Home / Pernikahan / Suksesnya Wanita Terbuang / 1. Calon Suamiku dan Sahabatku

Share

Suksesnya Wanita Terbuang
Suksesnya Wanita Terbuang
Author: Stara

1. Calon Suamiku dan Sahabatku

Author: Stara
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

"Apa yang terjadi?" tanya Amber dengan air mata berlinang. Gaun putih yang semula berada di tangannya terjatuh ke lantai. Tubuh Amber sepenuhnya melemas.

Amber membuka pintu sebuah kamar bergaya victoria membawa gaun pernikahan di tangannya. Beberapa jam lagi akan berlangsung sebuah pesta pernikahan di rumah ini. 

Pernikahan Amber dan Charles yang sudah dinanti-nantikan selama dua bulan setelah Amber menyaksikan testpack hasil uji coba menunjukkan bahwa dia hamil. 

Amber telah lama menjadi kekasih Charles, lelaki pewaris sebuah perusahaan sukses yang selalu mementingkan hasrat nafsunya setiap kali bersama Amber. 

Sayangnya Amber sangat menyayangi laki-laki itu karena hanya Charles lah yang bisa memberinya tempat tinggal setelah kedua orang tuanya meninggal di sebuah kecelakaan tiga tahun lalu.

Amber sangat antusias masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya dengan gaun putih yang akan segera mengikatnya sepenuhnya sebagai istri sah pewaris keluarga Evans. Namun, semua harapan itu hancur saat Amber melihat dengan mata kepala sendiri, Charles sedang berciuman dengan seorang gadis yang tak lain adalah sahabat Amber sendiri, Jessica.

Charles buru-buru bangkit dari ranjang sambil merapikan jas pernikahannya dengan sudah setengah terbuka di depan dada. Wajahnya memperlihatkan rasa bersalah. Namun Jessica sama sekali tidak merasa bersalah. Justru dia menahan dada Charles dan memeluknya sangat erat seolah mencegah siapapun merebutnya.

"Charles ... seperti ini kau yang sebenarnya?" Air mata Amber berlinang. 

Charles menunduk dalam, memperlihatkan rasa bersalah. "Maaf, Amber."

"Kenapa tidak kau katakan sejak lama? Kenapa tidak kau hentikan saja pernikahan ini?!" bentak Amber sambil terisak. 

"Aku berusaha menghentikannya, tapi aku tidak berani bilang kepada ayah dan ibu," sahut Charles. 

"Pengecut! Kau pengecut, Charles!"

"Hey, tutup mulutmu!" sela Jessica. "Dasar tidak tau terima kasih. Apa kau lupa kau tinggal di sini tanpa membayar? Selingkuh atau tidak, itu bukan hakmu untuk mengatur Charles. Tutup mulutmu itu, jalang!"

"Jess!" pekik Amber ingin sekali berlutut di hadapan gadis itu agar dia mendapat belas kasihan karena telah mengharapkan pernikahan selama berbulan-bulan. "Please! Charles, apa kau benar-benar ingin bersamanya? Ini hari pernikahan kita dan aku mengandung anakmu." 

Charles mendongak untuk menatap Amber, lalu menatap Jess yang tersenyum menggoda ke arahnya. Bibirnya bergetar, ragu-ragu untuk menjawab. Tangannya perlahan menjauhkan Jessica dari samping tubuhnya membuat Amber nyaris menghela napas lega. "Maaf, Amber. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita berdua."

Bagai dijatuhkan dari ketinggian beribu meter ke daratan berbatu, Amber mematung seolah telinganya bermasalah. Sayangnya, telinganya berfungsi dengan normal, dan Charles benar-benar memilih sahabat Amber sendiri yang ternyata berkhianat.

"Ada anakmu di dalam perutku, ingat itu!" ancam Amber penuh emosi.

Charles hanya mengerling seolah tak mendengarnya, meskipun ada rasa bersalah menggerogoti sebagian isi hatinya. 

"Charles, kumohon!" Amber mendekati Charles. Tapi Jessica lebih dulu menarik Charles menjauh. 

"Maaf, permohonanmu tidak akan diterima. Pergilah dari sini. Aku yang akan menggantikanmu di altar pernikahan."

