Home / Romansa / Satu Miliar Untuk ART / Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

Share

Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

Author: UmiPutri
last update Last Updated: 2025-02-14 12:00:14

Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan.

"Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir.

"Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.

Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.

Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri.

"Ibu kasihan sama kamu Nak, ternyata nasibmu seperti ini. Tega sekali kedua orang tuamu yang sudah menyia-nyiakan kamu," gumam Nilam dalam hati, sebening cairan keluar dari mata Nilam, hatinya benar-benar tidak tega melihat bayi yang masih kecil ini, tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Mobil bergerak, Nilam dengan tenang menggendong bayi anak majikannya. Entah kenapa Nilam sendiri sejak semalam menyebut dirinya sendiri dengan kata " ibu". Entahlah Nilam juga tidak tahu, dan itu spontan Nilam ucapkan di dalam hatinya.

Sekitar 5 menit perjalanan menuju bandara, tiba-tiba mobil berhenti. Nilam kaget, lalu menoleh ke arah supir dan ke arah majikannya yang duduk di belakang.

Depan mobil yang ditumpangi Nilam, ada sebuah mobil mewah yang cukup besar. Tapi Nilam tahu mobil itu milik majikannya. Mobil dengan merek Alpa.

"Kamu pindah ke mobil yang di depan, yang akan mengantar kamu ke kampung halaman. Dan ingat, kamu harus merawat anak ini baik-baik. Anggap dia anak kamu sendiri," ucap Belda.

"Semua barang-barang sudah ditaruh di mobil itu, cepat sekarang kamu pindah! Saya tidak mau terlambat, Jangan sampai ketinggalan pesawat," tukas Alex.

Nilam menghela nafasnya, tangan yang membuka pintu mobil, lalu menoleh ke arah pasangan suami istri itu.

"Apakah Tuan dan Nyonya tidak mau mencium dulu bayi kecil ini?" Tanya Nilam memberanikan diri.

"Aku tidak sudi! Sudah kamu jangan banyak bicara! Cepat pergi dari hadapanku! Aku tidak punya anak penyakitan dan cacat seperti dia! Buat apa aku memberikan ciuman sama bayi sialan itu!" Jawab Belda sambil membentak.

Nilam memejamkan matanya, Entah kenapa hatinya teriris dan merasa sakit, mendengar Belda membentak seperti itu. " Benar-benar tidak punya hati dan perasaan!" Geram Belda dalam hati.

"Ayo cepat Nilam," ucap sopir mobil besar itu, yang sudah berdiri di depan Nilam mengganggukan kepalanya.

Mobil yang ditumpangi Alex dan Belda, langsung melesat menuju bandara. Nilam menatap kepergian mobil tuannya. Majikannya itu tidak berbicara sedikitpun, sekedar basa-basi sama Nilam dan bayinya.

"Itulah orang kaya Nilam, dengan segala hartanya mereka bisa melakukan semuanya. Walaupun kadang satu sisi mereka menyakiti hati orang keluarganya atau orang lain," ucap sopir sama Nilam yang duduk di samping sopir.

"Mereka benar-benar tega Pak Dudung. Mereka meninggalkan bayi sekecil ini. Aku saja yang belum menikah dan punya anak merasa aneh dengan majikanku," tukas Nilam.

"Sudah aku katakan tadi, dengan uang mereka bisa melakukan segalanya. Majikan kita demi karir dan bisnis mereka, mereka tega menelantarkan bayinya sendiri. Mereka tidak mau memberikan kasih sayang sama bayi yang baru dilahirkan. Lebih baik membayar kamu daripada harus merawat bayi ini.'

"Betul Pak, apa karena bayi ini cacat dan penyakitnya? Padahal kata dokter bisa disembuhkan kaki ini, diobati rutin dan mengikuti saran dokter."

"Lebih aneh lagi, saat bayi ini lahir. Mereka tidak mau ada orang yang melihat bayi mereka. Mungkin mereka malu melahirkan bayi seperti ini."

"Padahal itu semua sudah diatur sama Tuhan. Kalau penyakit dan cacatnya itu bisa disembuhkan. Kenapa tidak ya," tukas sopir.

