidak bergerak. “Dengar,” katanya tegas. “Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi kau harus berhati-hati. Ada orang-orang yang ingin membunuhku, dan fakta bahwa kau terlibat denganku malam itu bisa membuatmu dalam bahaya.”

Isabella mengernyit, bingung sekaligus marah. “Aku tidak pernah meminta untuk terlibat dalam urusanmu. Kau muncul begitu saja dengan luka di tubuhmu, dan aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai perawat.”

“Aku tahu,” jawab Victor, tatapannya melembut sejenak. “Tapi aku tidak bisa mengabaikan apa yang telah kau lakukan. Musuh-musuhku akan mencari cara untuk menjatuhkanku, dan mereka tidak akan ragu untuk menyerangmu jika mereka tahu kau punya hubungan denganku, bahkan jika itu hanya kebetulan.”

Isabella terdiam. Ia ingin marah, ingin berteriak bahwa ia tidak ingin ada hubungannya dengan pria itu atau masalah-masalahnya. Tetapi ada sesuatu dalam cara Victor berbicara, cara ia menatapnya, yang membuat Isabella tahu bahwa pria ini tidak sedang berbohong.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya akhirnya.

“Tidak banyak,” jawab Victor. “Aku hanya ingin memastikan kau aman.”

Isabella tertawa kecil, penuh sarkasme. “Jadi kau muncul di sini, membawa semua masalahmu, dan sekarang kau ingin melindungiku? Bagaimana aku bisa percaya padamu?”

Victor tidak menjawab segera. Ia tahu Isabella memiliki alasan untuk tidak mempercayainya. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak akan membiarkan wanita itu terluka karena dirinya.

“Kau tidak harus mempercayaiku,” katanya pelan. “Tapi aku akan memastikan kau aman. Itu janji.”

Sebelum Isabella sempat menjawab, Victor melangkah mundur dan menghilang ke dalam bayangan malam, meninggalkan Isabella dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Wanita itu berdiri di sana, bingung dan marah, tetapi juga merasa bahwa apa yang terjadi malam itu baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Dan di tempat lain, dalam kegelapan, musuh-musuh Victor mulai merencanakan langkah berikutnya. Nama Isabella Grey kini telah masuk dalam daftar target mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kau Bisa Mati!

    Victor berdiri di balkon penthouse-nya yang menjulang tinggi, memandang kerlip lampu kota di bawah sana. Gelas kristal berisi bourbon di tangannya hanya sesekali ia sentuh, sementara pikirannya sibuk memutar ulang pertemuan singkat dengan Isabella. Wajah wanita itu, tatapan matanya, bahkan suaranya—semua terus menghantui Victor sejak malam hujan itu. Ia telah bertemu ratusan, bahkan ribuan wanita selama hidupnya. Sebagian besar mendekatinya karena kekayaan dan kekuasaannya, tetapi Isabella berbeda. Wanita itu tidak menunjukkan rasa takut, apalagi ketertarikan padanya. Dia hanya seorang perawat sederhana yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah. Namun, entah bagaimana, justru kesederhanaan dan keberaniannya yang membuat Victor tak bisa berhenti memikirkan Isabella. Di meja kerja Victor, sebuah berkas tebal tergeletak rapi. Di dalamnya terdapat informasi lengkap tentang Isabella Grey—riwayat hidupnya, latar belakang keluarganya, hingga kebiasaan sehari-hari yang diperoleh

    Last Updated : 2025-01-27
  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kenapa Mereka Mengejarku?

    Victor menggenggam tangan Isabella erat, seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan. Mereka berhasil keluar dari pintu belakang dan langsung disambut udara malam yang dingin dan menusuk. Jalanan di belakang apartemen itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya samar dari lampu jalan yang berkelap-kelip. Suara sirine terdengar di kejauhan, tetapi Victor tidak berhenti untuk menoleh. Ia terus berjalan dengan langkah cepat, memimpin Isabella menuju mobil hitam yang terparkir di ujung gang. “Masuk,” perintahnya singkat sambil membuka pintu penumpang. Isabella ragu sejenak, tetapi melihat ekspresi tegas di wajah Victor, ia tak punya pilihan selain menurut. Ketika pintu tertutup, Victor segera melompat ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. “Ke mana kita pergi?” tanya Isabella dengan suara gemetar. Victor tidak segera menjawab. Mata birunya terpaku pada jalan, ekspresinya penuh konsentrasi. Setelah beberapa saat, ia menjawab dengan nada rendah, “Tempat yang aman.” Mobil melaju men

    Last Updated : 2025-01-27
  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kau Mengawasiku?!

