Share

Bab. 5

Author: Yaya Chomel
last update Last Updated: 2025-01-19 15:37:47

"Mama, Tasya mau sama mama juga papa," gadis kecil itu merengek dan berusaha mengangkat kepalanya dan menoleh pada mama juga papanya.

"Tasya anak pinter, pulang ya, kasihan si mbaknya thu," Cahaya menciumi kepala bagian belakang Anatasya, "Tasya mau sama papa," tangan kecil dan gemuk itu mencoba meraih bahu kokoh Dirga, namun dengan cepat Cahaya menekuknya dan menyembunyikan tangan itu di ketiak pengasuhnya.

"Nyonya, Tuan, kami pulang dulu," pamit sang pengasuh, yang di angguki oleh keduanya, "mbak tunggu," Cahaya memanggil mbak Sri kemudian mendekat dan menyerahkan tas plastik hitam yang berisi sop yang dia olah tadi dari dalam tas slempangnya, mata Dirga memincing menatap heran pada mantan istrinya.

Dirga tercengang saat dari kejauhan netranya melihat wajah Tasya, mata itu, wajah itu, sepertinya dia familiar. Tapi wajah siapa? Tiba tiba tempurung kepalanya di penuhi pertanyaan siapa gadis kecil itu, kenapa dia mirip seseorang yang pernah dia lihat.

"Tuan," Dirga tersentak lalu menoleh pada Cahaya yang menatapnya sedikit lebih dekat, "kamu apa-apaan, sih!" hampir saja Dirga mendorong tubuh Cahaya karena terkejut.

Cahaya menarik wajahnya lalu menunduk dan menahan tawa, sungguh menggemaskan mantan suaminya itu. Mirip dengan Tasya jika kaget, matanya yang bulat dengan alis yang tebal dan menukik serta bulu matanya yang panjang, sungguh itu membuat Cahaya betah berlama-lama memandang wajah Dirga.

Dalam perjalanan pulang, Dirga dan Cahaya hanya diam seribu bahasa, mereka diam dengan pemikiran masing-masing.

Sejenak Dirga menarik nafas kasar lalu menghembuskan perlahan, ingatannya masih seputar gadis kecil yang memiliki mata dan wajah familiar, dan sepertinya dia pernah melihat wajah itu. Tapi, di mana?

Tanpa sadar, Dirga memukul kemudi dan menyikut pintu yang berada di sebelahnya, Cahaya yang kaget refleks menoleh, "Mas, kamu kenapa?" tanyanya yang kemudian merubah posisinya menjadi menghadap kearah Dirga.

Saat tatapan mereka bertemu, Cahaya sadar lalu menunduk, "maaf, Tuan," katanya yang kemudian kembali ke posisi semula, membuang pandangan keluar adalah jalan terbaik bagi Cahaya saat ini.

Tadi sebelum mendengar bunyi seperti orang terbentur, Cahaya memikirkan keadaan putrinya, dan dia sangat yakin pasti setelah bertemu dengan Dirga, gadis kecil itu akan selalu merengek.

"Mama, kenapa Tasya ngga punya papa?"

"Mama, kenapa papa Tasya ngga pulang pulang?"

"Mama suruh papa pulang, Tasya pengen di gendong," dan masih banyak rengekan serta pertanyaan gadis kecil itu dan membuatnya bingung untuk menjawab. Dan karena itu kini ia berada di sini dan ingin membuktikan dia tidak bersalah dan tidak pernah selingkuh. Setelah meminta mbak Siti pulang kampung terlebih dahulu dan dia menggantikan sementara. Walau mbak Siti pulang kampung dan tidak bekerja, wanita itu akan tetap mendapat bayaran seperti biasa.

Dirga berpikir dan sedikit senang hari ini karena bisa menggagalkan pertemuan mantan istrinya dengan kakak lelakinya yang ia duga selingkuh.

"Tadi asisten mama telepon, katanya dia sudah sampai di rumah. Aku harap kau bisa bekerja dengan baik, dan rawat mamaku selama dia di sana," dengan dingin dan nada memerintah Dirga berbicara, sedang Cahaya hanya mengangguk tanpa memandang kearah Dirga yang sedang mencuri pandang kearah dirinya.

"Dengar apa yang aku katakan!!" Dirga berteriak kesal, kesal karena merasa tidak di perhatian, Cahaya akhirnya menoleh, mengangguk dan menjawab, "iya dengar, Tuan," dengan nada biasa walau hatinya kesal, dan di indera pendengaran Dirga jawaban Cahaya seperti mengejek.

"Baru satu hari sudah bosan menggantikan mbak Siti?" kata Dirga yang bermaksud menyindir. Tapi, Dirga kembali kesal karena sepertinya Cahaya berpura pura tidak mendengar ocehannya.

"Oya, tadi anak kecil itu kamu kasih apa?" Dirga ingat tadi Cahaya menyerahkan plastik hitam yang entah isinya apa, Cahaya yang merasa di tanya menoleh sebentar lalu menatap kedepan.

"Hanya cokelat, saya 'kan begitu, kalau sedang sedih atau menangis pasti makan cokelat agar hati saya baikan, begitu juga anak itu. Semoga setelah makan cokelat yang saya beri, sedih di hatinya berganti dengan kebahagiaan," hati Dirga mencelos mendengar ucapan wanita di sampingnya yang seakan mengingatkan masalalu mereka, sebenarnya Cahaya tidak suka makan cokelat.

"Makanlah cokelat ini, kata orang, jika sedang sedih dan makan cokelat ini akan kembali bahagia, karena ada kandungan bahan yang membuat yang memakannya merasa senang dan kembali bahagia," kata Dirga dulu saat pertama kali bertemu dengan Cahaya yang sedang menangis, bukannya tertawa Cahaya semakin memangis mendengar selorohan lelaki yang baru ia kenal itu.

Berniat menghibur memang, tapi, dia menghindari cokelat karena berat badannya yang dulu terus meningkat dan membuat mantan pacarnya dulu mengejeknya dan akhirnya Cahaya diet, karena kebablasan akhirnya kini dia kurus dan pacarnya semakin mengejek, "apa kau tidak bisa mempunyai tubuh seksi? Perempuan kok punya badan selain gemuk trus kurus? Sudahlah, malas aku berpacaran dengan cewek kurus kaya kamu," gerutu dan protes mantan pacar Cahaya dulu yang membuat ia menangis dan malah mempertemukan dirinya dan Dirga.

Karena sering bertemu dan ada ketertarikan akhirnya muncullah rasa pada keduanya yang pada akhirnya Dirga menyatakan perasaannya dan di sambut oleh Cahaya. Setelah berpacaran selama setahun, mereka memutuskan menikah.

Perbedaan status keluarga membuat mama dari Dirga tidak menyukai dan tidak menyetujui pernikahan itu, dan mama Dirga malah sering menjodohkan Dirga dan Tiara, anak dari rekan bisnis suaminya.

Hingga suatu hari puncaknya mama Dirga datang dan menyuruhnya menanda tangani surat gugatan cerai, saat itu Cahaya yang sedang hamil muda menolak dengan dalih mencintai Dirga dan anaknya membutuhkan ayahnya.

Karena penolakan itu, ibu mertua Cahaya selalu menindas dan berkata yang sering menyakiti hati Cahaya, "dasar perempuan miskin, bisanya menegadahkan tangan saja pada suami, bisanya memeras uang kerja suami, apa kamu tidak kasihan pada anakku? Andai Dirga menikah dengan Tiara yang sederajat, pasti hidupnya akan selalu bergelimang harta dan bahagia. Dan kenapa kau dan anak yang berada di perutmu itu tidak mati saja, biar Dirga bisa menikah dengan Tiara," saat itu Cahaya yang penakut dan penurut hanya bisa diam dan menangis dalam diam, tidak berani menceritakan semua pada lelaki yang berstatus suaminya. Walau Cahaya tahu Dirga akan membela dirinya, hingga akhirnya ia meminta izin pada Dirga untuk bekerja.

"Uang yang aku berikan kurang sehingga kamu pengen kerja?" tanya Dirga kala itu saat mendapati dirinya tengah meminta izin, dengan alasan bosan di rumah dan ingin melihat dunia akhirnya Dirga mengizinkan.

Dan dunianya mulai hancur saat mantan kakak iparnya mencoba menggodanya, hingga menyatakan perasaannya dan berakhir pada penjebakan dan perpisahan yang saat itu di mana Dirga mengucapkan kata talak dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.

Dan setelah surat cerai itu turun, Cahaya memilih menghilang. Lalu membesarkan dan merawat janin yang kian hari tumbuh tanpa ayahnya ketahui.

Mengingat itu hati Cahaya menjadi sedih kembali, "turun!!" Cahaya tersentak kaget karena Dirga berkata seperti sedang berteriak, Cahaya menatap sekitar dan ternyata mereka sudah sampai.

Saat Cahaya keluar dari mobil, pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah wanita paruh baya sedang duduk di atas kursi roda, dan di sampingnya berdiri seorang perempuan seumuran dengan dirinya sedang memegangi kursi roda itu.

Dirga keluar dari mobilnya setelah mematikan mesin mobil itu, membuka pintu, berlari sambil merogoh kunci cadangan yang selalu ia bawa dan segera membuka pintu rumah, sedang Cahaya memilih menurunkan semua belanjaan yang tadi ia dan Dirga beli. saat menunduk dan mengambil barang-barang itu, ekor mata Cahaya tidak sengaja menangkap mantan mertuanya sedang menatap dirinya.

"Mas, kok dia ada di sini, sih?" tanya Tiara berbisik sambil menunjuk Cahaya yang sudah berjalan masuk, kedua tangannya menenteng kantong plastik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 6

    Merasa di tanyai, Dirga yang tadinya menunduk sambil mendorong kursi roda sang ibunya duduki lalu mendongak dan menatap tajam Tiara, "memangnya kenapa?" tanya Dirga dengan dingin, Tiara cemberut mendengar ucapan Dirga yang tidak menjawab pertanyaannya tadi lalu menghentakkan kaki kesal. Sudah hampir 7 tahun mengenal Dirga, tak lantas bisa membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Malah lelaki itu cinta mati dengan wanita lain, sakit, kesal, marah rasanya.Namun, dirinya tidak bisa memaksa rasa cinta yang sama dari Dirga untuk dirinya. Semenjak kepergian mantan istrinya, Tiara merasa sikap Dirga semakin dingin dan cuek."Sejak kapan Cahaya ada di sini? Dan kenapa dia bisa ada di sini?" tanya ibu Dirga dengan terbata-bata, karena menderita stroke dan tidak bisa melakukan apapun sendiri, dan cara bicaranya pun tidak jelas."Dia menggantikan mbak Siti, katanya anaknya nikah," sahut Dirga yang memahami ucapan ibunya walau cedal dan tidak begitu jelas, "dia sendiri saja?" kening Dirga mengern

    Last Updated : 2025-03-05
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 7

    "Kapan kau kembali?" Arya bertanya sembari menatap wajah manis dihadapannya, tangan kirinya memegang rahang Cahaya, sedang tangan sebelah kiri memberi salep pereda perih. Arya tahu, walau luka itu tidak dalam dan lebar, pasti itu terasa sakit dan perih saat mandi nanti. "Memang saya dari mana?" Cahaya bertanya sok polos, Arya tertawa melihat ekpresi wanita di hadapannya. "Nggak nyadar udah ilang hampir bertahun-tahun?" tanya Arya sembari melirik kearah sahabatnya yang tengah menatap kearah mereka berdua, Cahaya terkekeh mendengar pertanyaan Arya. "Anda kehilangan saya?" tanya Cahaya tanpa bermaksud menggoda, tapi di telinga Dirga itu seperti sebuah godaan dan rayuan yang wanita itu tujukan untuk sahabatnya. "Oya, bukankah beberapa hari sebelum kau pergi, kau pergi ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Arya ingat benar, waktu itu beberapa tahun yang lalu dirinya pernah melihat Cahaya masuk kerumah sakit tempatnya magang, dan saat hendak mengejar ia kehilangan jejak Cahaya. Dan sek

