Share

Bab. 7

Author: Yaya Chomel
last update Last Updated: 2025-03-08 05:15:07

"Kapan kau kembali?" Arya bertanya sembari menatap wajah manis dihadapannya, tangan kirinya memegang rahang Cahaya, sedang tangan sebelah kiri memberi salep pereda perih. Arya tahu, walau luka itu tidak dalam dan lebar, pasti itu terasa sakit dan perih saat mandi nanti.

"Memang saya dari mana?" Cahaya bertanya sok polos, Arya tertawa melihat ekpresi wanita di hadapannya.

"Nggak nyadar udah ilang hampir bertahun-tahun?" tanya Arya sembari melirik kearah sahabatnya yang tengah menatap kearah mereka berdua, Cahaya terkekeh mendengar pertanyaan Arya.

"Anda kehilangan saya?" tanya Cahaya tanpa bermaksud menggoda, tapi di telinga Dirga itu seperti sebuah godaan dan rayuan yang wanita itu tujukan untuk sahabatnya.

"Oya, bukankah beberapa hari sebelum kau pergi, kau pergi ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Arya ingat benar, waktu itu beberapa tahun yang lalu dirinya pernah melihat Cahaya masuk kerumah sakit tempatnya magang, dan saat hendak mengejar ia kehilangan jejak Cahaya. Dan sekarang Arya sudah mendirikan rumah sakit sendiri.

Tubuh Cahaya menegang mendengar pertanyaan Arya, dan sayangnya Dirga melihat semua ekpresi wanita itu karena dari tadi netranya tak lepas dari mantan istrinya.

"Oya, saya harus memasak dulu. Sekiranya Pak Dokter ada waktu dan Tuan Dirga mengizinkan, silahkan anda ikut makan siang di sini," ujar Cahaya yang berusaha bangun dan sedikit meringis kala kakinya kembali merasakan ngilu.

"Bro, kok dia manggil loe, Tuan?" Arya bertanya setelah Cahaya pergi meninggalkan mereka berdua di kamar mbak Siti, "dan ini lagi, kenapa dia tinggal di sini?" Arya kembali mencecar Dirga dengan pertanyaan, Dirga yang sedari tadi fokus pada cara berjalan Cahaya mendesah lelah mendengar beribu pertanyaan yang di lontarkan sahabatnya.

"Dia hanya menggantikan mbak Siti selama satu bulan," hanya itu yang keluar dari mulut Dirga, kemudian menyeret langkahnya menuju dapur.

Belum sampai di dapur, Dirga sudah mendengar suara Cahaya sedang adu mulut dengan seseorang yang Dirga yakin itu adalah Tiara.

"Kenapa? Takut, aku membocorkan rahasia kalian pada Dirga?" Cahaya menyeringai setelah berkata demikian, Tiara terlihat gemetar, jemarinya mengepal.

"Katakan saja, dia pasti tidak akan percaya dengan ucapanmu," jawab Tiara terdengar pongah pada akhirnya. Lagi, Cahaya menyeringai.

"Yakin? Kau tahu, mereka sudah bertemu," bisik Cahaya yang membuat tubuh Tiara mundur seketika karena terkejut, "tidak mungkin!!" Tiara berteriak marah dan tidak percaya.

"Ck, terserah. Kalau kau tak percaya, coba kau tanya pada lelaki yang kau aku-akui sebagai calon suami itu. Tadi dia kemana saat bersama ku," ujar Cahaya santai, tangannya kembali memotong sayuran yang hendak ia olah.

"Jika kau masih mendekati Mas Dirga, aku tak segan-segan menghancurkanmu untuk kesekian kali," Tiara mulai mengancam Cahaya, berharap wanita itu mengalah lalu pergi dan tak lagi menampakkan batang hidungnya.

Sangat bahaya jika Cahaya masih berada di dekat Dirga, apalagi jika sampai lelaki itu tentang fitnah yang mereka rencanakan untuk memisahkan mereka, dan Tiara semakin yakin jika Dirga akan murka saat tahu putrinya ada tapi dirinya tidak tahu.

"Lakukan apa yang kau mau, ingat jika kau berani menyentuh putri ku, kau akan tahu akibatnya, karena aku... AKU BUKAN CAHAYA YANG DULU, AKU BUKAN CAHAYA YANG LEMAH DAN MUDAH DITINDAS, mengerti," tanpa sadar saat berbicara tangan Cahaya yang memegang pisau mengarah ke wajah Tiara, membuat wanita yang memakai pakaian ketat dan memperlihatkan lekuk tubuhnya menjadi takut dan menelan ludah perlahan.

