Merasa di tanyai, Dirga yang tadinya menunduk sambil mendorong kursi roda sang ibunya duduki lalu mendongak dan menatap tajam Tiara, "memangnya kenapa?" tanya Dirga dengan dingin, Tiara cemberut mendengar ucapan Dirga yang tidak menjawab pertanyaannya tadi lalu menghentakkan kaki kesal. Sudah hampir 7 tahun mengenal Dirga, tak lantas bisa membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Malah lelaki itu cinta mati dengan wanita lain, sakit, kesal, marah rasanya.
Namun, dirinya tidak bisa memaksa rasa cinta yang sama dari Dirga untuk dirinya. Semenjak kepergian mantan istrinya, Tiara merasa sikap Dirga semakin dingin dan cuek. "Sejak kapan Cahaya ada di sini? Dan kenapa dia bisa ada di sini?" tanya ibu Dirga dengan terbata-bata, karena menderita stroke dan tidak bisa melakukan apapun sendiri, dan cara bicaranya pun tidak jelas. "Dia menggantikan mbak Siti, katanya anaknya nikah," sahut Dirga yang memahami ucapan ibunya walau cedal dan tidak begitu jelas, "dia sendiri saja?" kening Dirga mengernyit bingung, apa maksud ibunya bertanya seperti itu. Apa ibunya itu berharap agar kakaknya yang menjadi selingkuhan mantan istrinya tinggal di sini dan membuat hati serta hidupnya bertambah hancur, gumam Dirga dalam hati kesal dan jengkel mendengar pertanyaan ibunya malah seakan mengingatkan masalalu yang membuat terluka. Dan sayangnya luka itu belum terobati karena tidak akan ada yang mengobatinya. "Tuan, mau di masakan apa malam nanti?" Cahaya bertanya dalam posisi berdiri di depan pintu, saat tatapan matanya bertemu dengan wanita yang telah melahirkan mantan suaminya, Cahaya segera memalingkan wajahnya. Rasa sakit hati saat mengingat wanita itu menyuruhnya menanda tangani surat gugatan cerai itu masih jelas ada di ingatan nya. Apalagi saat dia mendoakan kematian putrinya yang saat itu belum berwujud sempurna. "Terserah, yang penting mama bisa makan," jawab Dirga yang membuyarkan lamunan Cahaya tentang masalalu nya, Cahaya mengangguk menanggapi ucapan Dirga. "Mas, kamu lupa? Tante itu baru sakit stroke, jadi dia tidak bisa makan sembarangan," ujar Tiara yang baru saja keluar dari kamar mandi, "hey, kamu. Buatkan mama mertuaku bubur," katanya memerintah sembari menatap angkuh pada Cahaya. *** "Hei, tunggu!!" Tiara berjalan cepat mengejar Cahaya yang pergi begitu mendengar perintah nya, "kamu tuli, ya!!" lagi Tiara meraung berteriak marah karena Cahaya tidak juga berhenti. Cahaya hampir terjungkal saat dengan paksa dan secara kasar Tiara menarik bahunya setelah berhasil menyusulnya, "denger, aku ini calon istri mas Dirga. Jadi kamu jangan macam-macam dan jangan coba-coba ngelawan aku!" seru Tiara kesal sembari menunjuk wajah Cahaya yang terlihat santai. Cahaya hanya tersenyum miring, kemudian melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Saat baru menuruni dua anak tangga, tubuh Cahaya hampir terjelembab jika saja tidak segera memeluk pagar pembatas tangga ini karena di dorong dari belakang, Cahaya menoleh dan menatap tajam pada gadis yang tengah tersenyum mengejek padanya. "Makanya, kalau udah pincang, jalan hati-hati," ejek Tiara sembari menopang satu tangannya sambil memainkan kuku jarinya, 'tahan Cahaya, tahan. Dia hanya serangga yang harus dibasmi tanpa mengotori tangan,' gumam Cahaya dalam hati mencoba menguatkan diri. Tidak sengaja ekor mata Cahaya menangkap keberadaan Dirga yang sedang berdiri di depan pintu kamar yang di tempati mamanya dan sedang melihat kearah mereka. 'Waktunya bermain, aku akan membuatmu di benci olehnya, sama saat kalian menjebakku dengan lelaki brengsek itu,' Cahaya menyeringai, kemudian kembali berdiri dan dan kembali menapaki anak tangga. Dan saat sudah mencapai setengah anak tangga, Cahaya mendengar suara sandal berderap mendekat di belakangnya, saat Cahaya menoleh.... "Aaaa," Cahaya berteriak dan mencoba mencari pegangan, tapi terlambat tubuhnya berguling dan terakhir terhempas ke lantai yang dingin dengan pelipis yang mengeluarkan darah. "Ayaaaaaa!!!" Dirga yang melihat Cahaya jatuh segera berlari dan menuruni anak tangga dengan tergesa menyusul Cahaya yang jatuh terguling karena Tiara mendorongnya. Melihat Dirga berlari dan terlihat khawatir Tiara menjadi kesal, dan berharap wanita itu segera mati saja. "Ay, bangun," Dirga menepuk nepuk pipi Cahaya, sedang tangannya yang satu menopang kepala