Share

Bab 559

Author: Patricia
Bukan hanya sudah menemukan solusi, mereka bahkan sudah mulai mengeksekusinya. Tentu saja, Nadine tidak akan mengatakannya langsung. Dia hanya berkata, "Kalau ada masalah, selalu ada jalan keluarnya."

"Kalau begitu ... semoga sukses." Usai bicara, Eden berbalik untuk pergi.

Namun, tiba-tiba, Nadine memanggilnya. "Eden!"

"Kadang, seseorang harus agak egois. Harus lebih banyak memikirkan dirinya sendiri. Bagaimanapun, kamu nggak bisa terus berada di bawah bayang-bayang orang lain selamanya dan nggak bisa bangkit. Benar, nggak?"

Eden tersenyum tipis. "Terima kasih sudah mengingatkan. Aku punya rencana sendiri."

....

"Apa? Nggak dapat kuncinya?" Diana mengernyit tajam, menatap Clarine dengan ekspresi kesal. "Kamu ini gimana kerjanya?"

"Nadine bilang kuncinya sudah diserahkan. Dia bahkan pakai alasan peraturan kampus. Aku bisa apa? Mau aku rebut paksa?" Nada bicaranya sudah penuh kejengkelan.

Sikap Diana yang menyalahkannya, benar-benar membuatnya muak. Memangnya ini salahnya? Dari awal, me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 560

    "Apa-apaan?!"....Begitu Clarine pulang ke rumah dan baru saja masuk pintu .... "Bibi Julia! Cepat ambilkan aku kantong es!"Rebecca menceletuk, "Kenapa tiba-tiba butuh kantong es? Cuaca saja sudah cukup dingin ....""Ibu, kamu tahu nggak? Aku dipukul orang!""Apa?!" Rebecca langsung terperanjat mendengarnya. "Siapa? Siapa yang berani mukul kamu?!"Clarine mencibir. "Nadine.""Besar sekali nyalinya? Berani-beraninya dia mukul kamu?!""Aku cuma negur dia sedikit, tapi dia langsung menamparku ... huhu ... di depan banyak orang lagi. Lihat, pipiku sampai bengkak!"Rebecca segera menyentuh pipinya."Shh! Aduh ....""Apa-apaan si Nadine itu?! Ponsel, mana ponselku?!" Rebecca berbalik mencari ponselnya sambil menggerutu, "Tunggu saja ... pasti akan kumaki dia habis-habisan ...."Pada saat ini, seorang pembantu maju ke arahnya. "Nyonya, ini ponsel Anda."Rebecca menyambar ponsel itu dan menelepon Nadine."Jalang sialan! Berani-beraninya kamu ...."Ugh!"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang s

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 561

    Menunggunya? Untuk apa?"Ada masalah penting?" tanya Nadine dengan ekspresi yang berubah."Ada. Mungkin bagimu ... termasuk kabar baik?""Masalah apa sebenarnya?" Kedua mata Nadine berbinar. Semakin Arnold bersikap misterius, Nadine semakin penasaran."Begini ...."Kemarin, Arnold pergi ke Universitas Bisnis di sebelah untuk bertemu teman lamanya. Sekaligus, dia juga menyampaikan sebuah "permintaan kecil"."Pak Moesda sudah setuju untuk mengosongkan satu laboratorium biologi untuk kalian. Aku sudah lihat tempatnya, semua peralatan yang kalian butuhkan ada di sana, termasuk CPRT.""Serius?! Luar biasa!" Nadine hampir melompat kegirangan. Ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa.Baru saja dia kebingungan mencari tempat untuk laboratorium baru, ternyata Arnold sudah menyiapkannya lebih dulu!Ini rasanya seperti .... Seorang anak malang yang baru saja diusir dari rumah, tiba-tiba menemukan tempat berlindung. Bukan hanya itu, tempatnya juga sudah siap untuk ditinggali!Tanpa sadar,

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 562

    Saat Nadine masih ragu bagaimana cara memasangkan celemek, Arnold tiba-tiba menundukkan kepala. "Begini cukup?""Mungkin agak lebih rendah sedikit lagi."Arnold membungkuk sedikit lebih jauh. "Sekarang?""Ya, sudah pas."Nadine segera mengaitkan tali celemek di lehernya.Arnold kembali tegak, menunggu beberapa detik, lalu tersenyum kecil dan berkata, "Mungkin bagian pinggangnya juga perlu diikat?""Oh! Benar!" Nadine baru sadar, buru-buru mengambil dua tali celemek dan mengikatkannya di punggung Arnold."Uhuk uhuk ...." Arnold tiba-tiba batuk pelan."Ada apa?""Sedikit terlalu kencang ....""Astaga! Maaf! Aku longgarkan lagi .... Sekarang sudah pas?""Sudah."Setelah selesai merapikan dapur, mereka berdua pindah ke ruang tamu. Nadine memotong beberapa buah dan meletakkannya di meja. "Pak Arnold, makan buah dulu.""Terima kasih."Sambil mengambil sepotong apel, Nadine duduk di ujung lain sofa. "Aku dengar CBS bakal menyiarkan konferensi akademik antara Universitas Brata dan Caltech?"Ar