    Last Updated : 2025-03-08
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 8

    Dirga segera berlari keluar, netranya mendapati Cahaya yang tengah kesulitan saat menaiki anak tangga, Dirga berdecak kesal. "Kenapa ngga lewat lift aja, Ay!?" desis Dirga tanpa sadar memanggil nama panggilan kesayangannya hanya untuk Cahaya, desisan yang terdengar antara geram bercampur kesal yang bisa di dengar Cahaya, wanita itu menggaruk keningnya sambil meringis. Di rumah Dirga walau hanya memiliki 3 lantai, lelaki itu memang sengaja memasang lift, agar mempermudah Cahaya naik dan turun saat dari bepergian menuju ke kamar saat kelelahan atau saat keberatan membawa barang yang berat. Dan semenjak mamanya duduk di kursi roda, lift itu sangat membantu. Cahaya kembali turun dan menekan tombol lift itu agar terbuka, setelah terbuka, Cahaya segera masuk. Pintu lift terbuka dan Cahaya segera keluar dan berjalan menuju kamar mantan mertuanya, di sana sudah ada Tiara dan Dirga yang tengah menolong mamanya Dirga. "Kau itu, lambat sekali?!" ketus Tiara, menekuk kedua tangannya di pi

    Last Updated : 2025-03-10
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 9

    Sesampainya di kamar, Dirga menghubungi salah satu asisten kepercayaannya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan segera memencet nomer dia tuju. Hanya menunggu satu dering saja dan.... "Halo, selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten, "Roni, apa kamu masih ingat dengan istri saya, Nyonya Cahaya?" tanya Dirga. "Masih, Tuan. Dan dari kabar yang saya dengar, beliau sudah kembali dari luar negeri." Dirga terkejut dengan penuturan asisten pribadinya. "Kamu, masih mengawasinya?" "Tidak sepenuhnya, hanya mendengar dari seseorang jika Nyonya sudah kembali setelah menghilang bertahun tahun," "Kau, tahu tempat tinggalnya sekarang?" tanya Dirga lagi, "tidak, Tuan. Apa anda membutuhkan sekarang?" tanya Roni, asisten pribadi Dirga. "Ya, cari tahu di mana dia tinggal sekarang. Dan... Dengan siapa dia tinggal," setelah Roni mengatakan menyanggupi perintah atasannya, Dirga mengakhiri panggilan tersebut. Setengah jam kemudian, ponsel Dirga berdering. Lelaki itu segera me

    Last Updated : 2025-03-12
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 10

    Di kantor Dirga. Pintu ruangan lelaki itu diketuk dari luar, "masuk!" Katanya dengan setengah berteriak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berpakaian seksi, "Pak, di luar ada tamu ingin bertemu," ujar wanita itu melaporkan. "Suruh masuk saja," suruh Dirga tanpa menatap sang sekretaris, wanita berpakaian seksi tersebut mengerucutkan bibir. Ternyata, atasannya itu masih saja tidak mau meliriknya. Setelah kepergian wanita itu, pintu kembali terbuka. Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik pun terdengar. "CK, sepertinya adik kesayanganku sedang sibuk. Lihat saja, kakaknya datang bukannya disambut malah diacuhkan," seorang lelaki melangkah mendekat kearah meja kerja Dirga, lalu menarik kursi dan menduduki nya. Dirga mengangkat wajah sebentar hanya untuk memastikan siapa yang datang dan kembali fokus pada berkas -berkasnya. Walau dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang tengah bertamu. "Sepertinya, adik kesayanganku ini sibuk sekali? Mau buat apa uangnya?

    Last Updated : 2025-03-13
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

    Last Updated : 2025-03-15
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

    Last Updated : 2025-03-19
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

    Last Updated : 2025-03-21

Latest chapter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 19

    “Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 18

    “Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 17

    Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 16

    “Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 15

    Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 14

    "Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status