Share

Kamu Milikku

Author: Afnasya
last update Last Updated: 2025-03-01 18:36:23

“Setuju tidak setuju, kamu harus menikahi Agatha minggu depan!”

Hanya kalimat itu yang masih terdengar saat Eleanor melewati pintu masuk. Dia berjalan beriringan dengan sang suami menuju ruang keluarga. Suasana menjadi hening saat melihatnya dan Darren tiba.

Eleanor segera menyalami orang yang ada di sana satu per satu. Namun, hanya Agatha dan Alden yang menolak. Dia tak ambil pusing dan duduk di samping suaminya.

“Kenapa Kakek memanggil kami?” tanya Darren langsung pada intinya.

“Kakek cuma mau ajak kalian makan siang bersama saja. Sekalian ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu, Darren. Kita ke ruang kerja Kakek sekarang.”

Eleanor menatap sekilas sang suami sebelum mengangguk. Lalu, menatap punggung lelaki itu hingga hilang di balik pintu bercat hitam.

“Bagaimana kabarmu, Elea? Maaf kalau Ayah belum bisa menjengukmu.”

“Tidak apa-apa, Yah. Aku baik-baik saja.”

Danu hendak bangkit dari duduk untuk mendekati Eleanor, tetapi Helena segera mencegahnya.

“Duduk di sini saja, Pa. Buat apa kamu dekati anak yang sudah membuatku dan Agatha luka begini.” Helena menunjukkan luka seperti bekas cakaran di lengannya. Sontak, Eleanor membeliak melihatnya. Dia hendak membuka mulut, tetapi Agatha segera menghalangi.

“Enggak usah sok terkejut begitu kamu, Elea. Sudah salah, bukannya minta maaf malah pergi begitu saja. Masih untung aku enggak teriak dan minta tolong warga buat bawa kamu ke rumah RT.”

“Diam!” seru Alden sambil bangkit dari duduk. Dia menatap nyalang Agatha sebelum beralih kepada Eleanor. Lalu, mendengkus kesal dan pergi meninggalkan ruangan.

“Lihat, kan? Gara-gara kamu Alden jadi marah sama aku.” Agatha langsung bangkit dari duduk dan berjalan tergesa-gesa menyusul Alden.

“Tapi ....”

“Halah, sudahlah, Elea. Harusnya tadi kamu enggak usah mau diajak ke sini.” Helena berbicara dengan wajah ketus.

“Ma, sudahlah. Elea juga tidak tahu apa-apa.”

“Bela saja terus anak kamu itu, Pa. Awas saja nanti kalau sampai rumah.”

“Tapi, Ma ....”

“Elea enggak apa-apa, kok, Yah.”

Akhirnya Danu mengalah dan memilih diam. Sementara, Eleanor menghela napas berat melihat betapa tersiksanya sang ayah. Di satu sisi pasti dia ingin merangkul Eleanor, tetapi di sisi lain Helena dan Agatha punya seribu cara untuk memperunyam keadaan.

Melihat situasi yang tidak mengenakkan, Eleanor memilih bangkit dari duduk dan pamit hendak ke kamar mandi. Ternyata, dia tidak sungguhan ke kamar mandi, melainkan pergi ke halaman belakang di mana terdapat kolam renang dan juga gazebo. Dia duduk di sana sambil menatap awan yang bergerumul.

Eleanor memejamkan mata sejenak dan membiarkan angin menerpa wajah cantiknya. Senyumnya tersumir samar saat bayangan tentang sang ibu terlintas di kepala.

“Apa kamu bahagia, El?”

Eleanor langsung membuka mata dan menoleh saat mendengar suara Alden menyapa rungu. Dia menelan ludah dengan susah payah kala pria itu mendekat dan duduk tak jauh darinya.

“Apa Darren memperlakukanmu dengan baik, El? Apa dia tidak pernah menyakitimu, El?”

Suara Alden bergetar pelan. Eleanor merasa ada gundah yang sedang dipendam pria itu. Namun, wanita itu langsung menggeleng dan tidak ingin tahu mengingat status mereka sekarang.

“A-aku pergi dulu, Al.”

Eleanor bergegas bangkit, tetapi Alden menghalangi langkahnya. Pria itu berusaha memegang lengan Eleanor, tetapi segera ditepis.

