Share

Bab. 8

Penulis: Yaya Chomel
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-10 08:44:03

Dirga segera berlari keluar, netranya mendapati Cahaya yang tengah kesulitan saat menaiki anak tangga, Dirga berdecak kesal.

"Kenapa ngga lewat lift aja, Ay!?" desis Dirga tanpa sadar memanggil nama panggilan kesayangannya hanya untuk Cahaya, desisan yang terdengar antara geram bercampur kesal yang bisa di dengar Cahaya, wanita itu menggaruk keningnya sambil meringis.

Di rumah Dirga walau hanya memiliki 3 lantai, lelaki itu memang sengaja memasang lift, agar mempermudah Cahaya naik dan turun saat dari bepergian menuju ke kamar saat kelelahan atau saat keberatan membawa barang yang berat. Dan semenjak mamanya duduk di kursi roda, lift itu sangat membantu.

Cahaya kembali turun dan menekan tombol lift itu agar terbuka, setelah terbuka, Cahaya segera masuk. Pintu lift terbuka dan Cahaya segera keluar dan berjalan menuju kamar mantan mertuanya, di sana sudah ada Tiara dan Dirga yang tengah menolong mamanya Dirga.

"Kau itu, lambat sekali?!" ketus Tiara, menekuk kedua tangannya di pi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 9

    Sesampainya di kamar, Dirga menghubungi salah satu asisten kepercayaannya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan segera memencet nomer dia tuju. Hanya menunggu satu dering saja dan.... "Halo, selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten, "Roni, apa kamu masih ingat dengan istri saya, Nyonya Cahaya?" tanya Dirga. "Masih, Tuan. Dan dari kabar yang saya dengar, beliau sudah kembali dari luar negeri." Dirga terkejut dengan penuturan asisten pribadinya. "Kamu, masih mengawasinya?" "Tidak sepenuhnya, hanya mendengar dari seseorang jika Nyonya sudah kembali setelah menghilang bertahun tahun," "Kau, tahu tempat tinggalnya sekarang?" tanya Dirga lagi, "tidak, Tuan. Apa anda membutuhkan sekarang?" tanya Roni, asisten pribadi Dirga. "Ya, cari tahu di mana dia tinggal sekarang. Dan... Dengan siapa dia tinggal," setelah Roni mengatakan menyanggupi perintah atasannya, Dirga mengakhiri panggilan tersebut. Setengah jam kemudian, ponsel Dirga berdering. Lelaki itu segera me

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 10

    Di kantor Dirga. Pintu ruangan lelaki itu diketuk dari luar, "masuk!" Katanya dengan setengah berteriak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berpakaian seksi, "Pak, di luar ada tamu ingin bertemu," ujar wanita itu melaporkan. "Suruh masuk saja," suruh Dirga tanpa menatap sang sekretaris, wanita berpakaian seksi tersebut mengerucutkan bibir. Ternyata, atasannya itu masih saja tidak mau meliriknya. Setelah kepergian wanita itu, pintu kembali terbuka. Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik pun terdengar. "CK, sepertinya adik kesayanganku sedang sibuk. Lihat saja, kakaknya datang bukannya disambut malah diacuhkan," seorang lelaki melangkah mendekat kearah meja kerja Dirga, lalu menarik kursi dan menduduki nya. Dirga mengangkat wajah sebentar hanya untuk memastikan siapa yang datang dan kembali fokus pada berkas -berkasnya. Walau dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang tengah bertamu. "Sepertinya, adik kesayanganku ini sibuk sekali? Mau buat apa uangnya?

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-13
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-15
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-19
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-21
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 14

    "Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 15

    Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 16

    “Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26

Bab terbaru

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 19

    “Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 18

    “Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 17

    Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 16

    “Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 15

    Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 14

    "Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status