Melihat lawannya ketakutan, Cahaya kembali menyibukkan diri dengan memasak dan mengabaikan keberadaan penghancur rumah tangganya.

Sore harinya, Cahaya memilih menyiram bunga bunga yang dulu sengaja ia tanam dan selalu merawatnya, dan semenjak ia bekerja, tanaman itu ia titipkan pada mbak Siti.

Cahaya tersenyum lega saat mendapati bunga-bunga kesayangannya tumbuh dan di rawat baik oleh Mbak Siti, tangannya memotong daun-daun yang sudah kuning dan mengumpulkannya lalu membuangnya ke tong sampah.

Di dalam rumah, Tiara yang sepertinya terhasut dan termakan omongan Cahaya akhirnya memutuskan menemui dan akan bertanya semua pada Dirga.

Tangan Tiara mengambang di udara, ragu untuk mengetuk pintu, takut jika lelaki itu marah karena merasa ia ikut campur urusan pribadinya, tapi dia adalah calon istrinya jadi dia harus tahu apapun yang terjadi pada calon suami nya.

Tok tok tok, akhirnya tangan itu terulur dan mengetuk pintu.

"Mas, ini aku, Tiara. Boleh aku masuk?" tanya Tiara, tapi sebelum di jawab Tiara sudah membuka pintu itu dan melonggokkan kepalanya.

Karena tak kunjung di jawab, Tiara memutuskan masuk. Kakinya yang panjang berjalan kearah di mana Dirga duduk, menyadari kedatangan seseorang Dirga yang dari tadi menekuni laptopnya seketika mendongak.

Ada raut wajah terkejut yang Dirga tampilkan, tapi dengan segera ia ubah menjadi raut wajah dingin dan datar, kemudian kembali menunduk dan menekuri laptop yang masih menyala.

"Ada apa, kenapa kau masuk kesini?" Dirga bertanya tanpa menatap gadis yang berdiri dan memakai pakaian kurang bahan.

Dulu jika Cahaya memakai pakaian seperti itu, Dirga akan memarahinya, Dirga mengatakan hanya dirinya yang boleh melihat dan menyentuh tubuh itu. Namun, kenyataannya sang kakak juga ikut menikmati apa yang dia jaga. Padahal jika ada orang atau keluar rumah, Cahaya selalu memakai pakaian tertutup.

Hanya saja Cahaya sedikit berubah saat ia mulai bekerja, mungkin karena tuntutan pekerjaannya, pikir Dirga.

"Mas tadi sama Cahaya kemana?" tanya Tiara hati-hati, mendapati pertanyaan aneh dan terdengar menintimidasi, Dirga mendongak dan menatap tajam gadis yang masih setia berdiri dengan tangan saling meremas, menyalurkan rasa takut dan grogi yang datang karena takut jika pertanyaan darinya menyinggung Dirga.

Dirga mendengus dingin, "bukannya tadi kau juga lihat, kami membawa barang belanjaan," suara dingin Dirga terdengar ketus di indera pendengaran Tiara.

"Hmm, apa tadi dia bertemu seseorang?" rasa penasaran akan ucapan Cahaya jika Dirga sudah bertemu dengan putri mereka berdua mengalahkan rasa takut jika lelaki itu marah.

"Kenapa?" kening Dirga mengkerut heran dengan pertanyaan gadis dihadapannya, jangan-jangan dia sudah tahu jika Cahaya mau bertemu dengan kakaknya, bukankah wanita ini juga dekat dengan kakak lelakinya, begitu pemikiran yang terlintas di tempurung kepala Dirga.

"Apa kau tahu sesuatu?" tanya Dirga menyelidik, lelaki tampan itu meletakkan laptop yang awalnya ia pangku menjadi di atas meja, lalu berdiri menghampiri keberadaan Tiara yang masih setia berdiri.

"Hmm, aku-" Tiara tidak melanjutkan ucapan nya, hawa dingin tiba-tiba melingkupi sekitarnya saat Dirga sudah berdiri di sampingnya.

"Kami tadi hanya berbelanja dan bertemu anak kecil," ucap Dirga, senyum terukir seketika lelaki itu mengingat hatinya terasa menghangat kala menyentuh anak perempuan itu.

"Anak kecil?" Tiara mengulang ucapan Dirga, lelaki itu mengangguk tanpa memandang wajah Tiara yang terlihat pias.