    Isabella duduk di dekat jendela besar di kamar yang telah menjadi tempat tinggal sementaranya selama beberapa hari terakhir. Ia memandangi taman yang luas di luar, dengan deretan pohon cemara dan rumput hijau yang tampak terlalu rapi untuk ukuran dunia nyata.Namun, bukannya merasa nyaman, perasaan terkurung mulai menghantuinya. Rumah ini terlalu sunyi, terlalu terisolasi, dan Victor terlalu tertutup. Meski pria itu selalu menjawab pertanyaannya dengan tenang, ada sesuatu dalam cara bicaranya yang membuat Isabella yakin bahwa dia tidak menceritakan semuanya.Setiap hari terasa sama. Sarapan disiapkan oleh seorang pelayan yang jarang terlihat, lalu Victor akan sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerja, meninggalkan Isabella sendirian dengan pikirannya. Tidak ada televisi di kamar, tidak ada akses ke ponsel, dan bahkan ketika ia mencoba bertanya apakah ia bisa menghubungi teman-temannya, Victor hanya berkata, “Itu terlalu berbahaya.”semakin lama, Isabella merasa seperti bayangannya send

    Last Updated : 2025-01-27
  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kotak Misterius

    Victor mengangguk perlahan, matanya tetap tertuju pada Isabella. Sementara itu, Isabella menggelengkan kepala dengan frustrasi. Ia tidak habis pikir—apa sebenarnya yang diinginkan pria ini? Mengurungnya, mengawasinya, lalu apa lagi selanjutnya?"Kau?! Apa yang kau inginkan sebenarnya, Victor? Keluarkan aku dari sini sekarang juga!" seru Isabella dengan suara penuh kemarahan.Kesabarannya telah habis. Ia tidak peduli lagi dengan alasan-alasan Victor. Wajahnya memerah, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. Namun, Victor hanya menatapnya dengan ekspresi datar, seolah-olah kemarahan Isabella tidak berarti apa-apa."Tidak ada gunanya kau marah-marah, Isabella. Lebih baik kembali ke dalam sekarang juga," ucapnya dengan nada dingin.Tatapannya semakin tajam, menciptakan suasana yang begitu menekan hingga membuat Isabella merasa diintimidasi. Ia menarik napas kasar, mencoba mengendalikan emosinya, tetapi hatinya dipenuhi kebencian. Beberapa hari terakhir di rumah ini terasa seperti si

    Last Updated : 2025-02-01
  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Pesta VVIP

    Gaun hitam mewah itu membalut tubuh Isabella dengan sempurna, memancarkan aura elegan yang tampaknya sudah dirancang dengan cermat oleh Victor. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya dengan tatapan kosong. Kristal-kristal kecil yang menghiasi gaun itu memantulkan cahaya redup dari lampu gantung di atasnya, memberikan kesan seolah-olah tubuhnya diselimuti bintang-bintang yang berkilauan. Namun, tidak ada keindahan yang bisa menghapus kegelisahan yang bersemayam di hatinya. Di sekelilingnya, beberapa pelayan sibuk menata rambut dan merapikan gaunnya, memastikan tidak ada satu helai pun yang tidak pada tempatnya. Mereka bekerja dalam diam, seakan takut membuat kesalahan sekecil apa pun di hadapan Isabella. Atau mungkin mereka takut pada Victor? Isabella mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan diri. "Apa ini tidak berlebihan?" gumamnya, matanya menatap pantulan gaun mahal itu dengan perasaan bercampur aduk. Lorenzo, yang berdiri tak jauh dari pintu, tetap mema

    Last Updated : 2025-02-02
  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Pertemuan Pertama

