Selesai mandi dan berganti pakaian, Dirga turun dan berjalan menuju ruang makan, perutnya lapar sedari tadi dan minta di isi.
Dirga langsung menghenyakkan bobotnya di kursi makan dan menatap menu masakan yang di olah oleh Cahaya, mantan istrinya. Matanya memindai sekitar mencari keberadaan Cahaya, akan tetapi tidak ia temukan, "ck, kemana sih wanita itu," gerutu Dirga yang kemudian membalik piring yang tadinya tengkurap. "Cahayaaa!!" Dirga akhirnya berteriak memanggil mantan istrinya, dengan tergopoh gopoh Cahaya datang dan langsung menunduk. "Ya, Tuan," jawabnya masih dengan menunduk, "temani aku makan," titahnya yang langsung di jawab gelengan oleh Cahaya. "Kenapa?" Dirga mendesis marah karena penolakan mantan istrinya tangannya yang berada di atas meja terkepal kuat, 'karena dulu ibu anda selalu melarang saya makan bersama dengan suami saya, dan sampai saat ini saya tidak berani makan bersama anda,' sayang jawaban itu hanya terucap di dalam hati Cahaya. "Saya masih banyak pekerjaan di dapur," akhirnya alasan itu yang ia keluarkan, Dirga berdecih tidak percaya. "Duduk dan makan," suara Dirga yang dingin menginterupsi, "tapi, Tuan-" Brrakk, pyyarr. Suara meja di gebrak dan piring terlempar membuat Cahaya terjengit kaget. Namun, dirinya berusaha tetap tenang walau dalam hati dirinya benar benar ketakutan, takut jika mantan suaminya berbuat yang lebih, memukul misal, walau ia tahu itu tidak mungkin terjadi. Cahaya tahu, suaminya tidak suka bermain tangan atau memukul dirinya. Hanya saja jika marah selalu melempar dan membanting sesuatu yang berada di dalam jangkauan tangannya. "Bereskan," kata Dirga dingin yang kemudian melangkah ke dapur mengambil piring dan kembali duduk di kursi dimana dirinya tadi duduk. Cahaya mengambil sapu juga penyerok sampah, lalu menyapu piring mahal yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian. Cahaya harus hati hati juga teliti, jika tidak nanti salah-salah kakinya atau kaki mantan suaminya terkena sisa pecahan kaca yang lembut. Dirga mengambil nasi serta sayur juga lauk lalu menyuapkan sendok berisi nasi dan sayur itu kedalam mulutnya, kemudian menggigit tahu yang di goreng kering sesuai kesukaannya, netranya melirik mantan istrinya yang tengah membersihkan pecahan piring itu dengan menyapunya. Di pandanginya tubuh wanita yang menjadi mantan istrinya yang kini memakai daster panjang menutupi lututnya, tubuh itu terlihat lebih berisi dari pada beberapa tahun lalu saat wanita itu menjadi istrinya. 'Apa dia bahagia lepas dariku, apa selingkuhannya bisa membuat dia bahagia, tapi jika dia bahagia kenapa dia bekerja jadi asisten rumah tangga?' Lagi, beribu pertanyaan tertanam di tempurung kepalanya. Dirga mulai acuh dan melanjutkan makan malamnya ketika dering ponselnya yang berada di kamarnya berbunyi, hingga beberapa detik berhenti kemudian berbunyi lagi. Cahaya yang sedang membuang pecahan piring itu sempat melirik kearah mantan suaminya, keningnya mengkerut heran, biasanya jika ada yang menghubungi dirinya, lelaki itu langsung mengangkat nya. Tapi, kenapa ini hanya di biarkan, gumam Cahaya dalam hati yang penuh dengan rasa penasaran. Cahaya terjengit kala dering telepon rumah berbunyi, dengan cepat ia berjalan kesana, "mbak Siti, bilang ke tuanmu kalau aku telepon. Memang lagi apa sih dia, kok telepon dari ku nggak di angkat," Cahaya langsung meletakkan gagang telepon itu di atas meja dengan posisi tengkurap tanpa bersuara, lalu menyeret kakinya menuju ruang makan di mana Dirga sudah menyelesaikan ritual makan malamnya dan sedang berdiri lalu melempar tissu yang tadi ia pakai untuk mengelap mulutnya. "Aku sudah selesai makan, kamu kalau mau makan, makan saja kalau ngga mau terserah," ucap Dirga dingin, Cahaya langsung mengangguk. "Nona Tiara menelepon, Tuan," kaki Dirga yang hendak melangkah menaiki anak tangga seketika terhenti, kepalanya memutar lalu matanya memincing. Ada rasa kesal saat wanita ini memanggil dirinya dengan panggilan 'Tuan'. Dengan langkah malas, Dirga menyeret kakinya kearah ruang tamu di mana dirinya memasang telepon rumah sejak rumah ini di bangun, sedang Cahaya entah pergi kemana. "Ada apa?" tanya Dirga dingin, "Kak, aku rindu," suara wanita yang bernama Tiara terdengar mendayu-dayu, Dirga memutar bola mata jengah. Dirga sudah tidak fokus pada Tiara yang sedang berceloteh di seberang sana, kini netranya menangkap tingkah mencurigakan dari mantan istrinya. Wanita itu memasukkan tangan kanannya ke kantong daster, sedang tangan kirinya melipat daster yang menghubungkan dengan kantong itu, seakan akan menutupi isi kantong daster tersebut. "Aku lelah, aku mau istirahat dulu," Dirga segera menutup sambungan telepon itu tanpa mendengar jawaban dari seberang, melepas sandal rumahan yang ia pakai lalu berjalan berjinjit agar tidak terdengar oleh Cahaya. Cahaya: "Iya sayang, malam ini tidak pulang," Penelepon:"-" Cahaya: "besok coba kalau bisa, kalau ngga bisa nanti dikabari kapan bisa ketemunya," Penelepon:"-" Cahaya: "iya, iya, maaf ya, Sayang. Jangan lupa makan dan istirahat," Penelepon: "-" Cahaya: "i Love You too, and i love you more, muuacch," Penelepon: "-" Sambungan telepon akhirnya terputus, Cahaya tersenyum melihat foto seseorang yang menjadi penyemangatnya ia jadikan wallpaper. Dirga yang mendengarkan dengan menempelkan daun telinganya pada daun pintu membuat tangannya terkepal kuat, hingga buku jarinya memutih. Ingin sekali Dirga mencaci wanita yang kini menjadi mantan istrinya, tapi harus dia tahan karena ingin mengetahui apa motif wanita ini kembali dan menjadi asisten rumah tangga di sini. Dirga segera meninggalkan kamar pembantu yang Cahaya tempati, wanita itu memilih tidur di bawah karena dirinya kini hanya menjadi asisten rumah tangga dari seorang Dirgantara Bagaskara. "Baru sehari, Aya, masih ada 30 hari lagi untuk membawa lelaki itu ke hadapannya," gumam Cahaya menyemangati dan meyakinkan dirinya sendiri, tangannya mengepal lalu terangkat ke udara. "Semangat, Aya," katanya yang kemudian keluar dan membereskan sisa makanan Dirga. Cahaya sudah di beritahu Mbak Siti jika memasak untuk makan malam cukup untuk Dirga dan dirinya. *** Di tempat lain, "jangan harap kau bisa membawa laki-laki itu kehadapannya lalu kalian kembali bersama, kau hanya milikku, Cahaya," desis lelaki yang memiliki rambut panjang dan selalu ia kuncir itu, kini menatap foto Cahaya yang ia curi kemudian ia cetak dalam ukuran besar dan ia bingai lalu dijadikan pajangan sebagai pelepas rindu, walau rasa rindu itu tetap ada untuk mantan istri adik iparnya. Gilang Bagaskara, kakak kandung dari Dirgantara Bagaskara yang juga tergila-gila pada sosok Cahaya Prameswari, dan akan terus berbuat apa saja agar mereka, Dirga-Cahaya berpisah untuk selamanya, sehingga ia bisa memiliki Cahaya sepenuhnya. Termasuk menjebak Cahaya agar seolah-olah pernah tidur dengan dirinya dalam satu selimut, dan Dirga percaya akan tipu muslihat yang kakaknya ciptakan itu.Pagi harinya, "aku harus meminta izin pada Tuan Dirga hari ini untuk bertemu dengannya," gumam Cahaya, tangannya sibuk memotong wortel yang akan ia olah nanti bersama kembang kol menjadi sayur sop."Apa dia juga mau ya? Ah, nanti selepas meminta izin aku akan membungkuskan sedikit sayur sop bakso kesukaan nya," lagi, Cahaya bergumam sembari tersenyum mengingat seseorang yang memiliki makanan kesukaan, memiliki kebiasaan yang sama dengan mantan suaminya.Di dalam kamar, "hari ini kamu tidak akan bisa bertemu dengan orang yang sudah membuat janji denganmu, karena hari ini aku akan membuatmu sibuk seharian denganku," Dirga menyeringai membayangkan wajah kecewa dua orang yang sudah membuatnya marah dan kecewa.Dirga keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga, tubuhnya membawa langkah kakinya menuju dapur karena sepagi ini Dirga yakin jika wanita itu pasti sedang ada di sana, seperti kebiasaannya dulu, selalu memasakkan sarapan untuk dirinya. Walau memiliki asisten rumah tangga,
Cahaya menolehkan kepalanya ke depan dan ke belakang mencari keberadaan Dirga, tidak mendapati keberadaan Dirga, Cahaya segera mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar.(Kami melihatmu di swalayan ini, bisa bertemu di sini saja?) bunyi pesan yang Cahaya terima, Cahaya menolehkan kembali kepalanya dan tidak mendapati seseorang.(Di mana?) tanyanya lewat pesan balasan.(Kami di foodcourt) balasan pesan yang masuk, Cahaya mendesah gusar, mereka baru saja sarapan, masa harus beralasan lapar lagi agar Dirga mau masuk ke sana.Cahaya mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuknya, perempuan itu tampak sedang berpikir bagaimana dan alasan apa yang harus dia pakai."Bagaimana ini???" Cahaya membenturkan-mbenturkan pelan keningnya pada lengannya yang ia taruh di atas troli, Dirga yang melihat mantan istrinya terlihat gelisah, akhirnya tersenyum miring."Bingung mikir caranya bertemu?" seringai kecil muncul di bibirnya, kemudian dengan langkah percaya diri Dirga menghampiri Cahaya yang tengah mem
"Mama, Tasya mau sama mama juga papa," gadis kecil itu merengek dan berusaha mengangkat kepalanya dan menoleh pada mama juga papanya."Tasya anak pinter, pulang ya, kasihan si mbaknya thu," Cahaya menciumi kepala bagian belakang Anatasya, "Tasya mau sama papa," tangan kecil dan gemuk itu mencoba meraih bahu kokoh Dirga, namun dengan cepat Cahaya menekuknya dan menyembunyikan tangan itu di ketiak pengasuhnya."Nyonya, Tuan, kami pulang dulu," pamit sang pengasuh, yang di angguki oleh keduanya, "mbak tunggu," Cahaya memanggil mbak Sri kemudian mendekat dan menyerahkan tas plastik hitam yang berisi sop yang dia olah tadi dari dalam tas slempangnya, mata Dirga memincing menatap heran pada mantan istrinya.Dirga tercengang saat dari kejauhan netranya melihat wajah Tasya, mata itu, wajah itu, sepertinya dia familiar. Tapi wajah siapa? Tiba tiba tempurung kepalanya di penuhi pertanyaan siapa gadis kecil itu, kenapa dia mirip seseorang yang pernah dia lihat."Tuan," Dirga tersentak lalu menol
Merasa di tanyai, Dirga yang tadinya menunduk sambil mendorong kursi roda sang ibunya duduki lalu mendongak dan menatap tajam Tiara, "memangnya kenapa?" tanya Dirga dengan dingin, Tiara cemberut mendengar ucapan Dirga yang tidak menjawab pertanyaannya tadi lalu menghentakkan kaki kesal. Sudah hampir 7 tahun mengenal Dirga, tak lantas bisa membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Malah lelaki itu cinta mati dengan wanita lain, sakit, kesal, marah rasanya.Namun, dirinya tidak bisa memaksa rasa cinta yang sama dari Dirga untuk dirinya. Semenjak kepergian mantan istrinya, Tiara merasa sikap Dirga semakin dingin dan cuek."Sejak kapan Cahaya ada di sini? Dan kenapa dia bisa ada di sini?" tanya ibu Dirga dengan terbata-bata, karena menderita stroke dan tidak bisa melakukan apapun sendiri, dan cara bicaranya pun tidak jelas."Dia menggantikan mbak Siti, katanya anaknya nikah," sahut Dirga yang memahami ucapan ibunya walau cedal dan tidak begitu jelas, "dia sendiri saja?" kening Dirga mengern
"Kapan kau kembali?" Arya bertanya sembari menatap wajah manis dihadapannya, tangan kirinya memegang rahang Cahaya, sedang tangan sebelah kiri memberi salep pereda perih. Arya tahu, walau luka itu tidak dalam dan lebar, pasti itu terasa sakit dan perih saat mandi nanti. "Memang saya dari mana?" Cahaya bertanya sok polos, Arya tertawa melihat ekpresi wanita di hadapannya. "Nggak nyadar udah ilang hampir bertahun-tahun?" tanya Arya sembari melirik kearah sahabatnya yang tengah menatap kearah mereka berdua, Cahaya terkekeh mendengar pertanyaan Arya. "Anda kehilangan saya?" tanya Cahaya tanpa bermaksud menggoda, tapi di telinga Dirga itu seperti sebuah godaan dan rayuan yang wanita itu tujukan untuk sahabatnya. "Oya, bukankah beberapa hari sebelum kau pergi, kau pergi ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Arya ingat benar, waktu itu beberapa tahun yang lalu dirinya pernah melihat Cahaya masuk kerumah sakit tempatnya magang, dan saat hendak mengejar ia kehilangan jejak Cahaya. Dan sek
Dirga segera berlari keluar, netranya mendapati Cahaya yang tengah kesulitan saat menaiki anak tangga, Dirga berdecak kesal. "Kenapa ngga lewat lift aja, Ay!?" desis Dirga tanpa sadar memanggil nama panggilan kesayangannya hanya untuk Cahaya, desisan yang terdengar antara geram bercampur kesal yang bisa di dengar Cahaya, wanita itu menggaruk keningnya sambil meringis. Di rumah Dirga walau hanya memiliki 3 lantai, lelaki itu memang sengaja memasang lift, agar mempermudah Cahaya naik dan turun saat dari bepergian menuju ke kamar saat kelelahan atau saat keberatan membawa barang yang berat. Dan semenjak mamanya duduk di kursi roda, lift itu sangat membantu. Cahaya kembali turun dan menekan tombol lift itu agar terbuka, setelah terbuka, Cahaya segera masuk. Pintu lift terbuka dan Cahaya segera keluar dan berjalan menuju kamar mantan mertuanya, di sana sudah ada Tiara dan Dirga yang tengah menolong mamanya Dirga. "Kau itu, lambat sekali?!" ketus Tiara, menekuk kedua tangannya di pi
Sesampainya di kamar, Dirga menghubungi salah satu asisten kepercayaannya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan segera memencet nomer dia tuju. Hanya menunggu satu dering saja dan.... "Halo, selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten, "Roni, apa kamu masih ingat dengan istri saya, Nyonya Cahaya?" tanya Dirga. "Masih, Tuan. Dan dari kabar yang saya dengar, beliau sudah kembali dari luar negeri." Dirga terkejut dengan penuturan asisten pribadinya. "Kamu, masih mengawasinya?" "Tidak sepenuhnya, hanya mendengar dari seseorang jika Nyonya sudah kembali setelah menghilang bertahun tahun," "Kau, tahu tempat tinggalnya sekarang?" tanya Dirga lagi, "tidak, Tuan. Apa anda membutuhkan sekarang?" tanya Roni, asisten pribadi Dirga. "Ya, cari tahu di mana dia tinggal sekarang. Dan... Dengan siapa dia tinggal," setelah Roni mengatakan menyanggupi perintah atasannya, Dirga mengakhiri panggilan tersebut. Setengah jam kemudian, ponsel Dirga berdering. Lelaki itu segera me
Di kantor Dirga. Pintu ruangan lelaki itu diketuk dari luar, "masuk!" Katanya dengan setengah berteriak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berpakaian seksi, "Pak, di luar ada tamu ingin bertemu," ujar wanita itu melaporkan. "Suruh masuk saja," suruh Dirga tanpa menatap sang sekretaris, wanita berpakaian seksi tersebut mengerucutkan bibir. Ternyata, atasannya itu masih saja tidak mau meliriknya. Setelah kepergian wanita itu, pintu kembali terbuka. Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik pun terdengar. "CK, sepertinya adik kesayanganku sedang sibuk. Lihat saja, kakaknya datang bukannya disambut malah diacuhkan," seorang lelaki melangkah mendekat kearah meja kerja Dirga, lalu menarik kursi dan menduduki nya. Dirga mengangkat wajah sebentar hanya untuk memastikan siapa yang datang dan kembali fokus pada berkas -berkasnya. Walau dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang tengah bertamu. "Sepertinya, adik kesayanganku ini sibuk sekali? Mau buat apa uangnya?
“Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah
“Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya
Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke
“Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula
Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi
"Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita
Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter
Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu
"Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya