Home / Young Adult / Senandung Masa SMA / Bab 103 Mencari Tahu Soal Gilang

Share

Bab 103 Mencari Tahu Soal Gilang

Author: Arumi Sekar
last update Last Updated: 2022-02-08 09:51:17

“To, hari ini sebelahan dong sama gue, gue mau nanya sesuatu sama lo,” kata Davi pada Pito.

Kiwil yang baru saja datang, akhirnya pasrah harus duduk di sebelah Edo. Baginya tak masalah duduk di mana saja.

Pito duduk dan langsung menyemprot parfumnya pada tubuhnya. Kadang, Davi ingin bertanya apakah Pito harus selalu seperti itu. Maniaknya pada parfum semakin menjadi akhir-akhir ini

“Mau nanya apa lo?” tanya Pito sambil bersender. “Sebelum itu, thanks ya, kita semua lolos audisi. Tapi sorry banget lo cuma jadi pengganti karena Edo yang bakalan tampil buat audisi tahap 2 ini. Nggak papa kan?”

“Lho bukannya pengumuman 2 minggu lagi?” tanya Kiwil yang langsung menyahut.

“Gue udah dapet bocoran dari kakak kelas. Jadi kita bisa langsung siap-siap, biar bisa lolos ke 15 besar. Gosipnya sih, dari jarak pengumuman ke audisi selanjutnya tuh cuma dikasi waktu 2 harian,” kata Pito. &

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Senandung Masa SMA   Bab 104 Patah Hati Untuk yang Kesekian Kali

    Debuman suara tim basket di kejauhan tak membuat keramaian di sisi lapangan lain, tempat Davi dan ekskul outdoor lain berkumpul, mengurangi keriuhan mereka sendiri.Beberapa anggota ekskul tampak menunjukkan kebolehannya melakukan flip di sana-sini, termasuk Davi. Hingga akhirnya, Pito yang entah kenapa tiba-tiba tertarik join di club Mapala (Naik Gunung), yang merupakan cabang club di bawah ekskul outdoor, mendekatinya.“Kemarin, lo nanyain soal Gilang ya kalo nggak salah. Tuh doi lagi main basket di lapangan sana. Yang rambutnya dicat cokelat tua atau warna apa sih itu, nggak jelas. Yang pakai kaos warna kuning di dalem seragam,” kata Pito sambil menunjuk.Davi akhirnya memperhatikan cowok yang dimaksud. Setahu Davi, anak kelas 3 tidak diwajibkan ikut ekskul apapun untuk mematangkan persiapan ujian nasional. Jikapun iya, mereka harus bisa membagi waktu dengan baik.Namun melihat kepiawaian cowok b

    Last Updated : 2022-02-08
  • Senandung Masa SMA   Bab 105 Teler

    Arai memarkir motornya di rumah Rambo saat adzan maghrib terdengar di kejauhan. Choki tadi minta dijemput di sini. Arai yang sedang menemani adiknya sebentar karena ayah dan ibunya pergi ke rumah sakit lagi, akhirnya baru bisa datang saat kedua orangtuanya sudah kembali.Rambo sedang duduk-duduk di luar bersama Anton. Dia langsung menyapa Arai dengan sikap gembira yang aneh.“Araaaai, my friend. Mau jemput Choki ya?” tanya Rambo sambil merangkul Arai.Arai tahu, Rambo sedang setengah sadar. Entah mabuk, entah teler. Sudah didengarnya akhir-akhir ini bahwa Rambo mengkonsumsi permen berwarna pink aneh yang beredar diam-diam di antara geng mereka.Arai tahu itu obat-obatan terlarang yang sengaja diedarkan dengan harga kantong pelajar yang pas-pasan. Entah apa kandungan di dalamnya. Yang pasti, mereka akan seperti ini setelah mengkonsumsinya.Anton masih terlihat sepenuhnya sadar dan kondisinya cukup baik, karena dia masih bisa men