Amber sekali lagi merasa harga dirinya dijatuhkan hingga dia tak punya harga diri lagi. Rasa sakit menghunjam secara kasar ke dalam hatinya yang rapuh. Tangannya menahan perutnya yang sudah membesar. "Kau benar-benar tega, Charles."

"Pergi dari sini!" perintah Jessica dengan ekspresi jijik. "Pergi dari sini, pengemis!"

Amber tak berkutik. Menatap gaun pernikahan yang tergeletak di lantai, dia sudah membayangkan duduk bersama Charles di kursi pengantin, menciumnya di depan semua orang, tetapi imajinasi sejelas itu tidak cukup menjadi kenyataan. 

"Apa kau tuli?!" Jessica mendorong bahu Amber. "Sudah cukup menumpang di rumah ini. Pergi sana, cari orang lain dan manfaatkan dia sepuasmu seperti apa yang sudah kau lakukan kepada Charless. Tidak perlu khawatir dengan pernikahan ini karena akulah yang akan menggantikanmu. Pergi, Amber!"

Amber mengerjapkan matanya memikirkan mimpinya tak akan pernah terwujud selamanya. Dia menoleh ke arah Jessica, gadis yang selalu datang ke sini untuk menemaninya memasak setiap minggu, kedekatakan mereka membuat Amber menganggap Jess sebagai adiknya sendiri. Ternyata datangnya Jess di rumah ini bukan untuknya, melainkan untuk calon suaminya.

"Pergilah, Amber!" untuk pertama kalinya Charles berani mengusir Amber. Bibirnya bergetar penuh keraguan.

Amber menggeleng tak menyangka. "Aku benci kalian!" katanya lalu meninggalkan kamar itu sambil menahan perutnya yang semakin membuncit.

***

Gagalnya pernikahan itu bukan satu-satunya penderitaan yang Amber alami. Selama tiga hari terakhir Amber mencari apartemen yang bisa ia tinggali, sayangnya apartemen-apartemen yang ia temukan sangat mahal sedangkan ia cuma punya sedikit uang. Selama tiga bulan terakhir setelah penetapan tanggal pernikahan, keluarga Evans tidak memperbolehkannya bekerja, apalagi di tengah perutnya yang semakin membesar.

Amber terpaksa mendatangi paman dan bibinya yang rumahnya terletak di pinggiran kota. Itu adalah sebuah rumah sederhana di perumahan klasik yang punya koneksi lebih banyak dengan tetangga daripada di apartemen. 

Kedatangan Amber tidak membuat sepasang suami istri Davis merasa senang. Sebaliknya, mereka justru menganggap kedatangan Amber sebagai sebuah kesialan. Terutama karena melihat Amber yang datang dengan perut buncit tanpa suami di usianya yang baru 19 tahun.

Meskipun Mr dan Mrs Davis tidak punya anak mereka sama sekali tidak membenarkan hamil di usia muda apalagi bersama dengan laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab.

"Kudengar kau mau menikah," kata Mr. Davis saat Amber datang bersama dua koper besar di depan pintu.

"Aku tidak menikah," sahut Amber. Masih terlihat jelas sisa tangis di matanya yang memerah.

"Benarkah?" sahut Mrs. Davis dengan nada meremehkan. "Aku dengar, para tamu undangan di keluarga Evans kebingungan saat melihat wajah mempelai wanita tidak sama seperti di foto. Apa kau dikhianati?"

Amber menggeleng tegas. "Tidak."

Mrs. Davis tertawa mengejek. "Kau dikhianati. Lagipula, mana ada cowok kaya raya yang mau menikahi gadis tak berpendidikan dan jalang sepertimu. Bukankah sudah kubilang dari dulu sejak orang tuamu meninggal, tinggallah bersama kami. Tapi kau justru memilih menjadi seorang jalang."

Amber merasa tekanan besar mendorongnya tubuhnya semakin dalam ke bumi. Harga dirinya sucah hancur lebur. Begitu teganya bibinya menghinanya semenyakitkan itu. Padahal dia punya alasan kenapa selama ini lebih memilih tinggal bersama keluarga Eans. Dia tau Mr. Davis selalu berusaha menidurinya setiap kali dia di rumah ini. Saat ini, laki-laki mesum itu tidak akan melakukan itu karena Amber sedang hamil.

