Share

Bab. 15

Author: Yaya Chomel
last update Last Updated: 2025-03-25 10:51:43

Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian.

"Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi.

"Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting.

Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya.

"Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai.

Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu.

"Tuan mau mi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 16

    “Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula

    Last Updated : 2025-03-26
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 17

    Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke

    Last Updated : 2025-03-28
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 18

    “Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya

    Last Updated : 2025-03-30
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 19

    “Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah

    Last Updated : 2025-04-01
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 1

    Dirga yang baru pulang dari kantor dan kini tiba di rumah, kini menyeret langkah kakinya menuju kamarnya, seharian di kantor mengerjakan beberapa dokumen yang menumpuk juga ada beberapa meeting membuat dirinya merasa letih dan juga penat."Huft," lelaki yang memiliki alis tebal, hidung mancung, berperawakan tinggi namun kulitnya agak kecokelatan, dan memiliki rahang tegas tersebut menghembuskan nafas kasar.Membuka pintu lalu melempar tas kerjanya di sofa, kemudian dengan gerakan kasar melepas jas mahal yang melekat di badannya dan melemparnya ke sofa, dan yang terakhir berjalan kearah tempat tidurnya lalu menghempaskan bobotnya ke ranjang empuk miliknya.Netranya terpejam menikmati rasa lelah yang sengaja ia ciptakan agar bisa melupakan dan bisa membuktikan pada seseorang jika ia bisa hidup dengan baik selama ini, walau kenyataannya dirinya tetap saja hancur dan selalu merindukan orang itu.Dirga membuka matanya lalu merubah posisinya menjadi duduk, menopang bobotnya dengan meletakka

    Last Updated : 2025-01-17
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 2

    Selesai mandi dan berganti pakaian, Dirga turun dan berjalan menuju ruang makan, perutnya lapar sedari tadi dan minta di isi.Dirga langsung menghenyakkan bobotnya di kursi makan dan menatap menu masakan yang di olah oleh Cahaya, mantan istrinya.Matanya memindai sekitar mencari keberadaan Cahaya, akan tetapi tidak ia temukan, "ck, kemana sih wanita itu," gerutu Dirga yang kemudian membalik piring yang tadinya tengkurap."Cahayaaa!!" Dirga akhirnya berteriak memanggil mantan istrinya, dengan tergopoh gopoh Cahaya datang dan langsung menunduk."Ya, Tuan," jawabnya masih dengan menunduk, "temani aku makan," titahnya yang langsung di jawab gelengan oleh Cahaya."Kenapa?" Dirga mendesis marah karena penolakan mantan istrinya tangannya yang berada di atas meja terkepal kuat, 'karena dulu ibu anda selalu melarang saya makan bersama dengan suami saya, dan sampai saat ini saya tidak berani makan bersama anda,' sayang jawaban itu hanya terucap di dalam hati Cahaya."Saya masih banyak pekerjaa

    Last Updated : 2025-01-17
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 3

    Pagi harinya, "aku harus meminta izin pada Tuan Dirga hari ini untuk bertemu dengannya," gumam Cahaya, tangannya sibuk memotong wortel yang akan ia olah nanti bersama kembang kol menjadi sayur sop."Apa dia juga mau ya? Ah, nanti selepas meminta izin aku akan membungkuskan sedikit sayur sop bakso kesukaan nya," lagi, Cahaya bergumam sembari tersenyum mengingat seseorang yang memiliki makanan kesukaan, memiliki kebiasaan yang sama dengan mantan suaminya.Di dalam kamar, "hari ini kamu tidak akan bisa bertemu dengan orang yang sudah membuat janji denganmu, karena hari ini aku akan membuatmu sibuk seharian denganku," Dirga menyeringai membayangkan wajah kecewa dua orang yang sudah membuatnya marah dan kecewa.Dirga keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga, tubuhnya membawa langkah kakinya menuju dapur karena sepagi ini Dirga yakin jika wanita itu pasti sedang ada di sana, seperti kebiasaannya dulu, selalu memasakkan sarapan untuk dirinya. Walau memiliki asisten rumah tangga,

    Last Updated : 2025-01-19
  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 4

    Cahaya menolehkan kepalanya ke depan dan ke belakang mencari keberadaan Dirga, tidak mendapati keberadaan Dirga, Cahaya segera mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar.(Kami melihatmu di swalayan ini, bisa bertemu di sini saja?) bunyi pesan yang Cahaya terima, Cahaya menolehkan kembali kepalanya dan tidak mendapati seseorang.(Di mana?) tanyanya lewat pesan balasan.(Kami di foodcourt) balasan pesan yang masuk, Cahaya mendesah gusar, mereka baru saja sarapan, masa harus beralasan lapar lagi agar Dirga mau masuk ke sana.Cahaya mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuknya, perempuan itu tampak sedang berpikir bagaimana dan alasan apa yang harus dia pakai."Bagaimana ini???" Cahaya membenturkan-mbenturkan pelan keningnya pada lengannya yang ia taruh di atas troli, Dirga yang melihat mantan istrinya terlihat gelisah, akhirnya tersenyum miring."Bingung mikir caranya bertemu?" seringai kecil muncul di bibirnya, kemudian dengan langkah percaya diri Dirga menghampiri Cahaya yang tengah mem

    Last Updated : 2025-01-19

Latest chapter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 19

    “Kau tidak akan mengabaikan ini lagi, Dirga,” kata Gilang dengan nada penuh penekanan. Semua mata tertuju padanya. Cahaya berhenti bergerak, piring di tangannya kini diletakkan di atas meja dengan pelan. Suasana di ruang makan itu berubah, ketegangan menggantung seperti awan gelap yang menutupi pagi. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Dirga, matanya menyipit, memandang Gilang dengan kewaspadaan yang semakin tajam. Cahaya merasakan aliran adrenalin di tubuhnya, jantungnya berdetak cepat namun ia berusaha tetap tenang. Di dalam pikirannya, rencana yang telah ia susun semalaman terasa semakin mendesak untuk diwujudkan. “Kau akan mengerti setelah ini.” Gilang melangkah maju, mengambil posisi di tengah ruangan, seakan ingin memastikan bahwa ia menjadi pusat perhatian. Cahaya menatapnya dengan hati-hati, berusaha membaca setiap gerakan dan ekspresi di wajah Gilang. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih putus asa dan terdesak daripada biasanya. Di saat yang sama, Tiara melangkah

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 18

    “Kau pikir aku akan diam saja menyaksikan semuanya berantakan?” Gilang berdiri di ujung ruangan, tangan terkepal di samping tubuhnya. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. Tiara, yang duduk di sofa mewah dengan kaki disilangkan, hanya mengangkat alisnya. Ia tampak tak terpengaruh oleh amarah Gilang, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tak lengah. “Gilang, apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengontrol semuanya? Lihat sekelilingmu,” ucap Tiara, nada suaranya setengah mengejek. “Dirga tak lagi mempercayaimu. Cahaya... wanita itu mulai membuat langkah yang tak kau duga. Dan kau di sini, menggertakku, seolah aku yang menjadi ancaman terbesarmu.” Gilang melangkah maju, bayangan lampu chandelier memantulkan wajahnya yang tegang. “Kau tak tahu apa yang aku hadapi, Tiara. Kau hanya datang ke dalam hidup Dirga dengan satu tujuan—uangnya. Tapi ini lebih dari itu. Ini tentang kehormatanku. Keluarga ini adalah milikku, dan aku tak akan membiarkan Cahaya menghancurkan semua ya

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 17

    Suara sirine memecah keheningan malam, menggema di sekitar rumah besar keluarga Bagaskara. Para pria berbadan tegap yang menahan Dirga dan Cahaya saling berpandangan panik, menyadari bahwa keadaan mulai berbalik. Gilang mengepalkan rahangnya, sorot matanya memancarkan amarah dan kecemasan. Dalam sekejap, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melepaskan Dirga dan Cahaya. “Pergi sekarang!” perintah Gilang kepada kedua pria itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka melepaskan cengkeraman mereka dan melarikan diri keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam. Gilang, dengan wajah penuh emosi, memandang Dirga yang masih tersungkur di lantai. Namun sebelum Gilang bisa bergerak lebih jauh, beberapa polisi muncul dan menyuruhnya berdiri dengan tangan diangkat. “Gilang Bagaskara, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi dan percobaan penyerangan,” ujar seorang polisi tegas, suaranya menggema di ruangan yang kini dipenuhi ketegangan. Wajah Gilang pucat, tetapi ia hanya mengangguk ke

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 16

    “Kamu benar-benar percaya padanya, Mas Dirga? Itu hanya trik murahan!” Tiara berteriak, suaranya menusuk malam yang sunyi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di wajah Dirga. Kebimbangan yang biasanya meliputi sorot matanya kini menghilang, digantikan oleh tekad yang kuat. “Cukup, Tiara,” ujar Dirga tegas. “Aku sudah cukup dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Aku ingin mendengar kebenaran, bukan kebohongan lagi.” Tiara terdiam, rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa Dirga tak lagi mudah dipengaruhi. Gilang, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di dada, melangkah maju. Senyum sinis menghiasi bibirnya, seakan tidak gentar meski kenyataan mulai terbuka. “Kau pikir ini sudah selesai, Dirga?” Gilang berbisik rendah, namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengarnya. “Kau mungkin tahu tentang Tasya, tapi kau belum tahu seberapa dalam konspirasi ini berjalan.” Wajah Dirga menegang. Cahaya, yang tadinya hanya diam, mula

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 15

    Dirga menoleh pada pengasuh Tasya, "dimana kunci kamar Nyonya?" tanyanya kemudian. "Di kamar Non Tasya, Tuan." Jawab pengasuh Tasya, Dirga mendengus lalu berbalik arah menuju kamar Tasya. Pengasuh Tasya pun mengekor, "di mana?" tanya Dirga lagi. "Mama simpan kuncinya di lemari itu," Dirga mendengus lagi. Kenapa begitu repot dan ribet sekali cuma ingin masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan putri. Dirga membuka lemari yang Tasya maksud, dan di sana ada kotak yang Dirga kenal. Kotak yang selalu Cahaya gunakan untuk menyimpan barang barang penting. Dirga menatap lama kotak yang di sandi dengan nomer tersebut, lalu tatapannya beralih pada putrinya. "Tasya tahu kodenya?" Tasya menggeleng, Dirga lalu menoleh pada pengasuh Tasya. Bermaksud bertanya apakah dia juga tidak tahu. Ternyata dugaannya benar. Pengasuh Tasya tak tahu nomer yang Cahaya pakai. Dirga yang merasa kesal dan tidak sabar lalu membawa kotak itu keluar kamar Tasya dan membawanya ke ruang tamu. "Tuan mau mi