“Jangan macam-macam, Al. Aku sudah menikah.”

“Aku enggak peduli, El! Aku masih sangat mencintaimu.”

Eleanor segera mundur ketika Alden terus mendekat, hingga kakinya tiba di tepian kolam renang. Dia menatap air yang tenang berwarna biru di depannya sebelum menoleh kepada Alden.

“Mundur, Al! Aku enggak mau orang salah paham sama kita.”

“Bukannya malah bagus. Dengan begitu Darren akan segera menceraikanmu dan kamu bisa kembali padaku, Elea.”

“I-itu enggak akan terjadi, Al.”

Eleanor mundur karena Alden terus maju hingga tubuh mereka berjarak hanya satu inchi. Lalu, wanita itu terpeleset hingga akhirnya jatuh ke kolam renang. Panik, itulah yang dirasakan Eleanor karena tidak bisa berenang. Tangannya menggapai-gapai dengan mulut yang terengah-engah hampir kehabisan napas. Sementara, Alden hanya berdiri tanpa berbuat apa-apa.

“Jika aku tak dapat memilikimu, maka tak ada yang boleh memilikimu juga, Elea.”

Alden masih berdiri sambil tertawa puas melihat Eleanor gelagapan di dalam air. Namun, tawa itu berubah keterkejutan saat melihat seseorang berlari dan terjun ke air untuk menolong Eleanor.

Saat tubuh Eleanor perlahan diam karena lelah dan mulai tenggelam, sepasang tangan kekar berhasil menggapai dan menariknya ke atas. Lalu, membaringkan wanita itu di tepi kolam dan segera memberikan pertolongan pertama.

Kepala Eleanor ditengadahkan, kemudian mulai memberikan napas buatan setelah sebelumnya mengompresi dadanya. Hal itu dilakukan beberapa kali hingga Eleanor terbatuk dan mengeluarkan air.

“Kamu tidak apa-apa?”

Eleanor hanya mengangguk sebagai jawaban karena masih terbatuk. Lalu, berusaha menarik napas panjang yang terasa berat.

“Tunggu di sini sebentar.”

Darren bangkit dan menyusul Alden yang sudah pergi lebih dulu. Dadanya bergemuruh hebat karena saat Eleanor tenggelam, adik sepupunya itu sama sekali tidak menolong. Darren segera menarik bahu Alden dan memepetnya ke tembok.

“Kamu sengaja, hah! Apa mau kamu sebenarnya, Alden?”

Alih-alih merasa takut, Alden melepaskan tangan Darren dan menatapnya tajam. “Aku mau dia mati agar kamu tidak bisa memilikinya.”

Darren langsung memukul rahang kiri Alden hingga membuatnya tersungkur. Lalu, kembali menarik bahu pria itu dan memukul tepat di area pelipisnya. Kali ini, Alden membalas dengan memukul balik Darren.

“Stop! Apa yang kalian lakukan? Berkelahi seperti anak kecil, memalukan!”

Darren dan Alden spontan menggantungkan tangan di udara begitu mendengar suara tegas milik Kakek William. Keduanya langsung beangun dan berdiri agak berjauhan. Kakek William menggeleng lemah sambil menelisik kedua cucunya.

Ada luka lebam di rahang kiri dan pelipis Alden yang mengeluarkan darah segar. Sementara, Darren memiliki lebam di rahang dan sudut bibirnya berdarah. Kakek William kembali menggeleng dan hendak membuka suara, tetapi tertahan saat melihat Eleanor masuk dengan keadaan basah kuyup dan dipapah salah satu asisten rumah tangganya.

“Kamu kenapa, Elea?”

Eleanor hanya melayangkan tatapan penuh amarah kepada Alden sebelum kembali dibawa menuju salah satu kamar di dekat tangga. Meskipun hanya sebuah tatapan, Kakek William tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pria dengan rambut keperakan itu menggeram kesal sambil menggenggam erat tongkat di tangan kanannya.

“Alden, ikut Kakek sekarang. Darren segera temui Elea dan bawa pulang jika keadaannya sudah membaik.”