    Last Updated : 2022-02-09
  • Senandung Masa SMA   Bab 106 Kekesalan Ayla

    “Nggak ngebalesin? Parah tuh cowok! Telp gimana? Nih pake HP gue deh!” seru Ayla kesal menyadari Matari tak mendapatkan balasan apapun saat mengirim SMS pada Arai untuk dijemput.“Mungkin nggak ada pulsa kali, La. Nggak papa gue ada pulsa kok. Coba gue missed call dia dulu, ada balasan nggak,” sahut Matari optimis.Matari me-missed call HP Arai beberapa kali. Setelah menunggu beberapa saat, masih tak ada perubahan yang berarti. Tak ada balasan SMS sedikitpun.“Ri, gue pesenin taksi ya? Udah, ntar gue yang bayar. Ini udah hampir jam 7 malem. Lo bisa diomelin sama Tante Dina nanti, gimana?”“Eh, nggak usah, La. Gue bisa nunggu ojek di pos ojek depan. Pasti nggak akan lama, ada yang dateng.”“Udah malem, Ri. Gue yang khawatir. Nih, gue telepon dia deh. Kalo masih nggak ada balasan juga, gue minta tolong Praja aja deh ya!”****************************************

    Last Updated : 2022-02-09
  • Senandung Masa SMA   Bab 107 Kecurigaan Hafis

    Matari hanya tersenyum-senyum saat melihat Ayla marah-marah pagi harinya saat menceritakan perihal jawaban Arai di telepon semalam. Matari bahkan tak perlu menjelaskan seperti apa sifat dan karakter Arai selama ini padanya.“Lo yakin mau jalan terus sama Arai, Ri?” tanya Hafis dari belakang.“Kenapa?” tanya Matari smabil menoleh dengan tatapan dingin.Hafis cuma terdiam. Dia seperti ingin berbicara sesuatu, namun diurungkannya. Apalagi Beno tampak menyenggol Hafis untuk tak usah membicarakannya lagi. Praja yang menyadari ada sesuatu, akhirnya menjawab pertanyaan Matari.“Yaaah, enggak sih, nggak papa, Ri. Kita kan cuma iseng tanya aja. Cowok lo tuh emang nggak demen selingkuh, tapi bener kata Ayla, dia harga dirinya tinggi banget. Nggak bisa ngaku ke orang lain kalo dirinya salah. Dia ngerasa bener terus. Nggak mau introspeksi diri. Apa nih yang kira-kira kurang dari hubungan kalian berdua. Meskipun dia sadar kekurangannya pu

    Last Updated : 2022-02-10
  • Senandung Masa SMA   Bab 108 Kedatangan Arai

    Rambo memberitahu Choki dan Arai bahwa Anton dan Desma akhirnya resmi berpacaran. Arai tentu tidak kaget. Mengingat Arai sudah beberapa kali memergoki Anton semakin sering mengantar jemput Desma pergi dan pulang sekolah.“Besok ada traktiran mereka di sini. Dan bakalan ditraktir yang semua kita suka!” seru Rambo bahagia.“Apaan tuh?” tanya Choki.“Lagak lo nggak tahu, Chok! Biasaaaa, permen pink kesayangan kita sama miras 3 krat buat dibagi sama-sama. Lo tahu sendiri Anton tuh uang sakunya banyak. Desma apalagi!” jawab Rambo dengan nada senang.“Wah, serius, Mbo?” tanya Choki.“Serius! Orang si Anton udah bilang ke gue buat nyiapin barangnya. Rai, besok jangan cemen. Besok kan Sabtu, jadi lo bisa pulang sampe pagi kan? Lagian lo kan jarang ngapelin cewek lo tuh.” seru Rambo.“Iya, iya. Besok gue di sini sampe pagi. Tenang aja,” kata Arai.“Apel dulu juga ngg

    Last Updated : 2022-02-10
  • Senandung Masa SMA   Bab 109 Karena Teman

    Arai baru sampai di rumah Rambo, namun rumah itu sudah tampak ramai. Motor-motor berbagai merk terparkir di pinggir jalan dengan rapi sesuai arahan Tuan Rumah.Bagaimanapun juga, depan rumah Rambo adalah jalan utama menuju ke pabrik, dia tak enak jika banyak kendaraan menghalangi truk-truk kecil berlalu-lalang membawa hasil produksi mereka.Meskipun hampir semua sepakat tak membawa pacar masing-masing, nyatanya ada Desma, Kak Angela dan Kak Mirna sedang duduk bertiga di salah satu sisi. Arai pernah dengar, mereka tak akur pada Desma. Namun nyatanya mereka bertiga tampak bercanda dan mengobrol satu sama lain. Mungkin karena Desma sudah menjadi bagian dari GWR juga.“Loh, Rai, Matari mana?” tanya Kak Angela saat melihat Arai datang hanya sendirian.“Nggak ikut, Kak. Titip salam aja, katanya,” sahut Arai sedikit berbohong, mana ada Matari menitip salam.“Yaaaah, sepi dong cewek-ceweknya cuma kita bertiga,” sahut Kak

    Last Updated : 2022-02-11
  • Senandung Masa SMA   Bab 110 Tengah Malam

    Arai tersadar saat mendapati jam di rumah Rambo menunjukkan pukul 2 lewat dini hari. Ruangan sudah sepi menyisakan beberapa teman-temannya yang tertidur. Pintu masih terbuka lebar. Alunan radio dini hari terdengar sayup-sayup di luar. Namun tak ada pergerakan manusia selain dirinya sendiri.Dia memutuskan untuk ke toilet. Tepat saat melewati kamar Rambo, tampak Desma dan Anton sedang tertidur bersama dengan selimut seadanya dari sarung milik Rambo.Dia tak mau mengganggu mereka dan berjalan menuju toilet kemudian segera keluar kembali ke ruang utama.Choki masih tertidur di salah satu sudut, meringkuk dengan jaket miliknya sendiri. Sesekali Choki bergumam tak jelas. Tampaknya dia bermimpi entah apa.Arai masih meneguk segelas air di atas meja. Yang akhirnya disadarinya ternyata bukan air putih biasa. Entah milik siapa gelas itu. Namun Arai akhirnya meletakkannya lagi.Dia mencari-cari air putih tersisa, namun yang dia temukan ada di dalam kardus-ka

    Last Updated : 2022-02-11
  • Senandung Masa SMA   Bab 111 Omelan Ayah Arai

    Arai memarkir motornya dengan hati-hati di pekarangan rumahnya. Saat dia masuk, Ayahnya sudah duduk di ruang utama sambil membaca koran. Dengan sigap, dia meletakkan koran itu dan memperhatikan anak sulungnya. Wajahnya tampak tak enak.“Ayah bolehin pulang jam berapa aja, tapi juga bukan berarti jam segini, Rai. Mestinya kamu pagi pulang dulu, mandi, cek ibumu butuh bantuan apa. Baru kalau kamu mau main lagi, silahkan. Kalau kaya gini, kenapa kamu nggak sekalian tinggal di sana aja?” tanya Ayahnya dengan suara keras.“Maaf, Yah. Arai ketiduran,” sahut Arai pelan.“Ketiduran? Sampai siang? Emangnya kamu ngapain aja semalam? Sudah dzuhur belum? Ayah yakin kamu nggak subuh juga ya?” seru Ayahnya.Arai hanya menunduk sambil bersandar di dinding.“Ya sudah, mandi dulu. Kamu bau banget. Abis gitu sholat, terus makan. Kalau sudah, temui Ayah di sini.”Arai tak berkutik. Itu pertama kalinya ayahnya mar

    Last Updated : 2022-02-14

Latest chapter

  • Senandung Masa SMA   Epilog

    Dentingan alat musik keyboard mengalun pelan. Matari tahu itu intro lagu Hoobastank-The Reason. Tak seperti versi aslinya, ada intro tambahan panjang dari gitaris klasik setelahnya.Café rumahan yang tak terlalu besar di bilangan Jakarta Selatan, yang sebagian besar bertema outdoor, memamerkan sound system-nya yang minimalis tapi berkualitas. Café itu penuh dengan siswa-siswi kelas 11 IPS 1, yang salah satu siswinya mengubah café sedemikian rupa sehingga bisa menampung kurang lebih 50 orang.Matari baru tahu, Priscilla punya café rumahan kecil di depan rumahnya. Ulang tahun sweet seventeennya kali ini, diadakan di café rumahan miliknya sendiri. Waitress-nya saja terbatas, karena dari kalangan keluarga sendiri.“I'm not a perfect person… There's many things I wish I didn't do…,” si vokalis mengawali dengan suara yang mirip-mirip penyanyi aslinya, serta merta mem

  • Senandung Masa SMA   Bab 183 Calm Down

    Entah bagaimana Arai dan gengnya menyelesaikan permasalahan mengenai Sindhu. Namun, seminggu kemudian, Sindhu masuk dengan beberapa plester serta perban di wajah dan kakinya, setelah sebelumnya dia tak masuk 2 hari. Dia mengaku jatuh dari sepeda motor yang dikendarainya. Tapi Matari tahu, itu ulah Arai dan para cecunguk GWR.Yang lebih menakjubkan, Sindhu sudah tak berani menatap Matari secara terang-terangan. Sesekali jika kepergok, dia langsung memalingkan muka. Dia juga berubah menjadi lebih pendiam dan tak banyak omong seperti sebelumnya.“Rai, lo apain sih dia?” tanya Matari saat jam pelajaran olahraga berlangsung.Arai yang sedang menunggu giliran sepakbola, hanya tertawa-tawa.“Udah gue bilang kan, kalo permasalahan kandang sendiri mah nggak akan ketahuan. Gue jamin,” jawab Arai mengambang.“Dia bilangnya jatuh dari motor, itu beneran?” tanya Matari.“Ya enggaklah.”“Trus?&r