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 563

    "Nggak usah!" Nadine langsung duduk di atas karpet dan menyilangkan kakinya. "Begini saja udah cukup."Saat tubuhnya menyentuh permukaan karpet, dia langsung tahu ini bukan barang murah. Nadine bahkan merasa tidak pantas duduk di atasnya. Di belakangnya bahkan bisa langsung bersandar di ranjang.Seandainya saja ....Kalau saja ada camilan dan minuman, pasti lebih sempurna.Saat sedang memikirkan hal itu, Arnold muncul kembali dengan membawa setumpuk kacang, keripik, dan dua botol jus lemon dari luar.Nadine hampir terperanjat. Arnold benar-benar mengerti dirinya!Arnold meletakkan camilan di antara mereka, lalu ikut duduk di atas karpet. Dia menambahkan bantal di belakang punggung mereka berdua, supaya lebih nyaman.Begitulah, mereka menonton sambil makan, mengobrol santai, dan sesekali berkomentar tentang acara.Sampai akhirnya ....Siaran langsung berakhir.Begitu melihat jam, ternyata sudah hampir pukul sebelas malam. Nadine terkejut. Dia buru-buru bangkit dan pamit pulang.Arnold m

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 564

    Ini tidak sesuai sama hukum genetika, kan?!Melihat cara Nadine mengajukan pertanyaan tajam, Aditya tiba-tiba melihat bayangan ayahnya, Jonny. Entah bagaimana kehidupan Nadine selama ini di ibu kota sendirian. Anak yang hidupnya selalu mulus tidak akan memiliki keberanian untuk membangun laboratorium dengan uangnya sendiri.Anak biasa tidak akan memiliki koneksi dan kemampuan untuk mendapatkan sebidang tanah sebesar itu dan bisa lolos perizinan tanpa hambatan.Adiknya ini penuh dengan misteri. Namun, Aditya memilih untuk tidak bertanya. Mungkin, tidak mengungkitnya adalah bentuk penghiburan terbaik yang bisa dia berikan.Ekspresi Aditya terlihat serius saat berkata, "Ya, progress proyek ini lebih lambat dari yang aku perkirakan.""Apa penyebabnya? Sudah kamu temukan?"Aditya tersenyum pahit. "Kurangnya tenaga kerja."Nadine sedikit terkejut. Dia mengira ada masalah besar dalam perencanaan atau anggaran, tetapi ternyata cuma soal tenaga kerja?Perusahaan Aditya memang sudah meninggalka

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 565

    Stendy mengerutkan alis dan memotongnya dengan tidak sabaran, "Ikut perintahku atau kamu?" Pria yang tadi protes langsung mengecilkan suara sambil mundur teratur dan tidak berani membantah lagi.Sementara itu, suara yang tidak asing itu membuat Nadine menoleh ke arah sana tanpa sadar. Tepat pada saat yang sama, Aditya memanggilnya, "Nadine, ayo duduk sini!"Stendy seketika menoleh.Mata mereka bertemu dan keduanya tertegun sesaat. Namun, Stendy lebih dulu bereaksi. Dia tersenyum, lalu bangkit dan langsung berjalan mendekat. Tatapannya penuh kejutan dan kegembiraan."Kenapa kamu di sini?""Lihat proyek.""Proyek apa yang kamu lihat?"Nadine menyipitkan mata. "Memangnya aku nggak boleh lihat proyek?""Bukan begitu .... Ini bukan bidangmu, juga bukan sumber penghasilanmu. Apa yang mau kamu lihat? Cuma iseng atau ada alasan lain?"Nadine berdeham pelan. "Aku punya sebidang tanah di sini dan mau bangun sesuatu. Kenapa? Nggak boleh?""Di sini? Ada tanah?"Stendy tiba-tiba mengingat sesuatu.