Kedua pria yang hanya berbeda dua tahun itu saling menatap tajam sebelum berpisah jalan. Alden mengikuti Kakek William menuju ruang kerjanya. Sementara, Darren berjalan menuju salah satu kamar di mana Eleanor berada.

Ketika di depan pintu, Darren bergeming sesaat sambil mengatur napas. Lalu, memutar gagang pintu dan membukanya. Tubuhnya belum sepenuhnya masuk, ketika terdengar suara Eleanor.

“Aaargh!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Degup Pertama

    Darren kembali menutup pintu dan bergeming sesaat. Namun, bayangan tentang apa yang dilihat berhasil membuatnya mengumpat. Dia menghela napas berat sebelum mengetuk pintu.Eleanor berdiri di dekat ranjang dengan wajah kuyu. Rambutnya masih basah, bahkan bibirnya sedikit membiru karena kedinginan. Namun, wanita itu berusaha untuk menyunggingkan senyuman.“Ma-maaf, aku tadi kaget karena ada yang tiba-tiba masuk.”Darren hanya menatap sang istri, kemudian menelisiknya sebelum melempar tanya. “Apa kamu baik-baik saja?”“Iya, cuma agak sedikit kedinginan saja.”“Kita pulang sekarang.”Eleanor terkejut dengan ucapan suaminya. Dia ingin bertanya, tetapi pria itu kembali membuka suara. “Lupakan makan siangnya, kita pulang sekarang. Kakek sudah memberi izin.”Eleanor mengerti. Namun, dia terkejut saat melihat Darren berjalan mendekatinya. Dia segera mundur sampai menabrak lemari. Lalu, memejamkan mata ketika melihat sang suami makin mendekat dan mengulurkan tangannya.“Pakai ini! Aku l

    Last Updated : 2025-03-02
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Selembar Foto

    Eleanor mengerjap saat mendengar suara alarm. Dia meraba untuk mencari ponsel dan mematikan alarmnya. Lalu, duduk dan meregangkan otot sejenak sebelum berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Senyumnya terkembang ketika berdiri sambil mematut diri di depan cermin. Pagi itu dia mengenakan gaun sebatas betis berwarna kuning pastel.Sambil bersenandung lirih, Eleanor menuruni tangga menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Darren ada di ruang olahraga. Dia segera memutar arah dan berjalan mengendap-endap sampai di sudut luar ruangan.Dalam ruangan berukuran sekitar enam puluh meter persegi itu, Darren sedang berlatih memukul samsak menggunakan sarung tinju. Peluh telah membanjiri wajah dan rambutnya. Bahkan baju bagian belakangnya basah kuyup oleh keringat.Eleanor tak melepaskan tatapannya dari sang suami hingga tanpa sadar senyum tipis tersumir di bibirnya. Namun, aksinya terhenti kala mendengar suara bel. Dia bergegas berlari ke depan untuk membukakan pintu.Wa

    Last Updated : 2025-03-02
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Kesepakatan

    Eleanor mengulas senyum tipis untuk meredam sejenak gelebah dalam dada. Lalu, beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Meskipun hatinya merapuh, kewajiban menghidangkan makanan untuk sang suami tetap utama. Bagi wanita itu bentakan dan amarah yang datang dari Darren masih lebih baik dibanding saat Helena dan Agatha yang melakukannya. Kedua wanita yang telah mengambil seluruh hati sang ayah itu telah berhasil memporakpondakan kehidupannya. Namun, Eleanor terus berusaha untuk kuat dan tegar. Asalkan masih bisa tinggal dan hidup di rumah bersama Danu. Sepuluh menit berselang, Eleanor baru selesai membuat ayam panggang. Dia menatap pintu ruang kerja sang suami sebelum menghela napas berat. Lalu, kembali menyelesaikan masakan sebelum menatanya di nampan. Eleanor menarik napas panjang dan mengembuskannya berulang kali sebelum mengetuk pintu ruang kerja Darren. Lalu, membuka pintu dan masuk perlahan. Dia melirik sekilas sang suami yang fokus menatap kertas di tangannya sambil meletakkan

    Last Updated : 2025-03-03
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Pembalasan Eleanor

