Beranda / Romansa / Satu Miliar Untuk ART / Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

Share

Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

Penulis: UmiPutri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 12:03:04

"Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam.

"Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi.

"Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam.

"Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.

Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya.

Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.

Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.

Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan. Nilam dan sopirnya berjalan Masuk ke halaman rumah Udin.

"Ibu!" Pekik Nilam, hampir saja kaki Nilam tersandung dan mau jatuh. Untung Pak sopir menahan tubuh Nilam.

"Masya Allah, Nak. Ibu tidak menyangka kamu datang, kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu," ucap Titin.

"Iya, kalau kamu datang. Pasti sudah kami mempersiapkan terlebih dahulu," tambah Udin.

"Tidak apa-apa Bu, pak. Maaf memang Nilam mendadak pulang," ucap Nilam.

"Ya sudah, sekarang kita masuk ke dalam," ajak Udin.

Para tetangga yang melihat mobil mewah Nilam, langsung berbisik-bisik sambil menatap sinis ke arah mobil Nilam dan rumah Nilam. Karena seperti itulah kebiasaan di kampung. Ada orang yang merantau dan berhasil, pasti menjadi bahan gosip hangat. Padahal mereka suka pergi ke masjid untuk mendengarkan ceramah ustad.

Tapi yang namanya mulut, mereka tetap tidak bisa menjaganya. Entah iri atau bagaimana, itulah sifat tetangga Nilam di kampungnya. Bahkan ketika Nilam pergi ke Jakarta juga, mereka menuduh yang tidak-tidak.

Kan ada yang sampai hati mengatakan kalau Nilam di Jakarta bekerja sebagai wanita peng****r. Karena melihat kecantikan Nilam.

"Kalau kamu memang mau bekerja dan mau membantu orang tuamu. Jangan dengarkan omongan mereka, kamu harus maju terus pantang mundur. Kamu tahu kan kedua adikmu masih memerlukan biaya, apalagi kedua orang tuamu cuma buruh tani, yang hasilnya cukup untuk makan sehari-hari," ucap tetangganya yang mengajak Nilam pergi merantau ke Jakarta.

"Sepertinya si Nilam berhasil ya bekerja di Jakarta. Itu pulangnya bawa mobil mewah," mulailah tetangganya bergosip. Bibir mereka malah terangkat ke atas, menong-menong ke kanan dan ke kiri.

"Iya, tapi kok aneh ya. Masa sih Baru beberapa bulan di Jakarta sudah bawa mobil semewah itu, jangan-jangan dia bekerja......."

"Ah sudah pasti, katanya di Jakarta itu gampang cari uang, asal kita mau melayani....."

"So pasti, Nilam itu bekerja sebagai wanita pang****n. Katanya sih tarifnya mahal sekali, bisa dibayar sampai jutaan semalam," tetangganya itu menuduh Nilam.

"Ah yang benar saja Bu Eti, jangan dulu bikin gosip deh," tukas bi Dede.

"Eh, ini mah bukan gosip bi Dede, ini benar kok. Aku dengar sendiri," tukas tetangganya bohong, karena sengaja ingin memfitnah Nilam. Hatinya iri melihat keberhasilan Nilam. Maka gosip pun sengaja Bu Eti bikin, biar Nilam dan keluarganya merasa malu, dan mereka dimusuhi sama warga di kampung.

"Pokoknya lihat saja nanti, kalau memang usaha si Nilam tidak halal. Pasti hartanya itu akan cepat habis," tukas bi Dede.

Semua tetangganya terus saja membicarakan Nilam. Kalau bibir sudah membicarakan orang lain, maka bibir itu tidak akan berhenti terus berbicara. Seakan-akan gosip itu sudah dianggap hal yang biasa, padahal itu termasuk ghibah, yang jelas-jelas dilarang dalam agama.

"Tadi si Nilam datang bersama seorang laki-laki kan? Mungkin itu suaminya. Atau apa mungkin si Nilam itu menjadi istri kedua pria tadi," ucap Bu Eti.

"Bisa jadi Bu Eti, si Nilam disembunyikan di sini. Mereka tidak mau ketahuan sama istri pertamanya," jawab bi Dede.

"Kalau aku sekilas tadi melihat Nilam menggendong bayi, mungkin bayi itu anak mereka berdua," Bu Eti mulai menuduh yang tidak-tidak.

Kedua tetangganya terus bergosip tentang Nilam dan Pak sopir tadi. Seandainya mereka tahu, siapa pria yang bersama Nilam, dia hanyalah seorang sopir pribadi keluarga Kusuma.

***********

Di rumah Nilam.

Pak sopir membantu menceritakan tentang siapa bayi itu. Titin dan Udin menyimak penjelasan Nilam dan Pak sopir tentang siapa bayi yang dibawa sama Nilam.

"Kalau memang Bapak dan Ibu tidak percaya, silakan telepon majikan saya. Nilam juga tidak tahu kenapa mereka memilih Nilam untuk merawat bayi ini," ucap Nilam.

"Iya pak, saya juga heran dengan majikan kami. Mereka itu rela meninggalkan anak sendiri demi karir mereka. Nyonya Belda seorang foto model yang cukup terkenal, sedangkan Tuan Alex seorang pengusaha yang cukup sukses juga. Mungkin bayi ini dilahirkan dalam keadaan seperti ini. Dan kami harus bagaimana lagi, hati kami tergerak untuk menolong bayi majikan kami," tambah Pak sopir.

"Nilam benar-benar kasihan melihat kondisi anak ini, lihat Bu kakinya. Padahal kata dokter kaki anaknya bisa disembuhkan, melalui terapi. Tapi Nyonya beda tidak mau begitu pula dengan Tuan Alex. Apalagi nyonya besar, tidak mau melihat cucunya yang cacat seperti ini. Katanya cucunya ini membawa sial bagi keluarganya," ucap Nilam dengan nada sedih.

Perasaan yang sama dirasakan sama Titin. Anak sekecil ini sudah menderita tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Begitu pula dengan Udin, ternyata orang kaya itu lebih mementingkan uang daripada memberikan kasih sayang sama anaknya.

"Ya sudah kalau begitu, kita rawat anak ini baik-baik. Siapa tahu ke depannya anak ini membawa rezeki bagi kita semua, semoga bayi ini bisa normal seperti bayi-bayi yang lainnya. Ibu yakin kalau bayi ini diterapi dan dibawa berobat terus ke dokter, pasti sembuh," ucap Titin yakin.

"Iya Bu, dan untuk masalah biaya. Tadi saya sempat mendengar Nyonya Belda dan Tuan Alex akan mengirimkan sejumlah uang. Jadi kita tinggal merawat bayi ini dengan baik," tukas sopir.

Setelah selesai berbicara, Udin dan sopir serta adik Nilam membantu mengeluarkan barang-barang dari mobil. Adiknya Nilam sampai berdecak kagum melihat peralatan bayi yang mewah itu.

"Teh, ini roda bayi, pasti harganya mahal ya?" Tanya Nia sambil mengusap-ngusap roda itu.

"Iya dek, kalau tidak salah tuan dan nyonya membelinya seharga 5 juta. Belum lagi tempat tidur bayi ini," jawab Nilam.

Sedangkan Titin menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang. Diusap-usapnya kepala bayi itu dengan lembut, Titin gemas melihat pipi gembul bayi itu.

"Nama bayi ini siapa Nilam?" Tanya Titin.

"Anu......."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14

Bab terbaru

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status