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 566

    Nadine membiarkannya menariknya begitu saja? Bahkan, dia mengangguk patuh dan mengiakan? Dia sama sekali tidak menghindar?Stendy melihatnya dengan mata memerah. Sebenarnya siapa pria itu? Biasanya, kalau dirinya tidak sengaja menyentuh Nadine, Nadine pasti langsung mundur. Namun, kenapa orang ini ....Jelas, tadi saat Aditya mengobrol dengan pemilik restoran, Stendy sama sekali tidak mendengar apa pun!"Pak ... Pak Stendy?" Manajer proyek yang menemani Stendy dalam inspeksi sudah memanggil dua kali, tetapi tidak mendapat jawaban. Terpaksa, dia menaikkan volumenya dan memanggil lagi."Ada apa?" Tatapan dingin dilontarkan ke arahnya, membuat manajer proyek itu langsung menegang dan sesak napas."Pon ... ponselmu bunyi." Manajer itu menelan ludah dengan gugup, lalu mengusap keringat di dahi.Stendy mengeluarkan ponselnya. Tanpa ekspresi, dia langsung menolak panggilan tersebut. Manajer proyek itu langsung merasa semakin ketakutan dan panik.....Di sisi lain, dua bersaudara itu sudah mul

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 567

    "Nad, kalian saling kenal?" tanya Aditya dengan nada datar.Nadine mengangguk. "Kenal."Stendy langsung menyambung, "Tentu saja!"Mereka berdua bicara di saat yang bersamaan.Aditya mengangkat alis, mengamati pria di depannya dari atas ke bawah. Semakin dilihat, semakin dia tidak suka.Namun, Stendy sama sekali tidak takut dilihat. Dengan santai, dia menarik kursi di sebelah Nadine dan duduk 'Lihat baik-baik, lihat seberapa kuat pesaingmu. Kalau tahu diri, cepat mundur.'Aditya tersenyum sinis dalam hati. Pria berambut pirang ini memang sombong!"Nad, nggak dikenalin dulu?" Aditya mengangkat dagunya ke arah Stendy. "Pria ini ... kelihatannya bukan tipe yang bakal kamu kenal?"Apa maksudnya? Memangnya dia kelihatan seperti apa? Begitu mendengarnya, Stendy langsung paham bahwa Aditya sedang menyindirnya.Yang lebih membuatnya kesal adalah Nadine tampak sangat memanjakan pria ini. Dia benar-benar berniat memperkenalkan Stendy."Iya, Nadine, orang ini juga kelihatannya bukan tipe yang baka

Latest chapter

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 661

    Saat ini, Nadine tertarik pada sesuatu di rak lain, sama sekali tidak menyadari bahwa dua pria di sampingnya sedang berkonflik sengit.Setelah Arnold selesai membayar, dia menoleh dan melihat Nadine sedang menatap sebuah kue fondan di dalam etalase. Lima tingkat, setiap tingkat menampilkan figur karakter yang unik."Bagus?""Bagus." Nadine mengangguk. "Dibuat dengan sangat detail."Dia menunjuk ke tingkat kedua. "Pak, menurutmu orang yang berkacamata dan mengerutkan dahi ini mirip kamu nggak?"Arnold menatapnya sejenak, lalu menyahut dengan serius, "Nggak mirip. Aku 'kan nggak sering mengerutkan dahi."Nadine berujar, "Tapi, bisa jadi kamu sering mengerutkan dahi tanpa sadar? Misalnya, sekarang ini."Arnold langsung termangu, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. Dia mendadak merasa malu dan canggung."Hahaha ...." Nadine tidak bisa menahan tawa. "Kamu lucu juga."Saat mereka bertiga baru saja keluar dari toko kue, ponsel Arnold berbunyi."Halo, Ibu?""Arnold, pulang ke

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 660

    Selesai makan, Inez pergi membayar tagihan.Keduanya hampir tidak menyentuh makanan mereka, masih tersisa cukup banyak di meja.Kedua ibu ini tenggelam dalam pikirannya masing-masing, dengan kekhawatiran yang berbeda. Sementara itu, Stendy dan Arnold bisa dibilang sama-sama mendapatkan hasil yang memuaskan.Yang satu membeli jas, yang satu membeli sepatu kulit. Semuanya berjalan lancar.Stendy menawarkan, "Di depan ada jual teh susu, mau beli?"Arnold juga menawarkan, "Toko kue di sebelah situ cukup terkenal ...."Keduanya berbicara hampir bersamaan. Kemudian, mereka saling bertukar pandang, seakan-akan ada ketegangan yang tak terlihat.Stendy bertanya, "Nad, kita beli teh susu?"Arnold bertanya, "Mau lihat-lihat nggak?"Dua pria dewasa itu sama-sama menatapnya dengan penuh harap.Nadine sungguh kehabisan kata-kata. Lagi-lagi begini!"Gimana kalau kalian pergi beli sendiri dan aku ke toilet?"Stendy mengangguk. "Oke." Kemudian, dia menoleh ke Arnold dan bertanya dengan nada santai, "Pa