    Hujan turun deras malam itu, membasahi jalanan kota yang sepi. Gemuruh guntur bersahutan, mengiringi langkah seorang wanita yang berjalan tanpa tujuan. Isabella memeluk tubuhnya sendiri, menggigil dalam dingin dan putus asa. Matanya yang sembab tak mampu lagi menahan air mata yang terus mengalir. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Baru saja, dunia yang ia kenal, dunia yang penuh dengan harapan, telah runtuh dalam sekejap. Kekasihnya, seorang dokter yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati, kini tampak begitu tak berharga di matanya. Pemandangan yang paling menyakitkan dalam hidupnya—pacarnya, yang ia anggap sebagai bagian dari dirinya, sedang berada dalam pelukan seorang wanita lain, seorang teman sejawat yang selama ini ia anggap sahabat. Kepalanya terasa pening, setiap langkah yang diambilnya seakan semakin berat, seakan menuntutnya untuk berhenti dan menyerah. Namun, ia terus berjalan, entah ke mana, entah untuk apa. Semua terasa hampa. Isabella berhenti di pinggir j

    Last Updated : 2025-01-23

Latest chapter

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Pesta VVIP

    Gaun hitam mewah itu membalut tubuh Isabella dengan sempurna, memancarkan aura elegan yang tampaknya sudah dirancang dengan cermat oleh Victor. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya dengan tatapan kosong. Kristal-kristal kecil yang menghiasi gaun itu memantulkan cahaya redup dari lampu gantung di atasnya, memberikan kesan seolah-olah tubuhnya diselimuti bintang-bintang yang berkilauan. Namun, tidak ada keindahan yang bisa menghapus kegelisahan yang bersemayam di hatinya. Di sekelilingnya, beberapa pelayan sibuk menata rambut dan merapikan gaunnya, memastikan tidak ada satu helai pun yang tidak pada tempatnya. Mereka bekerja dalam diam, seakan takut membuat kesalahan sekecil apa pun di hadapan Isabella. Atau mungkin mereka takut pada Victor? Isabella mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan diri. "Apa ini tidak berlebihan?" gumamnya, matanya menatap pantulan gaun mahal itu dengan perasaan bercampur aduk. Lorenzo, yang berdiri tak jauh dari pintu, tetap mema

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kotak Misterius

    Victor mengangguk perlahan, matanya tetap tertuju pada Isabella. Sementara itu, Isabella menggelengkan kepala dengan frustrasi. Ia tidak habis pikir—apa sebenarnya yang diinginkan pria ini? Mengurungnya, mengawasinya, lalu apa lagi selanjutnya?"Kau?! Apa yang kau inginkan sebenarnya, Victor? Keluarkan aku dari sini sekarang juga!" seru Isabella dengan suara penuh kemarahan.Kesabarannya telah habis. Ia tidak peduli lagi dengan alasan-alasan Victor. Wajahnya memerah, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. Namun, Victor hanya menatapnya dengan ekspresi datar, seolah-olah kemarahan Isabella tidak berarti apa-apa."Tidak ada gunanya kau marah-marah, Isabella. Lebih baik kembali ke dalam sekarang juga," ucapnya dengan nada dingin.Tatapannya semakin tajam, menciptakan suasana yang begitu menekan hingga membuat Isabella merasa diintimidasi. Ia menarik napas kasar, mencoba mengendalikan emosinya, tetapi hatinya dipenuhi kebencian. Beberapa hari terakhir di rumah ini terasa seperti si

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kau Mengawasiku?!

    Isabella duduk di dekat jendela besar di kamar yang telah menjadi tempat tinggal sementaranya selama beberapa hari terakhir. Ia memandangi taman yang luas di luar, dengan deretan pohon cemara dan rumput hijau yang tampak terlalu rapi untuk ukuran dunia nyata.Namun, bukannya merasa nyaman, perasaan terkurung mulai menghantuinya. Rumah ini terlalu sunyi, terlalu terisolasi, dan Victor terlalu tertutup. Meski pria itu selalu menjawab pertanyaannya dengan tenang, ada sesuatu dalam cara bicaranya yang membuat Isabella yakin bahwa dia tidak menceritakan semuanya.Setiap hari terasa sama. Sarapan disiapkan oleh seorang pelayan yang jarang terlihat, lalu Victor akan sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerja, meninggalkan Isabella sendirian dengan pikirannya. Tidak ada televisi di kamar, tidak ada akses ke ponsel, dan bahkan ketika ia mencoba bertanya apakah ia bisa menghubungi teman-temannya, Victor hanya berkata, “Itu terlalu berbahaya.”semakin lama, Isabella merasa seperti bayangannya send

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kenapa Mereka Mengejarku?