"Betul apa yang dikatakan bapak, justru sekarang aku harus siap-siap menghadapi omongan tetangga. Pulang pulang dari merantau membawa bayi. Bapak juga tahu kan omongan tetangga di kampung itu bagaimana," bila mengeluarkan isi hatinya.

"Berdoalah Nilam, Tuhan sayang sama kamu, hingga Allah menitipkan bayi ini, dan ini rencana Tuhan. Kamu diberikan anugerah yang tidak terkira walaupun belum menikah," ucap sang sopir itu memberikan semangat sama Nilam.

Sejak tadi memang Dilan berpikir terus, dia pulang sambil membawa bayi merah. Sudah tentu omongan miring tetangga terdengar.

"Itu semua barang-barang bagi kan?" Tanya sopir sambil menunjuk ke belakang.

"Iya pak, malam tadi aku yang membereskan semuanya. Majikanku benar-benar tidak punya hati dan perasaan. Mereka bilang jangan sampai ada barang bayi ini yang tertinggal di kamar itu," jawab Nilam.

"Yang aku tahu selama ini, orang tuanya Tuan Alex itu menginginkan cucu laki-laki, sebagai penerus keluarga mereka. Apalagi orang tuanya Tuhan Allah itu mempunyai beberapa perusahaan besar, mungkin cucunya sebagai pewaris tunggal satu-satunya. Tapi kenyataannya lain, bayi yang dilahirkan Tuan Alex dan nyonya Belda keadaannya seperti itu. Makanya nyonya besar dan Tuan besar benar-benar kecewa.

"Ternyata hidup orang kaya seribet itu ya pak. Kita mah orang miskin tenang-tenang saja, yang penting perut terisi dan ada uang untuk bayar hutang," ucap Nilam sambil terkekeh.

"Betul Nilam, orang miskin itu seperti kita tidak terlalu banyak pikiran. Yang penting kebutuhan sehari-hari tercukupi. Kita mah mana mungkin banyak kemauan karena mengukur penghasilan kita itu sebesar apa. Tapi bagi orang-orang kaya, uang memang tidak jadi masalah, dan mereka harus kelihatan sempurna di mata manusia," tukas pak sopir.

"Saya pertama kali datang ke rumah itu kaget juga pak, hidup mereka benar-benar diatur oleh dunia. Makan saja dari mulai sarapan pagi sampai makan malam menunya beda-beda kan. Tapi kita orang kampung, pagi sayur asem kacang merah, siang sayur asem kacang merah, malam sayur asem kacang merah, besoknya masih tetap sayur kacang merah yang dihangatkan sampai hitam airnya seperti," meledaklah tertawa mereka berdua, apalagi Pak sopir, ternyata Nilam pandai ngelawak.

Mobil berbelok ke kanan menuju kampung Nilam, kampung yang masih sejuk udaranya, berada di bawah gunung Syawal kota Ciamis. Nilam tinggal di kota Ciamis kotak kecil yang masih asri.

Nilam tinggal di sebuah perkampungan yang penduduknya masih tidak terlalu padat. Rumah Nilam sederhana, orang tuanya Nilam hanyalah seorang buruh petani, hidup mereka sederhana tetapi tidak pernah kekurangan.

Nilam bekerja di kota Jakarta, ingin membantu kedua orang tuanya membiayai dua orang adiknya yang masih sekolah.

Mobil berhenti di depan rumah Nilam, para tetangga yang kebetulan lewat menatap heran ke arah mobil itu.

"Pak itu mobil siapa ya?_____"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

    Last Updated : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

    Last Updated : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

    Last Updated : 2025-02-14
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

    Last Updated : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

    Last Updated : 2025-04-04
  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