    Eleanor tiba setelah hampir satu setengah jam terjebak di jalan karena macet. Bertepatan dengan itu, Danu keluar rumah bersama Helena. Melihat sang anak datang, pria yang memakai kemeja abu-abu itu tersenyum.Eleanor mempercepat langkah dan hendak menyalami sang ayah, tetapi Helena menghadang.“Bukankah kamu buru-buru, Pa? Ayo, jalan sekarang daripada nanti kejebak macet.”“Tapi, Ma. Elea baru saja datang. Lagipula masih ada sepuluh menit lagi, enggak apa-apa, kan?”Helena mendengkus kesal sebelum berlalu ke dalam rumah, sedangkan Danu menyambut kedatangan sang anak sambil tersenyum.“Ayah mau balik ke kantor? Maaf, kalau aku datang sekarang. Ada yang mau aku kasih ke Ayah.”“Enggak apa-apa, Elea. Kita masuk, ya?”Eleanor menggamit lengan sang ayah dan mengajaknya masuk. Lalu, duduk di ruang tamu. Wanita itu segera membuka kotak yang dibawa dan membukanya.“Selamat ulang tahun, Ayah. Semoga sehat selalu.”“Terima kasih, Elea. Seharusnya tidak perlu repot begini.”“Ini hanya

    Last Updated : 2025-03-05
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Keputusan Eleanor

    Eleanor segera berjalan ke lemari untuk mengambil gelas, kemudian mengisinya dengan air. Sementara, Darren bersikap biasa sambil merapikan kotak obat. Setelahnya, tatapan pria itu mengarah kepada sang tamubyang tak lain adalah Kakek William.“Ada perlu apa Kakek ke sini?”“Kenapa? Tak bolehkah Kakek mengunjungi cucunya?” tanya Kakek William balik sambil terkekeh saat melihat Eleanor salah tingkah di depan kompor. “Oh, apakah Kakek harus menghubungi dulu sebelum ke sini? Takutnya hal seperti tadi terjadi lagi?”Eleanor menunduk dalam sambil memejamkan mata mendengar celoteh Kakek William. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus sekarang. Berulang kali dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum mengambil cangkir dan membuat teh hangat. Lalu, menghidangkannya kepada pria dengan rambut keperakan itu.“Terima kasih, Elea. Duduklah! Ada yang mau Kakek tanyakan padamu.”Eleanor menurut. Dia segera menarik kursi yang ada di samping sang suami sebelum mengempaskan bobo

    Last Updated : 2025-03-05
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Rasa yang Menyesakkan

    Eleanor setengah berlari memasuki sebuah ruangan begitu sampai. Dia mengedarkan pandangan sebelum berjalan tergesa-gesa ke sudut ruangan di mana seorang pria sedang ditemani dua orang wanita.“Ayah enggak apa-apa?” tanya Eleanor begitu sampai. Dia hendak memeluk Danu, tetapi Helena segera menyeretnya keluar ruangan.“Masih berani kamu ke sini, Elea? Ayah kamu begini gara-gara kamu!”“Maksud Mama apa? Kenapa gara-gara aku?”Helena mendengkus kesal sebelum menatap tajam sang anak tirinya. “Bukannya kamu disuruh minta maaf tadi? Kenapa enggak kamu lakukan?”Helena merasa dibatas awan melihat kedua mata Eleanor memerah karena menahan tangis. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu tersenyum sinis sebelum melanjutkan ucapannya. “Kerjaan Ayah kamu sudah banyak, ditambah kamu yang membangkang sekarang. Jadinya kepikiran dan kurang fokus mengemudi. Untung saja mobilnya cuma masuk parit, coba kalau lebih fatal lagi. Apa enggak menyesal kamu, Elea?”“Cukup, M

    Last Updated : 2025-03-06
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Pesta Pernikahan Agatha