"Untuk apa kau datang kemari? Mengemis kepada kami dan minta perlindungan?" Mrs. Davis bangkit dari duduknya untuk meraih salah satu koper Amber. "Maaf, kami tidak buka kontrakan. Kau orang asing bagi kami," katanya lantas melempar koper itu keluar pintu. "Pergilah, tidak ada tumpangan untuk gadis jalang sepertimu."

"Honey!" sapa Mr. Davis. Bangkit dari duduknya dengan gerakan lemah lembut. Tangannya mengelus janggut lebat di dagu sambil memperhatikan tubuh Amber. "Kurasa, tidak ada salahnya memberinya tumpangan."

Mrs. Davis mengerling keheranan.

"Dia bisa meringankan kerjaan rumahmu," sambung Mr. Davis untuk menghilangkan kebingungan di wajah istrinya. Amber tau ada hal lain yang sedang pamannya pikirkan tentang dirinya lewat tatapan aneh itu. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Apa kau gila? Aku tidak mau kerepotan mengantarnya ke rumah sakit untuk bersalin. Apa yang akan kita katakan kepada dokter saat dokter bertanya bagaimana gadis semuda ini bisa hamil bukannya pergi ke sekolah?" Mrs. Davis meraih koper kedua untuk dibuang keluar seperti koper pertama. "Aku tidak mau tiap malam mendengar suara tangisan bayi, itu tidak baik untuk kesehatan kita, Richard!" kata Mrs. Davis seraya menendang koper itu tanpa belas kasihan. "Pergilah! Cari tumpangan lain. Kami bukan keluargamu."

Amber berusaha kuat menahan air matanya agar tidak keluar. Sudah cukup baginya terlihat lemah di depan semua orang, air mata hanya akan membuat rasa sakitnya berkali lipat lebih sakit.

"Honey, tidak seharusnya kita melakukan itu," kata Mr. Davis. "Bagaimanapun juga kau pernah punya nama belakang yang sama seperti gadis ini. Amber Jenn, Sarah Jenn." Mr. Davis menatap istrinya dan Amber satu persatu. "Kita bisa memberinya tumpangan selama beberapa hari sampai dia bisa menemukan rumah sendiri."

Mrs. Davis menatap tajam Amber yang masih menunduk. "Baiklah, demi suamiku. Dia baik, tapi aku tidak. Kau akan mendapat bentakan dan bersiap saja untuk sakit hati saat tinggal di rumah ini. Kau mengerti?"

Amber mengangguk. 

"Aku memberimu kesempatan selama seminggu. Aku tidak mau kau melahirkan di rumah ini. Aku tak sudi melihat tampang babimu. Selama waktu seminggu kau harus pindah dari rumah ini atau aku akan melemparmu sendiri dari jendela."

Amber mendongak untuk menatap Mrs. Davis yang lebih tenang daripada sebelumnya. "Aku akan pastikan aku akan dapatkan pekerjaan sebelum seminggu."

"Berhenti memperlihatkan air matamu, aku sama sekali tidak kasihan padamu. Bawa barang-barangmu masuk sebelum aku berubah pikiran!"

Amber mangngguk. Mengusap setetes air mata yang mengalir di pipinya. Sekejam apapun bibinya, dia tau dia pasti akan diterima di rumah ini. Setidaknya, dia sudah punya tempat bernanung, meskipun harus berhadapan dengan perkataan tajam bibinya dan tingkah misterius pamannya. "Ayo, Amber. Ini cuma beberapa hari," bisiknya sambil mengambil kopernya dari balik pintu.

Related chapters

  • Suksesnya Wanita Terbuang   2. Kedipan Nakal Sang Paman

    "Apa yang kau lakukan? Mencuri?!" Dia melangkah ke arah komporlistrik yang sangat kotor. Mungkin Mrs. Davis terlalu sibuk sampai tak punyawaktu untuk berbelanja ataupun membersihkan dapur.Ini masih terlalu pagi untuk bangun dan melakukan pekerjaan. Namun Ambersudah menyiapkan seluruh keperluannya untuk melamar pekerjaan di beberapaperusahaan berlatarkan pendidikan sekolah menengah atas yang ia miliki. Setelahitu, Amber menuju ke dapur untuk membuat sarapan.Amber membuka kulkas dengan harapan akan menemukan banyak makanan disana, tetapi dia hanya menemukan sebungkus roti, beberapa butir telur, dan tigabotol minuman. Amber menatap isi kulkas dengan tatapan nanar. Apa yang bisa diamasak dengan bahan makanan seperti itu?Amber membersihkan dapur dan menggoreng tiga butir telur. Mrs. Davismuncul dengan ekspresi sinis beberapa saat kemudian. Dia masih mengenakanmantel tidur dan rambutnya agak berantakan. Amber terkejut. Dia buru-buru mematikan kompor. "Tidak. Hanyamembuat sara

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   3. Menjual Anak Sendiri

    "Usiamu baru 21 tahun, tapi kau sudah hamil?" Laki-laki yangduduk di meja HRD itu menatap perut Amber dengan raut tak suka. Ini adalah toko kelima yang Amber datangi untuk melamar pekerjaan. Diamendapatkan empat penolakan secara berutut-urut hanya dengan satu alasan, bahwadia sedang hamil besar dan pihak toko tidak ingin mengambil risiko menerimaAmber di usia kandungan yang sudah sebesar itu.Amber datang ke toko yang menjual furniture ini karena dia melihat salahsatu karyawan yang sedang hamil. Siapa tau dia akan dapatkan pekerjaan juga.Tapi melihat bagaimana pihak HRD menatapnya, Amber tidak begitu yakin.Amber mengangguk percaya diri."Apa kau sudah menikah?""Tidak.""Apa pacarmu bertanggung jawab dengan anak itu?"Amber ragu-ragu menjawab. Dia takut jawabannya akan mempengaruhinyamendapatkan pekerjaan. "Tidak sekarang."Laki-laki botak itu mengelus janggut di dagunya. menatap Amber dengantatapan menilai. "Bagaimana jika kau melahirkan saat kau sedang melayanipelanggan?"

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   4. Adam dan Putrinya

    "Hallo, Miss!" sapa laki-laki dengan suara bariton dalam.Bibirnya tersenyum hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Dia dudukdi hadapan Amber tanpa dipersilahkan.Pintu ruang kerja Amber diketuk perlahan. Amber yang sedangmemperhatikan layar komputernya, mengalihkan pandangan ke arah seoranglaki-laki dari balik pintu kaca. "Masuk!" kata Amber sambilmenganggukkan kepala.Amber sangat terkejut saat menyadari laki-laki jangkung di hadapannyaini bukanlah seorang remaja seperti yang ia pikirkan, laki-laki itu sudahdewasa dan hampir seumuran dengan Amber.Amber ragu-ragu mengambil keputusannya dengan memberikan pekerjaankepada laki-laki ini."Saya senang bisa bertemu secara langsung dengan anda, Miss AmberJenn."Amber hanya menatap datar."Ini beberapa berkas yang sudah saya siapkan. Saya sangatberpengalaman dalam bidang komunikasi. Saya pernah mengisi acara di radionasional, meskipun cuma seminggu. Saya juga membuat channel youtube sayasendiri tentang jurnal hidup saya

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   5. Putraku dan Putrimu

    "Silahkan masuk, Nyonya Amber!" Nancy membukakan pintu.Memberi jalan untuk Amber agar bisa masuk ke dalam ruangannya.Amber keluar mobil dan berjalan di koridor sekolah dengan langkah tegap.Pandangannya lurus ke depan meskipun banyak sekali murid yang menatap penasaranke arahnya.Begitu sampai di depan ruangan Miss Nancy, orang yang memanggil Amberkemarin, dia mengetuk pintu dengan anggun.Ruangan yang elegan, pikir Amber setelah mendudukkan diri di sebuahkursi tempat Nancy mempersilahkannya."Tunggu sebentar, Nyonya. Putra Anda sedang dipanggil darikelasnya.""Baik, terima kasih." Beberapa saat kemudian, pintu terbuka lagi. Amber mengira itu adalahputranya, tetapi sosok yang muncul dari balik pintu adalah laki-laki jangkungyang Amber lihat di ruangan kerjanya kemarin.Amber nyaris tak berkedip karena keheranan."Siang, Miss!" Adam mengangguk ke arah Nancy. "Dan ...kita berjumpa lagi, Miss Amber!"Amber buru-buru mengalihkan pandangan dan menatap lurus untuk memperlihatkank

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   6. Lelaki Pembuat Onar

    Laki-laki berambut kecoklatan itu duduk berhadapan dengan Amber. Matanya berkedip aneh. Salah satu tangannya berada di atas meja, nyaris menempel dengan tangan Amber padahal semua orang tau perlakuan seperti itu sama sekali tidak sopan. Amber tidak memperhatikan apapun kecuali mendengarkan lawan bicaranya di telepon. Saat itu pintu terbuka dari luar. Wanita berusia 26 tahun masuk dengan ekspresi marah. "Amber, aku muak dengan laki-laki itu." Amber menoleh dengan ekspresi kesal. "Aku sedang menjawab telefon, Kaylin Hayes!" "Ya, tapi kau harus dengarkan aku. Laki-laki bernama Adam itu berani mengancamku untuk bisa masuk ke sini. Dia datang untuk ketiga kalinya sejak pagi. Kedatangannya sungguh meresahkan." Kaylin baru sadar ada laki-laki duduk berhadapan dengan Amber sedang menatap datar ke arahnya. "James, apa yang kau lakukan di sini?" "Cuma melaporkan masalah," sahut lelaki berambut coklat itu dengan ekspresi salah tingkah. "Kau sudah selesai? Kalau begitu, silahkan keluar!" Kay

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   7. Meminta Maaf

    "Hey, penakut!" ejek Ovi ke arah Daniel yang sedang memakan sandwich di kantin sendirian. "Dasar penakut!" Ovi menjulurkan lidahnya. "Daniel tidak berani bicara di depan ibunya," jelas Ovi kepada teman-temannya."Mungkin karena dia tidak bisa bicara," sahut salah satu dari mereka lalu tertawa terbahak.Ovi mengajak teman-temannya mendekat ke meja Daniel. "Dasar penakut!"Daniel menggebrak meja. Gejolak emosi membakar dadanya. Matanya menatap marah ke wajah Ovi. Alih-alih takut, Ovi dan teman-temannya terbahak hingga menjadi satu-satunya suara terkeras di kantin."Kau pasti mau menangis, 'kan? Menangis saja sekarang. Aku mau menonton!" Ovi tertawa lagi.Daniel menarik kotak bekalnya dari atas meja dan berjalan keluar kantin diiringi suara tawa Ovi dan teman-temannya.Dia terus berjalan ketika seisi kantin menatap penasaran ke arahnya."Aduh!" Daniel sadar dia tidak memperhatikan jalan hingga tak sengaja menabrak seseorang di koridor. Makanannya berhamburan di lantai. Daniel menoleh ke

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   8. Hari Pertama

    Adam sangat antuasias di hari pertamanya bekerja di perusahaan Amber J. Dia menyiapkan sarapan sambil berdendang riang bersama Ovi yang kini sedang menikmati roti bakar dan selai dari atas meja."When ... you want me!" dendang mereka sama-sama. Ovi tertawa-tawa karena sang ayah membuat nada seperti kakek-kakek tersedak."Papa, stop!" kata Ovi saat Adam ingin melanjutkan lirik lagunya. "Kau membuatku tertawa sampai sakit perut.""Oh ya?" Adam duduk di kursinya dan menggelitik perut Ovi sampai tawa gadis itu tak bersuara.Kring ...Keduanya menatap ke arah pintu utama saat seseorang membunyikan bel di depan rumah."Oh tidak, kau hampir telat!" pekik Adam, langsung menyiapkan tas Ovi yang sudah tergeletak di ujung ruangan. "Jangan sampai papa dipanggil ke sekolah lagi, oke? Jangan buat ulah!""Ya," sahut Ovi sambil mengedikkan bahunya. Dia merebut tasnya di tangan Adam. "Semoga hari pertamamu di sana menyenangkan.""Semoga."Itulah yang Adam bayangkan. Berangkat ke kantor dan memperken

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suksesnya Wanita Terbuang   9. Keadaan Kritis