mantan istrinya dan meletakkan di pangkuanya. Dirga segera mengambil ponsel yang masih ada di saku celananya, menekan nomor temannya yang menjadi dokter pribadinya selama ini. "Halo-" "Cepat datang ke rumah gue, istri gue jatuh dari tangga," Dirga segera mematikan sambungan telepon itu dan menoleh keatas. Tubuh Tiara menegang di tatap sedemikian tajam oleh Dirga, keringat dingin mulai keluar dari kening dan telapak tangannya mulai terasa dingin juga. "Jika sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" desis Dirga masih menatap tajam Tiara yang tiba-tiba mematung, dengan sigap, Dirga mengangkat tubuh Cahaya ke dalam kamar yang kini wanita itu tempati. Meletakkan secara perlahan tubuh itu di kasur lantai, netra Dirga menyisir ruangan di mana biasanya art nya tidur. Dirga mengusap lembut rambut Cahaya, seketika usapan itu berhenti kala menyadari pelipis itu mengeluarkan darah segar. Dirga segera berlari ke arah dapur, guna mencari kotak obat. Saat akan kembali ke kamar yang di tempati Cahaya, pintu rumah di ketuk. Dengan malas, Dirga menyeret langkahnya menuju ruang tamu dan membuka pintu. "Gila loe, Bro. Nikah ngga kasih kabar ke gue," sungut Arya, sahabat Dirga yang menjadi dokter, "mana istri barumu itu?" tanya Arya yang kemudian mendorong dada Dirga agar menyingkir dari pintu dan dia bisa masuk agar bisa mengobati wanita yang kini lebih penting bagi Dirga selain Cahaya. Ya, Arya sangat tahu jika sahabatnya ini sangat mencintai Cahaya, gadis biasa yang mampu membuat sosok Dirga yang angkuh, cuek dan dingin bertekuk lutut padanya. Jadi, sekarang Arya penasaran sosok wanita yang bisa menggantikan posisi Cahaya di hati sahabatnya ini. Saat Arya berjalan masuk dan melihat Tiara masih berdiri di tangga dan terdiam sambil menatap kearah Dirga, kening Arya saling bertautan. "Loe udah nikah sama dia, katanya dia sakit. Kok dia baik-baik saja?" Arya yang kemudian mundur lalu berbisik tanpa menoleh dan memutar tubuh untuk menghadap kearah Dirga. "Cahaya," Arya tak sengaja memanggil wanita yang baru keluar dari kamar mbak Siti, Dirga yang sedari tadi diam karena linglung dan menyadari kebodohannya dengan menyebut Cahaya sebagai istrinya akhirnya menoleh. "Kenapa kau bangun??!" Dirga berteriak marah, kali ini fokus Dirga pada cara berjalan Cahaya. "Tuan Arya," sapa Cahaya sambil meringis dan menutupi pelipisnya yang berdarah dengan tissue, Arya masih bingung dan heran hanya menatap heran pada pasangan ini. Beruntung tadi saat Cahaya di dorong keberadaan nya tidak terlalu tinggi, jadi Cahaya hanya kaget dan pingsan. Dirga segera membopong tubuh Cahaya dan kembali membawanya masuk, karena tindakan dadakan dari Dirga Cahaya memekik kaget, "Mas Dirga," menyadari kesalahannya memanggil, Cahaya segera menutup mulut dengan telapak tangannya. "Arya, cepat masuk!!!" Dirga berteriak karena Arya tak juga kelihatan, "hish," Arya yang baru masuk mendesis kesal. "Tuan, saya tidak apa-apa," Cahaya mencoba bangun saat Arya ikut duduk di kasur tempatnya berbaring, bukannya menjawab Dirga malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap garang padanya. Cahaya yang hapal perilaku mantan suaminya pun akhirnya diam dan mengerucutkan bibirnya, "kenapa bisa begini?" Arya mengambil kain kasa dan menuang alkohol lantas tangannya terulur hendak membersihkan darah yang masih keluar walau tidak seberapa. "Ada yang mendorong saya," ujarnya tanpa mau menutupi apapun, "di dorong?" Arya menghentikan gerakan tangannya, netranya menatap Dirga dan Cahaya bergantian, seperti meminta penjelasan. "Saya sudah kebal jatuh seperti itu, tidak usah merasa kasihan pada saya," kata Cahaya yang membuat Dirga dan Arya kaget, 'bahkan karena ulah konyol dan sadis mereka, hampir saja aku kehilangan nyawa dan janinku. Dan gara-gara mereka pun aku juga kehilangan dirimu juga karierku,' akan tetapi kata kata itu hanya mampu ia ucapkan dalam hati."Kapan kau kembali?" Arya bertanya sembari menatap wajah manis dihadapannya, tangan kirinya memegang rahang Cahaya, sedang tangan sebelah kiri memberi salep pereda perih. Arya tahu, walau luka itu tidak dalam dan lebar, pasti itu terasa sakit dan perih saat mandi nanti. "Memang saya dari mana?" Cahaya bertanya sok polos, Arya tertawa melihat ekpresi wanita di hadapannya. "Nggak nyadar udah ilang hampir bertahun-tahun?" tanya Arya sembari melirik kearah sahabatnya yang tengah menatap kearah mereka berdua, Cahaya terkekeh mendengar pertanyaan Arya. "Anda kehilangan saya?" tanya Cahaya tanpa bermaksud menggoda, tapi di telinga Dirga itu seperti sebuah godaan dan rayuan yang wanita itu tujukan untuk sahabatnya. "Oya, bukankah beberapa hari sebelum kau pergi, kau pergi ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Arya ingat benar, waktu itu beberapa tahun yang lalu dirinya pernah melihat Cahaya masuk kerumah sakit tempatnya magang, dan saat hendak mengejar ia kehilangan jejak Cahaya. Dan sek