    Last Updated : 2025-02-14

Latest chapter

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 7. Mulai Terkuak

    "Eh, iya Mas," wajah Belda terlihat panik, saat melihat kedatangan Alex suaminya. Dia buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria tampan yang duduk di hadapan Belda menatap ke arah Alex. Belda langsung berjalan mendekati suaminya."Siapa laki-laki itu?" Tanya Alex sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di hadapan Belda."Dia, eh, anu, dia. Oh ya, temanku Mas," jawab Belda gugup.Alex menautkan kedua alisnya heran, hatinya mulai curiga dengan jawaban Belda yang terlihat gugup. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Alex, dia tersenyum ramah sama Alex."Kenalkan, saya sahabatnya Belda. Kebetulan kami bertemu di sini, kerjaan Saya seorang fotografer," si pria itu mengulurkan tangannya. Alex terlihat ragu-ragu mengulurkan tangannya, selalu menyambut uluran tangan pria itu, sambil menyebutkan namanya. "Alex, suaminya Belda.""Perta, Perta Cristian.""Mari kita duduk-duduk dulu, Belda belum selesai pemotretannya," Perta mengajak Alex untuk

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 6. Kebencian berujung ramah

    Mereka menoleh ke arah sumber suara, ternyata Titin datang untuk berbelanja. Mereka semua diam, mulutnya langsung terkunci, mereka menatap Titin dengan wajah bersalah. Karena orang yang digosipkan berada di hadapan mereka. "Kenapa tidak dilanjutkan lagi omongannya ibu-ibu. Silakan lanjutkan lagi, saya ke sini untuk belanja sayuran," ujar Titin, tangannya sibuk memilih-milih sayuran beserta lauk yang lainnya. Ibu-ibu langsung melempar pandangan, mereka merasa malu dengan omongan Titin. Karena tadi mereka begitu bersemangat menggosipkan keluarganya. "Eh, Maaf Bu Titin. Tadi kami memang membicarakan Nilam. Karena jujur saja, kami merasa kaget. Karena tahu-tahu anak ibu pulang membawa seorang bayi. Ingin bertanya sama ibu rasanya sungkan," akhirnya Bu Nonik menjelaskan apa yang sebenarnya dibahas sewaktu tadi. Tapi perkataan Bu Eti yang pasti menyakiti hati keluarga Bu Titin, tidak dibicarakan kembali. Bu Nonik berhati-hati menyampaikannya. "Oh, memang benar. Anak saya pulang membaw

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 5. Tuduhan Kejam

    "nama yang bagus, Zahir bin Malik nama anak ini," ujar Udin sambil menatap bayi yang ada dalam gendongan Titin, istrinya."Iya, nama yang bagus. Ibu setuju sekali, tapi....." Titin menghentikan ucapannya. "Tapi apa Bu?" Tanya Nilam cepat. "Nama anak-anak kita kan awalannya huruf "N". Alangkah baiknya nama anak ini juga awalan nya dari huruf itu," jawab Titin sambil terkekeh. "Bagaimana kalau Nizam bin Malik?" Nia adiknya Nilam mengajukan usul."Nah itu bagus, nama yang sangat bagus," tukas Udin."Ya sudah namanya Nizam bin Malik saja," akhirnya mereka setuju, nama bayi ini jadinya Nizam bin Malik bukan Zahir bin Malik. "Bu, besok Nilam ke bank dulu ya. Atau ke ATM dulu, terus untuk beli motor sama mobil setelah selesai acara syukuran saja. Satu-satu dulu saja," Nilam mengajukan usul. "Sebaiknya begitu, satu-satu dulu lah. Baru setelah acara syukuran selesai. Kita renovasi rumah beserta kendaraan," Udin setuju dengan usulan Nilam, begitu pula dengan Titin. Karena syukuran aqiqah N

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 4. Zahir bin Malik atau Nizam Alek Wiranata Kusuma

    "lho, Memangnya bayi ini belum dikasih nama?" Tanya Titin heran. "Boro-boro dikasih nama Bu, dilirik pun sama sekali tidak. Sayalah yang mengurusi bayi ini dari sejak lahir sampai sekarang," jawab Nilam."Betul apa yang dikatakan Nilam, bayi ini tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya para asisten rumah yang mengasihi bayi ini," tambah Pak sopir. "Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak. Biarlah kamu dirawat sama kami di sini, bayi ini umurnya berapa hari?" Tanya Titin. "Sekitar 3 Minggu Bu, anak ini belum aqiqah. Kasih tahu aku anak yang dilahirkan itu harus aqiqah Bu," jawab Nilam."Betul, kita nanti ada kan syukuran kecil-kecilan. Sekalian memberikan nama anak ini, Siapa tahu suatu hari nanti anak ini menjadi anak yang tumbuh dengan baik dan soleh," ucap Titin dengan suara tertahan. "Betul apa yang dikatakan Bu Titin, semoga anak ini tumbuh menjadi anak yang sholeh," Pak sopir tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Hatinya benar-benar pedih melihat nasib bayi i