"Kau tahu, aku seperti pernah melihat wajah anak itu, tapi aku lupa di mana," lagi Tiara mematung mendengar jika Dirga pernah melihat wajah putrinya bersama Cahaya.

Pyar, bruugh, suara gelas jatuh di susul suara berat jatuh membuat Dirga mempertajam pendengarannya. Tidak mungkin Cahaya yang jatuh bukan, seketika Dirga ingat tadi sang mama baru datang dan dia tinggal sendiri di dalam kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 8

    Dirga segera berlari keluar, netranya mendapati Cahaya yang tengah kesulitan saat menaiki anak tangga, Dirga berdecak kesal. "Kenapa ngga lewat lift aja, Ay!?" desis Dirga tanpa sadar memanggil nama panggilan kesayangannya hanya untuk Cahaya, desisan yang terdengar antara geram bercampur kesal yang bisa di dengar Cahaya, wanita itu menggaruk keningnya sambil meringis. Di rumah Dirga walau hanya memiliki 3 lantai, lelaki itu memang sengaja memasang lift, agar mempermudah Cahaya naik dan turun saat dari bepergian menuju ke kamar saat kelelahan atau saat keberatan membawa barang yang berat. Dan semenjak mamanya duduk di kursi roda, lift itu sangat membantu. Cahaya kembali turun dan menekan tombol lift itu agar terbuka, setelah terbuka, Cahaya segera masuk. Pintu lift terbuka dan Cahaya segera keluar dan berjalan menuju kamar mantan mertuanya, di sana sudah ada Tiara dan Dirga yang tengah menolong mamanya Dirga. "Kau itu, lambat sekali?!" ketus Tiara, menekuk kedua tangannya di pi

    Last Updated : 2025-03-10
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 9

    Sesampainya di kamar, Dirga menghubungi salah satu asisten kepercayaannya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan segera memencet nomer dia tuju. Hanya menunggu satu dering saja dan.... "Halo, selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten, "Roni, apa kamu masih ingat dengan istri saya, Nyonya Cahaya?" tanya Dirga. "Masih, Tuan. Dan dari kabar yang saya dengar, beliau sudah kembali dari luar negeri." Dirga terkejut dengan penuturan asisten pribadinya. "Kamu, masih mengawasinya?" "Tidak sepenuhnya, hanya mendengar dari seseorang jika Nyonya sudah kembali setelah menghilang bertahun tahun," "Kau, tahu tempat tinggalnya sekarang?" tanya Dirga lagi, "tidak, Tuan. Apa anda membutuhkan sekarang?" tanya Roni, asisten pribadi Dirga. "Ya, cari tahu di mana dia tinggal sekarang. Dan... Dengan siapa dia tinggal," setelah Roni mengatakan menyanggupi perintah atasannya, Dirga mengakhiri panggilan tersebut. Setengah jam kemudian, ponsel Dirga berdering. Lelaki itu segera me

    Last Updated : 2025-03-12
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 10

    Di kantor Dirga. Pintu ruangan lelaki itu diketuk dari luar, "masuk!" Katanya dengan setengah berteriak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berpakaian seksi, "Pak, di luar ada tamu ingin bertemu," ujar wanita itu melaporkan. "Suruh masuk saja," suruh Dirga tanpa menatap sang sekretaris, wanita berpakaian seksi tersebut mengerucutkan bibir. Ternyata, atasannya itu masih saja tidak mau meliriknya. Setelah kepergian wanita itu, pintu kembali terbuka. Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik pun terdengar. "CK, sepertinya adik kesayanganku sedang sibuk. Lihat saja, kakaknya datang bukannya disambut malah diacuhkan," seorang lelaki melangkah mendekat kearah meja kerja Dirga, lalu menarik kursi dan menduduki nya. Dirga mengangkat wajah sebentar hanya untuk memastikan siapa yang datang dan kembali fokus pada berkas -berkasnya. Walau dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang tengah bertamu. "Sepertinya, adik kesayanganku ini sibuk sekali? Mau buat apa uangnya?

    Last Updated : 2025-03-13
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

    Last Updated : 2025-03-15
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

    Last Updated : 2025-03-19
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

    Last Updated : 2025-03-21
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 14

    "Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita

    Last Updated : 2025-03-22
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 15

    Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi

    Last Updated : 2025-03-25

Latest chapter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 19

    “Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 18

    “Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 17

    Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 16

    “Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 15

    Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 14

    "Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status