  • Senandung Masa SMA   Bab 182 Cerita Arai

    Setelah menceritakan semua yang dia dengar dari Daffa, wajah Arai tampak konyol. Dia malah setelah itu tertawa-tawa. Gigi taringnya, yang dulu menarik, sekarang terlihat menyebalkan bagi Matari.“Tenang, Ri. Tenaaaang aja. Gue mau kasih tahu kabar mengejutkan soal dia buat lo,” kata Arai kemudian.“Apaan tuh?” tanya Matari.“Kalo ada tambahan cerita gini, gue jadi ikutan pengen mukulin dia.”Matari tampak bingung. Arai kemudian melanjutkan bicara.“Jadiiii, anak-anak GWR itu mau mukulin dia udah lama. Kayanya sih minggu depan bakalan mukulin dia.”“Hah? Rame-rame?”“Iya, tapi aslinya tetep 1 lawan 1 lah, cuma emang kita dateng bareng-bareng. Mukulinnya gantian aja.”Matari bergidik takut.“Hei, udah biasa kaya gini di geng gue. Target sekolah lain emang lagi dipending dulu, mengingat kita diawasin banget kan sekarang sejak desas-desus peredaran

  • Senandung Masa SMA   Bab 181 Curhatan Matari

    Matari menghela napas, saat malam minggu itu, Arai untuk kesekian kalinya muncul lagi di rumahnya. Hebatnya, Tante Dina sekarang akrab dengannya. Bahkan Ayah, juga secara terang-terangan menyapa dengan lebih ramah seperti saat menyapa teman-teman perempuan Matari.Ayah bahkan tak pernah ramah pada Iko, tetangganya. Ataupun Praja, yang dulu sering mengantarkannya perempuan.“Elo kenapa tobatnya pas udah putus, bego? Nggak inget lo dulu nggak berani masuk ke sini?” ledek Sandra yang akan pergi bermalam mingguan dengan Cakra, seperti biasanya.“Diem aja lo bawel! Kan gue udah sering bilang, kalo statusnya temen, lebih santai,” jawab Arai membela diri.Matari cuma terkekeh dan memberikan asbak pada Arai. Cowok itu sedang merokok di sudut teras.“Auklah, gelap! Gue ke sebelah dulu ya, mau fotokopi dulu. Si Cakra nanti ngejemput di situ. Gue udah bilang nyokap sih, Ri,” kata Sandra sambil membuka pagar.Matari m

  • Senandung Masa SMA   Bab 180 Kejuaraan Basket Antar Sekolah

    Seluruh SMA Negeri dan Swasta yang mendaftar, akan datang bertanding di sekolah Matari secara bergantian merebutkan piala Basket antar SMA se-DKI. Seperti biasa, untuk acara pembukaan, banyak ditampilkan acara-acara penghibur seperti tari tradisional, paduan suara hingga cheers yang Bersatu dengan para breakdancer.Dari tempat duduk penonton, Matari bisa melihat bahwa Sindhu cukup mahir beratraksi meskipun tubuh cowok itu tak setinggi yang lain. Mengingat proporsi tubuhnya juga tambun.“Gue kaya liat bola hidup lagi beraksi tahu nggak?” ledek Kian berbisik pada Matari.Matari cuma tertawa kecil. Matari sejujurnya tak terlalu fokus. Karena acara ini, dia sebenarnya juga didapuk jadi panitia bergabung dengan para volunteer dari sekolah lain.Namun, karena dia ditunjuk ambil bagian di keamanan acara, tugasnya hanya mondar-mandir di area penonton, area sekitar lapangan, area luar dan lain-lain. Patrolilah istilahnya.“Gue patrol