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 3. Gosip Pedas Tetangga

    "Lho, itu kan Nilam!" Pekik ibunya Nilam."Iya Bu, tapi kok......" Ucapan Bapak Nilam terhenti, saat melihat tangan Nilam yang menggendong bayi."Lho, itu anak siapa yang dibawa Nilam?" Tanya Titin, ibunya Nilam."Ayo kita cepat ke sana Bu," ajak Udin, bapaknya Nilam.Perasaan Titin menjadi nu tidak enak, melihat bayi yang ada dalam gendongan anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Titin merasa terjadi sesuatu dengan Nilam anaknya. Padahal selama ini, Nilam selalu mengabarkan baik-baik tentang dirinya, bahkan gajinya beberapa bulan ke depan selalu dikirim untuk membantu biaya sekolah kedua adik-adiknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nilam? Siapakah bayi yang ada dalam gendongannya?" Hati Titin terus bertanya-tanya.Tapi Titin tidak mau berpikir yang bukan bukan dulu. Sebelum Nilam menjelaskan semuanya, karena takut menjadi fitnah, atau keributan. Titin menahan segala keingintahuannya, sebelum Nilam menjelaskan kepadanya nanti.Titin dan Udin langsung bergegas berjalan ke depan.

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 2. Satu Miliar Untuk ART

    Nilam merasa aneh mendengar obrolan majikannya. Mereka sampai tidak mau mengakui darah daging mereka sendiri. Padahal bayi itu kelihatan tampan dan rupawan."Maafkan kami mah, belum bisa memberikan cucu yang sesuai harapan Mama dan papa," ucap Belda getir."Sudahlah tidak usah banyak basa-basi, kamu sekarang jadi berangkat kan? Jangan lupa bawa bayi yang penyakitan dan cacat itu," ucap Ibu Alex dengan suara ketus.Alek Kusuma dan Belda Gayatri pasangan muda yang sedang mengejar karir. Alex seorang pengusaha ternama, sedangkan Belda seorang foto model yang sedang meniti karir. Saat ini keduanya akan pergi ke Paris, Karena Belda ada tawaran pekerjaan di sana.Nilam duduk di dekat sopir, sedangkan Alex dan Belda duduk di belakang. Semua barang-barang diantar dengan mobil yang lain. Nilam menggendong bayi dengan perasaan tidak menentu. Dia terus menatap wajah bayi, ternyata walaupun kedua orang tuanya banyak harta, tetapi masih bayi itu disia-siakan oleh keluarganya sendiri. "Ibu kasihan

  • Satu Miliar Untuk ART    Bab 1. Sebuah Tawaran

    "Satu Milyar! Aku bayar kamu untuk merawat anakku!" Ucap seorang pria yang duduk di samping wanita cantik. Di depannya seorang gadis sederhana yang baru saja beberapa bulan bekerja di rumah mereka. Langsung terlonjak saking kagetnya, mendengar majikannya berkata seperti itu. Gadis sederhana itu bernama Nilam Sari, usianya baru 19 tahun, dia menerima pekerjaan sebagai asisten rumah. Gadis itu bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. "Kami mau tinggal di luar negeri, kami tidak mungkin membawa bayi ini ke sana, apalagi dia penyakitan seperti ini. Aku mohon Nilam, bawalah anak itu ke kampung kamu," ucap wanita cantik itu dengan tatapan mata memelas. Sontak mata nilam hampir meloncat dari cangkangnya. Karena terkejut mendengar ucapan wanita cantik itu. "Iya Nilam, Kamu tahu kan istriku itu siapa? Dia ingin fokus berkarir dulu. Tidak mungkin orang tuaku merawat bayi ini, Kamu tahu kan usia mereka sudah uzur," tambah pria yang duduk di samping wanita cantik. Nilam diam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status