    Adam mengendarai mobilnya sampai ke rumah sakit. Tanpa mengunci mobilnya, dia langsung berlarian menuju ke ruangan Ovi. Kebetulan saat itu dokter sedang keluar dari sana."Dokter!" seru Adam dengan dasi longgar dan rambut berantakan. "Saya ... saya ayahnya. Apakah Ovi baik-baik saja?""Dia mengalami cidera cukup dalam di kepala yang hampir melukai otaknya.""Oh tidak." Adam menelan saliva sebisanya."Jangan khawatir!" Dokter menepuk bahu Adam yang masih berguncang. "Putri Anda sangat kuat. Dia sedang dalam masa kritis saat ini, tapi sebentar lagi dia akan membaik."Adam langsung menghambur ke dalam ruangan. Lampu temaram di tengah ruangan memperlihatkan putrinya terbujur lemas di atas brangkar berwarna hijau. Hidungnya terpasang nasal kanul, sedangkan kepalanya terbalut perban."Ovi ...." Adam merasakan tubuhnya tertusuk ribuan pisau tepat di dadanya, dan itu tidak seberapa daripada rasa sakit yang sedang dia alami ketika melihat putrinya yang ceria dalam keadaan seperti ini."Dia cum

    Last Updated : 2024-10-29

Latest chapter

  • Suksesnya Wanita Terbuang   16. Serasi

    Amber sudah mengemasi seluruh perlengkapan kerjanya ke dalam tas. Kedua asistennya membawa barang-barangnya ke dalam mobil sementara dia masih harus mengecek beberapa ruangan. Amber dan James sempat bertemu di koridor. Sialnya mereka harus satu lift. James tidak berhenti mencuri perhatian Amber, tetapi Amber berusaha untuk tidak peduli."Kau sudah baca undangan yang kuberikan padamu, 'kan?" James menatap tubuh Amber yang berdiri sangat jauh darinya. Terkadang dia agak tersinggung dengan cara Amber memandangnya. Dia bukan satu-satunya laki-laki yang Amber tatap dengan cara seperti itu.James sering mendengar dari Kaylin bahwa Amber punya masa lalu yang kelam. Itu sangat masuk akal. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana Amber bisa menumbuhkan perusahaannya hingga sebesar ini padahal dia hanya seorang ibu tunggal sekaligus anak yatim piatu. James bersyukur dia tau sedikit tentang hal itu. James tau Amber belum pernah menikah seumur hidupnya. Mungkin Amber pernah terjebak dengan hubungan

  • Suksesnya Wanita Terbuang   15. Memberi Harapan

    "Hewan herbivor adalah hewan yang suka makan ..." Ovi berdiri di samping Daniel tepat di depan papan tulis. Anak-anak menatap ke arah mereka dengan ekspresi penasaran apakah kerja sama Ovi dan Daniel yang merupakan musuh itu akhirnya berhasil, tetapi Ovi beberapa kali lupa dengan essai-nya dan harus dibisiki Daniel agar presentasi mereka berjalan lancar."Hewan herbivor adalah hewan yang suka makan tumbuhan. Contohnya adalah kadal ... ups." Ovi menutup mulutnya karena salah ucap. Sontak satu kelas tertawa ke arahnya. "Apakah kadal makan tumbuhan? Memang benar, kan, Dan?" Ovi mengerling ke arah Daniel yang sedang menjaga sikap profesionalnya untuk tidak menjawab pertanyaan satu tim karena itu akan membuatnya terlihat kurang persiapan, padahal dia dan Ovi berlatih tiap hari."Tidak, Ovi!" jawab Miss Travizo dari kursi guru."Ya, aku baru ingat sekarang." Ovi berdehem dan kembali menatap ke hadapan kelas untuk melanjutkan presentasinya.Daniel mendapat giliran beberapa saat kemudian. Di

  • Suksesnya Wanita Terbuang   14. Sepak Bola

    Amber terpaksa duduk di sofa untuk menghargai kedatangan James yang sama sekali tidak dia harapkan. Seharusnya James bisa menyadari raut wajah Amber yang terlihat tak mendukungnya dan memilih memutuskan untuk pergi, tetapi ternyata James tidak putus asa."Apa semuanya baik-baik saja? Kau sudah tidak memikirkan hal yang membuatmu kepikiran di kantor tadi?" tanya James dengan nada halus penuh perhatian.Amber menghela napas bosan. Dia harus mengingat kekhawatiran itu lagi karena James. "Ya, aku baik-baik saja.""Aku sempat cemas. Mungkin kau sedang memikirkan tentang Daniel. Maksudku ... dia bergaul dengan anak yang salah. Anaknya McLarren itu membuatku ikut cemas padanya. Aku sering lihat gadis itu mengejek Daniel setiap kali aku menjemputnya di sekolah." James menampilkan ekspresi resahnya yang sengaja dibuat-buat."Syukurlah mereka sudah baikan dan aku baru saja mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.""Apa?" James terlihat sangat terkejut. "Ovi dan Daniel baru saja dari sini untuk