    Lima hari pasca dirawat, Danu sudah diperbolehkan pulang. Bertepatan dengan itu, dia disibukkan dengan pesta pernikahan antara Agatha dengan Alden. Kaki yang masih dibalut perban menyebabkannya hanya bisa duduk sambil memperhatikan sekitar. Senyum tak pernah lepas dari bibir pria itu saat para tamu yang datang mengucapkan selamat. Tak berselang lama, rombongan keluarga besar Wijaya memasuki ruangan. Tampak Alden diapit oleh kedua orang tuanya, Roni dan Erina. Di belakang mereka ada Kakek William yang menggenggam erat tongkat di tangan kanannya. Lalu, di barisan paling belakang ada Eleanor yang menggamit lengan suaminya, Darren. Danu menatap lekat Eleanor yang memilih duduk di barisan paling depan bersama para tamu. Ada setitik bahagia di hati kala melihat sang anak tersenyum sumringah. Lima menit berselang, Helena memasuki ruangan sambil menggandeng Agatha yang berbalut kebaya putih. Riasan wanita itu tampak lebih tegas dengan pemilihan lipstik berwarna merah terang. Senyum tak p

    Last Updated : 2025-03-07
  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Rencana Agatha

    “Apa maksud kamu, Alden? Pisah? “ Agatha menatap penuh tanya pria yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya. Namun, bukan jawaban yang didapat, melainkan kepergian Alden. Agatha berang. Dia berdecak marah sebelum menyusul suaminya. “Mau ke mana kamu, Sayang?” tanya Agatha berusaha meredam emosinya. Senyumnya tersumir samar di bibir sambil berusaha memegang lengan Alden. “Bukan urusan kamu. Aku tidak mau satu kamar denganmu.” Alden menepis kasar tangan Agatha sebelum memutar gagang pintu. Namun, belum sampai pintu terbuka, Agatha kembali berkata. “Apa kamu lupa dengan ucapan Kakek William, Sayang? Apa perlu aku ingatkan sekarang?” Alden menarik tangannya dari gagang pintu dan menghela napas berat. Dia menunduk dalam sambil mengepalkan tangan. Lalu, memejamkan mata sebelum menyugar rambutnya kasar. Sementara di belakang, Agatha tersenyum puas karena usahanya berhasil untuk mencegah kepergian suaminya. Dia memegang lengan Alden dan membawanya duduj di tepi ranjang.

    Last Updated : 2025-03-08

Latest chapter

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   34

    Darren menggoyangkan tangan beberapa kali untuk mengusir kebas karena terlalu lama digenggam oleh Eleanor. Berulang kali dia mencoba untuk pergi, tetapi wanita itu selalu saja berhasil menahan dengan menggenggam jemarinya erat. Akhirnya pria itu pasrah dan baru bisa terlepas ketika sang istri benar-benar pulas tertidur.Pria itu lantas berjalan menuju balkon dan bersandar pada pagar besi sambil membelakangi kamar. Siang yang cerah mendadak gelap karena dipenuhi awan kelabu.“Sepertinya sebentar lagi hujan.”Darren segera mengambil ponsel saat mendengarnya berdering. Melihat nama yang tertera di layar, dia mengernyit heran sebelum menekan tombol berwarna hijau.“Iya, Pak. Ada apa?” Darren mendengarkan orang di ujung telepon berbicara beberapa saat sebelum membuka suara. “Berikan saja nomor yang satunya.”Darren segera memutus panggilan sebelum berbalik dan menatap Eleanor yang masih terlelap. Dia pun beranjak keluar kamar menuju ruang kerjanya. Pria itu duduk di kursi dan membuka

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Kembali ke Tujuan Awal

    Darren menghela napas panjang saat mendengar permintaan istrinya. Dia kembali melirik jam di pergelangan tangan kirinya sebelum menatap Eleanor. Pria itu kembali menghela napas panjang sebelum duduk di tepi ranjang.Eleanor tersenyum lebar kala permintaannya dikabulkan. Dia segera melepaskan tangan sang suami dan beringsut duduk.“Apa kamu marah?” tanya Eleanor sambil menelisik raut wajah sang suami. “Maaf, aku hanya tidak ingin sendirian setelah kejadian kemarin. Tapi kalau urusanmu lebih ....”“Tidurlah! Aku tidak akan ke mana-mana.”Eleanor kembali merebah sebelum berusaha untuk memejamkan mata. Tak berselang lama, wanita itu sudah tunduk pada kantuk. Sementara itu, Darren terus menatap lekat wajah sang istri hingga mengabaikan satu janji penting dengan seseorang. Dia terlena dengan wajah teduh wanita yang terbaring di ranjangnya. Tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi bersemu merah milik Eleanor sebelum menyematkan kecupan di dahinya.Darren hendak beranjak, tetapi tangan El