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 659

    Begitu mendongak dan melihat Nadine, wajah yang awalnya tanpa ekspresi langsung tersenyum tipis.Nadine berpikir, karena ini untuk orang tua, memilih sepatu tidak bisa hanya mempertimbangkan modelnya, tetapi juga kenyamanannya. Namun, tidak bisa juga hanya mengutamakan kenyamanan dan mengabaikan modelnya.Dia teringat pertemuan di toko buku. Pria tua itu bertongkat, mengenakan rompi, rambut tersisir rapi, memancarkan aura seorang gentleman dari ujung kepala hingga kaki. Dalam hal berpakaian, beliau pasti juga sangat memperhatikan detail.Karena itu, Nadine menghabiskan lebih banyak waktu untuk memilih.Umumnya, bahan kulit untuk sepatu hanya ada beberapa jenis. Dia menunjuk 2 sepatu yang paling nyaman, lalu meminta pramuniaga untuk mengeluarkan semua model yang tersedia dengan bahan tersebut.Sementara itu, Arnold pergi ke toilet.Tak lama kemudian, Nadine sudah memilih 2 pasang."Menurutku dua-duanya bagus. Pak Stendy, kamu pilih salah satu?"Stendy langsung mengeluarkan kartu. "Pilih

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 658

    Arnold berpikir sejenak. "Abu muda saja."Mata Nadine langsung berbinar-binar. Itu juga warna yang dia sukai!Arnold memberi isyarat pada pramuniaga. "Ambil yang ini, tolong gesek kartunya."Setelah Arnold berganti kembali ke pakaiannya sendiri, Nadine menunjuk ke kerah bajunya. "Ini belum rapi."Arnold mencoba merapikannya, tetapi tetap belum benar. Akhirnya, Nadine mengambil inisiatif untuk membantunya.Arnold cukup tinggi, jadi Nadine harus sedikit berjinjit. Keduanya berdiri sangat dekat, begitu dekat hingga bisa merasakan napas satu sama lain.Aroma khas dari tubuh Nadine meresap ke dalam indra penciuman Arnold. Jantungnya berdetak kencang, bahkan dia refleks menelan ludah.Arnold bisa merasakan dengan jelas jari-jari ramping Nadine yang merapikan kerah bajunya. Ujung jari hangatnya tanpa sengaja menyentuh kulit lehernya, mengirimkan sensasi seolah-olah ada aliran listrik yang menyentuh jiwanya.....Hari ini, Yenny ada janji makan malam dengan seseorang. Karena masih ada waktu, d

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 657

    Henry langsung bersemangat. Bukan hanya memasukkan patung tanah liat ke dalam kotak, tetapi juga memberikan tas kertas sebagai tambahan."Hati-hati di jalan! Kapan-kapan mampir lagi ...."Henry melambaikan tangan ke arah punggung Arnold, lalu mendekat ke layar ponsel dengan bangga dan berkata, "Lihat, 'kan? Aku sudah bilang kalau aku jago membuat patung. Kakak tadi jelas sangat menyukainya!"[ Ehem! Sadar sedikit! Yang dia suka itu wanita tadi, bukan patung tanah liatmu! ][ Jadi, cowok tadi diam-diam kembali sendiri untuk membeli patungnya? ][ Aku tebak mereka berdua pasti masih belum mengungkapkan perasaan untuk satu sama lain. ][ Detektif di atas, aku salut padamu! ]....Nadine melihat Arnold kembali dengan sebotol air, tetapi di tangannya ada satu tas tambahan. Dia tidak bisa menahan rasa penasaran. "Itu apa?"Arnold menjawab dengan santai, "Cuma beli sedikit barang sekalian."Nadine tidak berpikir terlalu jauh. Mereka menyeberang dan berjalan menyusuri pusat perbelanjaan di dep