  • Suksesnya Wanita Terbuang   13. James Carmody

    Tok tok ..."Boleh aku masuk?" James berdiri di ambang pintu ruangan Amber."Ya," sahut Amber dengan nada lelah."Aku ingin membicarakan sesuatu. Mumpung ini masih jam istirahat." James duduk di hadapan Amber. Ekspresinya berubah lebih santai. Bibirnya agak membengkok ke atas agar tidak terlihat seram."Aku baru saja ... menjemput Daniel dari sekolah.""Oh ya? Kau baik sekali." Amber menoleh sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan keluar jendela untuk berpikir."Apa yang sedang kau pikirkan?"James menegakkan duduknya untuk memperhatikan lamunan Amber. "Aku perhatikan sejak meeting kau terlihat sedang memikirkan sesuatu.""Jika iya pun kau tidak berhak untuk tau."James mengulum senyum. "Aku bisa jadi teman curhat yang baik. Percayalah!""Oh ya? Kaylin punya lebih banyak masalah dalam hidupnya. Dia baru saja gagal menikah, kurasa dia punya banyak cerita yang harus diungkapkan kepada seseorang. Kau mungkin orang yang tepat."James terdiam beberapa detik. "Kaylin punya banyak teman c

  • Suksesnya Wanita Terbuang   12. Dan Mereka Berteman

    "Oke, anak-anak. Kalian akan membentuk kelompok yang beranggotakan dua anak untuk mengerjakan essai dariku. Tugas essai itu harus diselesaikan dalam waktu satu minggu. Kalian bisa meminta dampingan orang tua atau pengasuh kalian untuk mengerjakan tugas itu bersama-sama!" jelas Miss Travizo di depan kelas."Miss!" tangan milik seorang gadis yang duduk di bangku paling belakang terangkat ke atas, dia adalah Ovi. "Apakah kita bisa memilih partner kita sendiri?""Ya, tentu saja. Kalian bisa pilih partner yang kalian inginkan.""Ovi!" seru gadis berambut kepang yang duduk di samping Ovi. "Kau mau bersamaku, 'kan?""Tidak," sahut Ovi dengan nada mengejek. "Aku tidak mau sekelompok dengan anak yang tidak mau berkontribusi ketika menyelesaikan pr."Gadis berambut kepang itu menatap malas. "Lalu, kau mau dengan siapa?""Daniel," sahut Ovi dengan nada antusias."Daniel? Kau serius? Pasti kau hanya akan menghabiksan waktumu dengan memukulinya.""Tidak. Aku tidak akan memukulinya lagi." Daniel m

  • Suksesnya Wanita Terbuang   11. Bagaimana Membesarkan Anak?

    Adam mengemas seluruh barang miliknya di sudut-sudut meja ruangan Ovi. Ovi sudah diperbolehkan pulang. Infus dan alat-alat medis di tubuhnya sudah dilepaskan. Dia sudah bisa bergerak bebas, bahkan meloncat-loncat gaya balet seperti kebiasaan anehnya di rumah."Papa, apa setelah ini kau akan mengajakku ke AJ lagi?" tanya Ovi setelah dia kelelahan menjijitkan kedua kakinya dan melayang sampai nyaris menjatuhkan gelas dari meja."Ke AJ, untuk apa?""Untuk ikut kau bekerja."Adam menghentikan tangannya yang sedang memasukkan makanan sisa ke tempat sampah. "Sebenarnya sayang ... papa sangat sibuk hari ini. Papa akan menitipkanmu ke Bibi Anderson, lalu papa akan pergi. Setuju?""Tidak. Rumah Bibi Anderson bau makanan busuk. Aku tidak mau ke sana. Lebih baik aku menunggu di rumah daripada berada di rumah itu."Adam menghela napas. "Baiklah. Papa tidak akan protes.""Hay!" sapa suara bernada tinggi tetapi pelan. Daniel muncul dari balik pintu. Masih mengenakan seragam sekolah.Ovi langsung me