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   31

    Agatha menatap pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum tipis. Lalu, mengalihkan tatapan kepada pria yang masih terlelap di ranjang. Tangannya terulur untuk mengusap perutnya sebelum bangkit dari duduk dan menghampiri Kevin.“Kevin, bangun! Aku harus pergi sekarang juga!”Kevin menggeliat pelan sebelum membuka mata, kemudian duduk dan tersenyum melihat Agatha sudah rapi. Dia lantas bangkit dan berjalan ke kamar mandi tanpa risih Agatha melihatnya dalam keadaan tanpa busana.Usai mandi dan berpakaian, Kevin mengambil kunci mobil dan menggandeng Agatha keluar kamar. Mereka berjalan menuju resepsionis sebelum memberikan laporan akan keluar hotel malam itu. “Terima kasih buat malam ini, Kevin. Untuk sementara kita jangan ketemu dulu.”“Kenapa, Sayang? Terus bagaimana kalau aku kangen nanti.”Agatha tersenyum mendengar ucapan Kevin. Lalu, mengusap lembut pipi pria yang duduk di balik kemudi itu.“Aku hanya tidak mau Alden curiga.” Agatha masih mengulas senyum sambil menurunkan t

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Mengulang Kembali

    Eleanor terkejut melihat kaca tempat foto yang terpajang di nakas pecah usai terjatuh karena ulahnya. Dia segera berjongkok dan berusaha untuk mengambil benda itu, tetapi tangannya langsung ditahan seseorang. Wanita itu langsung mendongak dan terkejut melihat sang suami.“Ma-maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Ini salahku, nanti akan aku ....”“Lupakan! Memangnya kamu mau ke mana lagi?”Darren menghela napas panjang sebelum mengangkat Eleanor dan membaringkannya ke ranjang. Lalu, mengambil foto tadi dan menaruhnya ke nakas sebelum keluar kamar dan kembali sambil membawa sapu. Tanpa bicara, pria itu membersihkan sisa pecahan kaca dan membawanya keluar.Sementara itu, Eleanor merasa sangat bersalah. Dia menatap hampa foto yang tergeletak asal di nakas sebelum menunduk sambil meremas jemarinya. Mendengar suara langkah mendekat, dia mendongak dan bersitatap dengan sang suami.“Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak ....”“Aku bilang lupakan! Itu hanya sebuah foto, yang terpenting kam

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Setulus Perhatian

    “Aku juga tidak tahu. Aku ingat plat nomor mobilnya dan aku yakin itu adalah Alden. Tapi waktu aku mau mendekat, dia malah tancap gas.” Darren mendengkus kesal mendengar ucapan istrinya. Dia menggeretakkan gigi karena menahan amarah. Melihat itu, Eleanor segera mengusap lembut lengan suaminya. “Mungkin dia hanya iseng, jangan dimasukkan ke hati, ya?” Eleanor tersenyum manis, berusaha untuk meredam amarah suaminya. Lalu, saat menyadari tindakannya, dia segera menarik kembali tangannya. “Maaf, aku hanya spontan tadi.” Darren menghela napas panjang sebelum bangkit dari duduk. Namun, saat hendak berlalu, suara Eleanor berhasil menahannya. “Sarapan sudah siap. Sebaiknya segera makan sekarang sebelum dingin dan tidak enak lagi.” Darren mengangguk dan menunggu Eleanor bangkit dari duduk. Meskipun kesakitan, wanita itu tetap memaksakan diri untuk berjalan. Eleanor berjalan lebih dulu, sedangkan Darren di belakangnya sambil diam-diam mengamati. Saat tiba di meja makan, senyum