  • Senandung Masa SMA   Bab 179 Cerita Daffa di Siang Hari

    Jam kosong hadir setelah sekian lama. Matari dan teman-teman di kelasnya bergiliran ke kantin untuk diam-diam membeli makanan. Sesuai arahan Daffa, agar pergi tak bersamaan dan cepat kembali. Berjaga-jaga kalau ada guru piket yang datang mengecek tugas yang diberikan.Dalam beberapa hal, Matari sudah mulai enjoy ada di kelas ini. Meskipun saat istirahat, dia akan nongkrong dengan Praja cs, namun, kelas ini tak terlalu buruk, meskipun Sindhu membuatnya tak nyaman.Matari baru kembali dari kantin, duduk bersama berdekat-dekatan dengan Kian, Yana, Priscilla dan Anya. Mereka sedang heboh membahas cerita hantu yang sedang hits menyebar di kalangan sekolah mereka. Kisah ini dialami oleh para anak kelas 10 yang kemahnya kali ini diadakan di sekolah, karena permintaan para wali murid.Sebagian besar dari mereka merasa keberatan diadakan di bumi perkemahan yang biasanya. Mau tak mau, akhirnya kemah diadakan di sekolah dengan mendirikan tenda di tepi-tepi lapanga

  • Senandung Masa SMA   Bab 178 Sindhu dan Jawabannya

    “Jadi, gue punya kakak perempuan. Kebetulan dia udah almarhumah. Sakit. Nah mukanya itu mirip banget sama Matari,” kata Sindhu mengawali. “Waktu kelas 1 alias kelas 11 dulu, pas liat dia nyanyi di kemah, gue sempet kepikiran. Tapi waktu itu gue tahu, Arai lagi mulai ngedeketin dia juga.”Daffa sedikit terenyuh saat Sindhu mulai bercerita bahwa Matari mirip dengan almarhumah kakak perempuannya.“Karena sekarang kita sekelas, gue jadi bisa perhatiin terus, jadi gue jadi beneran demen sama dia. Apalagi lo liat perhatiin deh bro, toket dia lumayan gede,” kata Sindhu sambil meraba dadanya sendiri. “Paslah sesuai sama tipe-tipe gue.”Daffa yang tadinya sedikit luluh kemudian berubah menjadi merasa jijik. Daffa tak tega jika harus menjelaskan perihal itu pada Matari. Daffa juga punya ibu dan kakak perempuan yang sangat sayang padanya. Dia tak bisa membayangkan jika kakaknya diperlakukan seperti ini oleh teman sekelasnya.

  • Senandung Masa SMA   Bab 177 Investigasi Daffa

    Daffa selesai mengabsen teman-teman satu kelas. Setelah Matari meminta bantuannya kemarin, Daffa jadi benar-benar menyadari ada yang tak beres dengan Sindhu. Apalagi saat selesai mengabsen barusan, saat Daffa memanggil nama Matari, Sindhu secara otomatis menoleh. Hal itu dia perhatikan, berlangsung dengan pasti selama 2 minggu berturut-turut setiap kali Daffa mengabsen.Keanehan lainnya, saat Matari harus menulis di depan sebagai sekretaris, Sindhu selalu memperhatikannya. Saat dia bengong memperhatikan, Daffa akhirnya bertanya juga. Sindhu bilang, karena tulisan Matari tak terlalu terlihat jelas di matanya yang minus, makanya dia hanya bisa bengong sambil memperhatikan papan tulis saja.“Kenapa lo nggak pake kacamata aja?” tanya Daffa.“Nggak, ah, kaya lo gitu? Nggak mau. Gue kan ikut ekskul breakdance sekarang, susah kalo pake gituan. Gue mah pake softlense aja, cuma ya tetep nggak maksimal. Minus gue udah gede,” jawab Sindhu d

  • Senandung Masa SMA   Bab 176 Bantuan Daffa

    “Eh, Matari! Lagi liatin apa lo? Serius banget?” tanya Daffa.“Kaget gue, Daf,” sahut Matari yang menyadari Daffa tiba-tiba berdiri di sebelahnya.“Elo sih serius banget. Coba gue liat, baca apa sih lo?”“Itu, lomba nulis cerpen.”“Wahhh, iya! Ikut lo? Mayan tuh hadiahnya! Laptop sama HP!”“Gue sih ngincer laptopnya. Kalo HP sih ya udahlah ya, gue udah punya.”“Heiii, itu HP seri terbaru! Udah berkamera pula. HP lo kan masih jadul, kenapa enggak?”“Iya juga sih. Juara berapa aja sih untung aja ini mah! Juara 3 sampe Harapan aja uang cash! Mayan juga kan?”“Iya, udah coba aja dulu! Lo kan ada bakat, jadi mending maju dulu aja. Kalopun nggak menang, ya udah nggak papa, nambah pengalaman. Kalo menang sih bonuslah, piagam itu bisa dipakek lho buat daftar uni nanti. Bisa ngebantu lo.”“Masa sih, Daf?”

DMCA.com Protection Status