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 656

    "Maaf!""Maaf ya ...."Keduanya berbicara dan mundur pada saat yang sama. Tatapan mereka bertemu. Selain rasa canggung, ada juga sedikit kehangatan yang mulai muncul."Kamu ....""Aku ....""Pak, gimana kalau kamu bicara dulu?"Arnold menunduk sedikit, seperti sedang berpikir atau mungkin ragu. Saat dia mendongak, sepertinya dia sudah mengambil keputusan besar. "Nad, sebenarnya aku ....""Lihat, sudah jadi ...." Suara santai dari pemilik lapak terdengar.Nadine yang wajahnya sudah merah karena malu, merasa seperti diselamatkan. Dia buru-buru menoleh ke arah pemilik lapak. "Secepat ini?""Gimana lagi? Aku memang seberbakat itu." Sambil menanggapi, dia menyodorkan patung tanah liat ke arah Nadine.Nadine hanya melirik sekilas, lalu sudut bibirnya langsung berkedut. Benar saja, tidak boleh berharap terlalu banyak.Patung-patung sebelumnya memang tidak begitu jelas, tetapi setidaknya masih memiliki fitur wajah. Namun, yang ini ....Tidak ada wajah, hanya dua bentuk manusia yang samar, deng

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 655

    Arnold mengamati figur tanah liat itu dengan saksama. Sekilas memang terlihat seperti sosok manusia, tapi bentuknya hanya berupa garis besar yang samar. Bahkan, jika dibilang berbentuk manusia pun rasanya agak dipaksakan.Apalagi tentang detail ekspresi dan gerakannya, tidak ada satu pun yang terlihat! Akhirnya, Arnold mengutarakan pendapatnya dengan jujur. "Hmm ... sepertinya dibuat agak asal-asalan. Aku nggak bisa tebak."Dia melirik ke arah kerajinan lain yang dipajang di lapak itu. Ternyata, semua figur tanah liat di sini memiliki gaya yang sama. Singkatnya, mereka semua jelek. Namun, yang lebih aneh lagi, tidak ada penjual di lapak ini.Di sana hanya ada sebuah tripod dengan sebuah ponsel terpasang di atasnya. Yang lebih mencurigakan lagi, kamera ponsel itu menghadap ke arah mereka.Nadine berpikir sejenak, lalu berkata, "Memang terlihat asal-asalan, tapi kalau dilihat dari sudut ini ... sepertinya agak mirip Cupid, bukan?"Begitu dia selesai berbicara, seseorang tiba-tiba muncul

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 654

    "Sudah makan siang?" tanya Arnold."Belum. Kamu?""Kebetulan, aku juga belum."Tatapan mereka bertemu. Sesuatu yang disebut "kekompakan" perlahan menyelimuti mereka.Dua puluh menit kemudian ....Nadine dan Arnold duduk di sebuah restoran barbeku. Di atas panggangan, lemak dari potongan daging sapi mulai meleleh dan mengeluarkan suara desisan menggoda.Daging yang sedang dipanggang itu berwarna keemasan dengan sedikit bagian yang renyah, menciptakan perpaduan sempurna antara lemak dan daging. Dengan gerakan terampil, Arnold membalikkan daging beberapa kali, memastikan bagian luarnya matang sempurna.Kemudian, dia mengambil selembar selada segar, meletakkan daging di atasnya, membungkusnya dengan rapi, lalu menyodorkannya ke arah Nadine.Nadine yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya, tidak langsung menyadari. Ketika mendongak, dia terkejut sesaat. "Pak Arnold, aku bisa ambil sendiri ...."Namun, Arnold tidak menarik kembali tangannya. "Buka mulut."Nadine terdiam.Arnold terkekeh

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 653

    Nadine bercanda, "Kak, kamu mau berinvestasi di semua proyek laboratorium kami hanya dengan 200 juta? Murah sekali!"Aditya tertawa. "Mana berani aku punya mimpi sebesar itu? Satu proyek saja sudah cukup!"Karena dia sudah berbicara sejauh ini, Nadine akhirnya menerima uang itu.Aditya sendiri tidak pernah menyangka bahwa 200 juta yang dia berikan begitu saja dengan alasan sederhana ini, suatu hari nanti akan membawa keuntungan yang luar biasa besar baginya.....Setelah laboratorium baru mulai beroperasi, laboratorium sementara di Universitas Teknologi dan Bisnis tidak lagi digunakan. Dulu, Moesda berbaik hati meminjamkan tempat itu kepada mereka. Meskipun itu lebih karena koneksi dengan Arnold, Nadine tetap sangat berterima kasih.Oleh karena itu, dia membeli bunga dan buah-buahan pada hari Sabtu, lalu datang langsung untuk mengembalikan kunci laboratorium serta mengungkapkan rasa terima kasihnya.Kantor Moesda berada di lantai tiga gedung administrasi Universitas Teknologi dan Bisni

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status