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Dosa Terindah

    Agatha terjaga ketika ingin berkemih. Dia berusaha untuk bangun, tetapi tangan kekar seseorang melingkari perutnya. Dia menoleh dan mendapati Kevin masih tertidur pulas di sampingnya. Tangan wanita itu terulur untuk mengusap lembut pipi sang pria sebelum memindahkan tangan dari perutnya. Perlahan Agatha bangkit dan hendak turun dari ranjang, tetapi Kevin mencekal pergelangan tangannya. “Mau ke mana, Sayang?” “Aku harus ke kamar mandi, Kevin.” “Jangan lama-lama. Aku masih menginginkanmu.” Agatha tersenyum manis sebelum bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Dia sama sekali tak merasa risih meskipun Kevin menatapnya lekat. Lekuk tubuh wanita itu sudah membuat Kevin mabuk kepayang dan ingin kembali mengulang indahnya dosa beberapa jam yang lalu. Saat Agatha keluar kamar mandi, Kevin langsung duduk dan mengulurkan tangan. Senyum lebarnya tersumir di bibir kala sang wanita setengah berlari dan menerjangnya hingga terjengkang di ranjang. “Mau lagi?” tanya Agat

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Hati Yang Terluka

    Alden tersentak mendengar peringatan yang diucapkan Darren. Kedua matanya langsung menatap lekat ponsel yang tergeletak di depannya. Dahinya berkerut dalam sebagai pertanda bahwa dia sedang berpikir keras.“Jangan berpura-pura lagi, Alden! Aku tahu kamu menyuruhnya untuk memata-matai Elea.”Alden mengalihkan tatapan dari ponsel di depannya kepada Darren. Tahu ke mana arah pembicaraan pria itu, Alden mendengkus kesal. Lalu, menyandarkan punggung sambil menatap penuh ejekan kepada sepupunya.“Kalau iya kenapa?” Alden tersenyum miring sebelum bangkit dari duduk dan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku akan merebutnya kembali darimu, Darren. Lihat saja nanti.”Darren mendengkus kesal sebelum berbalik dan hendak berlalu, tetapi suara Alden berhasil membuat langkahnya terhenti.“Kamu tak akan berhasil mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Darren!”Darren mengepalkan kedua tangannya sebelum segera pergi meninggalkan ruangan. Tidak ada gunanya juga meladeni semua omong kosong

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Sebuah Peringatan

    Eleanor tersenyum tipis setelah memasang sabuk pengaman, kemudian melirik sang suami sekilas sebelum menatap jalanan. Sementara, Darren perlahan mulai melajukan mobil meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan, hanya suara musik yang terdengar memenuhi kabin.“Kamu senang, Elea?”Eleanor menoleh saat mendengar suara suaminya. Dia tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya, dia kembali menatap jalanan.“Ehm, bukankah ini urusan bisnismu, apa tidak apa-apa jika aku ikut?”Darren melirik sang istri sekilas sebelum kembali fokus menatap jalanan. “Aku lebih tenang jika kamu ikut bersamaku. Dan ... anggap saja ini liburan.”Eleanor kembali tersenyum mendengar jawaban suaminya. Lalu, menikmati musik sambil sesekali ikut bersenandung. Sementara di sebelahnya, Darren memperhatikan sambil tersenyum.Hampir dua jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Darren sampai di hotel yang dituju. Keduanya turun di lobi sebelum melangkah menuju resepsionis. Lalu, berjalan menuj

  • Suami Penggantiku Bukan Pria Buruk Rupa   Merindukannya

    Eleanor mengerjap pelan kala suara alarm menyapa rungu. Dia meraba untuk mencari ponsel dan segera mematikan alarm. Lalu, beringsut duduk dan menggeliat sejenak sebelum mengedarkan pandangan. “Selamat pagi, Eleanor,” ucap Eleanor pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Lalu, mengangkat kedua tangan ke atas dan meregangkan otot. Masih teringat jelas dalam benak kejadian semalam saat Darren memintanya untuk tinggal sejenak di dapur. Wanita itu bergeming sambil menatap tangan sang suami sebelum beralih untuk menatap wajahnya. Aura dingin yang biasanya hinggap berganti dengan kesedihan. Entah apa yang sudah terjadi, yang pasti Darren sedang tidak baik-baik saja. Maka Eleanor memutuskan untuk berdiam diri dan menunggu apa yang akan dilakukan suaminya. Sekian menit berlalu, Darren hanya bungkam sehingga membuat Eleanor mengernyit heran. “Ada yang mau kamu sampaikan?” “Lupakan. Tidurlah!” Darren kembali seperti biasa. Dingin dan misterius sehingga membuat Eleanor menghela napas

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status