  • Suksesnya Wanita Terbuang   10. Pengakuan Daniel

    Hari berikutnya, Amber mendengar kabar bahwa Adam tidak berangkat ke kantor padahal hari ini adalah hari keduanya bekerja. Amber semakin dibuat marah. Memang bukan tugasnya mengurus karyawan, tetapi dia yang membuat kesepakatan untuk memberi waktu percobaan selama seminggu dan lelaki itu sama sekali tidak menganggap perintahnya serius.Keesokan harinya masih sama, Adam masih tak berangkat. Itu membuat keputusan Amber semakin bulat, dia akan memecat Adam sebelum menerimanya. Entah kenapa mengambil keputusan itu membuat Amber marah pada dirinya sendiri. Dia pernah terlena dengan cara Adam bicara, jujur saja, tetapi dia tidak ingin mengakuinya.Lagipula, Adam adalah tipe laki-laki yang suka main-main, buktinya dia tidak mengindahkan perintah Amber. Bahkan satu-satunya pekerjaan yang Amber berikan pun sama sekali tidak dikerjakan.Telepon berdering membuat lamunan Amber buyar. Dia menarik gagang telefon dan menjawab panggilan yang ternyata berasal dari resepsionisnya di luar."Ya, Kayli

  • Suksesnya Wanita Terbuang   9. Keadaan Kritis

    Adam mengendarai mobilnya sampai ke rumah sakit. Tanpa mengunci mobilnya, dia langsung berlarian menuju ke ruangan Ovi. Kebetulan saat itu dokter sedang keluar dari sana."Dokter!" seru Adam dengan dasi longgar dan rambut berantakan. "Saya ... saya ayahnya. Apakah Ovi baik-baik saja?""Dia mengalami cidera cukup dalam di kepala yang hampir melukai otaknya.""Oh tidak." Adam menelan saliva sebisanya."Jangan khawatir!" Dokter menepuk bahu Adam yang masih berguncang. "Putri Anda sangat kuat. Dia sedang dalam masa kritis saat ini, tapi sebentar lagi dia akan membaik."Adam langsung menghambur ke dalam ruangan. Lampu temaram di tengah ruangan memperlihatkan putrinya terbujur lemas di atas brangkar berwarna hijau. Hidungnya terpasang nasal kanul, sedangkan kepalanya terbalut perban."Ovi ...." Adam merasakan tubuhnya tertusuk ribuan pisau tepat di dadanya, dan itu tidak seberapa daripada rasa sakit yang sedang dia alami ketika melihat putrinya yang ceria dalam keadaan seperti ini."Dia cum

  • Suksesnya Wanita Terbuang   8. Hari Pertama

    Adam sangat antuasias di hari pertamanya bekerja di perusahaan Amber J. Dia menyiapkan sarapan sambil berdendang riang bersama Ovi yang kini sedang menikmati roti bakar dan selai dari atas meja."When ... you want me!" dendang mereka sama-sama. Ovi tertawa-tawa karena sang ayah membuat nada seperti kakek-kakek tersedak."Papa, stop!" kata Ovi saat Adam ingin melanjutkan lirik lagunya. "Kau membuatku tertawa sampai sakit perut.""Oh ya?" Adam duduk di kursinya dan menggelitik perut Ovi sampai tawa gadis itu tak bersuara.Kring ...Keduanya menatap ke arah pintu utama saat seseorang membunyikan bel di depan rumah."Oh tidak, kau hampir telat!" pekik Adam, langsung menyiapkan tas Ovi yang sudah tergeletak di ujung ruangan. "Jangan sampai papa dipanggil ke sekolah lagi, oke? Jangan buat ulah!""Ya," sahut Ovi sambil mengedikkan bahunya. Dia merebut tasnya di tangan Adam. "Semoga hari pertamamu di sana menyenangkan.""Semoga."Itulah yang Adam bayangkan. Berangkat ke kantor dan memperken

DMCA.com Protection Status