    Victor menggenggam tangan Isabella erat, seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan. Mereka berhasil keluar dari pintu belakang dan langsung disambut udara malam yang dingin dan menusuk. Jalanan di belakang apartemen itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya samar dari lampu jalan yang berkelap-kelip. Suara sirine terdengar di kejauhan, tetapi Victor tidak berhenti untuk menoleh. Ia terus berjalan dengan langkah cepat, memimpin Isabella menuju mobil hitam yang terparkir di ujung gang. “Masuk,” perintahnya singkat sambil membuka pintu penumpang. Isabella ragu sejenak, tetapi melihat ekspresi tegas di wajah Victor, ia tak punya pilihan selain menurut. Ketika pintu tertutup, Victor segera melompat ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. “Ke mana kita pergi?” tanya Isabella dengan suara gemetar. Victor tidak segera menjawab. Mata birunya terpaku pada jalan, ekspresinya penuh konsentrasi. Setelah beberapa saat, ia menjawab dengan nada rendah, “Tempat yang aman.” Mobil melaju men

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Kau Bisa Mati!

    Victor berdiri di balkon penthouse-nya yang menjulang tinggi, memandang kerlip lampu kota di bawah sana. Gelas kristal berisi bourbon di tangannya hanya sesekali ia sentuh, sementara pikirannya sibuk memutar ulang pertemuan singkat dengan Isabella. Wajah wanita itu, tatapan matanya, bahkan suaranya—semua terus menghantui Victor sejak malam hujan itu. Ia telah bertemu ratusan, bahkan ribuan wanita selama hidupnya. Sebagian besar mendekatinya karena kekayaan dan kekuasaannya, tetapi Isabella berbeda. Wanita itu tidak menunjukkan rasa takut, apalagi ketertarikan padanya. Dia hanya seorang perawat sederhana yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah. Namun, entah bagaimana, justru kesederhanaan dan keberaniannya yang membuat Victor tak bisa berhenti memikirkan Isabella. Di meja kerja Victor, sebuah berkas tebal tergeletak rapi. Di dalamnya terdapat informasi lengkap tentang Isabella Grey—riwayat hidupnya, latar belakang keluarganya, hingga kebiasaan sehari-hari yang diperoleh

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Isabella Grey

    Victor menggenggam pistol yang dia rasa pelurunya hampir habis di tangannya. Tubuhnya bergetar, napasnya berat, dan darah masih mengalir dari luka di bahunya. Di depan matanya, beberapa pria bersenjata berjalan mendekat, wajah mereka penuh niat membunuh. Langkah kaki mereka menggema di gang sempit itu, seolah menghitung detik-detik terakhir hidup Victor. “Kali ini, kau tidak akan lolos, Victor,” ucap salah satu dari mereka dengan suara dingin. “Dan siapa pun yang berani menyelamatkanmu … kami akan mencarinya. Kami akan memastikan mereka mati lebih mengenaskan daripada dirimu.” Victor merasa dunia berputar. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya hampir ambruk. Ia mencoba mengangkat pisau di tangannya, meskipun tahu usahanya sia-sia. Tidak ada yang bisa melawan kematian ketika ia sudah sedekat ini. Tapi, entah bagaimana, semangat untuk bertahan tetap membara dalam dirinya. Salah satu pria itu mengangkat senjatanya, mengarahkannya tepat ke kepala Victor. Jari mereka sudah di pelatuk ketik

  • Tawanan Hati Sang Penguasa    Pertemuan Pertama

    Hujan turun deras malam itu, membasahi jalanan kota yang sepi. Gemuruh guntur bersahutan, mengiringi langkah seorang wanita yang berjalan tanpa tujuan. Isabella memeluk tubuhnya sendiri, menggigil dalam dingin dan putus asa. Matanya yang sembab tak mampu lagi menahan air mata yang terus mengalir. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Baru saja, dunia yang ia kenal, dunia yang penuh dengan harapan, telah runtuh dalam sekejap. Kekasihnya, seorang dokter yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati, kini tampak begitu tak berharga di matanya. Pemandangan yang paling menyakitkan dalam hidupnya—pacarnya, yang ia anggap sebagai bagian dari dirinya, sedang berada dalam pelukan seorang wanita lain, seorang teman sejawat yang selama ini ia anggap sahabat. Kepalanya terasa pening, setiap langkah yang diambilnya seakan semakin berat, seakan menuntutnya untuk berhenti dan menyerah. Namun, ia terus berjalan, entah ke mana, entah untuk apa. Semua terasa hampa. Isabella berhenti di pinggir j

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status