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 14

    "Jangan mimpi," ejek Dirga, "sampai kapanpun, Cahaya hanya akan menjadi milikku," lanjut Dirga di dalam hati. Gilang pun pergi dari rumah Dirga, pria itu lalu meminta Cahaya menutup pintu gerbang dan menguncinya. Tiara dan Cahaya mengekor langkah Dirga yang melangkah masuk kedalam rumah, "ngapain sih," Tiara yang kesal dengan Cahaya mendorong bahu Cahaya. Membuat Cahaya terjatuh, "aaa!!" Dirga yang mendengar suara Cahaya berteriak segera menoleh dan berlari mendekati Cahaya. "Minggir," katanya seraya mendorong bahu Tiara dengan bahunya, membuat mulut Tiara melongo tidak percaya. Dirga mendudukkan Cahaya di sofa, "kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir. Cahaya mengangguk, "hanya pantat saya yang sakit," jawab Cahaya. Namun, mampu membuat wajah Dirga memerah. Dirga lalu bangkit dan merogoh ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Roni dan memberitahu jika dia tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Tiara menatap tajam Cahaya, sedang wanita

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab 13

    Dirga tersenyum, "dia sangat manis, seperti ibunya. Dan dia keras kepala seperti aku 'kan, Ma?" ucap Dirga kemudian. "Lekaslah sembuh, Ma. Dan aku ingin tahu alasan Mama melakukan ini, memisahkan aku dengan...." Ucapan Dirga terhenti saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Cahaya masuk dan berdiri di samping Dirga, lalu meletakkan gelas yang baru di atas nakas. "Beristirahatlah, aku akan tetap di sini." titah Dirga.Cahaya mengangguk, wanita itu lalu menuju sofa dan duduk di sana. Kamar itu menjadi sepi "Tadi, kamu bawa Mama kemana? Dan kalian pulang jam berapa?" tanya Dirga bermaksud membuka obrolan. Tapi, menurut Cahaya itu seperti tengah mengintrogasi dirinya.***Pagi harinya, seperti biasanya. Selesai memasak dan membersihkan rumah, Cahaya mengajak mantan ibu mertuanya keluar untuk berjemur. Cahaya lagi-lagi memeriksa ponselnya. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Cahaya. Wanita itu seketika mengangkat wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang, kemudian ter

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 12

    Sekarang Cahaya sudah sampai rumah besar milik Dirga. Wanita itu langsung mengajak mantan mertuanya masuk dan membersihkan serta mengganti pakaian wanita paruh baya tersebut. Cahaya menghela napas panjang dan berat. "Jika setiap hari aku naik turun walau memakai alat itu, tetap saja kakiku lelah. Kenapa Mamanya nggak dipindah dibawah saja sih, dasar merepotkan," Cahaya menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tubuh mantan mertuanya sangat berat, butuh tenaga ekstra jika harus memindahkan dari tempat satu ke tempat lain. Cahaya memastikan mantan ibu mertuanya telah tidur, kemudian ia melangkah keluar dan turun ke lantai bawah. Namun, sebelum masuk kedalam lift, Cahaya menatap kamar yang saat ini Dirga tempati. Wanita itu urung turun, memilih melangkah menuju bekas kamarnya."Apa dia belum pulang?" Cahaya bertanya pada dirinya sendiri, wanita itu lalu membuka pintu kamar itu dengan sedikit ragu. Cahaya melihat jendela kamar itu masih terbuka, wanita itu lalu memutu

  • Setelah 5 Tahun Berpisah    Bab. 11

    "Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya. Sementara pengasuh itu mengambilkan makanan, Cahaya mendorong kembali kursi roda yang di duduki mantan ibu mertuanya menuju sofa. Di belakangnya, Anastasya mengekor. Gadis kecil itu ikut duduk di sofa di samping sang ibu. Namun, matanya menatap wanita yang belum pernah dia lihat. "Mama, dia siapa?" tanya Anastasya pada Cahaya seraya menunjuk yang dia maksud. "Dia...." Cahaya menjeda ucapannya, ia bingung hendak menjawab pertanyaan yang Tasya berikan, "ini Nenek, Sayang," ibunya Dirga menjawab di dalam hati. Sakit struk yang dia derita membuatnya tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak dengan cepat dan tidak bisa berbicara dengan lancar. "Ini, Bu." Pengasuh Tasya meletakkan nampan berisi nasi plus sayur dan lauk serta satu gelas air putih. Cahaya bernapas lega, kedatangan pengasuh Tasya

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status