Dirga segera berlari keluar, netranya mendapati Cahaya yang tengah kesulitan saat menaiki anak tangga, Dirga berdecak kesal. "Kenapa ngga lewat lift aja, Ay!?" desis Dirga tanpa sadar memanggil nama panggilan kesayangannya hanya untuk Cahaya, desisan yang terdengar antara geram bercampur kesal yang bisa di dengar Cahaya, wanita itu menggaruk keningnya sambil meringis. Di rumah Dirga walau hanya memiliki 3 lantai, lelaki itu memang sengaja memasang lift, agar mempermudah Cahaya naik dan turun saat dari bepergian menuju ke kamar saat kelelahan atau saat keberatan membawa barang yang berat. Dan semenjak mamanya duduk di kursi roda, lift itu sangat membantu. Cahaya kembali turun dan menekan tombol lift itu agar terbuka, setelah terbuka, Cahaya segera masuk. Pintu lift terbuka dan Cahaya segera keluar dan berjalan menuju kamar mantan mertuanya, di sana sudah ada Tiara dan Dirga yang tengah menolong mamanya Dirga. "Kau itu, lambat sekali?!" ketus Tiara, menekuk kedua tangannya di pi
Sesampainya di kamar, Dirga menghubungi salah satu asisten kepercayaannya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan segera memencet nomer dia tuju. Hanya menunggu satu dering saja dan.... "Halo, selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten, "Roni, apa kamu masih ingat dengan istri saya, Nyonya Cahaya?" tanya Dirga. "Masih, Tuan. Dan dari kabar yang saya dengar, beliau sudah kembali dari luar negeri." Dirga terkejut dengan penuturan asisten pribadinya. "Kamu, masih mengawasinya?" "Tidak sepenuhnya, hanya mendengar dari seseorang jika Nyonya sudah kembali setelah menghilang bertahun tahun," "Kau, tahu tempat tinggalnya sekarang?" tanya Dirga lagi, "tidak, Tuan. Apa anda membutuhkan sekarang?" tanya Roni, asisten pribadi Dirga. "Ya, cari tahu di mana dia tinggal sekarang. Dan... Dengan siapa dia tinggal," setelah Roni mengatakan menyanggupi perintah atasannya, Dirga mengakhiri panggilan tersebut. Setengah jam kemudian, ponsel Dirga berdering. Lelaki itu segera me
Di kantor Dirga. Pintu ruangan lelaki itu diketuk dari luar, "masuk!" Katanya dengan setengah berteriak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berpakaian seksi, "Pak, di luar ada tamu ingin bertemu," ujar wanita itu melaporkan. "Suruh masuk saja," suruh Dirga tanpa menatap sang sekretaris, wanita berpakaian seksi tersebut mengerucutkan bibir. Ternyata, atasannya itu masih saja tidak mau meliriknya. Setelah kepergian wanita itu, pintu kembali terbuka. Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik pun terdengar. "CK, sepertinya adik kesayanganku sedang sibuk. Lihat saja, kakaknya datang bukannya disambut malah diacuhkan," seorang lelaki melangkah mendekat kearah meja kerja Dirga, lalu menarik kursi dan menduduki nya. Dirga mengangkat wajah sebentar hanya untuk memastikan siapa yang datang dan kembali fokus pada berkas -berkasnya. Walau dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang tengah bertamu. "Sepertinya, adik kesayanganku ini sibuk sekali? Mau buat apa uangnya?
"Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya
Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu
Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter
"Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita
“Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah
“Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya
Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke
“Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula
Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi
"Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita
Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter
Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu
"Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya